Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM CRYPTOGAMAE 2

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah praktikum Cryptogamae yang dibina oleh Rizal Maulana Hasby

Disusun oleh :
Murni Rahayu 1211702057 Kelompok III Biologi IV B

Tanggal Praktikum: 09 Maret 2013 Tanggal Pengumpulan Laporan : 23 Maret 2013

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2013

I.

Judul Praktikum Menghitung Jumlah Sel Mikroalga Coelastrum sp dan Pengukuran Kadar Klorofil Mikroalga

II.

Pendahuluan 2.1 Tujuan Praktikum Mengetahui pengaruh media terhadap jumlah sel Coelastrum sp Mengetahui struktur tubuh (bentuk) Coelastrum sp Memiliki keterampilan menghitung jumlah sel mikroalga Mengetahui pengaruh media terhadap kandungan klorofil mikroalga Memiliki keterampilan menghitung jumlah sel mikroalga 2.2 Teori Dasar Ditinjau secara biologi, alga merupakan kelompok tumbuhan yang berklorofil yang terdiri dari satu atau banyak sel dan berbentuk koloni. Di dalam alga terkandung bahan-bahan organik seperti polisakarida, hormon, vitamin, mineral, dan juga senyawa bioaktif (Lakitan, 1993). Alga hijau merupakan kelompok terbesar dari vegetasi alga. Alga hijau berbeda dengan divisi lainnya karena memiliki warna hijau yang jelas seperti tumbuhan tingkat tinggi karena mengandung pigmen klorofil a dan klorofil b lebih dominan dibandingkan karoten dan xantofit (Bold, 1985). Alga hijau merupakan kelompok alga terbesar dan yang paling beragam karena ada yang bersel tunggal, koloni dan bersel banyak. warna hijau dari klorofil a dan b yang sama dalam proporsi sebagai 'tinggi' tanaman serta c klorofil tetapi dilaporkan terdapat di beberapa prasinophyceae; U-karoten, dan berbagai karakteristik xanthophylls. Hasil asimilasi berupa amilum yang tersusun dalam kloroplas, kloroplasnya beraneka bentuk dan ukurannya, ada yang seperti mangkok, seperti busa, seperti jala, dan seperti bintang, penyusunnya sama seperti pada tumbuhan tingkat tinggi yaitu amilase dan amilopektin (Salisbury, 1995). Alga berperan sebagai produsen dalam ekosistem. Berbagai jenis alga yang hidup bebas di air terutama yang tubuhnya bersel satu dan dapat bergerak aktif merupakan penyusun pitoplankton. Sebagian fitolankton adalah alga hijau, pigmen klorofil yang dimilikinya aktif melakukan fotosintesis sehingga alga hijau

merupakan produsen utama dalam ekosistem perairan. Beberapa anggota atau bagian yang bergabung dalam divisi chlorophyta mempunyai persamaan pigmen, tempat penyimpanan dan susunan kloroplas. Pigmen-pigmen fotosintesis alga hijau berklarofil a dan b dan mengandung siphonaxanthin atau lutein. Dan tempat penyimpanan cadangan makanan biasanya berupa pati (Krebs, 1989). Salah satu anggota dari divisi chlorophyta yaitu Coelastrum sp. Coelastrum sp merupakan organism uniseluler, hidup secara berkoloni, mempunyai klorofil, hidup secara autotrof, tidak berflagel sehingga tidak bisa bergerak, merupakan produsen primer, penyedia oksigen nomer 1 (Magurran, 1988). Klorofil merupakan pigmen yang terdapat dalam kloroplast (butir hijau daun) yang fungsinya menangkap cahaya matahari pada panjang gelombang tertentu. Klorofil sangat berperan dalam proses fotosintesis. Klorofil disintesis atau dibentuk di dalam kloroplas. Terbentuknya klorofil sangat bergantung pada kondisi nutrisi yang terkandung dalam tumbuhan. Unsur Mg merupakan salah unsur yang terpenting dalam pembentukan klorofil, karena Mg merupakan inti dari klorofil itu sendiri. Bahan dasar pembentukan klorofil antara lain adalah : N, H, C,O dan Mg (Basset, 1994). Kandungan klorofil suatu organisme bisa dihitung menggunakan alat spektrofotrometer. Spektrometer adalah alat yang menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu. Prinsip dari spektrofotometer adalah bagaimana molekul-molekul di dalam suatu larutan dapat menyerap cahaya. Semakin banyak molekul di dalam larutan, berarti juga konsentrasi larutan tersebut tinggi, maka semakin banyak cahaya yang akan diserap dan absorbansi akan semakin tinggi. Berlaku pula sebaliknya. Kuvet adalah alat yang digunakan untuk menempatkan larutan sampel ke dalamnya. Ekstrak dimasukkan dalam kuvet dan diukur kandungan klorofilnya dengan spektrofotometer (Khopkar, 1998).

III.

Metode 3.1 Alat dan Bahan Alat Bahan

1. Rak kultur 2. Botol kultur 3. Selang 4. Aerator 5. Lampu TL 40 watt 6. Haemocytometer 7. Lux meter 8. Pipet tetes 9. Spektrofotometer 10. Centrifuge 11. Tabung centrifuge 2 buah 12. Gelas ukur 13. Tabung reaksi 14. Glass bead 15. Kuvet 2 buah 2 buah

1. Isolat Coelastrum sp. 2. Media basal bold (MBB) 3. Kultur mikroalga 4. Etanol 96%

3.2 Prosedur Kerja Penghitungan jumlah sel mikroalga jenis Coelastrum sp. Dibuat media basal bold sesuai dengan panduan Bischoft 1963.

Dipasang selang kultur pada aerator kemudian dimasukkan pada botol kultur.

Diatur pencahayaan lampu TL maksimal 5000 lux.

Diinokulasikan 10% Coelastrum sp. pada media.

Coelastrum sp. tersebut diisolat selama 1 minggu.

Dihitung pertambahan jumlah sel/hari menggunakan haemocytometer di bawah mikroskop. Pengukuran kadar klorofil mikroalga Diambil 8 ml sampel kultur mikroalga.

Sampel tersebut disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 5 menit.

Supernatan dibuang dan diambil endapannya.

Ditambahkan etanol 90% sehingga volum akhir menjadi 10 ml.

Dimasukkan beberapa butir glass bead, kemudian divorteks selama 10 menit dan disentrifugasi kembali.

Supernatan diukur, lalu diukur menggunakan spektrofometer pada panjang gelombang 645 nm dan 663 nm.

Dihitung kadar klorofil tersebut dengan menggunakan rumus berdasarkan Arnon (1979).

IV. Hasil dan Pembahasan Tabel 1. Pertumbuhan Sel Coelastrum Rumus Kerapatan = Ket : N = Jumlah sel .

Jumlah Pertumbuhan Hari keAerator 1 2 3 4 5 6 137 165 418 Sel Kontrol 73 29 255 Aerator -

Kerapatan Kontrol K = 730000 sel/ml K = 290000 sel/ml K= 2550000 sel/ml

K = 1370000 sel/ml K = 1650000 sel/ml K = 4180000 sel/ml

Tabel 2. Kandungan Klorofil Coelastrum sp. Rumus = Klorofil A = (12,7 A663) (2,7 A645) Klorofil B = ( 22,9 A663) (4,7 A645) Klorofil total (A + B) = (20,2 A645) + ( 8,0 A633) A = (12,7 x 0, 583) (2,7 x 0,315) = 7,4 0,85 = 6,55 I 645 = 0,315 663 = 0,583 T = ( 20,2 x 0,315) + (8,0 x 0,583) = 6,36 + 4,66 = 11,02 Aerator 645 = 0,348 663 = 0,732 T = (20,2 x 0,348) + ( 8,0 x 0,732) = 7,03 + 5,85 = 12,88 A = (12,7 x 0,93) (2,7 x 0,206) = 11,81 0,55 = 11,26 I Kontrol 645 = 0,29 663 = 0,216 B = (22,9 x 0,216) (4,7 x 0,29) = 4,94 1,36 = 3,58 T = (20,2 x 0,29 + ( 8,0 x 0,216) = 5,85 + 1,728 = 7,578 T= 9,59 mg/l 645 = 0,206 663 = 0,93 A= B = (22,9 x 0,93) (4,7 x 0,206) = 21,3 0.96 = 20,34 T = ( 20,2 x 0,206) + (8,0 x 0,93) = 4,16 + 7,44 = 11,6 B= A = (12,7 x 0,216) ( 2,7 x 0,29) = 2,74 0,78 = 1,96 II = 11,96 mg/l 6,61 mg/l A = (12,7 x 0,732) ( 2,7 x 0,348) = 9,3 0,94 = 8,36 II B = (22,9 x 0,732) ( 4,7 x 0,348) = 16,76 1,64 = 15,12 12,04 mg/l B= = 13,5 mg/l B = (22,9 x 0,583) (4,7 x 0,315) = 13,35 1,48 = 11,87 A= 7,45 mg/l

Praktikum kali ini yaitu tentang penghitungan jumlah dan pengukuran kadar klorofil dari jenis mikroalga Coelastrum sp. Pertumbuhan mikroalga pada umumnya membutuhkan 3 faktor yaitu sinar matahari, nutrisi, dan CO2. Adapun upaya untuk meningkatkan produksi biomasa mikroalga dapat dilakukan dengan memanipulasi faktor lingkungan seperti bentuk wadah kultur dan media. Media yang umum digunakan yaitu media sintetik dan alami. Media sintetik terdiri dari senyawa-senyawa kimia yang komposisi dan jumlahnya sudah ditentukan. Salah satunya dengan Medium basal bold (MBB), medium inilah yang digunakan pada praktikum ini. MBB merupakan medium sintetik yang umum digunakan pada kultur mikroalga. Pada praktikum ini dibuat 2 perlakuan yaitu dengan aerator dan tanpa aerator (kontrol). Untuk aerator dipasang selang kultur yang kemudian dimasukkan ke dalam botol kultur. Selanjutnya pencahayaan diatur maksimal 5000 lux. Kemudian diinokulasikan Coelastrum sp. pada kedua media tersebut (kontrol dan aerator), dan dikultur selama 1 minggu. Selanjutnnya dilakukan perhitungan terhadap jumlah selnya dengan menggunakan haemocytometer yaitu dengan cara meneteskan kultur sel Coelastrum sp. yang akan dihitung jumlah selnya sebanyak 1 tetes ke masing-masing dua bagian haemocytometer. Tutup dengan menggunakan cover glass. Kemudian dilihat di bawah mikroskop dan difokuskan hingga terlihat kisi-kisi tempat perhitungan sel. Adapun penghitungan jumlah selnya hanya dilihat pada 4 kotak besar. Berdasarka hasil pengamatan diperoleh pertumbuhan sel Coelastrum sp. pada hari ke-4 yaitu sebanyak 73 untuk kontrol dan 137 untuk aerator. Hari ke-5 diperoleh jumlah sel sebanyak 165 untuk aerator dan 29 untuk kontrol. Sedangkan pada hari terakhir diperoleh sel sebanyak 418 untuk aerator dan 255 untuk kontrol. Angka-angka tersebut merupakan jumlah dari keempat kotak yang diamati. Sehingga diperoleh nilai kerapatan untuk masing-masing perlakuan yaitu hari ke-4 diperoleh nilai kerapatan sebesar 1370000 sel/ml untuk aerator dan 730000 sel/ml untuk kontrol. Hari ke-5 diperoleh nilai kerapatan sebesar 1650000 sel/ml untuk aerator dan 290000 sel/ml untuk kontrol. Hari ke-6 diperoleh nilai kerapatan sebesar 4180000 sel/ml untuk aerator dan 550000 sel/ml untuk kontrol. Nilai kerapatan ini menunjukkan populasi sel per satuan luas. Kepadatan sel

dipengaruhi oleh beberapa fakor yaitu temperatur, aerasi, cahaya, dan pH (Boyd, 2004). Hal tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan dengan aerator dihasilkan jumlah sel lebih banyak dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan dengan aerator ini berfungsi untuk menggerakkan air di dalam labu erlenmeyer yang berisi kultur alga sehingga akan menambah luas permukaan gas CO2 dengan air. Dengan cara ini diharapkan semakin banyak gas CO2 yang akan terserap oleh air sehingga pertumbuahn mikroalga di dalamnya akan lebih maksimal. Penggunaan karbondioksida pada kultivasi mikroalga memberikan pengaruh yang baik bagi pertumbuhan dan kelimpahan sel mikroalga. Hal ini dapat dilihat dari kelimpahan sel mikroalga pada setiap harinya yang selalu mengalami kelimpahan tertinggi bila dibandingkan dengan kultivasi tanpa aerasi (kontrol). Menurut Benemann (1997), penggunaan karbondioksida pada kultivasi mikroalga memiliki beberapa keuntungan yaitu mikroalga dapat tumbuh sangat cepat dan mikroalga tidak membutuhkan tempat atau lahan yang sangat luas untuk tumbuh. Untuk organisme seperti mikroalga, karbondioksida merupakan faktor yang penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan metabolisme mikroalga Selain CO2 faktor lainnya yaitu cahaya, nutrien, salinitas dan suhu. Faktor faktor tersebut merupakan faktor penting dalam pertumbuhan mikroalga khususnya untuk proses fotosintesis. Berikut adalah kurva pertumbuahn sel mikroalga Coelastrum sp.

Pertumbuhan Sel Coelastrum sp.


4500000 4000000 3500000 3000000 2500000 2000000 1500000 1000000 500000 0 1 2 3 4 5 6

Kepadatan sel (sel/ml)

Aerator Kontrol

Umur kultivasi ( hari )

Berdasarkan grafik di atas dapat terlihat fase pertumbuhan dari mikroalga. Dari grafik tersebut terlihat bahwa pertumbuhan mikroalga Coelastrum sp. tergolong cepat. Pada praktikum ini hanya teramati dari mulai hari ke-3, sedangkan hari ke-1 dan ke-2 tidak teramati. Hal ini disebabkan karena pada hari tersebut hanya terlihat sel- sel mikroalganya saja dengan jumlah yang sedikit dan tidak terlihat adanya kisi-kisi tempat perhitungan sel sehingga kami sulit untuk menghitungnya. Berdasarkan literatur bahwa terdapat lima fase pertumbuhan mikroalga yang terdiri dari fase lag (adaptasi atau istirahat), fase eksponensial, fase penurunan kecepatan pertumbuhan (deklinasi), fase stationer dan fase kematian. Fase lag merupakan fase adaptasi. Pada fase ini mikroalga masih mengalami proses adaptasi sehingga belum terjadi proses pembalahan sel. Karena Fase eksponensial merupakan fase dimana fase ini dimulai dengan pembelahan sel dengan laju pertumbuhan yang meningkat secara intensif. Bila kondisi kultivasi optimum maka laju pertumbuhan pada fase ini dapat mencapai nilai maksimum. Fase deklinasi merupakan fase yang ditandai oleh pembelahan sel tetap terjadi, namun tidak seintensif pada fase sebelumnya sehingga laju pertumbuhannya pun menjadi menurun dibandingkan fase sebelumnya. Fase stasioner merupakan fase yang ditandai oleh laju reproduksi dan laju kematian relatif sama sehingga peningkatan jumlah sel tidak lagi terjadi atau tetap sama dengan sebelumnya (stasioner). Fase kematian merupakan fase yang ditandai dengan angka kematian yang lebih besar dari pada angka pertumbuhannya sehingga terjadilah penurunan jumlah kelimpahan sel dalam wadah kultivasi (Kabinawa, 2001). Berdasarkan literatur tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada hari ke-1 ke-3 termasuk fase lag, dengan adanya jumlah sel mikrolaga yang sangat sedikit menunjukkan bahwa pada hari itu sel mikroalga masih beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga jumlahnya sedikit. Sedangkan pada hari ke-4 ke-6 merupakan fase eksponensial, karena dari hari ke-4 hingga hari ke-6 terjadi peningkatan jumlah sel yang signifikan. Dimana sel-sel mengalami pertumbuhan 2 kali lipat, karena sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan. Pada fase ini terjadi aktivitas fotosintesis yang sangat tinggi yang berguna untuk pembentukan protein dan komponen-komponen penyusun plasma sel yang dibutuhkan dalam

pertumbuhan. Meningkatnya aktivitas fotosintesis menyebabkan meningkatnya kandungan klorofil dalam sel. Setelah dilakukan penghitungan jumlah sel, selanjutnya yaitu pengukuran kadar klorofil. Mikroalga adalah tumbuhan tingkat rendah yang memiliki klorofil, yang dapat digunakan untuk melakukan proses fotosintesis. Dalam proses fotosintesis ini terdapat 3 fungsi utama dari klorofil yaitu memanfaatkan energi matahari, memicu fiksasi CO2 menjadi karbohidrat dan menyediakan dasar energetik bagi ekosistem secara keseluruhan. Pengukuran klorofil ini berfungsi untuk mengetahui ukuran kelimpahan atau ketersediaan mikroalga dan ukuran fotosintesis suatu perairan. Pada pengukuran kadar klorofil ini digunakan beberapa alat yaitu spektrofotometer, centrifuge, gelas ukur, tabung reaksi dan glass bead. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu masih dari kultur mikroalga yang sama yaitu Coelastrum sp. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan yaitu, mikroalga yang telah ditumbuhkan sebelumnya masing-masing (aerator dan kontrol) diambil

sebanyak 8 ml ke dalam tabung sentrifugasi, kemudian sampel tersebut disentrifugasi selama 5 menit dengan kecepatan 3000rpm. Lalu dibuang supernatannya dan diambil endapannya. Kemudian ditambahkan etanol 90% hingga volum akhir menjadi 10 ml. Dimasukkan beberapa butir glass bead (diambil dari bubuk cover glas) dan dikocok selama 10 menit sebagai pengganti dari vorteks, lalu disentrifugasi kembali dengan kecepatan dan waktu yang sama. Kemudian supernatan diukur lalu dimasukkan ke dalam kuvet untuk diukur menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 645 dan 663 nm. Setiap sampel dilakukan dua pengukuran, sehingga didapat 4 hasil yaitu dua untuk kontrol dan dua lagi untuk aerator. Berdasarkaan hasil pengukuran diperoleh hasil untuk masing-masing- yaitu aerator 1, diperoleh 0,315 pada panjang gelombang cahaya 645 dan 0,583 pada panjang gelombang 663. Aerator 2 diperoleh hasil 0,348 pada gelombang cahaya 645 dan 0,732 pada gelombang cahaya 663. Sedangkan untuk kontrol diperoleh kontrol 1 dengan hasil 0,206 pada gelombang cahaya 645 dan 0,93 pada gelombang cahaya 663. Kontrol 2 diperoleh hasil 0,29 pada gelombang cahaya 645 dan 0,216 pada delombang cahaya 663. Dari ke-4 sampel tersebut, masing-

masing dihitung kadar klorofilnya dengan menggunakan rumus untuk klorofil A, klorofil B dan total (A dan B). Hasil yang didapat dirata-ratakan sesuai dengan jenis klorofilnya, sehingga diperoleh hasil rata-rata dari masing-masing klorofil untuk kedua perlakuan yaitu kontrol dan aerator. Diperoleh hasil akhir untuk aerator yaitu klorofil A = 7,45, klorofil B = 13,5, dan klorofil total (A dan B) = 12,04. Sedangkan untuk kontrol diperoleh klorofil A = 6,61, klorofil B = 11,96, dan klorofil total = 9,59. Berikut adalah grafik pengaruh media terhadap kadar klorofil mikroalga Coelastrum sp.

Pengaruh Media terhadap Kadar Klorofil Coelastrum sp.


Kontrol Aerator2 12.04 9.59

Grafik tersebut menunjukkan bahwa pada perlakuan dengan aerator diperoleh jumlah klorofil yang lebih banyak dibandingkan dengan kontrol, baik itu klorofil A, klorofil B, maupun klorofil total. Hal ini juga menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah sel didalam kultur tersebut maka kandungan klorofil akan semakin meningkat. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa seiring dengan kenaikan jumlah sel maka akan meningkatkan aktivitas fotosintesis sehingga menyebabkan meningkatnya kandungan klorofil dalam sel. Sedangkan klorofil jenis B selalu diperoleh jumlah terbanyak dari kedua jenis perlakuan tersebut. Artinya bahwa klorofil B mendominasi sel coelastrum sp. sebagaimana literatur bahwa klorofil B terdapat pada ganggang hijau chlorophyta dan tumbuhan darat dengan rumus kimianya C55 H70 O6 N4 Mg. Pendapat APHA (1982) juga menyatakan bahwa dalam proses fotosintesis ada beberapa jenis klorofil yang berperan. Klorofil pada alga planktonik (fitoplankton) dan juga terdapat di beberapa alga yang hidup di dalam tanah terbagi dalam tiga jenis yaitu

klorofil -a, klorofil -b dan klorofil -c. Klorofil a dan klorofil b paling kuat menyerap cahaya bagian merah dan ungu spektrum. Grafiktersebut hanya

menunjukkan klorofil total, karena bisa mewakili secara keseluruhan.

V. Simpulan Dari hasil analisis dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa Coelastrum sp. merupakan anggota dari divisi chlorophyta, dimana anggotanya mempunyai klorofil atau zat hijau daun sehingga dapat berfotosintesis. Coelastrum sp merupakan organism uniseluler, hidup secara berkoloni, mempunyai klorofil, hidup secara autotrof, tidak berflagel sehingga tidak bisa bergerak, merupakan produsen primer, penyedia oksigen nomer 1. Media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroalga ini. MBB merupakan salah satu media sintetik yang umum digunakan pada kultur tuhkan 3

mikroalga. Pada pertumbuhannya mikroalga umumnya membu

faktor yaitu matahari, nutrisi dan CO2. Perlakuan dengan aerator dapat memperluas permukaan gas CO2 dengan air, sehingga pertumbuahn mikroalga di dalamnya akan lebih maksimal. seiring dengan kenaikan jumlah sel maka akan meningkatkan aktivitas fotosintesis sehingga menyebabkan meningkatnya kandungan klorofil dalam sel. Pertumbuhan sel Coelastrum sp. terus mengalami peningkatan dari hari ke-4 sampai ke -6 (Fase ekponensial), dan jumlah sel terbanyak diperoleh pada kondisi aerator. Klorofil terbanyak juga diperoleh pada kondisi aerator dengan jumlah klorofil total yaitu 12,04 mg/l, sedangkan pada kontrol diperoleh klorofil dengan jumlah 9,59 mg/l.

DAFTAR PUSTAKA A.E. Magurran. 1998. Ecological diversity and its measurement. Princeton University Press, New Jersey. APHA, AWWA, and WPC. 1982. Standard Methods of the Examination of Water and Wastewater. American Public Health Association inc, New York. Basset, J., R.C. Denney, G.H. Jeffery, J. Mendham. 1994. Buku Ajar Vogel: Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Ed. 4. Jakarta: EGC Boyd, J. 2004. Oceanography, Water, Seawater Ocean Circulation and Dinamics. Chemical week, June 29. Pub Ink USA C.J. Krebs. 1989. Ecological methodology, Harper Collins Publisher, New York H.C. Bold, M.J. Wynne. 1985. Introduction to the algae structure and reproduction, 2nd ed. Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs. Kabinawa, I.N.K. 2001. Mikroalga sebagai Sumber Daya Hayati (SDH) Perairan dalam Perspektif Bioteknologi. Bogor: Puslitbang Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Khopkar, S.M. 1998. Basic Concepts of Analytical Chemistry. Ed. 2. USA: New Age International. pp. 6376 Lakitan, B. 1993. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo

Persada. Jakarta Salisbury, F.B dan C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid Tiga Edisi Keempat. ITB-Press, Bandung