Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH MIDDLE RANGE THEORY

Peaceful End of Life


Penugasan Mata Kuliah Sains Keperawatan

OLEH : NANA SUPRIYATNA MUHAMAD HASBI AYU ANDRIYANI A NI LUH PUTU EVA YANTI NI KETUT AYU MIRAYANTI NPM. 1006748734 NPM. 1006800945 NPM. 1006748444 NPM. 1006748740 NPM. 1006749144

PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN KEKHUSUSAN KEPERAWATAN KOMUNITAS FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA 2010

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Keperawatan adalah disiplin profesional yang menerapkan banyak bentuk pengetahuan dan keterampilan berfikir kritis dalam setiap situasi klien melalui prnggunaan teori keperawatan dalam proses keperawatan. Dalam hal ini keperawatan komunitas juga menggunakan beberapa teori dalam penerapan asuhan keperawatannya yang bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan secara optimal untuk meningkatkan derajat kesehatatan masyarakat, salah satunya adalah asuhan keperawatan gerontik yang merupakan suatu pelayanan profesional yang berdasarkan ilmu dan kiat atau tehknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosio-spiritual dan kultural yang holistik yang ditujukan pada klien lanjut usia baik sehat maupun sakit pada tingkat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa kanak-kanak, masa dewasa dan masa tua (Nugroho W, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun psikologis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, pengelihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitif emosional meningkat dan kurang gairah. Peran perawat sangat diperlukan untuk mempertahankan derajat kesehatan para usia lanjut pada taraf yang setinggi-tingginya sehigga terhindar dari prnyakit atau gangguan, sehingga lansia tersebut masih dapat memenuhi kebutuhan secara mandiri Salah satu teori yang dapat diterapkan di keperawatan komunitas adalah teori Peaceful End of Life. Teori Peaceful End of Life merupakan teori yang dikemukakan oleh dua orang wanita yang bernama Cornelia M Ruland dan Sherly M. Moore dengan menekankan bahwa upaya tenaga keperawatan dalam memberikan pelayanan pada klien dengan tujuan memberikan sesuatu yang positif seperti bebas dari rasa sakit, merasa

nyaman, merasa dihargai dan dihormati, berada dalam kedamaian dan ketenangan, merasakan kedekatan dengan orang lain yang signifikan dan orang yang merawatnya dan juga merasakan kedekatan dengan orang lain yang signifikan dan orang yang merawatnya. Sehingga teori ini memiliki gambaran untuk dapat diterapkan dikeperawatan komunitas khususnya gerontik.
1

. B. Tujuan 1. Menjelaskan tentang middle range theory Peaceful End of Life 2. Menerapkan middle range teory Peaceful End of Life dalam keperawatan komunitas

BAB II TEORI PEACEFUL END OF LIFE

A. Sejarah Teori Peaceful End of Life Teori Peaceful End of Life dikemukakan oleh dua orang wanita yaitu : 1. Cornelia M Ruland Cornelia M Ruland adalah seorang direktur di pusat penelitian keperawatan dan konsultasi dalam pengambilan keputusan dalam bidang keperawatan di Rikshospitales University Hospital Oslo Norwegia. Cornelia M.Ruland

memperoleh gelar Ph.D dibidang keperawatan pada tahun 1998 di Case Western University, Cleveland, Ohio Amerika Serikat. Dia mendirikan suatu program yaitu extensive research program yang menangani pengembangan dalam pengambilan keputusan dan kerjasama dengan pasien dalam pelayanan kesehatan, serta pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi dari sistem informasi dalam mendukung program yang dibuatnya. Fokus kegiatan yang dilaksanakan oleh Cornelia M.Ruland adalah: (1) memberikan penjelasan ketika klien mendapatkan suatu tindakan yang sulit yang mana klien membutuhkan bantuan untuk memahami hal tersebut serta memahami keuntungan dan kerugian dari alternatif tindakan yang diberikan, (2) penanganan terhadap kondisi knonis atau sakit yang lama. 2. Sherly M. Moore Sherly M. More adalah ketua perkumpulan penelitian dan profesor bidang keperawatan di School of Nursing, Case Western Reserve University. Degree di Psychiatri and Mental Health Nursing (1990) serta gelar Ph.D bidang keperawatan pada tahun 1993. Setelah studi doktoralnya selesai, dia mulai bekerja sama dengan ahli-ahli keperawatan seperti Joyce J Fitzpatrick, Jean Johson, dan Elizabeth Lenz untuk menggunakan dan mengembangkan teori keperawatan.

