Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

Seiring dengan semakin meningkatnya populasi lanjut usia pemerintah telah merumuskan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan lanjut usia yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan lansia untuk mencapai masa tua bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaanya. Lanjut usia (lansia) adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari kejadiannya (Depkes RI, 2005) . Biasanya bila suatu negara makin maju, akan terjadi pergeseran struktur penduduk. Saat ini diseluruh dunia jumlah lanjut usia diperkirakan lebih dari 629 juta jiwa ( 1 dari 10 orang berusia lebih dari 60 tahun) dan pada tahun 2025 lanjut usia akan mencapai 1.2 milyar. Negara maju populasi/penduduk lanjut usia telah diantisipasi sejak abad ke XX. Tidak heran bila masyarakat dinegara maju sudah lebih siap menghadapi pertambahan populasi lanjut usia dengan aneka tantangan. Namun saat ini dinegara berkembangpun mulai menghadapi masalah yang sama. (Nugroho, 2010) Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (KESRA)

melaporkan, jika tahun 1980 usia harapan hidup (UHH) 52,2 tahun dan jumlah lansia 7.998.543 orang (5,45%) maka pada tahun 2006 menjadi 19 juta orang (8,90%) dan UHH juga meningkat (66,2 tahun). Pada tahun 2010 perkiraan penduduk lansia di Indonesia akan mencapai 23,9 juta atau 9,77 % dan UHH sekitar 67,4 tahun. Sepuluh 1

tahun kemudian atau pada 2020 perkiraan penduduk lansia di Indonesia mencapai 28,8 juta atau 11,34 % dengan UHH sekitar 71,1 tahun. (Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010) Pembinaan Lansia di Indonesia dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan sebagai landasan menentukan kebijaksanaan pembinaan sesuai dengan UU RI No.36 tahun 2009 tentang kesehatan dan UU No 13/1998 tentang Kesejahteraan lansia yang menyebutkan bahwa pelayanan kesehatan yang dimasudkan adalah untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan lansia, agar kondisi fisik, mental,dan sosialnya dapat berfungsi secara wajar. Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia sebagaimana dimaksud dilaksanakan melalui peningkatan: penyuluhan dan penyebarluasan informasi kesehatan lanjut usia, upaya penyembuhan (kuratif), yang diperluas pada bidang pelayanan

geriatrik/gerontologik, pengembangan lembaga perawatan lanjut usia yang menderita penyakit kronis dan/atau penyakit terminal. (Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010) Upaya kesehatan melalui puskesmas merupakan upaya menyeluruh dan terpadu yang meliputi peningkatan, pencegahan, pengobatan dan pemulihan. Menurut. Departemen Kesehatan, Departemen dalam Negeri serta Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga telah merumuskan tatanan tersebut yang dilaksanakan dalam bentuk Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk masyarakat secara rutin tiap bulanya ( Dep.Kes RI, 2001) Pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat posyandu lansia, pelayanan kesehatan di tingkat dasar puskesmas, dan pelayanan kesehatan tingkat lanjut rumah 2

sakit. (Depkes RI, 2005) Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat lansia di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Tujuan pembentukan posyandu lansia adalah meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia. Oleh sebab itu pelaksanaan pembinaan posyandu di puskesmas perlu dilakukan dengan manajemen yang baik. Keberhasilan pemantauan program harus dimulai dari kegiatan masukan, proses dan keluaran dengan aspek teknis dan manajerial termasuk penyediaan sarana, prasaran dan informasi yang digunakan untuk perencanaan lebih lanjut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3

II.1 Posyandu Lansia A. Usia Lanjut Lansia adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan dan sosial (UU No.23 Tahun 1992 tentang kesehatan). Pengertian dan penggolongan lansia menurut Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 13Tahun 1998 tentang lansia sebagai berikut: Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas, dan ada dua kategori : Lansia usia potensial adalah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa, Lansia tak potensial adalah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya tergantung pada orang lain. (Nugroho,2010) Sedangkan batasan lansia Menurut WHO : Elderly (64 - 74 thn) Old (75 - 90 thn) Very Old (> 90 thn)

B. Masalah Usia Lanjut 1. Masalah Kesehatan (Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010) Meningkatnya jumlah lanjut usia akan menimbulkan berbagai permasalahan yang kompleks bagi lanjut usia itu sendiri maupun bagi keluarga dan masyarakat. Secara alami proses menjadi tua mengakibatkan para lanjut usia mengalami perubahan fisik dan mental, yang mempengaruhi kondisi ekonomi dan sosialnya.

Transisi demografi ke arah menua akan diikuti oleh transisi epidemiologi ke arah penyakit degeneratif seperti rematik, diabetes, hipertensi, jantung koroner, neoplasma. Angka kesakitan penduduk lanjut usia tahun 2009 sebesar 30,46% artinya bahwasetiap 100 orang lanjut usia, sekitar 30 orang diantaranya mengalami sakit. Angka kesakitan penduduk lanjut usia perkotaan 27,20% lebih rendah dibandingkan lanjut usia pedesaan 32,96%. Hal ini menunjukkan bahwa derajat kesehatan penduduk lanjut usia di perkotaan relatif lebih baik dibandingkan lanjut usia di daerah pedesaan. Bila dilihat perkembangannya, derajat kesehatan penduduk lanjut usia relatif tidak berbeda. Angka kesakitan penduduk lanjut usia pada tahun 2005 sebesar 29, 98%, tahun 2007 sebesar 31,11%, dan tahun 2009 sebesar 30,46 %. Pola yang serupa terjadi baik di perkotaan maupun di pedesaan. Kebiasaan berobat serta cara berobat yang dilakukanseseorang, merupakan salah satu faktor yang digunakan untuk mengidentifikasi apakah orang yang bersangkutan telah memiliki perilaku hidup sehat. Berdasarkan Profil Penduduk Lanjut Usia 2009, ternyata 32,24% lanjut usia mencari pengobatan di puskesmas, Namun masih ada yang mengobati sendiri dengan menggunakan obat modern 60,47% dan obat tradisional 10,87%. Berdasarkan informasi berbagai sumber, gangguan yang masalah terhadap kemandirian sering menjadi

lanjut usia dikenal dengan istilah 14 i, yaitu

immobilisasi(berkurangnya kemampuan gerak), instabilitas postural (berdiri dan berjalan tidak stabil atau intelektual), isolation mudah jatuh), intellectual impairment(gangguan inkontinensia urine

(depresi),

insomnia (susah tidur),

(mengompol), impotence (impotensi), immune deficiency (daya tahan tubuh yang 5

menurun),infection (infeksi), inanition (kurang gizi), irritable colon(gangguan saluran cerna), iatrogenesis (menderita penyakit akibat obat-obatan),

impaction(konstipasi), impairment of vision, hearing, taste, smell, communication, convalenscence, skin integrity(gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan

dan kulit), impecunity (berkurangya kemampuan keuangan). Kemunduran fungsi tubuh dan kemunduran peran akan sangat berpengaruh pada kemandirian lanjut usia. Besarnya populasi dan masalah kesehatan lanjut usiaini belum diikuti dengan ketersediaan fasilitas pelayanan lanjut usia (care services)yang memadai, baik dalam jumlah maupun dalam mutunya. Menurut Kementerian Kesehatan, sampai saatini jumlah Puskesmas Santun Lanjut Usia dan rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan geriatri juga masih terbatas. Pelayanan geriatri di Rumah Sakit sebagian besar berada di perkotaan, padahal 65,7% para lanjut usia berada dipedesaan. Dari data Kementerian Sosial, jumlah penduduk lanjut usia yang terlayani melalui panti, dana dekonsentarasi, Pusat Santunan Keluarga (Pusaka), jaminan sosial, organisasi sosial lainnya sampai 2008 ini berjumlah 74,897 orang atau 3,09% dari total

penduduk lanjut usia terlantar. Karena keterbatasanfasilitas pelayanan, aksesibilitas penduduk lanjut usia kepada pelayanan yang dibutuhkan untuk pemenuhan diri (self fullfilment) tidak terlaksana dengan baik. 2. Masalah Sosial Dan Ekonomi (Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010) Indonesia adalah termasuk negara yang mengalami percepatan pertambahan penduduk berusia 60 tahunke atas. Sejak tahun 2000 Indonesia telah menjadi negara 6

berstuktur tua

karena jumlah penduduk lanjut usia telah mencapai 7,18% dari

jumlah penduduk Indonesia dan diperkirakan akan meningkat menjadi 9,77% pada tahun 2010 dan 11,34 % pada tahun 2020 (Survei Sosial Ekonomi

Nasional/SUSENAS 2004). Padatahun 2025, diperkirakan menjadi 13% dan selanjutnya pada tahun 2050 menjadi 25%. Menurut data United Nations Department Economic Social Affair/UNDESA 2007, perempuan merupakan mayoritas dari populasi lanjut usia Indonesia, bahkan lebih besar lagi pada populasi yang lebih tua (the oldest old), yaitu lebih dari 50% pada tahun 1950 dan diproyeksikan akan meningkat terus sampai dengan tahun 2050. Selain itu, pada kelompok umur 80 tahun ke atas merupakan populasi yang lebih tinggi lagi. Saat ini, hampir 60% kelompok umur 80 tahun ke atas adalah perempuandan proporsi ini diperkirakan meningkat sampai dengan 64% pada tahun 2030. Jumlah perempuan lanjut usia yang melebihi jumlah laki-laki lanjut usia ini disebabkan umur harapan hidup perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Pada data tersebut juga diperlihatkan harapan hidup perempuan untuk semua umur dan angka kelangsungan hidup pada umur 60 tahun dan 80 tahun secara konsisten lebih tinggi. Makin bertambahnya jumlah perempuan lanjut usia akan berakibat terjadinya feminisasi dari proses penuaan di Indonesia. Feminisasi dari penuaan yang dimaksudkan di sini adalah kelebihan jumlah perempuan dibandingkan dengan laki-laki pada kelompok lanjut usia dengan segala konsekuensinya. Feminisasi lanjut usia menjadi berarti karena perempuan lebih mempunyai risiko tinggi atau rentan terhadap penyakit jika dibandingkan dengan laki-laki. Tingkat risiko penduduk lanjut usia di Indonesia dinilai dari latar belakang 7

pendidikan dan ekonominya.Lanjut usia yang hidup sendiri,kurang aman secara finansial dan kurang punya akses untuk pengobatan bila sakit dan cacat dibandingkan dengan yang mempunyai pasangan. Di sisi lain, tidak terbuka lapangan pekerjaan bagi lanjut usia, baik di Indonesia maupun sebagian negara sedang berkembang

lainnya. Pada negara yang cakupan jaminan sosialnya terbatas, aktivitas ekonomi dapatdigunakan sebagai suatu tanda yang mewakili jaminan finasial dan kebebasan, demikian juga dengan pekerjaan yang produktif merupakan kunci pemberdayaan warga lanjut usia. Kondisi perempuan lanjut usia kurang beruntung

dibandingkandengan kondisi lanjut usia laki-laki. Kondisi tersebut menurut BPS RI Sakernas 2009 adalah sebagai berikut: Jumlah laki-laki berusia-lanjut yang kawin sebesar 83,44%; cerai 1,05% duda; ditinggal mati 14,71%, sedangkan jumlah perempuan berusia-lanjut yang

kawin sebesar 35,99%;cerai 3,10% dan janda ditinggal mati 59,49%; Jumlah laki-laki lanjut usia yang berpendidikan SMA 9,78% dan yang tidak sekolah sebesar 17,87%; sedangkan jumlah perempuan lanjut usia yang berpendidikan SMA sebesar 4,33% dan yang tidak sekolah 44,53%; Jumlah laki-laki lanjut usia yang bekerja sebesar 63,07%, sedangkan jumlah perempuan lanjut usia yang bekerja33,57%. Sementara itu, penduduk perempuan lanjut usia lebihbanyak bekerja sebagai pengurus rumah tangga, yaitu 45,84%. Hal lain yang sangat menghambat perlindungan terhadap lanjut usia untuk pencapaian hidup yang aman, berkualitas dan terpenuhi hak asasinya, adalah stigma 8

masyarakatterhadap lanjut usia. Masyarakat masih mempunyai persepsi yang keliru terhadap lanjut usia karena mereka dianggap identikdengan pikun, renta, loyo, tidak produkif, masa lalu, ketinggalanzaman, cerewet dan beban. Dari penelitian tentang citra lanjut usia, 70% menunjukkan citra negatif seperti di atas. Akibatnya, perhatian, kepedulian (care), penghargaan, dan martabat (dignity) dari keluarga, masyarakat dan pemerintah terhadap lanjut usia kurang, bahkan mereka sering diterlantarkan atau menjadi korban tindak kekerasan sebesar 10,16% pada perempuan dan laki-laki 8,28%. C. Pengertian Posyandu Lansia Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Kegiatan posyandu adalah perwujudan dari peran serta masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan mereka. Posyandu lansia adalah suatu forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan oleh masyarakat dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia khususnya lanjut usia (Depkes, 2006). Adapun standar pembentukan posyandu lansia adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Jumlah Lansia mencapai 50-100 orang. Kader Lansia minimal 5-10 orang. Tempat/waktu tersendiri, berjalan rutin berkesinambungan Petugas 3-5 orang : dokter, perawat/bidan, laboran, farmasi

5.

Sarana : tempat/gedung, administrasi, meja/kursi, ruang pengambilan sampel, alat dapur

6. 7. 8.

Kerjasama lintas sektoral RT/Kelurahan, tokoh masyarakat, instansi terkait. Penanggung jawab lurah /RT setempat. Pendanaan/Donatur tersendiri

D. Tujuan Posyandu Lansia Tujuan pembentukan posyandu lansia secara garis besar menurut Depkes (2006) antara lain : a. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia b. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut E. Manfaat Posyandu Lansia Menurut Depkes RI (2006), manfaat dari posyandu lansia adalah : Kesehatan fisik usia lanjut dapat dipertahankan tetap bugar Kesehatan rekreasi tetap terpelihara Dapat menyalurkan minat dan bakat untuk mengisi waktu luang F. Pelayanan Posyandu Lansia (Subijanto,2001)

10

Pelayanan Kesehatan di Posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan Kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi (KMS terlampir) . Jenis pelayanan kesehatan yang dapat diberikan kepada Lansia di Posyandu adalah sebagai berikut: a. Pemeriksaan aktifitas kegiatan sehari-hari (activity of daily living) meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya. b. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional, dengan menggunakan pedoman metode 2 menit c. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik Indeks Massa Tubuh (IMT). d. Pengukuran tekanan darah dengan menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit. e. Pemeriksaan hemoglobin f. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes mellitus). g. Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit ginjal. h. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bila mana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan di atas.

11

i. Penyuluhan bisa dilakukan di dalam maupun di luar kelompok dalam rangka kunjungan rumah dan konseling kesehatan yang dihadapi oleh individu dan atau kelompok usia lanjut. j. Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi anggota kelompok usia lanjut yang tidak datang, dalam rangka kegiatan perawatan kesehatan masyarakat (Public Health Nursing). Selain kegiatan di atas, kegiatan lain yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi setempat, seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT), penyuluhan sebagai contoh menu makanan dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi Lansia, serta menggunakan bahan makanan yang berasal dari daerah tersebut. Dapat juga dilaksanakan kegiatan olah raga antara lain senam Lansia, gerak jalan santai, dan lain sebagainya untuk meningkatkan kebugaran. Kelompok dapat melakukan kegiatan non kesehatan di bawah bimbingan sector lain, contohnya kegiatan kerohanian, arisan, kegiatan ekonomi produktif, forum diskusi, penyaluran hobi dan lain-lain.

II.2 Pelaksanaan Posyandu Lansia (Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010) Agar pelaksanaan kegiatan posyandu berjalan efisien dan efektif dibutuhkan: 1. Organisasi yang tertata baik; 2. Sumber daya manusia yang mempunyai ilmu dan kemampuan; 3. Tugas dan fungsi yang jelas dari masing masing petugas posyandu 12

4. Mekanisme kerja yang baik meliputi perencanaan, pelaksanan, monitoring dan evaluasi. a) Organisasi Organisasi posyandu lanjut usia adalah organisasi kemasyarakatan non struktural yang berdasarkan azas gotong royong untuk sehat dan sejahtera, yang diorganisir oleh seorang koordinator atau ketua, dibantu oleh sekretaris, bendahara dan beberapa orang kader. Organisasi posyandu lanjut usia ini tidak saja dapat dibentuk oleh masyarakat setempat, tetapi dapat juga oleh : - Kelompok seminat dalam masyarakat misalnya Club Jantung Sehat, Majelis Talim, WULAN (warga usia lanjut), kelompok gereja, dan lain lain - Organisasi profesi - Institusi pemerintah/swasta - Lembaga Swadaya Masyarakat

Salah satu bentuk organisasi sebagai berikut:

13

Gambar 2.1 Sturuktur organisasi Karang Werda b) Sumber daya manusia (SDM) Tenaga yang dibutuhkan dalam pelaksanaan posyandu sebaiknya 8 orang namun bisa kurang dengan konsekuensi bekerja rangkap. Kepengurusan yang di anjurkan adalah: 1. Ketua Posyandu 2. Sekretaris 3. Bendahara 4. Kader sekitar 5 orang : - Meja 1 tempat pendaftaran, mendaftarkan lansia, kemudian kader mencatat lansia tersebut. Lansia yang sudah terdaftar di buku register langsung menuju meja selanjutnya. 14

- Meja 2 tempat penimbangan dan pencatatan berat badan, pengukuran dan pencatatan tinggi badan serta penghitungan index massa tubuh (IMT) - Meja 3 tempat melakukan kegiatan pemeriksaan dan pengobatan sederhana (tekanan darah, gula darah, Hb dan pemberian vitamin, dan lain - lain) - Meja 4 tempat melakukan kegiatan konseling (kesehatan, gizi dan kesejahteraan) - Meja 5 tempat memberikan informasi dan melakukan kegiatan sosial (pemberian makan tambahan, bantuan modal, pendampingan, dan lain lain sesuai kebutuhan)

15

Keterangan : A. Meja 1 : Tempat pendaftaran B. Meja II : Pengukuran tinggi badan, berta badan dan tekanan darah C. Meja III : Pemeriksaan dan pengobatan D. Meja IV : Penyuluhan E. Meja V : Informasi dan kegiatan sosial F. Warga

c) Tugas dan Fungsi 1. Ketua Posyandu Bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan posyandu Bertanggung jawab terhadap kerjasama dengan semua stake holder dalam rangka meningkatkan mutu pelaksanaan posyandu 2. Sekretaris Mencatat semua aktivitas perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan serta pengendalian posyandu. 3. Bendahara Pencatatan pemasukan dan pengeluaran serta pelaporan keuangan posyandu 4. Kader

16

Tugas kader dalam posyandu lanjut usia antara lain: Mempersiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan pada kegiatan posyandu. Memobilisasi sasaran pada hari pelayanan posyandu. Melakukan pendaftaran sasaran pada pelayanan posyandu lanjut usia. Melaksanakan kegiatan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan para lanjut usia dan mencatatnya dalam KMS atau buku pencatatan lainnya. Membantu petugas dalam pelaksanaan pemeriksaan kesehatan dan pelayanan lainnya. Melakukan penyuluhan ( kesehatan, gizi, sosial, agama dan karya) sesuai dengan minatnya. d) Mekanisme Kerja Untuk memberikan pelayanan kesehatan dan sosial yang prima terhadap lanjut usia di kelompoknya, dibutuhkan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang benar dan tepat waktu, serta pengendalian yang akurat.

1. Perencanaan Dalam menyusun perencanaan dibutuhkan data-data: - Jumlah penduduk dan KK di wilayah cakupan 17

- Kondisi sosial ekonomi penduduk di wilayah cakupan - Jumlah lanjut usia keseluruhan (per kelompok umur) - Kondisi kesehatan lanjut usia di wilayah cakupan - Jumlah lanjut usia yang mandiri - Jumlah lanjut usia yang cacat - Jumlah lanjut usia terlantar, rawan terlantar dan tidak terlantar. - Jumlah lanjut usia yang produktif - Jumlah lanjut usia yang mengalami tindakan penelantaran, pelecehan, pengucilan dan kekerasan Data tersebut diatas dapat diperoleh dari Kelurahan/Desa atau melalui PKK dengan kegiatan Dasawisma dimana satu kader membina 10 keluarga. Untuk sosial ekonomi, mandiri dan cacat serta produktif harus dibuat kriteria yang jelas. Untuk hal tersebut perlu menggunakan alat bantu kuesioner (lampiran) Rencana yang perlu disusun adalah: - Frekuensi kegiatan posyandu lanjut usia - Jenis kegiatan posyandu - Tenaga pelaksana kegiatan - Biaya kegiatan posyandu - Pengembangan kegiatan lanjut usia a. Frekuensi kegiatan posyandu lanjut usia

18

Frekuensi kegiatan posyandu tergantung dari banyaknya jenis kegiatan yang dilakukan posyandu tersebut. Untuk pencapaian lanjut usia sejahtera dibutuhkan kegiatan sbb: Olah raga/senam minimal 1 minggu sekali Pengajian 1 minggu sekali Pengukuran IMT dan pemeriksaan kesehatan setiap bulan Pemberantasan buta aksara tergantung kondisi (peserta, pengajar, waktu dan tempat). Konseling dan penyuluhan kesehatan dan gizi. Serta masalah sosial, karya/usaha ekonomi produktif dan pendidikan Peningkatan pendapatan Dan lain-lain sesuai kesepakatan. Setelah memperhatikan banyaknya kegiatan maka penyelenggaraan posyandu dimusyawarahkan dengan warga/anggota, sehingga menghasilkan kesepakatan bersama. b. Jenis Kegiatan Posyandu Pada dasarnya jenis kegiatan posyandu lanjut usia tidak berbeda dengan kegiatan posyandu balita atau kegiatan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat lain di masyarakat. Namun posyandu lanjut usia kegiatannya tidak hanya mencakup upaya kesehatan saja tetapi juga meliputi upaya sosial dan karya serta pendidikan.

19

Hal tersebut disebabkan karena permasalahan yang dihadapi lanjut usia bersifat kompleks, tidak hanya masalah kesehatan namun juga masalah sosial, ekonomi dan pendidikan yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lainnya. Sebelum kita membicarakan jenis kegiatan yang dilakukan oleh posyandu, terlebih dahulu para penyelenggara posyandu diharapkan mengerti tujuan penyelenggaraan posyandu seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Jenis kegiatan yang dilaksanakan di posyandu lanjut usia yaitu : 1. Kegiatan pengukuran IMT melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan., kegiatan ini dilakukan 1 bulan sekali. 2. Kegiatan pemeriksaan tekanan darah dilakukan minimal 1 bulan sekali, namun bagi yang menderita tekanan darah tinggi dianjurkan setiap minggu. Hal ini dapat dilakukan di puskesmas atau pada tenaga kesehatan terdekat. 3. Kegiatan pemeriksaan kadar haemoglobin darah (Hb), gula darah dan kolesterol darah. Bagi lanjut usia yang sehat cukup di periksa setiap 6 bulan. Namun bagi yang mempunyai faktor resiko seperti turunan kencing manis, gemuk sebaiknya 3 bulan sekali dan bagi yang sudah menderita maka dilakukan di posyandu setiap bulan. Kegiatan pemeriksaan laboratorium ini dapat dilakukan oleh tenaga Puskesmas atau dikoordinasikan dengan laboratorium setempat. 4. Kegiatan konseling dan penyuluhan kesehatan dan gizi harus dilakukan setiap bulan karena permasalahan lanjut usia akan meningkat dengan seiring waktu,

20

selain itu dapat memantau faktor risiko penyakit-penyakit degeneratif agar masyarakat mengetahui dan dapat mengendalikanya. 5. Konseling usaha ekonomi produtif dilakukan sesuai dengan kebutuhan. 6. Kegiatan aktivitas fisik/senam dilakukan minimal 1 minggu sekali diluar jadwal penyelenggaraan posyandu. c. Tenaga Pelaksana Tenaga pelaksana pada dasarnya adalah semua pengurus posyandu yang saling membantu, namun harus ada penanggung jawab masing-masing sesuai bidangnya. Para lanjut usia yang lebih muda dan lebih sehat dapat diberdayakan membantu kegiatan ini sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dengan mengajak mereka ikut membantu penyelenggaraan posyandu akan memberikan banyak manfaat antara lain: Para lanjut usia akan merasa posyandu milik mereka Para lanjut usia merasa dihargai/dihormati Membuat lanjut usia tersebut tetap aktif dan akan meningkatkan kesehatan dan mencegah kepikunan. Meningkatnya rasa persaudaraan, terbangunnya ikatan emosi yang positif antar generasi dan akan membuat lanjut usia rajin datang. Pekerjaan menjadi ringan, efisien dan efektif, cepat selesai, sehingga akhirnya tersedia waktu luang yang dapat digunakan untuk kegiatan lainnya. 21

