Anda di halaman 1dari 6

DRAFT RENCANA KONSELING INDIVIDUAL KONSELING REALITA 1. IDENTITAS A.

IDENTITAS KONSELOR Nama Tempat tanggal lahir Pendidikan Alamat : M. Eko Fajarianto : Purworejo, 30 Agustus 1987 :S1 : Asrama UNNES

B. IDENTITAS SISWA Nama Tempat tanggal lahir Pendidikan Alamat : KM : Semarang, 20 Maret 1999 : SMP : Jalan Jomblang timur no 815 D RT 5 / 5

2. IDENTIFIKASI MASALAH a. Berdasarkan hasil ITP Hasil ITP siswa mempunyai aspek rendah pada kematangan emosional butir 3.3 ( saya menghormati orang tua sebagaimana orang lain menghormatinya ) dengan skor 2. Dari pernyataan butir tadi maka siswa dapt dikatakan memiliki aspek kematangan emosional yang rendah. Berkaitan dengan standar kemandirian peserta didik anak SMP maka siswa tersebut mengalami kendala dalam tindakannya mengekpresikan perasaan secara konstektual / tepat. Kemungkinan sikap yang timbul apabila siswa tidak bisa mengekpresikan perasaan secara konstektual adalah mudah marah, sensitif, pendiam.

b. Wawancara 1. Dengan siswa ( KM ) Berdasarkan wawancara dengan KM siswa mengakui kalau dia tidak begitu menyukai sikap kedua orang tuanya. Tidak menyukai karena menurut siswa

orang tuanya itu pilih kasih. Ia iri dengan kakaknya yang sudah kuliah yang sering minta uang dikasih sementara dia kalau minta jarang diberi. Minta uang disini maksudnya siswa minta uang di luar jatah uang sakunya. 2. Dengan guru BK Menurut pengakuan guru BK KM di sekolah termasuk anak yang lumayan antusiasme naik turun terhadap pelajaran. Contohnya ketika guru BK memberi layanan klasikal apabila KM merasa tertarik maka setiap ada hal yang kurang jelas KM bertanya. Namun apabila materi yang diberikan kurang menarik oleh KM maka KM cenderung untuk diam saja.

c. Dokumentasi buku kasus siswa Berdasarkan catatan kasus yang dimilki guru BK ternyata KM itu pernah dikonselingi oleh guru BK pada tanggal 16 Februari 2013. Kasus yang dilakukan konseling oleh guru BK dahulu adalah karena KM sering datang terlambat ke sekolah. Ketika itu KM dalam seminggu telat 3 kali saat sekolah.

3. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan identitas masalah tadi gejala yang muncul pada diri KM adalah ketidak mampuan mengekpresikan perasaan secara konstektual sehingga timbul sifat mudah marah, sensitif, pendiam. Sementara dari hasil wawancara perilaku KM adalah karena siswa tersebut iri dengan sikap orang tuanya yang dirasa pilih kasih. Saat pelajaran sikap KM juga tergantung dari mood nya dalam menerima pelajaran. Sikap dan pikiran tersebut adalah yang ditunjukan oleh KM dalam kesehariannya. Dalam pembahasan konseling ini yang akan difokuskan adalah pada pemikiran bahwa orang tuanya itu pilih kasih. Hal ini dikarenakan menurut interprestasi konselor adalah pemicu dari timbulnya sikap atau pemikiran yang lain yang diutarakan tadi. Apabila siswa mampu membuang opini bahwa orang tuanya pilih kasih maka sikap atau pemikiran lain akan tereduksi dengan sendirinya.

4. MODEL DAN PROSEDUR A. Model yang digunakan adalah konseling realita dengan teknik sebagai berikut : Paradoksial reframe

Pengembangan ketrampilan asertif

B. Prosedur 1. Opening a. Acceptence (penerimaan) Konselor mempersilahkan siswa masuk Berjabat tangan dengan siswa Perbincangan topik netral ( Bertanya bagaimana kabarnya, sebelum bertemu dengan guru BK tadi ada pelajaran apa, berbincang topik masalah K pop )

b. Atending ( perhatian ) Posisi duduk tegap Mendengarkan argument siswa Perhatian terpusat pada klien

2. Want and needs a. Restatment ( pengulangan ) Konselor mengulang pernyataan klien ( .....oh.....berarti kamu merasa bahwa orang tuamu itu punya sifat pilih kasih ya...... )

b. Reflection of feeling ( pantulan perasaan ) Memberi respon akan pernyataan yang dilakukan siswa sehingga siswa merasa ikut merasakan apa yang dirasakan siswa ( ......Bapak bisa memahami seandainya orang tua bapak juga pilih kasih......) c. Reassurance ( penguatan ) Penguatan pernyataan positif klien sehingga lebih percaya diri

( .....bagus....bapak setuju dengan pernyataan kamu bahwa meskipun kamu merasa orang tuamu pilih kasih tetapi kamu harus tetap menghormatinya...)

3. Doing and direction a. Structuring Membatasi proses konseling agar sesuai dengan tujuan ( .........Supaya pembicaraan kita enak, tidak melebar lebar kemana mana dan supaya kamu tidak pusing maka nanti yang akan kita bicarakan hanya pada masalah kamu yang merasa orang tuamu pilih kasih ya.... ) b. Interprestasi ( penafsiran ) Menggali motif siswa dalam berperilaku ( ..... ayo...coba ceritakan lagi apa yang menjadi masalah kamu....tidak usah takut sama bapak...ceritakanlah semuanya... ) c. Silent ( diam ) Berhenti sejenak memberikan jeda pada siswa untuk mengorganisasikan kata kata selanjutnya ( ......mari kita merenung sejenak supaya kamu nanti bisa lebih enak bercerita.......) d. Paraprashing ( paraprase ) Konselor menyatakan kembali esensi dari ucapan siswa ( .........ya...bapak sudah paham sekarang... intinya kamu itu merasa orang tuamu pilih kasih ya..... )

4. Evaluation Summary ( ringkasan ) Konselor meringkas / menyimpulkan isi pembicaraan konseling ( .... dari pembicaraan yang kita lakukan tadi maka hal hal yang perlu kita garis bawahi adalah.............. )

5. Planing a. Rejection ( penolakan ) Penolakan pada rencana klien yang membahayakan dirinya ( ........sebaiknya jangan......menurut bapak rencana kamu itu tidak tepat ...)

b. Advice ( saran ) Advice persuasif mengenai perencanaan tindakan yang logis ( .... saran bapak lakukanlah hal hal bisa dipertanggungjawabkan.......)

6. Pengakhiran Termination Mengakhiri proses konseling dengan menunjukan batasan waktu (........sesuai dengan kesepakatan awal tadi maka sepertinya waktu untuk kegiatan ini sudah habis .... kita akhiri dulu untuk hari ini... kalau kamu ada masalah lagi jangan sungkan menemui bapak ya....)

5. PROSEDUR TEKNIK a. Paradoksial Reframe Konselor berusaha merubah cara pikir siswa dari pikiran negatif menjadi pikiran positif. Dalam kasus ini paradoksial reframe tujuannya adalah merubah pikiran klien dari pikiran yang ia merasa orang tuanya pilih kasih menjadi pemikiran bahwa orang tuanya menyayangi dia. Menyayangi dapat diartikan sikap orang tuanya selama ini adalah suatu ujian untuk naik tingkatan menjadi lebih baik. Konselor membuka pikiran klien bahwa nanti apabila siswa tersebut sudah mampu melewati tahap ini maka akan naik tingkat seperti kakaknya. Konselor juga membangun pemahaman pada siswa bahwa dulu pun kakaknya juga mengalami masa masa yang dialami siswa saat ini. b. Pengembangan ketrampilan asertif

Setelah siswa mampu merubah pemikirannya teknik selanjutnya yang dipakai adalah pengembangan ketrampilan afektif. Maksud dari pemberian teknik ini adalah siswa mampu membangun komunikasi dengan ortunya dengan baik. Pemberian ketrampilan asertif dilakukan melalui sikap yang baik saat bicara dengan orang tua, bahasa non verbal dalam berbicara.

6. EVALUASI Laiseg : UCA a. Apa yang bisa kamu ambil manfaat dari kegiatan konseling tadi ? b. Bagaimana perasaan kamu setelah melakukan kegiatan konseling tadi ? c. Apakah yang akan kamu lakukan setelah mendapat layanan konseling tadi ?