http://ipkkbi.blogspot.com/2011/10/profil-kependudukan-jawa-tengah.

html

IPKKBI
Ikatan Peneliti Kependudukan dan Keluarga Berencana Indonesia
RABU, 05 OKTOBER 2011

Profil Kependudukan Jawa Tengah Berdasar Hasil SP 2010 Profil Kependudukan Jawa Tengah Berdasarkan Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010
I. Komposisi Penduduk Jawa Tengah.
Tabel 1. Beberapa indikator penduduk Jawa Tengah menurut SP 2010.

Indikator Sex Rasio Dependency Rasio 2 Density (orang/km ) Median Umur (Th) Laju Pertumbuhan Penduduk (%) Penduduk (orang)

Jateng 98,8 50,31 995 30,06 0,37 32.382.657

Dari tabel 1 tersebut diatas menunjukkan bahwa : jumlah penduduk Jawa Tengah 32.382.657 pada tahun 2010, lebih rendah dari proyeksi penduduk tahun 2010 yaitu sebesar 33,09 juta, dengan sex rasio 98,8 (laki-laki 16.091.112, dan perempuan 16.291.545), median umur (th) 30,06, sedangkan laju pertumbuhan penduduknya 0,37 terendah tingkat Nasional (1,49). Dependency rasio/ angka ketergantungan 50,31 lebih rendah dari nasional (51,33), dengan density/ kepadatan penduduk 995 orang per/km2 jauh lebih tinggi dibanding Nasional 124 orang per/km2, hampir 14 persen penduduk Indonesia ada di Jawa Tengah. Piramida penduduk Jawa Tengah 2010 merupakan sebuah gambaran stuktur penduduk yang sangat menarik untuk dilakukan kajian, karena dari piramida tersebut dapat diketahui jumlah penduduk berdasar pengelompokan umur dan jenis kelamin. Dari piramida tersebut dapat dilihat beberapa hal yang sangat menarik untuk dilakukan kajian, antara lain yaitu pada perbedaan jumlah penduduk berdasar kelompok umur dimana terdapat : a. Penduduk balita dan anak-anak : 0 -14 th : 8.515.767 (26,73%) b. Penduduk Usia produktif :15-65 th : 21.543.349 (65,72%) c. Penduduk Lansia : 65 keatas : 2.323.541 ( 7,55%)

sehingga berakibat pada meningkatnya beban pemerintah dalam hal penyiapan fasilitas kesehatan baik untuk anak-anak. dan dependency ratio. jumlah penduduk menurut kelompok umur sekolah.Kondisi tersebut dalam ilmu demografi disebut Triple Burden. lansia.1 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Tabel 1. dan penyedian lapangan kerja. maka diperlukan analisis beberapa variabel yang mempunyai pengaruh terhadap program kependudukan dan keluarga berencana antara lain : jumlah penduduk menurut kelompok umur. yaitu setiap kelompok umur tersebutberjumlah besar dalam periode yang sama. 1. pendidikan.1 Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010 Umur (1) 0–4 5–9 10 – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 (2) Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan (3) 1 316 049 1 377 463 1 445 723 1 315 854 1 192 603 1 318 987 1 279 398 1 229 691 1 237 565 1 122 667 Total (4) 2 711 271 2 829 364 2 975 132 2 712 799 2 345 777 2 588 376 2 529 291 2 422 752 2 419 363 2 198 387 1 395 222 1 451 901 1 529 409 1 396 945 1 153 174 1 269 389 1 249 893 1 193 061 1 181 798 1 075 720 . jumlah penduduk menurut jenis kelamin. Untuk mengetahui lebih jauh kondisi kependudukan di Jawa Tengah berdasarkan hasil sensus penduduk 2010.

