Anda di halaman 1dari 5

Hukum Pemilu Legislatif dan Presiden

‫بسم ال الرحمن الرحيم‬


Tidak lama lagi, Indonesia kembali akan menyelenggarakan pemilihan umum (pemilu) 2009.
Pemilu kali ini selain untuk memilih anggota legislatif, yakni Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Pusat dan Daerah, serta Dewan Perwakilan Daerah (DPD); juga memilih Presiden dan Wakil
Presiden. Pemilihan anggota legislatif akan diselenggarakan pada 9 April 2009. Sedang
pemilihan presiden akan diselenggarakan pada awal Juli 2009 untuk putaran pertama, dan
pertengahan September 2009 untuk putaran kedua.

Di tingkat pusat, pemilu akan memilih anggota DPR dan DPD di mana keduanya akan secara
bersama membentuk MPR. Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 3 hasil amandemen
ditetapkan bahwa wewenang MPR adalah mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar,
melantik Presiden dan Wakil Presiden, dan memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden
dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang Dasar. Tentang kewenangan DPR, pada
Pasal 11 ayat 2 disebutkan DPR melakukan persetujuan bersama Presiden dalam membuat
perjanjian internasional, keuangan negara, dan perubahan atau pembentukan undang-undang.
DPR membahas setiap rancangan undang-undang untuk mendapat persetujuan bersama
pemerintah (Pasal 20). Jadi, DPR memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi
pengawasan; memiliki hak interpelasi, hak angket, dan hak menyatakan pendapat; hak
mengajukan pertanyaan, menyampaikan usul dan pendapat serta hak imunitas (Pasal 20A).

Dengan demikian, anggota legislatif memiliki tiga fungsi pokok, yaitu (1) fungsi legislasi untuk
membuat UUD dan UU, (2) melantik presiden/wakil presiden, dan (3) fungsi pengawasan, atau
koreksi dan kontrol terhadap pemerintah. Sedangkan tugas Presiden, secara umum adalah
melaksanakan Undang-Undang Dasar, menjalankan segala undang-undang dan peraturan yang
dibuat. Berdasarkan fakta ini, hukum tentang pemilu di Indonesia bisa dipilah menjadi dua,
yaitu pemilu legislatif dan pemilu presiden.

Pemilu legislatif pada dasarnya bisa disamakan dengan hukum wakalah, yang hukum asalnya
adalah mubah (boleh), berdasarkan hadits Nabi:

ُ‫صلّى ال‬
َ ّ‫ت ال ّنبِي‬
ُ ْ‫خ ْي َبرَ فََأ َتي‬
َ َ‫ج اِلى‬
َ ْ‫خ ُرو‬
ُ ْ‫ت ال‬
ُ ْ‫ َارَد‬:َ‫ع ْن ُهمَا قَال‬
َ ُ‫عبْدِ الِ َرضِ يَ ال‬ َ ِ‫«وَعَ نْ جَا ِب ِر بْ ن‬
.)‫ش َر وَسَقًا» (رواه ابو داود و صححه‬ َ َ‫خمْسَةَ ع‬َ ُ‫خ ْي َبرَ َفخُ ْذ ِمنْه‬
َ ‫ إِذَا َأ َت ْيتَ َو ِك ْيِليْ ِب‬:َ‫سلّمَ فَقَال‬
َ َ‫عَليْهِ و‬
َ
Dari jabir bin Abdillah radliyallâhu ‘anhumâ, dia berkata: Aku hendak berangkat ke Khaibar,
lantas aku menemui Nabi SAW. Seraya beliau bersabda: “Jika engkau menemui wakilku di
Khaibar maka ambillah olehmu darinya lima belas wasaq” (HR. Abu Dawud yang
menurutnya shahih).

Selain itu, dalam Bai’atul ‘Aqabah II, Rasulullah SAW meminta 12 orang sebagai wakil dari 75
orang Madinah yang menghadap beliau saat itu yang dipilih oleh mereka sendiri.

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa hukum asal wakalah adalah mubah, selama rukun-
rukunnya sesuai dengan syariah Islam. Rukun wakalah terdiri dari: Dua pihak yang berakad
yaitu, pihak yang mewakilkan (muwakkil) dan pihak yang mewakili (wakîl); perkara yang
diwakilkan atau amal yang akan dilakukan oleh wakil atas perintah muwakkil; dan redaksi
akad perwakilannya (shigat taukîl).

Bila semua rukun tersebut terpenuhi, maka yang menentukan apakah wakalah itu Islami atau
tidak adalah amal atau kegiatan yang akan dilakukan oleh wakil. Dalam konteks anggota
legislatif, wakil rakyat di parlemen akan menjalankan tiga fungsi pokok, yaitu (1) fungsi
legislasi untuk membuat UUD dan UU, (2) melantik presiden/wakil presiden, dan (3) fungsi
pengawasan, koreksi dan kontrol terhadap pemerintah. Melihat fungsi-fungsi tersebut, hukum
wakalah terhadap ketiganya tentu berbeda. Wakalah untuk membuat perundang-undangan

1
sekular dan wakalah untuk melantik presiden/wakil presiden yang akan menjalankan sistem
sekular tentu berbeda hukumnya dengan wakalah untuk melakukan pengawasan, koreksi dan
kontrol terhadap pemerintah.

Berkaitan dengan fungsi legislasi, harus diingatkan bahwa setiap muslim yang beriman kepada
Allah SWT, wajib taat kepada syariah Islam yang bersumber dari al-Quran dan As-Sunnah, baik
dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Tidak ada pilihan lain bagi seorang muslim kecuali menerapkan hukum syariah Allah SWT. Allah
SWT telah menegaskan,

ِّ‫حكْ ُم إِلّ ل‬
ُ ْ‫إِنِ ال‬
Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. (TQS. Yusuf [12]: 40)

Allah Swt juga menyatakan bahwa konsekuensi iman adalah dengan taat pada syariat-Nya,

َ‫ض ْيت‬
َ ‫حرَجًا ّممّا َق‬
َ ْ‫سهِم‬
ِ ُ‫ل يَجِدُواْ فِي أَنف‬
َ ّ‫ج َر َب ْي َنهُمْ ثُم‬
َ‫ش‬َ ‫ح ّكمُوكَ فِيمَا‬
َ ‫ح ّتىَ ُي‬
َ َ‫ل ُي ْؤ ِمنُون‬
َ َ‫ل َو َر ّبك‬ َ َ‫ف‬
ً‫سلِيما‬ْ َ‫سّلمُو ْا ت‬
َ ُ‫َوي‬
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan
kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa
keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima
dengan sepenuhnya. (TQS. an-Nisa [4]: 65)

‫ن َأ ْمرِهِمْ َومَن‬
ْ ِ‫خ َي َرةُ م‬
ِ ْ‫ن َلهُ ُم ال‬
َ ‫لّ َورَسُولُهُ َأمْرًا أَن َيكُو‬
ُ ‫ل ُم ْؤ ِمنَةٍ إِذَا َقضَى ا‬
َ َ‫ن ِل ُم ْؤمِنٍ و‬
َ ‫َومَا كَا‬
ً‫ل ّمبِينا‬
ً َ‫لّ َورَسُولَهُ فَقَ ْد ضَلّ ضَل‬ َ ‫َيعْصِ ا‬
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan
Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata (TQS. Al Ahzab[33]: 36).

Tidak boleh seorang muslim mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah atau
menghalalkan apa yang telah diharamkan-Nya. Tentang hal ini, At-Tirmidzi, dalam kitab
Sunan-nya, telah mengeluarkan hadits dari ’Adi bin Hatim –radhiya-Llahu ’anhu— berkata:
’Saya mendatangi Nabi saw. ketika baginda sedang membaca surat Bara’ah:

َ‫ح ابْنَ َم ْريَم‬


َ ‫ل وَا ْلمَسِي‬
ّ ‫حبَارَهُمْ َورُ ْهبَا َنهُ ْم َأ ْربَابًا مّن دُونِ ا‬
ْ َ‫اتّخَذُواْ أ‬
”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain
Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam.” (TQS. At-Taubah
[9]: 31)

Seraya bersabda: ’Mereka memang tidak beribadah kepadanya, tetapi jika mereka
menghalalkan sesuatu untuknya, mereka pun menghalalkannya; jika mereka
mengharamkan sesuatu untuknya, maka mereka pun mengharamkannya.”

Karena itu, menetapkan hukum yang tidak bersumber dari al-Quran dan As-Sunnah adalah
perbuatan yang bertentangan dengan akidah Islam. Bahkan dapat dikategorikan perbuatan
menyekutukan Allah SWT. Seorang muslim wajib terikat kepada syariah Allah, wajib
mengambil hukum dari wahyu Allah semata, dan menolak undang-undang atau peraturan
buatan manusia yang bertentangan dengan hukum Allah SWT. Dengan demikian, wakalah
dalam fungsi legislasi yang akan menghasilkan hukum atau peraturan perundangan sekular

2
atau yang bertentangan dengan syariah Islam tidak diperbolehkan, karena hal tersebut
merupakan aktivitas yang bertentangan dengan akidah Islam.

Wakalah untuk melantik presiden/wakil presiden juga tidak diperbolehkan, karena wakalah ini
akan menjadi sarana untuk melaksanakan keharaman, yakni pelaksanaan hukum atau
peraturan perundangan sekular yang bertentangan dengan syariat Islam oleh presiden/wakil
presiden yang dilantik tersebut. Larangan ini berdasar pada kaedah syara’ yang menyatakan:

)ٌ‫حرَام‬
َ ِ‫حرَام‬
َ ْ‫س ْيلَ ُة ِالَى ال‬
ِ َ‫(َالْو‬
“Wasilah (perantaraan) yang pasti menghantarkan kepada perbuatan haram adalah
juga haram”

Adapun wakalah dalam konteks pengawasan, koreksi dan kontrol terhadap pemerintah
dibolehkan, selama tujuannya adalah untuk amar makruf dan nahi mungkar (menegakkan
kemakrufan dan mencegah kemunkaran). Wakalah dalam konteks ini merupakan wakalah
untuk melaksanakan perkara yang dibenarkan oleh syariat Islam. Maka, pencalonan anggota
legislatif dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan tadi dibolehkan sepanjang memenuhi
syarat-syarat syar’iy. Bukan dibolehkan secara mutlak. Syarat-syarat tersebut adalah:

1. Harus menjadi calon dari partai Islam, bukan dari partai sekular. Dan dalam proses
pemilihan tidak menempuh cara-cara haram seperti penipuan, pemalsuan dan penyuapan,
serta tidak bersekutu dengan orang-orang sekular.

2. Harus menyuarakan secara terbuka tujuan dari pencalonan itu, yaitu untuk menegakkan
sistem Islam, mengubah sistem sekular menjadi sistem Islam, melawan dominasi asing
dan membebaskan negeri ini dari pengaruh asing. Dengan kata lain, calon wakil rakyat itu
menjadikan parlemen sebagai mimbar (sarana) dakwah Islam, yakni menegakkan sistem
Islam, menghentikan sistem sekular dan mengoreksi penguasa.

3. Dalam kampanyenya harus menyampaikan ide-ide dan program-program yang bersumber


dari ajaran Islam.

4. Harus konsisten melaksanakan poin-poin di atas

Ini berkaitan dengan hukum pemilu legislatif yang berbeda dengan pemilu presiden. Jika
dalam pemilu legislatif bisa disamakan dengan hukum wakalah, lain halnya dengan pemilu
presiden. Status presiden dan wakil presiden bukanlah wakil rakyat, sehingga kepadanya tidak
bisa diberlakukan fakta wakalah. Dalam hal ini lebih tepat dikaitkan dengan fakta akad
pengangkatan kepala negara (nashb al-ra’is) yang hukumnya terkait dengan dua hal, yaitu
person dan sistem.

Terkait dengan person, Islam menetapkan bahwa seorang kepala negara harus memenuhi
syarat-syarat in’iqad, yaitu sejumlah keadaan yang akan menentukan sah dan tidaknya
seseorang menjadi kepala negara. Syarat-syarat itu adalah (1) Muslim; (2) Baligh; (3)
Berakal; (4) Laki-laki; (5) Merdeka; (6) Adil atau tidak fasik; dan (7) Mampu melaksanakan
tugas dan tanggungjawabnya sebagai kepala negara. Tidak terpenuhinya salah satu saja dari
syarat-syarat di atas, cukup membuat pengangkatan seseorang menjadi kepala negara
menjadi tidak sah.

Adapun tentang sistem, harus ditegaskan bahwa siapapun yang terpilih menjadi kepala negara
wajib menerapkan sistem Islam. Ini adalah konsekuensi dari akidah seorang kepala negara
yang muslim. Tambahan lagi, dalam Islam, memang tugas utama kepala negara adalah untuk
menjalankan syariah Islam dan memimpin rakyat dan negaranya dengan sistem Islam. Hanya
dengan cara itu saja segala tujuan mulia dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara akan
tercapai. Memimpin dengan sistem selain Islam tidak akan menghasilkan kebaikan, tapi justru
menghasilkan kerusakan dan bencana. Maka, tidak boleh hukumnya memilih presiden yang

3
akan menjalankan sistem sekular. Siapa saja yang memimpin tidak dengan sistem Islam, oleh
Allah SWT disebut sebagai fasik dan dzalim; bahkan bila secara i’tiqadi dengan tegas menolak
syariat Islam, dinyatakan sebagai kafir. Allah SWT berfirman:

َ‫حكُم ِبمَا أَنزَلَ الّ فَُأ ْولَـ ِئكَ هُ ُم ا ْلكَا ِفرُون‬


ْ َ‫َومَن لّ ْم ي‬
Dan, siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah, maka
mereka itu adalah orang-orang kafir.” (TQS. al-Maidah [5]: 44)

َ‫حكُم ِبمَا أنزَلَ الّ فَُأ ْولَـ ِئكَ هُ ُم الظّاِلمُون‬


ْ َ‫َومَن لّ ْم ي‬
Dan, siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah, maka
mereka itu adalah orang-orang dzalim.” (TQS. al-Maidah [5]: 45)

َ‫حكُم ِبمَا أَنزَلَ الّ فَُأ ْولَـ ِئكَ هُ ُم الْفَاسِقُون‬


ْ َ‫َومَن لّ ْم ي‬
Dan, siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah, maka
mereka itu adalah orang-orang fasik.” (TQS. al-Maidah [5]: 47)

Wahai kaum muslimin:

Maka, sikap yang semestinya harus ditunjukkan oleh setiap muslim dalam menghadapi pemilu
ini adalah:

1. Tidak memilih calon yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan di atas. Tidak mendukung
usahanya, termasuk tidak mendukung kampanyenya dan mengucapkan selamat saat yang
bersangkutan berhasil memenangkan pemilihan.

2. Melaksanakan syariat Islam secara utuh dan menyeluruh dengan konsisten. Serta berjuang
dengan sungguh-sungguh untuk mengubah sistem sekular ini menjadi sistem Islam melalui
perjuangan yang dilakukan sesuai dengan thariqah dakwah Rasulullah saw melalui
pergulatan pemikiran (as-shirâul fikriy) dan perjuangan politik (al-kifâh as-siyâsi).
Perjuangannya itu diwujudkan dengan mendukung individu, kelompok, jamaah, dan partai
politik yang secara nyata dan konsisten berjuang demi tegaknya syariah dan khilafah; serta
sebaliknya menjauhi individu, kelompok, jamaah dan partai politik yang justru berjuang
untuk mengokohkan sistem sekular.

3. Secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melakukan kritik dan koreksi terhadap para
penguasa atas setiap aktivitas dan kebijakan mereka yang bertentangan dengan ajaran
Islam. Tidak terpengaruh oleh propaganda yang menyatakan bahwa mengubah sistem
sekular dan mewujudkan sistem Islam mustahil dilakukan. Tidak boleh ada rasa putus asa
dalam perjuangan. Dengan pertolongan Allah, insya Allah perubahan ke arah Islam bisa
dilakukan asal perjuangan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Yakinlah,
Allah SWT pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya, khususnya dalam
usaha mewujudkan tegaknya kembali khilafah guna melanjutkan kembali kehidupan Islam
(isti’nâfu al-hayah al- Islâmiyah). Yaitu kehidupan yang di dalamnya diterapkan syariat
Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia dengan kepemimpinan seorang
khalifah yang akan menyatukan umat dan negeri-negeri Islam untuk kembali menjadi umat
terbaik serta memenangkan Islam di atas semua agama dan ideologi yang ada. Kesatuan
umat itulah satu-satunya yang akan melahirkan kekuatan, dan dengan kekuatan itu
kerahmatan (Islam) akan terwujud di muka bumi. Dengan kekuatan itu pula kemuliaan
Islam dan keutuhan wilayah negeri-negeri muslim bisa dijaga dari penindasan dan
penjajahan negeri-negeri kafir sebagaimana yang terjadi di Irak dan Afghanistan.

4. Memilih kepala negara yang mampu menjamin negeri ini tetap independen (merdeka) dari
cengkraman penjajah. Dengan kata lain, memilih kepala negara yang mampu mewujudkan

4
kemerdekaan yang sesungguhnya, bukan malah sebaliknya membiarkan negeri ini dalam
cengkeraman dan dominasi kekuatan asing di segala bidang. Juga harus mampu
meletakkan keamanan negeri ini semata di tangan umat Islam, bukan di tangan warga
negara asing. Tidak membiarkan pengaruh negara penjajah ke dalam institusi tentara dan
polisi, apalagi mengijinkan negara asing membuat pangkalan militer di wilayah negeri ini.
Sesungguhnya Allah SWT melarang muslim tunduk pada kekuatan kafir.

ً‫سبِيل‬
َ َ‫علَى ا ْل ُمؤْ ِمنِين‬
َ َ‫ل ِل ْلكَا ِفرِين‬
ّ ‫جعَلَ ا‬
ْ َ‫َولَن ي‬
Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk
menguasai kaum Mukmin (TQS. An-Nisa[4]: 141).

Akhirnya, semua berpulang kepada umat Islam, apakah akan membiarkan negeri ini terus
dipimpin oleh penguasa dzalim dengan sistem sekular dan mengabaikan syariah Islam yang
membuat negeri ini terus terpuruk; ataukah sebaliknya memilih pemimpin yang amanah dan
menegakkan syariat Islam sehingga kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan benar-benar
akan terwujud. Begitu juga, semua berpulang kepada umat Islam, apakah akan membiarkan
negeri-negeri muslim tetap tercerai-berai seperti sekarang dan tenggelam dalam kehinaan;
atau sebaliknya berusaha keras agar bisa menyatu sehingga izzul Islam wal muslimin juga
benar-benar terwujud

Karena itu, umat Islam di Indonesia sebagai pemegang kekuasaan hendaknya memperhatikan
momentum pemilu ini. Bahwa Pemilu ini tidak boleh menjadi alat untuk melanggengkan sistem
sekular. Umat Islam harus berusaha untuk menegakkan sistem Islam dan menghentikan
sistem sekular, serta berusaha mewujudkan seorang kepala negara yang mempunyai syarat
dan ketentuan Islam sebagaimana dijelaskan di atas, yang akan menegakkan sistem Islam
dan menyatukan negeri-negeri di bawah naungan khilafah.

Wahai umat Islam, inilah saatnya, ambillah langkah yang benar! Salah mengambil langkah
berarti turut melanggengkan kemaksiatan. Marilah kita renungkan firman Allah SWT:

ِ‫ن ا ْل َمرْء‬
َ ْ‫ل َبي‬
ُ ‫ل يَحُو‬
ّ ‫عَلمُواْ أَنّ ا‬
ْ ‫حيِيكُمْ وَا‬
ْ ‫ل إِذَا دَعَاكُم ِلمَا ُي‬
ِ ‫لِ َولِلرّسُو‬
ّ ْ‫ستَجِيبُوا‬
ْ ‫يَا َأ ّيهَا الّذِينَ آ َمنُواْ ا‬
َ‫شرُون‬ َ ْ‫وَ َق ْلبِهِ َوَأنّ ُه ِإَليْ ِه تُح‬
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul
menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya; dan sesungguhnya
kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (TQS. Al-Anfal [8]: 24)

19 Rabi’ul Awwal 1430 H/16 Maret 2009

Hizbut Tahrir Indonesia