Anda di halaman 1dari 35

1

Skenario A Blok 21 Dr. Sukses sudah lama bertugas sebagai dokter UKM (upaya kesehatan masyarakat) di Puskesmas Makmur. Pada sore hari ia melakukan UKP (upaya kesehatana perorangan) sebagai dokter umum yang membuka praktek di rumah dinasnya. Rumah dinas dr. Sukses bersebelahan dengan Puskesmas, tempat dia bertugas; Dr. Sukses di tempat prakteknya melakukan layanan primer. Pasien dr. Sukses banyak, dia berpraktek sampai jauh malam; kadangkadang pada pagi hari sebelum bertugas di Puskesmas dia masih melayani pasiennya. Hal ini menyebabkan dr. Sukses datang kesiangan, akibatnya yang melayani pasien yang berobat di Puskesmas adalah perawat atau bidan. Di lingkungan wilayah Puskesmas Makmur, ada juga dr. Arif, yang melakukan layanan primer sebagai dokter keluarga. Dr. Arif melaksanakan UKP seperti diamanatkan di dalam SIstem Kesehatan Nasional (SKN). Pasiennya tidak sebanyak dr. Sukses. Dr. Arif baru mulai berpraktek sebagai dokter keluarga. Sarana dan prasarana dr. Arif belum memenuhi standar pelayanan dokter keluarga mandiri. Pelayanan kedokteran yang diselenggarkan oleh dr. Arif adalah pelayanan kedokteran yang komprehensif dan menyeluruh. Dr. Arif berpraktek sebagai dokter keluarga karena dia adalah lulusan Fakultas kedokteran yang menyelenggarkan KBK (kurikulum berbasis kompetensi), dan sudah mengikuti pelatihan dokter keluarga yang diadakan oleh Perhimpunan Dokter Keluarga (PDKI) cabang setempat. I. Klarifikasi Istilah 1. UKM Setiap kegiatan oleh pemerintah dan atau masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat

2. UKP Setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masayarakat untuk menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. 3. Puskesmas Kesatuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu merata, dapat diterima dan dijangkaku oleh masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengakibatkan mutu pelayanan kepada perorangan. 4. Dokter umum Dokter yang melakukan pelayanan kesehatan dan asuhan medis yang dilakukan sendiri atau bersama dalam bentuk organisasi serta menjalankan kegiatan pelayanan tingkat primer sesuai dengan peraturan setempat. 5. Layanan primer Pelayanan kesehatan esensial yang dapat dijangkau oleh individu dan keluarganya dalam sebuah komunitas, dapat diterima dan didukung oleh partisipasi penuh dari individu, keluarga atau komunitasnya dengan pembiayaan yang dapat dijangkau oleh komunitas dan negara dapat menyubsidinya, ditetapkan. 6. SKN Bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945. 7. Dokter keluarga Tenaga kesehatan tempat kontak pertama pasien (di fasilitas/sistem pelayanan kesehatan) untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan yang dihadapi tanpa memandang jenis penyakit, organologi, golongan usia dan jenis kelamin, sedini yang dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan

dan sedapat mungkin, secara paripurna dengan pendekatan holistik, bersinambungan, dan dalam koordinasi serta kolaborasi dengan profesional kesehatan lainnya, dengan menggunakan prinsip pelayanan yang efektif dan efisien yang mengutamakan pencegahan serta menjunjung tinggi tanggung jawab profesional, hukum, etika, dan moral. 8. Pelayanan komprehensif Pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. 9. Pelayanan menyeluruh Pelayanan yang meliputi masalah fisik (organobiologis), mental-psikologikal, sosiospiritual, dan lingkungan keluarga. 10. KBK Sistem pendidikan yanng mencakup kurikulum, pembelajaran, dan penilaian, menekankan pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi 11. PDKI Organisasi profesi dokter penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat primer yang utama II. Identifikasi Masalah 1. Dr. Sukses sudah lama bertugas sebagai dokter UKM di Puskesmas Makmur dan sore harinya melakukan UKP sebagai dokter umum yang membuka praktek di rumah dinasnya yang bersebelahan dengan Puskesmas , tempat ia bertugas sehingga ia melalaikan tugas di Puskesmas. 2. dr. Arif sudah memberikan pelayanan kedoktran secara komprehensif dan menyeluruh tetapi sarana dan prasarana dr. Arif belum memenuhi standar pelayanan dokter keluarga mandiri.

III. Analisis masalah 1. Apa definisi dan perbedaan dari UKM dan UKP? 2. Apa definisi ilmu kedokteran keluarga menurut IDI 1982? 3. Apa yang dimaksud dengan dokter keluarga menurut IDI 1982? 4. Apa yang dimaksud dengan pelayanan dokter keluarga menurut American academy of Family physician? 5. Bagaimana penjelasan praktek dokter keluarga mandiri? 6. Apa saja standar kompetensi dokter keluarga? 7. Apa saja standar pelayanan dokter keluarga? 8. Bagaimana penjelasan dokter keluarga dalam SKN? IV. Hipotesis Pelaksanaan UKM dan UKP di wilayah kerja Puskesmas Makmur tidak terlaksana dengan baik serta pelaksanaan praktek dokter keluarga belum memenuhi standar pelayanan dokter keluarga.