204.90 tahun untuk perempuan dan 25.62 balita per 1000 wanita. Ini artinya harus ada program KB yang benar-benar berwawasan quality of care yakni mendekati peserta KB dengan penuh empati serta menjamin keberlangsungan keselamatan dalam ber KB. Pernyataan ini terkait dengan relatif besarnya jumlah penduduk kelompok umur 0-4 tahun dan 5-9 tahun. Hanya yang menjadi masalah.77 persen pada tahun 2010. 6. Berdasarkan analisis penduduk menurut kelompok umur tersebut maka permasalahan yang dihadapi pemerintah Provinsi Jawa Tengah adalah : 1) Program Kependudukan dan Keluarga Berencana. maka akan diperoleh angka sebagai berikut : Pada kelompok umur 0-14 tahun ada 26.437 jiwa penduduk Jawa Tengah yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu. Jika PUS ini berusia semakin muda. Angka tersebut menunjukkan bahwa Jawa Tengah hampir menikmati Bonus Demografi.15 persen tidak tahu KB.50 – 54 55 – 59 60 – 64 65 – 69 70 – 74 75 + TT JAWA TENGAH 936 893 739 978 485 944 401 455 299 511 330 802 17 16 091 112 937 424 687 457 538 874 467 238 386 369 438 166 17 16 291 545 1 874 317 1 427 435 1 024 818 868 693 685 880 768 968 34 32 382 657 Sumber : BPS Sensus Penduduk Tahun 2010 Dari 32.80 untuk laki-laki (BPS.27 tahun dan untuk laki-laki 26. dan 23. Dengan kata lain. maka keikutsertaan PUS untuk ber KB akan meningkat yang kini hanya berada pada angka 63. Program KKB yang perlu ditingkatkan adalah : a. apakah kelompok usia produktif itu termasuk penduduk yang bermutu. kelompok umur 15-64 tahun berjumlah 65. karena angka Total Fertility Rate (TFR) di Jawa Tengah masih 2. Demikian pula rasio anak terhadap wanita di Jawa Tengah melonjak tajam dari 128 balita per 1000 wanita menjadi 318. maka tersirat bahwa LPP yang rendah tersebut bukan karena turunnya angka kelahiran. rendahnya LPP hampir dapat dipastikan karena sebab lain. Rata-rata usia kawin pertama untuk perempuan di Jateng adalah 22.37 % dan tercatat terendah di Indonesia. karena data BPS (2010) menunjukkan ada 5.73 persen karena alasan lainnya. Namun jika melihat besarnya kelompok umur balita.73 %.85 persen saja. Ini artinya fertilitas makin tinggi di Jawa Tengah.72 %.3.55 %. dan kelompok umur 65 tahun ke atas berjumlah 7.57 persen tidak tahu alat atau cara KB. b. Peningkatan quality of care para peserta KB karena data yang dicatat BPS (2010). Harap dicatat bahwa keikutsertaan ini berkurang artinya jika tidak dipantau dan . maka kesempatan untuk melahirkan anak makin besar. 1.3 juta penduduk Jawa Tengah jika dirinci menurut kelompok umur. masih ada 18.15 persen PUS yang tidak ber KB. maka angka ini dapat ditekan. Artinya ada 36.72 tahun. Hasil SP 2010 memang menunjukkan bahwa laju pertumbuhan penduduk (LPP) Jawa Tengah hanya 0. misalnya migrasi keluar. yakni jumlah penduduk usia produktif 15-64 tahun hampir dua kali lipat dari kelompok umur tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas). bahkan untuk perdesaan angka itu lebih kecil lagi yakni 20.81 persen dari Wanita Usia Subur (WUS) pada tahun 2009 dan justru naik menjadi 59. dan pernyataan ini memerlukan penelitian lebih lanjut. alias menjadi setengah penganggur.2010). Jika ini dilakukan.26 persen PUS yang tidak ber-KB dengan alasan takut efek samping. Sosialisasi dan penyuluhan agar usia kawin pertama ditingkatkan karena data BPS (2010) menyebutkan jumlah pasangan usia subur (PUS) usia 20-24 tahun di Jateng masih tinggi yakni 54. Jika ada penyuluhan dan jaminan keselamatan dari petugas kesehatan KB.

Jumlah peserta KB menurut SDKI 2007 hanya 63. bahkan ada 11. merupakan hal mendasar yang harus digarap serius. Banjarnegara.8 yaitu (laki-laki 16. dan sebaliknya. Kendal. Jumlah klinik-klinik KB di Jawa Tengah jumlahnya terus menurun. terutama pada saat Pendataan Keluarga yang harus mendata dan merekap ribuan data keluarga. peningkatan status sosial ekonomi.091. Tabel 1. 4) Revitalisasi program KB yang benar-benar berakar di tingkat paling bawah. Angka kematian bayi ini juga diduga masih berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi PUS seperti : kemiskinan. Data BPS (2010) di Jawa Tengah adalah bahwa rasio petugas PLKB dengan desa yang ditangani adalah 1 : 3.Kab. Berdasarkan data menunjukkan hal yang dapat dicatat dari permasalahan di kabupaten/kota adalah : Banyak petugas lapangan KB (PLKB) yang beralih tugas. 1. 3) Penyiapan dan penyediaan anggaran untuk pendidikan. Banyumas. Kab. 791 milyar pada tahun 2008. Sebagai contoh.000 orang. serta Kota Pekalongan. Jumlah petugas lapangan KB hanya 21. untuk tingkat nasional. biaya imunisasi sebesar Rp. Jika PUS rendah tingkat pendidikannya. Mereka yang ber KB dengan alat KB jangka pendek rawan DO. Brebes. Kab. kecuali pada 9 Kab/Kota yaitu: Kab.dipertahankan keberlangsungannya. Cilacap. Dalam era desentralisasi ini peran pemerintah kabupaten atau kota sangat penting. Batang.7%. Artinya setiap PLKB harus menangani 3 desa. namun fakta yang ada menunjukkan program KB menghadapi masalah yang cukup serius.Wonosobo.26 persen pada tahun 2010. yang berarti menyusut sekitar 14.545). apalagi yang menggunakan Metoda Kontrasepsi Jangka Panjang mengalami penurunan dari 19. Sebaran penduduk menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa umumnya kabupaten dan kota di Jawa Tengah juga lebih banyak jumlah penduduk perempuan daripada jumlah penduduk laki-laki. serta penyediaan lapangan kerja. dan akan mempengaruhi usia kawin pertama.05 persen perempuan di Jateng menikah pada usia di bawah 19 tahun. Kenyataan ini menunjukkan bahwa program-program pemberdayaan perempuan. karena ada yang berpendapat : banyak anak banyak rezeki atau banyak anak berarti akan membantu ekonomi keluarga. akan meningkat menjadi sekitar Rp. Kemiskinan akan menyebabkan mereka kekurangan gizi dan nutrisi serta menghambat keikutsertaan KB. maka diperkirakan akan memiskinkan mereka.Kab. Magelang. pendidikan yang masih rendah. Kab. karena di Provinsi Jawa Tengah jumlah penduduk kelompok usia sekolah 10-14 tahun dan 15-19 tahun adalah yang tertinggi diantara kelompok umur lainnya.4 trilyun pada tahun 2015. Kab. ditandai dengan kurangnya perhatian pemerintah kabupaten/kota. Kab. usia kawin yang masih dini (36. 2) Penyiapan program kesehatan yang baik dan anggaran yang cukup untuk menjaga calon anak bangsa ini.2 diperoleh angka perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan 98. 1.000 orang dibanding pada saat KB sukses di masa Orde Baru.2 Penduduk Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010 Kabupaten/Kota Jenis Kelamin . maupun di tingkat kabupaten/kota.291.9 persen perempuan usia 10-15 tahun yang sudah menikah). Program kesehatan bayi ini penting karena data SDKI (2007) menyebutkan ada 26 kematian bayi di Jawa Tengah per 1000 kelahiran hidup. dan ini tentu saja akan menghambat dan menambah berat tugasnya.112 dan perempuan 16.06 persen pada tahun 2009 menjadi 18.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dari hasil sensus penduduk 2010 seperti pada tabel 1. peningkatan pendidikan dan sebagainya.

