Anda di halaman 1dari 6

To Manurun(g) di Massenrempulu hingga ke Raja-raja di Sumatera, Kalimantan dan Semenanjung Malaka (Malaysia)

Apakah ada hubungan silsilah dari Pahlawan Teragung dan sastrawan besar Nusantara abad ke-19 sekaligus Pahlawan Nasional kita dan tokoh yang diagungkan di Malaysia, yakni Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji bin Raja Ahmad Riau beserta Raja-Raja di Selangor, Johor, dan Pahang (Malaysia), Raja-Raja di Mempawah, Pontianak dan Sambas (Kalimanatan Barat) dengan To Manurun(g) di Bumi Massenrempulu ? Berikut adalah beberapa catatan dari berbagai sumber informasi yang menceritakan sejarahnya. 1. Sejarah dari nenek moyang orang Massenrempulu, Luwu dan penduduk di Sulawesi Selatan sampai pada Kedatuan Luwu. Nenek moyang kita ( ras Melayu sub etnik dari ras Mongoloid ) berasal dari daerah Yunan, Cina Selatan dan wilayah Indocina yang kemudian menyebar ke seluruh kepulauan di Nusantara. Salah satu kelompok lalu singgah dan menetap di Pulau Sulawesi. Mereka kemudian masuk ke wilayah sekitar aliran Sungai Saddang lalu terus ke Gunung Bambapuang. Dari sekitar Gunung Bambapuang ini mereka terus menyebar ke Timur ke daerah Pegunungan Latimojong, ke Selatan daerah Maiwa Sidenreng, ke Barat daerah Pinrang dan Polewali Mamasa serta Tana Toraja di utara. Kemudian penduduk asli di Bambapuang ini membangun Kampung Rura (Lura) di sebelah timur Gunung Bambapuang dan Kampung Tinggallung di sebelah baratnya. Dan penduduk kampung Rura dan Tinggallung membangun Kampung Papi, Kotu, Kaluppini, Bisang, Leoran, Tanete Carruk dan kampungkampung didaerah Maiwa, Duri, Pinrang, Binuang, Tanah Toraja bagian selatan. Kemudian sejitar abad ke-XIII datanglah beberapa Tomanurun ke daerah Masserempulu dan persekutuan Kerajaan Malepon bulan *wilayah yang kini di kenal sebagai Kabupaten Enrekang dan sebagian Tana Toraja), To Manurun ini antara lain : 1. Tomanurun Puang Tamboro Langi, merupakan kakek dari Lakipadada yang menjadi raja di Malepon Bulan dan kakek Lolo Bayo atau Karaeng Bayo suami dari To Manurung ri Tamalate yang menjadi Ratu pemimpin pertama Kerajaan Gowa yang menurunkan Raja-Raja Gowa. 2. To Matasak Malepon Bulan di Kandora Mengkendek Tallulembangna Tana Toraja dengan istrinya Tomanurun Puang Sandabilik di Kairo Sangalla Tallulembangna Tanah Toraja. 3. Tomanurun Wellang ri Langi di Gunung Bambapuang kampung Kotu, Enrekang. 4. Tomanurun Guru Sellang Puang Palipada di Buli Palli Posi Tana, Kampung Kaluppini Enrekang bersama istrinya Embong Bulan dari Malepon Bulan. Tomanurun Guru Sellang Puang Palipada adalah keluarga dari Batara Guru yang ke Luwu.

