Anda di halaman 1dari 30

PENERAPAN PENGELOLAAN PENYAKIT TERPADU PADA TANAMAN PANGAN

PHPT PADI
KOMPONEN PHPT TANAMAN PADI FISIK-MEKANIK VARIETAS TAHAN BERCOCOK TANAM BIOLOGI KIMIAWI

FISIK DAN MEKANIK


Pengendalian dengan cara ini biasanya dilakukan pada usaha pertanian dalam skala kecil atau dalam rumah kasa atau rumah kaca. Pengendalian hama atau penyakit dengan fisik adalah penggunaan panas dan pengaliran udara. Sedangkan mekanik adalah usaha pengendalian dengan cara mencari jasad perusak tanaman, kemudian memusnahkannya. Cara ini dapat dilakukan dengan tangan atau menggunakan alat berupa perangkap

PENGGUNAAN VARIETAS TAHAN


merupakan usaha pengendalian yang mudah dan murah bagi petani. Telah banyak varietas-varietas padi yang dilepas oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dan lembaga riset dalam dan luar penyakit utama tanaman padi Silugonggo (blas), Intani 1-2 (HDB strain III dan IV), Tukad Petanu (HDB strain VIII)

penggunaan varietas tahan dengan gen ketahanan tunggal akan memacu timbulnya biotipe dan strain atau ras-ras baru yang lebih berbahaya.
dianjurkan melakukan pergiliran varietas atau melakukan penanaman varietas padi yang memiliki berbagai tingkat ketahanan. Karena pencapuran penanaman padi dg tingkat ketahanan beragam akan meningkatkan diversifikasi lingkungan yang dapat menekan laju perkembangan populasi patogen.

BERCOCOK TANAM
Tanam serempak. Di lahan irigasi dengan penanaman serempak, hama lebih menonjol dari pada penyakit. penyakit hawar daun bakteri dapat berkembang secara sporadis di lokasi tertentu. Sedangkan tanam tidak serempak dalam satu hamparan terjadi karena latar belakang teknis dan sosial. Resiko kehilangan hasil akibat serangan patogen dapat dihindari dengan pola tanam serempak

Pengolahan tanah.

tanaman padi yang ditanam pada tanah yang tidak mendapat pengolahan sempurna terjadi peningkatan intensitas penyakit mentek yang disebabkan oleh nematoda Radophollus oryzae

Jarak tanam
Pengaturan jarak tanam sebagai salah satu komponen pengendalian merupakan merobahan iklim mikro (iklim sekitar tanaman) sedemikian rupa, sehingga tidak menguntungkan bagi perkembangan patogen(penyebab penyakit). sistem tanam legowo 4:1 pada padi sawah dapat mengurangi intensitas penyakit blas, bercak daun coklat, busuk batang dan hawar daun bakteri beberapa penyakit yang disebabkan jamur akan berkurang pada pertanaman padi berjarak tanam longgar dan meningkat pada jarak tanam rapat, apalagi di musim hujan. Karena jarak tanam yang rapat akan meningkatkan kelembaban udara di sekitar tanaman yang akan menguntungkan bagi kehidupan jamur dan bakteri.

Waktu tanam
Iklim berpengaruh terhadap kehidupan jasad pengganggu tanaman, untuk menghindari kerusakan perlu penentuan waktu tanam yang tepat. Cth: pada padi gogo, infeksi blas meningkat pada pertanaman yang ditanam pada bulan Agustus dan September, sedangkan penanaman di luar bulan-bulan tersebut infeksi blas terlihat rendah bahkan dapat terhindar dari infeksi blas. Karena pada bulan-bulan tersebut terjadi musim hujan yang hampir merata setiap hari dengan curah hujan rendah sampai sedang. Keadaan yang seperti ini telah terbukti bahwa spora jamur penyebab blas (Pyricularia oryzae) banyak dilepaskan ke udara, dan spora-spora ini akan menginfeksi tanaman padi sehingga menimbulkan kerusakan tanaman.

