Anda di halaman 1dari 15

1

BAB 8 EPISTEMOLOGI MAKNA DAN KEBENARAN Pentingnya Makna Setiap pernyataan atau pertanyaan mengandung makna. Pernyataan atau pertanyaan seperti kesedihan, kenikmatan, atau kemarahan. Sebuah pertanyaan, misalnya Apakah demokrasi itu tersebut diwartakan atau didefinisikan. Misalnya, seorang mengucapkan Akh. Pernyataan ini dapat bermakna?, dapat dinyatakan dalam beragam makna dengan berbagai defenisi yang berbeda. Makna suatu pernyataan atau pertanyaan hanya dapat dipahami oleh seorang bila ia dapat menjelaskan dan menetapkan makna yang selalu berlaku tetap dan sama (tidak berubah-ubah). Misalnya, adakah bunyi jika sebuah pohon tumbang di hutan kendati tak seorang pun yang mendengarnya? Makna pertanyaan ini bisa ya atau tidak. Jawabannya ya jika bunyi yang dimaksud adalah sesuatu yang terdengar oleh seseorang. Jawabannya tidak jika bunyi yang dimaksud adalah pengertian bunyi sebagai struktur getaran gelombang menurut fisikawan. Jika seorang memahami makna sebuah pernyataan atau pertanyaan, maka kemungkinan ada gambaran dalam pikirannya dalam menetapkan makna dari sebuah pernyataan atau pertanyaan. Jadi, ada korelasi erat antara pernyataan atau pertanyaan dengan verifikasi (pembenaran) terhadap pernyataan atau pertanyaan tersebut. Pemakaian dan Penyebutan. Makna suatu kata biasanya dibubuhi simbol, misalnya tanda petik. Perhatikan contoh 1 berikut: a. Onta mempunyai 4 huruf b. Onta mempunyai 4 kaki Kalimat 1(a) menunjuk pada penyebutan kata onta, bukan binatangnya. Sedangkan kalimat 1(b) menunjuk pada binatangnya, bukan kata onta. Perhatikan contoh 2 berikut: a. Onta mempunyai 4 huruf b. Onta mempunyai 4 kaki

Pernyataan 2(a) dan 2(b) keliru, sehingga tidak mengandung makna. Jadi, ada perbedaan jelas antara pemakaian dan penyebutan sebuah kata. Jika seorang memakai sebuah kata, maka ia menunjuk pada makna kata tersebut. Sedangkan jika ia menyebutkan kata tersebut, maka ia menunjuk pada kata itu sebagai alat untuk memahami makna. Hal ini juga berlaku pada contoh 3 berikut: a. Sayang, jangan bersedih b. Sayang, jangan bersedih (Judul Lagu) Perhatikan contoh 4 berikut: a. cold (dingin) : bahasa Inggris b. kalt (dingin) : bahasa Jerman Kendati penyebutan kata cold dan kalt berbeda, keduanya semakna. Simbol-simbol (kata-kata) yang digunakan berbeda, namun bermakna sama. Situasi-Tanda. Tanda adalah alat untuk memahami makna. Contoh-contoh yang tergolong tanda antara lain: kata, bunyi, bendera, kode morse, dan sebagainya. Semuanya digunakan untuk memperoleh makna. Ada 2 jenis tanda: tanda rasional (misalnya, awan gelap yang menandakan hujan) dan tanda buatan (misalnya, bendera yang menandakan identitas kebangsaan). Tanda buatan disebut pula simbol. Jadi, penggunaan istilah tanda meliputi tanda maupun simbol. Karena itu, pada sebuah situasi yang terdapat tanda yang mengandung makna bagi seorang disebut situasi-tanda atau situasimakna. Analisa Situasi Tanda. Ada 3 komponen yang terdapat dalam situasi-makna: a. tanda itu sendiri; b. penggabungan tanda-tanda; c. perubahan suatu unsur tanda menjadi unsur tanda lain. Ketiga komponen di atas menyangkut masalah sintaksis, seperti yang ditampilkan pada contoh 5 berikut: a. Sokrates tidak abadi hidupnya = Tidak abadi hidup Sokrates b. a (b + c) = ab + ac

