Anda di halaman 1dari 24

1

ABSORPSI

I. LATAR BELAKANG
Absorpsi merupakan suatu proses transfer massa yang penting dalam dunia
industri. Absorpsi adalah proses perpindahan massa zat-zat yang terlarut dalam fase gas
ke fase cair. Proses perpindahan massa terjadi karena adanya driving force yang berupa
beda konsentrasi zat terlarut antar fase, dimana konsentrasi zat terlarut dalam gas lebih
besar daripada konsentrasi dalam fase cair pada kondisi seimbangnya.
Kecepatan perpindahan massa ini tergantung dari besarnya koefisien
perpindahan massa (Kya). Oleh karena itu, sangat penting untuk mengenal konsep Kya
dan cara menentukan Kya dalam suatu proses sehingga mempermudah perancangan dan
penanganan alat absorpsi dalam industri.
Pada percobaan ini digunakan menara bahan isian dengan aliran countercurrent.
Gas yang masuk ke absorber berasal dari NH
3
yang teruapkan, sedangkan cairannya
merupakan air murni tanpa ada kandungan NH
3.


II. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk :
1. Memahami prinsip perpindahan massa dalam sistem gas-cair.
2. Mencari koefisien perpindahan massa keseluruhan dalam sistem gas-cair.
3. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perpindahan massa dalam sistem
gas-cair.

III. TINJAUAN PUSTAKA
Gs Ls
y
2
x
2




loop 1
z + z
z


loop2

Gs Ls
y
1
x
1

loop3
Gambar 1. Bagan Menara Absorpsi

2

Loop 1
Neraca Massa NH
3
pada elemen volume A.z pada fase gas :
Massa masuk Massa keluar = Massa akumulasi
( ) | | 0 . * . . = A +
A +
z A Y Y a K Y G Y G
y
z z
s
z
s
.....................................(1)
*) ( Y Y A
G
a K
dz
dY
s
y
=

} }
=

2
1 0
*
Y
Y
L
s
y
dz A
G
a K
Y Y
dY

Dengan
2
. 4 / D A t = diperoleh persamaan :

}

=
2
1
2
*
4
Y
Y
s
y
Y Y
dY
L D
G
a K
t
.....................................(2)
dengan :
K
y
a = koefisien perpindahan massa volumetris overall , gmol/cm
3
detik
G
s
= kecepatan alir molar gas bebas NH3 , gmol udara/detik
D = diameter dalam kolom , cm
L = tinggi kolom , cm
Y
1
= rasio mol NH
3
dalam gas masuk , gmol NH
3
/gmol udara
Y
2
= rasio mol NH
3
dalam gas keluar , gmol NH
3
/gmol udara
Y* = rasio mol NH
3
dalam gas yang setimbang dengan rasio mol NH
3
dalam cairan
, gmol NH
3
/gmol udara

Persamaan garis operasi untuk tiap variasi kecepatan gas ditentukan dengan neraca
massa pada loop 2 :
Massa masuk Massa keluar = Massa akumulasi
( ) ( ) 0 .
1 1 .
= + + X L Y G X L Y G
s s s s
.....................................(3)
) (
1 1
Y Y
L
G
X X
s
s
+ = .....................................(4)
dengan :
X = rasio mol NH
3
dalam cairan pada z=z , gmol NH
3
/gmol H
2
O
X
1
= rasio mol NH
3
dalam cairan pada z=0 , gmol NH
3
/gmol H
2
O
Y = rasio mol NH
3
dalam gas pada z=z , gmol NH
3
/gmol H
2
O
Y
1
= rasio mol NH
3
dalam gas pada z=0 , gmol NH
3
/gmol H
2
O

3
L
s
= kecepatan alir molar cairan bebas NH
3
, gmol H
2
O/detik
G
s
= kecepatan alir molar gas bebas NH
3
, gmol udara/detik

Persamaan garis operasi berupa garis lurus dan dicari dengan neraca massa loop 3 :
Massa masuk Massa keluar = Massa akumulasi
( ) ( ) ( ) ( ) Y G X L Y G X L
s s s s
+ =
1 1
. .....................................(5)

|
|
.
|

\
|
+ =
1 1
X
G
L
Y X
G
L
Y
s
s
s
s
.....................................(6)
Nilai K
y
a dievaluasi dengan persamaan :

