Anda di halaman 1dari 20

SANGGAR SASTRA TASIK

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

LOMBA BACA PUISI SANGGAR SASTRA TASIK (LBP SST) SE-JAWA BARAT 2013 Setelah absen di tahun 2012, Sanggar Sastra Tasik (SST) kembali akan menyelenggarakan

Lomba Baca Puisi se-Jawa Barat 2013

pada

10 - 12 Mei 2013

mendatang.di Gedung (GKT) Jl. Lingkar Dadaha No. 18,5 - Kota Tasikmalaya.

Kesenian Tasikmalaya

TENTANG PERLOMBAAAN Lomba terbuka untuk umum usia 17 tahun ke atas dengan persyaratan sebagai berikut: Warga Negara Indonesia atau WNI Keturunan, berdomisili di Jawa Barat atau di manapun di Indonesia namun lahir di Jawa Barat yang dibuktikan dengan fotokopi KTP atau identitas lainnya. Calon peserta mendaftar langsung ke tempat-tempat pendaftaran yang telah ditentukan, mengisi formulir pendaftaran, serta membayar biaya administrasi sebesar : Rp. 35.000,00 (tiga puluh lima ribu rupiah).

Waktu Pendaftaran yakni 1 April 2013 9 Mei 2013


Teknikal Meeting 9 Mei 2013 Jam : 14.00 WIB di Gedung Kesenian Tasikmalaya.
Untuk peserta yang berdomisili di luar alamat sekretariat pendaftaran yang tercantum di bawah, dapat mendaftarkan diri ke tempat pendaftaran terdekat. - TASIKMALAYA : Sekretariat Sanggar Sastra Tasik (SST) Jl. Argasari No. 22 Kontak Person : Juni Zami (083826590088) - CIAMIS - BANDUNG : Bapak Kidung Purnama (081320797616) SMA Negeri 1 Ciamis : Sdr. Zulkifli Songyanan (085659282090) Area Studi dan Apresiasi Sastra-UPI (ASAS-UPI), Semmi Ikra Anggara (081809663285) : Wahyudi Yuli (085724556528) Komunitas Rumah Kertas. : Sdri. Diah Rosdiana, Blok Kenanga RT 7 RW 04, Desa/Kec. Panyingkiran, Kab. Majalengka (081222155512) : Sdr. Ucup Waras (085793926998) Warung Sastra Universitas Surya Kencana : Nero Taofik Abdillah (081323460864) Komunitas Ngejah Didi Rahman Photography (Simpang tiga alun-alun Kec. Cibatu Kontak : 085738446577 Ratna Ayu Budiarti) Fachroe (082121844927) Poss Theatron

- CIREBON - MAJALENGKA

- CIANJUR

- GARUT

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

LAGU BULAN MEI


ANTOLOGI PUISI LBP SST 2013 Pemilihan Materi Puisi : Saeful Badar Setting & Layout : Sarabunis Mubarok Hak Cipta dilindungi undang-undang ada pada penyair masing-masing All rights reserved Diperbanyak oleh Sanggar Sastra Tasik (SST) Untuk kepentingan Lomba Baca Puisi Se-Jawa Barat Tahun 2013 di Tasikmalaya