Perhatikan pula contoh 6 berikut: a. pembohong dan pemutarbalik perkataan Contoh 6(a) tidak tergolong situasi-makna, melainkan menyangkut masalah lain dari situasi-makna, sebab dalam situasi-makna, makna adalah penentu apakah pembohong atau pemutarbalik perkataan semakna atau tidak. Jadi, pembohong dapat diucapkan pada situasi tertentu (misalnya situasi ketika seorang menunjukkan kebencian) dan pemutarbalik perkataan dapat diucapkan pada situasi yang berbeda (misalnya, situasi ketika seorang sedang bercanda). Ditinjau dari segi sintaksis kedua kata sudah betul, tetapi jika ditinjau dari segi semantik (arti kata) kedua kata tidak semakna, sebab ada pengertian sampingan antara penutur kata tersebut dengan kata itu sendiri. Perhatikan ulangan contoh 4 berikut : a. cold (dingin) : bahasa Inggris b. kalt (dingin) : bahasa Jerman Pernyataan 4(a) dan 4(b) ditinjau dari segi sintaksis berbeda, namun ditilik dari segi semantik keduanya semakna. Makna. Dalam situasi-tanda, ada salah satu atau dua atau semua dari 3 tipe utama makna berikut: a. makna pragmatis (menurut kegunaannya); b. makna semantik (menurut arti kata) dan; c. makna sintaksis (menurut kata atau kalimat). Perhatikan contoh 8 berikut: a. force (tenaga) : fisika b. force (angkatan) pada kalimat police force (angkatan kepolisian) Pernyataan 8(a) dan 8(b) ditinjau dari segi sintaksis keduanya sama, tetapi ditinjau dari segi pragmatis dan semantik, keduanya berbeda. Perhatikan contoh 9 berikut: a. polisi Pernyataan 9(a) mempunyai makna semantik yang didefinisikan undang-undang, yaitu memelihara hukum dan ketertiban . Namun mengandung makna pragmatis yang berbeda menurut seorang buruh yang mogok kerja dengan majikan, jadi tanda-tanda tidak dipersoalkan dalam makna pragmatis.

Ada beragam makna pragmatis. Ada yang berciri kejiwaan (misalnya, gembira atau sedih), kebiasaan atau tata karma, dan lain sebagainya. Definisi. Ungkapan dari makna sebuah kata disebut definisi. Alat yang dipilih dalam mengungkapkan makna sebuah kata bersifat pilihan (mana-suka), kecuali atas dasar kepuasan dan kehematan. Misalnya, kata co (alat) diberi makna contemporary (dewasa ini). Sekali sebuah alat dipilih untuk diberi makna tertentu pada sebuah obyek atau pengertian khusus, maka ungkapan yang dipilih adalah definisi riil istilah tersebut, tergantung pada makna yang diberikan. Definisi Nominal sebagai Tanda Pengenal. Jika suatu alat dipilih dan ditunjuk bagi sesuatu, maka terbentuk definisi nominal (tanda pengenal nama diri). Misalnya, Harry S. Truman adalah Presiden Amerika Serikat, adalah definisi nominal dari Harry S. Truman. Semua definisi mengenai nama diri tergolong definisi nominal (denotatif) sebagai nama diri belaka, yakni tanda pengenal seseorang, tetapi tidak menyangkut tentang ciri-ciri spesifik orang tersebut. Ada yang berpendapat bahwa semua definisi bersifat pemberian nama, jadi bersifat nominal. Namun jangan lantas mencapuradukkan pemahaman antara alat dalam memahami makna dengan makna yang dikandungnya. Misalnya kata kuda atau cheval (bahasa Prancis). Yang dimaksud kuda dalam arti apakah kuda itu, tergantung kudanya, bukan pemilihan bunyi (kata-kata). Definisi Riil Menyimpulkan Ciri-Ciri Spesifik. Definisi nominal hanya menunjukkan dan berfungsi sebagai tanda pengenal yang dilekatkan pada sesuatu yang menggunakan tanda pengenal itu untuk menunjukkan sesuatu tersebut. Sebaliknya, definisi riil menyimpulkan hakekat sesuatu yang didefinisikan yang disebut makna konotatif, yakni ciri-ciri spesifik sesuatu.