V. Sintesis
1. Upaya Kesehatan Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal perlu diselenggarakan berbagaiupaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Penyelenggaraan dana, berbagaiupaya manusia, kesehatan tersebut obat memerlukan dukungan sumberdaya sumberdaya

danperbekalan kesehatan sebagai masukan SKN. Sesuai dengan pengertian SKN, upaya kesehatan terdiri dari 2 unsur utama : 1. Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) UKM: Setiap kegiatan oleh Pemerintah dan atau masyarakat, dunia usaha, untuk memelihara danmeningkatkan kesehatan, mencegah dan menanggulangi

timbulnya masalah kesehatan dimasyarakat. UKM mencakup promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakitmenular, kesehatan jiwa, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan lingkungan danpenyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pengamanan sediaan farmasi dan alatkesehatan, pengamanan penggunaan zat aditif (bahan tambahan makanan) dalam makanan dan minuman, pengamanan narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya, sertapenanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan. a.UKM Strata Pertama : UKM strata pertama, yaitu yang mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatandasar yang ditujukan kepada masyarakat. Penyelenggara UKM strata pertama adalah Puskesmas.Minimal ada 6 jenis pelayanan tingkat dasar yang harus dilaksanakan oleh Puskesmas, yaituPromosi Kesehatan; Kesehatan Ibu, Anak dan KB; Perbaikan Gizi; Kesehatan Lingkungan;Pemberantasan penyakit Menular; dan Pengobatan.Dalam UKM strata pertama, peran aktif masyarakat dan swasta diwujudkan melalui berbagaiupaya yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, sampai dengan upaya kesehatan bersumbermasyarakat (UKBM) seperti Posyandu, Polindes, POD, Pos UKK dan Dokter Kecil dalam usaha kesehatan sekolah. b.UKM Strata Kedua : UKM strata kedua adalah UKM tingkat lanjutan, yaitu yang mendayagunakan ilmu pengetahuandan teknologi kesehatan spesialistik yang ditujukan kepada masyarakat. - Penanggung jawabnya adalah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. - Fungsi manajerial dan teknis kesehatan. Fungsi manajerial mencakup perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, serta pengawasan dan pertanggungjawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Fungsi teknis mencakup penyediaan pelayanan kesehatan masyarakat tingkat lanjutan, yakni dalam rangka melayani kebutuhan rujukan Puskesmas.

- Dapat dilengkapi unit-unit pelaksana teknis seperti unit pencegahan dan pemberantasanpenyakit, promosi kesehatan, pelayanan kefarmasian, kesehatan lingkungan, perbaikan gizi,dan kesehatan ibu, anak dan KB. - Unit tersebut disamping memberikan pelayanan langsung juga membantu Puskesmas dalambentuk pelayanan rujukan kesehatan. c.UKM Strata Ketiga : UKM strata ketiga adalah UKM tingkat unggulan, yaitu yang mendayagunakan ilmu pengetahuandan teknologi kesehatan subspesialistik yang ditujukan kepada masyarakat. - Penanggung jawab Dinas Kesehatan Propinsi dan Departemen Kesehatan. - Fungsi manajerial dan teknis kesehatan. Fungsi manajerial mencakup perencanaan,pelaksanaan dan pengendalian, serta pengawasan dan pertanggungjawabanpenyelenggaraan provinsi/nasional. kesehatan Fungsi teknis masyarakat tingkat pembangunan yakni kesehatan dalam di mencakuppenyediaan unggulan, pelayanan rangka

melayanikebutuhan rujukan dari kabupaten/kota dan Provinsi. - Didukung oleh pusat-pusat unggulan, misalnya Institut Gizi Nasional, Institut Penyakit InfeksiNasional, Pusat Laboratorium Nasional, Institut Ketergantungan Obat Nasional, dll 2. Upaya Kesehatan Perorangan UKP: Setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat, dunia usaha, untukmenyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. UKP meliputi promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihankecacatan yang ditujukan terhadap perorangan.Kedua upaya kesehatan tersebut (UKM dan UKP) bersinergi dan dilengkapi berbagai upaya kesehatan penunjang. Upaya penunjang UKM antara lain adalah pelayanan laboratorium kesmas dan pelayanansediaan farmasi, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan lainnya. Upaya penunjang untuk UKP diantaranya adalah pelayanan laboratorium klinik, apotek, optik, dan toko obat.

a. UKP Strata Pertama : UKP strata pertama adalah UKP tingkat dasar yang mendayagunakan ilmu pengetahuan danteknologi kesehatan dasar yang ditujukan kepada perorangan. - Penyelenggara adalah pemerintah, masyarakat, dan swasta. - Diwujudkan dalam berbagai bentuk pelayanan profesional: Puskesmas, praktik dokter, doktergigi, bidan, perawat, balai pengobatan, praktik dokter/klinik 24 jam, praktik bersama danrumah bersalin. - Didukung oleh berbagai pelayanan penunjang seperti toko obat dan apotek, laboratoriumklinik dan optik. b. UKP Strata Kedua : UKP strata kedua adalah UKP tingkat lanjutan yang mendayagunakan ilmu pengetahuan danteknologi kesehatan spesialistik yang ditujukan kepada perorangan. - Penyelenggara adalah pemerintah, masyarakat, dan swasta. - Diwujudkan dalam berbagai bentuk pelayanan profesional: Rumah Sakit kelas C dan B nonpendidikan milik pemerintah dan Rumah Sakit Swasta, praktik dokter spesialis, dokter gigi spesialis, klinik spesialis, BP4, BKMM, BKJM. - Didukung oleh berbagai pelayanan penunjang seperti toko obat dan apotek, laboratorium klinik dan optik. c. UKP Strata Ketiga : UKP strata ketiga adalah UKP tingkat unggulan yang mendayagunakan ilmu pengetahuan danteknologi kesehatan subspesialistikyang ditujukan kepada perorangan. - Penyelenggara adalah pemerintah, masyarakat, dan swasta. - Diwujudkan dalam berbagai bentuk pelayanan profesional: Praktik Dokter SpesialisKonsultan, Praktik Dokter Gigi Spesialis Konsultan, Klinik Spesialis Konsultan, Rumah SakitKelas B Pendidikan dan Kelas A milik Pemerintah, Rumah Sakit Khusus dan Rumah sakit swasta.

- Didukung oleh berbagai pelayanan penunjang seperti toko obat dan apotek, laboratoriumklinik dan optik. PERBEDAAN UKP DAN UKM Pelayanan Cakupan Pelayanan Sasaran Sifat Pelayanan Cara pelayanan UKP Lebih luas Individu/keluarga Menyeluruh dan paripurna Kasus per kasus berkesinambungan, Jenis layanan Peran keluarga Promotif-preventif Hubungan Upaya kesehatan UKM Terbatas Komunitas Sesuai dengan keluhan Kasus per kasus, pengamatan sesaat

pengamatan sepanjang hayat Promotif, preventif, Lebih bersifat kuratif rehabilitatif, kuratif Selalu dipertimbangkan, Kurang dipertimbangkan dimanfaatkan dan dilibatkan Menjadi perhatian utama Dokter-pasien-temankonsultan Individu/keluarga Bukan perhatian utama Dokter-pasien Komunitas

Sistem dokter keluarga merupakan antisipasi perkiraan bergesernya status puskesmas menjadi sarana umum. Tugas puskesmas akan mengatur sanitasi dan lingkungan atau yang bersifat Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), sedangkan dokter keluarga menjadi private good, dokter akan menjadi bagian dari keluarga. Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau merupakan sesuatu yang esensial, dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan model dokter keluarga diharapkan dokter keluarga sebagai ujung tombak dalam pelayanan kedokteran tingkat pertama, yang dapat berkolaborasi dengan pelayanan kedokteran tingkat kedua dan yang bersinergi dengan sistem lain.

Perbandingan Pelayanan Dokter Puskesmas, Dokter Praktek Umum (swasta) dan Dokter Keluarga Hal Dokter Puskesmas Dokter Praktek Dokter Keluarga

Waktu Praktik Tempat Praktik

08.00 14.00 Puskesmas

Umum (swasta) Sesuai Perjanjian Rumah Pribadi, Tempat sewaan yang dijadikan tempat praktek,

Tidak terikat (minggu libur) Klinik, Rumah Pasien (Rawat Jalan), Rumah Sakit (rawat inap)

klinik, Ruang Lingkup Satu Atau Sebagian Terutama di Pelayanan Wilayah Kecamatan Upaya Kesehatan Lebih tertuju kepada pelayanan kesehatan perseorangan dan masyarakat Menjalankan lebih kearah preventif kuratif Wajib: 1. upaya promosi kesehatan 2. upaya kesehatan lingkungan 3. upaya perbaikan gizi 4. upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit 1. Upaya pengobatan dasar 2. upaya kesehatan lingkungan 3. upaya perbaikan gizi 4. upaya sekitar wilayah tempat praktik Lebih tertuju kepada pelayanan kesehatan pribadi Menjalankan lebih kearah kuratif

Sesuai Perjanjian, terutama di sekitar tempat dokter kluarga bertempat tinggal Lebih tertuju kepada pelayanan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat yang berada di lingkup lingkungan tugas Menjalankan lebih kearah promotif rehabilitatif 1. penderita tidak hanya sebagai perorangan, melainkan sebagai bagian dari satu keluarga dan bahkan anggota masyarakat 2. pelayanan kesehatan secara menyeluruh jauh melebihi jumlah keseluruhan keluhan

10

menular 5. upaya kesehatan ibu, anak dan KB 6. upaya pengobatan dasar upaya kesehatan pengembangan puskesamas Masa Kerja Sesuai kontrak dengan Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten (biasanya 1 tahun, dan dapat diperpanjang)

pencegahan dan pemberantas an penyakit menular 5. upaya kesehatan ibu, anak. Dan konseling KB Tidak terikat kontrak dengan badan apapun

yang disampaikan 3. menyediakan dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan pertama dan bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan lanjut.

1. pemerintah; terikat kontrak dengan pemerintah (biasanya selama 2 tahun, dan dapat diperpanjang) 2. murni swasta (terikat kontrak dengan si pengguna layanan (bersifat dokter pribadi keluarga) 1. Pemerintah; dengan asuransi kesehatan 2. murni swasta; out of pocket

Pembiayaan

1. pemerintah (anggaran pembangunan dan anggaran rutin) 2. Pendapatan Puskesmas 3. sumber lain (PT. ASKES,

Out of pocket

11

JAMSOSTEK, JPSBK/PKPS Pelaksanaan kerja Pertanggungjaw aban BBM) Terdapat tim kerja Perorangan atau Perorangan puskesmas Dinas kesehatan kota/kabupaten kelompok Selama tidak terjadi kesalahan/kelal aian, bertanggung jawab kepada diri sendiri dan Syarat Menjadi Aspek rujuk Dokter + PNS kepada Tuhan Dokter Dokter + pelatihan dokter keluarga Terikat follow up Badan pengelola keuangan (ASKIN), Dinas Kesehatan Provinsi, Keluarga yang menyewa jasa

setelah Tidak terikat follow Tidak terikat

up follow up dari table ini dapat disimpulkan bahwa dr. Sukses mungkin telah melanggar jam dinas UKMnya dengan berpraktek UKP pada jam dinas UKM. Hal ini menunjukkan kurang professional dan kurangnya integritas dr. Sukses sebagai dokter UKM. Selain itu mungkin juga disebabkan belum berjalan dengan baiknya dokter keluarga yang diselenggarakan oleh dr. Arif karena kurangnya sarana dan prasarana.

