Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Setiap perusahaan mempunyai berbagai kegiatan usaha seperti kegiatan utama atau operasional perusahaan dan kegiatan yang diluar operasionalnya. Perusahaan harus mengelola kegiatan tersebut dengan baik agar tidak menghambat kegiatan yang lain. Salah satu kegiatan operasional perusahaan adalah penjualan barang dan jasa, baik yang dilakukan secara tunai atau kredit yang sesuai dengan perjanjian. Perjanjian jual beli lahir dan mengikat setelah ada kata sepakat mengenai harga dan barang walaupun belum dilakukan penyerahan barang dan pembayaran harga. Jika dilakukan secara tunai maka perusahaan tersebut akan langsung menikmati keuntungannya tetapi jika dilakukan secara kredit maka perusahaan tersebut akan mempunyai piutang atau tagihan yang harus menggunakan manajemen yang baik secara efektif dan efisien agar piutang tersebut dapat ditagih sesuai dengan harapan. Pengelolaan piutang perusahaan harus dilakukan dengan baik karena piutang tersebut merupakan sumber pendapatan perusahaan yang tertunda dan merupakan hal yang sangat sensitive untuk dibicarakan karena sebagian besar dana perusahaan dialokasikan dalam bentuk piutang dan pengelolaan yang baik dapat memberikan kesan yang positif terhadap perusahaan dalam kualitas manajemennya. Bagi sebagian besar perusahaan, piutang merupakan pos yang penting karena merupakan bagian aktiva lancar perusahaan yang cukup besar. Untuk beberapa perusahaan jasa, persentasenya bahkan lebih tinggi. Transaksi yang paling umum menciptakan piutang ialah penjualan barang atau jasa secara kredit. Piutang yang timbul dari penjualan semacam itu biasanya diklasifikasikan sebagai piutang usaha. Istilah piutang (Receivable) meliputi semua hak atau klaim perusahaan untuk menerima kas dimasa yang akan datang karena peristiwa dimasa lalu. Piutang disusun dalam laporan keuangan dimana kondisi keuangan suatu perusahaan sangat menentukan kelancaran kegiatan pembiayaan dari perusahaan tersebut dan mengukur kinerja perusahaan. Untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan setiap periodenya. Menurut Munawir (2004 : 2) laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dan proses akuntansi yang dapat dipergunakan sebagai |1

alat untuk bekomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihakpihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut. Piutang yang dimiliki oleh perusahaan pada dasarnya harus dibiayai oleh perusahaan, karena dengan adanya piutang maka ada sebagian dana perusahaan yang terikat pada piutang, dimana pada umumnya dana ini tidak produktif bahkan menanggung resiko. Makalah ini menjelaskan mengenai Audit terhadap Siklus Pendapatan: Pengujian Substantif terhadap Saldo Piutang Usaha, diharapkan makalah ini kelak akan menjadi referensi pembaca. 1.2 Rumusan Masalah Dari uraian di atas timbul beberapa pokok permasalahan berkaitan dengan Audit terhadap siklus pendapatan: pengujian substantif terhadap saldo piutang usaha, yaitu: 1. Apa yang dimaksud dengan piutang? 2. Bagaimana Prinsip Akuntansi Berterima Umum terhadap penyajian substantif piutang terhadap saldo piutang usaha? 3. Apa saja tujuan pengujian substantif piutang dalam saldo piutang usaha? 4. Apa saja dokumen dokumen dan catatan-catatan terkait dengan piutang? 5. Bagaimana cara pencatatan piutang dalam pengujian substantif terhadap saldo piutang usaha? 6. Bagaimanakah prosedur audit piutang dalam pengujian substantif terhadap saldo piutang usaha? 1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum: Merupakan tugas dari mata kuliah Auditing dan untuk melatih kemampuan seorang mahasiswa dalam membuat makalah guna meningkatkan kemampuan mata kuliah Auditing, serta menambah wawasan bagi mahasiswa. 1.3.2 Tujuan Khusus: Menjelaskan bagaimana audit terhadap siklus pendapatan pengujian substantif terhadap saldo piutang usaha yang dijelaskan dari pengertian piutang, PABU penyajian piutang, tujuan pengujian substantif piutang, dokumen terkait dengan piutang, catatan terkait dengan piutang, dan prosedur audit piutang . 1.4. Manfaat penulisan Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah : 1. Bermanfaat sebagai suatu proses belajar dalam membuat makalah. |2