TEKNIS PERLOMBAAN - Peserta memilih dua judul puisi yang telah disediakan panitia dalam bentuk Antologi Puisi Lomba yang bisa diperoleh pada saat mendaftar/ Teknikal Meeting, - Satu judul puisi dibacakan pada Babak Penyisihan, dan satu judul yang lainnya dibacakan pada Babak Final jika peserta bersangkutan berhasil masuk Final. Jadi, baik di Babak Penyisihan maupun di Final, peserta hanya membacakan satu buah puisi yang berbeda. Adapun puisi-puisi yang wajib dibawakan peserta tersebut antara lain: 1. Hanna Fransisca PADA SUATU HARI 2. Yusran Arifin GAUN BORDIR 3. Joko Pinurbo KALVARI 4. Taufiq Ismail AKU BELUM BISA MENYEBUTMU LAGI 5. Rendra DI MEJA MAKAN 6. Sutardji Calzoum Bachri PARA PEMINUM 7. Acep Zamzam Noor LAGU BULAN MEI 8. Sarabunis Mubarok TULISAN PADA PETA 9. Irvan Mulyadie PALESTINA, MELANGGAM LUKA 10. Juni Zami AN AFTERNOON 11. Juniarso Ridwan LAUT MENDERA 12. Syahreza Faisal DALEM CIKUNDUL 13. Bode Riswandi BUAT ANNA POLITKOVSKAYA 14. Nina Minareli LUKISAN LAUT 15. Nazarudin Azhar NOCTURNO, 2 16. Amang Berdaulat PESTA TABUR BUNGA LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT
Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Pengantar Lomba: SEBUAH UPAYA MEMBUMIKAN PUISI LOMBA Baca Puisi Sanggar Sastra Tasik (SST) dimaksudkan untuk lebih membumikan puisi ke tengah-tengah masyarakat. Upaya ini merupakan sebuah komitmen yang tetap dipegang teguh oleh SST sejak permulaan berdirinya pada paruh akhir tahun 1996 silam. SST merupakan satu-satunya komunitas sastra di Tasikmalaya yang secara khusus bergelut di bidang sastra, terutama puisi. Meski tidak secara khusus menggarap pelatihan baca puisi sebab lebih cenderung menjadi laboratorium penulisan puisi bagi para peminat serius untuk menulis puisi, SST berkepentingan untuk memetakan bibit-bibit pembaca puisi yang baik. Salah satu upaya yang dilakukan untuk itu adalah dengan penyelenggaraan lomba seperti ini. Kami melihat, selalu ada hal yang menarik dari kegiatan lomba seperti ini. Betapa di tengah-tengah terasingnya puisi bagi sebagian besar masyarakat kita, ternyata selalu saja terdapat pembaca puisi yang baik bahkan sangat baik, yang tidak saja mampu memperlihatkan interpretasi yang benar terhadap teks puisi yang dibacanya, melainkan juga mampu menyajikan ekspresi dan gaya pembacaan yang memikat ketika tampil di atas pentas lomba. Hingga karenanya, puisi terasa hidup dan sangat menarik. Secara teks, puisi memang hanyalah benda mati yang mungkin sulit untuk dipahami atau dinikmati oleh sebagian besar orang. Maka tugas pembaca puisilah untuk menghidupkan dan menyampaikan pesan-pesan/makna yang terkandung di dalamnya kepada pendengar atau penonton. Lewat pembacaan yang baik, puisi seolah menjadi benda hidup dan pentas baca puisi tentunya menjadi tontonan yang asyik dan nikmat untuk disimak. Lebih dari pertunjukan dangdut atau musik pop, umpamanya, menikmati pertunjukan baca puisi malah sangat kontemplatif dan bahkan cukup inspiratif jadinya. Pada gilirannya, mentalitas dan ruhani kitapun akan tercerahkan dibuatnya. Di sinilah letak efektivitas Lomba Baca Puisi sebagai media sosialisasi, di mana hal ini akan mampu memancing perhatian orang, yang awam sekalipun, untuk bisa tertarik lebih jauh kepada puisi. Maka jika kegiatan semacam ini banyak diselenggarakan oleh banyak kalangan secara terus-menerus, bisa jadi katup alienasi puisi dalam kehidupan masyarakat kita, perlahan namun pasti, akan terbuka dengan sendirinya. Itulah barangkali yang senantiasa dimimpikan oleh Sanggar Sastra Tasik atau mungkin oleh kita semua. Lewat Lomba Baca Puisi, kita bisa mengaji tradisi dan mencerahkan hati. Ah, semoga saja ini tidak sekedar sebuah obsesi atau mimpi, apalagi janji, sebab kami bukan politisi yang kerjanya cuma bisa menebar janji tanpa bukti. Sehingga, bisa jadi benar bahwa ketika keadaan politik suatu negara kotor, maka puisilah yang akan membersihkannya. Demikian sebagaimana yang, konon, pernah dikatakan oleh John F. Kennedy. Selamat berlomba. Merdeka! (*) SANGGAR SASTRA TASIK (SST