Mazhab-Mazhab Pemikiran tentang Makna -(a) Perkataan Makna Denotatif Dapat Diketahui melalui Asosiasi. Cara untuk mengetahui makna semantic (arti) kata-kata berhubungan dengan makna konotatif (ciri-ciri

spesipik sesuatu), sebab makna denotatif hanya menyangkut asosiasi kejiwaan. Misalnya, seseorang mendengar bunyi yang diasosiasikan dengan sesuatu tertentu dan apapun kemampuan kejiwaan yang bersangkut paut dengannya, secara berangsur asosiasi tersebut bersifat tetap (tidak berubah-ubah). Misalnya, seorang mengatakan itu meja dan menunjuk obyeknya. Setelah kata meja diulangulang, maka orang lain (misalnya, seorang anak) meniru mengucapkan kata meja jika obyeknya diperlihatkan. Namun, masalah kejiwaan menjadi lebih rumit jika menyangkut definisi kata abstrak, misalnya warna atau segitiga. Ada yang mengatakan kedua obyek ini tidak memiliki makna denotatif, hanya makna konotatif. Namun, ditinjau secara relatif sebenarnya mudah menetapkan makna nominal. Makna nominal (denotatif) sebuah kata adalah obyek yang disebutnya, yakni sebuah kata yang dipakai sebagai nama. Lalu bagaimana mengetahui makna konotatif meja? Jawaban atas pertanyaan ini dapat diketahui dengan mengetahui hakekat (esensi) atau makna sebuah meja yang sebenarnya. Hakekat meja yang sebenarnya dijelaskan pada uraian mazhab-mazhab pemikiran tentang makna di bawah ini. Makna sebagai Sesuatu Yang Dipandang Materi. Santayana menyatakan bahwa hakekat (esensi) atau makna sesuatu (obyek) memiliki eksistensi sendiri yang hanya dapat dipahami oleh akal dan makna (hahekat) obyek tersebut sudah ada sebelumnya dalam akal. Tetapi makna obyek itu hanya dapat dipahami oleh akal dengan syarat jika obyeknya diperlihatkan dalam wujud materi fisik. Misalnya, makna meja sudah ada sebelumnya dalam akal dan hanya dapat dipahami oleh akal jika wujud fisik meja diperlihatkan. Mazhab pemikiran ini disebut mazhab realisme, yang pertama kali dirumuskan oleh Plato. Jadi, makna semantik (konotatif) meja terkandung dalam makna meja dan hanya dapat diketahui oleh akal melalui melalui pengenalan makna hakekat (esensi), tanpa memandang bagian-bagian yang membentuk meja, seperti bahannya, ukurannya, bentuknya, atau fungsinya, dan sebagainya. Jadi, makna meja bukan ditentukan oleh kayunya, warnanya, bentuknya, ukurannya atau fungsinya, melainkan karena esensi (makna) meja sudah ada sebelumnya di dalam akal manusia meskipun esensi meja tidak pernah sebelumnya tidak diperlihatkan, diperdengarkan,