2
1
1
2
.
.
C
g
p g g
C
L
p L L
AU
p y
D v D v
K
D C
D a K
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|

.....................................(7)
dengan :
K
y
a = koefisien transfer massa overall , gmol/cm
3
detik
D
p
= diameter packing , cm
T = suhu gas , K
P = tekanan gas , atm
R = tetapan gas ideal = 82,06 cm
3
atm/gmol.K, (Perry,1997)
D
AU
= difusivitas amonia melalui udara, cm
2
/detik
C = konsentrasi amonia gas rata-rata masuk , gmol/cm
3

L g
, = rapat massa gas, rapat massa cairan, g/cm
3

L g
, = viskositas gas, viskositas cairan, g/cm.detik
L g
v v , = kecepatan linier gas, kecepatan linier cairan, cm/detik
K
1
,C
1
,C
2
= konstanta

Nilai
g
ditentukan dengan persamaan :
RT
BM P
gas
g
.
= .....................................(9)
dengan :
) 1 ( .
3
y BM y BM BM
udara NH gas
+ = ...................................(10)
Nilai diffusivitas amonia (D
AU
) ditentukan dengan persamaan Hirsch-Felder, Bird dan
Spatz:

4

O
|
|
.
|

\
|
+
=
2
5 , 0
2 / 3
.
1 1
001858 , 0
AB
B A
AB
P
T
D
o

...................................(11)
dengan :
D
AB
= diffusivitas A melalui B, cm
2
/detik
T = suhu absolut, K
A
= berat molekul A, g/gmol
B
= berat molekul B, g/gmol
P = tekanan absolut , atm
AB
o = diameter tumbukan, Amstrong
O = integral tumbukan
(Treybal,1981)
Menurut Treybal, untuk pasangan gas yang sama pada kondisi yang berbeda biasanya
nilai
1
T
O
mendekati
2
T
O
. Pada percobaan ini P
1
=P
2
maka persamaan menjadi :
2
3
1
2
1 2
|
|
.
|

\
|
=
T
T
D D
T
AB
T
AB
...................................(12)
Bila C
1
=0 maka :
2
1
2
.
.
C
g
p g g
AU
p y
D v
K
D C
D a K
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|


2
2
1
.
C
g
p g g
p
AU
y
D v
RT D
D P
K a K
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=

...................................(13)
Menara dengan bahan isian terdiri atas sebuah silinder vertikal yang didalamnya
terdapat bahan isian tertentu. Bahan isian merupakan media untuk memperluas bidang
kontak antara fase uap dan cair sehingga transfer massa dan panas berjalan baik. Cairan
mengalir melewati permukaan bahan isian dalam bentuk lapisan film tipis sehingga luas
bidang kontak antara fase uap dan cair makin besar. Cairan masuk dari bagian atas
menara, sedangkan gas masuk dari bagian bawah menara (Brown, 1950).
Jenis bahan isian yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Harus memiliki luas permukaan per volume yang besar sehingga dapat menyediakan
luas kontak yang besar.
2. Harus memiliki porositas yang besar sehingga pressure drop tidak tinggi.

5
3. Harus dapat memiliki wetting characteristic yang baik.
4. Tahan korosi.
5. Memiliki bulk density yang rendah.
6. Tidak mahal. (Foust, 1980)
IV. PELAKSANAAN PERCOBAAN
1. Bahan
a. Aquadest
b. Larutan umpan
c. HCl pekat 37%
d. Boraks
e. Air ledeng
f. Methyl orange
g. Phenolphlatein
2. Alat



















Gambar 2. Rangkaian Alat Percobaan
Keterangan :
1. Bak air
2. Pengatur aliran
3. Tangki cairan
4. Pembuangan over flow
5. Flowmeter
6. Menara bahan isian
7. Penampung larutan amonia
8. Kompresor
9. Manometer

E-10
1
3
4
5
6
7
8
9
2

6
V. CARA KERJA
1. Menentukan Densitas Larutan Umpan


2. Menentukan Viskositas Larutan Umpan

















Menghitung waktu alir aquadest dengan viskosimeter Ostwald.
Menghitung waktu alir umpan.
Menghitung waktu alir air kran.
Menimbang piknometer kosong, piknometer + aquadest, dan
piknometer + larutan umpan.
Mengukur suhu dan tekanan percobaan, kemudian mengambil 100 ml larutan
umpan.