Pernyataan ini didukung oleh fakta bahwa jumlah wanita usia subur (WUS) usia 15-49 tahun cukup tinggi yaitu 53. 12.5 persen penderita penyakit . Kenyataan ini merupakan tantangan yang berat bagi program KKB di Jawa Tengah. memasukkan tema-tema KB dan kesejhatan reproduksi remaja ke mata pelajaran yang sudah ada di sekolah (jadi bukan kurikulum tersendiri yang memberatkan.7 persen kehamilan tidak dikendaki (unwanted pregnancy). maka permasalahan yang dihadapi Provinsi Jawa Tengah diantaranya adalah : 1) Penyiapan program KB yang lebih intensif dengan target meningkatkan peserta KB yang baru. Tuntutan ini terkait dengan fakta bahwa masih ada 19.38% dan kelompok umur wanita 10-14 tahun adalah yang paling tinggi bila dibanding dengan kelompok umur lainnya.01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 71 72 73 74 75 76 Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kota Kota Kota Kota Kota Kota Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Magelang Surakarta Salatiga Semarang Pekalongan Tegal Laki-laki 824 279 778 197 420 258 436 152 578 724 343 644 383 401 594 117 459 044 555 700 409 174 452 386 402 964 421 363 648 598 409 170 295 266 578 127 383 508 548 140 523 984 458 203 355 819 457 263 353 603 417 406 625 565 694 695 872 934 58 311 243 296 83 479 764 487 140 983 118 872 16 091 112 Perempuan 817 828 776 330 428 694 432 761 581 202 351 783 371 482 587 606 471 487 574 347 415 064 476 518 410 232 436 903 660 098 420 558 296 093 612 866 393 929 549 140 531 595 472 524 352 727 443 050 353 161 421 215 635 788 700 144 860 935 59 916 256 041 86 853 791 497 140 451 120 727 16 291 545 Jumlah 1 642 107 1 554 527 848 952 868 913 1 159 926 695 427 754 883 1 181 723 930 531 1 130 047 824 238 928 904 813 196 858 266 1 308 696 829 728 591 359 1 190 993 777 437 1 097 280 1 055 579 930 727 708 546 900 313 706 764 838 621 1 261 353 1 394 839 1 733 869 118 227 499 337 170 332 1 555 984 281 434 239 599 32 382 657 JAWA TENGAH Sumber : BPS Sensus Penduduk Tahun 2010 Berdasarkan data jumlah penduduk menurut jenis kelamin. Hal yang harus ditingkatkan adalah pembentukan Pusat-pusat Informasi Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK).