dirasakan, dan sebagainya, tetapi memang esensi sesuatu memang sudah ada sebelumnya dalam akal. Makna sebagai Operasi. Bridgman, seorang fisikawan menolak mazhab realisme. Ia menolak bahwa makna sudah ada sebelumnya dalam akal. Menurutnya, makna sebuah kata hanya dapat dipahami setelah orang melaksanakan tindakan-tindakan tertentu yang berasoasi dengan makna bersangkutan. Mazhab ini disebut mazhab operasionisme. Misalnya, makna panjang tidak dapat dipahami kecuali jika orang mengadakan serangkaian tindakan tertentu, misalnya panjang meja diukur. Jadi, makna panjang dipahami dengan alat meletakkan pengukur yang dilakukan dengan cara tertentu secara berulang-ulang dari satu ujung ke ujung lain sebuah meja. Mazhab ini mengatakan bahwa suatu kata tidak dapat didefinisikan jika tanpa tindakan tergolong sebagai kata yang tidak bermakna. Namun, ada beberapa kritikan terhadap mazhab operasionisme yakni: Ruang abslout (alam semesta) menurut fisikawan Isaac Newton dan atomatom misalnya tidak dapat diukur dan diamati secara langsung sebab atomatom bergerak sangat cepat. Pengukuran dan definisi kecerdasan berubah-ubah dan mengalami perkembangan. Operasionisme hanya terbatas pada sejumlah kata yang mengandung makna, sebab ada beberapa kata yang sulit didefinisikan dengan mengandalkan pengukuran. Makna sebagai Konsekwensi. melaksanakan eksperimen Para filsuf Amerika seperti Pierce, James dan Dewey menyatakan bahwa makna berdasarkan makna pragmatisme (konsekwensi dari kegunaan praktis dari sesuatu). Makna pragmatisme berkait dengan definisi operasional. Mazhab pragmatisme serangkaian tindakan tertentu, misalnya melalui

menyatakan bahwa makna suatu kata terletak pada konsekwensinya. Mazhab ini menyatakan bahwa tidak ada makna yang mendahului kata meja (benda konkrit), melainkan makna kata meja baru ada setelah dibuktikan (diverifikasi)

dengan menurut standar ilmiah yang konsekwensinya berguna membantu penyelesaian masalah yang dihadapi seseorang. Pierce mengatakan bahwa kata jiwa (abstrak) jika didefinisikan dengan cara tertentu tidak mengandung makna sebab definisi tersebut tidak memungkinkan orang mengenal jiwa dalam pengalaman. James mengatakan bahwa kata Tuhan tidak dapat dilakukan secara eksperimen, namun kata Tuhan mengandung makna jika dihubungkan dengan kemenangan terakhir nilai-nilai ideal ketika orang memperhitungkan hari depan. Jadi, hidup manusia dituntun oleh makna yang kita lekatkan pada sesuatu. Dengan kata lain, James berpendapat bahwa makna sebuah kata ialah konsekwensinya yang berguna secara praktis bagi kehidupan manusia sehari-hari. Namun Dewey menolak pendapat ini dengan alasan bahwa sebelum kita dapat mengetahui konsekwensi praktis sebuah kata bagi hidup kita, kita harus menetapkan terlebih dahulu maknanya. Namun, apa yang dimaksud James sudah jelas: sebuah kata hanya bermakna jika makna kata tersebut dapat menuntun tindakan seseorang, yakni makna adalah konsekwensi fungsi praktisnya yang berhubungan dengan perilaku dan pemecahan masalah kehidupan praktis sehari-hari. Jika suatu pernyataan tidak ada pengaruhnya terhadap perilaku, pernyataan tersebut tidak mengandung makna sejauh menyangkut menyangkut dengan diri manusia. Makna sebagai Pengalaman. Locke dan Hume menyatakan bahwa semua pengetahuan diawali dengan pengalaman. Mazhab ini disebut mazhab empirisme. Jadi, makna sebuah kata diperoleh melalui pengalaman sehingga diperoleh makna. Makna meja diketahui melalui pengalaman yang berhubungan dengan meja di masa lalu, kini dan mendatang. Namun mazhab empirisme dikritik sebab mazhab ini tidak dapat menjelaskan bagaimana pengalaman-pengalaman yang diperoleh memusat pada sebuah obyek tunggal (misalnya meja). Akal hanya mengelolah konsep pengalaman (Inderawi), hal itu dilakukan dengan menyusun konsep tersebut atau mebagi-baginya. akal sebagai tempat penampungan.

Makna, Pengalaman Yang Dibentuk oleh Akal. Mazhan operasionisme dan pragmatisme gagal memperhitungkan fungsi akal dalam situasi-makna. Suatu makna barangkali dalam batas-batas tertentu dipaksakan masuk ke dalam pengalaman oleh akal. Kesalahan ini dianut oleh mazhab operasionisme dan pragmatisme serta mazhab realisme. Immanuel Kant merumuskan paduan antara mazhab operasionisme dan pragmatisme, yakni gabungan antara pengalaman dan pemahaman. Jadi, makna adalah hasil pengalaman yang ditangani secara tepat oleh akal, bukan hasil pengalaman belaka atau pemahaman akal semata-mata.

Mazhab-Mazhab Pemikiran tentang Makna -(a) Pernyataan Makna sebuah pernyataan hanya dapat dipahami jika pernyataan tersebut tidak saling berkotradiksi (bertentangan). Perhatikan contoh kalimat yang mengandung kontradiksi, Langit tiada berawan, sementara itu hujan turun dengan lebatnya. Pernyataanhujan turun dikatakan salah bila sebenarnya hujan tidak turun, tetapi pernyataan tersebut mengandung kontrakdiksi dalam dirinya sendiri. Namun tidak mustahil penyataan hujan turun tersebut menjadi benar jika ditunjuk peristiwa terjadi diwaktu dan tempat yang lain. seperti langit mendung diikuti hujan turun. Makna sebagai Situasi Keseluruhan. Makna pernyataan terpulang pada makna kata-kata yang menyusun pernyataan tersebut yang ditunjang oleh hasil kegiatan akal. Jadi, makna suatu pernyataan sudah tetap, tidak berubah sehingga dapat dipahami. Misalnya, Ledakan terjadi bertepatan dengan terjadinya benturan. Maka maka pernyataan ini tetap (jika ledakan, benturan, dan waktu, sekali ditentukan), tidak berubah dan dapat dipahami oleh siapa pun juga. Ini disebut mazhab mutlak tentang makna yang mendefinisikan makna menurut faktorfaktor kejiwaan yang timbul dalam diri seseorang. Operasionisme. Mazhab ini menyatakan bahwa suatu pernyataan hanya bermakna jika pernyataan tersebut menggambarkan pengalaman yang sungguh-sungguh atau

mungkin terjadi yang membenarkan atau menyalahkan pernyataan tersebut. Contoh pernyataan adakah yang menyerupai saya di planit yupiter Jadi, setiap pernyataan dipandang mengandug makna ialah pernyataan yang melukiskan pengalaman yang sebenarnya atau mungkin terjadi, yang membenarkan atau menyalahkan pernyataan tersebut. Dengan kata lain, pernyataan harus dianggap sebagai hipotesa yang meramalkan pengalaman-pengalaman indera atau tindakantindakan yang mungkin terjadi atau dilakukan yang merupakan makna pernyataan tersebut. Mazhab ini disebut pernyataan tentang makna yang dapat diverifikasi (dibuktikan). Kualifikasi menurut Penganut Pragmatisme. Mazhab pragmatisme

menitikberatkan pada konsekwensi praktis terhadap perilaku. Menurut mazhab ini, suatu pernyataan mengandung makna sesuatu, yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu. Jika suatu pernyataan tidak ada pengaruhn ya terhadap perilaku, pernyataan tersebut tidak mengandung makna sejauh menyangkut menyangkut dengan diri manusia. Jadi, makna tidak statis, melainkan dinamis yang memberikan reaksi terhadap dirinya sendiri. Jadi, mahasiswa yang mempelajari pernyataan tenaga adalah massa dikali percepatan hanya bermakan jika ia bekerja lebih lanjut melaksanakan eksperimen untuk membuktikan pernyataan tersebut. Pemberitahuan dan Makna. Masalah makna pada intinya terdapat dalam pemberitahuan informasi. Dalam setiap peristiwa, pengetahuan yang disampaikan misalnya lewat percakapan, nonton, dan berbagai hal. Tetapi penting diingat dengan seksama bahwa mengetahui makna sebuah pernyataan tidak sama artinya dengan mengetahui apakah pernyataan itu benar. Jadi, jangan menganggap bahwa apa yang mengandung makna selalu benar, sebab jika kita bersikap demikian, kita bakal membuat kekeliruan besar. Jadi, sesungguhnya benar itu tidak sama dengan dapat dipahami.

10

Kebenaran Mengetahui apa yang dimaksud dalam sebuah pernyataan tidak sama dengan mengetahui apakah pernyataan tersebut benar atau tidak. Untuk sampai pada definisi kebenaran, marilah kita ambil contoh pernyataan Di luar hawanya dingin. Kalimat ini dapat dianalisa sebagai berikut : suatu perangkat tanda; susunan tanda-tanda yang teratur sesuatu aturan sintaksis; makna yang dikandungnya atau dimaksudkannya.

Proposisi, Kandungan Makna Suatu Pernyataan. Pernyataan pada contoh di atas tergolong murni sintaksis sebagai kalimat berita. Sedangkan makna yang dimaksud oleh pernyataan disebut proposisi. Dengan demikian perkataan benar hanya dapat diterapkan pada proposisi. Kebenaran:, Sebuah Perkataan yang Bersifat Semantik. Pernyataan tergolong istilah yang bersifat sintaksis. Sedangkan proposisi adalah suatu istilah yang bersifat semantick dan demikian pula kata benar mengacu pada makna simbol-simbol dan bukan pada simbolnya. Misalnya, jika p benar jika dan hanya jika p itulah halnya; dalam hal ini menurut kebiasaan, simbol p menunjukkan pernyataan, sedangkan symbol p mengacu kepada preposisi. Maka, membicarakan masalah kebenaran dibutuhkan suatu bahasa yang berbeda dengan bahasa yang bersifat sintaksis. Kebenaran menunjukkan bahwa makna sebuah pernyataan artinya, proposisinya - sungguh-sungguh mengandung kebenaran dalam bentuk perkataan yang bersifat semantik. Jika preposisi keliru, maka pernyataan tersebut salah dan preposisi tidak boleh saling kontradiksi. Hal ini selaras dengan mazhab idealisme yang dikemukakan oleh F.H. Bradley, yang menyatakan bahwa kebenaran adalah kesesuain antara pernyataan dengan kenyataan. Karena kebenaran adalah makna yang merupakan halnya, dan karena kenyataan itu juga merupakan halnya, maka kedua-duanya dipandang sama sepenuhnya.

11

Ukuran-ukuran Kebenaran. Bagaimana cara mengukur bahwa preposisi itu benar? Pertanyaan ini menghendaki adanya pembedaan antara definisi kebenaran masalah tentang makna dengan ukuran kebenaran. Apa yang dibutuhkan ialah bahwa suatu yang dapat dipakai untuk membuktikan bahwa definisi itu terpenuhi karena tidak mudah menerapkan definisi secara langsung. Misalnya, Di luar hawanya dingin hanya terbukti jika seseorang kebenaran tersebut dengan mengamati kondisi di luar gedung dan membawa alat pengukut suhu. Tetapi bagaimana dengan orang yang membaca pernyataan ini yang mungkin dibacanya dua tahun kemudian dan berada 500 mil dari tempat tersebut? Tentu masalahnya pelik dan sukar. Ukuran kebenaran sesungguhnya tergantung pada apakah yang sebenarnya yang diberikan kepada kita oleh metode-metode untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh dari ide-ide kita saling dihubungkan secara tepat dan kebenaran merupakan keadaan-saling berhubungan (koherensi) di antara ide-ide tersebut atau keadaan saling berhubungan di antara preposisi-preposisi. Jika preposisi-preposisi tersebut memberitahukan kenyataan kepada kita, maka preposisi-preposisi tersebut seharusnya kita menyelesaikan masalah-masalah kita, atau meramalkan pengalaman-pengalaman, sebagaimana yang diajarkan mazhab pragmatisme. Mazhab skeptisme menganggap tidak ada ukuran kebenaran. Sedangkan dogmatism mengatakan bahwa ukuran kebenaran adalah ukuran yang dapat dipercaya secara mutlak. Mazhab idealism dan realism mengambil jalan tengah. Ukuran kebenaran diperoleh melalui kesaksian yang dap-at dipercaya mengenai kemungkinam benar salahnya proposisi. 1. Mazhab Koherensi. Dianut mazhab idealism seperti F.H. Bradley (18461924). Mazhab ini mengatakan bahwa suatu preposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan saling berhubungan dan saling menerangkan secara sistimatic, kebenaran adalah konsistensi dan kecocokan, dengan proposisi-proposisi lain yang benar atau makna yang dikandungnya saling berhubungan dengan pengalaman kita. Misalnya, untuk mengetahui seorang berbohong dalam banyak hal maka jalan untuk menunjukkan bahwa apa yang

12

dikatakannya tidak cocok dengan hal-hal lain yang telah dikatakannya atau dikerjakannya. Derajat keadaan saling berhubungan merupakan ukuran bagi derajat kebenaran, sedangkan saling berhubungan dengan semua kenyataan merupakan kebenaran yang mutlak. a.Epistemologi idealisme dan Paham Koherensi. Penganut idealisme juga melakukanb pendekatan masalah tersebut melalui epistemologinya. Apa yang kita kerjakan tidak hanya menunjukkan ukuran kebenaran sebagai suatu keadaan saling berhubungan, melainkan juga jawaban terhadap pertanyaan, Apakah yang kita ketahui?. Kebenaran tentu merupakan sifat yang dimiliki oleh ide kita. Kebenaran itu tergantung pada orang yang yang

menentukan kebenaran pengetahuannya tanpa memandang keadaan real peristiwa-peristiwa. Apapun yang kita ketahui selalu berupa ide-ide dan tidak berupa sesuatu sebagaimana yang terdapat dalam dirinya sendiri yang bersifat lahiriah, yang hipotesa. Karena pemikiranlah yang menemukan ketertiban, tatanan dan sistem dalam kenyataan yang kita hadapi dan karena pemikiran membuahkan ide-ide, kebenaran terletak dalam keadaan saling berhubungan di antara ide-ide tersebut. b.Hukum-hukum Keadaan Saling Berhubungan. Apa yang dimaksud mazhab idealisme mengenai keadaan saling berhubungan? Bradley

mengemukakan 2 ciri pokok : keharusan bahwa semua fakta terangkum dan ide-ide harus teratur secara selaras dan tidak mengandung kontradiksi. c.Preposisi-preposisi dalam Keadaan Saling Berhubungan, namun Sesat. Peramalan meliputi penjabaran yang tidak dilukiskan dalam sistem tertentu, misalnya cerita fiktif namun saling berhubungan maka keadaan saling berhubungan itu kadang-kadang tidak merupakan ukuran yang sangat berharga tentang kebenaran, kecuali jika peristiwa yang dilukiskan dapat diamati sehingga peramalan itu telah dibuktikan (diverifikasi). 2. Mazhab Korespondensi. Mazhab ini menyatakan bahwa kebenaran atau keadaan benar adalah persesuaian (agreement) antara pernyataan (Statement) mengenai fakta dengan fakta aktual, atau antara putusan (judgement) dengan situasi seputar (enviromental situation) yang diberi

13

interpretasi. Hal ini berbeda dengan mazhab koherensi yang menyatakan bahwa jika sebuah preposisi saling berhubungan dengan preposisi-preposisi lain, maka apa yang dinyatakannya merupakan fakta. Pelopor teori ini adalah Plato, Aristoteles, Moore, Russel, Ramsey (1872-1970),dan K.Roders. a. Makna sesua (Correspond). Bagaimana makna sesuai dengan fakta? Paham korespondensi yang dianut oleh mazhab realisme berpijak pada kemandirian fakta atau hekekat yang tidak ideal dari fakta-fakta. Jadi, sukar membayangkan apakah yang sesuai dengan fakta-fakta. Karena itu, tak ada satu pun ide yang bersifat kejiwaan yang serupa atau sesuai dengan fakta yang tidak bersifat kejiwaan. Kesulitan ini dihadapi oleh penganut mazhab realism. b. Kesesuaian di antara esensi-esensi. K. Rogers, penganut realisme kritis di Amerika menyatakan bahwa perlu ada pembedaan dua segi pada makna. Pertama, segi kejiwaan yang di dalamnya makna termasuk dalam lingkungan pengalaman kejiwaan dan merupakan makna yang kita berikan. Kedua, makna yang termasuk dalam lingkungan obyeknya, yaitu hekekat obyek. Menurut Rogers, keadaan-keadaan terletak dalam kesesuaian antara esensi atau makna yang kita berikan dengan esensi atau makna yang terdapat dalam obyeknya. Maka yang bersesuaiabn bukanlah makna dengan obyeknyam melainkan esensi sebagai makna dengan esensi yang terdapat dalam obyek. c. Simbol sebagai Perantara. Simbol harus berlaku sebagai perantara antara apa yang ditunjukkan dalam keadaan sesungguhnya dengan esensi atau makna yang terdapat dalam pikiran seorang pendengar atau penutur. d. Kesesuaian di antara Bentuk-Bentuk Kata. Menurut Bertrand Russel, filsuf Inggris, kesesuaianb itu terdapat di antara dua bentuk kata. Pertama, yang kebenarannya dipertimbangkan. Kedua, ditimbulkan oleh lingkungan tempat terdapatnya orang yang memakai kata. Suatu kata dikatakan benar, jika seorang yang mengetahui makna kata tersebut berada dalam situasi sedemikian rupa sehingga menyebabkan ia mengucapkan kata-kata yang sama dalam keadaan itu. Ini berarti orang dapat menganalisa situasi sebagai berikut: 1. suatu bentuk kata telah ditentukan;

14

2. suatu obyejk terlibat; 3. ada suatu perangkat keadaan; 4. ada reaksi dalam bentuk kata-kata dari subyek tersebut. e. Kebenaran sebagai Pembenaran (Verifikasi). John Dewey menyatakan bahwa makna yang dikandung perilaku suatu preposisi terletak pada

konsekwensinya

terhadap

seseorang.

Suatu

proposisi

mengandung makna, jika proposisi itu membuat perubahan atau menyediakan suatu perangkat untuk melakukan sesuatu dimana perilaku makhluk hidup selalu ditujukan untuk menyelesaikan masalah hidup. Misalnya, Jalannya keluarnya ke kiri dalam hutan ini. Menurut Dewey, proposisi ini benar jika kita sudah melakukan verifikasi (pembuktian) dengan berjalan ke kiri dan memang sungguh-sungguh kita keluar dari hutan. Jadi, kebenaran adalah pembenaran (verifikasi) dan hal ini ditinjukkkan bila penyelidikan yang menimbulkan perumusan hipotesa tersebut diselesiakan dengan berhasil. Perlu dibedakan antara mengetahui suatu proposisi benar dengan keadaan suatu proposisi benar. Jika seseorang menyatakan jalan ke kiri membawa kita keluar dari hutan sebetulanya ia tidak mengetahui apakah yang ia ucapkan itu benar, kecuali jika ia mengikutinya. Tetapi apakah sudah dijamin apakah ia mengikuti atau tidak, jalan itu membawa ia keluar dari hutan atau tidak membawa ia keluar dari hutan. Sedangkan pernyataan Jalan ke kiri boleh jadi membawa ia keluar dari hutan. Jika mengikutinya dan jeluar dari hutan, maka jalan tersebut betulbetul membawanya keluar dari hutan. Proposisi ini benar dengan jalan menunjukkan kepada masa lampau dan tidak menunjuk kepada sesuatu yang akan dilaksanakan pada masa mendatang. Selanjutnya, boleh jadi jalan itu akan membawa keluar hutan tidak menjadi masalah karena tindakan-tindakan yang ia lakukan kemudian. Yaitu, meskipun ia mengikuti jalan tersebut dan ternyata malah malah jalan itu makin membuat ia sesat di dalam hutan. Jadi, menurut Dewey, definisi tentang kebenaran bertentangan dengan pengertian-pengertian kita tentang

15

pernyataan-pernyataan yang mengandung probabilitas. Selanjutnya Dewey menyatakan bahwa propoisi memang mengadakan peramalan, dan hasilnya dapat mengatakan kepada kita banyak hal mengenai benar-salahnya. Tetapi kecuali jika proposisi itu ditinjau dari sudut logika sama nilanya dengan ramalan-ramalan, maka tidak satu pun ramalan yang dieproleh atas dasar itu melakukan verifikasi terhadap porposisi. Jadi, semua proposisi empiris merupakan ramalanb belaka tidak mengandung lebih daripada kemungkinan untuk benar.