Anda di halaman 1dari 18

MODUL 03

ANALISIS KESELAMATAN PLTN


Imam Wijaya, Pipit uki , Alam Ahmad H, Muhamad Iklas, Dono Dwi P , Rifa Kusuma, Nasrul
10210022,10210063,10210025,10210027,10210046,10209075,10209066
Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia
E-mail : robiah.wijaya239@gmail.com

Asisten : M. Gilang D.A (10209098)
Tanggal Praktikum : 23 Maret 2013

Abstrak
Reaktor nuklir adalah suatu tempat atau perangkat yang digunakan untuk membuat, mengatur, dan menjaga
kesinambungan reaksi nuklir berantai pada laju yang tetap. Salah satu jenis reactor nuklir adalah reactor
thermal. Reactor thermal memiliki kelebihan yaitu penampang lintang reaksi fisinya besar sehingga dapat
menghemat bahan bakar sebesar 3%-4%. Akan tetapi dalam reactor thermal ini juga memiliki masalah terkait
keberadaan salah satu hasil pecahan fisi yaitu Xenon. Xenon ini sangat berbahaya karena dapat meningkatkan
daya reactor secara darastis, sehingga bias menyebabkan ledakan pada reactor. Pada praktikum kali ini kami
melakukan simulasi tentang analisis keselamatan PLTN, menentukan aspek-aspek keselamatan dalam operasi
reaktor nuklir, mengetahu parameter-parameter yang berpengaruh pada efek osilasi Xenon, kecelakaan ULOF,
dan UTOP, dan dilakukan pula simulasi kecelakaan serta dampak yang ditimbulkan akibat kecelakaan tersebut.
Hasil yang didapat dari simulasi ini adalah populasi Xenon yang meningkat tajam setelah penurunan daya
secara mendadak, perkiraan waktu reaktor dihidupkan kembali setelah perubahan daya, dan diketahuinya
faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan ULOF dan UTOP.
Kata Kunci : Reaktor thermal, ULOF, UTOP, Xenon.

I. Pendahuluan
Pembangkit tenaga nuklir merupakan
sumber energy yang terbarukan dan sedang
menjadi bahan pembicaraan di seluruh dunia,
hal ini dikarenakan energy nuklir memiliki
beberapa keunggulan daripada sumber energy
yang lainnya, yaitu : energy nuklir dapat
menghasilkan energy yang sangat besar
dengan bahan bakar yang sedikit, dan lebih
ramah lingkungan karena emisi gas buang
yang dihasilkan hamper nol. Akan tetapi
energy nuklir juga memiliki kelemahan yang
sangat ditakutkan oleh penduduk dunia, yaitu
bahaya radiasi nuklir yang menyebar ke
lingkungan kita. Tujuan dari eksperimen ini
adalah untuk menganalisis keselamatan dari
reactor nuklir, menentukan parameter-
parameter yang mempengaruhi efek osilasi
Xenon, serta menganalisis kecelakaan ulof
dan Utop.
Secara umum penyebab dari kecelakaan
reactor nuklir terbagi menjadi beberapa
bagian. Bagian ini dianalisis dari kecelakan
yang telah terjadi dari beberapa reactor
diberbagai Negara, yaitu :

- Kasus Chernobyl, kasus yang terjadi di
reactor chernobyl diakibatkan dari
reaktivitas positif misalnya saat batang
kendali ditarik secara eksesif
mengakibatkan kenaikan daya secara cepat
- Kasus TM II, terjadi akibat dari kegagalan
system thermal hidrolik utama saat PLTN
beroperasi misalnya saat pompa mati, pipa
pendingin utama pecah dll.
- Fukushima, kasus yang terjadi di fukusima
diakibatkan kegagalan/problem dari
pembuangan panas sisa. Reactor sudah
mati namun karena problem tersebut kasus
tersebut pun terjadi.

Dalam perkembangannya rekator mengalami
perkembangan dari generasi ke generasi.


Gambar 1. Perkembangan reactor dari generasi ke
generasi

Pada kasus Chernobyl reactor yang
digunakan dalah reactor thermal. Kelebihan
dari reactor ini adalah penampang lintang
reaksi untuk fisi yang tinggi sehingga tidak
diperlukan jumlah bahan bakar yang banyak.
Namun, terdapat masalah tekait dari hasil
reaksi fisi yang dihasilkan yaitu xenon 135.
Xenon 135 merupakan unsure radioaktif yang
mempunyai reaktivitas tinggi dan sangat kuat
menyerap netron dengan penampag lintang
penyerapan netron sebesar 2 jt barn . Selain
itu xenon 135 merupakan unsure yang tidak
stabil dengan waktu paruh yang relative
singkat hanya beberapa jam. Hal ini
menyebabkan kendala perubahan daya secara
drastic, perubahan daya inilah yang nantinya
akan menyebabkan terjadinya Xenon. Proses
pembentukan radioisotop 135Xe dan
peluruhan setelahnya ditunjukkan dalam
reaksi berantai di bawah ini:

Gambar 2. Reaksi peluruhan xenon akibat dari
produksi fisi

Dari gambar 2 dapat kita tentukan
persamaan peluruhannya. Karena unsure Te
memiliki waktu paruh yang sangat singkat
(<0.5 menit) maka persamaan peluruhannya
kita asumsikan mulai dari I, sehingga
persamaannya menjadi :
I f I
dI
I
dt
| = E
(1)

(2)
Dimana :
= konstanta fisi Xenon
= Fluks Netron
= cross section makroskopik fisi
= cross section mikroskopik absorpsi
Xenon
= konstanta decay iodine
= konstanta decay Xenon

Populasi xenon dipengaruhi oleh
jumlah fluks neutron (| ) yang berbanding
lurus dengan rapat daya rata-rata:

200
ave f
p MeV | = E (3)
p
ave
: rapat daya rata-rata.
Jumlah populasi xenon juga dapat
dinyatakan dengan nilai perubahan reaktivitas
negatif akibat dinamika xenon tersebut.
Persamaan dituliskan di bawah ini:
( )
aX
a
X t o
A =
E
(4)
Osilasi xenon dalam reaktor nuklir
menyebabkan terjadinya kenaikan daya,
kenaikan daya ini disebabkan karena
reaktivitas negative yang ditimbulkan akibat
dinamika xenon tersebut. Kenaikan daya dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan
poin kinetik.
( ) dP t
P C
dt
|

= +
A
(5)
dC
C P
dt
|
= +
A
(6)

Solusi akhir persamaan 5 dan 6 adalah:
0 0 0
0
0 0 0
( ) exp exp P t P t t
| |
| | |
( | | | | | | | |
~
( | | | |
A
\ .
\ . \ . \ .

(7)
P(t) : Power relative;
: Konstanta prekursor netron tunda;
: Tetapan disintegrasi;
: Fraksi netron tunda;
: Mean generation time.

UTOP and ULOF Accident
Analisis kecelakaan ULOF dan UTOP
dilakukan dengan menggunakan model
quasistatic, yang berawal dari persamaan poin
kinetic serta persamaan reaktivitas total:

(8)

Coolant & Fuel average temperatur:

(9)
(10)
(11)
(12)
(13)

Keterangan:
: Reaktivitas total;

ex
: Reaktivitas eksternal;

RD
: Reaktivitas feedback radial fuel;

co
: Reaktivitas feedback coolant;

D
: Reaktivitas feedback efek Doppler ;

FAX
: Reaktivitas feedback axial fuel;
T
co
: Temperatur pendingin;
T
Fu
: Temperatur fuel;
Tin: Temperatur inlet;
Tout: Temperatur outlet
p(t): Relative power;
P
0
: Rapat daya awal;
F
0
: Flow rate;
f(t): Relative flow rate;
A
pin
: Luas penampang pin fuel;
B: Faktor buckling;
C
p
: Kapasitansi panas coolant;
K
Fu
: Konduktivitas termal fuel;
H: Tinggi teras reaktor

- UTOP
Pada saat terjadi UTOP accident, Power
akan naik, menyebabkan kenaikan temperatur
coolant dan fuel. Kenaikan temperatur coolant
dan fuel menimbulkan feedback negatif untuk
mengkompensasi reaktivitas eksternal.
Temperatur akhir tergantung konstanta-
konstanta feedback dan juga karakteristik
termal terutama c
p
coolant dan konduktivitas
termal fuel.


(14)

- ULOF
Pada saat terjadi ULOF Accident flow rate
turun karena hilangnya daya pompa. Ini
menyebabkan kenaikan temperatur coolant
karena ketidakseimbangan daya dan coolant.
Temperatur coolant dan fuel menimbulkan
feedback negative yang menyebabkan
penurunan daya. Penurunan daya
menyebabkan penurunan temperatur coolant
telah seimbang dengan reaktivitas positif hasil
akibat penurunan temperatur fuel.
Temperatur akhir tergantung konstanta-
konstanta feedback dan juga karakteristik
termal terutama kapasitansi panas coolant
dan konduktivitas termal fuel.

II. Metode Percobaan
Metoda yang digunakan dalam praktikum
kali ini adalah metoda yang digunakan Einstein
saat menemukan teori nya atau lebih dikenal
dengan metoda gedanken eksperimen.
Dengan mendiskritisasi persamaan peluruhan
xenon dan Iodine, sehingga dapat di plot
kurva perubahan jumlah xenon terhadap
waktu, jumlah iodine terhadap waktu, dan
kerapatan xenon terhadap waktu. Dengan
mengambil jumlah xenon saat fluks netronnya
konstan selama 200 jam sehingga dapat di
dapatkan kurva perubahan populasi xenon
saat start up maupun shutdown. Selanjutnya
memvariasi perubahan fluks netron secara
mendadak dari 0% ke 5%, 25% dan 50%.
Pada percobaan simulasi kecelakaan ULOF
dan UTOP digunakan simulasi untuk reactor
tipe LMFBR, PWR, dan HTGR. Pada LMFBR
digunakan parameter kerapatan daya
50,75,100 dan 200 W/cc masing-masing untuk
kecelakaan UTOP serta untuk kecelakaan ULOF
dengan siklus alamiahnya 0.01 sampai 0.75
untuk masing masing bahan bakar nitride,
oksida dan metal. Selanjutnya untuk reactor
jenis PWR dimana pendinginnya menggunakan
air, parameter kerapatan daya yang
divariasikan dari 30,40,50,75,100 W/cc
masing-masing untuk kecelakaan UTOP.
Sedangakan untuk kecelakaan ULOF rentang
yang digunakan 0.01-0.75 untuk bhan bakar
nitride da oksida. Pada simulasi HTGR
parameter yang digunakan pendingin yang
digunakan gas, varisai kerapatan dayanya
2,3,4,7.5 10 W/cc masing-masing untuk
kecelakaan UTOP. Sedangakan untuk
kecelakaan ULOF sama dengan metoda pada
PWR.
Dari metoda yang digunakan ini diharapkan
didapat hubungan osilasi xenon dengan
reaktivitas yang dihasilkan serta Reaktivitas
yang sebanding dengan kenaikan temperature
coolant dan fuel pada analisis kecelakaan
UTOP serta hubungan terbalik antara
temperature coolant dan Fuel pada
kecelakaann ULOF.

III. Data dan Pengolahan
Reaktorb LMFBR

- Efek Xenon

Dari gambar 2 dan persamaan 1 dan 2 kita
dapatkan persamaan diskritisasinya sebagai
berikut

) (
1 m
I f I
m m
I E + I = I
+
| (15)


(16)

Dari persamaan 15 dan 16 didapat kurva
perubahan jumlah Iodine dan Xenon terhadap
waktu, dengan konstanta yang digunakan

Table 1. data nilai konsanta yang digumakan
dalam perhitungan
Konstanta Nilai Satuan
t 0.1 Jam
ax 2.65E-18 cm-2
I 0.10548 Jam-1
x 0.07596 Jam-1
I 0.06386 -
x 0.00228 -
f 0.1 cm-1
a 0.09 cm-1
1.125E+17 cm-2xjam-1




Gambar 2 . Kurva perubahan jumlah Iodine
terhadap waktu dengan variasi daya



Gambar 3. Kurva perubahan jumlah Xenon
terhadap waktu dengan variasi daya daya.


Dan dari persamaan 4 dapat didapatkan
Xenon terhadap waktu


Gambar 4. Kurva perubahan delta rho terhadap
waktu dengan variasi daya.


Gambar 5. Kurva hubungan antara rho total
terhadap waktu dengan variasi daya.

Selanjutnya dari data yang telah didapat,
dapat kita tentukan nilai dari daya serta
kapasitas panas dari reactor tersebut

(17)

(18)

(19)

(20)

(21)

(22)

Dengan nilai konstanta yang digunakan

Tabel 2. Nilai Konstanta-konstanta yang digunakan
Konstanta Nilai Satuan
t 1.0E-04 s
2.0E-04
8.0E-02
7.0E-03
x 6.0E-02
air 1.0E+03 kgxm-3
cp 4.2E+03
p0 1.0E+08
wattxm-
2
-1.0E-03
T in 3.3E+02 K



Gambar 6. Kurva perubahan C, P, fb, Tout
terhadap waktu

- ULOF & UTOP Accident
Reaktor HTGR

UTOP


Gambar 7. UTOP nitride HTGR 2 watt


Gambar 8. UTOP nitride HTGR 3 watt


Gambar 9. UTOP nitride HTGR 4 watt


Gambar 10. UTOP nitride HTGR 5 watt


Gambar 11. UTOP nitride HTGR 7.5 watt


Gambar 12 . UTOP nitride HTGR 10 watt

Gambar 13. UTOP oxyde HTGR 2 watt


Gambar 14. UTOP oxyde HTGR 3 watt


Gambar 15. UTOP oxyde HTGR 4 watt


Gambar 16. UTOP oxyde HTGR 5 watt

Gambar 17. UTOP oxyde HTGR 7.5 watt


Gambar 18. UTOP oxyde HTGR 10 watt

ULOF


Gambar 19. ULOF nitride HTGR 2 watt


Gambar 20 . ULOF nitride HTGR 3 watt


Gambar 21. ULOF nitride HTGR 4 watt


Gambar 22. ULOF nitride HTGR 5 watt

Gambar 23 . ULOF nitride HTGR 7.5 watt


Gambar 24. ULOF nitride HTGR 10 watt


Gambar 25. ULOF oxyde HTGR 2 watt


Gambar 26. ULOF oxyde HTGR 3 watt

Gambar 27. ULOF oxyde HTGR 4 watt


Gambar 28. ULOF oxyde HTGR 5 watt


Gambar 29. ULOF oxyde HTGR 7.5 watt


Gambar 30. ULOF oxyde HTGR 10 watt
- Reaktor PWR
UTOP


Gambar 31. UTOP nitride PWR 30 watt


Gambar 32. UTOP nitride PWR 40 watt


Gambar 33 . UTOP nitride PWR 50 watt



Gambar 34 . UTOP nitride PWR 75 watt


Gambar 35. UTOP nitride PWR 100 watt


Gambar 36 . UTOP oxyde PWR 30 watt


Gambar 37. UTOP oxyde PWR 40 watt


Gambar 38. UTOP oxyde PWR 50 watt


Gambar 39. UTOP oxyde PWR 75 watt


Gambar 40 . UTOP oxyde PWR 100 watt

ULOF

Gambar 41 . ULOF nitride PWR 30 watt

Gambar 42. ULOF nitride PWR 40 watt


Gambar 43. ULOF nitride PWR 50 watt


Gambar 44. ULOF nitride PWR 75 watt


Gambar 45. ULOF nitride PWR 100 watt

Gambar 46. ULOF oxyde PWR 30 watt



Gambar 47. ULOF oxyde PWR 40 watt


Gambar 48. ULOF oxyde PWR 50 watt

Gambar 49. ULOF oxyde PWR 75 watt


Gambar 50. ULOF oxyde PWR 100 watt
Reaktor LMFBR
UTOP


Gambar 51. UTOP metal LMFBR 50 watt


Gambar 52. UTOP metal LMFBR 75 watt


Gambar 53. UTOP metal LMFBR 100 watt

Gambar 54. UTOP metal LMFBR 150 watt


Gambar 55 . UTOP metal LMFBR 200 watt


Gambar 56 . UTOP nitride LMFBR 50 watt


Gambar 57. UTOP nitride LMFBR 75 watt

Gambar 58. UTOP nitride LMFBR 100 watt


Gambar 59 . UTOP nitride LMFBR 150 watt


Gambar 60. UTOP nitride LMFBR 200 watt


Gambar 61. UTOP oxyde LMFBR 50 watt

Gambar 62. UTOP oxyde LMFBR 75 watt


Gambar 63. UTOP oxyde LMFBR 100 watt


Gambar 64 . UTOP oxyde LMFBR 150 watt


Gambar 65 . UTOP oxyde LMFBR 200 watt
ULOF

Gambar 66. ULOF metal LMFBR 50 watt


Gambar 67. ULOF metal LMFBR 75 watt


Gambar 68. ULOF metal LMFBR 100 watt

Gambar 69. ULOF metal LMFBR 150 watt

Gambar 70. ULOF metal LMFBR 200 watt



Gambar 71. ULOF oxyde LMFBR 50 watt


Gambar 72. ULOF oxyde LMFBR 75 watt

Gambar 73. ULOF oxyde LMFBR 100 watt

Gambar 74. ULOF oxyde LMFBR 150 watt


Gambar 75 . ULOF oxyde LMFBR 200 watt


Gambar 76. ULOF nitride LMFBR 50 watt


Gambar 77. ULOF nitride LMFBR 75 watt


Gambar 78. ULOF nitride LMFBR 100 watt


Gambar 79. ULOF nitride LMFBR 150 watt



Gambar 80. ULOF nitride LMFBR 200 watt

IV. Pembahasan
Xenon mempunyai luas penampang
penangkapan netron yang besar sekitar 2jt
barn sehingga sangat kuat dalam menangkap
netron dibandingkan dengan uranium. Netron
yang seharusnya digunakan untuk menumbuk
nranium, sebagian besar habis diserap oleh
Xenon, sehingga energy fisi berkurang.
Berkurangnya energy ini mengakibatkan
penuruan daya yang dihasilkan oleh reactor
secara drastic.Penurunan daya yang drastic
inilah yang membuat Xenon berosilasi.
Pada gambar 4 ( grafik hubungan antara
jumlah Xe dengan Waktu ) terlihat bahwa saat
reactor dimatikan terjadi kenaikan Xe secara
kuadratik kemudian turun seiring
bertambahnya waktu. Kenaikan jumlah Xenon
pada saat reactor dimatikan ini menyebabkan
penurunan daya reactor yang dihasilkan, hal
ini dikarenakan netron yang seharusnya
digunakan untuk menumbuk uranium,
sebagian besar habis diserap oleh jumlah
Xenon yang semakin banyak itu.
Osilasi daya akibat osilasi Xenon dapat
menyebabkan terjadinya kegagalan system
thermal hidrolik. Saat daya berosilasi maka
temperature serta kalor baik pada coolant dan
fuel dapat mengalami kondisi yang tidak stabil.
Hal ini dapat menimbulkan kerusakan pada
reactor tersebut.
Waktu yang paling aman untuk menyalakan
kembali reactor adalah saat jumlah xenon
mulai mengalami penurunan sehingga tidak
terjadi reaktivitas eksternal. Dari gambar 3
terlihat waktu yang aman adalah sekitar
setelah 20 jam setelah reactor di shutdown.
Perbedaann dari rekator thermal dengan
reactor cepat hanyalah dalam reaksi fisi yang
digunakan. Dalam fast reactor digunakan hasil
reaksi fisi yang menhasilkan netron yang
cepat. Sehingga pengaruh dari Xenon terhadap
fast reactor yaitu xenon dapat menangkap
netron cepat tersebut sehingga jumlah netron
yang ditangkap akan semakin banyak. Semakin
banyak jumlah netron yang ditangkap maka
akan semakin tinggi reaktivitas eksternalnya
sehingga temperature fuel dan coolant akan
meningkat dan dapt membahayakan
Pengaruh rapat daya terhadap daya relativ
adalah semakin besar rapat dayanya semakin
besar reaktivitasnya sehingga semakin besar
nilai temperature fuel dan coolantnya.
Semakin besar rapat daya perbedaan antar
gradient kemiringan temperature coolant
dengan temperatur Fuel semakin besar.
Temperature Fuel makin cepat mengalami
peningkatan dibandingkan dengan
temperature coolant. Namun berbeda dengan
daya relativnya, untuk reaktivitas yang sama
semakin besar rapat dayanya semakin kecil
daya relativ nya.
Dari simulasi utop didapatkan hubungan
bahwa rekativitas meningkat seiring dengan
meningkatnya daya relativ. Hal ini
berpengaruh terhadap temperature dari
Coolant dan fuel. Seiring dengan menaiknya
daya dalam hal ini kelebihan daya maka akan
menyebabkan naiknya temperature coolant
dan fuel.
Jika batas reaktivitas eksternalnya lebih
dari 0.004 dk/k maka daya relative nya akan
meningkat sehingga menyebabkan
temperature dari coolant dan fuel akan
meningkat semakin besar. Hal ini lama
kelamaan dapat menyebabkan reactor
meledak.
Dari simulasi ULOF didapatkan hasil
semakin besar dari rapat daya rata rata maka
akan meningkatkan nilai dari daya relative
untuk flow rate yang sama dan untuk daya
relativ yang sama flow ratenya turun sehingga
akan menyebabkan temperature coolant naik
dan temperature fuel turun. Namun kenaikan
temperature Coolant saat flow rateya naik
lebih cepat dibandingkan dengan penurunan
nilai tempertaur Fuel.

V. Simpulan

Dari hasil percobaan yang kami lakukan dapat
diambil kesimpulan bahawa, osilasi Xenon
diakibatkan karena penurunan daya secara
drastic akibat meningkatnya jumlah Xenon
akibat pemadaman dari reactor.
Analisis UTOP dapat digunakan dalam
analisis model kuasitatik untuk kasus daya
berlebih.
Pada analisis kecelaakaan ULOF,
kenaikan rapat daya menyebabkan naiknya
daya reatif dan juga menaikkan temperatur
coolant dan fuel. Turunnya flow rate reaktor
menyebabkan turunnya daya relatif
sedangkan temperatur coolant akan naik
dengan hubungan yang parabolik, semantara
temperatur fuel relatif stabil.

VI. Pustaka
[1] Zaki S. Sistem Analisa Kecelakaan Reaktor
Cepat Berpendingin Logam Cair Dengan
Tingkat Kompleksitas Berjenjang. Risalah
Lokakarya Komputasi dalam Sains dan
Teknologi Nuklir XVII. Agustus 2006.
[2]http://www.batan.go.id/ptrkn/file/tkpfn16/
Makalah_peserta/Kel_B/18.P.Made.U,%20B14
3-150,rev.pdf diakses pada 24 Maret 2013
pukul 20.30 WIB.






















































































LAMPIRAN
1. Hendaknya untuk praktikum kali ini dibagi bagi masing masing jenis analisis sehingga tidak
terlalu banyak laporannya.
2. Variasi simulasi dalam praktikum ini terlalu banyak, hendaknya di kurangi tapi tanpa
mengurangi makna dari praktikum itu sendiri.
3. Jika tetap mempertahankan format praktikum seperti yang telah kami jalani, alangkah lebih
bijaknya kalau diberi tambahan waktu dalam pengerjaan laporan.