dan pada semester pertama tahun 2008 tingkat drop out peserta KB mencapai angka 285. dan anak. Jika pada tahun 2002-2003 tingkat penggunaan kontrasepsi mencapai 62.2 poin.2 poin ini tinggi terutama jika dikaitkan dengan jumlah penduduk Jateng yang mencapai angka 32. namun terkait dengan tujuan untuk : Pemenuhan hak-hak reproduksi. serta kesehatan dan kesejahteraan ibu.02 5.96 persen di Kabupaten Brebes.47 %. Program KB tidak identik dengan pakai kontrasepsi. Angka ini berada di atas kewajaran sebesar 7 persen per tahun. 4) Mencari strategi baru yang lebih menekankan kepada peningkatan program KB bagi pria. Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010 Kabupaten/Kota 7-12 Kab Kab Kab Kab Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara 194 058 169 773 97 534 98 130 Kelompok Umur Sekolah % 11. 3) Menggerakkan program KB lebih intensif dengan target yang jelas yakni peningkatan penggunaan alat kontrasepsi untuk menekan angka kelahiran.26 %. karena menurut BKKBN Jawa Tengah (2011). maka pada tahun 2007 turun menjadi 59.CPR dan unmet need. penanganan kesehatan reproduksi dan seksual. bayi.2 %. 2) Menekan angka drop out (DO) peserta KB. 5) Peningkatan program KB yang berorientasi pemberdayaan perempuan.49 11.5 % saja.83 4. Kenyataan ini merupakan tantangan ke depan.73 4. agar program pengendalian jumlah penduduk dapat ditingkatkan.641 orang yang DO.2 juta jiwa yang berarti urutan ketiga terbesar di Indonesia. terendah di Kabupaten Magelang 3. dan menekan unmet need menjadi kurang dari 5 persen. dst.44 16-18 79 331 73 567 39 944 41 868 % 4. dan yang tidak pernah menggunakan alat KB sekitar 17.71 4.seks menular terutama HIV/AIDS.3 Jumlah dan Persentase Kelompok Umur Sekolah Menurut Kabupaten/Kota. Akibatnya pada tahun 2007 angka TFR (total fertility rate) Pasangan usia subur 15-49 tahun menjadi 2. Angka 0. Dari titik inilah pendekatan sosial budaya harus menjadi prioritas selain aspek-aspek teknis dalam pengendalian penduduk. promosi.03 persen dan tertinggi 18.92 11. terutama mengurangi disparitas TFR. penurunan angka kelahiran.9 %.3. Selanjutnya persentase wanita usia subur yang kawin dan sedang menggunakan alat KB sekitar 63.2 poin dibanding tahun 2002-2003. berarti naik 0.07 %.Program KB mencakup isu yang lebih luas. 67 %.82 10. jumlah angka DO masih 7. kepemudaan.60 5. PIK yang didirikan dapat saja bekerjasama dengan berbagai organisasi keagamaan. Ini bukan pekerjaan mudah namun perlu strategi baru yang lebih efektif dan realistis. Angka 0. pencegahan.82 .56 persen.28 5. dst.016 orang dan pada tahun 2011 menjadi 428. tidak sedang menggunakan alat KB 19. Dari persoalan inilah peningkatan CPR setidaknya harus di atas angka 65 persen.29 13-15 98 819 82 119 47 528 47 238 % 6. 1. Hal ini didasarkan atas rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB yang baru mencapai 4.3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Usia Sekolah Tabel 1.2 artinya jumlah anak yang dimiliki wanita usia subur meningkat 0. Pernyataan ini terkait dengan data BPS (2010) yang mencatat jumlah pasangan usia subur 15-49 tahun yang kawin mencapai angka 72. pendidikan.

19 5. Setidaknya ada beberapa kebijakan pokok yang .36 10.59 4.09 10.46 9.74 5.59 9.81 4.00 9.60 5.85 4.28 5.11 5.74 5. sedangkan untuk penduduk tingkat SMA (16-18 tahun) terbanyak di Kabupaten Pekalongan sebesar 5.03 4.59 5.40 persen dan yang terkecil di Kota Semarang yakni 4.41 10.40 5.37 5.58 5.46 persen dari seluruh penduduk.05 11.86 persen).32 10.34 5.09 10.47 5.99 12.10 10.19 6.67 persen dan terkecil di Kabupaten Wonogiri sebesar 4.11 9.65 5.08 6. Penduduk yang terbanyak untuk tingkat SMP (13-15 tahun) di Kabupaten Pekalongan yakni 6. Jika diukur secara relatif.14 10.57 5.67 4.87 5.70 10.05 5.73 5.91 5.35 5.49 9.86 73 312 40 790 42 779 66 148 49 839 55 520 42 165 45 966 40 674 44 697 73 936 42 236 31 645 63 551 42 363 59 559 64 097 47 571 37 311 51 616 40 575 53 713 78 087 84 862 107 365 5 952 24 222 8 269 74 139 16 161 13 352 1 798 176 6.21 5.10 12.76 persen.65 4.15 persen.12 9. dan persentase yang paling tinggi adalah kelompok umur 7-12 tahun (10.388 atau 21.05 5.32 5.09 5.34 12.98 4.84 10.34 persen dan Kota Surakarta yang terkecil yakni 9.05 JAWA TENGAH Sumber : BPS Sensus Penduduk Tahun 2010 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa kelompok usia sekolah (7-18 tahun) di Jawa Tengah cukup tinggi yakni 6.15 4.Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kab Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Magelang Surakarta Salatiga Semarang Pekalongan Tegal 137 353 74 448 88 748 126 456 97 608 108 397 81 219 88 457 83 918 87 012 145 183 85 985 59 650 120 777 79 954 121 287 122 686 94 002 73 149 95 935 76 567 100 569 155 610 168 787 208 122 11 183 45 503 15 529 146 382 30 810 25 397 3 516 178 11.60 10.95 5.36 5. Besarnya kelompok anak usia sekolah ini memerlukan perhatian yang serius karena pendidikan adalah bekal utama untuk menghadapi hidup di masa mendatang.67 5.11 persen.12 4.32 10.65 5.14 11.47 5.83 11.02 4.74 6.43 6.31 5. Terkait dengan jumlah penduduk usia sekolah di Jawa Tengah ini maka permasalahan yang dihadapi adalah : 1) Tingginya kelompok anak usia sekolah menunjukkan Jawa Tengah menghadapi permasalahan di bidang pendidikan dasar dan menengah. dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.08 4.95 10.47 5.36 4.76 10.67 5.948.00 5.28 5.55 58 581 35 319 35 804 59 349 43 298 52 807 41 027 38 523 36 953 39 379 65 151 37 126 30 978 60 178 41 714 57 964 61 367 45 997 32 523 47 837 37 876 47 552 66 573 71 516 96 791 6 399 27 438 9 205 85 096 15 895 13 113 1 634 039 5. Kabupaten Pemalang menduduki peringkat pertama untuk jumlah penduduk usia Sekolah Dasar (7-12 tahun) yakni sebanyak 12.98 4.76 5.66 10.71 11.40 6.94 4.07 5.85 4.28 11.24 5.52 10.13 5.45 5.54 4.27 5.41 5.62 10.49 5.85 9.

Dari titik inilah gagasan pendidikan vokasi atau keterampilan pantas dilaksanakan dengan proporsi lebih besar lagi.014 orang dengan prevalensi usia 15 . sarana-prasarana dan relevansi dengan perkembangan ekonomi global.37 persen saja. mengapa harus menyekolahkan anak sampai tingkat SMP misalnya. Menurut Carlson.2010). Data BPS (2005) menyebutkan bahwa tahun 2004 jumlah penduduk Jateng yang buta aksara pada kelompok usia 10 .000 orang yang masih buta aksara atau buta huruf. selain karena mahalnya biaya (operasional) pendidikan.44 tahun. mutu guru. kemudahan mencari kerja dan perbedaan yang cukup berarti upah antara lulusan SD dan lulusan SMP. dalam Adoption of Education Innovations (Suyanto.19 juta jiwa pada tahun 2008 dan jumlah penganggur terbuka masih 1. Menurut teori household survival strategy dari Harbirson (1981).44 tahun mencapai 724. Kemudian untuk usia 10 tahun ke atas 3. sedangkan kelompok usia 45 tahun keatas jumlahnya 2.1995). Sampai bulan Januari 2006 sedikitnya 598. 2) Program pemberdayaan dan pencerdasan masyarakat.294 orang. Akibatnya angka putus sekolah akan tinggi. agar inovasi pendidikan dapat diadopsi oleh masyarakat.875.harus ditingkatkan di bidang pendidikan yakni : peningkatan mutu pendidikan. Setengah penganggur adalah orang yang kelihatannya bekerja namun hasilnya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. yakni umur 10 .44 tahun. maka mereka perlu diyakinkan bahwa materi inovasi itu memang memiliki keuntungan relatif jika dibandingkan dengan sistem atau praktek yang selama ini telah ada.25 juta jiwa (BPS. Karenanya mereka beranggapan akan lebih baik jika anak dimanfaatkan untuk membantu ekonomi keluarga. masyarakat miskin akan memanfaatkan sumber-sumber ekonomi yang tersedia jika kondisi ekonomi mengalami perubahan. relevansi dan daya saing pendidikan. kelengakapan laboratorium atau bengkel. kemudian siang harinya mereka dapat masuk sekolah dan sebagainya. buta aksara.303. Data ini belum menyangkut jumlah setengah penganggur yang tentu lebih besar. Jadi mereka beranggapan. Artinya orang tua merasa tidak untung jika anaknya lulus SMP. tetapi dengan upah yang sama dengan lulusan SD. selain membebaskan SPP. bantuan makanan tambahan. kondisi ini dialami oleh penduduk berusia produktif.428 orang di Jateng masih buta huruf.25 juta orang di Jateng menganggur karena tidak mendapatkan pekerjaan. juga ada program beasiswa. Sedang. Tahun 2005 Sebanyak 625.229 orang. Penyediaan dana yang cukup untuk meningkatkan ”daya beli” masyarakat miskin dalam bidang pendidikan. Peningkatan pendapatan ekonomi ini penting terkait dengan data orang miskin di Jateng yang masih cukup tinggi yakni 6. bantuan transportasi. kalau ternyata tidak ada perbedaan yang signifikan . Hal ini ditekankan karena data BPS (2010) mencatat bahwa pada tahun 2009 mutu pendidikan di Jawa Tengah masih kurang mengingat jumlah tenaga pendidik yang bekualifikasi S1/D4 hanya 46. Dengan kata lain. pendirian pendidikan vokasi harus hati-hati dengan memperhatikan mutu. atau mengubah metode dan waktu jam belajar agar anak-anak miskin masih tetap bisa membantu orang tuanya bekerja. dan salah satu usaha itu ialah memanfaatkan tenaga kerja keluarga termasuk tenaga anak-anaknya. Peningkatan daya saing pendidikan sangat penting karena data BPS (2010) menunjukkan ada 1. pemerataan dan perluasan akses pendidikan terutama pendidikan dasar (wajar 9 tahun). keengganan orang miskin menyekolahkan anaknya bisa juga disebabkan adanya ”opportunity cost” yang hilang. 3) 4) . Ironisnya. Hanya yang perlu dicatat. pada penduduk usia diatas 45 tahun. Meningkatkan pendapatan orang tua miskin yang kesulitan untuk menyekolahkan anaknya. juga akibat adanya persepsi dari orang tua murid yang miskin bahwa anak merupakan pembantu utama untuk mencari nafkah. dibanding tahun lalu diperkirakan jumlahnya stagnan.

Pekalongan 27.6 37.4 Dependency Ratio dan Sex Ratio Menurut Kabupaten/Kota.4 41.0 11. Jawa Tengah 2010 Kabupaten/Kota 01.7 47.2 51. Tentu hal ini dapat dilakukan jika kewajiban pemerintah (daerah) untuk menyantuni fakir miskin ini telah dipenuhi.2 96.0 52.4 ODR 11.9 12.8 52. Kab.4 54.5 11.8 43.4 96. Tabel 1.9 41.8 14.1 98.2 40.1 97.2 36.8 39.6 35.0 14.1 YDR 43.6 49. Kab.3 50. Rasio ini menyatakan seberapa berat beban tanggungan yang harus dipikul oleh jumlah penduduk usia produktif.3 9.5 9.9 103.7 11. artinya satu untuk usia tidak produktif dan dua untuk usia produktif. Cilacap 02.5 34. Pati 19.5 36. Kab. Kab. Tegal 29.9 98. maka disebut mengalami bonus demografi atau ada window of opportunity atau jendela kesempatan.0 100.8 98.5 10.3 53. Kab.4 44.8 43.0 50. Jika angka itu satu berbading dua. maka ada semacam ”sanksi” religius atau sanksi sosial bagi mereka yang melanggar.5 48. Pemalang 28.6 7.1 45.6 97.9 38.6 97.4 98. Purworejo 07. Kab.3 45.6 94. Klaten 11.3 97.7 7.9 35. Kab. Kab.1 52.7 10. Wonosobo 08. Blora 17.4 8.6 9. Kab. Kab. Boyolali 10. Brebes TOTAL DR 54. Kab. Purbalingga 04.7 94.9 52.3 35. Demak 22. Semarang 23.4 46.8 98. Grobogan 16.9 48.6 43. Batang 26.8 37. Kab.3 97.0 11.2 100. Wonogiri 13. Kab.0 100.1 44.5) Menggerakkan para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk mengkampanyekan program pendidikan wajib belajar 9 tahun.4 37.1 53. Kab. Kab.2 101.7 54.6 11. Kebumen 06. Kab. Sragen 15.8 11.3 59. Kab.3 39.8 40.3 99. Kudus 20.2 SR 100.4 40. Temanggung 24. Dengan adanya himbauan tokoh agama atau tokoh masyarakat.9 14.1 9.8 18. Kab.0 9. Sukoharjo 12. 1. Kab. Kab.0 56.4 55.0 43.9 48. Banjarnegara 05. Magelang 09. Kab.2 101.5 13. Kab.0 47.8 100.4 99.2 36.4 99.7 103.4 .4 Angka Dependency Ratio dan Window Opportunity Istilah Dependency Ratio menyatakan perbandingan antara kelompok usia tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) terhadap kelompok penduduk usia produktif (15-64 tahun). Jepara 21. Kab.3 8.3 49. Kab. Kendal 25. Kab.7 54.9 44. Kab.6 10. Kab.8 11.2 98.2 16.6 39. Banyumas 03.1 51.3 39.4 49.8 99. Rembang 18.0 36.6 10. Kab.7 8.0 47. Karanganyar 14.1 99. Kab.

Kota Tegal JAWA TENGAH 43. Untuk itu sumber daya manusia pada penduduk usia produktif perlu ditingkatkan dengan pelatihan ketrampilan dalam balai latihan kerja.700 orang per bulan pada tahun 2008. Angka tersebut menunjukkan bahwa Jawa Tengah hampir menikmati Bonus Demografi. terutama di sektor pertanian agar penduduk desa tidak bermigrasi ke kota.5 39.34 % pada tahun 2009 (BPS. 6) Peningkatan program pelatihan dan keterampilan untuk menekan arus tenaga kerja ke luar negeri yang banyak membawa masalah. Dengan pemberdayaan di sektor pertanian. Kota Pekalongan 76.3 33.0 96.3 95. maka akan diperoleh angka : Pada kelompok umur 0-14 tahun ada 26.68 juta jiwa.71. jumlah angkatan kerja masih terus meningkat. terutama ke Timur Tengah dan Malaysia.3 32. kelompok umur 15-64 tahun berjumlah 65.4 9.3 7. dari sisi penawaran. Seperti diketahui.7 50. Semakin kecil Ratio Ketergantungan maka kondisi Kab/Kota tersebut semakin maju. Kota Salatiga 74. 3) Penyediaan lapangan kerja karena jumlah angkatan kerja di Jawa Tengah pada tahun 2007 mencapai angka 17.0 6.4 39.55 %.5 97. Di negara Maju seperti Amerika Serikat angka Dependensi Rationya: 25.5 8. dan kelompok umur 65 tahun ke atas berjumlah 7.Kedua.1 31. Berdasarkan hal ini. diharapkan akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil. pengangguran terdidik (SLTA ke atas) masih .66 juta jiwa dengan tingkat pengangguran terbuka sebanyak 7.39 juta jiwa tergolong sangat miskin dan 1. nampak bahwa situasi pasar kerja di Jawa Tengah tercatat dua hal sebagai berikut : Pertama. maka bonus demografi tersebut hampir tidak ada artinya. 4) Peningkatan program kesejahteraan untuk mengurangi kemiskinan.7 % atau 1.54 juta jiwa tergolong miskin (BPS.01 % pada tahun 2007. Pernyataan ini didasarkan atas fakta bahwa di Jawa Tengah.2008) 5) Peningkatan produktivitas di sektor industri dengan berbagai program.4 6.5 98. alias menjadi setengah penganggur. kesukaran memperoleh pekerjaan di Indonesia menyebabkan pula terjadinya gelombang pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. serta 1. Kota Surakarta 73.3 penduduk tidak produktif. Data yang dicatat BPS (2009) menunjukkan bahwa rata-rata upah di Provinsi Jawa Tengah lebih rendah jika dibandingkan dengan angka nasional.8 42. yakni 3. usaha mikro dan kecil menengah.9 39. Kenyataan ini terkait dengan rendahnya upah yang diterima pekerja.204. Hal ini berdasar fakta bahwa angka kemiskinan di Jawa Tengah cukup tinggi.0 penduduk tidak produktif dan yang terendah bebannya di Kota Semarang sebesar 39.4 98.1 96. Jika angka usia produktif tidak atau kurang bermutu.3 45. ke luar daerah atau ke luar negeri. 2) Peningkatan produktivitas kerja. menjadi 19.6 100. Hal yang cukup menggembirakan dari 32.2009).437 jiwa penduduk Jawa Tengah yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu.3 yaitu setiap 100 penduduk produktif menanggung beban 39. yakni jumlah penduduk usia produktif 15-64 tahun hampir dua kali lipat dari kelompok umur tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas). Berdasarkan komposisi tersebut.8 33. maka yang menjadi masalah di Jawa Tengah adalah : 1) Apakah kelompok usia produktif itu termasuk penduduk yang bermutu. Kota Magelang 72.8 Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah Dependency Ratio yang tertinggi bebannya adalah Kabupaten Kebumen yakni 59.2008). karena data BPS (2010) menunjukkan ada 5.36 juta jiwa (BPS. maupun koperasi rakyat lainnya .3 10.3 juta penduduk Jawa Tengah jika dirinci menurut kelompok umur.0 yaitu setiap 100 orang penduduk produktif menanggung 59. kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB juga mengalami penurunan.0 38.3 10.3 45. Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) rata-rata sebesar Rp.715. Kota Semarang 75.72 %. dari 20.17 juta rumah tangga miskin atau setara 12.73 %.4 39.

52/2009 menunjukkan keseriusan pemerintah untuk mengurusi masalah kependudukan. informasi yang lengkap tentang klien merupakan unsur penting dalam menentukan standar pelayanan. Tuntutan ini penting dilakukan karena sudah lama McGee (1971) mengatakan bahwa kota-kota besar di negaranegara berkembang menghadapi persoalan sulitnya menciptakan lapangan kerja di satu sisi dan membesarnya kota pada sisi yang lain. keamanan penggunaan kontrasepsi.1 Revitalisasi Pelayanan KB Terbitnya UU No. tidak tergoda untuk pindah ke dinas lain. PPKBD ( SKD) yang turut aktif memainkan peran untuk masalah kependudukan. terutama yang memiliki keahlian melayani dengan prinsip “quality of care”. kerahasiaan yang terjamin. 2007). yakni ketidakmampuan pemerintah kota dalam mencukupi pelayanan bagi warganya (Todaro dan Stilkind. Program KB di masa Orde Baru yang dipandang masih ”represif”. Sebagai contoh di Desa Tahunan Kabupaten Jepara. mulai dari tingkat pusat hingga kabupaten/kota. Para petugas lapangan KB (PLKB) harus diberdayakan lagi dengan imbalan yang pantas . Yang disebut pertama adalah prinsip memperhatikan klien tidak hanya secara teknis.1 persen calon akseptor KB belum terlayani. ada usaha ukir kelas dunia yang dapat menggerakkan ekonomi desa dan dapat menekan urbanisasi. kini harus diperbarui. Kesempatan kerja yang banyak tersedia di kota hanya ada di sektor informal (Manning. serta berkurangnya jumlah para PLKB.7) tinggi dan diperkirakan terus meningkat secara drastis pada tahun-tahun yang akan datang. II.1981). untuk menurunkan angka TFR. efek samping dan pelayanan klinis . Karenanya. keluarga. Program KB mestinya juga memperhatikan hal ini dengan prinsip melayani klien (peserta KB) dengan “quality of care” dan bukan hanya “quality of service”. harus ada upaya komprehensif dan terpadu. kini menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. harus direvitalisasi. REKOMENDASI 2.9 triliun rupiah. Tidak mudah dan tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk menjadikan PLKB yang terlatih dan siap kerja. Jumlah ini naik dari angka 8.1985). Meningkatkan keunggulan potensi ekonomi dan sumberdaya manusia di perdesaan.9 persen pada tahun sebelumnya (data dari Survai Demografi dan Kesehatan Indonesia. dan bukannya dihapus. Perkembangan ini mengindikasikan adanya hubungan negatif antara tingkat pendidikan dan kesempatan kerja. menyebabkan 9. Ukuran keberhasilan KB adalah kepuasan klien dan meningkatnya pengetahuan klien tentang reproduksi yang sehat. serta rendahnya tingkat kegagalan KB. Karenanya. Rendahnya anggaran untuk program KB yang saat ini hanya 2. Mestinya lembaga-lembaga desa PKK. dan kesehatan di jaman Orde Baru. Revitalisasi pelayanan KB harus dilakukan.agar mereka yang sudah terlatih. petugas KB harus memahami perasaan klien. Lewat UU itu pula BKKBN yang semula Badan Koordinasi KB. namun juga hubungan antar pribadi yang intens yang hasil akhirnya ada peningkatan pengetahuan klien terhadap perilaku reproduksi yang sehat. namun juga terkait dengan kesehatan reproduksi. penyedia layanan harus memberikan penjelasan tentang alat kontrasepsi yang cocok dan tepat tanpa memprioritaskan atau membatasi pada satu metode kontrasepsi. termasuk kontraindikasi. Akibatnya di kota-kota besar terjadi urbanisasi berlebih. Dengan kata lain. bukan hanya masalah kualitas penduduknya saja. Klien harus memiliki informasi yang lengkap mengenai metode-metode kontrasepsi tentang kelebihan dan kekurangannya. Quality of Care mensyaratkan kepada para klien KB untuk memiliki pengetahuan yang memadai.

Kementerian Tenaga Kerja. demikian pula kesejahteraan masyarakat tidak selalu hasil penjumlahan dari kesejahteraan individu. penyedia layanan harus mencari informasi mengenai latar belakang klien. tujuannya diharapkan dapat mengerem laju urbanisasi. Klien menerima informasi mengenai kemungkinan pergantian metode kontrasepsi atau sumber-sumber suplai pelayanan dan membuat jadwal pelayanan lanjutan. Kesemuanya dilakukan oleh penyedia layanan untuk melayani klien secara wajar. Diposkan oleh Najib di 10. budaya dan kesehatan. penyedia layanan secara teknis mampu melakukan screening klien untuk mengidentifikasi kontraindikasi dan mampu memberikan pelayanan klinis secara efektif dan berkesinambungan. ukuran dan persebaran penduduk. Sketsa masalah di atas jelas mengisyaratkan perlunya menghidupkan program KB yang lebih baik dibandingkan pada masa Orde Baru. Kebijakan kependudukan yang baik akan berimbas kepada peningkatan mutu penduduk.lanjutan. Kebijakan kependudukan harus merupakan desain atau program nyata dari pemerintah untuk mengatur hal ihwal yang berkaitan dengan penduduk.2 Kebijakan Kependudukan Bertambahnya tugas BKKBN menjadi Badan Kependudukan dan KB Nasional. Jika mutu penduduk meningkat maka program-program KB juga akan lebih mudah diimplementasikan. Namun yang jelas keberhasilan mengendalikan dan mengatur penduduk akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. maka lembaga ini juga harus mendesain program kependudukan yang komprehensif bersama lembaga lain seperti Kementerian Kesehatan. berbagi rasa dan informasi. Berkaitan dengan arus migrasi yang memadati kota-kota besar. yakni sebuah tindakan atau langkah nyata dari pemerintah. manusiawi. Kementerian Dalam Negeri. Perilaku demografis bukan terdiri atas kumpulan tindakan individu. Pemerintah harus menjadi aktor kunci /utama untuk mengatur dan menerapkan kebijaksanaan kependudukan. sehingga pemerintah harus merumuskan target yang jelas dan terukur. jumlah penduduk. untuk mengatur atau mengendalikan kecenderungan pertumbuhan penduduk guna mencapai kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari upaya mempertahankan hidup secara nasional. yakni komposisi penduduk. pengalaman-pengalaman yang pernah dimilikinya terkait kontrasepsi dan preferensinya dan kemudian membantu klien memilih alat kontrasepsi yang sesuai. Untuk itu berbagai studi tentang karakeristik penduduk perdesaan dan potensi sumber daya alam menjadi penting artinya. baik melalui langkah administratif atau legislatif. serta memiliki strategi dan program yang telah disusun secara baik agar intervensinya dapat diterapkan secara nyata untuk menghasilkan perubahan sosial ekonomi masyarakat. melindungi rahasia pribadinya.unmet need. terutama usaha penurunan disparitas TFR. dan CPR antar serta meningkatnya keserasian kebijakan pengendalian penduduk dengan pembangunan sosial ekonomi. dan yang harus dikendalikan dan diatur. Transmigrasi. diantaranya sebagaimana dikatakan oleh Eldrige (dalam Weller and Bouvier.1981). 2. serta melakukan konseling secara interpersonal. dan sebagainya. Banyak definisi tentang arti kebijakan kependudukan (population policy). maka perlu upaya menciptakan lapangan pekerjaan di perdesaan. serta berbagai kebijakan kependudukan lainnya. tujuan reproduksinya.57 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook . Agar tidak terjadi efek samping yang tidak diinginkan. Karenanya.

Pradika Adhie18 Mei 2012 14.05 wah trimakasih atas infonya ijin copas ya Balas 2...  Profil Kependudukan Jawa Tengah Berdasar Hasil SP . o ► April (1) GABUNG LEWAT EMAIL Submit BERI TAHU TEMAN ANDA PENGIKUT Template Simple..2 komentar: 1.45 sama minta ijin copi juga Balas Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) CARI BLOG INI Cari ARSIP BLOG  ► 2012 (1)  ▼ 2011 (3) o ▼ Oktober (2)  MEDIA ILMIAH Sarana Ekspresi Peneliti Kependudukan. nashrun21 Mei 2012 11.. . Diberdayakan oleh Blogger. Gambar template oleh luoman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful