Anda di halaman 1dari 14

Jenis-jenis teknik pengambilan Sampel 1) Teknik Sampling Secara Probabilitas Teknik sampling probabilitas atau random sampling merupakan

teknik sampling yang dilakukan dengan memberikan peluang atau kesempatan kepada seluruh anggota populasi untuk menjadi sampel. Dengan demikian sampel yang diperoleh diharapkan merupakan sampel yang representatif. Teknik sampling semacam ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut. a) Teknik sampling secara rambang sederhana atau random sampling. Cara paling populer yang dipakai dalam proses penarikan sampel rambang sederhana adalah dengan undian. b) Teknik sampling secara sistematis ( systematic sampling). Prosedur ini berupa penarikan sample dengan cara mengambil setiap kasus (nomor urut) yang kesekian dari daftar populasi. c) Teknik sampling secara rambang proporsional ( proporsional random sampling). Jika populasi terdiri dari subpopulasi-subpopulasi maka sample penelitian diambil dari setiap subpopulasi. Adapun cara pengambilannya dapat dilakukan secara undian maupun sistematis. d) Teknik sampling secara rambang bertingkat. Bila subpoplulasi-subpopulasi sifatnya bertingkat, cara pengambilan sampel sama seperti pada teknik sampling secara proportional. e) Teknik sampling secara kluster ( cluster sampling) Ada kalanya peneliti tidak tahu persis karakteristik populasi yang ingin dijadikan subjek penelitian karena populasi tersebar di wilayah yang amat luas. Untuk itu peneliti hanya dapat menentukan sampel wilayah, berupa kelompok klaster yang ditentukan secara bertahap. Teknik pengambilan sample semacam ini disebut cluster sampling atau multi-stage sampling. 2) Teknik Sampling Secara Nonprobabilitas. Teknik sampling nonprobabilitas adalah teknik pengambilan sample yang ditemukan atau ditentukan sendiri oleh peneliti atau menurut pertimbangan pakar. Beberapa jenis atau cara penarikan sampel secara nonprobabilitas adalah sebagai berikut. a) Purposive sampling atau judgmental sampling Penarikan sampel secara purposif merupakan cara penarikan sample yang dilakukan memiih subjek berdasarkan kriteria spesifik yang dietapkan peneliti. b) Snow-ball sampling (penarikan sample secara bola salju). Penarikan sample pola ini dilakukan dengan menentukan sample pertama. Sampel berikutnya ditentukan berdasarkan informasi dari sample pertama, sample ketiga ditentukan berdasarkan informasi dari sample kedua, dan seterusnya sehingga jumlah sample semakin besar, seolah-olah terjadi efek bola salju. c) Quota sampling (penarikan sample secara jatah). Teknik sampling ini dilakukan dengan atas dasar jumlah atau jatah yang telah ditentukan. Biasanya yang dijadikan sample penelitian adalah subjek yang mudah ditemui sehingga memudahkan pula proses pengumpulan data. d) Accidental sampling atau convenience sampling Dalam penelitian bisa saja terjadi diperolehnya sampel yang tidak direncanakan terlebih dahulu, melainkan secara kebetulan, yaitu unit atau subjek