7
3. Standardisasi HCL 0,1 N dengan boraks 0,1 N



















Mengambil 0,83 ml HCl 37% lalu mengencerkan larutan tersebut dengan
aquadest hingga volumenya 100 ml.
Menimbang 1,9069 gram boraks dan melarutkan boraks dalam 100 ml
aquadest.
Mengambil 10 ml larutan boraks kemudian meneteskan tiga tetes indikator
metil orange ke dalam larutan tersebut.
Menitrasi 10 ml larutan boraks 0,1 N dengan larutan HCl 0,1 N sampai warna
larutan boraks berubah dari orange menjadi pink.
Mengulangi langkah ketiga dan keempat sekali lagi.

8
4. Standardsisasi HCl 0,002 N dengan boraks 0,002 N


5. Titrasi Larutan Umpan dengan Larutan HCl 0,1 N








Mengambil 10 ml larutan umpan kemudian menambahkan tiga tetes indikator
pp ke dalam larutan tersebut.
Menitrasi larutan umpan dengan larutan HCl 0,1 N sampai warna larutan
umpan berubah dari ungu menjadi bening,
Mengulangi langkah-langkah di atas sekali lagi.
Mengencerkan 10 ml HCl 0,1 N dengan aquadest hingga volumenya 100 ml.
Menimbang 0,0410 gram boraks kemudian melarutkan boraks dengan 100 ml
aquadest.
Mengambil 10 ml larutan boraks dan meneteskan tiga tetes indikator metil
orange ke dalam larutan tersebut.
Menitrasi 10 ml larutan boraks 0,002 N dengan larutan HCl 0,002 N hingga
warna larutan boraks berubah dari orange menjadi pink.
Mengulangi langkah ketiga dan keempat sekali lagi.

9
6. Absorpsi


7. Menentukan Densitas dan Viskositas Larutan Sampel








Menimbang piknometer yang berisi larutan sampel.
Mengukur waktu alir larutan sampel dengan viskosimeter Ostwald.
Mengeset ketinggian float pada flowmeter setinggi 4 cm dengan cara mengatur
kran, dan menjaga agar ketinggian float konstan.
Mengeset beda ketinggian manometer setinggi 3 cm dengan cara mengatur
kran.
Mengulangi percobaan dari langkah ketiga untuk beda ketinggian manometer
3.5 cm, 4 cm, 4.5 cm, 5 cm, dan 5.5 cm.
Mengisi tangki air penjerap sampai penuh.
Menyalakan kompresor untuk menggelembungkan NH
3
.
Mengambil 100 ml hasil bawah untuk dititrasi, ditimbang, dan diukur waktu
alirnya, setelah lima belas menit proses absorbsi berlangsung.

10
8.Titrasi Larutan Sampel dengan HCl 0,001 N


VI. ANALISIS DATA
1 a. Standarisasi Larutan HCl 0.1 N dengan Larutan Boraks 0.1 N
( ) V2 V1 2 / 1 V
boraks
+ =

lart boraks
boraks
boraks
xV BM
m x 2
N =
( ) V2 V1 2 / 1 V
HCl
+ =

HCl
boraks boraks
HCl
V
V N
N =
b. Standarisasi Larutan HCl 0.002 N dengan Larutan Boraks 0.002 N
( ) V2 V1 2 / 1 V
boraks
+ =

lart boraks
boraks
boraks
xV BM
m x 2
N =
( ) V2 V1 2 / 1 V
HCl
+ =

HCl
boraks boraks
HCl
V
V N
N =
2. Menentukan Normalitas Larutan
3
NH
a. Larutan Umpan
( ) V2 V1 2 / 1 V
HCl
+ =

3
3
NH
HCl HCl
NH
V
V N
N =


Mengambil 10 ml larutan sampel kemudian menambahkan tiga tetes indikator
pp ke dalam larutan tersebut.
Menitrasi larutan sampel dengan larutan HCl 0,002 N hingga warna larutan
sampel berubah dari ungu menjadi bening.
Mengulangi langkah-langkah di atas untuk sampel yang diambil setiap lima
belas menit, hingga diperoleh enam data.

