Anda di halaman 1dari 6

A.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Diagnostik Child Abuse Sexual ditegakkan berdasarkan anamnesis, pengakuan anak, perilaku anak, laporan orangtua dan hasil pemeriksaan klinis. 1. Pemeriksaan klinis, Biasanya meliputi pemeriksaan vagina dan anus serta badan bagian lainnya (dada & perut). Pemeriksaan genital dilakukan dengan pencahayaan yang memadai, memperhatikan posisi pemeriksaan (posisi siku dan dada). Anatomi normal genital dan variasi anatomi genital (dalam hal ini keadaan hymen). Pada anak laki-laki dilakukan pemeriksaan terhadap penis, uretra meatus, skrotum, dan kulit sekitarnya. Pemeriksaan anal meliputi normal dan variasi anatomi anal serta luka-luka yang ada pada daerah anal (semua dilakukan salah satunya dengan posisi sujud) Lubang hymen lebih besar dari 1 cm oleh beberapa pakar, berkesan sexual abuse : a. Hymen dengan robekan baru atau sembuh dan robek transversal, bersisa dan tipis b. Perobekan fourchette posterior c. Granulasi dinding vagina, robek atau parut d. Robekan perianal

2. Pemeriksaan laboratorium : Tes serologi untuk sifilis dan HIV Pemeriksaan Urin Tes kehamilan Tes untuk penyakit infeksi kelamin lain (thricomonas, herpes, condyloma acuminate, gardenella vaginalis, vaginalis dan kandida) Uji untuk darah rectum Jejas gigitan genitalia atau paha sebelah dalam atau parut atau robekan di labia minora X-Ray dilakukan untuk melihat fraktur yang tersembunyi, sudah lama atau dalam tahap penyembuhan

3. VISUM Klinik yang hanya melakukan pemeriksaan sperma langsung saja tentu tak dapat membedakan tidak adanya persetubuhan dengan persetubuhan dengan ejakulasi dari orang yang tak memiliki sel sperma (pasca vasektomi atau mandul tanpa sel sperma). Suatu klinik yang hanya melakukan pemeriksaan sperma dengan uji fosfatase asam saja misalnya tentu hanya dapat menghasilkan kesimpulan terbatas: ini pasti bukan sperma atau ini mungkin sperma Tetapi jika klinik tersebut juga melakukan pemeriksaan lain seperti uji PAN, Berberio, Florence, pewarnaan Baechi atau Malachite green maka kesimpulan yang dapat ditariknya adalah: pasti sperma, cairan mani tanpa sperma (pelakunya mandul tanpa sel sperma atau sudah disterilisasi) atau pasti bukan sperma. Pemeriksaan pada kasus perkosaan untuk pencarian pelaku dilakukan dengan melakukan pemeriksaan pada bahan rambut atau bercak cairan mani, bercak/cairan darah atau kerokan kuku. Pemeriksaan yang dilakukan diantaranya adalah pemeriksaan pola permukaaan luar (kutikula) rambut, peme .riksaan golongan darah dan pemeriksaan sidik DNA. Pemeriksaan sidik DNA yang dilakukan pada bahan yang berasal dari usapan vagina korban bukan saja dapat mengungkapkan pelaku perkosaan secara pasti, tetapi juga dapat mendeteksi jumlah pelaku pada kasus perkosaan dengan banyak pelaku (salome). Pemeriksaan golongan darah dan sidik DNA atas bahan kerokan kuku (jika korban sempat mencakar) juga dapat digunakan untuk mencari pelakunya. Jika hanya pemeriksaan golongan darah yang akan dilakukan pada bahan usapan vagina, maka bahan liur dari korban dan tersangka pelaku perlu juga diperiksa golongan darahnya untuk menentukan golongan sekretor atau non sekretor. Orang yang termasuk golongan sekretor (sekitar 85 -06 dari populasi) pada cairan tubuhnya terdapat substansi golongan darah. Kelompok orang ini jika melakukan perkosaan akan meninggalkan cairan mani dan golongan darahnya sekaligus pada tubuh korban. Sebaliknya orang yang termasuk golongan non-sekretor (15 % dari populasi) jika memperkosa hanya akan meninggalkan cairan mani saja tanpa golongan darah. Dengan demikian jika pada tubuh korban ditemukan adanya substansi golongan darah apapun, maka yang bersangkutan tetap harus dicurigai sebagai tersangkanya.

