Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang paling banyak dijumpai di antara tumor ganas THT di Indonesia, di mana karsinoma nasofaring termasuk dalam lima besar tumor ganas dengan frekuensi tertinggi, sedangkan di daerah kepala dan leher menduduki tempat yang pertama. Tumor ini berasal dari fossa Rosenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah transisional di mana epitel kuboid berubah menjadi epitel skuamosa.1 Insidens karsinoma nasofaring tertinggi di dunia dijumpai pada penduduk daratan Cina bagian selatan, khususnya suku Kanton di propinsi Guang Dong dengan angka rata-rata 30-50 / 100.000 penduduk per tahun. Insidens karsinoma nasofaring juga banyak pada daerah yang banyak dijumpai imigran Cina, misalnya di Hong Kong, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia dan Indonesia. Sedangkan insidens yang terendah pada bangsa Kaukasian, Jepang dan India. Penderita karsinoma nasofaring lebih sering dijumpai pada pria dibanding pada wanita dengan rasio 2-3 : 1.1 Penyakit ini ditemukan terutama pada usia yang masih produktif ( 30-60 tahun ), dengan usia terbanyak adalah 40-50 tahun.2 Survei yang dilakukan oleh Departemen kesehatan pada tahun 1980 secara pathology based mendapatkan angka prevalensi karsinoma nasofaring 4,7 per 100.000 penduduk atau diperkirakan 7000-8000 kasus per tahun di seluruh Indonesia.2 Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini masih merupakan suatu problem, hal ini karenan etiologi yang masih belum pasti, gejala dini yang tidak khas serta letak nasofaring yang tersembunyi, sehingga diagnosis sering terlambat.3 Pada stadium dini, radioterapi masih merupakan pengobatan pilihan yang dapat diberikan secara tunggal dan memberikan angka kesembuhan yang cukup tinggi. Pada stadium lanjut, diperlukan terapi tambahan kemoterapi yang dikombinasikan dengan radioterapi.3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi Karsinoma nasofaring adalah karsinoma di bidang THT yang paling banyak ditemukan. Sebagian pasien datang ke dokter THT sudah dalam keadaan terlambat atau stadium lanjut. 4

B. Epidemiologi dan Etiologi Di Eropa karsinoma nasofaring insidensi kurang dari 1 per 100.000. Insidensi tertinggi di negara-negara mediterania (Yunani, Yugoslavia, Itali, Prancis, Spanyol). Meski di Timur Jauh merupakan daerah endemik Virus Epstain Barr (EBV). Cina bagian selatan, khususnya suku Kanton di propinsi Guang Dong dengan angka rata-rata 30-50 / 100.000 penduduk per tahun. Insidens karsinoma nasofaring juga banyak pada daerah yang banyak dijumpai imigran Cina, misalnya di Hong Kong, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia dan Indonesia. Sedangkan insidens yang terendah pada bangsa Kaukasian, Jepang dan India. Penderita karsinoma nasofaring lebih sering dijumpai pada pria dibanding pada wanita dengan rasio 2-3 : 1.1 Penyakit ini ditemukan terutama pada usia yang masih produktif ( 30-60 tahun ), dengan usia terbanyak adalah 40-50 tahun. Di Indonesia sendiri insidensi 4,7 per 100.000 penduduk atau diperkirakan 70008000 kasus per tahun di seluruh Indonesia.2 Berbagai faktor resiko diduga sebagai penyebab dari karsinoma nasofaring yaitu 4: 1. Rasial, penyakit ini paling banyak pada ras tionghoa 2. Bahan karsinogenik, misalnya asap rokok 3. EBV, diduga sebagai penyebab penyakit ini 4. Iritasi kronis, misalnya akibat paparan asap rokok dan alkohol 5. Hormonal, kadar esterogen yang ringgi dalam tubuh

C. Klasifikasi Klasifikasi gambaran histopatologi yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelum tahun 1991, dibagi atas 3 tipe, yaitu5 : 1. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi (Keratinizing Squamous Cell Carcinoma). Tipe ini dapat dibagi lagi menjadi diferensiasi baik, sedang dan buruk. 2. Karsinoma non-keratinisasi (Non-keratinizing Carcinoma). Pada tipe ini dijumpai adanya diferensiasi, tetapi tidak ada diferensiasi sel skuamosa tanpa jembatan intersel pada umumnya batas sel cukup jelas. Tipe ini dibagi menjadi dua yaitu a. Karsinoma non-keratin berdiferensiasi b. Karsinoma tidak berdeferensiasi. Karsinoma nasofaring menurut bentuk dan cara tumbuh terdapat 3 jenis yaitu, ulseratif, eksotifik (tumbuh seperti polip) dan endotifik (tumbuh di bawah mukosa, agak sedikit lebih tinggi dari jaringan sekitar) atau yang biasa disebut creeping tumor. Karsinoma nasofaring dapat ditemukan pada fosa Rosenmuller, di sekitar tuba eustachius, dinding belakang nasofaring atau atao nasofaring.5,6

D. Gejala Klinik Gejala karsinoma nasofaring 6: 1. Gejala setempat, yaitu gejala hidung berupa pilek dari satu atau kedua lubang hidung yang terus menerus. Lendir dapat bercampur darah atau nanah yang berbau. Epistaksis dapat sedikit atau banyak berulang, dapat juga hanya berupa riak bercampur darah. Obstruksi nasi unilateral atau bilateral terkadi jika tumor tumbuh secara eksotifik. Gejala telinga misalkan tinitus, kurang pendengaran ataupun otitis media purulenta. 2. Gejala karena tumbuh dan menyebarnya tumor bersifat ekspamsif, ke muka tumor tumbuh ke depan mengisi nasofaring dan menutup koane sehingga timbul gejala obstruksi nasi. Ke bawah, tumor mendesak palatum mole sehingga terjadi bombans palatum mole.

Bersifat infiltrat, ke atas melalui foramen ovale masuk k endokranium, mengenai dura dan timbul sefalgia hebat, kemudian akan mengenai N. VI, terjadi diplopia dan strabismus. JIka mengenai N. V, terjadi neuralgia trigeminal dengan gejala nyeri kepala hebat pada daerah muka, sekitar mata, hidung, rahang atas, rahang bawah, dan lidah. N. III dan N. IV terjadi ptosis dan oftalmoplegia, pada kasus lanjut tumor akan merusak N. IX, X, XI, XII. Ke samping tumor masuk spasium parafaring, merusak N. IX, X, sehingga terjadi paresis palatum mole, faring, dan laring dengan gejala regurgitasi makanan minimum ke kavum nasi, rinolalia aperta, dan suara parau. Jika mengenai N. XII, terjadi deviasi lidah ke samping atau gangguan menelan. 3. Gejala karena metastasis melalui aliran getah bening akan

menyebabkanterjadinya pembesaran kelenjar leher (tumor colli) yang terleta di bawah ujung planum mastoid, di belkang angulus mandibula, medial dari ujung bagian atas M. Sternokleidomatoid, bisa unilatral dan bilateral. 4. Gejala karena metastasi melalui aliran darah meskipun jarang tapi akan menyebabkan metastasis jauh yaitu ke hepar, paru, limpa, tulang dan sebagainya. Berdasarkan gejala-gejala di atas, pada karsinoma nasofaring perlu dikenali adanya gejala dini dan gejala lajut. Gejala dini dijumpai saat tumor masih tumbuh dalam batas-batas nasofaring, jadi berupa gejala setempat yang disebabkan oleh tumor primer (gejala hidung dan gejala telingan seperti disebut di atas). Gejala lanjut didapat saat tumor telah tumbuh melewati batas nasofaring, baik berupa metrastasis ataupun infiltrasi dari tumor. Sebagai pedoman, adanya tumor gana nasofaring jika dijumpai TRIAS 5: a. tumor colli, gejala telinga, gejala hidung. b. tumor colli, gejala intrakranial ( saraf dan mata ), gejala hidung atau telinga. c. gejala intrakranial, gejala hidung, gejala telinga.

E. Penegakan Diagnosis Diagnosis karsinoma nasofaring ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang ditemukan, baik gejala dini maupun lanjut. Pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior menunjukkan tumor pada nasofaring.5,7 Selanjutnya untuk menentukan jenis tumor perlu dilakukan biopsi dan pmeriksaan patologi. Foto rontgen kepala dan Ct-scan atau bahkan MRI jika perlu dibuat untuk melihat metastasis ke intrakranial.5,7,8 Gambar 1. Pemeriksaan MRI pada karsinoma Nasofaring8

Ket :

Gambaran sagital pada pemeriksan MRI, tanda panah menunjukkan primary tumor dan nodus metastasis pada lateral retrofaringeal. Pemeriksaan dilakukan pada penderita yang baru saja didiagnosis sebagai penderita karsinoma nasofaring jenis skuamos berkeratin.

F. Staging Staging karsinoma nasofaring diklasifikasikan menurut American Joint Committee on Cancer dalam edisi ke-6 tahun 2002, American Society of Clinical Oncology 2011, serta menurut Fozhuo 1992, staging system of china.

American Joint Committee on Cancer (AJCC) 2002, mengklasifikasikan staging untuk karsinoma nasofaring sebagai berikut 5: Tabel 1. Primary Tumor (T)a TX Primary tumor cannot be assessed. T0 No evidence of primary tumor. Tis Carcinoma in situ. T1 Tumor confined to the nasopharynx, or tumor extends to oropharynx and/or nasal cavity without parapharyngeal extension.b T2 Tumor with parapharyngeal extension.b T3 Tumor involves bony structures of skull base and/or paranasal sinuses. T4 Tumor with intracranial extension and/or involvement of cranial nerves, hypopharynx, orbit, or with extension to the infratemporal fossa/masticator space.
a

Reprinted with permission from AJCC: Pharynx. In: Edge SB, Byrd DR, Compton CC, et al., eds.: AJCC Cancer

Staging Manual. 7th ed. New York, NY: Springer, 2010, pp 41-56.
b

Parapharyngeal extension denotes posterolateral infiltration of tumor.

Tabel 2. Regional Lymph Nodes (N)a

NX N0 N1

Regional lymph nodes cannot be assessed.b No regional lymph node metastasis. Unilateral metastasis in cervical lymph node(s), 6 cm in greatest dimension, above the supraclavicular fossa, and/or unilateral or bilateral, retropharyngeal lymph nodes, 6 cm in greatest dimension.c Bilateral metastasis in cervical lymph node(s), 6 cm in greatest dimension, above the supraclavicular fossa.d Metastasis in a lymph node(s)c >6 cm and/or to supraclavicular fossa.d

N2 N3

N3a >6 cm in dimension. N3b Extension to the supraclavicular fossa.d

Reprinted with permission from AJCC: Pharynx. In: Edge SB, Byrd DR, Compton CC, et al., eds.: AJCC Cancer

Staging Manual. 7th ed. New York, NY: Springer, 2010, pp 44-56.
b

The distribution and the prognostic impact of regional lymph node spread from nasopharyngeal cancer,

particularly of the undifferentiated type, are different from those of other head and neck mucosal cancers and justify the use of a different N classification scheme.
c

Midline nodes are considered ipsilateral nodes. Supraclavicular zone or fossa is relevant to the staging of nasopharyngeal carcinoma and is the triangular region

originally described by Ho. It is defined by three points: (1) the superior margin of the sternal end of the clavicle, (2) the superior margin of the lateral end of the clavicle, (3) the point where the neck meets the shoulder. Note that this would include caudal portions of levels IV and VB. All cases with lymph nodes (whole or part) in the fossa are considered N3b.

Tabel 3. Distant Metastasis (M)a M0 M1


a

No distant metastasis. Distant metastasis.

Reprinted with permission from AJCC: Pharynx. In: Edge SB, Byrd DR, Compton CC, et al., eds.: AJCC Cancer

Staging Manual. 7th ed. New York, NY: Springer, 2010, pp 41-56.

Tabel 4. Anatomic Stagea Stage 0 I II Tis T1 T1 T2 T2 III T1 T2 T3 T3 T3 T N0 N0 N1 N0 N1 N2 N2 N0 N1 N2 N M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M

Stage IVA T4 T4 T4 IVB IVC


a

T N0 N1 N2 N3 Any N

N M0 M0 M0 M0 M1

Any T Any T

Reprinted with permission from AJCC: Pharynx. In: Edge SB, Byrd DR, Compton CC, et al., eds.: AJCC Cancer

Staging Manual. 7th ed. New York, NY: Springer, 2010, pp 41-56.

Klasifikasi karsinoma nasofaring berdasarkan American Society of Clinical Oncology 2011 sebagai berikut 8,9: Tumor : T menunjukkan ukuran dan lokasi tumor TX: The primary tumor cannot be evaluated. T0: No evidence of a tumor is found. Tis: This describes a stage called carcinoma (cancer) in situ. This is a very early cancer where cancer cells are found only in one layer of tissue. T1: The tumor has not spread beyond the nasopharynx. T2: The tumor extends into the soft tissue of the middle throat. T3: The tumor extends into bony structure or into the area behind the nose. T4: This describes a tumor that extends inside the head to the area of the brain or into the lower part of the throat. Nodus : N keikutsertaan nodus limpatius, biasanya ada tiga titik yang paling sering yaitu, nodus limpatikus antara clavicula dan leher, antara clavicula dan bahu, serta antara sepertiga proksimal clavicula dan dasar leher. NX: The regional lymph nodes cannot be evaluated. N0: There is no evidence of cancer in the regional lymph nodes. N1: Cancer has spread to lymph nodes above the triangular area described above. The lymph nodes are on the same side as the primary tumor, and the cancer found in the lymph nodes is 6 centimeters (cm) or smaller.

N2: Cancer has spread to lymph nodes on both sides of the neck, above the triangular area, but the cancer is 6 cm or smaller. N3: Cancer found in lymph nodes is larger than 6 cm or is found in lymph nodes located in the triangle. N3a: Cancer found in the lymph nodes is larger than 6 cm. N3b: Cancer has extended to the triangle region. Metastasis : M penyebaran sel kanker ke organ lain. MX: Distant metastasis cannot be evaluated. M0: Cancer has not spread to other parts of the body. M1: Cancer has spread to other parts of the body.

Staging : Stage 0: A carcinoma in situ (Tis) with no spread to lymph nodes (N0) or distant metastasis (M0). Gambar 2. Stage 0 Carcinoma Nasofaring9

Stage I: A small tumor (T1) with no spread to lymph nodes (N0) and no distant metastasis (M0). Gambar 3. Stage I Carcinoma Nasofaring9

Stage IIA: A tumor that has extended beyond the nasopharynx (T2) but has not spread to lymph nodes (N0) or to distant parts of the body (M0).

Gambar 4. Stage IIA Carcinoma Nasofaring

10

Stage IIB: A tumor (T1 or T2) that has spread to lymph nodes (N1) but has not metastasized (M0). Gambar 5. Stage IIB Carcinoma Nasofaring9

Stage III: This describes a noninvasive and invasive tumor (T1 or T2) that have spread to lymph nodes (N1 or N2) but have not metastasized (M0), or it describes a larger tumor (T3) with or without nodal involvement (N0, N1, or N2) and no metastasis (M0). Gambar 6. Stage III Carcinoma Nasofaring9

11

Stage IVA: This describes any invasive tumor (T4) with either no lymph node involvement (N0) or spread to only a single same-sided lymph node (N1) but no metastasis (M0). It is also used for any cancer (any T) with more significant nodal involvement (N2) but no metastasis (M0). Gambar 7. Stage IVA Carcinoma Nasofaring9

Stage IVB: This describes any tumor (any T) with extensive nodal involvement (N3a or N3b) but no metastasis (M0). Gambar 8. Stage IVB Carcinoma Nasofaring9

12

Stage IVC: This describes any tumor (any T, any N) when there is evidence of distant spread (M1). Gambar 9. Stage IVC Carcinoma Nasofaring9

Sedangkan menurut Fuzhou 1992 staging system of China, staging karsinoma nasofaring diklasifikasikan berikut ini5 :

Tabel 5. Primary Tumor (T) T1 Tumor confined to the nasopharynx. T2 Involvement of nasal fosa oropharinx, soft paatum, prevertebral soft tissue, and parapharingeal space extens before SO line. T3 extension over SO line, involvement of anterior or posterior cranial nerves alone, skull base, pterygoid process zone, and pterygopalatine fossa. T4 involvement of both anterior and posterior cranial nerves, paranasal sinus, cavernous sinus, orbit, infratemporal fossa, and direct invasion of first or second cervical vertebra. SO line: The line connected from the styloid process to the midpoint on posterior edge of the great occipital foramen. The border between upper and lower neck is the lower margin of the cricoid cartilage.

13

Tabel 6. Regional Lymph Nodes (N)

N0 No enlarged lymph node. N1 the diameter of upper neck lymph node <4cm, movable N2 lower neck lymph node or the diameter between 4 and 7cm N3 supraclavicular lymph node or the diameter >7cm or fixed or skin infiltration Tabel 7. Distant Metastasis (M) M0 M1 No distant metastasis. Distant metastasis.

Staging grouping : stage I stage II stage III : T1 N0 M0 : T1-T2 or N0 -1 M0 : T3 N0 -2 M0 or T1-3 N2 M0

stgae IVA : T4 any N M0 stgae IVB : any T, any N, M1

G. Grading Jaringan tumor juga akan diperiksa dibawah mikroskop oleh dokter ahli. Pemeriksaan histologi ini bergunan untuk membandingkan antara sel jaringan normal terhadap sel yang berasal dari jaringan tumor. Jaringan normal akan memiliki berbagai macam sel yang berarti bahwa sel berdiferensiasi dengan baik, sedangkan sel pada jaringan tumor hampir mirip satu sama lain atau disebut dengan bad differentiated. Grading disimbolkan dengan G dan diikuti oleh nomor. 10 GX: The grade cannot be evaluated. G1: The cells look more like normal tissue (well differentiated). G2: The cells are only moderately differentiated. G3: The cells don't resemble normal tissue (poorly differentiated).
14

Rekuren, adalah berulangnya karsinoma setelah mendapat pengobatan yang adekuat, jika terjadai rekurensi maka harus dilakukan re-staging.10

H. Tatalaksana 1. Radioterapi Sampai saat ini radioterapi masih memegang peranan penting dalam penatalaksanaan karsinoma nasofaring. Penatalaksanaan pertama untuk karsinoma nasofaring adalah radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi.2,5 2. Kemoterapi Kemoterapi sebagai terapi tambahan pada karsinoma nasofaring ternyata dapat meningkatkan hasil terapi. Terutama diberikan pada stadium lanjut atau pada keadaan kambuh.4,6 3. Operasi Tindakan operasi pada penderita karsinoma nasofaring berupa diseksi leher radikal dan nasofaringektomi. Diseksi leher dilakukan jika masih ada sisa kelenjar.2 pasca radiasi atau adanya kekambuhan kelenjar dengan syarat bahwa tumor primer sudah dinyatakan bersih yang dibuktikan dengan pemeriksaan radiologik dan serologi. Nasofaringektomi merupakan suatu operasi paliatif yang dilakukan. pada kasus-kasus yang kambuh atau adanya residu pada nasofaring yang tidak berhasil diterapi dengan cara lain.9,11 4. Imunoterapi Dengan diketahuinya kemungkinan penyebab dari karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-Barr, maka pada penderita karsinoma nasofaring dapat diberikan imunoterapi.9

I. Prognosis Prognosis akan baik bila masih dalam stadium dini, penderita dapat bertahan selama 5 tahun, namun jika telah melibatkan tulang tengkorak maka prognosis akan buruk. 9

15

BAB III SIMPULAN

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas kepala dan leher yang paling banyak ditemukan.4 Pemeriksan penunjang diagnostik untuk karsinoma nasofaring yang dianjurkan adalah rontgen dan MRI. Terdapat tiga sistem klasifikasi staging yaitu AJCC 2002, American Society of Clinical Oncology 2011, serta Fuzhou 1992, kedua sistem ini tidak memiliki perbedan yang mencolok dalam staging karsinoma nasofaring. Penatalaksaan karsinoma nasofaring dapat dilakukan dengan operasi, pemberian sitostatika dan radioterafi, sedangkan prognosis berbanding lurus dengan staging.5,7,8,9

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Abdul Rasyid. Karsinoma nasofaring : penatalaksanaan radioterapi. Tinjauan pustaka. Dalam : Majalah Kedokteran Nusantara. Vol. XXXIII No.1. Medan : FK USU,2000. h. 52-8. 2. I Dewa Gede Sukardja. Onkologi klinik. Surabaya : FK Unair, 1996.h. 179-87. 15. Adlin Adnan. Beberapa aspek karsinoma nasofaring di bagian THT FK USU/RSUP 3. Adlin Adnan. Beberapa aspek karsinoma nasofaring di bagian THT FK USU/RSUP.H.Adam Malik. Skripsi.Medan : FK USU, 1996.h. 52. 4. Damayanti Soetjipto. Karsinoma nasofaring.Dalam : Nurbaiti Iskandar (ed).Tumor telinga-hidung-tenggorok diagnosis dan penatalaksanaan. Jakarta : FK UI,1989.h. 71- 84. 5. Nasopharingeal Cancer. 2012. American Society Cancer. (available at http://www.cancer.gov, diakses tanggal 20 Desember 2012). 6. dr. Sri Herawati, Sp. THT dan dr. Sri Rukmini. Buku Ajar Ilmu Panyakit THT. Jakarta : EGC. h. 40-42. ISBN : 6794486140 9787974486146.

7. Cheng HER, MD. 2001. Nasopharingeal Cancer and The Southeast Patient. University of Winconsin Medical School, Madison, Winconsin. American Family Physician. (Available at http://www.aafp.org, diakses tanggal 20 Desember 2012). 8. Nasopharingeal Cancer. 2011. (available at http://www.cancer.net, diaakses tanggal 22 Desember 2012). 9. Nasopharinx Cancer. 2011. (available at http://www.uwlclinicaloncology.wikispace.com, diakses tanggal 21 Desember 2012). 10. Thomas Choudary Putti and Kong-Bing Tan. 2010. Pathology of Nasopharingeal Cancer. Jerman: Spring. h. 74-76. e-ISBN : 978 3 540 92810 2.

17

11. T.Yohanita, Ramsi Lutan. Pengobatan karsinoma nasofaring dengan radioterapi. Laporan kasus. Dalam : Majalah Kedokteran Nusantara. Vol.XXVI No.1. Medan : FK USU, 1996. h. 15-20.

18