Anda di halaman 1dari 19

1

Pendahuluan

Magneto-optik pertama kali dipelajari oleh Michael Faraday pada tahun 1845 yang menunjukkan bahwa ketika cahaya terpolarisasi melewati sepotong kaca yang diletakkan dalam medan magnet, bidang polarisasi cahaya yang diteruskan berputar. Efek ini dikenal dengan efek faraday. Fenomena yang berhubungan ditemukan oleh John Kerr pada 1877, jika efek Faraday teramati pada transmisi, magneto-optik efek kerr teramati pada pemantulan. John Kerr merefleksikan cahaya dari kutub yang dihaluskan sebuah elektromagnet dan diperoleh bidang polarisasinya berputar.

Kedua efek tersebut berhubungan dengan interaksi spin-orbit, dan perlakuan rigorous kedua efek melibatkan atau lebih tepatnya memerlukan teori perturbasi. Meski demikian, prinsip umumnya dapat dipahami secara sederhana sebagai berikut. Polarisasi cahaya sirkular tangan-kanan dan tangan kiri menyebabkan muatan dalam material berputar pada arah berlawanan, dan oleh karenanya setiap polarisasi memberikan kontribusi pada perubahan arah momentum anguler pada arah yang berlawanan. Medan magnet menyebabkan polarisasi spin mengarah pada arah medan magnet dan interaksi spin-orbit kemudian menyebabkan adanya kontribusi energi untuk dua polarisasi sirkular memiliki besar yang sama tapi dengan tanda yang berbeda. Hal ini menyebabkan polarisasi-polarisasi tangan kanan dan tangan kiri memiliki indeks bias yang berbeda di dalam material. Jika bidang cahaya terpolarisasi jath pada material magnetik, hal ini dapat dianggap sebagai penjumlahan pancaran terpolarisasi melingkat sesuai aturan tangan kanan dan tangan kiri yang merambat di dalam material dengan kecepatan-kecepatan yang berbeda. Ketika mereka diteruskan kembali, dua berkasd ini tergabung tapi perbedaan fasa diantara mereka menyebabkan berkas yang dipancarkan kembali memiliki bidang polarisasi yang terputar.

Dalam medium isotropik, tensor dielektriknya adalah

1

Z

iQ

y

ε ε

= ⎜ − Q

⎜ ⎝

iQ

Z

1

iQ

x

iQ

iQ

1

x

y

⎟ ⎠

(1)

Dimana

magnetnya dan besarnya tergantung jenis materialnya. Nilai-nilai off diagonal dari matriks tensor dielektrik di atas yang memberikan kontribusi pada efek-efek magneto- optik. Tensor tersebut membawa pada mode-mode yang terpolarisai normal secara

melingkar dengan konstantan dielektrik

perambatan cahaya. Mode-mode sirkular berjalan dengan kecepatan-kecepatan yang berbeda dan melemah secara berbeda. Gelombang-gelombang yang ditransmisikan kembali menggabung menghasilkan sumbu polarisasi yang terputar dan juga elliptik (perbedaan pelemahan menyebabkan polarisasi cahaya yang diteruskan kembali menjadi sedikit elliptik)

± =

Q = QQQ

x

y

z

(,

,)

dikenal sebagai vektor Voigt yang searah dengan medan

ε

(

1

±

Q.k

ˆ

)

ˆ

ε

, dengan

k adalah arah

Informasi tentang sifat-sifat fisika dan kimia suatu bahan dapat diperoleh dengan berbagai metode yang berbeda. Metode yang sangat ampuh adalah dengan menyelidiki interaksi radiasi elektromagnetik dengan material.

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

2

Interaksi antara radiasi elektromagnetik (cahaya) dengan material magnetik dapat membawa kita kepada efek-efek yang sangat menarik. Ketika cahaya terpolarisasi dipantulkan dari permukaan material magnetik, polarisasi dari berkas cahaya dapat berubah bergantung magnetisasi dari bahan yang lebih dikenal dengan magneto-optical Kerr effect.

Magneto-optical Kerr spectroscopy merupakan teknik sangat ampuh untuk memperoleh informasi struktur elektron senyawa magnetik. Secara umum, spektrum Kerr mengandung lebih banyak informasi dibandingkan spektrum yang diperoleh dengan spektroskopi optik biasanya. Tapi memerlukan representasi yang lebih rumit.

Studi magnet-magnet logam lebih baik menggunakan efek Kerr daripada efek Faraday karena logam menyerap cahaya jadi tidak bisa dipelajari dengan transmisi, mungkin bisa untuk sampel yang sangat tipis sekali. Efek Kerr juga beguna untuk lapisan tipis-lapisan tipis magnetik dan permukaan-permukaan, dalam kasus ini, teknik yang digunakan dikenal dengan SMOKE (Surface Magneto-Optic Kerr Effect). Teknik tersebut dapat digunakan selama penumbuhan lapisan tipis dalam chamber ultra-high vacuum (UHV) dengan melewatkan berkas laser melalui jendela chamber sedemikian sehingga berkas laser tersebut dapat mengenai sampel, memantul dan diteruskan keluar chamber melalui satu jendela yang lain dari chamber. Perubahan polarisasi cahaya dapat diamati menggunakan polarizer yang dibentangkan melintang.

