Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS PENERAPAN PSAK 34 (REVISI 2010) ATAS PENGAKUAN PENDAPATAN DAN BIAYA PADA PT.

IKPT

Muhammad Enstein Widodo


Jalan Mangga Blok D Gang 2 No. 6 Koja, Jakarta Utara, 085692302487, muhammad.enstein@gmail.com

Armanto Witjaksono
Binus University, Jakarta Barat, 085216914302, armanto@binus.ac.id

ABSTRAK
Seiring dengan terus berkembangnya arus globalisasi saat ini dalam hampir segala bidang, terutama pembangunan perindustrian dalam mendukung arus ekonomi suatu negara, maka sebuah kegiatan konstruksi menjadi hal yang sangat berperan dalam menunjang misi pembangunan bangsa menuju ke peradaban yang lebih maju. Penelitian lebih khusus bertujuan memperoleh pengertian dan gambaran mengenai kesesuaian penerapan PSAK No. 34 (Revisi 2010) dalam melakukan pencatatan kontrak jangka panjang pada perusahaan konstruksi yang memiliki lingkup kerja Engineer, Procurement, dan Construction (EPC) melalui studi kasus PT. IKPT. Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah kualitatif. Penulis menggunakan metode observasi langsung dan wawancara dalam melakukan penelitian ini sehingga data yang diperoleh lebih mudah untuk proses analisis mengenai metode apa yang digunakan oleh PT. IKPT dalam mengakui pendapatan dan biaya. Diketahui bahwa PT. IKPT menerapkan metode cost approach dalam proses pengakuan pendapatan dan biayanya, dengan alasan kemudahan dalam pencatatannya dan keterkaitan terhadap bidang pekerjaan PT. IKPT sebagai kontraktor EPC. Dalam hal penerapan aturan pencatatan akuntansi yang telah diatur dalam PSAK No.34 (Revisi 2010), PT. IKPT mengacu kepadanya dengan menerapkan metode percentage of completion method dan juga tidak ditemukan adanya perbedaan yang berpengaruh signifikan atas PSAK No.34 dari Revisi 1994 ke Revisi 2010. Kata Kunci:

PSAK 34, Kontrak Konstruksi, Kontrak Jangka Panjang, Pengakuan

Pendapatan & Biaya

1. Pendahuluan
Seiring dengan terus berkembangnya arus globalisasi saat ini dalam hampir segala bidang, terutama pembangunan perindustrian dalam mendukung arus ekonomi suatu negara, maka sebuah kegiatan konstruksi menjadi hal yang sangat berperan dalam menunjang misi pembangunan bangsa menuju ke peradaban yang lebih maju. Terlebih lagi dalam hal pembangunan industri-industri berat, seperti kilang minyak, gas, petrochemical, dan lainnya, yang turut berperan penting dalam proses pembangunan suatu negara, lebih khusus terhadap ketersediaannya sumber energi yang diperlukan bagi seluruh warganya. Apalagi Indonesia termasuk ke dalam negara yang kaya akan sumber energi, maka diperlukan penanganan dan pembangunan yang tepat dalam hal memanfaatkan apa yang menjadi potensi kebutuhan energi kita di masa yang akan datang. Terlebih dalam hal ini perusahaan konstruksi sangatlah dibutuhkan dalam menunjang pembangunan, khususnya pada sektor-sektor industri berat seperti yang tersebut di atas. Pada dasarnya, ada dua metode yang dapat diterapkan sebagai acuan pencatatan keuangan perusahaan-perusahaan konstruksi yang bersifat jangka panjang, percentage of completion method dan cost recovery method. Adapun dalam proses pengakuan pendapatan dan biayanya, terdapat beberapa pendekatan. Penerapan pencatatan dengan pendekatan pendapatan lebih tepat bagi perusahaan konstruksi kebanyakan. Tetapi hal tersebut menjadi jauh lebih sulit diterapkan pada perusahaan konstruksi berbasis EPC (Engineering, Procurement, Construction), dikarenakan antara industri kontraktor EPC dengan civil engineering sangatlah berbeda dalam prosedur pelaksanaan kerja serta ruang lingkup pekerjaannya itu sendiri. Maka timbulah adanya sebuah perbedaan dalam hal pencatatan pengakuannya, dan juga perlulah diketahui lebih lanjut mengenai dampak dari perbedaan pendekatan pengakuan tersebut kepada proses pencatatan. Adanya perbedaan tersebut pada dasarnya adalah kebebasan perusahaan dalam menentukan kacamata pencatatan. Namun kembali lagi terhadap metode mana yang lebih mudah dan efisien dalam menyajikan laporan keuangan pada kontrak proyek jangka panjang ini sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Maka perlulah diketahui lebih lanjut mengenai hal tersebut diatas yang juga mengawali penulis dalam melakukan penelitian ini untuk lebih dalam membahas mengenai bagaimana sebenarnya proses pengakuan yang diterapkan oleh PT. IKPT ini, dari sebuah perusahaan industri konstruksi yang khususnya bergerak dalam bidang konstruksi Engineering (Rekayasa), Procurement (Pengadaan), and Construction (Konstruksi). Melihat dari kompleksnya permasalahan dalam akuntansi konstruksi ini, maka Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah membuat standar akuntansi sebagai pedomannya bagi perusahaan kontraktor dengan menerbitkan Standar Akuntansi Keuangan No. 34. Dengan adanya standar akuntansi ini, diharapkan akan memudahkan bagi perusahaan kontraktor sebagai panduan dan acuan dalam menyusun laporan keuangannya. Dalam Pernyataan di atas, dipaparkan juga bahwa kontrak konstruksi jangka panjang itu meliputi: a) Kontrak pemberian jasa yang berhubungan langsung dengan konstruksi aset. b) Kontrak untuk penghancuran atau restorasi aset dan restorasi lingkungan setelah penghancuran aset. Melihat pentingnya memahami metode pencatatan pada perusahaan konstruksi sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, khususnya pada bagaimana pengakuan pendapatan dan biaya ini, yang telah diatur dalam PSAK 34, maka penulis akhirnya memilih judul Analisis Penerapan PSAK 34 (Revisi 2010) Atas Pengakuan Pendapatan dan Biaya Pada PT. IKPT.