B. Sumber Teori Peaceful End of Life Teori Peaceful End of Life Teori bersumber dari beberapa kerangka teori, yaitu sebagai berikut : a. Struktur, proses, dan outcome model Strcture, process dan outcome model merupakan model klasik yang dikemukakan oleh Donabedian (Ruland and More 1998, dalam Tomey and Aligood, 2006), model ini menjadi kerangka utama dari teori End of Life (EOL). Pada teori EOF, struktur adalah system keluarga yang menerima perawatan dari tenaga professional di unit perawatan klinik/rumah sakit. Sedangkan proses merupakan tindakan yang diberikan, dalam hal ini tindakan keperawatan yang bertujuan memberikan sesuatu yang positif dan penyembuhan bagi pasien seperti : (1) bebas dari rasa sakit, (2) mengalami kenyamanan, (3) merasa dihargai dan dihormati, (4) berada dalam kedamaian dan ketenangan, dan (5) merasakan kedekatan dengan orang lain yang signifikan dan orang yang merawatnya b. Preference Teori Preference teori dikemukakan oleh Brandt, 1997 dengan konsep utama adalah kualitas hidup (quality of life), memberikan signinifikan terhadap teori EOL. Pada teori preference ini, hidup yang baik diartikan seseorang mendapatkan sesuatu sesuai dengan keinginan. Pendekatan ini sangat cocok dengan perawatan dengan teori EOF yang bisa diterapakan pada orang yang mengalami sakit.

C. Konsep Utama Teori Teori Peaceful End of Life merupakan teori yang menjelaskan upaya tenaga keperawatan dalam memberikan pelayanan pada klien dengan tujuan memberikan sesuatu yang positif terhadap klien yang meliputi : 1. Bebas dari rasa sakit Bebas dari penderitaan dan gejala distres merupakan bagian dari pengalaman klien EOL. Nyeri diartikan sebagai sensori yang tidak menyenangkan atau pengalaman emosional yang dihubungkan dengan kerusakan jaringan yang potensial atau aktual. (Lenz, Suppe, Gift, Pugh, & Milligan, 1995 dalam Tomey & Alligood, 2006). 2. Merasa nyaman Merasa nyaman (Comfort) menurut Colcaba (1991) merupakan bebas dari ketidaknyamanan, pernyataan terhadap sesuatu kesenangan, kepuasan, dan apapun
4

yang membuat hidup mudah atau menyenangkan (Ruland & Moore, 1998 dalam Tomey & Alligood, 2006). 3. Merasa dihargai dan dihormati Setiap klien dengan penyakit terminal dihormati dan dinilai sebagai manusia (Ruland & Moore, 1998 dalam Tomey & Alligood, 2006). Konsep ini menggabungkan pemikiran dari penghargaan personal yang diungkapkan dengan prinsip etik autonomi atau respect for persons, yang menyatakan bahwa seseorang seharusnya diperlakukan sebagai autonomous agents dan seseorang dengan autonomi diberi hak perlindungan (United States, 1978 dalam Tomey & Alligood, 2006). 4. Berada dalam kedamaian dan ketenangan Damai merupakan perasaan yang tenang, harmonis, dan memuaskan, bebas dari kecemasan, kegelisahan, kekhawatiran, dan ketakutan (Ruland & Moore, 1998 dalam Tomey & Alligood, 2006). Suatu pernyataan kedamaian termasuk dalam fisik, psikologis, dan dimensi spiritual. 5. Merasakan kedekatan dengan orang lain yang signifikan dan orang yang merawatnya Kedekatan merupakan perasaan yang menghubungkan dengan orang lain yang merawat (Ruland & Moore, 1998 dalam Tomey & Alligood, 2006). Hal itu melibatkan kedekatan fisik dan emosional yang diungkapkan melalui ketenangan dan hubungan yang dekat