Efek Kerr dapat dilakukan untuk berbagai macam geometri, dalam Polar Kerr Effect arah magnetisasi M tegak lurus dengan bidang lapisan tipis. Untuk M pada arah bidang lapisan tipis, maka dapat diukur Longitudinal Kerr Effect Untuk M pada arah bidang hamburan cahaya atau transverse Kerr Effect jika M tegak lurus dengan bidang datang cahaya. Disebabkan karena dapat dilakukan selama penumbuhan film, SMOKE sangat berguna untuk studi sifat magnetik permukaan, sifat magnetik lapisan tipis-lapisan tipis sebagai fungsi dari ketebalan lapisan tipis dan pengamatan keanisotropikan permukaan (sebagai contoh untuk mengetahui pada ketebalan lapisan tipis berapa magnetisasi berubah dari in-plane ke out-plane).

M
M

(a)

magne tisasi berubah dari in-plane ke out-plane ). M (a) M (b) M (c) Gambar 1.

M

(b)

M
M

(c)

Gambar 1. (a) Polar Kerr Effect; (b) Longitudinal Kerr Effect; (c) Transverse Kerr Effect

Efek-efek magneto-optik sangat berguna juga dalam perekaman data secara magnetik, hal ini dilakukan sejak orang dapat melakukan scanning berkas laser terpolarisasi yang melintang disk dengan sangat cepat dan mengukur informasi magnetik yang dikodekan pada disk dengan memanfaatkan perubahan-perubahan polarisasi cahaya terpantul.

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

3

Meskipun magneto-optik dapat digunakan untuk membaca informasi yang terkandung dalam disk, proses kebalikannya yaitu penulisan data dapat juga dilakukan dengan menggunakan suatu laser yang lain untuk memanaskan secara lokal daerah yang sangat kecil dari disk di atas Tc dan memberikan medan magnet pada disk; hanya daerah yang terpanasi berubah – informasi dari daerah selain ini dari disk tetap tidak berubah. Laser kemudian bergerak ke daerah yang lain untuk menuliskan bit berikutnya. Untuk aplikasi ini dibutuhkan efek Kerr yang besar untuk meminimalkan sinyal terhadap noise.

Sejak awal abad 21, mass storage data dengan disk sangat-sangat penting sekali. Sesuatu yang sangat fundamental untuk dipahami adalah mekanisme yang membawa pada magneto-optical Kerr effect

Magneto-optical Kerr effect diamati pada material yang memiliki pemantulan yang berbeda untuk cahaya terpolarisasi sirkular menurut tangan kiri dan tangan kanan. Dalam hal untuk memperlakukan sifat-sifat polarisasi material, deskripsi cahaya terpolarisasi yan sesuai sangat diperlukan.

Gelombang cahaya adalah elektromagntik dalam keadaan alaminya dan memerlukan empat vektor medan dasar untuk mendeskripsikannya secara lengkap. Kekuatan medan listrik E , rapat pergeseran listrik D , kekuatan medan magnet

H dan rapat flux magnet B . Dari empat vektor tersebut, kekuatan medan listrik E

dipilih untuk mendefinsikan keadaan polarisasi gelombang cahaya. Pilihan ini didasarkan pada kenyataan bahwa ketika cahaya berinteraksi dengan material, pengaruh gaya pada elektron yang ditimbulkan oleh medan listrik pada gelombang cahaya sangat besar bila dibandingkan dengan yang diberikan oleh medan magnet dari gelombang cahaya. Secara umum, jika polarisasi E dapat ditentukan, polarisasi

dari ketiga vektor medan D , H dan B sisanya dapat ditemukan. Hal ini disebabkan

E

,

D ,

H dan B

saling berhubungan menurut persamaan medan Maxwell.

Perhatian akan difokuskan pada polarisasi cahaya seperti yang didefinisikan oleh kelakuan vektor listrik E(,)r t yang teramati pada titik tertentu yang tetap dalam ruang r dan t .

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

4

Polarisasi elips

Sebuah gelombang cahaya dengan sebuah vektor listrik pada titik tetap dalam ruang yang melalui elips yang sama dalam bentuk pengulangan yang teratur dideskripsikan sebagai polarisasi elips pada titik tersebut. Jika kita tinjau bidang elips polarisasi berimpit dengan bidang kertas, dan arah perambatan gelombang cahaya mengarah keluar bidang kertas ke arah pembaca, orientasi dari elips ini, bentuk dan visualisasinya dapat digambarkan sebagai berikut.

y E t = 0 δ ϕ A x ε b a
y
E t
= 0
δ
ϕ
A
x
ε
b
a

Azimuth ϕ adalah sudut antara sumbu mayor elips dengan arah positif sumbu X yang mendefinisikan orientasi elips pada bidangnya.

Eliptisitas e menyatakan perbandingan panjang sumbu minor elips b dengan panjang sumbu mayor a, e = b/a. ε menyatakan sudut eliptisitas dimana e = tan ε .

Putaran polarisasi elips menentukan pada arah mana elips dideskripsikan. Parameter ini diasumsikan hanya memiliki dua nilai diskrit. Polarisasi tangan kanan jika elips bergerak searah jarum jam ketika melihat pada berkas. Polarisasi tangan kiri jika elips bergerak berlawanan arah jarum jam.

Amplitudo (ukuran) sebuah fibrasi eliptik didefinisikan dalam nilai panjang

sumbu mayor a dan panjang sumbu minor b,

ukuran kekuatan fibrasi eliptik dan kuadratnya sebanding dengan rapat energi gelombang pada titik observasi medan.

Aa= (

2

+ b

2

)

1/2

, yang menyatakan

Fase mutlak δ menyatakan sudut antara posisi awal vektor listrik pada saat t = 0 dengan sumbu mayor menurut gambar di atas.

Polarisasi linier dan sirkular

Keadaan-keadaan polarisasi linier dan sirkular merupakan kasus-kasus khusus dari keadaan umum polarisasi eliptik dan dibangkitkan ketika eliptisitas e berada pada

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

5

nilai-nilai khusus +/- 1dan nol. Nilai e = +1 menunjukkan keadaan terpolarisasi sirkular tangan kanan dimana e = -1 menunjukkan keadaan terpolarisasi sirkular tangan kiri. Ketika e = 0 gelombang-gelombang cahaya terpolarisasi linier. Kasus- kasus khusus ini digambarkan sebagai berikut.

y ε x
y
ε
x
y x ε
y
x
ε

(a)

y ε x
y
ε
x
y ε x
y
ε x
y L ε x
y L
ε
x
y R ε x (b)
y
R
ε x
(b)

Gambar 2. Kasus-kasus khusus polarisasi (a) linier dan (b) sirkular. L dan R menunjukkan polarisasi kanan dan

Gelombang bidang berjalan Transverse-Electrik (TE)

Vektor elektrik gelombang bidang berjalan transverse-electric terpolarisasi linier bergantung posisi dan waktu menurut persamaan berikut

E(rt, )

=

E

0

(

cos ωt

−+ kr.

δ u

)

(2)

u merepresentasikan konstanta vektor satuan dalam arah polarisasi linier, tegak lurus

arah perambatan gelombang yang diberikan vektor gelombang k .

amplitudo osilasi, tidak bergantung r dan t .

E adalah

0

Jika gelombang seperti itu merambat sepanjang arah positif sumbu z dari

koordinat cartesian xyz, right-handed, ortogonal dan jika vektor satuan u dan

u

dipilih sejajar dengan arah positif sumbu x dan y, vektor elektrik menjadi

E ( zt ,

)

=

E

x

cos

⎜ ⎝

2

⎞⎛⎤⎡

⎟⎜⎥⎢

⎠⎝⎦⎣

ωδ π

t

−+

λ

.

z

ωδ π

t

−+

λ

z

y

2

.

x

+

E

cos

xy

⎞⎤

⎟⎥ ⎠⎦

y

(3)

E

x

dan

E

y

merepresentasikan amplitudo-amplitudo linier, osilasi harmonik

komponen-komponen medan elektrik sepanjang sumbu-sumbu x dan y, dan δ dan

x

δ

y

merepresentasikan fase-fase yang bersesuaian dengan kondisi dari osilasi-osilasi ini.

x dan y adalah vektor satuan dalam arah sumbu-sumbu x dan y positif.

Untuk meninjau polarisasi gelombang dan modifikasinya oleh divais optik, kita tidak memerlukan ekspresi penuh dari gelombang yang diberikan pada pers.().

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

6

Dengan beberapa langkah sederhana deskripsi yang sesuai untuk gelombang cahaya dapat disusun.

Pertama-tama dituliskan vektor elektrik dalam bentuk 2x1 vektor kolom sebagai berikut.

Ezt (,)

⎡ ⎛ 2 π ⎞⎤ E cos ω tz − . + δ ⎢ ⎜
2
π
⎞⎤
E
cos
ω
tz
.
+
δ
⎠ ⎟⎥
x
x
λ
= ⎢
2
π
E
cos
ω
tz
.
+
δ
y
y
λ
⎠⎦ ⎟⎥

(4)

Karena komponen-komponen medan pada semua titik dalam ruang untuk medan monokromatik diketahui berosilasi secara sinusoidal dengan waktu pada frekuensi yang sama, sehingga

(

Ez

) = e

i

2

π

z

λ

E

x

E

y

e

e

i

δ

x

i

δ

y

⎥ ⎦

(5)

Kebergantungan pada waktu dapat dituliskan ulang

(

E zt

,

)

=

Re

⎡ ⎣

(

)

Eze

i

t

ω

⎤ ⎦

(6)

Langkah terakhir untuk mendeskripsikan secara matematis gelombang bidang TE menghilangkan informasi spasial gelombang dengan meninjau medan pada satu bidang yang tegak lurus, sebagai contoh bidang z = 0 dari sistem koordinat xyz. Jika z = 0 kita substitusikan pada pers.(), kita peroleh

E (0) =⎢ ⎢ ⎣

E

x

E

e

y e

i δ

x

i δ

y

⎥ ⎦

(7)

Vektor E(0) merupakan representasi yang diharapkan dari gelombang berjalan TE tunggal. Vektor pers.() disebut dengan vektor Jones untuk gelombang. Vektor Jones mengandung informasi yang lengkap tentang amplitudo-amplitudo dan fase-

fase komponen-komponen medan, hal ini dikarenakan polarisasi dari gelombang. Dari

vektor Jones E(0)

pada ruang dan waktu.

ini kita dapat menyusun ulang semua gelombang yang bergantung

(

Ezt

,

)

=

Re

E

(0)

(

it

ω

2)

π

z

e

λ

(8)

Untuk pembahasan berikutnya, kita tuliskan vektor Jones dengan notasi yang sederhana

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

7

Dimana

⎡ E ⎤ x E =⎢ ⎥ E ⎢ ⎣ y ⎦ ⎥ E =
E
x
E =⎢ ⎥
E
⎢ ⎣
y
⎦ ⎥
E
=
E
x
x

e

i

δ

x

dan

E

y

=

E y
E
y

e

δ

i

y

.

