Anda di halaman 1dari 22

PENGANTAR ILMU FIQH & USHL al-FIQH

Oleh: Syakir Jamaluddin, MA.

Kata fiqh / scara bahasa berarti:


( pengetahuan)
atau ( pemahaman), atau menurut Abu Zahrah
adalah
yaitu pemahaman yg mendalam.
Pengertian fiqh menurut istilah adalah:

"Ilmu yg menerangkan ttg hukum2 syar`i yg berkaitan


dg perbuatan pr mukallaf yg dikeluarkan dr dalil2nya
yg terinci."
Obyek ilmu fiqh adalah segala perkataan & perbuatan
para mukallaf dari segi hukum.

Fiqh bukanlah hukum syar`i (/Syari`ah) itu sendiri, tapi


interpretasi terhadap hukum syar`i. Syari`ah adalah:

Titah Allah yang berhubungan dengan perbuatan para


mukallaf, baik berupa tuntutan (untuk melaksanakan
atau meninggalkan), pilihan, maupun berupa wadh`i
(syarat, sebab, halangan, sah, batal, dan rukhshah).

Selain istilah fiqh di atas, dikenal juga istilah

(dasar-dasar fiqh) yaitu kaidah-kaidah yang dijadikan


sarana /dasar utk mengistinbthkan (menggali/mengeluarkan) hukum Islam dari dalil-dalilnya yang terinci.
Hal-hal yang dibicarakan dlm ushul al-fiqh adalah kaidahkaidah fiqhiyyah, kaidah-kaidah ushuliyyah, kaidah-kaidah
bahasa, dan metode-metode dalam berijtihad.

Pembagian Fiqh
Secara garis besar fiqh dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Fiqh Ibadah (dalam arti sempit = `ibdah
mahdlah/`ibdah khshshah) yang membhs sekitar
perkataan & perbuatan para mukallaf yg berkaitan
langsung dg Allah SWT, seperti: masalah2 thaharah,
shalat, zakat, puasa & haji.

2. Fiqh Mu`amalah (dlm arti luas) yg membhs sekitar


perkataan & perbuatan para mukallaf yg berkaitan dg
sesamanya, seperti: masalah bisnis/jual-beli,
perkawinan & perceraian, waris, peradilan, hukum
pidana, sampai pada masalah kenegaraan, & hubungan
internasional.

Sumber & Dasar Hukum Islam


Pada dasarnya sumber hukum Islam hanya ada dua yakni:
1. Al-Qur'an
2. Al-Sunnah yg diceritakan dlm hadits maqbul.
Adapun ttg ijma` (ksepakatan sluruh ulama), qiys
(penganalogian), istihsn (mengambil dalil yg lebih
baik/cocok krn adanya dalil syara yg menghendaki dmk),
istishlh (menetapkan hukum berdsrkn pd kemslhtn
smata), dll, sesungguhnya lebih merupakan metode dalam
berijtihad yang kemudian dijadikan sbg dasar/dalil hukum
) , bukan sbg sumber hukum. Sementara
Islam (
Al-Quran & al-Sunnah, di samping sbg sumber hukum
juga sekaligus menjadi dasar hukum Islam.

Kehujjahan Al-Quran

--yg scr bahasa berarti: bacaan sempurna adalah:

Kalam Allah SWT yg diturunkan kpd Nabi Muham-mad


saw sbg mujizat & pedoman hidup utk kemash-lahatan
mans, yg pembacaannya mrpkn suatu ibadah.
Sbg pedoman hidup utama, Al-Q hrs dijadikan sbg sumber
hukum & tolok-ukur kebenaran utk menyelesaikan segala
persoalan mans.




(QS. 4: 105)

)Qs. 7: 3)

Kenapa harus Al-Quran?


Jawab: Karena hanya Al-Quran satu2nya Kitab Suci yg
masih terpelihara kesuciannya dari perubahan akibat ulah
jahil mans.
Kesucian Al-Q dpt terjaga krn adanya jaminan penjagaan Allah

(Qs. 15 : 9)

Bentuk penjagaan dr Allah al, Dia menurnkannya berbhs Arab:

)Qs. 12: 2)

Inilah al. yg menyebabkan Al-Q terpelihara dari perubahan:




)Qs. 39: 28)

Hanya Al-Quran yg tetap terpelihara kesuciannya yang


mampu membuat manusia terpelihara fitrah/penciptaannya sbg makhluq yg memiliki instink/naluri, akalnurani, & beragama dg satu Tuhan.

Kehujjahan al-Sunnah
Al-Sunnah yg diceritakan melalui hadis Nabi adalah:

Segala hal yg disandarkan kpd Nabi saw, baik berupa perkataan,


perbuatan, persetujuan, ataupun sifat beliau.

Kehujjahan al-Sunnah/al-hadits didsrkan pd firman Allah :


()7 :

...

()59 :

()80 :

Oleh krn tidak semua hal dijelaskan scr rinci dlm Al-Q, maka Allah
SWT mengutus Rasul-Nya utk menjelaskan Al-Q melalui hadis2nya:

)(Qs. 16: 44

Hanya hadis maqbl yang dpt diterima sbg hujjah, yaitu:


1. Hadis Shahih (scr bahasa: sehat / benar) ,yaitu:

Hadis yg diriwayatkan oleh periwayat yg adil (muslim yg memiliki


integritas akhlaq), dlabith (sempurna kekuatan hapalannya),
bersambung sanad-nya, tidak bercacat & tidak
janggal/menyimpang.
Hadis yg paling sahih adalah hadis mutawtir, yaitu: Hds yg jumlah
prwytnya banyak pd setiap level shg menurut adat tdk mungkin mrk
bersepakat utk berdusta.
2. Hadis Hasan, yaitu hadis yg memenuhi kualifikasi hds sahih,
kecuali dlm hal hapalan yang kurang begitu kuat.
Adapun hadis mardd (ditolak sbg hujjah), yakni:
1. Hadis dlaf (lemah), yaitu: hadis yg tidak terkumpul syaratsyarat hadis maqbul (yakni: syarat hadis sahih & hasan)
2. Hadis dlaif jiddan (lemah sekali), sprti: hds mawdlu (palsu),
yaitu: hds yg dibuat-buat & disandarkan pd Nabi saw



Tujuan Hukum Islam /

Semua hukum yang disyari`atkan Allah SWT bertujuan


untuk merealisir kemashlahatan manusia.
Tingkat kemashlahatan:
I. Dlarriyt, yi: mutlak hrs ada krn sngt penting &
mendesak. Hal yg bersifat dlarriy mengacu kpd 5
pemeliharaan, yakni:


1)

4)

2)

5)

;
3)

II. Hjjiyt => dibutuhkan utk menghilangkan kesulitan &


kesempitan, tapi tdk sampai pada tingkat membahayakan.
III. Tahsniyt/takmliyt => sebaiknya ada utk
kesempurnaan hidup. Kalaupun tdk ada mk tdk akan
menimbulkan kesulitan, apalagi kemadlaratan dlm hidup.

Asas-asas Hukum Islam


1. Meniadakan kesempitan (
)

Hal ini didasarkan pd firman Allah al. dlm QS. Al-Hajj/22 : 78:

Lihat juga QS. Al-Baqarah/2: 185, 286.


Hadis:

: Sungguh agama itu mudah. (HR. Bukhari)

2. Menyedikitkan beban (

)
Hal ini didasarkan pd QS. Al-Ma'idah/5: 101 :


Al-Q sendiri tidak banyak merinci persoalan hukum, tapi lbh
banyak menginformasikan mslh/prinsip2 umum.

3. Berangsur2 dlm menetapkn hukum (



)
Contoh: Pengharaman khamr hingga 4 tahap: (I) QS. 16:
67; (II) 2: 219; (III) 4: 43; (IV) 5: 90-91.
)
4. Sejalan dengan kemashlahatan manusia (

Tidak satupun hukum Allah yg tidak mempunyai tujuan.


Dan, Syari`at Islam ditetapkan oleh Allah SWT tdk lain
kecuali hanya untuk kemaslahatan umat manusia, di
dunia maupun di akhirat.
5. Mewujudkan keadilan.
Islam yg dibw pr Rasul dg bekal Kitab Suci memiliki misi
utk menegakkn hkm dg adil. Firman Allah dlm 57: 25 :

Konsep persamaan kedudukan mans di muka hukum


harus mengacu pd konsep Tuhan yg menyamakan
kedudukan mans di hadapan-Nya.



)(QS.4:135

)(QS. 5: 8

Metode Penetapan Hukum Islam


Langkah awal dlm mencari kepastian hukum adalah dg merujuk
pada sumber hukum utama dalam Islam, yakni:
1. Al-Qur'an
2. Al-Sunnah yang diceritakan dlm hadis-hadis maqbl.

Bila pada keduanya juga tidak ditemukan kepastian hukumnya,


maka barulah melakukan ijtihd yi: mengerahkan sgl kemampuan
) ( berpikir dlm menggali sumber ajaran Islam utk
mendapatkan kepastian hukumnya berdasarkan wahyu dengan
metode dan pendekatan tertentu.
Yang harus diingat dlm berijtihad bahwa masalah yang akan dicari
jawabannya benar-benar persoalan baru yang rincian hukumnya
tidak dijelaskan di dalam Al-Qur'an maupun dalam al-Sunnah, atau
masalah yang terdapat pada dalil2 dzanni (dalil2 yg tdk pasti
penunjukan hukumnya / relativ).

Cara praktis-sistimatis dlm berijtihad


1. Mencari definisi yang tepat terhadap masalah baru yang akan
dibahas.
2. Melakukan penelusuran data ttg seberapa besar kemadlaratan
yang mungkin ditimbulkan oleh masalah tersebut & seberapa
besar manfaat / kemashlahatan yang bisa diraih.
Pada langkah ini harus melibatkan pakar yg berkompeten dari
berbagai disiplin ilmu, spti: pakar medis, pakar bahasa,
sejarawan, sosiolog, antropolog atau bisa juga ekonom.
3. Melakukan ijtihad dengan menggunakan metode ijtihad yang
dijadikan sbg dasar ijtihad.
4. Menyimpulkan hasil ijtihad.

Menyadari bahwa proses ijtihad tidaklah gampang maka ada bbrp


syarat yang harus dipenuhi bagi seorang mujtahid.

Syarat Mujtahid
1. Memiliki integritas kepribadian sbg muslim sejati, yakni: memiliki
aqidah yg benar & akhlaq yg baik (spt: jujur, adil, amanah, dsm),
melaksanakan ajarn Islam scr menyeluruh )ibadah & muamalah).
2. Menguasai materi hukum yg tdpt dlm Al-Quran & al-hadis
berikut ilmu2 Al-Quran & ilmu2 hadis, spt: ilmu tafsir & kaidah2
penafsiran, ilmu asbb al-nuzl, asbb al-wurd hadis, tartb alnuzl, munsabah (hubungan/korelasi) antar ayat & antar surat,
permslhan hadis shahih, hasan & dlaif.
3. Menguasai ilmu fiqh & ushul al-fiqh, spt: prinsip & tujuan hukum
(maqshid al-tasyri` ), kaidah fiqhiyyah & ushliyyah, metode /
dasar ijtihad, dan metode dlm menyelesaikan dalil-dalil yang
bertentangan.
4. Menguasai permasalahan yg sedang dibahas dg cara meminta
penjelasan dr para pakar yg berkompeten. Tidak boleh
menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan perkiraan/asumsi.

Metode yg dijadikan Dasar Ijtihad


1. Qiys (
/ analogi), yaitu:

Menyamakan hukum suatu peristiwa yang tidak ada nash


mengenai hukumnya dengan suatu peristiwa yang sdh
ada nash hukumnya, karena adanya kesamaan `illat.
Paling tdk ada 4 hal yg hrs ada pd qiyas atau disbt rukun qiys, yi:
a.
( pokok): masalah yg telah ada hukumnya berdasarkan
nash. Ashl disebut juga maqis `alaih (tempat mengqiaskan).
b.
( cabang): masalah baru yg belum ada hukumnya. Far`u ini
disebut juga dg maqis (yang diqiaskan).

c.

( Hukum ashl): hukum yg tlh ada pd ashl brdsrkan nash.

(`illah): sesuatu yg ada pada ashl yg di atasnyalah dibina


d.
hukum & karenanyalah dpt ditetapkn wujudnya hukum pd far`u.
Illah adalah sebab utama adanya sebuah hukum.

Illat inilah bagian terpenting dalam masalah qiys

sehingga Ahli Ushul pun menyusun kaidah fiqhiyyah:

Adapun syarat `illat (sebab adanya suatu hukum) adalah:


1) Merupakan suatu sifat yg nyata.
2) Merupakan sifat yg sdh pasti, tdk berubah2, & bukan
perkiraan.
3) Merupakan sifat yg sesuai dg hikmah hukum.
4) Merupakan sifat yg tidak hanya terdapat pada ashl
saja, tetapi juga terdapat pada al-faru (cabang).

Contoh Qiyas
Narkoba (Narkotika & obat terlarang lainnya) mrp suatu yg belum
dikenal pada masa Nabi Muhammad saw shg tidak ada keterangan
langsung dari Nabi saw mengenai hukumnya.
Narkoba dlm hal ini disebut sbg masalah baru (al-far`u) yg blm
diketahui hukumnya. Namun ada sesuatu yg bernama khamr yg
dihrmkan Allah krn adanya unsur yg dpt menghilangkn kesadaran
& merusak bahkan membahayakan.
Khamr inilah yg disebut dg al-ashl yakni mslh pokok yg telah ada
kejelasan hukumnya brdsrkan nash.
Hukum pada ashl ini sudah jelas yakni haram.
`Illat hukumnya adalah karena adanya unsur memabukkan
(mnghilangkan kesadaran), merusak kesehatan & membahayakan
jiwa, khususnya bagi si pemakai & umumnya bg masyarakat luas.
Karena narkoba memiliki kesamaan `illat dg khamr bahkan jauh
lebih membahayakan, maka hukum narkoba => haram.

Istihsn (

Arti istihsn scr bahasa: mengikuti/memilih yg lebih baik.


Sdgkan istihsn menurut istilah adalah berpindah dari suatu
hukum kepada hukum lain karena adanya dalil Syara` yang
lebih tepat yang menghendaki demikian.
Dgn demikian, penetapan istihsn ini bersifat kasuistik dg tujuan utk
menghilangkan beban dan kesukaran (

) .

Istihsan ini didasarkan pada firman Allah SWT:



(QS. Al-Zumar/39: 18) & QS. 39: 55:

Contoh istihsn
Seluruh tubuh wanita adalah aurat, kecuali wajah & telapak tangan.
Akan tetapi bila wanita tsb dlm keadaan sakit pd salah satu bagian
anggota badannya yg menuntut pemeriksaan pd bagian tsb, maka di
sini terjadi pertentangan kaidah. Satu sisi disebutkan bhw seluruh
badan wanita adalah aurat. Di sisi lain, adanya satu keadaan di mana
akan terjadi kesulitan yg mungkin akan mengarah pada kondisi yang
lebih parah bila tidak dilakukan pemeriksaan pada bagian yang sakit.
Dalam keadaan seperti ini dipakailah istihsan dlarurat.

)
Istishlh (


Arti istishlh secara bahasa adalah mencari kemaslahatan.
Sebagian ulama menyebutnya dg mashlahah mursalah.
Sdgkan istishlh menurut istilah adalah:
Menetapkan hukum suatu masalah yang tidak ada nash &
ijma`nya yang dibangun dengan dasar untuk menjaga
kemaslahatan semata.
Ada tiga syarat berhujjah dengan istishlh yaitu:
a. Kemaslahatan tersebut haruslah kemaslahatan yang hakiki
b. Kemaslahatan itu haruslah kemaslahatan umum.
c. Kemaslahatan itu tidak bertentangan dg dasar2 nash atau ijma`.

Contoh Istishlh
Para sahabat mengumpulkan lembaran2 Al-Quran yg tersebar di
tangan pr sahabat lain utk kmdn dilakukan pembukuan dlm satu
mushaf. Padahal hal ini tdk pernah diperintahkan scr langsung oleh
Nabi saw. Alasan yg mendorong mereka melakukan hal tsb krn
pertimbangan kemashlahatan semata.
Khalifah Umar bin Khaththab pernah memerintahkan para penguasa
(pejabat tinggi negara) agar memisahkan antara harta kekayaan
pribadi dg harta yang diperoleh dari hasil selama ia menjadi pejabat.