Anda di halaman 1dari 36

Bahaya/Resiko Gempa Bumi (Earthquake Hazard)

Jenis Resiko/Bahaya Gempa Bumi

Ground motion / ground shaking tanah menggoncang/mengocok struktur bangunan sehingga menyebabkan runtuh Liquefaction perubahan struktur tanah yang semula stabil menjadi seperti cairan, dan menyebabkan kerusakan struktur bangunan. Landslides tanah bergeser, dipicu oleh getaran gempa Fire (kebakaran) merupakan akibat tidak langsung, dipicu oleh gas yang meledak atau aliran listrik Tsunami gelombang laut yang sangat besar, dipicu oleh terjadinya gempa (patahan) di dasar laut

Kerusakan akibat Gempa Bumi

Gempa bumi mempunyai akibat yang bervariasi, termasuk perubahan struktur geologi, kerusakan bangunan, dan akibat pada kehidupan manusia dan binatang Kerusakan akibat gempa tergantung beberapa faktor :
o Ukuran gempa bumi

o Jarak pusat gempa (hypocentre)


o Sifat-sifat material o Sifat-sifat struktur

Ground Shaking

Frekuensi goncangan berbeda-beda untuk jenis gelombang gempa yang berbeda. Gelombang Primer (P) dengan frekuensi tinggi akan lebih menggoncang bangunan-bangunan rendah Gelombang Permukaan (Surface Wave) dengan frekuensi rendah akan lebih menggoncang bangunan-bangunan tinggi Intensitas goncangan juga tergantung pada tipe material sub permukaan bumi. Material (tanah) unconsolidated akan lebih memperkuat goncangan bila dibandingkan pada bebatuan. Perilaku/respon struktur bangunan terhadap goncangan tergantung pada pola perencanaan struktur dan material bangunan. Contoh : kayu lebih fleksibel (baik) dibandingkan beton tidak bertulang

Contoh akibat Ground Shaking

Contoh akibat Ground Shaking

Contoh Landslides

Contoh akibat Liquefaction


Sand Boil: Ground water rushing to the surface due to liquefaction

Flow failures of structures are caused by loss of strength of underlying soil

Contoh akibat Liquefaction


Liquefied soil exerts higher pressure on retaining walls, which can cause them to tilt or slide...

Contoh akibat Liquefaction


Lateral spreading Cracked Highway, Alaska, 1964

Contoh akibat Liquefaction


Increased water pressure causes collapse of dams

Kebakaran akibat gempa

The destruction of lifelines, gas lines, nuclear reactor, and utilities make impossible for firefighters to reach fires started and make the situation worse eg. 1989 Loma Prieta 1906 San Francisco 2011 Fukushima Japan

Tsunami

Tsunamis can be generated when the sea floor abruptly deforms and vertically displaces the overlying water. The water above the deformed area is displaced from its equilibrium position. Waves are formed as the displaced water mass, which acts under the influence of gravity, attempts to regain its equilibrium. Tsunami travels at a speed that is related to the water depth - hence, as the water depth decreases, the tsunami slows. The tsunami's energy flux, which is dependent on both its wave speed and wave height, remains nearly constant. Consequently, as the tsunami's speed diminishes as it travels into shallower water, its height grows. Because of this effect, a tsunami, imperceptible at sea, may grow to be several meters or more in height near the coast and can flood a vast area.

Tsunami Movement: ~ 600 mph in deep water ~ 250 mph in medium depth water ~ 35 mph in shallow water

Contoh akibat tsunami

Contoh akibat tsunami

Contoh akibat tsunami ( Jepang 11 Maret 2011 )

Contoh akibat tsunami ( Jepang 11 Maret 2011 )

Contoh akibat tsunami ( Jepang 11 Maret 2011 )

Contoh akibat tsunami ( Jepang 11 Maret 2011 )

Contoh akibat tsunami ( Jepang 11 Maret 2011 )

sesudah tsunami

sebelum tsunami

sesudah tsunami

sebelum tsunami

sesudah tsunami

sebelum tsunami

sesudah tsunami

sebelum tsunami

UKURAN GEMPA BUMI

(Size of Earthquakes)

Local Intensity & Magnitude

Local Intensity (intensitas lokal)

Merupakan asesmen kualitatif terhadap kerusakan akibat gempa seberapa kuat gempa bumi dirasakan oleh pengamat/orang/struktur bangunan. Tergantung antara lain pada : jarak hypocenter, kondisi geologi, tipe struktur bangunan, pengamat (bervariasi dari tempat satu dengan yang lain). Ditentukan dari besar-kecilnya getaran gempa (percepatan tanah maksimum).

