Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Maksud Mengidentifikasi fosil coelenterata Menentukan anatomi dan taksonomi dari fosil coelenterata Mengidentifikasi lingkungan hidup dan lingkungan pengendapan fosil coelenterata Menentukan umur geologi suatu fosil coelenterata

1.2. Tujuan Dapat mengidentifikasi fosil coelenterata Dapat menentukan anatomi dan taksonomi dari fosil coelenterata
Mampu mengidentifikasi lingkungan hidup dan lingkungan pengendapan

fosil coelenterata
Mampu menentukan umur geologi suatu fosil coelenterata

1.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Waktu Pukul Tempat Pelaksanaan : Kamis, 17 November 2011 : 16.00 WIB : Ruang GS 103

BAB II DASAR TEORI

2.1 Coelenterata Secara Umum Coelenterata berasal dari kata, Colios yang artinya adalah rongga atau lorong dan enteron yang berarti usus atau saluran. Jadi Coelenterata meupakan hewan yang memiliki rongga yang berfungsi sebagai usus. Dalam keadaan hidup, hewan ini tercirikan oleh adanya rongga tubuh yang

bentuknya menyerupai kantung, dengan lubang mulut yang jelas dan sejumlah tentakel yang mengandung sel penyengat (cnidoblast), oleh karena itu coelenterata juga disebut dengan cnidaria. Hewan ini merupakan

golongan hewan multiseluler pembentuk koloni yang masih tergolong primitif. Beberapa jenis coelenterata mempunyai bentuk mirip tumbuhan. (Wartono Rahardjo, 1999)

2.2 Karakteristik Coelenterata Tubuhnya bersel banyak, radial simetris. Beberapa jenis anthozoa bersifat biradial simetris, tidak punya kepala atau ruas tubuh. Tubuh terdiri atas dua lapisan sel. Lapisan luar disebut epidermis dan lapisan dalam disebut dengan gastrodermis (endodermis). Diantara lapisan tersebut terdapat lspidsn lspidsn mesonglea. Pada epidermis terdapat alat penyengat yang disebut dengan nematokist. Nematokist oaling banyak ditemukan pada tentakel. Beberapa jenis coelenterata mempunyai rangka. Pada jaringan epitel ditemukan serabut otot. Mulit dikelilingi oleh tentakel. Mulut ini langsug berhubungan dengan ruas usu atau rongga gastrovaskuler. Saluran pencernaan ini tidak memiliki anus. Belum memiliki alat ekskesi dan respirasi khusus. Belum mempunyai darah.

Mempunyai sistem saraf berupa sistem saraf diffus berbentuk jala. Tetapi belum memiliki pusat saraf. Reproduksi secara generatif dan vegetatif.

Coelenterata mempunyai dua bentuk tubuh yaitu polip dan medusa. 1. Polip adalah bentuk coelenterata yang menempel pada tempat hidupnya. Pada ujung bebas terdapat mulut yang dikelilingi tentakel. Ujung tubuh lain digunakan sebagai alat untuk menempel pada benda lain. 2. Medusa adalah bentuk ubur ubur seperti payung yang dapat berenang bebas. Mulut terdapat pada bagian pusat yang berbentuk cekung. (Tim Asisten Makropaleontologi, 2010)

2.3

Klasifikasi Coelenterata A. Kelas Hydrozoa Hydrozoa hidupnya ada yang soliter ( terpisah ) dan ada yang berkoloni (kelompok). Hydrozoa yang soliter mempunyai bentuk polip, sedangkan yang berkoloni dengan bentuk polip dominan dan beberapa jenis membentuk medusa. Contoh hydra dan obellia. 1. Hydra Bentuk tubuh hydra seperti polip, hidup di air tawar. Ukurab tubuh Hydra antara 10mm 30 mm. Makanannya berupa tumbuhan kecil. Bagian tubuh sebelah bawah tertutup membentuk kaki, gunanya untuk melekat pada obyek dan untuk bergerak. Pada ujung yang berlawanan terdapat mulut yang dikelilingi oleh hypostome dan di sekelilingnya terdapat 6 10 buah tentakel. Tentakel berfungsi sebagai alat untuk menangkap makanan. Selanjutnya makanan di cernakan di dalam rongga gastrovaskuler. 2. Obelia Obelia hidup berkoloni di laut dangkal sebagai polip di batu karang atau berenang di air sebagai medusa. Polip pada Obelia dibedakan menjadi 2 jenis polip pada cabang-cabang yang tegak, yaitu:

Perkembangbiakan Obelia mengalami pergiliran keturunan (metagenesis) antara keturunan seksual dengan keturunan aseksual. Hydrant, yaitu polip yang bertugas mengambil dan

mencernakan makanan. Gonangium, yaitu poli[ yang bertugas melakukan perkembangbiakan aseksual, menghasilkan Obelia dalam bentuk dewasa. Perkembangbiakan secara aseksual dilakukan oleh gonangium. Pada gonangium terbentuk tunas, kemudian setelah matang tunas memisahkan diri dari induknya dan berkembang menjadi medusa muda yang dapat berenang bebas. Selanjutnya medusa muda berkembang menjadi medusa dewasa. Perkembangbikan seksual terjadi pada medusa dewasa. Hewan Obelia mempunyai dua alat kelamin (hermaprodit). Medusa dewasa akan menghasilkan sel telur / ovum dan sperma. Pembuahan ovum oleh sperma terjadi di luar tubuh (eskternal) dan membentuk zigot. Zigot akan berkembang menjadi larva bersilia disebut planula. Pada tempat yang sesuai planula akan merekatkan diri menjadi polip muda, lalu polip dewasa, kemudian tumbuh menjadi hewan Obelia. Selanjutnya, Obelia memulai melakukan pembiakan aseksual dengan pembentukan tunas/budding, sehingga membentuk koloni Obelia yang baru. B. Kelas Scyphozoa (skypos = cawan, zoon = binatang) Bentuk tubuh Scyphozoa menyerupai mangkuk atau cawan, sehingga sering disebut ubur-ubur mangkuk. Contoh hewan kelas ini adalah Aurellia aurita, berupa medusa berukuran garis tengah 7 10 mm, dengan pinggiran berlekuk-lekuk 8 buah. Hewan ini banyak terdapat di sepanjang pantai. Seperti Obelia, Aurellia juga mengalami pergiliran keturunan seksual dan aseksual. Aurellia memiliki alat kelamin yang terpisah pada individu jantan dan betina. Pembuahan ovum oleh sperma secara internal di dalam tubuh individu betina.

Hasil pembuahan adalah zigot yang akan berkembang menjadi larva bersilia disebut planula. Planula akan berenang dan menempel pada tempat yang sesuai. Setelah menempel, silia dilepaskan dan planula tumbuh menjadi polip muda disebut skifistoma. Skifistoma kemudian membentuk tunas-tunas lateral sehingga Aurellia tampak seperti tumpukan piring dan disebut strobilasi. Kuncup dewasa paling atas akan melepaskan diri dan menjadi medusa muda disebut Efira. Selanjutnya efira berkembang menjadi medusa dewasa. Daur hidup Aurellia dapat diamati di bawah ini.

Gambar 2.1. Daur hidup aurelia

C. Kelas Anthozoa Anthozoa berasal darikata Anthos = bunga, zoon = binatang. Anthozoa berarti hewan yang bentuknya seperti bunga atau hewan bunga. Anthozoa dalam daur hidupnya hanya mempunyai polip. Bila dibandingkan, polip Anthozoa berbeda dengan polip pada Hydrozoa. Mari kita lihat perbedaannya dengan mengamati gambar di bawah ini.

Gambar 2.2 struktur polip Hydrozoa, Gambar 2.3 struktur polip Anthozoa

1. Mawar Laut (Anemon Laut) Mawar laut menempel pada dasar perairan. Pada permukaan mulut Mawar Laut terdapat banyak tentakel berukuran pendek. Tentakel ini berfungsi untuk mencegah agar pasir dan kotoran lain tidak melekat sehingga Mawar Laut tetap bersih. 2. Koral (Karang) Koral atau karang cara hidupnya berkoloni membentuk massa yang kaku dan kuat. Massa itu sebenarnya karang kapur yang dibentuk oleh generasi polip. Koral yang sudah mati, rangka kapurnya akan menjadi batu karang/terumbu. Ada tiga tipe batu karang, yaitu karang pantai, karang penghalang dan karang atol. Struktur terumbu karang merupakan salah satu ekosistem tertua di dunia. Telah ada sejak kira kira 459 juta tahun yang lau, mulai dari terbentuknya algae hijau biri kemudian sponge coral. Great Barier reef terkenal merupakan gugusan terumbu karang yang relatif mud, terbentuk hanya sekitar 18 juta tahun yang lalu. Terumbu karang merupakan hasil proses penimbunan ragka hewan karang dalam kurun waktu yang berabad abad lamanya. Terumbu karang yang ada dapat dibedakan menjadi tiga tipe yaitu: Fringing reef.terumbu karang yang terbentuk memanjang di sepanjang pinggiran pantai ( continental shelf dan kedalaman laut dangkal). Barrier reefs. Terumbu karang yang tumbuh sejajar dengan garis pantai, akan tetapi terletak jauh ketengah laut, biasanya terpisah dari daratab dengan laguna, bagian laut yang dalam. Disebut barrier karena membentuk batas antara laguna dan laut lepas.

Coral atolls. Terumbu karang yang berbentuk seperti cincin yang terbentuk diatas gunung api yang tenggelam di laut. Menurut teori darwin dalam proses pembentukan karang atol mula mula karang tumbuh sebagai fringing reef di bagian yang dangkal mengelilingi suatu pulau vulkanik. Kemudian secara alamiah perlahan lahan pulau tersebut tenggelam dan terumbu karang tetap meneruskan pertumbuhannya main ke atas, sel baru tumbuh di atas sel mati, sampai akhirnya hanya terumbu karangnya saja yang tersisa atol melingkar mengelilingi laguna. Oleh karena kelas Hydrozoa dan Scyphozoa tidak memiliki bagian keras, maka kedua kelompok tersebut sangat jarang dijumpai dalam bentuk fosil. Kecuali dalam kondisi yang sangat khusus. Fosil yang sangat sering di jumpai di permukaan bumi dari phylum coelenterata adalah dari kelas Anthozoa. Asal mula Anthozoa tersebar pada zaman Prekambrium, tetapi bukti kongktretnya masih belum terlalu sempurna. Sejumlah medusoaid bertubuh lunak sekarang mewakilijehadiran organisme polip benthonik pada masa Vendian atau prekabrium terakhir. Kelas Anthozoa tersusun oleh sekelompok binatang yang khusus hidup di laut, mencakup golongan koral dan anemon laut. Kelompok ini mempunyai evolusi yang cepat sehingga banyak spesiesnya mempunyai kisaran yang pendek dan berguna sebagai fosil indeks. Contoh dari kelas Anthozoa adalah koral. Beberapa koral termineralisasi dan organisme mirip koral juga muncul pada akhir Kambrium. Satu kelompok kecil koral yaitu conthonida diketahui dari Mid Cambrian. Tetapi pada zaman ordovician, koral yang termineralisasi tersebut bukan menjadi bagian penting lagi dalam ekosistem laut. Klasifikasi fosil koral berdasarkan keadaan dan susunan septanya dan kenampakan yang lain. Septa yaitu dinding vertikal yang membagi rangka luar. Sebagai contoh, golongan koral tanduk (horn coral) yang banyak hidup di kurun paleozoik,

hanya menyispkan pertambahan septa di empat lokasi saja sepanjang pertumbuhannya. Oleh karena itu koral tersebut dinamakan tetrakoral. Terdapat juga koral tanpa septa yang jenis ini disebut dengan tabulata. Golongan koral merupakan pembentuk terumbu yang utama. Tempat hidup yang sesuai adalah pada laut yang jernih, hangat dan dangkal. Posisi lintang 0-30 LU/LS, temperatur 25-29 C, pada kedalaman kurang dari 100 meter agar sinar matahari bisa masuk. Golongan koral mempunyai evolusi yang pendek sehingga baik untuk fosil index. Misalnya: golongan tetrakoral (Paleozoik), golongan koral tabulata (Paleozoik), golongan Hexakoral (Meso-Kenozoik)

Gambar 2.4 tetrakoral dan hexzakoral

Gambar 2.5 koral tabulata (kanan)

BAB III HASIL DESKRPISI


3.1 Peraga No X 1
LABORATORIUM PALEONTOLOGI PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO LAPORAN PRAKTIKUM MAKROPALEONTOLOGI ACARA : Coelenterata NO. PERAGA : X 1 Gel. 2 NAMA FOSIL YANG DIPERIKSA

NAMA PRAKTIKAN Welly Riza Fauzi HARI/TGL JAM

NIM
21100110141040

Hexagonaria sp
PHYLUM KELAS

ASISTEN ACARA

Kamis, 17 November 16.00 2011 JENIS PERAGA YANG DIAMATI BODI UTUH FRAGMEN MOLD CAST LAIN2

Coelenterata Anthozoa

ORDO FAMILI

Calyx septum

collumela

corallum

Fosil ini termasuk spesies Hexagonaria sp. Organisme ini hidup dengan cara polyp dan koloni dan tubuhnya terdiri dari septa, corallum, collumella dan calyx. Calyx merupakan lekukan seperti cawan dan pada bagian tengahnya terdapat collumela dan septum merupakan dinding vertikal yang membagi coralite, organisme ini hidup pada laut dangkal, pada laut dangkal tersebut, tingkat salinitasnya tinggi karena tingkat evaporasinya tinggi sehingga bagian tubuhnya memiliki komposisi karbonat. Organisme ini hidup pada zaman Devon sehingga dapat dijadikan sebagai fosil index UMUR GEOLOGI Zaman Devon LINGKUNGAN HIDUP Laut dangkal

DESKRIPSI

3.2 Peraga No F 134


LABORATORIUM PALEONTOLOGI PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO LAPORAN PRAKTIKUM MAKROPALEONTOLOGI ACARA : Coelenterata NO. PERAGA : F 134 Gel. 2 NAMA FOSIL YANG DIPERIKSA

NAMA PRAKTIKAN Welly Riza Fauzi HARI/TGL JAM

NIM
21100110141040

Acropora sp
PHYLUM KELAS

ASISTEN ACARA

Kamis, 17 November 16.00 2011 JENIS PERAGA YANG DIAMATI BODI UTUH FRAGMEN MOLD CAST LAIN2

Coelenterata Anthozoa Scleractinia Acroporidae


Calyx

ORDO FAMILI

corallum

collumela

Fosil ini termasuk spesies Acropora sp. Organisme ini hidup dengan cara polyp dan koloni dan tubuhnya terdiri dari collumela, corallum, dan calyx. Calyx merupakan lekukan seperti cawan dan pada bagian tengahnya terdapat collumela, organisme ini hidup pada laut dangkal, pada laut dangkal tersebut, tingkat salinitasnya tinggi karena tingkat evaporasinya tinggi sehingga cangkangnya memiliki komposisi karbonat. Organisme ini hidup pada zaman eosen-holosen sehingga dapat dijadikan sebagai fosil index UMUR GEOLOGI Zaman Eosen-Holosen LINGKUNGAN HIDUP Laut dangkal

DESKRIPSI

10

3.3 Peraga No F 94
LABORATORIUM PALEONTOLOGI PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO LAPORAN PRAKTIKUM MAKROPALEONTOLOGI ACARA : Coelenterata NO. PERAGA : F 94 Gel. 2 NAMA FOSIL YANG DIPERIKSA

NAMA PRAKTIKAN Welly Riza Fauzi HARI/TGL JAM

NIM
21100110141040

Favia sp
PHYLUM KELAS

ASISTEN ACARA

Kamis, 17 November 16.00 2011 JENIS PERAGA YANG DIAMATI BODI UTUH FRAGMEN MOLD CAST LAIN2

Coelenterata Anthozoa

ORDO FAMILI

scleractinia faviidae

Calyx septum

collumela

corallum

Fosil ini termasuk spesies Septastrea sp dengan dimensi 5cm X 6 cm. Organisme ini hidup dengan cara polyp dan koloni dan tubuhnya terdiri dari septa, corallum, dan calyx. . Calyx merupakan lekukan seperti cawan dan pada bagian tengahnya terdapat collumela dan septum merupakan dinding vertikal yang membagi coralite, organisme ini hidup pada laut dangkal, pada laut dangkal tersebut, tingkat salinitasnya tinggi karena tingkat evaporasinya tinggi sehingga cangkangnya memiliki komposisi karbonat. Organisme ini hidup pada zaman kenozoikum sehingga dapat dijadikan sebagai fosil index UMUR GEOLOGI Zaman Kenozoikum LINGKUNGAN HIDUP Laut dangkal

DESKRIPSI

11

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Peraga No X 1 Fosil dengan nomor peraga X 1 memiliki warna putih karena proses kimiawi akibat pengaruh karbonat pada saat pemfosilan. Fosil ini merupakan jenis dari fosil bodi utuh karena bagian- bagian dari cangkang belum tergantikan oleh mineral sekunder dan juga bukan dalam bentuk pecahan ataupun jejak dari hewan. Anatomi rangka luar fosil ini menunjukan bahwa organisme ini tergolong koral dengan jumlah septa sebanyak 6 sehingga dinamakan Hexagonaria. Organisme ini memiliki bentuk tubuh polyp yang membentuk rangka luar yang tersusun oleh banyak coralite yang menjadi satu membentuk yang disebut dengan corallum. Coralite pada koral tersebut terbagi oleh dinding vertikal yang disebut septa yang terdapat pada calyx yaitu lekukan tengah yang berbentuk cawan di tengah calyx terdapat pusat yang disebut collumela. Hewan ini hidup pada suhu yang hangat sehingga berada pada kedalaman yang masih terkena sinar matahari hal ini juga mempengaruhi dari keberadaan makanan pada laut dangkal makanan sangat banyak karena organisme yang menjadi makanan dari hewan ini hidup pada laut dangkal. Cara hidup spesies ini adalah dengan tertambat di dasar laut dangkal dan hewan ini menunggu makanan yang terbawa oleh arus laut yang kemudian masuk ke pori-pori tubuhnya. Pada laut dangkal tersebut, tingkat salinitasnya tinggi karena tingkat evaporasinya tinggi sehingga menjadikan komposisi rangka luar menjadi karbonatan sebagai bentuk adaptasi organisme ini. Berdasarkan deskripsi diatas maka dapat disimpulkan bahwa fosil dengan nomor peraga X 1 ini merupakan spesies yang tergolong kedalam Hexagonaria sp kelas Anthozoa Filum Coelenterata yang hidup pada kurun

12

waktu Devon. Fosil ini sangat melimpah pada masa tersebut sehingga dapat dijadikan sebagai fosil index. 4.2 Peraga No F 134 Fosil dengan nomor peraga F 134 memiliki warna putih karena proses kimiawi akibat pengaruh karbonat pada saat pemfosilan dan merupakan jenis dari fosil bodi utuh karena bagian - bagian dari tubuhnya belum tergantikan oleh mineral sekunder dan juga bukan dalam bentuk pecahan ataupun jejak dari hewan. Anatomi rangka luar fosil ini menunjukan bahwa organisme ini tergolong koral dengan bentuk tubuh polyp yang membentuk rangka luar yang tersusun oleh banyak coralite dan terdapat calyx yaitu lekukan tengah yang berbentuk cawan tetapi tidak memiliki septa. Coralite coralite tersebut membentuk satu kelompok yang disebut dengan corallum dan kemudian ditempati oleh banyak organisme yang membentuk koloni pada rangka tersebut. Bentukan corallum tersebut menyerupai seperti batang-batang pohon. Hewan ini sebagian besar menempati daerah laut dangkal yang memiliki cukup makanan hal ini sesuai dengan cara hidupnya yang tertambat. Selain itu, hewan ini juga hidup pada suhu yang hangat sehingga berada pada kedalaman yang masih terkena sinar matahari. Pada laut dangkal tersebut, tingkat salinitasnya tinggi karena tingkat evaporasinya tinggi sehingga menjadikan komposisi rangka luar menjadi karbonatan sebagai bentuk adaptasi organisme ini. Cara hidup spesies ini adalah dengan tertambat di dasar laut dangkal dan hewan ini menunggu makanan yang terbawa oleh arus laut yang kemudian masuk ke pori-pori tubuhnya. Berdasarkan deskripsi diatas maka dapat disimpulkan bahwa fosil dengan nomor peraga F 134 ini merupakan spesies yang tergolong kedalam Acropora sp kelas Anthozoa Filum Coelenterata yang hidup pada kurun waktu eosen hingga holosen. Dikarenakan fosil ini masih melimpah pada masa holosen, maka fosil ini tidak dapat dijadikan sebagai fosil index.

13

4.3 Peraga No F 94 Fosil dengan nomor peraga F 94 berwarna putih karena proses kimiawi akibat pengaruh karbonat pada saat pemfosilan dan merupakan jenis dari fosil bodi utuh karena bagian - bagian dari tubuhnya belum tergantikan oleh mineral sekunder dan juga bukan dalam bentuk pecahan ataupun jejak dari hewan. Organisme ini memiliki bentuk tubuh polyp yang membentuk rangka luar yang tersusun oleh banyak coralite yang menjadi satu membentuk yang disebut dengan corallum. Coralite pada koral tersebut terbagi oleh dinding vertikal yang disebut septa yang terdapat pada calyx yaitu lekukan tengah yang berbentuk cawan di tengah calyx terdapat pusat yang disebut collumela. Hewan ini hidup di semua kedalaman laut, namun sebagian besar menempati daerah laut dangkal yang memiliki cukup makanan hal ini sesuai dengan cara hidupnya yang tertambat. Selain itu, hewan ini juga hidup pada suhu yang hangat sehingga berada pada kedalaman yang masih terkena sinar matahari. Pada laut dangkal tersebut, tingkat salinitasnya tinggi karena tingkat evaporasinya tinggi sehingga menjadikan komposisi rangka luar menjadi karbonatan sebagai bentuk adaptasi organisme ini. Cara hidup spesies ini adalah dengan tertambat di dasar laut dangkal dan hewan ini menunggu makanan yang terbawa oleh arus laut yang kemudian masuk ke pori-pori tubuhnya. Berdasarkan deskripsi diatas maka dapat disimpulkan bahwa fosil dengan nomor peraga F 94 ini merupakan spesies yang tergolong kedalam Favia sp Kelas Anthozoa Filum Coelenterata yang hidup pada kurun waktu kapur hingga holosen. Dikarenakan fosil ini masih melimpah pada masa holosen, maka fosil ini tidak dapat dijadikan sebagai fosil index.

14

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan 5.1.1 Peraga No X 1


Fosil ini memiliki bagian tubuh yang terdiri dari corollum yaitu

kumpulan dari corolite, septa yaitu sekat vertikal yang memisahkan coralit, dan calyx yaitu lekukan berbentuk cawan yang pada tengahnya terdapat collumela.
Fosil ini merupakan spesies Hexagonaria sp. dengan filum colenterata

dan kelas anthozoa.


Fosil ini hidup pada laut dangkal sehingga tubuhnya tersusun dari

karbonat.
Fosil ini hidup pada zaman devon.

5.1.2 Peraga No F 134


Fosil ini memiliki bagian tubuh yang terdiri dari corollum yaitu

kumpulan dari corolite dan calyx yaitu lekukan berbentuk cawan yang pada tengahnya terdapat collumela tetapi tidak memiliki septa.
Fosil ini merupakan spesies Acropora sp. dengan filum colenterata dan

kelas anthozoa.
Fosil ini hidup pada laut dangkal sehingga tubuhnya tersusun dari

karbonat.
Fosil ini hidup pada zaman eosen-holosen.

5.1.1 Peraga No X 1
Fosil ini memiliki bagian tubuh yang terdiri dari corollum yaitu

kumpulan dari corolite, septa yaitu sekat vertikal yang memisahkan coralit, dan calyx yaitu lekukan berbentuk cawan yang pada tengahnya terdapat collumela.

15

Fosil ini merupakan spesies Favia sp. dengan filum colenterata dan

kelas anthozoa.
Fosil ini hidup pada laut dangkal sehingga tubuhnya tersusun dari

karbonat.
Fosil ini hidup pada zaman kapur-holosen.

5.2 Saran
Dalam melakukan deskripsi harus lebih teliti lagi dan hati-hati karena

peraga gampang rusak.


Perbanyak

menggunakan

referensi

agar

lebih

mudah

dalam

mengidentifikasi fosilnya.

16

DAFTAR PUSTAKA
Tim Asisten Makropaleontologi. 2010. Buku Panduan Praktikum

Makropaleontologi. Semarang: UNDIP http://zipcodezoo.com/Key/Animalia/Favia_Genus.asp diakses pada 23 november 2011 pukul 08.30 http://zipcodezoo.com/Key/Animalia/Acropora_Genus.asp diakses pada 23 november 2011 pukul 08.30

17