2. Metode Penelitian
Berikut adalah ringkasan karakteristik dari penelitian penulis mengenai analisis penerapan PSAK 34 terhadap pengakuan pendapatan dan biaya, yaitu: 1. 2. 3. 4. Jenis dari riset ini adalah riset kualitatif. Dimensi waktu risetnya adalah melibatkan satu waktu, karena pada penelitian ini, penulis tidak menggunakan acuan perbandingan antar tahun dalam perolehan datanya. Dalam hal kedalaman riset, penulis melakukan studi kasus terhadap satu objek saja. Penulis melakukan pengumpulan datanya dengan kontak langsung (wawancara).

5. 6.

Unit analisisnya adalah berupa perusahaan dalam bidang konstruksi. Lingkungan penelitian bersifat riil setting, dibatasi dengan simulasi angka.

3. Hasil dan Bahasan


3.1 Gambaran Umum Proses Kontrak Konstruksi

Proyek-proyek yang dikerjakan oleh perusahaan (PT. IKPT) bermacam-macam, yang lebih kepada pembangunan kilang-kilang, pabrik, dan perancangan konstruksi oil and gas lainnya, yang keseluruhan proyek utamanya adalah kontrak yang bersifat jangka panjang. Proses pemerolehan sebuah kontrak adalah dengan melalui Sistem Pelelangan Tender, yaitu proses dimana beberapa kontraktor mengajukan proposal sebagai pemenuhan atas kebutuhan pengadaan yang diinginkan klien, yang pemilihannya berdasarkan kualitas, spesifikasi, dan harga kontrak yang keseluruhannya dapat mempengaruhi keuntungan klien Kontrak dari pemenangan tender biasanya diperoleh perusahaan dari pihak swasta, atau dalam beberapa kasus diperoleh juga dari Lembaga Pemerintahan. Setelah terpilih kontraktor yang sesuai dengan kriteria klien, maka terjadilah offering contract dengan nilai kontrak yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Nilai kontrak yang disepakati biasanya sudah termasuk keseluruhan kebutuhan konstruksi sampai kontrak itu selesai, yang didalamnya termasuk untuk biaya sub-kontraktor, pengadaan barang kebutuhan, dan proses engineering. Adapun setelah perjanjian/kontrak telah disepakati, maka dibuatlah escrow account antara klien dan perusahaan dengan jumlah dana yang disediakan dalam account tersebut ditentukan dalam catatan kontrak/surat perjanjian. Escrow Account inilah yang berfungsi sebagai rekening bersama antara pihak klien dan perusahaan yang dana di dalamnya digunakan untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan dan juga sebagai penjamin antara kedua belah pihak sebagai pihak yang netral. Perusahaan baru akan memperoleh uang muka dari klien setelah escrow account ditutup, atau dinyatakan lain dalam surat perjanjian kontrak. Besarnya uang muka pun tergantung dari kesepakatan yang ditentukan oleh kedua pihak yang umumnya sebesar 20% dari total harga borongan/nilai kontrak. Sebagai contoh dari salah satu kontrak yang pernah dijalankan perusahaan, besarnya nilai proyek adalah Rp 239.344.320.309, maka perusahaan akan menerima uang mukanya sebesar Rp 47.868.864.062. Dan pada saat penerimaan uang muka tersebut, sistem perusahaan akan mencatat ayat jurnal kurang lebih seperti berikut ini: Dr. Cr. Cash Project Work Advance Payment Debt Rp 47.868.864.062 Rp 47.8688.864.062

Perlu juga diperhatikan sebelumnya bahwa perusahaan dalam pelaksanaan pencatatan keseluruhan transaksi akuntansinya telah berbasis sistem terkomputerisasi dengan software yang bernama V-Act Accounting System. Penerimaan uang muka diatas pun akan dicatat sebagai kewajiban yang nantinya akan ada pemberian kembali uang muka dari perusahaan kepada klien yang dilaksanakan berangsur-angsur secara proporsional berdasarkan kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh perusahaan. Pengembalian uang muka ini pun dilakukan dengan mengurangi total pembayaran yang dilakukan oleh klien kepada perusahaan per periode sesuai dengan kemajuan pekerjaan yang telah dicapai. Dalam hal pengajuan penagihan kepada klien adalah berdasarkan kepada ketentuan yang telah disepakati dalam surat perjanjian kontrak dimana tingkat penagihan dapat dinyatakan dalam persentase kemajuan pekerjaan yang biasanya sekurang-kurangnya 2% dalam per periode penagihan. Dalam sebuah pembangunan proyek tentunya dibutuhkan jasa jasa penunjang dari kegiatan utamanya yang tidak semua bisa dilakukan oleh main contractor, seperti misalnya dalam pembangunan kilang minyak, diperlukan juga jasa kelistrikan, penggunaan alat-alat berat, piping (instalasi pipa-pipa), dll. Maka direkrutlah para sub-kontraktor yang dapat memberikan jasa-jasa seperti tersebut diatas untuk

menunjang kegiatan pembangunan utama yang biasanya juga diadakan melalui sistem tender ataupun perjanjian kesepakatan kerjasama antara main contractor (PT. IKPT) dengan para sub-kontraktor. Ataupun dalam bentuk konsorsium yaitu kerjasama dua atau lebih pihak kontraktor dalam menjalani satu kontrak proyek secara bersama. Setelah adanya kesepakatan dengan klien atas kontrak tersebut dan juga perjanjian kerjasama dengan sub-kontraktor, maka dimulailah proses konstruksi di lapangan dengan proses awalnya yaitu pengadaan bahan baku kebutuhan proyek. Namun dalam hal studi kasus PT. IKPT ini yang tergolong kepada EPC (Engineering, Procurement, and Construction) contractor, maka proses awal yang biasa dilakukan dalam sebuah proyek utamanya yaitu proses perancangan desain konstruksi dan rekayasa (engineering). Dalam tahap proses ini, pekerjaan belum dilakukan langsung di lapangan sehingga pembangunan di lapangan masih nol tetapi sudah dapat dinyatakan sebagai progres proyek karena pelaksanaan pekerjaan sudah berjalan. Baru setelah tahap ini selesai, maka perusahaan melakukan pengadaan barang-barang kebutuhan konstruksi (procurement) yang kemudian diikuti oleh kegiatan pembangunan di lapangan (construction).

3.2

Metode Pengakuan Pendapatan dan Biaya

Perusahaan konstruksi pada umumnya tidak selalu menunggu sampai pekerjaan selesai dilaksanakan, melainkan dapat diakui dan ditagih sesuai dengan tingkat kemajuan pekerjaan (percentage of completion) yang dapat dihitung pada tiap akhir periode penagihan, yang sebelumnya sudah ditentukan dalam surat perjanjian. PT. IKPT dalam hal metode pencatatannya lebih mengedepankan kepada pendekatan biaya (cost approach), yang artinya proses penagihan klaim terhadap klien disesuaikan dengan jumlah biaya yang terjadi pada tiap periode akhir bulan, melalui proses pengaitan atau penandingan, yang menghubungkan beban pada pendapatan. Total biaya yang terakumulasi pada akhir periode tersebut yang kemudian dijadikan dasar penyesuaian bagi total pendapatan yang dapat diakui agar seimbang dan sesuai dengan perbandingan estimasi budget yang telah ditentukan pada awal masa proyek mulai berjalan. Hal ini dilakukan dikarenakan lebih mudah dengan metode ini untuk melakukan penyesuaian dan mengontrol biaya-biaya dimana dalam EPC hasil progres fisik tidaklah sama dengan progres yang ditagihkan berdasarkan dari kemajuan pekerjaan tersebut. Apabila dalam hal ini perusahaan EPC menggunakan pendekatan pendapatan (revenue approach), seperti yang dilakukan oleh perusahaan civil contractor, maka proses pengaitan atau penandingan bukan lagi pada biaya terhadap pendapatan, melainkan sebaliknya, pendapatan terhadap biaya. Akibatnya, perusahaan EPC harus dapat merinci selisih biaya yang timbul akibat penyesuaian biaya kepada pendapatan. Perincian selisih biaya dari revenue approach ini menjadi sulit dilaksanakan oleh perusahaan EPC karena tidak semua biaya yang timbul dapat dilihat fisik kemajuannya di lapangan, hal inilah yang justru nantinya bisa menjadi peluang kecurangan / kolusi internal pada bagian Cost Control Division. Sebagai contoh, dalam transaksi kontraktor EPC, penerbitan / pengajuan PO (Purchase Order) dapat dikatakan sebagai progres apabila Milestone (tahapan pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan kewajiban perusahaan) masih dalam tahapan Engineering (rekayasa), sedangkan hasil / bentuk fisiknya belum ada di lapangan

3.2.1

Pendekatan Biaya (Cost Approach)

Untuk lebih memahami secara jelas mengenai proses cost approach ini, maka penulis sajikan ilustrasi proses pencatatan keuangan perusahaan mengenai bagaimana perusahaan mengakui biaya dan pendapatan proyek pada tiap termin, berdasarkan dari hasil wawancara dan penelitian langsung pada perusahaan agar lebih mudah.