Menggunakan standar internasional skala Modified Mercalli dan dinyatakan dengan MM.

Skala Intensitas MM (Modified Mercalli)

Local Intensity & Magnitude (lanjutan)

Magnitude

Merupakan asesmen kuantitatif terhadap besarnya energi yang dilepas oleh gempa bumi, diukur menggunakan Skala Richter (SR) Tergantung dari ukuran patahan yang terjadi. Ditentukan dari rekaman gempa bumi (seismogram) Besaran Skala Richter tidak mencerminkan secara langsung energi yang terserap oleh struktur bangunan. Meskipun Skala Richter besar, terkadang getaran tidak terasa di permukaan tanah karena sumber gempa cukup jauh. Log E = 11,4 + 1,5 R E = energi yang dilepas R = besaran skala Richter

FREKUENSI TERJADINYA GEMPA


Hubungan antara frekuensi dan besar gempa yang sering melanda suatu daerah oleh Getenberg dan Richter dinyatakan dalam rumusan

Log N = A b.R
dengan N = jumlah rerata gempa sebesar R (skala Richter) atau lebih yang terjadi pada suatu daerah per tahun R = intensitas gempa menurut skala Richter A dan b = konstanta yang besarnya tergantung daerahnya, misalnya :
Jepang timur laut Jepang barat daya Amerika barat Amerika timur Indonesia : : : : : A = 6,88 A = 4,19 A = 5,94 A = 5,79 A = 7,30 b = 1,06 b = 0,72 b = 1,14 b = 1,38 b = 0,94

Rumusan (Getenberg & Richter) merupakan hubungan antara frekuensi dan energi yang dilepas sumber gempa di suatu wilayah. Untuk kepentingan teknik sipil, hubungan ini kurang diperhatikan karena yang lebih diperlukan adalah besarnya percepatan maksimum tanah permukaan saat dilanda gempa. Kepentingan di bidang teknik sipil adalah hubungan antara frekuensi dan besarnya percepatan permukaan tanah (skala intensitas lokal) pada suatu daerah tertentu. Bila suatu daerah telah diketahui besar percepatan permukaan tanah yang pernah terjadi (dari catatan gempa dihitung dengan rumus Donovan / Matuschka), maka dapat dibuat hubungan antara besar percepatan permukaan tanah dan frekuensinya (jangka waktu ulang) untuk daerah tersebut.

Rumus Donovan (1973) :

a = 1080 . e 0,5 R . (H + 25) -1,32


Rumus Matuschka (1980) :

a = 119 . e 0,81 R . (H + 25) -1,15


dengan a = e = R = H =
percepatan maksimum tanah permukaan (cm/detik2) bilangan natural (2,718) besar gempa menurut Skala Richter jarak hypocentre (km)

TINGKAT RESIKO GEMPA

Berdasarkan teori statistika, kemungkinan suatu bangunan terlanda gempa yang lebih besar daripada gempa rancang dapat dirumuskan sbb : p = ( 1 e -L/T ) x 100% dengan : p = probabilitas bangunan terkena gempa yang lebih besar daripada gempa rancang (%) L = umur rancang bangunan (tahun) T = jangka waktu ulang gempa rancang (tahun)

Wilayah Gempa di Indonesia

Berdasarkan tingkat risiko gempa tersebut dibuat peta pembagian wilayah gempa di Indonesia

Ada 6 (enam) wilayah gempa di Indonesia


Semakin besar daerah gempa maka semakin sering dilanda gempa dan semakin besar besaran gempa

Peta Wilayah Gempa di Indonesia


(SNI Th. 2002)

Peta Wilayah Gempa Indonesia Tahun 2010