2. Dapat mengkaji lebih dalam tentang penggunaan bukti audit dalam kaitannya dengan profesi auditor. BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Piutang Piutang merupakan klaim kepada pihak lain atas uang, barang, atau jasa yang dapat diterima dalam jangka waktu satu tahun, atau dalam satu siklus kegiatan perusahaan. (Mulyadi, dkk 2002:87)

Piutang adalah klaim terhadap pelanggan atau pihak-pihak lainnya atas uang, barang atau jasa (Kieso, dkk 2007:318)

Piutang (receivable) meliputi semua klaim dalam bentuk uang terhadap pihak lainnya, termasuk individu, perusahaan, atau organisasi lainnya (Warren, dkk. 2006:404) . Piutang merupakan klaim atas uang, barang dan jasa yang diharapkan akan selesai dengan diterimanya uang tunai (kas) (Skousen, Dkk, 2004)

Piutang adalah penagihan yang timbul karena penjualan produk atau penyerahan jasa dalam rangka kegiatan usaha normal perusahaan (Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) 2004:19).

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa Piutang merupakan hak atau klaim kepada pihak lain atas uang, barang atau jasa dalam satu siklus kegiatan normal perusahaan. Piutang umumnya disajikan di neraca dalam dua kelompok : 1. Piutang usaha |3

Yaitu usaha yang timbul dari transaksi penjualan barang atau jasa dalam kegiatan normal perusahaan. Piutang usaha ini umumnya merupakan jumlah yang material di neraca bila dibandingkan dengan piutang non usaha. 2. Piutang non usaha Piutang non usaha timbul dari timbul dari transaksi selain penjualan barang dan jasa kepada pihak luar, seperti misalnya piutang kepada pihak luar, seperti misalnya piutang kepada karyawan, piutang penjualan saham, piutang klaim asuransi, piutang pengembalian pajak, piutang dividen dan bunga. Piutang dagang (piutang usaha) menunjukkan piutang yang timbul dari penjualan barang-barang atau jasa-jasa yang dihasilkan perusahaan. Sedangkan piutang yang timbul bukan dari penjualan barang-barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan tidak termasuk dalam kelompok piutang dagang tetapi dikelompokkan tersendiri dengan judul piutang bukan dagang (bukan usaha). (Zaki Baridwan, Edisi 7)

2.2. Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU) dalam Penyajian Piutang Usaha di Neraca Prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian piutang di neraca yaitu: 1. Piutang usaha harus disajikan di neraca sebesar jumlah yang diperkirakan dapat ditagih dari debitur pada tanggal neraca. Piutang usaha disajikan di neraca dalam jumlah bruto dikurangi dengan taksiran kerugian tidak tertagihnya piutang. 2. Jika perusahaan tidak membentuk cadangan kerugian piutang usaha, harus dicantumkan pengungkapannya di neraca bahwa saldo piutang usaha tersebut adalah jumlah bersih (netto). 3. Jika piutang usaha bersaldo material pada tanggal neraca, harus disajikan rinciannya di neraca. 4. Piutang usaha yang bersaldo kredit ( terdapat di dalam kartu piutang) pada tanggal neraca, harus disajikan dalam kelompok utang lancer.

|4

5. Jika jumlahnya material, piutang usaha nonusaha harus disajikan terpisah dari piutang usaha.

2.3. Tujuan Pengujian Substantif Terhadap Piutang Usaha Tujuan pengujian substantif terhadap piutang usaha adalah: 1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan piutang usaha. 2. Membuktikan keberadaan piutang usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha yang dicantumkan di neraca. 3. Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo piutang usaha yang disajikan dalam neraca. 4. Membuktikan hak kepemilikan klien atas piutang usaha yang dicantumkan di neraca. 5. Membuktikan kewajaran penilaian piutang usaha yang dicantumkan di neraca. 6. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan piutang usaha di neraca. Untuk mencapai tujuan tersebut dirancang pengujian substantif yang digolongkan ke dalam lima kelompok: (1) Prosedur audit awal, (2) Prosedur analitik, (3) Pengujian terhadap transaksi rinci, (4) Pengujian terhadap saldo akun rinci, (5) Verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan. Kelima kelompok pengujian substantif tersebut ditujukan untuk memverifikasi lima asersi manajemen yang terkandung dalam akun piutang usaha dan akun penilaian lainnya: (1) keberadaan atau keterjadian, (2) kelengkapan, (3) penilaian, (4) hak kepemilikan, dan (5) penyajian dan pengungkapan. Kerangka tujuan pengujian substantif terhadap piutang usaha dilukiskan pada Gambar 1.1 berikut ini :

Keberadaan Keterjadian Kelengkapan Penilaian

Hak Kepemilikan

Penyajian Dan Pengungkapan

Saldo akun piutang usaha dan cadangan kerugian piutang usaha sesungguhnya

Saldo akun piutang usaha |5 dan cadangan kerugian piutang usaha yang disajikan dalam laporan keuangan

Saldo akun piutang usaha dan cadangan kerugian piutang usaha sesungguhnya

Saldo akun piutang usaha dan cadangan kerugian piutang usaha yang disajikan dalam laporan keuangan

Prosedur Audit Awal dan

Prosedur analitik

Pengujian terhadap transaksi rinci

Pengujian terhadap saldo akun rinci

Verifikasi pengujian Pengungkapan

Gambar 1.1 Kerangka Tujuan dan Prosedur Audit untuk Pengujian Substantif terhadap Piutang Usaha

2.4 Dokumen terkait dengan Piutang Dokumen pokok yang digunakan sebagai dasar pencatatan ke dalam kartu piutang adalah: 1. Faktur Penjualan

|6

Dokumen ini digunakan sebagai dasar pencatatan timbulnya piutang dari transaksi penjualan kredit. Dokumen ini dilampiri dengan surat muat ( bill of loading) dan surat order pengiriman sebagai dokumen pendukung untuk mencatat transaksi penjualan kredit. 2. Bukti Kas Masuk Dalam pencatatan piutang, dokumen ini digunakan sebagai dasar pencatatan berkurangnya piutang dari transaksi pelunasan piutang oleh debitur. 3. Memo kredit Dalam pencatatan piutang, dokumen ini digunakan sebagai dasar pencatatan retur penjualan. Dokumen ini dikeluarkan oleh Bagian Order Penjualan, dan jika dilampiri dengan Laporan Penerimaan Barang yang dibuat oleh Bagian Penerimaan, maka dokumen ini merupakan sumber untuk mencatat transaksi retur penjualan. 4. Bukti Memorial (jurnal voucher) Dalam pencatatan piutang, dokumen ini digunakan sebagai dasar pencatatan penghapusan piutang. Dokumen ini dikeluarkan oleh Bagian Kredit yang memberikan otorisasi penghapusan piutang yang sudah tidak dapat ditagih lagi.

2.5 Catatan Terkait dengan Piutang Catatan akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi yang menyangkut piutang adalah : 1. Jurnal Penjualan Jurnal penjualan yaitu jurnal yang berisi semua daftar transaksi penjualan yang telah dilaksanakan. Dalam hal ini berupa penjualan kredit. 2. Jurnal Retur Penjualan Pengembalian timbul jika terdapat ketidak sesuaian anatara permintaan dengan barang yang dikirim. Untuk mencatat kedua transaksi tersebut, oleh bagian penagihan dibuat memo kredit untuk kemudian diberikan kepada bagian kredit untuk disahkan. |7

Pengembalian barang oleh pelanggan harus diotorisasi oleh fungsi penjualan dan diterima oleh fungsi penerimaan. 3. Jurnal Umum Jurnal umum berisikan jurnal dengan transaksi yang tidak termasuk ke dalam jurnal khusus lainnya. 4. Jurnal Penerimaan Kas Bagian penerimaan kas menerima cek pembayaran bersama dengan nota pengiriman uang. Sebelum cek tersebut diuangkan, slip nota pengiriman uang dikirimkan oleh bag. Penerimaan kas ke bag. Piutang dagang untuk dibukukan. 5. Kartu Piutang Kartu Piutang digunakan untuk merinci rekening control piutang dalam buku besar, atau berupa arsip faktur terbuka ( open invoice file ), yang berfungsi sebagai buku pembantu piutang.

2.6 Metode Pencatatan Piutang 2.6.1 Pengakuan Piutang Mula-mula

Masalah pengakuan piutang dagang meliputi dua masalah pokok, yaitu : a. Kapan piutang diakui. Piutang diakui saat terjadi pemindahan hak atau serah terima atas barang yang dijual antara pembeli dan penjual. b. Berapa nilai piutang dagang yang diakui. Piutang dagang diakui berdasarkan nilai tukar, yaitu nilai yang akan dibayar oleh debitur pada saat yang telah ditentukan. Dalam masalah ini yang perlu diperhatikan adalah trade discount dan sale discount. Dari kemungkinan Terms of Credit di atas, memungkinkan metode pencatatan piutang dagang menjadi dua metode yaitu : Piutang Dagang dicatat Kotor (Gross Method) dan Piutang Dagang dicatat Bersih (Net Method) Piutang Dagang dicatat Kotor (Gross Method)

|8

Metode kotor mengakui jumlah piutang sebesar penjualan tanpa dipengaruhi oleh potongan yang akan diberikan. Apabila ternyata debitur mengambil potongan, maka akan diakui sebagai pengurang jumlah penjualan bukan sebagai pengurang jumlah piutang. Piutang Dagang dicatat Bersih (Net Method) Metode bersih mengakui jumlah piutang setelah dikurangi dengan potongan penjualan, bila ternyata potongan penjualan tidak dimanfaatkan oleh debitur, maka akan mengakibatkan timbulnya kelebihan pembayaran atas jumlah piutang dan kelebihan tersebut sebagai penghasilan lain-lain. 2.6.2 Taksiran Jumlah Kerugian Piutang dan Penghapusan Piutang

Prosedur pencatatan piutang bertujuan untuk mencatat mutasi piutang perusahaan kepada setiap debitur. Mutasi piutang adalah disebabkan oleh transaksi penjualan kredit, penerimaan kas dari debitur, retur penjualan, dan penghapusan piutang. 1. Kerugian Piutang Piutang memiliki resiko tidak tertagih sehingga timbul kerugian. Terdapat dua metode dalam akuntansi kerugian piutang, yaitu: Metode Langsung Jika metode ini yang digunakan, perusahaan tidak membentuk cadangan. Jika ada piutang yang dihapus, Kerugian Piutang didebet, dan rekening Piutang dikredit. Saldo rekening Kerugian Piutang pada akhir tahun disajikan dalam Laporan Laba Rugi.

Metode Cadangan/Penyisihan Jika metode ini yang digunakan perusahaan pertama-tama membentuk cadangan atau penyisihan kerugian piutang dengan mendebet Beban Kerugian Piutang dan mengkredit Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang. Pada akhir tahun, saldo

|9

rekening Beban Kerugian Piutang disajikan dalam Laporan Laba Rugi, sedangkan saldo rekening Penyisihan disajikan di neraca sebagai pengurang Piutang.

Jika ada piutang yang dihapus, perusahaan tidak mengakui kerugian, sebab kerugian sudah diakui pada saat membentuk cadangan. Perusahaan mengurangi Cadangan dengan mendebet rekening Cadangan dan mengkredit rekening Piutang. Jika banyak penghapusan piutang, saldo Cadangan dapat habis, oleh karena itu setiap akhir tahun Cadangan disesuaikan. Jadi pencatatan kerugian piutang dilakukan pada saat:

pembentukan Cadangan; dan penyesuaian saldo Cadangan.

2. Penghapusan piutang Hal ini terjadi jika bagian kredit menemukan adanya kemungkinan umur piutang yang terlalu lama atau adanya kemungkinan tidak tertagihnya piutang. Kegiatan ini dimulai dari bagian kredit yang menerbitkan surat penghapusan piutang dan disahkan oleh bendahara, kemudian bagian piutang menghapus piutang tersebut. Selain pihak terkait di atas, memo penghapusan juga harus diberikan kepada pihak independen (untuk menjaga proses pengendalian) dimana pihak independen tersebut akan melaporkan penghapusan piutang tersebut kepada pelanggan untuk meyakinkan bahwa piutang tersebut tidak akan ditagih kembali. Jumlah piutang yang disajikan dalam neraca hendaknya menunjukkan jumlah bersih yang diperkirakan dapat direalisir (Net realizable value). Untuk itu harus dilakukan prediksi terhadap jumlah piutang yang mungkin tidak akan tertagih. Piutang yang tidak tertagih diakui sebagai kerugian piutang. Taksiran piutang tidak tertagih ditentukan setiap akhir periode, tujuan penaksiran ini yaitu untuk mengantisipasi tidak tertagihnya piutang dagang dimasa yang akan datang akibat penjualan sekarang, yang akan dibebankan pada periode yang bersangkutan

| 10

Untuk menentukan besarnya piutang yang wajar perlu dibentuk cadangan penghapusan piutang (Allowance for Bad Debt). Ada 3 cara untuk menaksir besarnya cadangan penghapusan piutang: Menggunakan analisis umur piutang (Aging Schedule) Pemisahan masing-masing piutang ke dalam kelompok-kelompok umur dilakukan dari data yang ada dalam buku pembantu piutang. Setelah piutang masing-masing langganan dapat dikelompokkan berdasar umurnya, langkah berikutnya adalah menentukan besarnya persentase kerugian piutang untuk masing-masing kelompok umur.

Taksiran dari saldo akhir piutang di Neraca Taksiran kerugian piutang dinyatakan dalam persentase tertentu dari saldo piutang dagang yang besarnya berdasarkan pengalaman periode yang lalu. Cara ini memfokuskan pada penyajian piutang menurut jumlah yang benar-benar dapat ditagih, pendekatan ini disebut pendekatan neraca. Jika cara ini yang dipakai maka ada dua dasar perhitungan, yaitu : a. Jumlah penyisihan disesuaikan sampai persentase tertentu dari saldo piutang. Penerapan metode ini dengan cara mengalikan persentase tertentu dengan saldo piutang, hasil perhitungan ini merupakan saldo rekening penghapusan piutang dan jumlah biaya yang dibebankan untuk periode yang bersangkutan dipengaruhi oleh saldo rekening penyisihan penghapusan piutang yang sudah ada. Bila cadangan sekarang lebih besar dari saldo cadangan yang ada, maka cadangan kurang dan harus ditambah sebesar selisihnya dengan jurnal : Bad debt expense Allowance for bad debt xx xx

| 11

Bila cadangan sekarang lebih kecil dari saldo cadangan yang ada, maka cadangan Lebih maka harus dikurangi sebesar selisihnya dengan jurnal : Allowance for bad debt Bad debt expense xx xx

b. Jumlah penyisihan disesuaikan dengan nilai yang ditetapkan berdasarkan analisa umur piutang (aging). Metode ini banyak digunakan karena setiap rekening piutang secara satu persatu diadakan analisa yang dikaitkan dengan umur piutangnya. Rekening-rekening yang ada disusun berdasarkan kelompok umur piutang yang ditarik dari tanggal jatuh temponya.

Taksiran dari jumlah penjualan kredit selama satu periode Penentuan jumlah cadangan kerugian piutang dengan cara ini biasanya dilakukan oleh perusahaan yang sering mengadakan penjualan dengan cara tidak tunai, sehingga jumlah yang mungkin tidak tertagih lebih tepat jika ditunjukkan dari jumlah penjualan. Taksiran kerugian piutang dinyatakan dalam persentase tertentu dari penjualan kredit dan tidak termasuk penjualan tunai, yang besarnya berdasarkan pengalaman pada masa lalu dan kondisi tahun yang bersangkutan. Kenyataannya sering terjadi bahwa persentase ini dihitung dari total penjualan (kredit dan tunai) dengan alasan untuk praktis. Perhitungan ini cukup mudah tetapi ketelitiannya sangat kurang, karena tidak menganalisa kemungkinan dari jumlah piutang yang dikaitkan dengan realisasinya. Cara ini memfokuskan pada masalah pembebanan biaya pada periode terjadinya pendapatan dan pendekatan ini disebut pendekatan laporan rugi laba. 2.7 Prosedur Audit Piutang Program audit untuk pengujian substantif terhadap piutang usaha berisi prosedur audit yang dirancang untuk mencapai tujuan audit. Tahap-tahap prosedur audit dimulai dari pemeriksaan yang bersifat luas dan umum sampai ke pemeriksaan yang bersifat rinci. Berbagai prosedur audit dilaksanakan dalam lima tahap berikut ini : | 12

1. Prosedur audit awal 2. Prosedur analitik 3. Pengujian terhadap transaksi rinci 4. Pengujian terhadap saldo akun rinci 5. Verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan

1. Prosedur Audit Awal Auditor menempuh prosedur audit awal dengan cara melakukan rekonsiliasi antara informasi piutang usaha yang dicantumkan dineraca dengan catatan akuntansi yang mendukungnya. Oleh karena itu, auditor melakukan enam prosedur audit dalam melakukan rekonsiliasi piutang usaha di neraca dengan catatan akuntansi yang bersangkutan sebagai berikut : a. Usut saldo piutang usaha yang tercantum di neraca ke saldo akun piutang usaha yang bersangkutan di dalam buku besar. b. Hitung kembali saldo akaun piutang usaha di dalam buku besar. c. Lakukan review terhaap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam akun Piutang Usaha dan akun Cadangan Kerugian Piutang Usaha d. Usut saldo akun Piutang Usaha dan akun Cadangan Kerugian Piutang ke kertas kerja tahun yang lalu e. Usut posting pendebitan akun Piutang Usaha ke dalam jurnal yang bersangkutan f. Lakukan rekonsiliasi akun control piutang usaha dalam buku besar ke buku pembantu piutang usaha.

2. Prosedur Analitik Dalam prosedur analitik, auditor menghitung berbagai ratio ; tingkat perputaran usaha, ratio piutang usaha dengan aktiva lancar, rate of return on net sales, ratio kerugian | 13

piutang usaha dengan pendapatan penjualan bersih, ratio kerugian piutang usaha dengan piutang usaha dengan piutang usaha yang sesungguhnya tidak tertagih. Pembandingan ini membantu auditor untuk mengungkapkan : a. Peristiwa atau transaksi yang tidak biasa b. Perubahan akauntansi c. Perubahan usaha d. Fluktuasi acak, dan e. Salah uji

3. Prosedur Audit Terhadap Transaksi Rinci Keandalan saldo piutang usaha sangat ditentukan oleh keterjadian transaksi berikut ini yang didebet dan dikeditkan ke dalam piutang usaha: Transaksi penjualan Kredit Transaksi Retur penjualan Transaksi penghapusan piutang usaha Transaksi penerimaan kas dari piutang usaha

Disamping itu , keandalan saldo akun piutang usaha ditentukan pula oleh ketepatan pisah batas yang digunakan untuk mencatat berbagai transaksi tersebut diatas. Oleh karena itu, auditor melakukan pengujian substantif terhadap transaksi rinci yang mendebit dan mengkredit akun piutang usaha dan pengujian pisah batas yang digunakan untuk mencatat transaksi yang berkaitan dengan akun tersebut. a. Periksa sampel transaksi yang tercatat dalam akun piutang usaha ke dokumen yang mendukung timbulnya transaksi tersebut. b. Periksa pendebitan akun piutang ke dokumen pendukung : Faktur Penjualan, laporan pengiriman barang , dan order penjualan

| 14

c. Periksa pengkreditan akun piutang ke dokumen pendukung : Bukti kas masuk, memo kedit untuk retur penjualan atau penghapusan piutang d. Lakukan Verifikasi Pisah batas ( CUTOFF ) transaksi penjualan dan retur penjualan.

4. Pengujian Terhadap Saldo Akun Rinci Pengujian terhadap saldo akun rinci dalam siklus pendapatan difokuskan ke saldo piutang usaha dan akun penilainya ( Akun cadangan Kerugian Piuatang Usaha ). Tujuan pengujian saldo akun piutang usaha renci adalah memverifikasi : 1) Keberadaan atau keterjadian 2) Kelengkapan 3) Hak Kepemilikan 4) Penilaian

Dalam pengujian terhadap akun rinci auditor menempuh prosedur audit berikut ini : i. Melakukan konfirmasi piutang Bersumber dari Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), berikut penjelasan mengenai Konfirmasi Piutang Usaha Piutang usaha adalah : a. Klaim entitas terhadap pelanggan yang timbul sebagai akibat penjualan barang atau jasa dalam kegiatan bisnis normal, dan b. Pinjaman yang diberikan oleh lembaga keuangan Konfirmasi piutang merupakan prosedur audit yang umum berlaku. Seperti yang diuraikan sebelumnya yaitu : Konfirmasi dilaksanakan untuk memperoleh bukti dari pihak ketiga mengenai asersi laporan keuangan yang dibuat ioleh manajemen. SA Seksi 326 [PSA No. 07] Bukti | 15

Audit menyatakan bahwa, pada umumnya, dianggap bahwa bukti audit yang diperoleh dari sumber independen diluar entitas memberikan keyakinan yang lebih besar atas keandalan untuk tujuan audit independen dibandingkan dengan bukti audit yang disediakan hanya dari dalam entitas tersebut. Umumnya dianggap bahwa bukti yang diperoleh dari pihak ketiga akan memberikan bukti audit yang bermutu lebih tinggi kepada auditor dibandingkan dengan bukti yang diperoleh dari dalam entitas yang di audit. Oleh karena itu, terdapat anggapan bahwa auditor akan meminta konfirmasi piutang usaha dalam suatu audit, kecuali jika terdapat salah satu dari keadaan berikut ini: a. Piutang usaha merupakan jumlah yang tidak material dalam laopran keuangan. b. Penggunaan konfirmasi akan tidak efektif c. Gabungan tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian taksiran sedemikan rendah, dan tingkat risiko taksiran tersebut, bersamaan dengan bukti yang diharapkan untuk diperoleh dari prosedur analitik atau pengujian substantif rinci, adalah cukup untuk mengurangi risiko audit ketingkat yang cukup rendah untuk asersi keuangan yang bersangkut. Dalam banyak situasi, baik konfirmasi piutang usaha maupun pengujian substantif rinci diperlukan untuk mengurangi risiko audit ketingkat yang cukup rendah bagi asersi laporan keuangan yang bersangkutan. Seorang auditor yang tidak meminta konfirmasi dalam pemeriksaan piutang usaha harus mendokumentasikan bagaimana ia mengatasi anggapan tersebut. ii. Melakukan evaluasi terhadap kecukupan akun Cadangan Kerugian Piutang Usaha yang dibentuk oleh klien

5. Penyajian Dan Pengungkapan Akun Dalam Laporan Keuangan Dalam memverifikasi penyajian dan pengungkapan utang jangka panjang di neraca, auditor membandingkan penyajian utang usaha di neraca dengan prinsip akuntansi berterima umum. Informasi mengenai hal ini diperoleh auditor dengan cara:

| 16

(1) Memeriksa klasifikasi piutang usaha di neraca kedalam kelompok aktiva lancar dan aktiva tidak lancar. (2) Memeriksa jawaban konfirmasi bank (3) Memeriksa klasifikasi piutang kedalam kelompok piutang usaha dan piutang non usaha. (4) Memeriksa kecukupan pengungkapan dan akuntansi untuk piutang antar pihak yang memiliki hubungan istimewa, piutang yang digadaikan, anjak piutang. (5) Memeriksa surat representasi klien mengenai piutang.

2.8 Contoh Kasus Piutang

Contoh 1 : Tanggal 1 Maret 2003 PT. X menjual barang dagangan secara kredit dengan syarat 2/10, n/30 seharga Rp. 80.000 kepada Ny. Windy. Bila tanggal 7 Maret 2003 Ny. Windy membayar lunas dan bila tidak memanfaatkan masa potongan.

Diminta : Buat jurnal bila menggunakan metode penjualan bersih dan metode penjualan kotor

Jawab : Penjualan kotor Penjualan bersih

1. Penjualan barang dagangan seharga Rp. 80.000 dengan syarat 2/10, n/30

| 17

Account Receivable Sales

Rp. 80.000 Rp. 80.000

Account Receivable Sales discount Sales

Rp. 78.400 Rp. 1.600 Rp. 80.000

Cash Sales Discount

Rp. 78.400 Rp. 1.600 Rp. 80.000

Cash Account Receivable

Rp. 78.400 Rp. 78.400

Account Receivable

Cash Sales

Rp. 80.000 Rp. 80.000

Cash

Rp. 80.000 Acc. Receivable Sales disc./RE * Rp. 78.400 Rp. 80.000

*RE yaitu bila pembayarannya telah melawati masa potongan dan telah di closing entries

Contoh 2 : Menaksir Piutang tidak Tertagih - Ditaksir dari jumlah penjualan

Jawab : Cara menentukan persentase cadangan kerugian piutang yang akan datang sbb : Penjualan Bersih 2000 2001 2002 Jumlah 15.000.000 17.000.000 10.000.000 42.000.000 Penjualan kredit bersih 12.000.000 11.000.000 8.000.000 31.000.000 Jumlah piutang yang dinyatakan kerugian 100.000 90.000 70.000 260.000 Piutang diperoleh kembali 20.000 15.000 10.000 45.000

Persentase dari total penjualan bersih, rumus : | 18

Kerugian Piutang piutang diperoleh kembali x 100 % Penjualan Bersih 260.000 45.000 x 100% = 5,12 % 42.000 Persentase dari penjualan kredit bersih : Kerugian Piutang piutang diperoleh kembali x 100 % Penjualan Bersih 260.000 45.000 x 100% = 6,94 % 31.000

Contoh : Cara menentukan cadangan kerugian piutang yaitu dengan rumus : X % x penjualan bersih Berdasarkan data di atas jumlah penjualan kredit selama tahun 2003 sebesar Rp. 20.000.000, potongan penjualan Rp. 1.000.000 dan return penjualan Rp. 2.000.000.

Ditanya : Buat jurnal, bila menggunakan presentasi dari total penjualan bersih dan penjualan kredit bersih.

penjualan kredit bersih Bad debt expense Rp. 870.000 Allowance for bad debt Rp. 870.000 Bad debt expense Rp. 1.179.000 Allowance for bad debt Rp. 1.179.000

Menaksir Piutang tidak Tertagih - Ditaksir dari saldo piutang | 19

Jumlah saldo piutang Rp. 12.000.000, kerugian piutang ditaksir 2% dari saldo piutang. Jika jumlah saldo cadangan yang sudah ada mempunyai saldo kredit Rp. 40.000, maka jurnalnya? Jawab: Bad debt expense Allowance for bad debt Rp. 200.000 Rp. 200.000

Cadangan sekarang Rp. 12.000.000 x 2% = 240.000 sedangkan cadangan yang ada Rp. 40.000, berarti cadangan kurang, maka harus ditambahkan sebesar selisihnya. Tetapi bila rekening penyisihan piutang sekarang memiliki saldo yang lebih kecil dari yang sudah ada atau memiliki saldo debit, misalnya Rp. 30.000. Berarti cadangan lebih, maka harus dikurangi sebesar selisihnya jumlah yang dibebankan Allowance for bad debt Bad debt expense Rp. 10.000 Rp. 10.000

Contoh 3 : Penghapusan Piutang Pada tanggal 12 Oktober 2000 piutang dagang Tn. Suparman sebesar Rp. 60.000,dihapuskan karena yang bersangkutan tidak mampu membayar. Tanggal 7 November 2000 Tn. Andika menyatakan sanggup untuk membayar kembali dan pada tanggal tersebut ia menyerahkan uang sebesar Rp. 50.000 sebagai pembayaran pertama dan sisanya bulan depan. Ditanya: Jurnal Transaksi di atas, berdasarkan metode penghapusan langsung dan tidak langsung. Jawab : Metode penghapusan tidak langsung 12/10 2000 Penghapusan piutang dagang Allowance for Bad Debt Rp. 60.000 Account Receivable Rp. 60.000 Metode penghapusan langsung Bad Debt Expense Account Receivable Rp. 60.000 Rp. 60.000 | 20

Account Receivable

Rp. 50.000

Account Receivable Bad Debt Expense Cash Account Receivable

Rp. 50.000 Rp. 50.000 Rp. 50.000 Rp. 50.000

Allowance for Bad Debt Rp. 50.000 Mencatat penerimaan kas dari piutang Cash Account Receivable Rp. 50.000 Rp. 50.000

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Pengujian substantif terhadap saldo piutang usaha memiliki tujuan utama untuk membuktikan bahwa saldo akun Piutang Usaha dan akun penilainya ( valuation account) yang dicantumkan dalam neraca mencerminkan saldo Akun Piutang Usaha dan saldo akun Cadangan Kerugian Piutang Usaha yang sesungguhnya pada tanggal neraca tersebut. Secara lebih rinci pengujian substantif terhadap piutang usaha ditujukan untuk memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan piutang usaha, membuktikan keberadaan piutang usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha yang dicantumkan di neraca, membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo piutang usaha yang disajikan dalam neraca, membuktikan hak kepemilikan klien atas piutang usaha yang dicantumkan dalam neraca | 21

membuktikan kewajaran penilaian piutang usaha yang dicantumkan dalam neraca, serta membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan piutang usaha di neraca. Untuk mencapai tujuan audit tersebut auditor menempuh berbagai prosedur audit, yaitu prosedur audit awal, prosedur analitik, pengujian terhadap transaksi rinci, pengujian terhadap saldo akun rinci, dan verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan. Setelah menempuh berbagai prosedur audit tersebut diharapkan auditor dapat menemukan dan mengungkapkan letak kesalahan dalam penyajian laporan keuangan khususnya akun piutang usaha yang tertera di neraca pada periode tertentu, untuk membuktikan bahwa auditor tersebut adalah auditor yang kompeten dan independen, sehingga dapat menambah kredibilitas terhadap laporan keuangan yang telah di audit.

| 22