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Hanna Fransisca PADA SUATU HARI Adakah nyanyi Hutan Bambu* sampai padamu? Telah kuputuskan menunda hati pada embun pucuk pagi. Sebelum burung tiba, dan angin menjatuhkan derainya pada tanah yang mengekalkan sepi. Maka dengarkan suara hati sebelum pergi. Sebab telah kularang siapapun menjelma burung. Kutolak serta para pemanggil angin. Lantaran embun terlanjur jatuh menjadi batu, adalah cintaku yang terus menunggu. Kaulihat malaikat menuruni tangga langit, di malam udara, membawa embun dan menidurkan aku di sini. Pada suatu hari. Menunggu hangat langkahmu tiba di sini. Pada suatu hari. Di pucuk bambu. Dari sepi ke sunyi. Dari angin ke bunyi. Menyeru deru. Sebutir debu.

Jakarta, Agustus 2011

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Yusran Arifin GAUN BORDIR Seperti deru juki mimpimu berlari kencang sekali Helai benang juga lembar nasibmu yang terang itu kau bentang Dari tiang pikiran hingga ke tiang-tiang tak terbilang Jumlahnya. Hidup adalah bentangan mimpi dan harapan-harapan Suci, jeritmu dengan hati panas seperti mesin yang kehilangan minyak Pelumas. Kau terus berlari mencelupi waktumu yang singkat itu Dengan warna-warna pelangi. Tak juga kau berhenti Masa depanmu adalah riuh pasar yang tak henti kau perlebar Hingga kampung-kampung telah lama kau ratakan.Mirip barbar Sebelah dari madrasah juga selasar dari mushola yang terbelah Di hatimu, di samping rumah kontrakan itu telah lama kau Sewakan, jadi tempat pelelangan. Segala yang ada dan kau punya Kau jual-belikan dengan harga menyedihkan. Kau jual bordir Muliamu. Kau tukar gaun abadimu dengan kesementaraan

2013

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Joko Pinurbo KALVARI Hari sudah petang ketika maut tiba di ranjang Orang-orang partai yang mengantarnya ke situ sudah bubar, bubar bersama para serdadu yang mengalungkan kawat berduri di lehernya dan membuang tubuhnya tadi siang. Hanya ada seorang perempuan sedang sembahyang berkerudung kain kafan dan menggelarnya bagi raga yang capai. Bapa, belum selesai. Entah kapan saya sampai. Hanya ia yang tawakal menemani ajal, menyiapkan pembaringan buat tidur seorang pecundang: warga tanpa Negara, tanpa agama. Hanya ia yang mendengar sekaratnya. Telah kuminum anggur dari darah yang mancur. Telah kucercap luka pada lambung yang lapa. Di tubuh Tuhan kuziarahi peta negeri yang hancur. Maut sudah kosong ketika mereka hendak menculik mayatnya. Hanya ada seorang perempuan sedang membersihkan salib di sudut ranjang. Ia sudah pergi ke kota, katanya, dan kalian tak akan bisa lagi menangkapnya.

1998 LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Taufiq Ismail AKU BELUM BISA MENYEBUTMU LAGI Ya, aku belum bisa menyebut namamu lagi Dalam surat, buku harian dan percakapan sehari-hari Kembali seakan sebuah janji diikrarkan Apa lagi yang dapat kita ucapkan Seperti dulu, namamu penuh belum bisa kusebut kini Jauhkan daku dari kekhianatan, doaku setiap kali Daun-daun asam mulai bermerahan dalam gugusan Bara kemarau, lunglai dan teramat pelahan Di atas hutan kelelawar senja beterbangan Beratus sayap berombak-ombak ke selatan Menyebar di atas baris-baris merah berangkat tenggelam Dan sekian ratus senja yang kucatat jadi malam Kabut pun bagai uban di atas hutan-hutan Uap air tipis, merendah dari tepi-tepi Tak sampai gerimis hanya awan berlayangan Duh namamu penuh, yang belum bisa kusebut kini Pada suatu hari namamu utuh akan kusebut lagi Di titik senyap kekhianatan doaku setiap kali Di atas baris-baris merah yang berangkat tenggelam Sekian ribu senja kucatat jadi malam