d. Biaya kegiatan posyandu. Perencanaan biaya kegiatan posyandu harus dihitung dengan saksama agar kegiatan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana. Yang harus di hitung adalah biaya sebagai berikut: Alat tulis kantor (pulpen, pensil, kertas) Penggandaan (fotocoy, penjilidan dll) Makanan (PMT) Transport nara sumber dan pelatih senam ( biasanya dari sektor terkait) Obat diluar bantuan puskesmas Pemeriksaan Laboratorium diluar bantuan Puskesmas Dokumentasi Biaya tak terduga (10% dari keseluruhan kebutuhan biaya) e. Pengembangan kegiatan Untuk merencanakan pengembangan kegiatan yang perlu diperhatikan adalah - Apakah kegiatan yang ada dibutuhkan masyarakat? - Apakah kegiatan yang akan dikembangkan merupakan penyempurnaan dari kegiatan sebelumnya atau peningkatan kualitas? - Apakah pengembangan kegiatan ini merupakan suatu hal yang baru? - Apakah posyandu mempunyai sumberdaya yang cukup untuk pengembangan kegiatan? 22

- Bagaimana caranya agar kegiatan tersebut tetap langgeng? Semua pertanyaan tersebut harus dijawab dengan cara mendiskusikan dengan semua pengurus, tokoh kunci, ataupun perwakilan anggota dan melakukan monitoring dari kegiatan yang sudah ada atau studi banding ke posyandu atau LSM/institusi yang telah melaksanakan. 2. Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan posyandu dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah disepakati. Namun dapat diuraikan berdasarkan pengelopokan kegiatan sebagai berikut : - Kegiatan pelayanan kesehatan, gizi - Kegiatan senibudaya, olahraga dan rekreasi - Kegiatan peningkatan spiritual - Kegiatan kesejahteraan/sosial - Kegiatan pendidikan ketrampilan Kegiatan tersebut di atas diatur sesuai dengan ketenagaan dan waktu tersedia dan dapat dilakukan pada sebuah gedung, dibawah tenda ataupun di tempat terbuka. Pada prinsipnya kegiatan kesehatan harus dilakukan 1 bulan sekali agar dapat memantau kondisi kesehatan. Kegiatan olahraga/senam bersama minimal dilakukan 1 minggu sekali, selanjutnya senam dilakukan sendiri dirumah masing-masing untuk menjaga kelenturan otot dan sendi.

23

Dalam 48 jam otot akan menjadi kaku kembali sehingga olah raga/senam yang paling baik adalah 3-5 kali seminggu selama 30-60 menit. Secara terperinci sebagai berikut; senam aerobik seperti jalan, jogging, berenang atau dansa minimal 30 menit 5 kali seminggu untuk kebugaran, senam yang menggunakan tahanan (resistance exercise) untuk penguatan dan ketahanan/endurance otot minimal 2 kali seminggu, untuk senam kelenturan (flexibility excersice) 2 kali seminggu selama minimal 10 menit, sedangkan balance exercise/ senam keseimbangan perlu dilakukan untuk mencegah resiko jatuh. Balance exercise dilakukan bersifat individual tergandung kondisi, yang paling penting adalah dilakukan secara bertahap agar terjadi peningkatan keseimbangan. Kegiatan lain dalam posyandu dapat dilakukan secara bersama atau sendiri-sendiri sesuai kebutuhan. Pada beberapa daerah, penyelenggaraan posyandu lanjut usia dilaksanakan pada hari dan tempat yang sama dengan jam yang berbeda dengan posyandu balita. Hal ini kelihatannya sulit dilakukan, namun ternyata memberikan banyak manfaat. Dengan diintegrasikan penyelenggaraan posyandu balita dengan posyandu lanjut usia dapat terjalin solidaritas antar tiga generasi. 3. Pengendalian Pengendalian dilakukan dengan melaksanakan monitoring dan evaluasi. Apapun bentuk kegiatan yang dilakukan, perlu dimonitoring dan dievaluasi untuk mengetahui tingkat berhasilan ataupun perkembangan, serta hambatan dan peluang.

24

Demikian pula halnya dengan posyandu lanjut usia. Pengendalian dapat dikelompokan menjadi pengendalian - Internal - Eksternal Pengendalian Internal adalah pengendalian yang dilakukan oleh tenaga posyandu, sedangkan pengendalian eksternal adalah pengendalian yang dilakukan oleh pihak luar seperti lanjut usia, masyarakat sekitarnya, atau pihak luar lainnya. Pengendalian eksternal ini penting dilakukan karena memberikan hasil yang lebih objektif. Untuk melakukan evaluasi secara baik dan akurat diperlukan beberapa indikator. Indikator yang yang diperlukan dalam pengendalian posyandu lanjut usia adalah: 1. Frekuensi pertemuan atau pelaksanaan kegiatan 2. Kehadiran kader 3. Pelayanan kesehatan - cakupan penimbangan - cakupan pemeriksaan laboratorium - cakupan hasil pemeriksaan kesehatan - cakupan penyuluhan kesehatan 4. Frekuensi pelaksanaan senam 5. Frekuensi pelaksanaan pengajian/kebaktian 6. Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif 7. Kegiatan penghapusan buta aksara 25

8. Rekreasi 9. Kegiatan peningkatan pendidikan dan ketrampilan 10. Ketersediaan dana untuk penyelenggaraan kegiatan e) Pembiayaan Biaya Posyandu Kegiatan posyandu merupakan kegiatan partisipasi

masyarakat, dari masyarakat untuk masyarakat. Secara umum biaya berasal dari masyarakat itu sendiri melalui berbagai cara antara lain : Iuran dari para warga Donatur tidak tetap atau tetap Usaha mandiri dari posyandu Bantuan dari dunia usaha/CSR (corporate social responsibilty) Bantuan dari kelurahan Subsidi pemerintah Biasanya jika posyandu berjalan lancar dan banyak kegiatan inovatif, banyak donatur yang datang atau tawaran bantuan dan kerjasama dari perguruan tinggi maupun pemerintah dan swasta. Yang paling penting adalah adanya perencanaan biaya berdasarkan azas manfaat dan efisien, pelaksanaan kegiatan jelas serta pertanggung jawaban yang akurat. Indikator Keberhasilan Posyandu Lansia Penilaian keberhasilan upaya pembinaan lansia melalui kegiatan pelayanan

26

kesehatan di posyandu dilakukan dengan menggunakan data pencatatan dan pelaporan, pengamatan khusus dan penelitian. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari: a. Meningkatnya sosialisasi masyarakat lansia dengan berkembangnya jumlah organisasi masyarakat lansia dengan berbagai aktivitas pengembangannya. b. Berkembangnya jumlah lembaga pemerintah /swasta yang memberikan

pelayanan kesehatan bagi lansia c. Berkembangya jenis pelayanan kesehatan pada lembaga d. Berkembangnya jangkauan pelayanan kesehatan bagi lansia e. Penurunan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit pada lansia (Depkes RI, 2003)

BAB III PENUTUP Kaum lansia merupakan bagian integrasi tersendiri dalam masyarakat. Seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan kenaikan angka harapan hidup memungkinkan permasalahan tersendiri di segala bidang terutama dalam kesehatan

27

masyarakat, dalam hal ini kesehatan lansia. Masalah lansia secara spesifik memerlukan penanganan dan perhatian khusus. Pendekatan komprehensif secara sistemik dan sistematis diperlukan untuk usaha promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif di dalam pembinaan kesehatan usia lanjut. Salah satunyaadalah pendekatan di tengah masyarakat dengan

penyelenggaraan Posyandu Lansia. Posyandu lanjut usia merupakan bentuk partisipasi masyarakat yang nyata dalam mewujudkan mutu kehidupan lanjut usia, mencapai masa tua bahagia dan berdayaguna dalam kehidupan berkeluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya.

28