(9)

Intensitas I sebuah gelombang dapat diungkapkan sebagai penjumlahan kuadrat amplitudo-amplitudo osilasi-osilasi komponen sepanjang dua arah yang ortogonal.

2

I =+= EE + EE

xx

yy

2 E E x y
2
E
E
x y

*

*

(10)

Vektor Jones untuk beberapa keadaan polarisasi

Jika komponen-komponen

E

x

dan

E

y

vektor Jones mengasumsikan semua

nilai-nilai yang mungkin sebagai dua bilangan kompleks yang saling tidak bergantung, semua keadaan polarisasi yang mungkin untuk semua nilai yang mungkin dari intensitas dan fase diperoleh. Tinjau gelombang ternormalisasi ( I = 1), kita dapat melihat pada vektor Jones keadaan-keadaan polarisasi yang umum. Sebagai contoh, vektor-vektor Jones

⎡⎤

= ⎢⎥

0

⎣⎦

1

ε

x

dan

⎡⎤

= ⎢⎥

⎣⎦

0

1

ε

y

(11)

Merepresentasikan gelombang terpolarisasi linier dengan vektor-vektor elektrik menimbulkan osilasi harmonik sederhana sepanjang sumbu-sumbu x dan y.

Dengan satuan amplitudo dan fase nol (δ = 0 )Vektor-vektor Jones

ε

x

dan

ε

y

membentuk sebuah pasangan ortogonal. Untuk sebarang gelombang cahaya

terpolarisasi linier, vektor elektrik berosilasi sepanjang arah x yang umum pada muka

gelombang, miring terhadap sumbu x dengan sudut azimut α . Untuk gelombang seperti itu, vektor Jones diberikan oleh

ε

x

=

cos

sin

α

α

⎦ ⎥

(12)

Satu pasangan gelombang-gelombang ortogonal yang ditinjau adalah gelombang-gelombang terpolarisasi sirkular menurut aturan tangan kiri dan kanan vektor jones dinyatakan sebagai berikut.

1 ⎡ 1 ⎤ = ε 1 ⎣ ⎢ 2 − i ⎦ ⎥
1
1 ⎤
=
ε 1
⎣ ⎢
2
− i
⎦ ⎥

dan

1 ⎡⎤ 1 ε = ⎢⎥ r 2 i ⎣⎦
1
⎡⎤
1
ε
=
⎢⎥
r
2
i
⎣⎦

(13)

disusun,

memiiliki amplitudo yang sama. Dalam kasus keadaan sirkular-kiri komponen y

Osilasi-osilasi linier sepanjang sumbu x dan y dimana

ε

1

dan

ε

r

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

8

bergeser dari komponen x dengan sudut fase

π , dimana untuk keadaan sirkular-

2

kanan komponen y bergeser dari komponen x dengan sudut fase

untuk beberapa keadaan polarisasi diberikan sebagai berikut.

π

2

. Vektor Jones

y ε x
y
ε
x
⎡⎤ 1 ⎢⎥ 0 ⎣⎦ y ε x
⎡⎤
1
⎢⎥
0
⎣⎦
y ε
x

0

⎡⎤

⎢⎥

1

⎣⎦

y ε x
y
ε
x
⎡ cos α ⎤ sin ⎢ ⎣ α ⎥ ⎦ y ε x
cos
α ⎤
sin
⎢ ⎣
α ⎥ ⎦
y
ε x
y L ε x 1 ⎡ 1 ⎤ 2 − i ⎣ ⎢ ⎥ ⎦
y
L
ε
x
1
1 ⎤
2
− i
⎣ ⎢
⎥ ⎦
y R ε x
y
R
ε x

1

⎡⎤

⎢⎥

⎣⎦

i

⎡ sin α ⎤ − cos ⎣ ⎢ α ⎥ ⎦ y ε x ⎡
sin
α ⎤
− cos
⎣ ⎢
α ⎥ ⎦
y
ε
x
⎡ 0.76
+ j
0.24 ⎤
0.44
− j
0.42

1

2 y x ε ⎡ 0.44 + j 0.42 ⎢ − 0.76 + j 0.24
2
y
x
ε
⎡ 0.44
+ j
0.42
− 0.76
+ j
0.24
⎥ ⎦

Gambar . beberapa vektor Jones untuk beberapa keadaan polarisasi

Sebarang vektor Jones dapat disusun sebagai superposisi linier vektor-vektor Jones

ortonormal

ε

x

dan

ε y

,

E

x,y

= E ε + E ε

xx

yy

(14)

Pada kasus-kasus tertentu, seperti Kerr effect, lebih cocok digunakan vektor-

ε

1

dan

ε

r

pada pers.() sebagai basis yang berkenaan dengan

vektor Jones ortonormal

polarisasi sirkular menuru aturan tangan kanan dan kiri. Pada kasus ini, kita bisa menuliskan ulang pers.() sebagai berikut

E

x,y

= E ε+ E ε

11

rr

(15)

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

9

Dengan menggunakan ungkapan untuk vektor basis dapat kita tuliskan

Atau

ungkapan untuk vektor basis dapat kita tuliskan Atau E FE xy , = 1, r 1

E FE

xy

,

=

1,

r

1

i

;

1

F

⎤⎡ ⎤ E 1 ⎥ iE ⎦⎣ ⎥⎢ ⎦ r 1 ⎡ 1 1 ⎤
⎤⎡ ⎤
E
1
iE ⎦⎣ ⎥⎢ ⎦
r
1
1
1
=
2
− i
i
⎢ ⎣
⎥ ⎦

ε

1

dan

ε

r

dari pers.()

(16)

(17)

Dengan

E 1,r

adalah Vektor-vektor Jones untuk gelombang ketika polarisasi-

polarisasi sirkular tangan kanan dan kiri digunakan sebagai keadaan-keadaan basis.