1964

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Rendra DI MEJA MAKAN Ia makan nasi dan isi hati pada mulut terkunyah duka tatapan matanya pada lain sisi meja lelaki muda yang dirasa tidak lagi dimilikinya. Ruang diributi jerit dada Sambal tomat pada mata meleleh air racun dosa. Dipeluknya duka erat-erat dikurung pada bisu mulut dan mata pijar warna kesumba Lelaki depannya mengisar hati - sudah lama. Terungkap rahasia diperam rasa terkunci pintu hati, hilang kuncinya - sudah lama. Ia makan nasi dan isi hati pada mulut terkunyah duka memisah sudah sebagian nyawanya di hati ia duduk atas keranda. Lalu ditutup matanya gabak gambaran yang digenggam olehnya: lelaki itu terhantar di lantai kamar pisau tertancap pada punggungnya.

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Sutardji Calzoum Bachri PARA PEMINUM di lereng-lereng para peminum mendaki gunung mabuk kadang mereka terpeleset jatuh dan mendaki lagi memetik bulan dipuncak mereka oleng tapi mereka bilang -kami takkan karam dalam laut bulanmereka nyanyi-nyanyi jatuh dan mendaki lagi di puncak gunung mabuk mereka berhasil memetik bulan mereka menyimpan bulan dan bulan menyimpan mereka dipuncak semuanya diam dan tersimpan

1976-1979

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Acep Zamzam Noor LAGU BULAN MEI Bukit-bukit kembali menggeliat Langit menanggalkan mantel tebalnya Seperti perempuan yang terlentang di pantai Mandi cahaya. Kuhirup birahi musim semi Dari daun-daun dan rumputan baru Kureguk anggur dari gelasmu yang penuh Dan kita berada di hari lain Di antara hari-hari yang memberat Oleh muatan rindu Aku membaca lagi Buku-buku lama yang tertimbun salju Kantuk dan kemalasan. Kusingkap halaman-halamannya Dan aku menemukan pir, apel dan jeruk segar Dari bukit-bukit dadamu yang menghijau Kuulurkan tanganku pada matahari Yang menuangi perasaanku dengan cahaya pagi Lalu cahaya yang pemurah itu mengelus leherku Dengan lidahnya yang hangat Sebuah sungai di pahamu Berkelok-kelok dengan riang Menyirami rumpun bunga dan sayuran Tangannya yang panjang bahkan mencapai Altar gereja. Kulihat orang-orang berdoa Dengan anjing-anjing mereka yang setia Orang-orang bernyanyi dan berciuman Seperti burung-burung merpati Di bawah langit yang terang Bersama sungai langkahku mengalir Menyusuri tubuhmu yang licin Kulewati puing-puing musim dingin Seperti melewati hari kemarin yang kekal Dari sekedar bercak merah di lehermu Atau tumpahan anggur di lantai -Namun kita akan tetap kehilangan juga Seperti pohon yang ditinggalkan daun-daunnya Ketika musim gugur tiba

1992 LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Sarabunis Mubarok TULISAN PADA PETA aku mencerap risau di pantai-pantai di pulau-pulau di selat-selat yang dihimpit hutan bakau keringat nelayan masih mengasinkan lautan saat hati orang-orang kehabisan garam di kepal-kepal tangan di kecambah pikiran di aliran darah anak-anak negeri yang deras aku harus mencerap warna-warna kusam mengapa negeri yang digurat kesuburan membiakkan begitu banyak kambing hitam gunung-gunung yang disandera di barat sungai-sungai yang mengairmata di timur kampung dan kota yang saling memburu semua mengukir luka di tubuhku lalu aku mencerap rahasia di sulur-sulur cuaca dan hawa tropika di senyum sejuk alam khatulistiwa aku mencerap hasrat kembara melebihi segala yang kasat mata tapi di negeri yang sulit dibaca minyak bagi remang adalah luka haruskah aku menyulut api meski membakar diri sendiri

2006

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Juni Zami AN AFTERNOON Pada sepasang mata angsa Kulihat senja yang terjaga Di bibir telaga, seorang wanita Mencelupkan sepasang kakinya Sambil meraba beberapa bait Sajak Lorca: tentang para pemanah Yang buta. Souvenir asmara. Juga cinta Yang mengenalkan kegembiraan Dan rasa tunggara Sementara di atas sebuah keletihan Kuingat sepasang lesung pipimu Hulu lahir juga arah hilir kematianku Semakin sering kau tersenyum Semakin kukenal kamar awal Dan pembaringan yang kekal itu Sebab keletihan, barangkali sebuah Arloji yang dilingkarkan ibu dahulu Pada pergelangan tanganku. Sejumlah Peristiwa seperti juga namamu Aku tuliskan. Semata agar bisa Kukosongkan seluruh ruang dari Ingatan Seperti senja begitu juga tubuh seorang Wanita buta yang perlahan-lahan malam Sepasang angsa seperti juga hari-hari api Dan kata-kata ketika bukit-bukit tenggelam

2011

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Irvan Mulyadie PALESTINA, MELANGGAM LUKA . Di balik mimpi, lukisan perang Mengikis hati para pengungsi Yang tergolek di tenda-tenda Di sepanjang perbatasan kemanusiaan Dengarlah desing peluru! Saban hari, suaranya begitu parau Dan aku ingat hari itu: Anak-anak takkan bisa bernyanyi lagi Mengeja peta dan shalawat Yang setia melanggam luka Kepada saban raungan mortar Angin telah menasbihkan kematian Di padang debu penuh sembilu Hiruplah bau darah, asap mesiu! Atau lihat sobekan daging yang terpanggang Pada tubuh perempuan hamil muda Di Gaza, segala nampak sederhana Genosida! . . Ada sujud yang terhenti Di hari Jumat penuh tragedi Lalu malam merayakan kematian Di lorong-lorong persembunyian Ketika rudal ditembakkan sembarang arah Dan mendarat dalam buku-buku sejarah Tapi takkan terbaca olehmu, anakku Bagaimana bayi-bayi itu menemu ajal Saat maut menyarangkan banyak peluru Ke tanah suci yang dijanjikan Ya, di sepanjang sungai Tigris Beribu nyawa mengalirkan deras tangis

2009 LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Juniarso Ridwan LAUT MENDERA di laut ini tak ada tempat ombak mendarat, cinta pun mengembara dengan sayap perkasa, orang-orang menggapai karang, menorehkan kerinduan dengan cipratan air. Ribuan perahu, dengan cahaya lilin, mengelilingi pulau-pulau tak bernama: mencari persinggahan. nelayan segera mendayung waktu, mengarungi lengkung langit, membelah perasaan untuk berbagi tempat dan menebar jala di antara lelehan parfum. Seperti sayur-mayur atau hasil bumi diperdagangkan, kenikmatanpun menjadi barang rebutan; dikemas dengan apik sesuai hitungan selera. kukitari gunung-gunung bersalju, sambil menunggu sungai-sungai terbentuk dalam kepala, menghanyutkan hutan belantara. Lalu di palung lautlah ajal menunggu setiap orang dengan penuh ramah: selamat datang para undangan yang patuh, ujar serbuk sianida berbasa-basi.

1996

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Syahreza Faisal DALEM CIKUNDUL dengan meninggalkan Sagalaherang --pondok tentram tempat syamsi meretas kabut pagi setiap hari ia merapikan keyakinan memilih menjadi petapa paling gigih lagi. ia tak pernah mengira kelak menggurat silsilah kampung mukimnya di ujung kota paling barat. di mana ia jatuhkan kakinya di sanalah mengalir mata air pertama. semai yang ia taburkan di sepanjang bantaran sungai tumbuh dari hujan berkah dan suluran sumber Cikahuripan. di mana segala binatang akan minum dari mulutnya untuk melepas dahaga membasuh luka pula yang didapati mereka dari lebat rimba hutan. ia menikahi istri dari kaum gaib semesta dan mengutus ketiga anaknya agar bersemayam segera ke tiap pundak dan gua gunung : Suryakencana sang penunggang kuda hitam bijaksana Nyi Mas Kara yang memesona dan Andaka sang penangkal bala. jadilah mereka selalu tersebut dalam tembang doa terurai mesra dalam syair bujangga. tapi kini ia tinggallah makam terkenang hanya sekadar ruap cendana sisa jisimnya yang sesekali dibawa pembakaran pada selaka. para penziarah mendaki ke atas 170 anak tangga lewat ayat yang terucap sama banyaknya. mereka menjadikan ia sekadar jembatan mustajab doa. demi jodoh fana, demi pangkat belaka dan demi muslihat nafsu lainnya saja. ia terkubur seperti ingatan tentang bayi kota yang terlantar. tiba-tiba suara ia berdenting pada rentang kawat kecapi rajah yang ditembangkan suara parau lelaki tua di atas sunyi purba pendapa kota.

2012

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Bode Riswandi BUAT ANNA POLITKOVSKAYA Salju yang runtuh dari rambut kelabumu Semacam peluru makarov yang dilempar Seseorang ke dada dan kepalamu. Lantas Orang-orang bernyanyi untukmu, tentang Nasib serta takdir mereka yang bermukim Di lobang senjata Di Chechnya kematian itu mudah tumbuh Bagaikan rumput, katamu. Berlapis-lapis Ketakutan menjalar di dinding dan di kanal Aku menatap jauh ke langit kelabu, namun Tidak sekelabu rambutmu yang menusuk Banar peristiwa Aku bernyanyi untukmu, Anna. Ketika jari Lentikmu berdarah mencium aroma bangsa Yang punah. Di jalan-jalan, di tenda-tenda Salju turun lebih kerap dari hari sebelumnya Tapi nama-nama yang terkuras air matanya Lebih kerap dari sekedar salju itu, Anna Aku bernyanyi untukmu, Anna. Ketika salju Tak cukup memadamkan bara di tubuhmu Ketika burung-burung terbang ke dasar waktu Dan beratus pasang biji mata digiring ke arahmu Salak anjing lari dari jiwa hutan, rasa dingin lari Dari tubuh salju, dan warna senja lari dari langit Kelabu. Lalu yang datang kepadamu, Anna Mungkin rahasia atau kabar yang sederhana

2009

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Amang Berdaulat PESTA TABUR BUNGA Seperti engkau yang bertengger di menara sana Aku ingin mencatat kesaksian tiang bendera Kemarahan puntung rokok Tangis botol aqua Ketika bisu pagar Tak memuaskan slogan-slogan spanduk reformasi Adalah ringkik michrophone yang mencak-mencak Manakala debu kusi-kursi Menceritakan sobekan arsip Yang tertimbun dalam peti kemas meja sidang Menjadi santapan kutu loncat Dan sarang para kecoa Di mana tikus-tikus Merayakan pesta tabur bunga Sementara semut-semut merapatkan barisan Menyatroni kambing hitam pencuri gula-gula Sambil menyeret cecurut Yang kedapatan menimbun ransum Jarum jam telah lupa akan arah angka-angkanya Selagi hujan semburan ludah Membanjiri perhelatan adu urat leher Di mana setiap kursi Memacu mulutnya hingga berbusa Berebut seonggok racun Yang disisakan ular beludak Lalat-lalat malah berpesta Menjilati luka segar anak toke Yang tersisa kini Tinggal bau dupa Di mana asap kemenyan Menggiring doa ke liang lahat

26 Desember 1998

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Nazarudin Azhar NOCTURNO, 2 dia, lelaki berjubah hujan di negeri hijau kemalangan seribu gang melingkar rumah adalah rimba masing-masing seorang gadis mengiris lengannya mulutnya telah lama hilang di dalam sebuah kerangkeng dia lelaki berjubah hujan dengan sisa seribu pelukan "kau tahu, racun dalam nadi limbah hitam dalam mimpi..." gadis dengan separuh darah hari-hari digelapkan dalam sebuah kamar perkabungan tak ada kisah cinta atau lagu pop muntahan kesialan di negeri ini mereka dipertautkan oleh sepasang sayap dan kelam

2011

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013

SANGGAR SASTRA TASIK

Nina Minareli LUKISAN LAUT Laut meluap dari kebisuan panjang matamu Minitipkan cuaca bagi hujan yang menjelma sangkar Arah mata angin, biduk-biduk kecil, karang-karang Pecahan cahaya ombak melingkar hening Senja tenggelam, burung-burung hitam Mengembarai sudut-sudut tabir warna musim Laut adalah gemuruh kematian biru Catatan rahasia cermin langit yang ragu dan bisu

2002

LOMBA BACA PUISI SE-JAWA BARAT


Di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 10-12 Mei 2013