Perbedaan antara dokter keluarga dan dokter umum Perbedaan Definisi Dokter keluarga Dokter yang khusus kedokteran diperoleh dalam keluarga dari Dokter Umum memiliki Dokter praktik umum, adalah bidang pelayanan kesehatan dan asuhan yang medis yang dilakukan sendiri bersama dalam bentuk pendidikan atau

pengetahuan dan keterampilan setiap dokter yang melakukan

12

khusus dalam bidang tersebut, organisasi sehingga kemudian memiliki kegiatan untuk bekerja dalam profesi setempat. Sistem kerja Pembiayaan Sasaran Tempat Praktik

serta

menjalankan tingkat

pelayanan

kompetensi dan kewenangan primer sesuai dengan peraturan dokter keluarga Promotif, preventif, kuratif dan Bersifat kuratif rehabilitatif Pembiayaan di awal dari Mandiri dari perorangan Masyarakat Umum, perorangan pemerintah Keluarga sebagai satu unit Melayani praktek rumah sakit. Pelayanan pelayanan kedokteran yang Kuratif paripurna (komprehensif) pasien (klinik dokter ditempat Tempat Praktik Pribadi

keluarga), di rumah dan di

13

Prinsip dasar Layanan pertama Layanan sinambung dan jangka panjang Layanan bersifat personal Layanan komprehensif Mengutamakan pencegahan Koordinasi Kolaborasi Berorientasi pada keluarga Berorientasi pada komunitas Pembiayaan Wilayah kerja kontak

PDK* Ya Ya

PDU** puskesmas Ya Episodik

di

Praktik dokter pribadi Ya Tidak

Ya Ya, >>promotif

Tidak Ya, kuratif Terbatas Tidak Tidak Tidak Ya Jamkesmas askeskin Wilayah kecamatan kurang 30.000 KK lebih dan

Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Fee for service Tanpa batasan

dan preventif Ya Ya Ya Ya Ya Kapitasi Pertimbangan kondisi geografis sekitar 2500 KK

Keterangan: *PDK **PDU : praktik dokter keluarga : praktik dokter umum

2. Definisi Ilmu Kedokteran keluarga menurut IDI 1982 Adalah ilmu kedokteran yang mencakup seluruh spektrum ilmu kedokteran yang orientasinya untuk memberikan pelayanan kesehatan tingkat

14

pertama yang berkesinambungan dan menyeluruh kepada kesatuan individu, keluarga dan masyarakat dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan, ekonomi dan sosial budaya. 3. Pengertian dokter keluarga menurut IDI 1982 Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi komunitas degan titik berat kepada keluarga, ia tidak hanya memandang penderita sebagai individu yang sakit tapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif, tetapi bila perlu aktif mengunjungi penderita atau keluarganya. 4. Pelayanan Dokter Keluarga Menurut The American Academy of Family Physician (1969) Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga sebagai suatu unit, di mana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien, juga tidak oleh oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu saja (The American Academy of Family Physician, 1969) Pelayanan dokter keluarga melibatkan Dokter Keluarga sebagai penyaring di tingkat primer sebagai bagian suatu jaringan pelayanan kesehatan terpadu yang melibatkan dokter spesialis di tingkat pelayanan sekunder dan rumah sakit rujukan sebagai tempat pelayanan rawat inap, diselenggarakan secara komprehensif, kontinu, integratif, holistik, koordinatif dengan mengutamakan pencegahan, menimbang peran keluarga dan lingkungannya serta pekerjaannya. Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa memilah jenis kelamin, usia serta faktorfaktor lainnya. (The American Academy of Family Physician, 1969; Geyman, 1971; McWhinney, 1981) Tujuan pelayanan dokter keluarga menurut The American Academy of Family Physician (AAFP) dinyatakan sebagai berikut: 1) untuk meningkatkan dan mempertahankan, mutu pelayanan kedokteran keluarga, 2) membantu dokter-dokter yang ingin berpraktek sebagai dokter keluarga,

15

3)

mempertahankan hak-hak dokter keluarga dalam memberikan pelayanan dibidang-bidang yang sudah dikuasainya,

4) membantu danmenyelenggarakan pendidikan berkelanjutan untuk para dokter keluarga, 5) memajukan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat serta menjamin hak penderita memilih dokternya, 6) berperan dalam memperjuangkan peningkatan derajat kesehatan rakyat. Pelayanan dokter keluarga mempunyai dua tujuan tujuan umum dan tujuan khusus 1) tujuan umum pelayanan dokter keluarga adalah sama dengan tujuan pelayanan kedokteran dan atau pelayanan kesehatan pada umumnya, yakni terwujudnya keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga. 2) tujuan khusus pelayanan dokter keluarga dapat dibedakan atas dua macam: a. terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih efektif b. terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih efisien 5. Praktek dokter keluarga mandiri Penyelenggaraan praktek dokter keluarga pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat bermutu, melalui pelayanan dokter yang utamanya pada tingkat primer. Pelayanan dokter yang bermutu

maksudnya adalah pelayanan kedokteran yang sesuai dengan kompetensinya ( standar ) dan kode etik Kedokteran Indonesia serta memuaskan pengguna jasa pelayanan dokter. Penyiapan dokter keluarga sekarang dilakukan secara sistematis dan terstruktur melalui pendidikan kedokteran yang berkesinambungan atau Continous Medical Education (CME) kepada dokter umum (dokter layanan primer, bukan dokter spesialis) yang ada. Pengakuan atas kompetensi dokter keluarga itu selanjutnya di lakukan dengan sertifikasi serta pemantauan kinerja dokter dalam penyelenggaraan prakteknya. Pemerintah Indonesia telah pula

16

membuat perangkat hukum yang memungkinkan implementasi upaya pelayanan kedokteran keluarga. Perangkat hukum dimaksud adalah Kepmen. No. 56/Menkes/SK/I/1996 perihal dokter keluarga dalam Pengelolaan JPKM (Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat), demikian pula Permenkes No.916/Menkes /Per/VIII/1997 tentang Surat Izin Praktek Dokter atau dokter Gigi yang diarahkan sebagai Dokter keluarga. Fakultas kedokteran seluruh Indonesia baik negeri maupun swasta wajib melaksanakan kurikulum pendidikan dokter berbasis kompetensi layanan primer melalui pendekatan keluarga ( dokter keluarga). 6. Standar kompetensi dokter keluarga Prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga di Indonesia mengikuti anjuran WHO dan WONCA yang mencantumkan prinsip-prinsip ini dalam banyak terbitannya. Prinsip-prinsip ini juga merupakan simpulan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dokter primer. Prinsip-prinsip pelayanan/pendekatan kedokteran keluarga adalah memberikan/ mewujudkan: 1. pelayanan yang holistik dan komprehensif 2. pelayanan yang kontinu 3. pelayanan yang mengutamakan pencegahan 4. pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif. 5. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian dari keluarganya 6. pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja dan lingkungan tempat tinggalnya. 7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hokum. 8. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertanggungjawabkan. 9. Pelayanan yang sadar biaya dan mutu. Dengan melihat pada prinsip pelayanan yang harus dilaksanakan maka disusun kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang dokter untuk dapat disebut sebagai dokter keluarga.