F

merepresentasikan transformasi dari keadaan-keadaan basis sirkular ke linier.

Pers.() merepresentasikan tansformasi vektor Jones disebabkan berubahnya basis dari polarisasi- polarisasi sirkular yang memenuhi aturan tangan kiri dan kanan menjadi polarisasi- polarisasi cartesian x dan y.

Vektor- Vektor Jones Dan Cartesian Dari Keadaan Polarisasi Eliptik Yang Diberikan

Vektor Jones Cartesian dari fibrasi eliptik dengan satuan amplitudo (A=1), azimut nol (ϕ = 0 ), sudut eliptisitas ε dan mengacu pada sistem koordinat ( x, y) yang berhimpit dengan sumbu-sumbu mayor dan minor, dinyatakan

E

x

, y

= ⎢ ⎣

cos

i sin

ε

ε

⎥ ⎦

(18)

Mengalikan pers.() dengn

menggeser posisi awal vektor elektrik pada t = 0, perkalian pers.() berikutnya dengan

matriks rotasi maju R(ϕ) menghasilkn vektor Jones

Ae δ merubah amplitudo fibrasi dari satu ke A dan

i

Dengan

E ′′

x y

=

R (

)

ϕ

⎡ cos ε ⎤ i Ae δ R ( − ϕ ) i sin ⎢
cos
ε ⎤
i
Ae
δ R (
ϕ
)
i sin
⎢ ⎣
ε ⎥ ⎦
1
⎡ cos
ϕ
sin
ϕ
=
2
sin
ϕ
cos
ϕ
⎦ ⎥

(19)

(20)

Yang menggambarkan sebuah fibrasi eliptik amplitudo A , fase δ , azimut ϕ dan sudut eliptisitas ε (gambar berikut). Fibrasi eliptik yang sama dapat dinyatakan dengan sebuah vektor Jones sirkular:

i δ ⎡ ⎡ E Ae 1 ⎢ ⎢ ⎤ ⎥ = E ⎣ ⎦
i
δ
⎡ E
Ae
1
⎤ ⎥ =
E
2
r

(

(

cos

cos

ε

ε

+

sin

sin

ε

ε

)

)

e

e

i

ϕ

i

ϕ

(21)

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

10

y, y′ y, y′ ε δ =0 t=0 x, x′ A E t = 0
y, y′
y, y′
ε δ =0
t=0
x, x′
A
E t
= 0
ε δ
x, x′
y
y′
x′
E t
= 0
δ ϕ
A
x
ε

Gambar 4. dua langkah prosedur sintesis vektor Jones dari sebarang keadaan polarisasi

Sangat menguntungkan untuk menekan amplitudo dan fase mutlak serta mengenalkan variabel polarisasi χ

χ=

E

x

E

y

,

χ

=

E x E y
E
x
E
y

i

e

(

δ δ

x

y

)

(22)

Pers.(17) menyatakan pada kenyataannya ketika vektor medan listrik terpecah menjadi dua komponen sepanjang dua arah acuan pada muka gelombang, polarisasi

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

11

elips ditentukan secara lengkap dengan amplitudo relatif dan fase relatif satu komponen osilasi dengan memperhatikan komponen ortogonal yang lain.

Jika polarisasi sirkular tangan kanan dan kiri dipilih sebagai keadaan-keadaan basis, variabel polarisasi menjadi

E

χ=

r

E

1

,

χ

=

E r E 1
E
r
E
1

e

i (

δ δ

r

1

)

(23)

Hubungan antara variabel polarisasi kompleks sirkular χ dan azimut ϕ serta sudut eliptisitas ε elips polarisasi yang bersangkutan dapat diperoleh (dari pers.() dan pers.()) sebagai berikut

χ

tan(

=+

ε

π

)

e

2

i

ϕ

1

+

tan

ε

4

1

tan

ε

=

e

2

i

ϕ

(24)

Azimut ϕ dan sudut eliptisitas ε berhubungan dengan χ sebagai berikut

ϕ = −(1/ 2)arg()χ χ − 1 tan ε = χ + 1
ϕ = −(1/ 2)arg()χ
χ
− 1
tan
ε
=
χ
+ 1

(25)

(26)

Penjalaran Cahaya Terpolarisasi melalui Polarizing Optical Systems

Pada alat ukur efek Kerr sebuah berkas cahaya terpolarisasi dirambatkan melalui alat-alat optik berlapis yang setiap darinya menghasilkan perubahan yang spesifik terhadap keadaan polarisasi. Polarizing Optical Systems bisa terdiri dari polarizer, retarders, rotators dan reflektors.

y y′ x x′ (T) z z′ s E E i o
y
y′
x
x′
(T)
z
z′
s
E
E
i
o

Gambar 5. berkas datang dan yang diteruskan dari sistem optik s adalah

gelombang bidang dengan vektor-vektor jones

E dan

i

E

o

mengacu pada sistem koordinat Cartesian (x,y,z) untuk input

dan (x

′′′ , y , z

)

untuk output,

E

o

= (T)

E

i

dimana (T)

Interaksi antara gelombang datang dengan sistem optik direpresentasikan sebagai berikut.