Ruland dan Moore juga memaparkan enam (6) konsep utama yang merupakan peryataan-peryataan yang saling berkaitan. Pernyataan-peryataan itu sebagai berikut (Ruland & Moore, 1998 dalam Tomey & Alligood, 2006) : 1) Pemantauan, penanganan menghilangkan rasa sakit, dan pemberian farmakologi dan nonfarmakologi membantu pasien dalam mengurangi rasa sakit. 2) Pencegahan, pemantauan dan menghilalangkan rasa tidak nyaman , memberikan istirahat, memberikan relaksasi, memberikan kepuasan, dan mencegah komplikasi membantu kenyamanan pasien 3) Pengambilan keputusan tentang perawatan termasuk klien dan yang lainnya, memperlakukan pasien dengan memerhatikan kewibaaan pasien, bersikap empati dan menghargai, perhatian terhadap kebutuhan pasien, membantu pasien merasakan diperhatikan dan dihormati.
5

4) Pemberian

dukungan emosi, pemantau pernyataan pasien atas kecemasan

terhadap tindakan pengobatan, menumbuhkan kepercayaan, penyediaan panduan bagi pasien dan orang lain bila menghadapi masalah praktek, dan penyediaan presensi fisik bagi pemberi perawatanjika diburuhkan untuk membantu pasien berada dalam kondisi damai/tenang. 5) Menghadirkan partisipasi orang lain dalam pemberian perawatan, merasakan kesedihan, kecemasan, permasalahan orang lain, dan menghadirkan kelaurga dapat membantu klien untuk lebih dekat dengan orang lain dan orang yang merawatnya. 6) Pengalaman pasien atas bebas dari rasa sakit, merasa nyaman, merasa di hormati dan dihargai, merasa damai/tenang, dan merasa dekat dengan orang lain dan orang yang merawatnya dapat membantu pasien menghadapi kedamaian diakhir hidupnya.

D. Hubungan Antara Beberapa Konsep Dari Teori Peaceful End of Life Teori Peaceful End of Life terdiri dari lima (5) konsep yang saling berkaitan, yaitu not being in pain, experience of comfort, experience of dignity, being at peace dan closeness to significant others/persons who care. Kriteria proses dari setiap konsep dapat digabungkan, contohnya pain, comfort, peace dapat dijadikan satu konsep yang sederhana, manajemen gejala fisik-psikologis. Penggabungan kriteria proses ini berdasarkan suatu analisis konsep dan pemetaan untuk menentukan apakah kriteria konsep tersebut dapat digabungkan atau tidak. Konsep pain dengan dua (2) kriteria proses (memantau dan menghilangkan rasa sakit, memberikan tindakan farmakologi dan non farmakologi) memiliki kedekatan hubungan dengan kriteria proses dari comfort (mencegahan, memantauan, dan mengurangi rasa tdk nyaman pd fisik) dan criteria proses dari peace (memonitor dan memenuhi kebutuhan klien selama medikasi anti anxiety). Intervensi non farmakologis tersebut contohnya terapi musik, humor dan relaksasi diberikan sebagai distraksi kepada pasien yang menjelang ajal, sangat bermanfaat untuk mengurangi rasa nyeri, cemas dan ketidaknyamanan fisik secara umum. Penggabungan criteria proses dari setiap konsep tersebut memudahkan dan menyederhanakan jumlah intervensi yang diberikan kepada pasien. Gambaran hubungan antara beberapa konsep dari teori Peaceful End of Life ditunjukan pada skema di bawah ini:

Peaceful End of Life

Bebas dari rasa sakit

Merasa Nyaman

Merasa dihormati Dan dihargai

Merasa damai/ tenang

Merasa dekat dg orla dan orang yg merawat

Memantau dan menghilangkan rasa sakit

mencegahan, memantauan,dan mengurangi rasa tdk nyaman pd fisik

Mengikutsertakan pasien dan orang terdekat dalam mengambil keputusan

Menyediakan dukungan emosional

Memfasilitasi partisipasi orang terdekat dalam perawatan klien

Memberikan tindakan farmakologi dan non farmakologi

Memberikan istirahat, relaksasi, kesenangan

Memperlakukan klien dengan hormat, empati, dan penuh penghargaan

Memonitor dan memenuhi kebutuhan klien selama medikasi anti anxiety

Menghadirkan orang terdekat saat berduka, khawatir dan bertanya

Mencegah komplikasi

Memperhatikan kebutuhan, harapan dan pilihan klien

Membangkit kan kepercayaan Menyediakan bimbingan kepada klien dan orang terdekat Menyediakan bantuan fisik terhadap orang lain yang memberikan perawatan jika diperlukan

Memberikan kesempatan untuk dekat dengan keluarga

Gambar 2.1 Hubungan antara beberapa konsep dari teori Peaceful End of Life (dari Ruland, C.M., & Moore, S.M (1998) dalam Tomey&Alligood, 2006)

E. Asumsi- Asumsi Perlunya Teori Peaceful End of Life Perawatan yang kompleks dan holistik dibutuhkan untuk mendukung peaceful EOL. Asumsi menurut teori Ruland and Moore (1998) meliputi: 1. Kejadian dan perasaan yang dialami pada klien EOL adalah personal dan individualistik 2. Pelayanan keperawatan adalah penting untuk menciptakan peaceful EOL pada klien. Perawat mengkaji dan menginterpretasikan isyarat yang merefleksikan pengalaman EOL seseorang serta melakukan intervensi untuk mempertahankan kedamaian atau ketenangan, bahkan saat klien tidak dapat berbicara secara verbal di akhir hidupnya. 3. Keluarga termasuk significant others dan merupakan bagian penting dalam perawatan EOL 4. Tujuan dari perawatan EOL adalah untuk memaksimalkan pengobatan serta memberikan perawatan yang terbaik yang disediakan dengan ukuran kenyamanan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencapai kematian yang damai atau tenang.

BAB III PENERAPAN TEORI PEACEFUL END OF LIFE DALAM KEPERAWATAN KOMUNITAS

Dalam keperawatan komunitas penerapan teori Peaceful end of life sangat tepat bila diimplementasikan pada asuhan keperawatan pada lansia, baik lansia yang berada dalam keluarga maupun lansia yang berada di institusi seperti panti jompo. Lanjut usia seringkali mendapat perlakuan yang sebenarnya tidak mereka inginkan, misalnya selalu disuruh duduk saja. Mungkin para lansia itu akan berpikir, Mentang-mentang sudah tua, disuruh diam saja. Padahal kan aku ingin membantu juga. Begitulah yang biasanya terjadi, yang muda merasa kasihan, sementara yang tua merasa kalau mereka masih sanggup melakukan sesuatu. Apa yang orang muda lakukan pada mereka yang sudah lansia seperti yang dikemukaan tersebut, sebenarnya suatu kesalahan. Keluhan-keluhan tersebut merupkan suatu cara yang memang seringkali dilakukan dan terjadi dikalangan lansia yang tujuannya adalah untuk mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang terdekatnya yang mungkin hal tersebut bagi si orang tua (lansia) terasa sangat jauh dari dirinya apalagi dalam bentuk perhatian terhadap kesehatan dirinya, seperti pola makan yang sangat diatur, dan lain sebagainya adalah merupakan hasil dari adanya kecemasan akan kondisi kesehatan fisiknya (lansia). Beberapa penyakit sekaligus pada waktu yang sama, juga sering terjadi pada lansia dan inilah yang sering menimbulkan masalah sekaligus menimbukan kecemasan bagi lansia itu sendiri. Bahkan adakalanya bahwa penyakit yang gawat, kurang diperhatikan karena gejala-gejalanya terselubung oleh keluhan-keluhan umum yang dikemukakan atau oleh karena gejala-gejala proses menjadi tua. Adakalanya mereka melebih-lebihkan keluhan mereka, sebaliknya sering mereka tidak mengemukakan apa yang dirasakan sesungguhnya. Selain kesehatan fisik yang perlu dipahami, juga ada kesehatan mental, misalnya depresi. Depresi pada lansia memiliki latar belakang yang agak berbeda dengan orang dewasa lainnya, karena depresi pada lansia lebih sering timbul akibat berbagai penyakit fisik yang dideritanya. Suatu ketergantungan hidup pada orang lain timbul pada sebagian lansia yang kondisi fisiknya memang sudah tidak sempurna lagi, sehingga merupakan fenomena kedua penyebab adanya depresi. Selain hal tersebut diatas kecemasan lansia yang mengalami penyakit kronis dapat memunculkan masalah terhadap terjadinya kecemasan dalam menghadapi kematian diantaranya adalah terjadinya perubahan yang drastis dari kondisi fisiknya yang
9

