Anda di halaman 1dari 5

Nama NIM Kelas

: : :

Riza Rizky Fitri 105020307111012 CA

Agency Theory & Analysis Of Conflict


Definisi Teori Agensi Konsep Agency Theory menurut Scott (1997:305) adalah hubungan atau kontrak antara principal dan agent, dimana principal adalah pihak yang mempekerjakan agent agar melakukan tugas untuk kepentingan principal, sedangkan agent adalah pihak yang menjalankan kepentingan principal. Menurut Jensen dan Meckling (1976), hubungan keagenan adalah sebagai kontrak, dimana satu atau beberapa orang (principal) mempekerjakan orang lain (agen) untuk melaksanakan sejumlah jasa dan mendelegasikan wewenang untuk mengambil keputusan kepada agen tersebut. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa definisi dari teori agensi adalah hubungan antara principal (pemilik/pemegang saham) dan agent (manajer). Dan di dalam hubungan keagenan tersebut terdapat suatu kontrak dimana pihak principal memberi wewenang kepada agent untuk mengelola usahanya dan membuat keputusan yang terbaik bagi principal. Menurut Eisenhard (1980), teori keagenan dilandasi oleh tiga buah asumsi, yaitu: 1. Asumsi tentang sifat manusia 2. Asumsi tentang keorganisasian 3. Asumsi tentang informasi Menurut Meisser, et al., (2006:7) hubungan keagenan ini mengakibatkan dua permasalahan, yaitu: 1. Terjadinya informasi asimetris (information asymmetry) , dimana manajemen secara umum memiliki lebih banyak informasi mengenai posisi keuangan yang sebenarnya dan posisi operasi entitas dari pemilik, 2. Terjadinya konflik kepentingan (conflict of interest) akibat ketidaksamaan tujuan, dimana manajemen tidak selalu bertindak sesuai dengan kepentingan pemilik.

Asimetri Informasi (Asymmetry Information) Asimetri informasi (assymmetry information) yaitu dimana manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaaa di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Konflik Kepentingan (Conflict Of Interest) Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan adanya konflik kepentingan dalam hubungan keagenan. Terjadinya konflik kepentingan antara principal (pemilik) dan agent (manajer) karena kemungkinan agent bertindak tidak sesuai dengan kepentingan principal. Teori agensi mampu menjelaskan potensi konflik kepentingan diantara berbagai pihak yang berkepentingan dalam perusahaan tersebut. Konflik kepentingan ini terjadi dikarenakan perbedaan tujuan dari masingmasing pihak berdasarkan posisi dan kepentingannya terhadap perusahaan (Ibrahim, 2007). Sebagai agen, manajer bertanggung jawab secara moral untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik (principal), namun demikian manajer juga menginginkan untuk selalu memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak. Agency Cost (Biaya Agensi) Dengan adanya masalah agensi yag disebabkan karena konflik kepentingan dan asimetri informasi ini, maka perusahaan harus menanggung biaya keagenan (agency cost). Jensen dan Meckling (1976) membagi biaya keagenan menjadi tiga, yaitu: 1. Monitoring Cost Monitoring cost adalah biaya yang timbul dan ditanggung oleh principal untuk memonitor perilaku agent. 2. Bonding Cost Bonding cost adalah biaya yang ditanggung oleh agent untuk menetapkan dan mematuhi mekanisme yang menjamin bahwa agent akan bertindak untuk kepentingan principal. 3. Residual Loss Residual loss adalah nilai kerugian yang dialami principal akibat keputusan yang diambil oleh agent yang menyimpang dari keputusan yang dibuat oleh principal.

Game Theory Game theory berusaha untuk membuat model dan memprediksi outcome konflik antara individu secara rasional. Pentingnya konsekuensi ekonomi di karakteristikan sebagai konflik. Ada dua kontrak penting yaitu: kontrak pegawai ( antara perusahaan dengan manajemen) dan leading kontrak ( antara perusahaan dengan lenders) kedua tipe kontrak tersebut sering tergantung pada net income yang dilaporkan. Kontrak pegawai sering memberikan bonus dengan berdasarkan pada net income. Game theory dapat membantu mereka memahami bagaimana manajer, investor dan lainnya yang dipengaruhi oleh konsekuensi ekonomi dari pelaporan keuangan. Game theory membantu mereka untuk melihat mengapa kontrak sering bergantung pada laporan keuangan. Game theory ini, seorang pemain selain memperhitungkan ketidakpastian situasi yang akan terjadi juga akan memperhitungkan tindakan yang dilakukan oleh pemain lainnya. Terdapat berbagai jenis games yang dapat diklasifikasikan sebagai cooperative dan non-cooperative games. Cooperative Games : para pemainnya terlibat dalam suatu kesepakatan yamg mengikat Non cooperative Games : para pemainnya tidak ada kesepakatan Non Cooperative Game Model Dari Konflik Manajer Investor Investor menginginkan informasi laporan keuangan yang relevan dan reliabel Manajer mungkin tidak akan bersedia untuk mengungkapkan semua informasi yang diperlukan investor Manajer menyajikan laporan keuangan yang bisa, atau bahkan memanipulasi laporan keuangan dengan tujuan oportunistik maupun memperoleh kontrak yang efisien Investor tentunya akan waspada terhadap kemungkinan manajer akan menyajikan laporan keuanganyang bias sehingga hal ini akan diperhitungkan ketika membuat keputusan investasi. Dan begitu pula manajer ketika menyusun laporan keuangan akan

memperhitungkan tindakan yang akan dilakukan oleh investor. Situasi ini merupakan bentuk dari non cooperative game karena sulit untuk mewujudkan suatu kesepakatan yang mengikat antara manajemen dari investor.

Beberapa Model Cooperative Game Theory Substansi dari cooperative games adalah adanya kesepakatan yang mengikat para pemain. Kesepakatan tersebut sering kali di sebut kontrak Pricipal - Agent Agency theory merupakan cabang dari game theory yang mempelajari bentuk (desain) kontrak yang dapat memotivasi agent untuk bertindak demi kepentingan principal meskipun kepentingan agent bertentangan dengan kepentingan principal. Implications Of Agency Theory For Accounting Model Agency Holmstrom Holmstrom mengasumsikan bahwa usaha dari agen tidak dapat diamati oleh principal tetapi payoff nya dapat diamati pada akhir periode tertentu. Di lain pihak, Feltham dan Xi (1994) menunjukan bahwa model Holmstrom atas kasus payoff tidak dapat diamati, jika sekumpulan manejer mungkin melakukan aksi yang konstan. Holmstrom menunjukan secara formal bahwa sebuah kontrak yang didasarkan pada sebuah pengukuran performa seperti net income kurang efisien daripada first-best, sumber dari kerugian efisiensi adalah kebutuhan agen yang risk averse untuk mentoleransi risiko dalam rangka

menghasilkan kecenderungan untuk menolak. Hal ini mengakibatkan munculnya sebuah pertanyaan apakah second-best contract dapat dibuat lebih efisien dengan mendasarkan nya pada pengukuran second performance dalam penambahan nya pada net income. Sebagai contoh, harga saham juga merupakan informasi mengenai performa manajer. Holmstrom menyatakan bahwa menyediakan pengukuran yang kedua (harga saham) juga dapat diobservasi dan memberikan beberapa informasi mengenai usaha manejer yan terkandung dalam pengukuran yang pertama. Sebagai efeknya, net income dan harga saham bersama-sama akan memberikan refleksi yang lebih baik mengenai usaha manajer sekaran daripada hanya salah satu saja. Tentu saja, harga saham cenderung tidak stabil, dan dipengaruhi oleh kejadian ekonomi secara luas. Namun, analisa Holmstrom menunjukan bahwa tidak peduli seberapa mengganggunya variable kedua, variable tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dari secondbest contract jika variable tersebut mengandung paling sedikit beberapa tambahan informasi usaha. Pertanyaan yang kemudian muncul menjadi satu dari proporsi relative dari kompensasi yang didasarkan pada net income, versus didasarkan pada harga saham, dalam compensation contracts.

Sehingga, implikasi yang menarik dari model Holmstrom adalah bahwa seiring dengan net income bersaing dengan sumber informasi lainnya untuk investor dalam teori pasar modal yang efisien, net income juga bersaing dengan sumber informasi lainnya untuk memotivasi manajer dalam agency theory. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai apa karakteristik yang harus dimiliki sebuah pengukuran performa jika pengukuran tersebut digunakan untuk kontribusi pada efficient compensation contracts. Salah satu dari karakteristik penting adalah sensitivitas. Sensitivitas adalah rate dimana nilai ekspektasi dari sebuah pengukuran performa meningkat seiring dengan kerja keras manajer, atau menurun jika yang terjadi sebaliknya. Karakteristik penting lainnya adalah keakuratan dalam memprediksi payoff dari usaha manajer sekarang. Karakteristik yang diperlukan oleh net income jika digunakan untuk mengukur performa tidak sama dengan jika digunakan sebagai input yang berguna dalam keputusan investasi. Dapat disimpulkan bahwa tantangan untuk akuntan adalah untuk memelihara/maintain dan meningkatkan peran dari net income sebagai pengukuran performa seorang manajer adalah menghasilkan angka net income yang merepresentasikan tradeoff terbaik yang mungkin antara sensitivitas dan keakuratan Rigidity of Contracts Contract cenderung untuk rigid (kaku) pada waktu ditandatangani. Alasan untuk kekakuan ini perlu didiskusikan. Dilain pihak, kita mungkin bertanya, jika konsekuensi ekonomi mempunyai tempat dalam contract yang diikuti oleh manejer, mengapa tidak menegosiasi ulang contracts yang mengikuti perubahan dalam GAAP atau keadaan tidak terduga lainnya. Kontak yang tidak mengantisipasi semua kemungkinan realisasi keadaan, adalah tidak lengkap. Membangun sebuah komitmen formal untuk menenegosiasikan kembali contract dibawah tangan adalah mungkin, namun jika negosiasi kembali tersebut adalah baik untuk manejer, prospek dari negosiasi kembali tersebut mengurangi usaha insentif manejer, yang tidak termasuk dalam ketertarikan investor. Akibatnya, konsekuensi dari memasuki contracts hanya karena itu adalah sebuah contracts. Keadaan yang tidak terduga sebelumnya menyebabkan biaya untuk perusahan dan/atau manejer tersebut. Manejer yang kurang beruntung dipengaruhi oleh sebuah perubahan dari peraturanperaturan akuntansi dipertengahan jalan yang mungkin ditekan untuk menghilangkan ketidaksukaan mereka pada akuntan-akuntan yang memperkenalkan perubahan peraturan daripada pihak lainnya.