5. To Manurung Puatta La Tau Pakka di Pasang Maiwa, pembawa tongkat kayu pakka bermata dua melambangkan dunia dan akhirat, dari peninggalannnya memperlihatkan tradisi sufistik yang kuat. 6. To Manurung Puatta La Bolong Ceppaganna ri Lembuang Maiwa. 7. To Manurung La Macelling di Matakali Matajang Maiwa, pembawa bedil berteknologi abad XIV bermotif Cina berhuruf Arab, memberikan informasi keberadaan Manurung ini mengajarkan Islamisasi atau tradisi Timur Tengah. Tomanurun(g) mengajar kepada penduduk ilmu agama, kebudayaan dan adat istiadat dan membibing cara hidup yang lebih teratur sampai kepada kelompok penduduk asli dengan nama Pake. Pake mengangkat Tomanurun(g) menjadi pimpinannya. Tomanurun(g) menjalankan kepemimpinannya berdasarkan kerakyatan, kemanusiaan dan keadilan. Akan tetapi setelah keturunannya menjadi pemimpin, istilah To Manurun(g) digantikan dengan istilah Datu / Puang / Karaeng / Arung / Raja, dll. Dari beberapa Tomanurun di daerah Masserempulu, yang akan disampaikan sejarahnya ialah Tomanurun Guru Lasellang Puang Palipada keluarga Tomanurun Batara Guru dari Luwu. Tomanurun Guru Lasellang Puang Palipada menjadi pemimpin di Palli, Possi Tanah, Kampung Kaluppini, Enrekang. Ia tinggal pada sebuah rumah di atas bukit Palli, Posi Tanah, Kampung Kaluppini, Enrekang. Selama Tomanurun Puang Palipada tinggal dikampung Kaluppini Enrekang melahirkan lima orang anak-anak masing-masing : 1. Empakka Madea Batu Puang Cemba Karueng Endekan Wali pertama di daerah Masserempulu yang pertama-tama menyebar Agama Islam didaerah Masserempulu antara abad XIII M. Makamnya terletak di Buttu Tangnga Kota Enrekang. 2. La Kamummu Dia diberinama La Kamummu karena badannya berwarna Kamummu (Ungu), karena itu bendera kerajaan Massenrempulu berwarna ungu. Tidak memiliki kuburan, karena belum masuk Islam dan ia menghilang seperti ayahnya Tomanurun Guru Lasellang Puang Palipada. La Kamummu menurunkan : Takkebuku Taulan, yang kemudian menurunkan : - Arung Maiwa II - Sinapati, dan - We Cudai Dg. Risompa Datu Cina Punnae Tanete Lampe Pammana Wajo, yang merupakan isteri Sawerigading (Tokoh dalam Epos La Galigo). Puang Palindungan Paladang Maiwa, yang menurunkan : Tomaraju Arung Buttu Enrekang I Suami Puang Tianglangi Lando Rundun (Manggawari nama Islamnya) Arung Makale Tallu Lembangna keturunanan Tomanurun Puang Tamboro Langi Tomatasak Malepon Bulan Tana Toraja. 3. We Monno atau We Sangngan, di Luwu digelar Datu Sengngeng, merupakan Ibu Kandung Sawerigading (Tokoh dalam Epos La Galigo). dan We Tanriabeng ibu Simpurusiang Datu Luwu ke III. 4. Marudindin La Bolong Puang Timban Ranga, kawin dengan Tomanurun dari Malepon Bulan, menurunkan keturunan : Madika Ranga Enrekang.

5. Dajeng Wanna Pute, kawin dengan lelaki dari pegunungan Latimojong. Tulang belulang dan tengkorak kepala Dajeng Wanna Pute masih tersimpan dalam gua di Kampung Kaluppini, Enrekang. 2. Dari Malepong Bulan (Massenrempulu dan Toraja) ke Kerajaan Luwu sampai ke Raja-Raja di Selangor, Johor, Pahanag (Malaysia), Mempawah, Sambas, Kadariyah Pontianak (Kalimanatan Barat) dan Para Yamtuan Muda di Riau (antara lain Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji bin Raja Ahmad Riau ) Dari To Manurun Guru Sellang Puang Palipada yang juga kerabat To Manurung Luwu Batara Guru kemudian menurunkan (berputera) La Kamummu. La kamummu kemudian menurunkan Takkebuku Taulan, lalu Takkebuku Taulan yang kemudian menurunkan We Cudai Dg. Risompa Datu Cina Punnae Tanete Lampe Pammana Wajo, yang menjadi isteri Sawerigading. To Manurun Guru Sellang Puang Palipada juga menurunkan (berputri) We Monno atau We Sangngan yang menjadi raja di Luwu dan bergelar Datu Sengngeng. We Sangngan merupakan ibu kandung Sawerigading dan We Tanriabeng. We Tanriabeng adalah ibunda dari Simpurusiang Datu (Raja) Luwu ke III. Simpurusiang (tentunya ia juga keturunan To Manurung ri Luwu, Batara Guru) kemudian menurunkan Datu- Datu Luwu berikutnya, hingga sampai ke Opu Tanri Burang Daeng ri Lakka. Opu Tanri Burang Daeng ri Lakka memiliki lima orang putera yang sangat terkenal di Alam Melayu, mereka ada pelaut-pelaut ulung dari Tanah Bugis yang membawa kapal-kapal besar dengan angkatan perangnya berlayar dan menetap untuk tujuan menaklukkan daerah-daerah di sekitar perairan Selat Melaka. Mereka kemudian menetap di Negeri Johor-Riau dan sebagian menetap di Kesultanan Mempawah, Pontianak dan Sambas di Kalimantan Barat. Di Kesultanan Johor-Riau mereka turun temurun memegang jabatan penting sebagai Yang Dipertuan Muda (Yamtuan) atau Perdana Menteri. Mereka mendapat jabatan tersebut setelah mereka terlibat dalam konflik di Kesultanan Johor-Riau. Ketika pusat Kesultanan Johor berada di Riau, terjadi konflik kepentingan antara puak (orang-orang) Bugis, Minangkabau dan Patani. Puncaknya adalah ketika Raja Kecil putra dari Sultan Mahmud Syah II (1685-1699), merasa berhak atas tahta kesultanan. Maka bersama orang-orang Minangkabau, ia memberontak terhadap sultan yang berkuasa, yaitu Sultan Abdul Jalil Riayat Syah IV (16991718). Raja Kecil kemudian menjadi sultan dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1718-1722). Dikemudian hari putera dari Sultan Riayat Syah IV, yaitu Raja Sulaiman menuntut balas dan juga merasa berhak atas tahta Kesultanan Johor. Raja Sulaiman kemudian dibantu oleh puak Bugis dengan sebuah perjanjian Bilamana orangorang Bugis mampu merebut kekuasaan dari Raja Kecil, salah seorang dari mereka akan diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda (Perdana Menteri) secara turun temurun. Perjanjian tersebut dikenal sebagai Aturan Setia Melayu dengan Bugis. Setelah memberontak selama empat tahun dibawah angkatan perang pimpinan Daeng Marewah (Kelana Jaya Putera), akhirnya orang-orang Bugis berhasil