11
b. Larutan Sampel

3
3
NH
HCl HCl
NH
V
V N
N =
3. Menentukan Densitas Larutan Umpan dan Larutan Sampel
Berat aquadest=(Berat piknometer+aquadest)-(Berat piknometer kosong)
Berat larutan umpan=(Berat piknometer+umpan)-(Berat piknometer kosong)

aquadest umpan larutan
x
aquadest Berat
umpan larutan Berat
=
Berat larutan sampel=(Berat piknometer+sampel)-(Berat piknometer kosong)

aquadest sampel larutan
x
aquadest Berat
sampel larutan Berat
=
4. Menentukan Viskositas Larutan Umpan dan Larutan Sampel

aquadest
aquadest aquadest
umpan umpan
umpan larutan
x
x t
x t

=

aquadest
aquadest aquadest
sampel sampel
sampel larutan
x
x t
x t

=
5. Menentukan Kecepatan Alir Gas
Persamaan yang digunakan :

5
5
4
4
3
3
2
2 1 0
H C H C H C H C H C C G + + + + + =
dengan : G = debit gas, L/detik
H = beda tinggi cairan manometer, cm
C
0
=-2.25682x10
2

C
1
= 0.1130436
C
2
= -5.845913x10
2

C
3
= 1.588013x10
2

C
4
= -1.977440x10
3

C
5
= 9.203384x10
5

6. Menentukan Kecepatan Aliran Cairan
Persamaan yang digunakan :

7
7
6
6
5
5
4
4
3
3
2
2 1 0
H C H C H C H C H C H C H C C L + + + + + + + =


12
dengan : L = debit cairan, L/detik
H = beda tinggi cairan manometer, cm
C
0
= 2.751086
C
1
= -1.566852
C
2
= 0.7226046
C
3
= -2.302872x10
2

C
4
= -1.284978x10
2

C
5
= 3.667250x10
3

C
6
= -4.421679x10
4

C
7
= 1.837703x10
5

7. Menghitung Kadar Amonia dalam Larutan dan Gas
Ratio mol
3
NH dalam cairan :

1000 / 1 . BM . V . N V .
BM . 1000 / 1 . .V N
X
3 3
3
NH lart NH lart lart
aquadest lart NH
1


Karena BM air= 18.0154 g/gmol dan BM
3
NH = 17.0307 g/gmol (Perry, 1984),
maka persamaan di atas menjadi :

3
3
NH lart
NH
1
N . 0307 . 17 1000 .
N . 0154 . 18
X


Ratio mol
3
NH dalam gas dihitung dengan persamaan :
( ) ( )
1 2 S 1 2 S
Y Y G X X L =
Air yang masuk absorber bebas
3
NH ; X
2
=0 sehingga persamaan menjadi :

1 1
S
S
2
Y X
G
L
Y + =

1
S
S
1 2
X
G
L
Y Y =
8. Menghitung Persamaan Kurva Kesetimbangan Amonia-Udara pada Suhu dan
Tekanan Percobaan
Persamaan kesetimbangan didapat dengan membaca 2 titik yaitu (x
1
,y
1
) dan (x
2
,y
2
) pada literatur (Brown, 1950).

13
Titik (x
1
,y
1
) adalah titik (0,0) yang menggambarkan suatu keadaan dimana tidak
terdapat amonia (keadaan awal). Sedangkan titik (x
2
,y
2
) diambil dari data
konsentrasi umpan. Mula-mula x
2
(dalam fraksi mol) dikonversikan ke x
2
(fraksi
massa) dengan menggunakan persamaan :

1000 .
BM . N
x
umpan
NH NH
2
3 3

=
Kemudian dari titik x
2
ditarik garis vertikal sampai memotong equilibrium
construction lines pada 14.7 psia. Dari perpotongan tersebut ditarik garis
horisontal sampai memotong kurva saturated vapors pada 14.7 psia, selanjutnya
dibaca harga y
2
-nya pada fraksi massa amonia. Dari kedua titik diperoleh
persamaan untuk kurva kesetimbangan :

1 2
1
1 2
1
x x
x - x
y - y
y - y

=
y = Mx
Dengan M adalah slope
Persamaan di atas masih dalam basis fraksi massa sehingga harus dikonversikan
lagi ke dalam basis fraksi mol dengan cara :

54 lart/18.01 berat
0307 . 17 / NH berat
Mx.
4 udara/28.8 berat
0307 . 17 / NH berat
y
3 3
=
y.28.84 = Mx.18.0154
Mx
28.84
18.0154
y =
y = Mx
Menggunakan basis mol bebas solut, maka :

X 1
X
M'
Y 1
Y
+
=
+

9. Menentukan
S
L dan
S
G

aquadest
aquadest
S
BM
L
detik
aquadest gmol
L

= =

ik) )(det (BM
amonia bebas udara berat
G
udara
S
=
Karena P=1 atm, maka campuran gas dianggap ideal sehingga massa jenisnya :

RT
P.BM
=

14

) Y 1 ( BM
G.
G
1 udara
udara
S
+
=


10. Menentukan Fraksi Mol
3
NH Fase Gas pada Puncak Menara

1
S
S
1 2
X
G
L
Y Y =
11. Menentukan Difusivitas Amonia-Udara
Difusivitas amonia melalui udara pada 0
o
C adalah 0.198 cm
2
/s (Perry, 1984).
Amonia dan udara merupakan gas non polar, maka difusivitas amonia melalui
udara dapat dihitung dengan persamaan Hirchfelder, Bird dan Spot (Treybal,
1981).

5 . 0
2
AU
U A
3/2
AU
. P.
M
1
M
1
. T . 001858 . 0
D
O
|
|
.
|

\
|
+
=
t


Dengan: D
AU
= difusivitas amonia melalui udara, cm
2
/s
T = suhu absolut, K
M
A
= berat molekul amonia, g/gmol
M
U
= berat molekul udara, g/gmol
P = tekanan absolut, atm

AU
t = diameter tumbukan (merupakan parameter Lennard-Jones), A
o

O = integral tumbukan
Persamaan di atas dapat disederhanakan untuk pasangan gas yang sama pada
kondisi yang berbeda, sehingga menjadi :

|
|
.
|

\
|
O
O
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
2
1
2
1
2 / 3
1
2
P , T AU P , T AU
T
T
P
P
T
T
D D
1 1 2 2

Pada umumnya harga
1
T O mendekati
2
T O (Treybal,1981) dan pada keadaan ini
1
P =
2
P , sehingga :

2 / 3
1
2
T AU T AU
T
T
D D
1 2 |
|
.
|

\
|
=


15
12. Menentukan Persamaan Garis Operasi
Berdasarkan Gambar 3 dapat disusun neraca massa amonia dari Z=0 sampai Z=Z
pada keadaan ajeg.

1 S S S 1 S
X L Y G X L Y G + = +
( )
1
S
S
1
Y - Y
L
G
X X + =
( )
1
S
S
1
X - X
G
L
Y Y + =
13. Menentukan Koefisien Transfer Massa
3
NH dalam Fase Gas ( a K
Y
) pada
berbagai Kecepatan Aliran Udara.
Neraca massa
3
NH pada fase gas dalam elemen volume pada keadaan ajeg
adalah :
( ) ( ) 0 Z A ) Y - a(Y K Y G Y G
*
Y Z Z S Z S
= A
A +

) Y - Y (
G
aA K
Z
Y Y
lim
*
S
Y Z Z Z
0 X
=
A

A +
A

) Y - Y (
G
aA K
dZ
dY
*
S
Y
=
dZ
G
aA K
) Y - (Y
dY
Z
0 S
Y
Y2
Y1
* } }
=

S
Y
Y2
Y1
*
G
aAZ K
) Y - (Y
dY
=
}


}
=
Y2
Y1
*
S
Y
) Y - (Y
dY
AZ
G
a K
Langkah-langkah perhitungan a K
Y
seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya.
14. Menentukan Konstanta Hasil Analisis Dimensi

a2
L
L L
a1
g
g g
AU
2
Y
Dp v
Dp v
k
PD
RT aDp K
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|


Kecepatan cairan konstan sehingga a
1
=0 dan persamaan di atas menjadi :



16
a1
g
g g
AU
2
Y
Dp v
k
PD
RT aDp K
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|


|
|
.
|

\
|
+ =
|
|
.
|

\
|
g
g g
1
AU
2
Y
Dp v
Log a k Log
PD
RT aDp K
Log


Karena bentuk persamaan linier, maka k dan a
1
dapat dicari dengan metode
regresi linier. Bentuk umum persamaan untuk regresi linier adalah :
Y=aX+b
( )

=
2
2
X n X
XY n - Y X
a

n
X a - Y
b

=
dengan :
|
|
.
|

\
|
=
AU
2
Y
PD
RT aDp K
Log Y

|
|
.
|

\
|
=
g
g g
Dp v
Log X


a = a
1

b = Log k
n = jumlah data
Untuk menghitung X, maka harus dicari dulu
g
dan v
g


2
g
D
G 4
A
G
v
t
= =

RT
P.BM
g
=
15. Menghitung Ralat Percobaan
x100%
persamaan a K
percobaan a K - persamaan a K
Relatif Kesalahan
Y
Y Y
=

VII. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
Normalitas Larutan HCl = 0,1408 mgrek/mL
Normalitas Larutan HCl hasil pengenceran= 0,0014 mgrek/mL
Normalitas Larutan Umpan =0,0943 mgrek/mL
Rapat massa larutan umpan pada 28C = 0,9958g/mL

17
Viskositas larutan umpan pada 28C =8,9914.10
-3
g/cm.detik


Daftar I. Data Normalitas, Densitas, dan Viskositas Larutan Sampel




Dari daftar di atas dapat disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi NH
3
di larutan,
maka densitas dan viskositas larutan semakin kecil.
Dari perhitungan selanjutnya diperoleh :
1. G = 81,69690312 mL/detik
2. L = 5,5272 mL/detik
3. L
s
= 0,305734352 gmol air/detik
4. x
umpan
= 1,6134 X 10
-3
mgmol NH
3
/gmol larutan
x
sampel
= dapat dilihat pada daftar II
5. D
AU
, 28C = 0,2292 Cm
2
/detik
6. Untuk x
2
= 0,0016134, dari Figure 551 Brown diperoleh y
2
= 0,03
Persamaan kesetimbangan dalam basis fraksi mol :
y = 11,6152 x
Persamaan kesetimbangan dalam solute free basis dan basis fraksi mol :
x
x
Y
6152 . 11 1
6152 . 11
*

=
No. Volume NH3, mL Volume HCl, mL Konsentrasi NH3, N
1 10 5,4000 7,5600E-04
2 10 6,2000 8,6800E-04
3 10 6,8000 9,5200E-04
4 10 7,5000 1,0500E-03
5 10 9,1000 1,2740E-03
6 10 9,4500 1,3230E-03

18
7. Y
1
= 1,9098E-02

Hasil perhitungan nilai G
s
, x
1
, y
2
, dan persamaan garis operasi untuk tiap sampel dapat
dilihat pada Daftar II.



Daftar II. Data Perhitungan G
s
, X
1
, Y
2
, dan Persamaan Garis Operasi

No. Gs x
1
y
2
Persamaan garis operasi
1 3,3851E-03 1,37523E-05 1,7856E-02 Y = 90,3167 x + 1,7856 E-02
2 3,7180E-03 1,5671E-05 1,7809E-02 Y= 82,2308 x + 1,7809 E-02
3 4,0987E-03 1,71721E-05 1,7817E-02 Y= 74,5932 x + 1,7817 E-02
4 4,5029E-03 1,8938E-05 1,7812E-02 Y= 67,8971 x + 1,7812 E-02
5 4,8979E-03 2,29759E-05 1,7664E-02 Y= 62,4221 x + 1,7664 E-02
6 5,2566E-03 2,38572E-05 1,7710E-02 Y= 58,1625 x + 1,7710 E-02



Semakin cepat kecepatan alir gas bebas NH
3
dengan kecepatan alir cairan bebas NH
3

konstan, maka jumlah NH
3
terserap dalam cairan sebagai hasil bawah akan semakin
besar, dan semakin besar pula konsentrasi NH
3
yang keluar sebagai hasil atas.
Persamaan garis operasi untuk masingmasing sampel dapat diplotkan pada grafik X
versus Y seperti pada Gambar 3.

19

Gambar 3. Grafik Hubungan antara Garis Operasi dengan Kurva Kesetimbangan

Sebagai contoh perhitungan integral untuk menghasilkan K
y
a, dilampirkan daftar hasil
perhitungan dari sampel 1 yaitu pada Daftar III.





0.0000E+00
2.0000E-02
4.0000E-02
6.0000E-02
8.0000E-02
1.0000E-01
1.2000E-01
0.0000 0.0001 0.0002 0.0003 0.0004 0.0005 0.0006 0.0007 0.0008 0.0009 0.0010 0.0011
Y
,

g
m
o
l

N
H
3
/
g
m
o
l

g
a
s

X, gmol NH3/gmol H2O

20

Daftar III. Data Untuk Hitung Integral Untuk Sampel 1

No. y x y* 1/(y-y*)
1 1,7856E-02 0 0 55,69647277
2 1,7980E-02 1,37364E-06 2,5543E-05 55,39217585
3 1,8104E-02 2,74887E-06 5,1116E-05 55,09118987
4 1,8228E-02 4,1241E-06 7,6691E-05 54,7934611
5 1,8353E-02 5,49933E-06 1,0227E-04 54,49893694
6 1,8477E-02 6,87456E-06 1,2784E-04 54,20756593
7 1,8601E-02 8,24979E-06 1,5342E-04 53,9192977
8 1,8725E-02 9,62502E-06 1,7900E-04 53,63408296
9 1,8849E-02 1,10003E-05 2,0458E-04 53,35187345
10 1,8974E-02 1,23755E-05 2,3017E-04 53,07262191
11 1,9098E-02 1,37507E-05 2,5575E-04 55,69647277


Selanjutnya nilai K
y
a dapat dihitung dengan persamaan (2). Daftar IV menunjukkan
hasil perhitungan K
y
a,
g
v , y , dan
g
untuk tiap sampel

Daftar IV. Data Hasil Perhitungan Kya, Kecepatan Gas, y rata-rata, Berat
Molekul Gas,dan Massa Jenis Gas

No.
a K
y

g
v
y

g
BM
g

1 9,3664E-08 3,4387701 1,8141E-02 28,6258 1,1589E-03
2 1,02874E-07 3,7769111 1,8119E-02 28,6260 1,1589E-03
3 1,13407E-07 4,16363009 1,8123E-02 28,6260 1,1589E-03
4 1,24592E-07 4,57424999 1,8120E-02 28,6260 1,1589E-03
5 1,3552E-07 4,97545885 1,8049E-02 28,6269 1,1590E-03
6 1,45445E-07 5,33983677 1,8071E-02 28,6266 1,1590E-03


Dari daftar di atas maka dapat disimpulkan bahwa semkin besar kecepatan alir gas maka
nilai koefisien transfer massa keseluruhan volumetris (K
y
a) akan semakin besar pula.
Dengan regresi linier diperoleh persamaan untuk mencari nilai Kya :

Dapat diplotkan grafik
g
v versus K
y
a seperti pada Gambar 4.

21

Gambar 4. Grafik Hubungan antara Kecepatan Linear Gas (Vg) dengan Kya

Dari perbandingan antara K
y
a percobaan dan persamaan diperoleh kesalahan relatif
seperti tercantum pada Daftar V




8.0000E-08
9.0000E-08
1.0000E-07
1.1000E-07
1.2000E-07
1.3000E-07
1.4000E-07
1.5000E-07
3 3.5 4 4.5 5 5.5
K
y
a
,

g
m
o
l
/
c
m
3
.
d
e
t
i
k

Vg, cm/detik
Kya
Percobaa
n

22

Daftar V. Data Kesalahan Relatif K
y
a Percobaan terhadap K
y
a
Persamaan

No. K
y
a percobaan K
y
a persamaan Kesalahan relatif, %
1 9,3664E-08 9,36744E-08 0,011179
2 1,02874E-07 1,02887E-07 0,012107
3 1,13407E-07 1,13421E-07 0,011953
4 1,24592E-07 1,24607E-07 0,012051
5 1,3552E-07 1,3554E-07 0,015005
6 1,45445E-07 1,45465E-07 0,014077
Jumlah 0,076371

Kesalahan relatif rata-rata =



Kesalahan relatif tersebut terjadi karena beberapa hal, antara lain :
a. Adanya cairan umpan yang ikut keluar bersama gas terutama untuk kecepatan alir
gas yang besar.
b. Air yang dianggap murni mengandung zat lain yang berpengaruh terhadap densitas
sampel dan harga X
2
(rasio mol cairan masuk).
c. Transfer massa juga terjadi dari fase cairan ke gas.
d. Ada gas lain selain amonia yang ikut larut dalam cairan sehingga mempengaruhi
nilai K
y
a.

VIII. KESIMPULAN
a. Persamaan hubungan K
y
a dan kecepatan linier gas dengan analisis dimensi

b. Semakin besar aliran gas, harga K
y
a semakin besar
c. Persamaan kurva kesetimbangan :






d. Kesalahan relatif rata-rata percobaan = 0,012729 %

23

IX. DAFTAR PUSTAKA
Brown, G.G.,1950, Unit Operations, Modern Asia Edition,pp. 322-324, John
Wiley and Sons, Inc., New York.
Perry, R.H., Green, D.W., and Maloney, J.O., 1997, Perrys Chemical
Engineers Handbook, 7ed., pp. 2-8, 2-27, 2-29, 2-320, 2-321, 2-322,
2-323, 14-40, McGraw-Hill Book Company, New York.
Treybal, R.E., 1981 Mass Transfer Operations, 3ed., pp. 194-195,275-
291,310, McGraw-Hill International Book Company, Tokyo.







1
Algoritma Perhitungan unttuk Mencari Parameter Perancangan Menara Absorber, K
ya

Menentukan konstanta
analisis dimensi
a2
L
L L
a1
g
g g
AU
2
Y
Dp v Dp v
k
PD
RT aDp K
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|

Menentukan
kecepatan volumetrik
gas (G) dan cairan (L)
7
7
6
6
5
5
4
4
3
3
2
2 1 0
H C H C H C H C H C H C H C C L + + + + + + + =
5
5
4
4
3
3
2
2 1 0
H C H C H C H C H C C G + + + + + =
Menentukan
kecepatan molar
bebas solut (Ls & Gs)
) Y 1 ( BM
G.
G
1 udara
udara
S
+
=

aquadest
aquadest
S
BM
L L

=
Menghitung nilai Kya
}
=
Y2
Y1
*
S
Y
) Y - (Y
dY
AZ
G
a K
Menentukan persamaan garis
operasi dengan neraca massa
elemen volum pada gas
( )
1
S
S
1
X - X
G
L
Y Y + =
Menentukan ,
(cairan dan gas)

aquadest
aquadest aquadest
sampel sampel
sampel larutan
x
x t
x t

=

aquadest sampel larutan
x
aquadest Berat
sampel larutan Berat
=

3
3
NH
HCl HCl
NH
V
V N
N =
Menentukan
normalitas NH3
Menghitung kadar amoniak
pada gas (Y2) dengan
neraca massa overall

1
S
S
1 2
X
G
L
Y Y =
Menentukan difusivitas
NH3 dalam air
5 . 0
2
AU
U A
3/2
AU
. P.
M
1
M
1
. T . 001858 . 0
D
O
|
|
.
|

\
|
+
=
t
|
|
.
|

\
|
O
O
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
2
1
2
1
2 / 3
1
2
P , T AU P , T AU
T
T
P
P
T
T
D D
1 1 2 2
Menentukan kecepatan
linier gas (vg)
2 g
D
G 4
A
G
v
t
= =