E

ox

E

oy

=

T

11

T

21

T

12

T

22

E

⎤⎡⎤

⎥⎢⎥

⎦⎣⎦

E

ix

iy

Atau

E

o

= TE

i

(27)

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

12

Matriks 2 x 2 pada pers.() dikenal dengan matriks Jones sistem optik (atau devais) dan elemen-elemnnya secara umum adalah kompleks.

Sebagai contoh matriks Jones dari sebuah retarder linier dapat dituliskan

T

Dimana

=

e

i

δ

1


1

0 e

0

i

δ

(28)

δ =

2

π

d

λ

(

n

o

n

e

)

(29)

Adalah retardasi relatif (y mengacu pada x) dan δ adalah retardasi dari satu sumbu.

Besaran (

1

n

o

n

e

)

secara umum disebut birefringence medium.

Karena akan meninjau efek Kerr, sangat berguna untuk meninjau kasus pemantulan langsung dari antarmuka dua media, melintang dimana perubahan indeks bias dari satu medium ke medium lainnya diasumsikan sangat tajam (gambar 6).

Vektor-vektor pppelektrik datang dan terpantul

(sejajar bidang datang) dan s (tegak lurus dengan bidang datang).

E

i

dan

E

r terurai sepanjang arah p

s

s s p p E E i r
s
s
p
p
E
E
i
r

Gambir 7. pantulan langsung cahaya oleh permukaan S, p dan s tegak lurus dengan arah perambatan dan sejajar dan tegak lurus dengan arah gelombang datang

Pengaruh dari pantulan diberikan oleh

E

r

= RE

i

Dengan matriks Jones R adalah

R =

i δ R 0 ⎡ R e pp 0 ⎤ ⎡ ⎤ pp pp =
i
δ
R
0
R
e
pp
0
pp
pp
= ⎢
0
R
i
δ
R
e
ss
ss
⎢ ⎣ 0
ss

(30)

(31)

Deskripsi polarisasi cahaya dengan matriks dan vektor Jones digunakan untuk menghitung efek Kerr dari besaran-besaran terukur pada alat ukur efek Kerr.

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

13

Asal Mula Efek Kerr

Ketika cahaya terpolarisasi linier dipantulkan dari suatu permukaan material magnetik, cahaya yang dipantulkan secara umum terpolarisasi eliptik. Dalam kasus

efek Kerr polar vektor propagasi cahaya tegak lurus permukaan. (gambar

)

datang

Sudut

cahaya tegak lurus permukaan. (gambar ) datang Sudut Sudut rotasi Gambar … cahaya terpolarisasi linier

Sudut rotasi

Gambar … cahaya terpolarisasi linier terpantul dari permukaan magnetik terpolarisasi eliptik

Cahaya terpolarisasi secara eliptik sebagai akibat perbedaan koefisien refleksi cahaya terpolarisasi sirkular menurut aturan tangan-kanan dan –kiri. Variabel polarisasi χ polarisasi elips didefinisikan untuk cahaya terpantul adalah

χ

E

+

R

+

=== tan

E

R

ψ

e

i

Δ

(32)

Dimana E + = R + adalah amplitudo pantulan untuk cahaya terpolarisasi sirkular kanan, E = R untuk cahaya terplarisasi sirkular kiri. Persamaan ini digunakan untuk menghitung rotasi Kerr ϕ dan sudut eliptisitas ε . Sekarang kita punya

k

k

R

+

χ ==

R

(

N

+

)(

1/

N

+

+

1

)

(

N

)(

1/

N

+

1

)

=

1

1

+

tan

tan

ε

k

ε

k

e

2

i

ϕ

k

(33)

Dimana N + adala indeks bias kompleks untuk cahaya terpolarisasi sirkular tangan kanan. Indeks bias dihubungkan ke konstanta dielektrik oleh

N

+−

/

=

+− / ε
+−
/
ε

(34)

Jika kita merubah vektor-vektor basis dari polarisasi sirkular tangan-kanan dan –kiri menjadi polarisasi Cartersian x dan y, tensor dielektrik untuk kristal dengan simetri kubik akan berbentuk

ε

ε

xx

ε

xy

= ⎜ −

⎜ ⎝

0

εε

xy

xx

0

Dan kita peroleh (

N

+

0

0

ε

xx

⎟ ⎠

)

2

=

ε

xx

+

iε

xy

dan (

N

2

) =

ε

xx

iε

xy

.

(35)

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

14

Pers.() valid hingga nilai-nilai linier dalam magnetisasi (atau medan magnet).

Nilai-nilai kuadratik atau yang lebih tinggi menyebabkan perbedaan antara ε

zz

ε =

xx

ε

yy

.

dan

Kombinasi pers.() dan () hubungan antara efek Kerr dan elemen-elemen tensor

dielektrik diperoleh untuk nilai ϕ

k

ϕ

k

+

i

ε

k

=

ε xy ε (1 − ε ) xx xx
ε xy
ε
(1
− ε
)
xx
xx

dan ε

k

yang kecil

(36)

Konstanta dielektrik dihubungkan dengan konduktifitas oleh

(

ε ω

ij

)

=

δ

ij

+

4 πi

ω ij

σω

(

)

(37)

Bagian off-diagonal ε

xy

(dan σ

xy

) adalah efek Kerr magneto-optik awal, dan

memilki kontribusi dari transisi elektronik interband dan intraband . sangat ′′

menguntungkan membahas bagian absorptif off-diagonal

berhubungan dengan bagian dispersi oleh hubungan Kramer-Kronig.

dituliskan sebagai penjumlahan kontribusi-kontribusi terpisah dari keadaan-keadaan elektron spin-up dan spin-down

σ xy

dari σ yang

′′

(

σ ω

xy

)

dapat

σ ωσ ωσ ω

xy

=

xy

xy

′′

()

′′

()

+

′′

()

(38)

Kontribusi dari keadaan-keadaan spin-up diberikan oleh

σ

′′

xy

(

ω

)

=

2 π e 2 2 − + ∑ { β π α −− β π
2
π
e
2
2
+
{
β π α
−−
β π α
}(
δω
2
↑↑
↑↑
βα
4
h mV
υ
αβ

ω

)

(39)

Dimana π adalah operator momentum termasuk kontribusi spin-orbit dan volume sampel V. ungkapan untuk keadaan-keadaan spin-down adalah identik dengan keadaan-keadaan spin-up digantikan dengan keadaan-keadaan spin-down.

(a) (b) m l (c) l=0 (1) (1) 0 - - + + - -
(a)
(b)
m l
(c)
l=0
(1)
(1)
0
-
- + +
-
- + -
+
+
1 m
l
(3)
spin
0
-1 1
(3)
l=1
(6)
0
-1

J =

3/2

J =

1/2

Gambar …Transisi optik dari sebuah keadaan l = 1 ke l = 0. (a) kasus non-magnetik, pada energi transisi, transisi- transisi + dan – adalah mungkin: tanpa efek Kerr; (b) kasus magnetik tanpa melibatkan kopling spin-orbit :

tidak ada efek Kerr; (c) kasus magnetik dengan melibatkan kopling spin-orbit: transisi-transisi + dan – terjadi pada energi-energi yang berbeda menghasilkan efek Kerr

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

15

dengan

orbital

Elemen-elemen matriks dipol adalah tidak nol hanya untuk transisi-transisi

Δm 1 . Spin-orbit coupling menaikkan degenerasi bilangan kuantum m yang sangat diperlukan untuk memperoleh efek Kerr.

l

l

Contoh dari transisi aktif Kerr diberikan pada gambar di atas. Kita tinjau sebuah transisi optik dari sebuah keadaan l = 1 ke l = 0 . Untuk cahaya terpolarisasi

menurut aturan tangan kanan aturan seleksi adalah

terpolarisasi menurut aturan tangan kiri

oleh gaya-gaya kuat, degenerasi bilangan kuantum

Jika kita masukkan interaksi spin-orbit (c), perbedaan absorpsi teramati untuk cahaya terpolarisasi menurut aturan tangan-kanan dan –kiri yang dihasilkan dalam efek Kerr.

Δm = 1 , sedangkan untuk cahaya

l

Δm = − 1 . Dalam ferromagnet, disebabkan

l

m dinaikkan (gambar diatas b).

l

Interpretasi sebuah spektrum Kerr akan secara umum didasarkan pada diskusi

bagian absorpsi elemen-elemen off-diagonal σ

xy

(

ω

)

atau

ε

xy

(

)

ω . Rotasi Kerr dan

sudut eliptisitas juga akan bergantung pada elemen-elemen diagonal tensor dielektrik (pers.5) yang dapat memainkan peranan penting dalam kasus-kasus tertentu.

Perhitungan efek Kerr

Perubahan polarisasi berkas cahaya yang melewati alat ukur efek Kerr dinyatakan oleh vektor-vektor dan matriks-matriks Jones. Lintasan optik dari berkas cahaya secara skematik ditunjukkan pada gambar di bawah ini

Analyzer Detektor Samp Photoelastic modulator Polarizer 0 θ
Analyzer
Detektor
Samp
Photoelastic modulator
Polarizer
0
θ

Gambar lintasan optic berkas cahaya

Ungkapan polarisasi berkas cahaya adalah

E

f

Dimana

E

i

=

AF

×

⎡⎤

= ⎢⎥

⎣⎦

1

0

1

SFM

×× ×

×

R

(

0

45 )

×

E

i

(40)

(41)

Adalah berkas cahaya setelah melalui polarizer,

R

(

45

0

)

=

⎡ 1 − 1 ⎤ 1 ⎢ 2 1 1 ⎣ ⎦ ⎥
⎡ 1 − 1 ⎤
1
2
1
1
⎦ ⎥

(42)

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

16

Adalah matriks rotasi.

M

= ⎢

e

0

i

δ

0

1

, δ = (π / 2)sin (ωωt), = 50 KHz

Ungkapan photoelastic modulator,

F

1

=

1 ⎡ ⎢ 2 ⎣
1
2

1

1 ⎥ ⎦

i

i

dan

Adalah matriks transformasi,

S

= ⎢

R

0

+

0

R

F

=

1 ⎡ 1 1 ⎤ ⎢ 2 − i i ⎣ ⎥ ⎦
1
1
1
2
i
i
⎥ ⎦

(43)

(44)

(45)

Mengungkapkan refleksi cahaya terpolarisasi sirkular tangan-kanan dan –kiri. Analyzer adalah sebagai berikut

A

= ⎢ ⎣

1

0

0

0

⎦ ⎥

(46)

Vektor Jones

E

f medan listrik cahaya jatuh pada detektor dihitung sebagai berikut

E

f

=

1 ⎡ ⎢ 8 ⎢ ⎣
1
8

R

+

(

e

δ

i

)

i

++

0 ⎥ ⎦

(

Re

i

δ

i

)

Intensitas berkas cahaya pada detektor adalah

I = E

*

f

.

E

f

Jika kita memasukkan koefisien-refleksi

ρ

R

++

re

+

i δ

r

+

==

=

R

r

e

i δ

r

e

i

(

+

δ δ

)

Dan sudut elipsometri ψ dan Δ adalah

tan

ψ

=

r

+

r

,

Δ= −

δ δ

+

Intensitas berkas cahaya adalah

I

=

1

4

2

( ){

r

1

+

tan

2

ψ

[

1

+

sin

δ

]

2 tan

ψ

 

(47)

(48)

(49)

sin

Δ−

cos

δδ

sin

}

(50)

(51)

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

17

Fungsi-fungsi kosinus dan sinus dapat diekspansikan dalam fungsi Bessel sebagai berikut

sin

cos

δ

=

=

sin

⎡⎛ ⎞ ⎣⎝ ⎟ ⎠

⎢⎜

π

2

2

J

2

k

+

1

k

=

0

sin

⎜ ⎝

π

2

(

⎟ ⎠

t

ω

)

sin

δ

= cos

⎡⎛ ⎞

⎢⎜

⎣⎝ ⎠

π

2

sin

(

t

ω

⎡ ⎣

(

)

2

k

=

J

0

⎛⎞ ⎝⎠ ⎜⎟ 2

π

⎛⎞ ⎝⎠ ⎜⎟ 2

π

2

k

+ 2

k

=

1

J

+

1

)

t

ω

⎤ ⎦

[

cos 2

kt

ω

]

Dimana

Intensitas dapat dituliskan sebagai

J

m

(

)

A adalah fungsi Bessel orde ke-m dan argumen A .

II

=+

0

I

ω

sin

(

)

t

ω +

I

2

ω

cos

(

)

t

ω +

=

2

⎪⎣ ⎩

⎪− 4 tan

⎜ ⎝

π

⎟ ⎠

+

sin

t

πω

)

(

)

2

⎪⎡ ⎪

+− tan

ψ

1

2

⎟ ⎠ + sin t πω ) ( ) 2 ⎪⎡ ⎪ ⎨ +− tan ψ

⎛⎞

⎜⎟

⎝⎠

π

2 tan

2

0

2

⎛⎞⎤

⎜⎟

2

⎝⎠⎦

π

cos

(

2

2 tan

ψ

sin

Δ

. J

1

(

rJ J

.

−+

1

ψ

.

sin

Δ J

.

⎛ ⎞⎤

⎟⎥

⎝ ⎠⎦

π

2

1

42

ψ

t

ω

)

+

(52)

(53)

Perbandingan amplitudo komponen-komponen frekuensi yang berbeda digunakan untuk menghitung efek Kerr

I

ω

I

0

=

 

2

(

tan

2

ψ

1

)

J 1 (

π

/ 2

)

1

+−

tan

2

ψψ

2 tan

sin

Δ

.

J

0

(

π

/ 2

)

I

2

ω

I

0

=

4 tan

ψ

sin

Δ J

.

2

(

π

/ 2

)

1

+−

tan

2

ψψ

2 tan

sin

Δ

.

J

0

(

π

/ 2

)

(54)

(55)

Cahaya terpolarisasi linier terpantul dari suatu permukaan diungkapkan oleh variabel polarisasi

χ

E

+

R

+

=== tan

E

R

ψ

e

i

Δ

(56)

Rotasi Kerr dan sudut eliptisitas ε dikaitkan dengan χ oleh

ϕ

k

= −

(1/ 2)arg()

χ

(57)

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

18

tan

ε

k

=

χ − 1 χ + 1
χ
− 1
χ
+ 1

(58)

Perhitungan Efek Kerr Dari Sinyal-Sinyal Terukur

I

ω

Perbandingan

Q

=

W

=

F

2

I

0

ω

+

ω

2

,

ω

dan

I

F

ω

0

+

I

I

I

0

I

2

ω

I

,

0

ditentukan untuk dua arah medan magnet

Q

W

=

=

F

ω

I

ω

F

2

I

0

ω

I

2

ω

I

0

(59)

(60)

dimana F ω dan 100 KHz.

I

ω

1

=

I

I

2

2

ω

ω

2

1

=

I

0

2

F ω adalah nilai-nilai offset untuk komponen-komponen 50 KHz dan

2

(

(

Q

W

Q

W

)

)

(61)

(62)

Untuk sudut-sudut kecil kita punya sin Δ 1 dan tanψ 1 dan

 

tan

2

 

I ω = 2

π

 

ψ

1

I

0

J 1 ⎝ ⎜

2

4 tan

tan

2

ψ

sin

ψ

Δ

.

+

J

1

π

⎟ ⎠

I

2

ω

=

2

⎜ ⎝

2

I

0

 

tan

2

ψ

+

1

(63)

(64)

Dari pers.(20) dan (21) tanψ dan Δ dihitung. Dengan menggunakan pers.(16) rotasi Kerr dan sudut eliptisitas diberikan oleh

ϕ

k

=− (1/2)

Δ

tan

ε

k

=

tan

ψ

1

tan

ψ

+

1

(65)

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti

19

Tugas terstruktur matakuliah Divais Fotonik – Bakti