menjatuhkan kekuasaan Raja Kecil. Raja Kecil akhirnya menyerah dan secara damai menyerahkan kekuasaan Kesultanan Johor kepada Raja Sulaiman. Kemudian Raja Kecil menuju Riau daratan dan mendirikan Kesultanan Siak Sri Indrapura di sana. Maka Raja Sulaiman pun menobatkan dirinya menjadi Sultan Johor dengan gelar Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1722-1760). Sultan Johor yang baru, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah sebelumnya telah berjanji kepada orang-orang Bugis akan mengangkat salah seorang dari mereka sebagai Yang Dipertuan Muda (Yamtuan). Daeng Marewah kemudian diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda I. Jabatan Yang Dipertuan Muda kemudian dijabat secara turun temurun oleh orangorang Bugis dan secara de facto merekalah sebenarnya yang menjalankan roda pemerintahan di Kesultanan Johor-Riau. Namun, lambat laun terjadi perpecahan diantara dualisme kekuasaan MelayuBugis ini. Orangorang Bugis yang terus mendapat perlakuan istimewa dan menjadi semakin kuat kekuasaannya membuat ada ketidaksenangan dari kalangan Kesultanan sendiri, ditambah lagi orang Bugis sangat membenci Belanda mengakibatkan terjadinya perang terbuka antara Kesultanan Johor dengan Belanda. Misalnya pada tahun 1856, orang-orang Bugis menyerang Belanda yang menduduki Melaka, sehingga Belanda balik menyerang orang-orang Bugis di Kesultanan Johor yang bermukim di Pulau Lingga. Salah sorang pahlawan perang Bugis yang menjadi syuhada adalah Yamtuan IV Raja Haji Fisabilillah bin Daeng Celak. Beliau gugur di Teluk Ketapang dengan menggenggam badik ditangannya. Oleh karenanya setelah mangkat, beliau digelari Marhum Teluk Ketapang dan dianugerahi Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1997. Sebelum terpecah seperti sekarang ini (terjadi pembagian wilayah oleh penjajah Belanda dan Inggris), Kesultanan Johor dan Riau adalah satu kesatuan. Oleh kelima penguasa asal Bugis ini dan keturunannya yang berhasil membawa Kesultanan Johor secara politik mencapai masa kegemilangannya dengan menundukkan Negeri Pahang, Trengganu, Selangor, Kepulauan Riau Lingga, sampai ke Negeri Perak dan Kedah. Karena terjadinya konflik internal dalam Kesultanan Johor ditambah lagi adanya campur tangan penjajah Belanda dan Inggris, Kesultanan terbagi dua menjadi Kesultanan Johor-Singapura (kini menjadi Negeri Johor Malaysia dan Negara Singapura) dijajah oleh Inggris dan Kesultanan Johor-Riau-Lingga yang kemudian dikenal sebagai Kesultanan Riau di Pulau Penyengat (kini menjadi Provinsi Riau dan Kepulauan Riau, Negara Indonesia) dijajah oleh Belanda. Itulah sedikit dari banyak sejarah puak Bugis di Tamadun Melayu sekitar Selat Melaka. Adapun kelima putera Opu Tanri Burang Daeng ri Lakka, adalah : 1. Putera pertama bernama Daeng Parani, Daeng Parani lalu berputrakan Daeng Kemboja yang merupakan Yang Dipertuan Muda Riau III. Daeng Kemboja memiliki putra yang bernama Raja Ali menjadi Yang Dipertuan Riau V. 2. Putera kedua bernama Daeng Menambun alias Pangeran Emas Seri Negara, menjadi Raja di Kesultanan Mempawah, Kalimantan Barat. 3. Putera ketiga bernama Daeng Marewah, yang menjadi Yang Dipertuan Muda (Yamtuan) Riau Pertama. 4. Putera keempat bernama Daeng Celak alias Daeng Pali (Marhum Mangkat di Kota), menjadi Yang Dipertuan Muda Riau II. Beliau kemudian menikahi Tengku Mandak. Dari pernikahannya, mereka menurunkan (berputera) :

Raja Lumu alias Sultan Salehuddin, kemudian menjadi sultan pertama di Kesultanan Selangor, Malaysia Raja Haji Fisabilillah alias Pangeran Sutawijaya (Marhum Teluk Ketapang), Yang Dipertuan Muda Riau IV. Raja Fisabilillah adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia (Dianugerahi pada tanggal 10 Nov. 1997 oleh Presiden RI, H. Soeharto). Dari hasil pernikahan beliau dengan Encik Maryam, mereka mempunyai empat orang putera, yaitu : - Raja Jafar bin Raja Fisabilillah Yang Dipertuan Riau VI,berputerakan: 1. Raja Abdul Rahman bin Raja Jafar (Marhum Kampong Bulang) menjadi Yang Dipertuan Muda Riau VII. 2. Raja Ali bin Raja Jafar (Marhum Kantor) menjadi Yang Dipertuan Riau VIII, berputera Raja Muhammad Yusuf bin Raja Ali (Marhum Ahmadi) menjadi Yang Dipertuan Riau X. 3. Raja Haji Abdullah bin Raja Jafar (Marhum Mursyid), Yang Dipertuan Riau IX, berputera Raja Muhammad bin Raja Haji Abdullah alias Tengku Nung. - Raja Idris - Raji Haji Ahmad alias Engku Haji Tua, yang beristrikan Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor. Raja Haji Ahmad inilah ayahanda dari Raja Ali Haji. Seorang pujangga, sastrawan besar dan ulama yang mengarang beberapa mahakarya agung. Karya beliau yang termahsyur adalah Gurindam XII, Tuhfat an Nafis, Silsilah Melayu dan Bugis, dan masih banyak lagi mahakarya beliau. Beliau mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia (Dianugerahi pada tanggal 10 Nov. 2004 oleh Presiden RI, SBY). - Engku Puteri Raja Hamidah Kembali ke silsilah di atas, pada Raja Ali Haji bin Raja Ahmad Riau. Beliau memiliki empat orang isteri, yaitu : - Raja Halimah binti Raja Jafar, beranakkan Raja Kultsum dan Raja Hasan. - Daeng Cahaya binti Daeng Manaroh, beranakkan Raja Said dan Raja Muhammad Daeng Menambun. - Raja Safiah binti Raja Jafar, beranakkan Raja Husin. - Encik Sulong, beranakkan Raja Sulaiman alias Raja Bih. 5. Putera kelima dari Opu Tanri Barang Daeng ri Lakka bernama Daeng Kummasi alias Pangeran Mangkubumi. Kemudian ia menjadi penguasa di Kesultanan Sambas, Kalimantan Barat. Itulah gambaran sejarah panjang hubungan / pertalian keturunan dari To Manurun(g)-To Manurun(g) di Massenrempulu (Enrekang) sampai ke Riau (Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji) ke Sultan2 di Selangor, Johor dan Pahang (Malaysia), ke Sultan2 di Mempawah, Pontianak dan Sambas. Adapun referensireferensi dan sumber informasi yang saya ambil kemudian disatukan untuk penelusuran sejarah dalam tulisan ini, antara lain : - To Manurun di Enrekang, dari Bapak Udin Palisuri di Grup To Manurun Enrekang .

Cerita-Cerita Sulawesi Selatan dan beberapa tulisan bapak Prof. A. Mattulada. Buku Cerita Rakyat Makassar, karya Bapak Syamsuddin Simmau, SS. Buku Surat-Surat Raja Ali Haji Kepada Von der Wall, karya Jan Van der Putten dan Al azhar. Indonesia and The Malay World (Indonesia dan Alam Melayu). Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar baru Van Hoeve Jakarta Buku Riau sebagai Puasat Bahasa dan Kebudayaan Melayu, karya UU Hamidy. Buku Puisi-Puisi Raja Ali Haji, karya Abu Hasan Sham, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur.