Anda di halaman 1dari 1

Desa di Indonesia masih saja menjadi obyek pembangunan hingga lahan pasar bagi modal.

Ia adalah faktor penting tetapi terabaikan dan seringkali semata dijadikan obyek perlakuan ujicoba kebijakan pemerintah sebagaimana dapat terlihat dari program-program pembangunan yang diterapkan untuk masyarakat desa. Modernisasi dalam kadar tertentu baik dan telah terbukti membawa kehidupan masyarakat kedalam taraf peradaban yang lebih cocok dengan konteks jaman saat ini. Akan tetapi pengatasnamaan modernisasi untuk menggolkan proyek pembangunan tanpa memikirkan kearifan masyarakat yang dimiliki desa juga bukan perilaku kebijakan yang tepat. Pencangkokan model lembaga-lembaga baru yang seringkali dijadikan ukuran kemajuan suatu desa dalam program-program pemerintah terbukti membawa persoalan baru di masyarakat desa. Model dan gaya-gaya pembangunan masyarakat pedesaan yang top down dan memprioritaskan bagi-bagi bantuan (charity) telah membawa dampak tersendiri bagi rusaknya struktur desa, terutama struktur produksi dan struktur kearifan lokal yang dimiliki. Semakin lama masayarakat desa berhitung segala sesuatu dari nilai transaksi keuangan yang menciptakan ketergantungan. Desa seharusnya tetap menjadi pusat produksi primer seperti pertanian, perikanan, perkebunan dan peternakan. bantuan-bantuan yang masuk ke desa dalam jumlah yang tidak sedikit itu sendiri pada dasarnya merupakan bentuk proses monetisasi (embrio dari kekuasaan uang) atau masuknya struktur modal ke desa dan menguasai sendi-sendi perekonomian serta struktur ketahanan asli yang dimiliki desa itu sendiri. Pasca di berlakukannya Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah di Indonesia, banyak proyek peng-obyek-an desa yang terjadi. Program-program yang ada dengan kekuatan modal besar yang dimiliki dan membiayai program pembangunan desa oleh negara masih melakukan peng-obyek-an desa. Modal telah merembes ke desa, telah menguasai dan melemahkan struktur ketahanan alami yang dimiliki oleh desa. Memajukan desa memang betul merupakan niat yang baik, namun upaya untuk menjaga dan melestarikan desa yang memiliki daya tahan bagus, dimana terpenuhi hak-hak ekonomi, sosial, poloitik dan kebudayaannya tetap merupakan hal terbaik yang mesti dikerjakan dan diwujudkan. Buku kritis ini sangat direkomendasikan bagi anda para pengambil kebijakan, mahasiswa, aktivis, pers, NGO, juga 'wong ndeso' yang menginginkan keadilan dan kemakmuran merata dalam menghadapi tantangan global yang hadir saat ini. Selamat membaca. (JW) Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/political-science/1986103-pembangunan-desadari-modernisasi-ke/#ixzz1da2VkeA0