Pada awal sebelum pelaksanaan pekerjaan, perusahaan tentunya perlu menentukan besaran perencanaan budget / estimasi biaya serta pendapatan dari sebuah proyek, sebagai acuan / arahan bagi setiap kegiatan perusahaan agar lebih terkontrol dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh manajemen perusahaan. Total budget biaya dan pendapatan yang dibuat selanjutnya akan dijadikan acuan perbandingan bagi proses pengaitan biaya pada tiap pencatatan transaksi yang dibuat oleh perusahaan. Sebagai contoh, perusahaan menentukan budget / estimasinya pada awal proyek adalah sebagai berikut: Cost Budget = US$ 8,000

Revenue Budget = US$ 10,000

Pada saat telah terjadi transaksi atas progres pekerjaan, perusahaan akan mencatat pada sistem dengan jurnal biayanya seperti berikut: Dr. Cr. Dr. Cr. Gross Amount due from Account Payable Gross Amount due from Account Payable $ 725 $ 725 $ 1,200 $ 1,200

Tiap adanya transaksi yang terjadi maka sistem akan mencatat jurnal seperti diatas yang berkaitan dengan pengeluaran biaya bagi perusahaan. Adapun untuk transaksi yang berkaitan dengan jurnal pendapatan selama masa termin, sebagai contoh perusahaan akan mencatat jurnal seperti berikut: Dr. Cr. Account Receivable Gross Amount due to $ 2,500 $ 2,500

Lalu pada akhir bulan / termin penagihan, sistem akan mencatat jurnal hasil total dari seluruh transaksi yang diakui sebagai biaya yang terjadi sampai saat ini dengan mengkredit jurnal Gross Amount due to Client dan mengakui tagihan menjadi biaya. Dr. Cr. Cost Gross Amount due from ( $1,200 + $725 = $1,925 ) Saat jurnal diatas tercatat, perusahaan berarti dapat mengakui biaya dan menagihkannya kepada klien jika dan hanya jika progres kemajuan pekerjaan pada saat masa penagihan ini telah mencapai tingkat kesepakatan minimum dari kontrak perjanjian, yaitu yang sekurang-kurangnya 2%. Apabila pada saat termin kemajuan pekerjaan tidak mencapai batas minimum untuk penagihan, maka perusahaan tidak dapat melakukan penagihan atas biaya yang terjadi kepada klien atau dianggap nol, tetapi perusahaan tetap mencatat biayanya sebesar yang telah terjadi pada saat itu pada jurnal. Pada saat jurnal biaya diatas telah tercatat, maka sistem secara otomatis akan men- generate jurnal hasil proses pengaitan biaya terhadap pendapatan dengan perbandingan yang sama dengan ketentuan budget awal. Sehingga total pendapatan yang boleh diakui pada akhir termin bukanlah sejumlah $ 2,500, melainkan $ 2,406.25 seperti yang dapat ditunjukkan pada jurnal berikut ini: Dr. Cr. Gross Amount due to Project Revenue $ 2,406.25 $ 2,406.25 $ 1,925 $ 1,925

Ket: Perbandingan budget = 8,000 (cost) : 10,000 (revenue) = 4 : 5 Penghitungan proses pengaitan biaya terhadap pendapatan

4:5 9,625

= 1,925 : x = 4x

2,406.25 = x
Dari perhitungan di atas dapat dilihat bahwa besarnya pendapatan yang boleh diakui oleh perusahaan pada saat masa penagihan / akhir termin ditentukan berdasarkan proses pengaitan biaya terhadap pendapatan dimana pendapatan menyesuaikan dari besarnya total biaya yang terjadi dengan dasar perbandingan pada budget / estimasi awal biaya dan pendapatan (4 : 5). Selisih $ 93.75 yang belum dapat diakui sebagai pendapatan akan terakumulasi pada termin berikutnya untuk menutupi apabila ada kerugian pada periode berjalan, atau apabila besarnya pendapatan yang boleh diakui sudah sesuai dengan kemajuan pekerjaan yang telah terjadi. Apabila dalam masa berjalan terjadi revisi estimasi biaya ataupun pendapatan, karena perusahaan menggunakan komputerisasi akuntansi, maka perusahaan cukup mengubah pada ketentuan estimasinya yang terintegrasi pada akun biaya sehingga sistem akan secara otomatis men- generate perubahan tersebut kepada jurnal-jurnal lainnya yang berpengaruh secara otomatis. Adapun pada saat kemajuan pekerjaan telah mencapai 100%, maka perusahaan tidak perlu lagi untuk membuat jurnal penutup terhadap akun Gross Amount. Karena pada akhir masa kontrak perusahaan akan memaksa kedua akun Gross Amount due to dan Gross Amount due from menjadi nol atau habis. Pada metode ini, akun Gross Amount due from akan selalu nol pada tiap periode penagihan karena perusahaan akan selalu mengkredit akun Gross Amount due from untuk mengakui total keseluruhan dari biaya yang terjadi. Sedangkan pada akun Gross Amount due to, perusahaan akan mengakui seluruh sisa akun ini sehingga menjadi nol karena ketika pekerjaan telah selesai, perusahaan tidak perlu lagi untuk menunda pengakuan pendapatan dari selisih yang terjadi pada kolom jurnal pendapatan. Dalam arti, perusahaan boleh mengakui seluruh pendapatan yang tadinya belum dapat diakui karena kontrak proyek telah dinyatakan selesai.

3.2.2

Pendekatan Pendapatan (Revenue Approach)

Pendekatan ini lebih mudah dan lebih cocok diterapkan pada industri konstruksi civil engineering (pembangunan), dimana kegiatan konstruksi lebih berfokus kepada kemajuan fisik di lapangan yang dapat dinilai dan dibuktikan dengan besarnya laporan penggunaan biaya per termin dan juga agar proses pengakuan pendapatan dapat diakui dengan mudah sesuai dari kemajuan pekerjaan. Walaupun pada prakteknya tidaklah suatu metode kemudian cocok untuk suatu bidang tertentu, tetapi kembali lagi kepada kemudahan pada penerapannya yang sesuai dengan iklim kerja perusahaan tersebut. Membahas mengenai metode ini pada industri konstruksi EPC, pendekatan ini cukup sulit dan riskan dalam pengakuannya yang terkadang kemajuan yang ditagihkan bisa saja tidak sesuai dengan kemajuan fisiknya. Secara pencatatan dan penghitungan tidaklah berbeda dengan pendekatan biaya karena keduanya pun diukur sesuai dengan kemajuan pekerjaan yang terjadi per termin. Perbedaan adalah pada proses pengaitan / penandingan langsung, yang terjadi justru pada pendapatan terhadap biaya. Agar lebih mudah pemahamannya maka disajikan ilustrasi berikut, estimasi / budget proyek yang ditentukan sama, maka pencatatan yang dilakukan perusahaan atas jurnal biaya dan pendapatan kurang lebih sebagai berikut:

Dr. Cr. Dr. Cr. Dr. Cr.

Gross Amount due from Account Payable Account Receivables Gross Amount due to Bond Receivables Gross Amount due to

$ 1,200 $ 1,200 $ 2,000 $ 2,000 $ 500 $ 500

Lalu pada masa penagihan (termin), perusahaan akan menginput terlebih dahulu hasil akumulasi pendapatan yang dapat diakui sebesar $2,500, yaitu hasil total keseluruhan dari jurnal-jurnal pendapatan yang boleh diakui. Dr. Cr. Gross Amount due to Revenue ( $2,000 + $500 = $2,500 ) Secara otomatis sistem kemudian akan membuat jurnal proses pengaitan terhadap biaya yang tentunya sesuai dengan perbandingan antara estimasi / budget biaya dan pendapatan proyek (4 : 5), seperti berikut: Dr. Cr. Cost Gross Amount due toClient $ 2,000 $ 2,000 $ 2,500 $ 2,500

Ket: Penghitungan proses pengaitan pendapatan terhadap biaya

4:5 10,000 2,000

= x : 2,500 = 5x = x

Maka munculah selisih dalam biaya tersebut sebesar $ 800 ( $2,000 - $1,200 ), dimana selisih biaya tersebutlah yang harus dipertanggung jawabkan kepada pihak pemberi kerja atas pemakaian untuk apa saja dan juga kesesuaiannya dengan kemajuan fisik di lapangan.

3.2.3

Perbedaan dan Pengaruh Antara Metode Pendekatan Biaya dan Pendapatan Terhadap Akuntabilitas Pencatatan

Perbedaan atas kedua metode sebelumnya hanyalah pada bagaimana perusahaan mengkaitkan proses penyesuaian jurnal di akhir periode penagihan yang mengacu kepada perbandingan estimasi proyek, apakah biaya terhadap pendapatan dimana jumlah penentuan pendapatan yang boleh diakuinya mengacu kepada seberapa besar biaya total yang terjadi dengan proses pengaitan, ataukah pendapatan terhadap biaya dimana jumlah penentuan biaya yang terjadi yang boleh diakuinya mengacu kepada besarnya jumlah pendapatan. Selebihnya dalam hal penghitungan dan pencatatannya adalah sama. Hal tersebut terjadi hanyalah sebagai opsi perusahaan terhadap pendekatan mana yang memudahkan dalam proses penagihan dan pencatatannya. Karena pada dasarnya yang akan dihasilkan dari kedua metode tersebut adalah tidak jauh berbeda dan sesuai dengan ketentuan yang telah diatur. Dalam cost approach, selisih terjadi pada pendapatan dimana selisih tersebut adalah jumlah pendapatan yang belum boleh diakui untuk termin saat ini. Dalam contoh ilustrasi diatas, pendapatan

sebesar $93.75 belum dapat diakui sebagai pendapatan untuk saat ini. Perusahaan hanya boleh mengakui pendapatannya sebesar $2,406.25 sesuai dengan hasil dari penghitungan cost-to-cost yang didapat dan juga proses pengaitan langsung biaya terhadap pendapatan. Sehingga biaya yang diakui adalah biaya yang benarbenar dikeluarkan pada saat pekerjaan sesuai dengan kemajuan pekerjaan. Pada revenue approach, selisih terjadi pada kolom biaya, dimana biaya yang dapat diakui pada akhir termin tertentu tidaklah sama dengan total biaya yang terjadi dalam kolom jurnal pencatatan biaya. Dalam contoh ilustrasi diatas, perusahaan harus mengakui beban biaya untuk penagihan kepada klien sebesar $2,000 dimana besarannya melebihi dari kolom jurnal pencatatan biaya yang sebesar $1,200. Maka perusahaan melalui divisi khusus pengelolaan biaya perlu membuat perincian tanggung jawab atas lebihan pengakuan biaya sebesar $800 tersebut, atas apa saja pembiayaan telah dilakukan dengan merinci biaya tersebut sesuai dengan kemajuan fisik di lapangan. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa dari kedua metode tersebut ada beberapa kesamaan dan sedikit perbedaan, yaitu dalam hal proses pengkaitannya. Terlepas dari perbedaannya itu, kedua metode ini pada dasarnya memiliki konsep pengakuan yang sama dan juga proses pencatatan yang sama, sehingga tidaklah terlalu banyak berpengaruh terhadap akuntabilitas yang satu dengan metode lainnya, karena yang akan dihasilkan tidak akan jauh berbeda diantara keduanya. Keputusan dalam penerapan metode-metode ini disesuaikan kembali terhadap lingkup kerja perusahaan yang lebih sesuai dan lebih mudah. Pada perusahaan EPC, metode pendekatan biaya lebih tepat digunakan karena biaya yang diakui disesuaikan dengan biaya yang benar-benar terjadi dalam proses kemajuan proyek dimana pada tahapan kerjanya terdapat proses rekayasa (engineering) yang pelaksanaan biaya-biaya di dalamnya belum terkait kepada kemajuan fisik proyek. Sehingga apabila pada EPC diterapkan metode pendekatan pendapatan, maka selisih yang terjadi di kolom biaya tadi harus dirinci kembali oleh perusahaan dan pula harus dibuktikan secara kemajuan fisik sebagai bentuk tanggung jawab dari selisih biaya yang diakui tersebut, sedangkan dalam EPC ada tahapan non-fisik yang juga harus dilalui dan tetap dianggap sebagai suatu kemajuan proyek. Hal itulah yang menjadi kesulitan tersendiri apabila revenue approach diterapkan dalam perusahaan EPC. Selain itu kelemahan tersebut juga dapat dimanfaatkan menjadi celah kecurangan seperti adanya pengadaan dan pencatatan biaya fiktif, dan lain-lain.

3.3

Metode Akuntansi dan Penyajian Laporan Keuangan Perusahaan

Metode pencatatan akuntansi yang diterapkan perusahaan adalah dengan Accrual Basis System, yang dengan metode ini maka tiap transaksi dan kejadian akuntansi yang terjadi akan langsung dicatat , tidak pada saat pembayaran terjadi. Biaya atau beban yang muncul akan langsung dicatat pada periode yang sama walaupun pembayaran baru dilakukan pada periode berikutnya ataupun sebelumnya. Begitupun pada income event yang terjadi, akan dicatat pada saat terjadi. Maka dengan demikian dalam neraca akan muncul akun prepaid expense dan prepaid income. Penyajian laporan keuangan perusahaan terdiri dari tiga: Balance Sheet, Income Statement, dan Cash Flow Statement. Struktur dari Neraca dilaporkan atas Liquidity Preference, dimana penyusunan akun dan baris grup neraca diurutkan berdasarkan akun yang bersifat likuid terdahulu. Pada Laporan Laba Rugi, perusahaan menyusun atas dasar kepada Job Costing Method, yaitu dengan mengidentifikasi biaya yang terjadi per pekerjaan dikarenakan beragamnya pekerjaan (proyek) yang berlangsung dalam satu waktu, sehingga dapat dikatakan bahwa produk yang ditangani adalah berbeda-beda. Terdapat dua jenis Laporan Laba Rugi yang dilaporkan perusahaan, yaitu Laporan Laba Rugi Proyek dan Laporan Laba Rugi Perusahaan (konsolidasi). Yang membedakannya adalah ruang lingkupnya. Laporan Laba Rugi Proyek dilaporkan setiap bulan dalam masa periode akuntansi (1 Januari s/d 31 Desember) dengan merinci dan melaporkan beban dan pendapatan yang diakui perusahaan pada satu proyek spesifik tertentu. Hasil konsolidasi dari Laporan Laba Rugi Proyek kemudian dilaporkan menjadi

Laporan Laba Rugi Perusahaan yang dirilis pada tiap akhir masa periode akuntansi (contoh Laporan Laba Rugi Perusahaan pada lampiran L6-L7). Dalam halnya neraca, perusahaan melaporkan yang disebut Neraca Konsolidasi pada tiap akhir periode akuntansi (contoh pada lampiran L4-L5) dengan menampikan kolom komparatif dengan tahun sebelumnya. Informasi yang disajikan di neraca antara lain posisi sumber kekayaan perusahaan dan sumber pembiayaannya untuk memperoleh kekayaan perusahaan tersebut dalam masa tahunan.