menyebabkan timbulnya penyakit tertentu dan menimbulkan kecemasan dimana lansia merasa adanya perasaan khawatir, cemas atau takut terhadap kematian itu sendiri, tidak berdaya, lemas, tidak percaya diri, tidak tentram, dan gelisah. Faktor lain yang menyebabkan timbulnya kecemasan pada lansia yang mengalami penyakit kronis adalah selalu memikirkan penyakit yang dideritanya, kendala ekonomi, waktu berkumpul dengan keluarga yang dimiliki sangat sedikit karena anak-anaknya tidak berada satu rumah/berlainan kota dengan subyek, sering merasa kesepian, kadang sulit tidur dan kurangnya nafsu makan karena selalu memikirkan penyakit yang dideritanya Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi kecemasan pada lansia yang mengalami penyakit kronis maupun pada lansia dalam kondisi menghadapi kematian salah satunya dengan membebaskan lansia dari rasa sakit, menyenangkan, memberikan rasa nyaman dan

memberikan penghormatan dan penghargaan terhadap lansia sehingga

lansia merasakan bahwa dirinya dihormati dan dihargai keberadaannya, membatu lansia agar terbebas dari kegelisahan, kekhawatiran, maupun ketakutan baik secara biopsikososial dan spiritual.

10

BAB IV PENUTUP

Teori Peaceful End of Life merupakan teori yang menjelaskan upaya tenaga keperawatan dalam memberikan pelayanan pada klien dengan tujuan memberikan sesuatu yang positif terhadap klien seperti bebas dari rasa sakit, merasa nyaman, merasa dihargai dan dihormati, berada dalam kedamaian dan ketenangan, merasakan kedekatan dengan orang lain yang signifikan dan orang yang merawatnya dan juga merasakan kedekatan dengan orang lain yang signifikan dan orang yang merawatnya. Dalam keperawatan komunitas penerapan teori Peaceful end of life sangat tepat bila diimplementasikan pada asuhan keperawatan pada lansia, baik lansia yang berada dalam keluarga maupun lansia yang berada di institusi seperti panti jompo. Lansia menganggap bahwa perasaan kasihan yang di tunjukkan kepada mereka (lansia) merupakan suatu kesalahan karena mengisyaratkan bahwa mereka (lansia) sudah tidak mampu lagi melakukan aktifitasnya. Hal tersebut dapat menimbulkan kecemasan maupun

ketidaknyamanan dalam hidupnya diluar kecemasannya terhadap penurunan aktivitas yang di alaminya. Sehingga dalam hal ini sangat tepat dterapkan teori Peaceful end of life.

11

DAFTAR PUSTAKA

Tomey and alligood, 2006, Nursing Theorists and Their Work, sixth edition, Missouri: Mosby

12