Anda di halaman 1dari 5

DIARE Oleh: Ade Dayangsuri 0806320401 DIAGNOSIS BANDING 1.

Pasien diare akut disertai demam dan tinja berdarah Observasi umum : diare akibat mikroorganisme invasif, lokasi sering didaerah kolon, diarenya berdarah sering tapi jumlah volume sedikit, sering diawali diare air Patogen : shigella spp (disentri basiler, shigellosis), campylobacter jejuni, salmonella spp, aeromonas hydrophila, v.parahaemolyticus, dll Diagnosis : 1. diferensiasi klinik sulit, terutama membedakan dengan penyakit usus inflamatorik idiopatik non infeksi, 2. banyak leukosit di tinjanya (patogen invasif), 3. kultur tinja untuk salmonella, shigella, campylobacter, yersinia, 4. darah tebal untuk malaria. 2. Diare akut tanpa demam ataupun tinja berdarah Observasi umum : patogen non-invasif (tinja air banyak, tidak ada leukosit tinja), sering disertai nausea, kadang vomitus, lebih sering manifestasi dari diare turis (85% kasus), pada kasus kolera, tinja seperti cucian beras, sering disertai muntah. Patogen : 1. ETEC, penyebab tersering dari diare turis, 2. giardia lamblia, 3. rotavirus, virus norwalk, 4. eksotoksin preformed dari s. Aureus, bacillus cereus, clostridium perfringens (tipe A), diare disebabkan toksin yang lama inkubasinya pendek 6jam. 5. penyebab lain : Vibrio parahaemolyticus (ikan laut dan shell fish yang tidak cukup didinginkan), Vibrio cholerae (kolera), bahan toksik pada makanan (logam berat misal preservatif kaleng, nitrit, pestisida, histamin pada ikan), jamur, kriptosporidium, isospora belli (biasa pada pasien HIV positif meskipun dapat terjadi juga pada manusia normal). Diagnosis : tidak ada leukosit di tinja, kultur tinja (sangat rendah pada diare air), tes untuk ETEC tidak biasa, tersedia di laboratorium rutin, pemeriksaan parasit untuk tinja segar, sering beberapa pemeriksaan ulangan dibutuhkan untuk mendeteksi Giardia lamblia. TATA LAKSANA (KEGAWATDARURATAN) Penatalaksanaan diare antara lain : 1. Rehidrasi : bila pasien tidak mengalami dehidrasi, asupan cairan yang adekuat bisa didapat dari minuman ringan, sari buah, dll. Namun bila pasien dalam keadaan dehidrasi, pasien harus diberikan cairan intravena atau rehidrasi oral dengan cairan isotonik mengandung elektrolit dan gula. Cairan diberikan 50-200ml/kgBB/24 jam tergantung kebutuhan dan status/derajat dehidrasi. Sebelum melaksanakan terapi rehidrasi ini perlu diketahui dulu derajat dehidrasinya. Terdapat 3 derajat dehidrasi antara lain : a. Dehidrasi ringan (hilang cairan 2-5% BB) : gambaran klinisnya turgor kurang, suara serak (vox cholerica), pasien belum jatuh dalam keadaan presyok. b. Dehidrasi sedang (hilang cairan 5-8% BB) : turgor buruk, suara serak, pasien jatuh dalam presyok atau syok, nadi cepat, napas cepat dan dalam.

c. Dehidrasi berat (hilang cairan 8-10% BB) : tanda dehidrasi sedang ditambah kesadaran menurun (apatis sampai koma), otot-otot kaku, sianosis. Bila derajat dehidrasi sedang/berat sebaiknya pasien diberikan cairan melalui infus pembuluh darah, sedangkan dehidrasi ringan/sedang diberikan cairan peroral atau selang nasogastrik. Kecuali jika ada kontraindikasi atau oral/saluran cerna atas tak dapat dipakai. 2. Diet. Pasien diare tidak dianjurkan untuk puasa. Sebaiknya mengonsumsi makanan yang mudah dicerna seperti pisang, nasi, sup, kripik, dll. Diberikan minuman sari buah, teh, minuman tidak bergas. Susu sapi harus dihindari karena adanya defisiensi laktase transien yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. Begitu juga dengan kafein dan minuman beralkohol yang dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus. 3. obat anti-diare. Obat yang dapat mengurangi gejala-gejala: a. derivat opioid misal loperamide sebagai obat antimotilitas. Namun hati-hati pada penggunaan pada pasien disentri yang panas (termasuk infeksi shigella) bila tanpa disertai antimikroba, karena dapat memeperlama penyembuhan penyakit b. obat yang mengeraskan tinja : atapulgite 4x2tab/hari, smectite 3x1 saset diberikan hingga diare berhenti c. obat anti sekretorik atau anti enkephalinase: hidrasec 3x1tab/hari. PENDEKATAN DIAGNOSTIK Untuk pendekatan diagnostik terdapat 2 tahap pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan tahap awal (dasar) dan pemeriksaan tahap lanjutan 1. pemeriksaan tahap awal (dasar) melalui pemeriksaan tahap awal kita sudah dapat menetapkan masalah, bahkan diagnosis kerja, sehingga dapat memilih pemeriksaan tahap lanjutan yang lebih terarah. Tujuan dari pemeriksaan tahap awal adalah agar dapat membedakan ini merupakan diare organik atau fungsional. Pemeriksaan tahap awal meliputi : a. Anamnesis, hal-hal yang perlu ditanyakan saat melakukan anamnesis antara lain: Waktu dan frekuensi diare. Malam hari atau sepanjang hari, tidak intermiten, atau diare timbul mendadak, menunjukkan adanya penyakit organik. Bila kurang dari 3 bulan juga masih dapat dikategorikan sebagai diare organik. Bila tidak dapat ditahan,inflamatorik. Terjadi pada pagi hari biasanya berhubungan dengan stres. Diare akut kronik dengan riwayat bepergian diare turis. Keluhan diare yang lebih dari 1 tahun diare fungsional. Bentuk tinja. Ada minyak, pucat insuficiensi pankreas dan kelainan proksimal ileosekal. Tinja seperti air kelainan di hampir semua GI terutama dari usus halus.

Keluhan lain yang menyertai diare: nyeri abdomen, demam (infeksi dan keganasan), mual dan muntah (infeksi), penurunan berat badan. Obat. Pengaruh minum obat yang memiliki efek samping diare. Makanan dan minuman. diare osmotik. Lain-lain b. Pemeriksaan fisik/manifestasi klinik Diare inflamatorik dapat ditunjukkan dengan adanya gejala panas yang disertai nyeri abdomen yang terlokalisasi pada salah satu kuadran bawah abdomen. Manifestasi ekstraintestinal seperti artritis, lesi kulit atau gejala okuler menunjukkan penyakit usus inflamatorik idiopatik. Adanya edema perifer, asites dapat dijumpai pada protein-losing enteropathy. Malabsorbsi intestinal ditunjukkan oleh tinja yang banyak atau berlemak serta berbau busuk, dan penurunan berat badan. Diare osmotik dengan penyebab apapun sering membaik setelah pasien berpuasa. Pada diare cair, penurunan berat badan tidak lazim kecuali pada pasien tumor neuroendokrin stadium lanjut. Gejala disfungsi autosom seperti hipotensi postural, impotensi sering dijumpai pada diare diabetik. Diare yang terjadi silih berganti dengan konstipasi merupakan ciri khas sindrom usus iritatif. Selain memberikan petunjuk pada penyebab primer diare, pemeriksaan fisis penting dalam menilai adanya pengurangan volume, takikarsia, penurunan turgor kulit, letargimental, dan kelemahan menyeluruh. c. Pemeriksaan tinja Diperhatikan karakteristik tinja: cair/air, setengah cair, berlemak atau bercampur darah. Tinja harus segera diperiksa untuk melihat adanya leukosit, eritrosit, parasit. Adanya gelembung lemak memberi dugaan ke arah malabsorbsi lemak; amilum dalam tinja menunjukkan adanya maldigesti karbohidrat; eritrosit dalam tinja menunjukkan adanya luka, kolitis serosa, polip atau keganasan dan infeksi; leukosit menunjukkan adanya infeksi atau inflamasi usus. Pemeriksaan pH dilakukan bila ada dugaan malabsorbsi karbohidrat, di mana pH <5,3 disertai tes reduksi positif menunjukkan adanya intolerasnsi glukosa. pH 6-7,5 ditemukan pada sindrom malabsorbsi asam amino dan asam lemak. Studi mikrobiologi yang perlu dilakukan adalah kultur bakteri feses, inspeksi ova dan parasit dan pemeriksaan Giardia antigen. Pewarnaan gram dikerjakan untuk mencari kemungkinan infeksi bakteri, jamur. Pemeriksaan darah samar positif, kelainan lemak tinja dan tes phenolphtalein tinja yang positif mengarahkan pada penyakit usus inflamatorik, diare malabsorbsi atau diare faktisius. Untuk melihat adanya steatore dilakukan pemeriksaan kuantitatif lemak tinja dengan pewarnaan Sudan. d. Pemeriksaan laboratorium Darah. Pemeriksaan darah tepi dilakukan setelah pemeriksaan tinja. Perlu dilakukan tes darah lengkap, hitung jenis, LED dan hemoglobin. Leukositosis mengindikasikan adanya inflamasi, anemia menunjukkan defisiensi nutrisi atau eosinofilia terjadi akibat parasit, neoplasia, penyakit kolagen-vaskular, alergi atau gastroenteritis eosinofilik. LED tinggi dan kadar hemoglobin dan albunin serum rendah menunjukkanadanya penyakit organik.

Urin. Pemeriksaan urin dilakukan untuk menunjang diagnosis tumor karsinoid dapat dilakukan pemeriksaan kadar 5 HIAA urin 24 jam. Histamin urin untuk penyakit sel mast dan karsinoid usus proksimal. Untuk penggunaan laksan dapat diperiksa urin dengan pemeriksaan krometografi dan kimia. e. Pemeriksaan lain Foto polos abdomen Barium enema Sigmoidoskopi (dengan biopsi) 2. pemeriksaan tahap lanjutan Pemeriksaan ini biasa dilakukan bila kecurigaan bila terjadinya diare fungsional. Namun pemeriksaan ini jarang dilakukan di indonesia. Pemeriksaan anatomi usus. Pemeriksaan ini dilakukan apabila adanya kelainan pada anatomi GI yang menyebabkan diare kronik. Beberapa contoh pemeriksaan ini adalah Barium enema kontras ganda ( colon in loop) dan BNO kalsifikasi pankreas dan dilatasi kolon; Kolonoskopi dan ileoskopi membantu dalam penegakan diagnosis PA. Dapat diketahui disebabkan oleh keganasan atau hanya inflamasi; Barium follow through dan /atau enteroclysis kecurigaan bila ada kelainan ileum dan jejunum; Dll. Fungsi usus dan pankreas. Contohnya: tes fungsi ileum dan jejunum, tes fungsi pankreas, dll.