3.4

Kesesuaian Metode yang Digunakan dengan PSAK 34 (Revisi 2010)

Sesuai dengan penjelasan sebelumnya pada Bab II, bahwa PSAK No. 34 mengatur mengenai pengakuan pendapatan dan biaya pada suatu kontrak konstruksi jangka panjang yang cenderung kepada metode pencatatan dengan metode persentase penyelesaian (percentage completion method). Persentase penyelesaian mengakui pendapatan dengan memperhatikan tahap penyelesaian pekerjaan pada titik tertentu yang telah disepakati bersama. Bahwa perusahaan harus menggunakan metode ini saat kebijakan dan sifat kontrak perusahaan melakukan estimasi ke arah penyelesaian serta pendapatan dan biaya dapat di estimasi secara andal, kecuali ada kondisi yang tidak terpenuhi yang telah dijelaskan sebelumnya pada Bab II. Maka perusahaan (PT. IKPT) telah benar dan sesuai dengan apa yang telah diatur oleh PSAK No. 34 dalam penggunaan metodenya (percentage completion method). Adapun mengenai metode metode pengakuan pendapatan dan biaya yang diterapkan perusahaan telah sesuai dengan apa yang diterangkan dalam PSAK No. 34 tersebut. Secara konseptual telah dijelaskan bahwa pengakuan pendapatan dapat diakui apabila telah memenuhi kualitas keterukuran, dimana perusahaan dapat mengukur dan menilai seberapa banyak pendapatan yang boleh diakui oleh perusahaan dengan mengacu kembali kepada persentase penyelesaian yang terkait terhadap biaya, dengan metode pendekatan biaya (cost approach). Dan juga apabila memenuhi kualitas keterandalan yang dalam perusahaan terkait dengan besaran hasil pendapatan yang boleh diakui terjadi saat ini didapatkan dari hasil perhitungan dengan perhitungan cost-to-cost ataupun dengan kata lain proses pengaitan terhadap biaya dalam halnya yang dilakukan PT. IKPT ini, yang dapat diuji kebenarannya atas kemajuan yang sebenarnya terjadi. Juga dalam kriteria pengakuan biaya yang telah disinggung sebelumnya, bahwa beban diakui dalam laporan rugi laba atas dasar hubungan langsung antara biaya yang timbul dan pos penghasilan tertentu yang diperoleh, yang dalam kriteria proses pengakuannya menurut Stice (2004:235) salah satunya adalah dengan proses pengaitan langsung, yaitu pada pos pendapatan melalui metode pendekatan biaya. Sebagai tambahan, menurut keterangan dari pihak PT. IKPT disebutkan bahwa tidak terjadi pengaruh yang signifikan atas hadirnya revisi 2010 dari PSAK No.34 dari revisi sebelumnya (1994).

4. Simpulan dan Saran


Dari hasil penelitian ini, maka penulis dapat membuat beberapa simpulan mengenai hasil analisis penerapan PSAK 34 pada PT. IKPT yaitu: 1. PT. IKPT dalam mengakui pendapatan dan biayanya serta cara penghitungannya adalah dengan menggunakan metode persentase penyelesaian ( percentage of completion method ) dimana pendapatan dapat diakui berdasarkan kemajuan pekerjaan yang sedang dikerjakan, dan hal ini pun telah sesuai dengan rekomendasi PSAK 34 agar penilaian dapat menggambarkan kondisi yang sesuai. Selain itu, PT. IKPT hanya menggunakan metode percentage of completion pada proyek yang bersifat EPC, proyek di luar itu, jangka pendek maupun panjang, PT. IKPT hanya mencatat actual saja. PT. IKPT menggunakan metode cost approach dalam proses pengakuan pendapatan dan biayanya, yaitu dengan penentuan pendapatan yang dapat diakui melalui proses pengaitan langsung dari biaya yang terjadi saat ini. Keputusan dari pihak manajemen bahwa penggunaan metode ini lebih sesuai dengan lingkup kerja kontraktor EPC ( Engineering, Procurement,

2.

Construction) agar tidak timbul selisih biaya yang dapat mengarah kepada penyelewengan / kecurangan dalam mempertanggung jawabkan selisih tersebut. 3. Metode revenue approach tidak digunakan oleh PT. IKPT dikarenakan akan kesulitan dalam mempertanggung jawabkan dan menjabarkan selisih biaya yang terjadi antara biaya yang terjadi dengan biaya hasil pengaitan dari total pendapatan, dikarenakan sifat kontraktor EPC yang terkadang suatu kemajuan pekerjaan tidak selalu ditunjukkan dengan hasil fisik, terutama pada tahapan Engineering dimana kemajuan fisik di lapangan belum terlihat tetapi proyek telah dianggap mengalami kemajuan. Metode ini lebih cocok diimplementasikan pada kontraktor civil engineer. Tidak ada jurnal penutup pada akun Gross Amount due to dan Gross Amount due from karena pada proyek telah berakhir kedua akun akan menjadi nol dengan sendirinya. Gross Amount due from akan selalu nol pada tiap masa penagihan, dan Gross Amount due to akan di Debet sesuai dari sisa yang muncul pada periode akhir sehingga menjadi nol. Karena pada akhir proyek (tingkat kemajuan 100%), PT. IKPT dapat mengakui seluruh pendapatan yang terjadi tanpa menyesuaikannya dengan proses pengaitan dari biaya. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara penerapan metode pendekatan biaya dengan pendekatan pendapatan dalam hal keandalan pelaporan keuangan perusahaan. Penerapan PSAK 34 (Revisi 2010) diketahui menurut pernyataan dari pihak PT. IKPT adalah tidak ada perbedaan signifikan yang terjadi pada perusahaan baik dalam hal pencatatan, pengakuan, atau lain halnya, antara PSAK 34 Revisi 1994 dengan Revisi 2010. PT. IKPT membagi dua laporan laba rugi menjadi Proyek dan Korporat. Proyek sebagai laporan laba rugi secara spesifik atas satu proyek tertentu, dan Korporat sebagai gabungan / konsolidasi dari laporan laba rugi Proyek yang sedang berjalan dalam satu periode akuntasi.

4.

5. 6.

7.

Adapun saran penulis untuk pihak perusahaan PT. IKPT berdasarkan dari hasil analisis penelitian ini, maka penulis dapat membuat saran-saran sebagai berikut: 1. Dalam beberapa proyek PT. IKPT selain yang bersifat EPC ( Engineering, Procurement, Construction), perusahaan tidak menerapkan metode percentage of completion melainkan hanya dengan berdasarkan actual. Sebaiknya dalam hal perusahaan menangani proyek pembangunan/konstruksi yang bersifat lebih dari setahun, perusahaan tetap menggunakan percentage of completion agar pencatatan lebih mudah dan andal. Untuk proyek yang bersifat Construction (civil) jangka panjang seperti yang tersebut dalam poin satu diatas, PT. IKPT disarankan agar bisa menerapkan revenue approach dalam pencatatan percentage of completion-nya sehingga lebih sesuai dan mudah.

2.

Referensi
Belkaoui, Ahmed Riahi. (2007). Accounting Theory (5th Edition). Jakata: Salemba Empat Godfrey, J., Hodgson, A., Holmes, S., & Tarca, A. (2006). Accounting Theory (6th Edition). Milton, Queensland: John Wiley & Sons, Inc. Hansen, D. R., Maryanne M. Mowen. Terjemahan Tjintjin Tjendera. (2004). Akuntansi Manajemen 1 (Edisi 7). Jakarta: Salemba Empat Ikatan Akuntan Indonesia. (2009). Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat Junaidi, Wawan. (2010). Penggolongan Biaya. http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/11/penggolonganbiaya.html Jurnal Akuntansi Keuangan. (2011). Metode Pengakuan Pendapatan dan Biaya Kontrak Konstruksi. http://jurnalakuntansikeuangan.com/2011/10/metode-pengakuan-pendapatan-dan-biaya-kontrakkonstruksi/ Jurnal Akuntansi Keuangan. (2011). Perlakuan Akuntansi Kontrak Konstruksi .

http://jurnalakuntansikeuangan.com/2011/07/perlakuan-akuntansi-kontrak-konstruksi/ Jurnal Akuntansi Keuangan. (2011). Jenis Pendapatan dan Biaya Kontrak Konstruksi.

http://jurnalakuntansikeuangan.com/2011/07/jenis-pendapatan-dan-biaya-kontrak-konstruksi/ Kieso, Weygandt, Warfield. Alih bahasa oleh Emil Salim. (2008). Akuntansi Intermediate jilid 2 (Edisi 12). Jakarta: Binarupa Aksara Kieso, Weygandt, Warfield. (2011). Intermediate Accounting vol. 2 (IFRS Edition). Hoboken, New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. Laba. (2008). Laba. http://kelompoklaba.wordpress.com/2008/08/27/laba/ Mulyadi. (2005). Akuntansi Manajemen (Edisi 3). Jakarta: Salemba Empat Prayudiawan, Hepi. (2010). PSAK 23 (revisi 2010) Pendapatan.

http://hepiprayudi.wordpress.com/2010/12/12/psak-23-revisi2010-pendapatan/ Sitompul, David N. C. (2007). Faktor-Faktor yang Mendasari Pemilihan Metode Pengakuan Pendapatan dan Biaya Kontrak Konstruksi pada PT. Nusa Raya Cipta Cabang Medan . Tesis S1 Tidak Dipublikasikan, Universitas Sumatera Utara, Medan

Tampubolon, Reinold. (2008). Penerapan PSAK No. 34 Tentang Akuntansi Kontrak Konstruksi Pada PT. Nindya Karya (Persero) Cabang Sumatera Utara. Tesis S1 Tidak Dipublikasikan, Universitas Sumatera Utara, Medan