Waktu tanam
Cth : Penyakit bercak coklat sempit pada musim kemarau memperlihatkan gejala serangan yang meningkat pada musim kemarau di Sukamandi, Jawa Barat. Untuk itu hindari menanam varietas rentan pada musim kemarau.

Pengaturan pengairan
Air merupakan kebutuhan utama pada tanaman padi pada fase pertumbuhan (Vegetatif), kebutuhan air perlu pengaturan agar tanaman terhindar dari kerusakan oleh jasad pengganggu.

Pengaturan pola tanam.


Penanaman tanaman padi terus menerus, apalagi dengan menanam tanaman yang memiliki tingkat ketahanan sama dengan tanaman sebelumnya, akan memberi peluang untuk meningkatnya populasi patogen Keadaan ini merupakan lingkungan yang sesuai dan tersedianya sumber makanan sepanjang musim bagi patogen. Sehingga perlu pengaturan pola tanam berupa pergiliran tanaman padi dengan tanaman palawija atau sayur-sayuran. Pergiliran tanaman dapat juga dilakukan dengan melakukan pergiliran tingkat ketahanan tanaman padi. Pola tanam tumpang sari dalam areal penanaman padi dengan tanaman lain bukan padi dapat pula dilakukan untuk meningkatkan keragaman ekologi.

Pemupukan
Petani cenderung melakukan pemupukan yang berlebihan untuk meningkatkan hasil, tindakan ini merupakan pemborosan dan juga memberi peluang tanaman padi terinfeksi patogen. Pemupukan nitrogen yang berlebihan pada tanaman padi gogo dan padi sawah mengakibatkan tanaman rentan terhadap infeksi penyakit blas dan bercak daun coklat Penentuan kebutuhan nitrogen tanaman padi dianjurkan menggunakan bagan warna daun, sehingga pemberian pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman. Pemberian pupuk yang mengandung unsur silika (Si), Kalium (K) dan Calsium (Ca) dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap patogen.

BIOLOGI
Cth: penggunaan Corynebacterium sp. utk pengendalian patogen BLB (Xanthomonas oryzae)

Kimiawi
Penggunaan pestisida kimia untuk pengendalian patogen sangat jelas tingkat keberhasilannya. Penggunaan pestisida kimia merupakan usaha pengendalian yang kurang bijaksana, jika tidak diikuti dengan tepat penggunaan, tepat dosis, tepat waktu, tepat sasaran, tepat jenis dan tepat konsentrasi. Keadaan ini yang sering dinyataan sebagai penyebabkan peledakan populasi suatu opt Penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian hama dan patogen perlu dipertimbangkan, dengan memperhatikan tingkat serangan, ambang ekonomi, pengaruhnya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia dan hewan.

Pengelolaan Terpadu Penyakit hawar daun bakteri (HDB) Penyakit hawar daun bakteri Xanthomonas oryzae pv oryzae dapat ditularkan melalui air, angin, dan benih. Infeksi terjadi melalui luka/lubang alami (stomata). .

Pengelolaan Terpadu Penyakit hawar daun bakteri (HDB)


Penanaman varietas tahan, namun ketahanan varietas saat ini di Indonesia bersifat spesifik lokasi karena strain HDB berbeda-beda. Saat ini terdapat strain III, IV, V, VI, VII, dan VIII. Penanaman varietas bergilir Amati kerusakan tanaman, bila keparahan penyakit melebihi 20% maka gunakan pengendalian kimiawi Lakukan rotasi tanaman, dan pupuk N yang digunakan jangan berlebihan Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah inokulum, sanitasi, Pertahankan kebersihan sawah dengan membuang atau bajak gulma, jerami yang terinfeksi, Keringkan sawah dengan mengupayakan sawah bera mengering untuk membunuh bakteri yang mungkin bertahan dalam tanah atau sisa tanaman

Pengelolaan Terpadu Penyakit Blas


Blas (Pyricularia oryzae) Blas menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan Gejala adalah bercak berbentuk belah ketupat, lebar ditengah dan kedua ujung meruncing. Infeksi selain daun juga menyerang ruas batang dan leher malai.
.

Pengelolaan penyakit terpadu Blas

Gunakan penggunaan varietas yang tahan secara bergantian (IR36, IR66, Luk Ulo). Gunakan pupuk Nitrogen sesuai anjuran. Waktu tanam tepat agar waktu pembungaan tidak banyak embun atau hujan. memanfaatkan agensi hayati dengan cara dimulai dari perlakuan benih, perendaman bakteri Antagonis Coryne bacterium pada padi. Fungisida Bahan aktif metil tiofanat, fosdifen sebagai alternatif terakhir.

Pengelolaan Terpadu Penyakit Hawar Pelepah (Sheath Blight)


Penyakit ini disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani. Penyakit menyebabkan tanaman menjadi mudah rebah, makin awal terjadi kerebahan, makin besar kehilangan yang diakibatkannya. Penyakit ini menyebabkan gabah kurang terisi penuh atau bahkan hampa. Hawar pelepah terjadi umumnya saat tanaman mulai membentuk anakan sampai menjelang panen. Namun demikian, penyakit ini juga dapat terjadi pada tanaman muda

Pengelolaan Terpadu Penyakit Hawar Pelepah (Sheath Blight)


Penyakit sangat sulit dikendalikan karena patogen bersifat poliphag (memiliki kisaran inang yang sangat luas). Pemupukan tanaman dengan dosis 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl per ha dapat menekan perkembangan penyakit Cara pencegahan penyakit antara lain dengan pengaturan jarak pertanaman di lapang, keringkan sawah beberapa hari pada saat anakan maksimum, bajak yang dalam untuk mengubur sisa-sisa tanaman yang terinfeksi, merotasi tanaman dengan kacang-kacangan untuk menurunkan serangan penyakit, membuang gulma dan tanaman yang sakit dari sawah, gunakan fungisida (bila diperlukan) antara lain yang berbahan aktif heksakonazol, karbendazim, tebukanazol, belerang, flutalonil, difenokonazol, propikonazol, atau validamisin A.

PENGELOLAAN PENYAKIT TERPADU TANAMAN JAGUNG

Penyakit Bulai (Peronoscleropora maydis)

Gejalanya : Klorosis sebagian atau seluruh helaian daun. Pada permukaan yang klorosis terlihat ada masa tangkai konidia berupa tepung putih. Konidia terbentuk pada malam hari dan berpencar menjelang pagi hari. Tanaman terinfeksi awal terjadi klorosis berat dan dapat mati atau tumbuh kerdil. Tongkol tidak tumbuh sempurna dan sering tidak terbentuk biji atau bijinya jarang.

Pengelolaan penyakit terpadu pada penyakit bulai jagung


Varietas tahan Bulai : Lagaligo, Surya, Bisi-4, Pioner (P)- 4,P5,P9,P10,P12 Tanam serempak Periode bebas tanaman jagung Aplikasi fungisida berbahan aktif metalaksil melalui Biji

Penyakit Karat Daun

Gejala : Terjadinya bisul-bisul atau benjolan-benjolan uredia pada kedua permukaan helaian daun jagung Bagian bawah dan atas, berwarna coklat kemerahan. Daun yang terserang berat akan mengering. Penyebabnya : Puccinia. polysora Komponen pengelolaan penyakit terpadu meliputi : Varietas tahan karat : Arjuna, Kalingga, Wiasa, Pioneer Sanitasi kebun dari gulma inang Fungisida manconeb (Dithane M45), triadomefon atau dithiokarbonat.

Penyakit Bercak / Hawar Daun

Penyebabnya : Helminthosporium maydis Komponen pengelolaan penyakit terpadu meliputi : Varietas tahan : Banyak varietas jagung unggul yang telah dilepas tahan penyakit bercak daun Sanitasi sisa tanaman Aplikasi fungisida hanya untuk produksi benih karena penyakit ini dapat tersebar melalui biji yang terinfeksi.