tersedia bagi peneliti saat pengumpulan data dilakukan. Proses diperolehnya sampel semacam ini disebut sebagai penarikan sampel secara kebetulan. 4. Penentuan Jumlah Sampel Bila jumlah populasi dipandang terlalu besar, dengan maksud meng-hemat waktu, biaya, dan tenaga, penelitili tidak meneliti seluruh anggota populasi. Bila peneliti bermaksud meneliti sebagian dari populasi saja (sampel), pertanyaan yang selalu muncul adalah berapa jumlah sampel yang memenuhi syarat. Ada hukum statistika dalam menentukan jumlah sampel, yaitu semakin besar jumlah sampel semakin menggambarkan keadaan populasi (Sukardi, 2004 : 55). Selain berdasarkan ketentuan di atas perlu pula penentuan jumlah sampel dikaji dari karakteristik populasi. Bila populasi bersifat homogen maka tidak dituntut sampel yang jumlahnya besar. Misalnya saja dalam pemeriksaan golongan darah. Walaupun pemakaian jumlah sampel yang besar sangat dianjurkan, dengan pertimbangan adanya berbagai keterbatasan pada peneliti, sehingga peneliti berusaha mengambil sampel minimal dengan syarat dan aturan statistika tetap terpenuhi sebagaimana dianjurkan oleh Isaac dan Michael (Sukardi, 2004 : 55). Dengan menggunakan rumus tertentu (lihat Sukardi, 2004 : 55-56), Isaac dan Michael memberikan hasil akhir jumlah sampel terhadap jumlah populasi antara 10 100.000.. Teknik sampling dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Probability sampling, meliputi:acak sederhana (simple random),acak bertingkat proporsional (proportionate stratified random),acak bertingkat tidak proporsional (disproportionate stratified random), dancluster/area sampling; 2. Nonprobability sampling, meliputi: sampling sistematis, sampling kuota, sampling incidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling. PROBABILITY SAMPLING Yaitu teknik sampling yang memberi peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. 1. Simple random sampling (populasi homogen), yaitupengambilan sampel dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada. Teknik ini hanya digunakan jika populasinya homogen. 2. Proportionale stratifiled random sampling (populasi tidak homogen), yaitupengambilan sampel dilakukan secara acak dengan memperhatikan strata yang ada.Artinya setiap strata terwakili sesuai proporsinya. 3. Disproportionate stratifiled random sampling,yaituteknik sampling yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel dengan populasi berstrata tetapi kurang proporsional, artinya ada beberapa kelompok strata yang ukurannya kecil sekali 4. Cluster sampling (Sampling Daerah), yaitu teknik sampling yangi digunakan untuk menentukan jumlah sampel jika sumber data sangat luas.Pengambilan sampel didasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.Misalnya dari 27 propinsi diambil 10 propinsi secara random/acak. NONPROBABILITY SAMPLING Yaitu teknik sampling yang tidak memberi peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

1. Sampling sistematis, yaitupengambilan sampel dilakukan berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telahdiberi nomor 2. Sampling kuota, yaitupengambilan sampel dilakukan terhadap anggota populasi yang mempunyai ciriciritertentu sampai jumlah (kuota yang diinginkan. 3. Sampling insidental, yaitupengambilan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulanbertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila orang yang kebetulandijumpai dianggap cocok debagai sumber data. 4. Purposive sampling, yaitupenentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu. 5. Sampling jenuh, yaitupenentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. 6. Snowball sampling, yaitupenentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel itu disuruhmemilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Demikian seterusnya, sehinggajumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju. Teknik Sampling/Metode Sampling merupakan bagian dari metodologi Statistika yang berhubungan dengan pengambilan sampel (bagian dari populasi). Berikut jenis dan definisi dari teknik pengambilan sampel : 1. Probability Sample Probability sample adalah sampel yang memperhatikan aspek peluang pada pemilihan anggota sampel. A. Simple Random Sampling a. Pengertian Simple Random adalah cara pengambilan sampel dari anggota populasi dengan menggunakan acak tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dalam anggota populasi tersebut. Anggota sampel dipilih secara acak dengan cara : - Pengundian menggunakan nomor anggota sebagai nomor undian - Menggunakan table angka random (bilangan acak) berdasarkan nomor anggota b. Contoh : - Jumlah pegawai Bank swasta mengikuti pelatihan di Singapura - Narapidana yang mendapatkan remisi tahun 2007 dari Presiden RI - Jumlah Pegawai Diknas Kota Banjarmasin yang mengikuti Diklatpim II. - Jumlah nasabah Bank swasta di Kota Bali yang mendapat hadiah mobil B. Systematic Sampling a. Pengertian Sampling Sistematis ialah pengambilan sampel didasarkan atas urutan dari populasi yang telah diberi nomor unit atau anggota sampel diambil dari populasi pada jarak interval waktu, ruang dengan urutan yang seragam. b. Contoh : - Jumlah populasi 140 guru diberi nomor unit No.1 s.d. No.140. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan nomor genap (2,4,6,8,10 sampai 140) atau nomor ganjil (1,3,5,7,9 sampai 139). Pengambilan sampel bisa juga dengan cara mengambil nomor kelipatan (7,14,21,28 sampai 140). - Para pelanggan listrik nama-namanya sudah terdaftar di Bagian Pembayaran Listrik berdasarkan lokasinya. Untuk pengambilan sampel tentang para pelanggan listrik, secara sistematis dapat diambil melalui rayon pembayaran listrik. C. Stratified Sampling a. Pengertian

Stratified Sampling ialah pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata secara proporsional, dilakukan sampling ini apabila anggota populasinya heterogen (tidak sejenis). b. Contoh : - Dari 1000 populasi pemilih pada PEMILU akan diambil 100 orang (10%) sebagai sampel berdasarkan usia pemilih secara proporsional D. Cluster Sampling a. Pengertian Cluster Sampling adalah pengambilan sampel dari populasi dikelompokkan menjadi sub-sub populasi secara bergrombol (cluster) dari sub populasi selanjutnya dirinci lagi menjadi sub-populasi yang lebih kecil. Anggota dari sub populasi terakhir dipilih secara acak sebagai sampel penelitian. b. Contoh : - Akan dipilih sampel penelitian untuk meneliti rata-rata tingkat pendapatan buruh bangunan diKodya Semarang Kodya Semarang dibagi menjadi16 Kecamatan, dari 16 Kecamatan dipilih 2 Kecamatan sebagai Populasi dari sampling I Dari 2 Kecamatan masing-2 dipilih 2 Kelurahan sebagai Populasi dari sampel II Dari 2 Kelurahan masing-2 dipilih 50 buruh bangunan sebagai sampel penelitian. 2. Non-Probability Sample Non-Probability sample adalah sampel yang tidak memperhatikan aspek peluang pada pemilihan anggota sampel. A. Accidental Sampling a. Pengertian Metode pengambilan sampel dengan memilih siapa yang kebetulan ada/dijumpai. b. Contoh : - Akan diteliti mengenai minat ibu rumah tangga berbelanja diswalayan peneliti menentukan sampel dengan menjumpai ibu rumah tangga yang kebetulan berbelan jadi suatu swalayan tertentu untuk dimintai pendapat/motivasinya. B. Voluntary Sampling a. Pengertian Sampel dipilih dari anggota populasi yang secara sukarela berkenan didata. b. Contoh : Penelitian Kedokteran, Penelitian Psikologi. C. Judgement Sampling a. Pengertian Judgement Sampling adalah teknik sampling yang digunakan peneliti jika peneliti mempunya pertimbanganpertimbangan tertentu di dalam pengambilan sampelnya atau penentuan sampel untuk tujuan tertentu. Hanya mereka yang ahli yang patut memberikan pertimbangan untuk pengambilan sampel yang diperlukan b. Contoh : - Peneliti ingin mengetahui model kurikulum SMU (plus), maka sampel yang dipilih adalah para guru yang ahli dalam bidang kurikulum pendidikan dan manajemen pendidikan, masyarakat yang berpengalaman, dan para ahli dibidang pendidikan. D. Snowball Sampling a. Pengertian Snowball Sampling adalah teknik sampling yang semula berjumlah kecil kemudian anggota sampel (responden) mengajak para temannya untuk dijadikan sampel dan seterusnya sehingga jumlah sampel semakin membengkak jumlahnya seperti (bola salju yang sedang menggelinding semakin jauh semakin besar). b. Contoh :

- Akan diteliti siapa dalang pengedar narkoba di SMP Mekarsari Medan; siapa yang menjadi otak pembunuhan murid SD Kuasa Mandiri; siapa yang membocorkan rahasia soal ujian akhir nasional tahun 2007 dan lain-lain. E. Quota Sampling a. Pengertian Sampling Quota ialah teknik penentuan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (jatah) yang dikehendaki atau pengambilan sampel yang didasarkan pada pertimbanganpertimbangan tertentu dari peneliti. Caranya menetapkan besar jumlah sampel yang diperlukan, kemudian menetapkan jumlah (jatah yang diinginkan). b. Contoh : - Peneliti ingin mengetahui informasi tentang penempatan karyawan yang tinggal di Perumahan Pondok Hijau, dalam kategori jabatan tertentu dan pendapatannya termasuk kelas tertentu pula. Dalam pemilihan orangnya (pengambilan sampel) akan ditentukan pertimbangan oleh peneliti sendiri atau petugas yang diserahi mandate. MACAM-MACAM DESAIN PENELITIAN JENIS PENELITIAN EPIDEMIOLOGI 1. Deskriptif Bertujuan mendeskripsikan distribusi, pola, kecenderungan, perjalanan dan dampak penyakit menurut karakteristik populasi, letak geografis, dan waktu. peneliti melakukan ekplorasi deskriptif terhadap fenomena kesehatan masyarakat, baik faktor resiko maupun efek tanpa menganalisis bagaimana dan mengapa fenomena tersebut terjadi. Penelitian deskriptif mempelajari penyebaran penyakit menurut orang (person), tampat (place) dan waktu (time). Variabel orang : umur, JK, etnis, tingkat pendidikan, status marital, variabel lain yg berkaitan dengan tujuan penelitian spt pemakaian alkohol, rokok dll. Variabel tempat : geografis yg berbeda akan berbeda pula pola penyakitnya, misal pola penyakit daerah perkotaan dan pedesaan. Variabel waktu : krn survei yg dilakukan pd waktu dan musim yg berbeda dpt menghasilkn pola penyakit yg berbeda. Karakteristik umum yang digunakan untuk mendeskripsikan penyebaran penyakit adalah faktor sosiodemografis seperti umur, gender, ras, status perkawinan, pekerjaan; gaya hidup seperti jenis makanan, pemakaian obat, perilaku seksual, tempat tinggal dan waktu. Disebut juga studi prevalensi atau sampling survey dan merupakan penelitian pendahuluan dari penelitian lebih lanjut yaitu studi analitik/eksperimental karena dari penelitian deskriptif akan dihasilkan hipotesis. Ciri-ciri penelitian deskriptif :

1.

Merupakan penelitian kuantitatif dengan tujuan mendeskripsikan variabel utama subyek studi misal umur, Jenis Kelamin, pendidikan, pekerjaan, status marital, sosbud dll 2. Deskriptif tidak dibutuhkan kelompok kontrol 3. Terdapatnya hubungan sebab akibat hanya merupakan perkiraan yang didasarkan tabel silang yang disajikan 4. Hasil hanya disajikan tanpa analisis mendalam 5. Merupakan penelitian pendahuluan 6. Pengumpulan data dilakukan satu saat, subyek selama penelitian hanya diamaati 1 kali 7. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan crossectional berupa sampling survey 8. Dilaksanakan pada wilayah terbatas seperti desa atau kecamatan atau meliputi wilayah yang besar seperti negara Keuntungan penelitian deskriptif : 1. Relatif mudah dilaksanakan 2. Tidak membutuhkan kelompok kontrol/pembanding 3. Diperoleh banyak informasi penting 4. Dalam penelitian deskriptif dapat ditentukan apakah temuan yang diperoleh membutuhkan penelitian lanjutan/tidak Kerugian penelitian deskriptif : 1. Pengamatan pada subyek hanya 1 kali diibaratkan potret hingga tidak dapat diketahui perubahanperubahan yang terjadi dengan berjalannya waktu 2. Tidak dapat menentukan hubungan sebab akibat Protokol penelitian deskriptif : 1. Merumuskan pertanyaan penelitian 2. Tujuan dan definisi operasional 3. Populasi studi dan subyek studi 4. Cara pengambilan sampel dan besar sampel 5. Tentukan variabel yg diteliti 6. Pengumpulan data 7. Pengolahan data 8. Penyajian data 9. Analisis data, penarikan kesimpulan dan penulisan laporan Dua manfaat : pertama memberikan masukan untuk perencanaan dan alokasi sumber daya kesehatan tentang penyebaran dan kecenderungan penyakit di suatu wilayah tertentu, kedua memberikan petunjuk awal untuk merumuskan hipotesis bhw suatu paparan adl faktor risiko penyakit Dua kategori epidemiologi deskriptif berdasar unit pengamatan dan atau unit analisis : 1. populasi A. studi ekologis B. Time series C. individu i. laporan kasus (case report) ii. Case series

2. Analitik bertujuan: 1. menjelaskan (eksplanatori) faktor-faktor risiko dan kausa penyakit 2. meramalkan (prediction) terjadinya penyakit 3. memberikan saran strategi pengendalian penyakit Peneliti mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan masyarakat itu terjadi. Menganalisis dinamika korelasi antar fenomena baik antar faktor resiko dg efek, faktor resiko dg faktor resiko ataupun efek dg efek Dimensi desain study : Dibedakan menjadi : Studi obsevasional dan eksperimental Timing pengumpulan data (sewaktu/concurent, historis, atau campuran) Desain pencuplikan (random atau non-random, dengan restriksi atau tanpa retriksi) 1. Studi observasional Menggunakan pendekatan alamiah-mengamati perjalanan alamiah peristiwa, membuat catatan siapa terpapar & tidak terpapar, dan siapa yang mengalami & tidak mengalami penyakit yang diteliti Peneliti hanya melakukan pengamatan terhadap subyek penelitian, tidak menentukan siapa diberi atau siapa tidak diberi perlakukan/intervensi. Membandingkan 2 kelompok yaitu terpapar & tidak terpapar, lalu mengukur status penyakit kedua kelompok tsb. Selain itu juga membandingkan kelompok berpenyakit & tidak berpenyakit lalu mengukur status paparan kedua kelompok tsb Mengandalkan pengamatan murni dr lingk yg sebagian besar tak terkontrol shg ada kemungkinan faktor2 tak teramati ikut campur mempengaruhi hub faktor yg diteliti dgn penyakit Studi observasional mempunyai 3 macam arah study penelitian yaitu : 1. Cross sectional Penelitian yang mempelajari dinamika korelasi antara faktor risiko dengan efek yang berupa penyakit atau status kesehatan dengan model pendekatan point time. Variabel yang termasuk faktor risiko dan efek diobservasi sekaligus pada saat yang sama Mempelajari dinamika korelasi faktor resiko dan efek dengan model pendekatan sekaligus pada saat itu (point time). Kebaikan penelitian cross sectional yaitu

1)

Mudah dan murah dilakukan tidak membutuhkan follow up.

2) Desain yg efisien utk mendeskripsikan penyakit dihub dgn distribusi sejumlah karakteristik populasi spt umur, seks, ras maupun status sosial ekonomi 3) Sbg studi analitik studi potong lintang bermanfaat utk menformulasikan hipotesis hub kausal yg akan diuji dlm studi analitik lainnya spt kohor&kasus kontrol Kekurangan penelitian cross sectional : 1) 2) 3) Subyek penelitian besar Tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit Kesimpulan korelasi lemah

4) Penggunaan data prevalensi menyesatkan hasil studi potong lintang sebab mencerminkan tdk hanya aspek etiologi penyakit ttp juga aspek survivalitas Contoh : Selama periode tertentu misal 6 bln, diperiksa semua bayi yang berumur di bawah 1 thn. Misalnya dari 1000 bayi, 100 diantaranya menberikan gejala asma (dgn kriterian yg telah ditetapkan). Dari 100 bayi tsb ternyata 80 mendapatkan formula dini dan 20 lainnya mendapatkan ASI. Pada 900 bayi yg tdk menunjukkan asma 300 bayi telah diberikan formula dini dan 600 lainnya tdk. Hitung rasio prevalen yg menyatakan hub pemberian susu formula dgn terjadinya manifestasi asma dini. Jawab : Asma Dini Formula dini ASI A C Tidak Asma B D Jumlah A+B C+D

Total Ratio prevalens /POR

A+C

B+D

A+B+C+D

= prevalens asma dini pd bayi yg diberi formula dini : Prevalens asma dini pd bayi tanpa formula dini

= A/A+B : C/C+D Asma Dini Formula dini ASI 80 20 Tidak Asma 300 600 Jumlah 380 620

Total Ratio prevalens /POR

100

900

1000

= prevalens asma dini pd bayi yg diberi formula dini Prevalens asma dini pd bayi tanpa formula dini = A/A+B : C/C+D = 80/380 : 20/620 = 6,53 Bayi yg diberi formula dini mempunyai risiko untuk terjadinya asma dini 6,3 kali daripada mereka yang tidak diberi formula dini. 1. Case control Rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan antara paparan (faktor penelitian) dan penyakit (outcome) dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparanya. Pendekatan periode time dengan melihat perkembangannya pada periode tertentu baik ke belakang (retrospektif) maupun ke depan (prospektif) Kebaikan : 1) 2) 3) 4) sesuai untuk penelitian peny yang langka jangka waktu penelitin relatip singkat menghemat tenaga biaya penelitian reltif murah

5) 6) 7) 8) 9)

sekaligus dapat menilai beberapa faktor risiko menunjukkan risiko relatif yang memadai menghindarkan faktor perubahan terapi dapat menghindarkan kesukaran tindak lanjut menghindarkan kesukaran akibat kebiasaan pasien berganti dokter

Kelemahan : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Kasus tidak mewakili semua kasus yang terdapat dalam populasi sasaran Bias potensial yang berasal dari pemilihan kasus dan kontrol Kelompok kontrol tdk dapat dibandingkan dengan kasus Sukar menunjukkan urutan faktor risko dengan hasil jadi Terbatas hanya pada satu hasil jadi Tidak dapat menunjukkan insiden atau prevalen

Pemilihan kasus dan kontrol : 1) a) b) c) d) e) 2) a) b) Kasus Langkah pertama tentukan populasi sumber kasus secara baik Sumber kasus : surveilens, cm, rs/klinik dll Kasus insidens atau prevalens Kriteria diagnosis harus jelas Populasi sumber kasus : Dari rumah sakit (hospital based) dan Dari masyarakat (population base) Kontrol Tidak menderita peny yg sedang diteliti Idealnya secara random dari populasi kasus

c) d)

Melalui diagnosis yang sama dg kasus Sumber kontrol :

dari rs / lembaga Dari komunitas/masyarakat Saudara atau teman kerja Contoh : Pada perhitungan untuk menentukan jumlah sampel studi kasus konterol ektopik. Pada perhitungan untuk menentukan jumlah sampel digunakan : 0,05 (dua arah) : 0.20, diperkirakan wanita dengan kehamilan normal (kontrol) yang masih memakai IUD pada saat konsepsi terjadi sebanyak 2 % (p0 : 0,02) dan nilai Analisis Data Kasus Terpapar Tak terpapar Total

Kontrol B D B+D

Jumlah A+B C+D A+B+C+D

A C A+C

Tanpa Maching OR = = proporsi kelompok kasus yg terkena pajanan Proporsi kelompok kontrol yg terkena pajanan = A x D / B x C dimana odds kasus terpapar = kasus terpapar/semua kasus kasus tak terpapar/semua kasus = a/a+b : b/a+b = a/b odds kontrol terpapar = kontrol terpapar / semua kasus kontrol tak terpapar/ semua kasus = c/ c+d : d/c+d = c/d

dg maching KONTROL TERPAPAR TAK TERPAPAR

TERPAPAR TAK TERPAPAR TOTAL A dan D B dan C OR = dimaching = tidak = B/C

AB

KASUS

C AC

D BD

CD ABCD

1. Cohort Pendekatan period time tetapi bukan efek yg dipegang dulu, tetapi kausa (faktor resiko) diidentifikasi, kemudian diikuti secara prospektif ada tidaknya efek sampai periode waktu tertentu. Rancangan penelitian epidemiologik yang digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor risiko dengan efek, dengan pendekatan longitudinal ke depan (prospektif). Keunggulan 1) 2) 3) Terbaik dalam menerangkan dinamika hubungan antara faktor risiko dengan efek Terbaik dalam menentukan insiden dan perjalanan penyakit Pilihan terbaik untuk kasus yg fatal

Kekurangan 1) 2) 3) 4) Memerlukan waktu yg lama Sarana dan biaya mahal Rumit Terancam Drop Out

CONTOH : Penelitian hubungan antara kebiasaan merokok dg timbulnya bronkitis.

Prevalensi peny pd klp tdk terpajan 1. Studi eksperimental Memberi kesempatan kpd peneliti utk menunjuk individu atau klp individu ke dlm eksperimental atau klp kontrol, idealnya dgn randomisasi Membandingkan klp perlakuan dgn klp mendapat perlakuan kosong (plasebo) atau disebut klp kontrol Arah studi mrp dimensi penting dlm desain studi, krn berkaitan dgn kebutuhan sekuensi temporal dlm inferensi kausal yaitu paparan (anteseden) hrs mendahului penyakit konsekuen). Sejauh mana desain studi merespon premis tsb. Desain Study Epidemiology Untuk pembahasan pertama adalah hal yang berkaitan dengan mata kuliah saya. Dalam Epidemiologi terdapat dua jenis desain penelitian epidemiologi, yaitu study deskriptif dan study analitik. Desain study ini digunakan untuk mempermudah dalam penelitian yang terkait dengan berbagai faktor penyebab, akibat, serta hubungan antar berbagai faktor. berikut adalah kerangka garis besar beberapa desain study epidemiologi : Study Deskriptif Untuk mempelajari distribusi dan frekuensi penyakit di populasi dipakai desain studi epidemiologideskrip tif. Desain studi ini memiliki variant lebih dari 1 dan berupa presentase. Cross Sectional Digunakan untuk membedakan dua kelompok. Unit pengamatan merupakan individual dan populasinya merupakan populasi yang umum serta samplenya random. Pengukuran variable independent (exposure) dan variable dependent (outcome) dilakukan secara bersamaan sehingga sulit untuk mengetahui hubungan antara exposure dan outcome. Case Report Merupakan study pada satu kasus yang sama atau kasus baru yang menggambarkan suatu riwayat penyakit dan pengalaman klinis dari masing-masing kasus. Unit pengamatan atau analisisnya individual. Desain study ini digunakan untuk melihat distribusi suatu penyakit atau masalah kesehatan yang diteliti, memperoleh informasi tentang kelompok resiko tinggi dan membuat hipotesis baru. Karena merupakan pengumpulan dari beberapa kasus-kasus yang dilaporkan maka study ini tidak bisa digunakan untuk menggambarkan suatu populasi. Study ini dapat digunakan sebagai langkah awal untuk meneliti serta dapat menjembatani antara penelitian klinis dengan penelitian epidemiologi. Case Series Studi ini merupakan studi lanjutan dari case report. case report hanya terdiri dari satu kasus saja, tetapi case series terdiri lebih dari satu kasus dan kurang dari sepuluh kasus. Studi ini juga terkait pada sindrom atau penyakit baru. Unit pengamatannya juga individual.

Studi Kolerasi

Disebut juga studi ekologi. Merupakan studi observasional dengan unti analisis/pengamatannya agregat. Populasi merupakan beberapa kumpulan dari unit pengamatan. contohnya unit pengamatanuntuk angka kepadatan jentik, dan insidens DHF diukur berdasarkan area kerj a puskesmas, makapopulasi studi terdiri dari kumpulan puskesmas - puskesmas. Study Analitik Untuk mempelajari diterminan suatu penyakit di populasi dipakai desain studi epidemiologi analitik. Desain studi ini dapat digunakan untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi dan membandingkan antara dua kelompok. Case Control Digunakan untuk meneliti faktor risiko/determinan dari suatu penyakit yang 'outcome' jarang terjadi. penelitian dimulai dari pengukuran status keterpaparan pada subjek-subjek yang diteliti kemudian dikelompokan. Bersifat retrospektif yang berarti melihat pengamatan dengan cara mundur. terdiri dari dua kelompok yaitu sakit dan tidak sakit. D --> E (macam-macam). Kohort Penelitian bersifat observasional tanpa intervensi. Penelitian dilakukan pada subjek-subjek yang masih bebas dari outcome (Disease) tapi berisiko untuk dapat mengalaminya. Pada studi ini dapat terlihat jelas hubungan antar exposure dengan outcome. Biasanya studi ini dilakukan pada dua kelompok yaitu kelompok terpapar dan tidak terpapar. Studi ini dapat bersifat prospektif, retrospektif ataupun historical prospektif. Sample yang dipilih merupakan sample yang tidak random sehingga hanya beberapa sample yang terkait dengan penelitian saja. Intervensi Biasanya dilakukan secara randomisasi. Peneliti melakukan intervensi terhadap status "exposure" pada subjek-subjek yang diteliti. Pada studi ini dilakukan pengecekan ulang dalam kurun waktu tertentu. Jenis intervensi ini ada dua yaitu intervensi secara klinik atau individual dan intervensi secara komunitas misalnya pada komunitas pemabuk, perokok dan sebagainya. Setiap desain study memiliki ciri khas masing-masing. Walaupun demikian setiap desain study mempunyai kekurangan dan kelebihan tersendiri yang berpengaruh pada intervensi kesehatan masyarakat. untuk itu sangat disarankan memilih desain studi yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sebelum melakukan penelitian. referensi : ppt dari ibu Krisnawati Bantas/Dept Epidemiologi/FKMUI Friis RH.Epidemiology 101.Sudbury, MA: Jones and Bartlett Publisher; 2009