17

Kompetensi dokter keluarga seperti yang tercantum dalam Standar Kompetensi Dokter Keluarga yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia tahun 2006 adalah: 1. Kompetensi Dasar a. Keterampilan Komunikasi Efektif b. Keterampilan Klinis Dasar c. Keterampilan menerapkan dasar-dasar ilmu biomedis, ilmu klinis, ilmu perilaku, dan epidemiologi dalam praktik kedokteran keluarga. d. Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga ataupun masyarakat dengan cara yang komprehensif, holistik, berkesinambungan, terkoordinasi dan bekerja sama dalam konteks pelayanan kesehatan primer. e. Memanfaatkan, menilai secara kritis, dan mengelola informasi. f. Mawas diri dan pengembangan diri/belajar sepanjang hayat g. Etika, moral dan profesionalisme dalam praktik 2. Ilmu dan Kompetensi Klinis Layanan Primer Cabang Ilmu Utama a. Bedah b. Penyakit Dalam c. Kebidanan dan Penyakit Kandungan d. Kesehatan Anak e. THT f. Mata g. Kulit dan Kelamin h. Psikiatri i. Saraf j. Kedokteran Komunitas 3. Keterampilan Klinis Layanan Primer Lanjut a. Keterampilan melakukan health screening b. Menafsirkan hasil pemeriksaan laboratorium lanjut

18

c. Membaca hasil EKG d. Membaca hasil USG e. BTLS, BCLS, dan BPLS 4. Keterampilan Pendukung a. Riset b. Mengajar kedokteran keluarga 5. Ilmu dan Keterampilan Klinis Layanan Primer Cabang Ilmu Pelengkap a. Semua cabang ilmu kedokteran lainnya b. Memahami dan menjembatani pengobatan alternative 6. Ilmu dan Keterampilan Manajemen Klinis a. Manajemen klinik dokter keluarga Standar Kompetensi Dokter Keluarga menurut Deklarasi WONCA-WHO tahun 2003 meliputi: 1. Melaksanakan asuhan bagi pasien dalam kelompok usia tertentu a. Bayi baru lahir b. Bayi c. Anak d. Remaja e. Dewasa f. Wanita hamil dan menyusui g. Lansia wanita dan pria 2. Mengintegrasikan komponen asuhan komprehensif a. Memahami epidemiologi penyakit b. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan jasmani secara memadai c. Memahami ragam perbedaan faali fan metabolisme obat d. Menafsirkan hasil pemeriksaan laboratorium dan radiology e. Menyelenggarakan penilaian resiko khusus usia tertentu f. Menyelenggarakan upaya pencegahan, penapisan, dan panduan serta penyuluhan gizi.

19

g. Memahami pokok masalah perkembangan normal h. Menyelenggarkan konseling psikologi dan perilaku. i. Mengonsultasikan atau merujuk pasien tepat waktunya bila diperlukan j. Menyelenggarakan layanan paliatif dan jelang ajal k. Menjunjung tinggi aspek etika pelayanan kedokteran 3. Mengoordinasikan layanan kesehatan a. Dengan keluarga pasien 1) Penilaian keluarga 2) Menyelenggarakan pertemuan keluarga (pasien) 3) Pembinaan dan konseling keluarga b. Dengan masyarakat 1) Penilaian kesehatan masyarakat dan epidemologi 2) Pemeriksaan/penilaian masyarakat 3) Mengenali dan memanfaatkan sember daya masyarakat 4) Program pencegahan dan pendidikan bagi masyarakat 5) Advokasi/pembelaan kepentingan kesehatan masyarakat 4. Menangani masalah-masalah kesehatan yang menonjol a. Kelainan alergik b. Anestesia dan penanganan nyeri c. Kelainan yang mengancam jiwa dan kegawatdaruratan d. Kelainan kardiovaskular e. Kelainan kulit f. Kelainan mata dan telinga g. Kelainan saluran cerna h. Kelainan perkemihan dan kelamin i. Kelainan obstetric dan ginekologi j. Penyakit infeksi k. Kelainan musculoskeletal l. Kelainan neoplastik m. Kelainan neurology

20

n. Psikiatri 5. Melaksanakan profesi dalam tim penyedia kesehatan a. Menyusun dan menggerakkan tim b. Kepemimpinan c. Keterampilan manajemen praktik d. Pemecahan masalah konflik e. Peningkatan kualitas 7. Standar Pelayanan Kedokteran Keluarga 1. Standar Pemeliharaan Kesehatan di Klinik Standar Pelayanan Paripurna a. Pelayanan medis strata pertama untuk semua orang b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan c. Pencegahan penyakit dan proteksi khusus d. Deteksi dini e. Kuratif medik f. Rehabilitasi medik dan sosial g. Kemampuan sosial keluarga h. Etik medikolegal Standar Pelayanan Medis a. Anamnesis b. Pemeriksaan Fisik dan Penunjang c. Penegakan diagnosis dan diagnosis banding d. Prognosis e. Konseling f. Konsultasi g. Rujukan h. Tindakan lanjut i. Tindakan j. Pengobatan rasional k. Pembinaan keluarga

21

Standar Pelayanan Menyeluruh a. Pasien adalah manusia seutuhnya b. Pasien adalah bagian dari keluarga dan lingkungannya c. Pelayanan menggunakan segala sumber di sekitarnya

Standar Pelayanan Terpadu a. Koordinator penatalaksanaan pasien b. Mitra dokter pasien c. Mitra lintas sektoral medik d. Mitra lintas sektoral alternatif dan komplimenter medik

Standar Pelayanan Berkesinambungan a. Pelayanan proaktif b. Rekam medik bersinambung c. Pelayanan efektif pasien d. Pendampingan

2. Standar Perilaku dalam Praktik Standar Perilaku terhadap Pasien a. Informasi memperoleh pelayanan b. Masa konsultasi c. Informasi medik menyeluruh d. Komunikasi efektif e. Menghormati hak kewajiban pasien dan dokter Standar Perilaku dengan Mitra Kerja di Klinik a. Hubungan profesional dalam klinik b. Bekerja dalam tim c. Pemimpin klinik Standar Perilaku dengan Sejawat a. Hubungan profesional dalam profesi b. Hubungan baik sesama dokter c. Perkumpulan profesi Standar Pengembangan Ilmu dan Keterampilan Praktik a. Mengikuti kegiatan ilmiah

22

b. Program jaga mutu c. Partisipasi dalam kegiatan pendidikan d. Penelitian dalam praktik e. Penulisan ilmiah Standar Partisipasi dalam Kegiatan Masyarakat di Bidang Kesehatan a. Menjadi anggota perkumpulan sosial b. Partisipasi dalam kegiatan kesehatan masyarakat c. Partisipasi dalam penanggulangan bencana di sekitarnya 3. Standar Pengelolaan Praktik Standar Sumber Daya Manusia a. Dokter keluarga b. Perawat c. Bidan d. Administrator klinik Standar Manajemen Keuangan a. Pencatatan keuangan b. Jenis sistem pembagian praktik Standar Manajemen Klinik a. Pembagian kerja b. Program pelatihan c. Program kesehatan dan keselamatan kerja d. Pembahasan administrasi klinik 4. Standar Sarana dan Prasarana Standar Fasilitas Praktik a. Fasilitas untuk praktik b. Kerahasiaan dan privasi c. Bangunan dan interior d. Alat komunikasi e. Papan nama Standar Peralataan Klinik a. Peralatan medis

23

b. Peralatan penunjang medis c. Peralatan non medis Standar Proses-proses Penunjang Praktik a. Pengelolaan rekam medik b. Pengelolaan rantai dingin c. Pengelolaan pencegahan infeksi d. Pengelolaan limbah e. Pengelolaan air bersih f. Pengelolaan obat Sistem Pelayanan Dokter Keluarga (SPDK) Dalam sistem ini kontak pertama pasien dengan dokter akan terjadi di KDK yang selanjutnya akan menentukan dan mengkoordinasikan keperluan pelayanan sekunder jika dipandang perlu sesuai dengan SOP standar yang disepakati. Pasca pelayanan sekunder, pasien segera dirujuk balik ke KDK untuk pemantauan lebih lanjut. Tata penyelenggaraan pelayanan seperti ini akan diperkuat oleh ketentuan yang diberlakukan dalam skema JPKM/asuransi. Praktik dalam dokter keluarga Untuk memberikan pelayanan yang komprhensif, sebagai dokter keluarga kita akan memandang masalah pasien dalam konteks sosialnya juga, dan keterlibatan dokter keluarga sangat bervariasi. Setiap dokter keluarga harus memutuskan sejauh mana keterlibatannya dengan keluarga pasien. Ada 5 tipe atau tingkatan dari keterlibatan dokter dalam keluarga pasiennya, yaitu: a. Keterlibatan Minimal dalam Keluarga (Minimal Emphasis on Family) Dasar pemikiran dokter adalah komunikasi dengan keluarga pasien hanya untuk praktek atau keperluan legal medis aja. Perilaku dokter adalah, bertemu dengan keluarga pasien hanya untuk mendiskusikan masalah-masalah medis saja. b. Informasi Medis dan Nasehat (Medical Information and Advice)

24

Dasar pemikiran dokter adalah bahwa keluarga itu penting dalam diagnosa dan membuat keputusan pengobatan pasien, keterbukaan perlu untuk melibatkan keluarga.

1. Perasaan dan Dukungan (Feelings and Support) Dasar pemikiran dokter adalah perasaan dan dukungan dan timbal balik antara pasien. Keluarga dan dokter sangat penting dalam diagnosa dan pengobatan pasien. 2. Penilaian dan Intervensi (Assessment and Intervention) Dasar pemikiran dokter adalah sistem keluarga, dinamika keluarga, dan perkembangan keluarga penting dalam diagnosa dan pengobatan pasien. Perilaku dokter adalah bertemu dengan keluarga dan membantu mereka untuk merubah peran dan interaksi satu sama lain agar lebih efektif dengan menghadapai masalah penyakit dan pengobatan pasien. 3. Terapi Keluarga (Family Therapy) Dasar pemikiran dokter adalah dinamika keluarga dan kesehatan pasien saling mempengaruhi satu sama lainnya dan pola ini perlu dirubah. Perilaku dokter adalah bertemu secara teratur dengan keluarga pasien dan berusaha merubah dinamika keluarga peraturan-peraturan yang tak tertulis dalam keluarga tersebut yang berhubungan dengan perkembangan fisik dan mental pasien. Sebagai seorang dokter umumnya kita akan telibat hingga level 4, level ini biasanya dibutuhkan kemampuan dalam konseling. Sedangkan untuk melakukan peran hingga level 5 dibutuhkan satu pelatihan khusus. SISTEM PELAYANAN KESEHATAN

25

Adalah kesatuan yang utuh dan terpadu dari berbagai upaya/kegiatan kesehatan yang diselenggarakan dalam suatu negara. Kegiatan dalam Subsistem pelayanan kesehatan adalah kegiatan yang berhubungan langsung dengan penerapan ilmu dan teknologi kedokteran. Kegiatan-kegiatan seperti ini disebut Pelayanan Kesehatan (health services).

Perbedaan pelayanan kedokteran dan pelayanan kesehatan masyarakat :

26

BATASAN DOKTER KELUARGA Dokter yang memperoleh pendidikan lanjutan khusus agar dapat mencapai kompetensi sebagai sebagai Dokter Penyelengara Pelayanan Kesehatan Strata I (Primer) yang mampu menerapkan prinsip-prinsip Kedokteran Keluarga dengan cakupan ilmu dan keterampilan yang lebih luas dan dalam daripada yang telah diperolehnya selama pendidikan kedokteran dasar dan internsip. Dokter Keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, ia tidak hanya memandang penderita sebagai individu yang sakit tetapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif, tetapi bila perlu aktif mengunjungi penderita atau keluarganya.(IDI, 1982) 8. Dokter keluarga dalam SKN DPU yang telah memperoleh pendidikan tambahan dan menjalankan praktik dengan menerapkan pendekatan keluarga serta kompetensinya diakui oleh Kolegium Dokter dan Dokter Keluarga Indonesia (KDDKI), setelah setara dengan kompetensi dokter keluarga selanjutnya mendapat gelar profesi sebagai Dokter Keluarga (DK). Para DPU yang ingin diakui kompetensinya atau mendapat gelar

27

professional DK dapat mengikuti program konversi PDKI (secara sukarela). Para DK ini dalam system pelayanan kedokteran terpadu atau terstruktur menjalankan praktiknya di strata pertama. Spesialis Famili Medisin (SpFM)

Dokter Keluarga yang meningkatkan profesionalismenya lebih tinggi dengan mengikuti pendidikan spesialisasi kedokteran keluarga, dan memperoleh gelar akademik sebagai Spesialis Family Medicine (SpFM). Para SpFM ini dalam system pelayanan kedokteran terpadu atau terstruktur tetap menjalankan praktiknya di strata pertama. Dokter Praktik Umum

Menurut terminology WFME (Federasi Pendidikan Kedokteran Sedunia) dokter yang telah menyelesaikan pendidikan kedokteran dasar disebut sebagai Basic Medical Doctor. Di Indonesia, dikenal sebagai Dokter Umum atau Dokter (yang untuk masa mendatang, adalah yang telah menyelesaikan program internship). Dalam system pelayanan kedokteran terpadu atau terstruktur para Dokter ini (untuk memudahkan pengertian, selanjutnya disebut sebagai Dokter Praktik Umum/DPU) menjalankan praktiknya di strata pertama.

Perbedaan Definisi Dokter khusus

Dokter keluarga Dokter Umum yang memiliki Dokter praktik umum, adalah setiap dalam keluarga dari bidang kesehatan dan asuhan medis yang yang dilakukan sendiri atau bersama serta dengan pelayanan pendidikan dalam bentuk primer organisasi sesuai

pengetahuan dan keterampilan dokter yang melakukan pelayanan kedokteran diperoleh

khusus dalam bidang tersebut, menjalankan sehingga kemudian memiliki tingkat kompetensi untuk bekerja dalam profesi

kegiatan

dan kewenangan peraturan setempat.

28

dokter keluarga

Hak Sistem kerja Promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif Pembiayaan di awal dari Mandiri dari perorangan Masyarakat Umum, perorangan pemerintah Keluarga sebagai satu unit Tempat Praktik Pelayanan Melayani pasien praktek (klinik dokter keluarga), di rumah dan di rumah sakit. pelayanan kedokteran yang Kuratif paripurna (komprehensif) ditempat Tempat Praktik Pribadi Bersifat kuratif

Prinsip dasar Layanan kontak pertama Layanan sinambung dan jangka panjang Layanan bersifat personal Layanan komprehensif Mengutamakan pencegahan Koordinasi Kolaborasi Berorientasi pada keluarga Berorientasi pada komunitas

Dokter keluarga Ya Ya

Dokter umum di Klinik 24 jam puskesmas Ya Ya, emergency Episodik Episodik Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak

Ya Tidak Ya,>> promotif, Ya, >> kuratif preventif Ya Terbatas Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Ya

29

Sistem

kesehatan

Nasional

(SKN)

adalah

suatu

tatanan

yang

mencerminkan upaya bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan mencapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti yang dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945.( SK Menkes RI,No.99a/MenKes.SK/III/1982) a. Kebijakan-Kebijakan Sistem Kesehatan Nasional SKN yang merupakan wujud dan metode penyelenggaraan pembangunan kesehatan adalah bagian dari Pembangunan Nasional. Dengan demikian landasan SKN adalah sama dengan landasan Pembangunan Nasional. Secara lebih spesifik landasan tersebut adalah: 1. Landasan idiil yaitu Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 2. Landasan konstitusional yaitu UUD 1945, khususnya: a. Pasal 28 A: setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. b. Pasal 28 B ayat (2) : setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang. c. Pasal 28 C ayat (1): setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat manfaat teknologi, pendidikan dari seni ilmu dan dan memperoleh dan demi pengetahuan budaya,

meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. d. Pasal 28 H ayat (1) : setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta

30

berhak memperoleh pelayanan kesehatan, dan ayat (3); setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. e. Pasal 34 ayat (2) : negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan, dan ayat (3); negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Sistem Kesehatan Nasional tahun 2004 menggariskan bahwa untuk masa mendatang, apabila sistem jaminan kesehatan nasional telah berkembang, pemerintah tidak lagi menyelenggarakan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) strata pertama melalui puskesmas. Penyelenggaraan UKP akan diserahkan kepada masyarakat dan swasta dengan menerapkan konsep dokter keluarga, kecuali di daerah yang terpencil.

Indonesia sehat 2010 Perilaku sehat Pelayanan kesehatan Memiliki akses ke sistem pelayanan kesehatan yg: Terstruktur Berkeadilan Terjangkau Kontribusi Merata Sektor Bermutu Kesehatan Aman Private Good Lingkungan sehat Hidup di wilayah dan tatanan yg memiliki: Udara sehat Air sehat Pangan sehat Pemukiman sehat Sanitasi lingkungan sehat

Memiliki kemauan & kemampuan Berperilaku sehat, Bertanggung jawab atas Kontribusi kesehatan Warga dirinya Private Good

Kontribusi Multi Sektor

Public Good

Kontribusi Sektor Pendidikan

Derajat Kesehatan Optimal Human Development Index Meningkat SDM Unggul Bangsa Indonesia Kontribusi Sektor Ekonomi

31

Mengatur pelayanan praktek kedokteran keluarga: a. Mengatur sumber daya menjadi manajer, kepemimpinan efektif dan motivasi b. Mengatur fasilitas dan perlengkapan prinsip manajemen suplai dan penyimpanan c. Mengatur informasi, yaitu medical records, kerahasiaan, dan komputerisasi d. Mengatur pembiayaan, termasuk managed care Mengerti konsep manage care e. Mengatur kualitas b. Prinsip Dasar SKN Prinsip dasar SKN adalah norma, nilai dan aturan pokok yang bersumber dari falsafah dan budaya Bangsa Indonesia, yang dipergunakan sebagai acuan berfikir dan bertindak dalam penyelenggaraan SKN. Prinsip-prinsip dasar tersebut meliputi: 1. Perikemanusiaan Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip perikemanusiaan yang dijiwai, digerakkan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Terabaikannya pemenuhan kebutuhan kesehatan adalah bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Tenaga kesehatan dituntut untuk tidak diskriminatif serta selalu menerapkan prinsip-prinsip kesehatan. 2. Hak Asasi Manusia Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah salah satu hak asasi manusia tanpa membedakan suku, perikemanusiaan dalam menyelenggarakan upaya

32

golongan, agama, dan status sosial ekonomi. Setiap anak berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 3. Adil dan Merata Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip adil dan merata. Dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, perlu diselenggarakan upaya kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat secara adil dan merata, baik geografis maupun ekonomis. 4. Pemberdayaan dan Kemandirian Masyarakat Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip pemberdayaan dan kemandirian masyarakat. Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berkewajiban dan bertanggung-jawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat beserta lingkungannya. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus berdasarkan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta kepribadian bangsa dan semangat solidaritas sosial dan gotong royong. 5. Kemitraan Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip kemitraan. Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat termasuk swasta, dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki. Kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta serta kerjasama lintas sektor dalam pembangunan kesehatan diwujudkan dalam suatu jejaring yang berhasil-guna dan berdaya-guna, agar diperoleh sinergisme yang lebih mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya. 6. Pengutamaan dan Manfaat Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip pengutamaan dan manfaat. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan lebih mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan perorangan

33

maupun golongan. Upaya kesehatan yang bermutu dilaksanakan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara berhasil-guna dan berdayaguna, dengan mengutamakan upaya kesehatan yang mempunyai daya ungkit tinggi agar memberikan manfaat yang sebesarbesarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat beserta lingkungannya. c. Subsistem SKN
1. Subsistem Upaya Kesehatan

Upaya

kesehatan

diselenggarakan

dengan

upaya

peningkatan,

pencegahan, pengobatan, dan pemulihan.


2. Subsistem Pembiayaan Kesehatan

Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai sumber, yakni: Pemerintah, Pemerintah Daerah, swasta, organisasi masyarakat, dan masyarakat itu sendiri. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan public good yang menjadi tanggung-jawab pemerintah, sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat private, kecuali pembiayaan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggung-jawab pemerintah
3. Subsistem Sumber Daya Manusia Kesehatan

Sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah, jenis dan kualitasnya, serta terdistribusi secara adil dan merata, sesuai tututan kebutuhan pembangunan kesehatan. Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi: 1) perencanaan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan, 2) pengadaan yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan, 3) pendayagunaan SDM Kesehatan, termasuk peningkatan kesejahteraannya, dan 4) pembinaan serta pengawasan SDM Kesehatan

34

a. Subsistem Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Makanan Subsistem kesehatan ini meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan, khasiat/ kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang beredar; ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat, terutama obat esensial; perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat; penggunaan obat yang rasional; serta upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. b. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan Subsistem ini meliputi: kebijakan kesehatan, administrasi kesehatan, hukum kesehatan, dan informasi kesehatan. Untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna, diperlukan manajemen kesehatan. Peranan manajemen kesehatan adalah koordinasi, integrasi, sinkronisasi, serta penyerasian berbagai subsistem SKN dan efektif, efisien, serta transparansi dari penyelenggaraan SKN tersebut. c. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat. Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran pembangunan kesehatan, melainkan juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan kesehatan. meliputi pula upaya peningkatan lingkungan sehat oleh masyarakat sendiri

Sub Sistem Upaya Kesehatan Memelihara , Meningkatkan kesehatan Mencegah penyakit

Upaya Kes Masyarakat ( UKM ) Upaya Kes Perorangan ( UKP )

Setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta , untuk memelihara, meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan serta memulihkan kesehatan perorangan

35

PERORANGAN Menyembuhkan penyakit Memulihkan kesehatan

PRINSIP 1. Diselenggarakan oleh : masy , swasta dan pemerintah 2. Penyelenggaraan oleh swasta harus memperhatikan fungsi sosial 3. Bersifat menyeluruh , terpadu , berkelanjutan , terjangkau , berjenjang profesional dan bermutu 4. Tidak bertentangan dgn kaidah ilmiah ( termasuk tradisional-alternatif ) 5. Sesuai norma sosial budaya serta moral & etika profesi