Adanya pemeriksaan sidik DNA telah mempermudah penyimpulan karena tidak dikenal adanya istilah sekretor dan non~sekretor pada pemeriksaan DNA. Dalam hal tersangka pelaku tertangkap basah dan belum sempat mencuci penisnya, maka secara konvensional leher kepala penisnya dapat diusapkan ke gelas obyek dan diberi uap lugol. Adanya sel epitel vagina yang berwarna coklat dianggap merupakan bukti bahwa penis itu baru bersentuhan' dengan vagina alias baru bersetubuh. Laporan terakhir pada tahun 1995, menunjukkan bahwa gambaran epitel ini tak dapat diterima lagi sebagai bukti adanya epitel vagina, karena epitel pria baik yang normal maupun yang sedang mengalami infeksi kencing juga mempunyai epitel dengan gambaran yang sama. Pada saat ini jika seorang pria diduga baru saja bersetubuh, maka kepala dan leher penisnya perlu dibilas dengan larutan NaCl. Air cucian ini selanjunya diperiksa ada tidaknya sel epitel secara mikroskopik dan jika ada maka pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan DNA dengan metode PCR (polymerase chain reaction. B. TERAPI FARMAKOLOGI DAN NONFARMAKOLOGI 1. Farmakoterapi a. Menangani psikologis Pengobatan farmakoterapi dapat berupa terapi obat psikis hanya dalam hal berkelanjutan pengobatan pasien yang sudah dikenal, yaitu terapi anti depresant, obat yang biasa digunakan adalah benzodiazepin, litium, camcolit, dan zat pemblok beta, seperti propranolol, klonidin,dan karbamazepin.(Kaplan et al,1997). Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan obat anti depresant :

Riwayat respon klien terhadap obat Farmakogenetik (riwayat respon keluarga terhadap obat) Jenis depresi Kemungkinan interaksi obat Profil adverse event obat Harga obat

b. Mencegah komplikasi yang mengancam jiwa (Wilma Doedens, UNFPA and Marian Schilperoord, UNHCR) :

Infeksi Menular Seksual (Sipilis, Chlamydia, dll)- Vaksinasi hepatitis B Penularan HIV,Jika insiden < 72 jam dan resiko penularan : Zidovudine (AZT) + Lamuvudine (3CT) untuk 28 hari.

Mencegah kehamilan Untuk kurang dari 5 hari pasca pemerkosaan biasanya diberikan levonorgestrel dosis tunggal 1,5 mg atau ethinylestradiol 100 mcg + levonorgestrel 0,5 mg, dua dosis terpisah 12 jam (Yuzpe). Alternatif dengan menggunakan IUD.

Perawatan luka - Membersihkan dan mengobati luka -Memberikan profilaksis dan vaksinasi

2. Nonfarmakologi

Menurut Suda (2006), model program konseling pada anak dengan sexual abuse : The dynamics of sexual abuse : terapi difokuskan pada pengembangan konsepsi (kesalahan dan tanggung jawab bukan pada anak, anak tidak disalahkan) Psikoterapi Ada tiga tipe psikoterapi yang digunakan dan efektif untuk penanganan PTSD, yaitu : anxiety management, cognitive therapy, exposure therap y. (Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistim dan Kebijakan Kesehatan, Surabaya) a. Anxiety management

Protective behaviours counseling : dilatih menguasai keterampilan mengetahui kerentanannya (anak berani berkata tidak) Survivor/self esteem counseling : menyadarkan anak bahwa mereka bukan korban, melainkan orang yang mampu bertahan Feeling counseling : diidentifikasi kemampuan anak untuk mengenali berbagia perasaan, anak didorong untuk mengekspresikan perasaannya Cognitif therapy : mengidentifikasikan pikiran-pikiran yang tidak rasional

Terapi Relaksasi

Tujuan pokok dari terapi relaksasi adalah untuk menahan terbentuknya respon stress terutama dalam system saraf dan hormone serta membantumencegah atau meminimalkan gejala fisik akibat stress. i). . Teknik Relaksasi Fisik, yaitu dengan melakukan pernapasan diafragma. Langkah-langkah : - Posisikan tubuh secara nyaman - Konsentrasi - Tarik napas dalam dari hidung atau mulut masuk ke paru, beri jeda sebentar, kemudian keluarkan udara melalui salauran masuknya udara tersebut. ii). Teknik Relaksasi Mental, yaitu dengan melakukan meditasi dan imajinasi mental. - Meditasi : suatu peningkatan konsentrasi dan kesadaran,bertujuan untuk menjernihkan pikiran. - Imajinasi mental : suatu teknik mengkaji kekuatan pikiran pasien saat sadar maupun tidak sadar untuk menciptakan bayangan gambar yang membawa ketenangan dan keheningan di pikiran pasien.

Breathing retraining Yaitu belajar bernafas dengan perut secara perlahan-lahan, santai, dan menghindari

bernafas dengan tergesa-gesa yang menimbulkan perasaan tidak nyaman, bahkan reaksi fisik yang tidak baik, seperti jantung berdebar dan sakit kepala.

Positif thinking- self talk Yaitu belajar untuk menghilangkan pikiran negatif dan mengganti dengan pikiran

positif ketika menghadapi hal- hal yang membuat stress

Asser- tiueness training Yaitu belajar bagaimana mengekspresikan harapan, opini, dan emosi tanpa

menyalahkan atau menyakiti orang lain.

Thought stopping Yaitu belajar bagaimana mengalihkan pikiran ketika kita sedang memikirkan hal-

hal yang membuat kita stress (Anonim, 2005).

b. Cognitive therapy Terapis membantu untuk mengubah kepercayaan yang tidak rasional yang menggangu emosi dan menggangu kegiatan-kegiatan klien. Misalnya seorang korban kejahatan mungkin menyalahkan diri sendiri karena kecerebohannya. Tujuan terapi kognitif adalah mengidentifikasi pikiran-pikiran yang tidak rasional, mengumpulkan bukti bahwa

pikiran tersebut tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut yang kemudian mengadopsi pikiran yang lebih realistik untuk membantu mencapai emosi yang lebih seimbang. (Anonim, 2005)

c. Exposure therapy Terapis membantu menghadapi situasi khusus, orang lain, obyek, memori atau emosi yang mengingatkan pada trauma dan menimbulkan ketakutan yang tidak realistik dalam kehidupannya. Terapi dapat berjalan dengan cara :

Exposure in the imagination Yaitu bertanya pada penderita untuk mengulang cerita secara detail sampai tidak

mengalami hambatan dalam menceritakannya

Exposure in reality Membantu menghadapi situasi yang sekarang aman tetapi ingin dihindari karena

menyebabkan ketakutan yang sangat kuat (misalnya: kembali ke rumah setelah terjadi perampokan di rumah). Ketakutan bertambah kuat jika kita berusaha mengingat situasi tersebut daripada berusaha melupakannya. Pengulangan situasi disertai penyadaran yang berulang akan membantu menyadari situasi lampau yang menakutkan tidak lagi berbahaya dan dapat diatasi (Anonim, 2005).

Terapi tambahan lainnya, yaitu:

Play therapy Terapis memakai permainan untuk memulai topik yang tidak dapat dimulai secara

langsung. Hal ini dapat membantu anak merasa lebih nyaman dalam berproses dengan pengalaman traumatiknya (Anonim, 2005).

Support group therapy Dalam terapi kelompok seluruh peserta merupakan penderita PTSD yang mempunyai

pengalaman serupa dimana dalam proses terapi mereka saling mencertitakan tentang pengalaman traumatis mereka, kemudian mereka saling memberi penguatan satu sama lain (Swalm, 2005).