Anda di halaman 1dari 21

BAB 2 TINJAUAN PUSAKA Adapun konsep dan teori yang terkait dalam penelitian ini adalah 1. Pengetahuan 1.1.

Defenisi Pengetahuan 1.2. Tingkat pengetahuan 1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan 1.4. Pengetahuan ibu tentang makanan bergizi 1.5. Makanan bergizi bagi balita 1.5.1. Pengaturan pemberian makanan balita 1.5.2. Angka kecakupan gizi balita 1.5.3. pengaruh makanan bagi kesehataan balita 2. Status Gizi Balita 2.1. Defenisi status gizi 2.2. Pengukuran status gizi 2.3. klasifikasi status gizi 2.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi 2.5. malasah-masalah gizi balita 2.6. Upaya menanggulangi masalah gizi

Universitas Sumatera Utara

1. PENGETAHUAN 1.1. Defenisi Pengetahuan Menurut Notoadmojo (2003), pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objektertentu. Pengindraan terjadi melalui pengindraan manusia, yaitu indra melihat, indra pendengar, penciuman, rasa dan raba, sebahagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. 1.2. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoadmojo (2003), menyatakan bahwa pengetahuan yang tercangkup dalam domain koqnitif memmpunyai enam tingkatan. a) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai pengingatsuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Yang termaksud dalam tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) suatu spesifik dari seluruh bahan yang telah dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tingkat pengetahuan ini merupakan tingkat yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu dengan menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan dan sebagainya. b) Memahami (comperhenti) Memahami diartikan sebagai suatau kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang telah paham terhadap objek atau materi harus

Universitas Sumatera Utara

dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang telah dipelajari. c) Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan yang menyimpulkan materi yang telah dipelajari pada stuasi atau kondisi yang sebenarnya aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan prinsip- prinsip siklus pemecahan masalah dalam pemecahan masalah ketiga dari kasus yang diberikan. d) Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisa dapat memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. e) Sintesis ( synthesis) Sintesis diartikan sebagai suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi. Baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

Universitas Sumatera Utara

f) Evaluasi (evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penelitian-penelitian tersebut didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya, dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi, dapat menghadapi terjadinya diare di suatu tempat, dapat menafsirkan penyebab ibu-ibu tidak mau ikut KB dan sebagainya. 1.3. Faktor-faktor yang mempengarui pengetahuan Menurut Notoadmojo (2003) pengetahuan diperoleh faktor : 1) Pendidikan Pendidikan adalah suatu belajar yang berarti terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan kerah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih menantang pada diri individu, keluarga atau masyarakat. Beberapa hasil penelitian mengenai pengaruh pendidikan terhadap perkembangan pribadi, bahwa pada umumnya pendidikan itu mempertinggi taraf intelegensi individu. 2) Persepsi Persepsi, mengenal dan memilih objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil.

Universitas Sumatera Utara

3) Motivasi Motivasi merupakan dorongan, keinginan dan tenaga penggerak yang berasal dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dengan mengenyampingkan hal-hal yang dianggap kurang bermanfaat. Dalam mencapai tujun dan munculnya motivasi dan memerlukan rangsangan dari dalam individu maupun dari luar. Motivasi murni merupakan motivasi yang betul-betul disadari akan pentingnya suatu perilaku akan dirasakan suatu kebutuhan. 4) Pengalaman Pengalaman adalah sesuatu yang dirasakan (diketahui, dikerjakan) juga merupakan kesadaran akan suatu hal yang tertangkap oleh indera manusia. Faktor eksternal yang mempengaruhi pengetahuan antara lain : meliputi lingkungan, sosial, ekonomi, kebudayaan dan informasi. Lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh bagi pengembangan sifat dan perilaku individu. Sosial ekonomi, penghasilan sering dilihat untuk memiliki hubungan antara tingkat penghasilan dengan pemanfaatan. 1.4. Pengetahuan Ibu dalam pemenuhan gizi pada balita Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan merupakan hal yang umum di setiap negara. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi, merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi. Akan tetapi ada sebab lain yang tak kalah penting, yaitu

Universitas Sumatera Utara

kurang pengetahuan tentang makanan bergizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi pangan yang diproduksidan tersedia. (Harper, 2001) Dalam penelitian yang dilakukanoleh sanjaya (2000) juga disebutkan bahwa sebagian anak dalam keluarga tertentu dengan sosial ekonomi rendah mempunyai daya adaptasi yang tinggi sehingga mampu tumbuh dan kembang, dan salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan. Hal ini senada dengan yang dianggap oleh Berg (1986), bahwa sekalipun daya beli merupakan halangan yang utama, tetapi sebahagiaan kekurangan gizi akan bisa diatasi kalau orang tua tahu bagaimana seharusnya memanfaatkan segala sumber yang dimiliki. 1.5. Makanan bergizi bagi balita Tubuh kita terbentuk dari zatzat yang berasal dari makanan oleh karena itu kita memerlukan masukan makanan, yaitu untuk memperoleh zatzat yang diperlukan tubuh, (Nuraimah, 2001). Gizi (nutrizi) yang baik merupakan tujuan yang penting bagi kebanyakan orang, Gizi semakin dipandang sebagai faktor penentu yang penting dalam upaya mempertahankan kesehatan dan mencegah penyakit. Anak usia di bawah lima tahun merupakan masa terbentuknya dasardasar kepribadian manusia, kemampuan pengindraan, kemampuan berpikir, keterampilan berbahasa dan berbicara bertingkah laku sosial dan lainnya (DepkesRI, 2001, dalam Santoso & Ranti, 2001). Oleh karena itu pada usia balita harusnya memperoleh zat gizi yang mencukupi jumlah dan zat gizinya (Sumiarta, 2005).

Universitas Sumatera Utara

Selain itu makanan merupakan kebutuhan fungsi jasmaniah dan psikososial untuk kelangsungan hidup, nutrisi juga memiliki makna simbolik berdasarkan keyakinan budaya, spiritual dan keperibadian seseorang. Nutrisi biasanya menjadi simbolik kehidupan dan kasih sayang, seperti ibu yang memberikan makanan pada anaknya (Khomsan, 2003). Gizi yang diperoleh seorang anak melalui konsumsi makanan setiap hari berperan untuk kehidupan anak, kecukupan zat gizi ini berpengaruh pada kesehatan dan kecerdasan anak terutama pada anak usia balita maka selain pengetahuan diperlukan juga kemampuan dalam mengelola makanan sehat untuk anak yang merupakan suatu hal yang sangat penting (Santoso & Ranti,2001). Menurut Notoatmojo (2003), agar makanan dapat berfungsi dengan baik maka makanan yang kita makan sehari-hari tidak hanya sekedar makanan. Makanan harus mengandung zat-zat gizi tertentu sehingga memenuhi fungsi tersebut, makanan harus mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. a) Protein Protein diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuhan (protein nabati) dan makanan dari hewan (protein hewani). Fungsi protein bagi tubuh sebagai pembangun sel-sel yang rusak, membentuk zat-zat pangatur seperti enzim dan hormon, membentuk zat inti energi, (1gr protein kira-kira akan menghasilkan 4,1kalori). Kebutuhan protein balita bayi bervariasi dari 1,6-2,2 gr protein per kg BB. Total asupan protein sebaiknya tidak melebihi 20 % dari kebutuhan energi.

Universitas Sumatera Utara

b) Lemak Berasal dari minyak goreng, daging, margarine, dan sebagainya. Fungsi pokok lemak bagi tubuh ialah menghasilkan kalori terbesar dalam tubuh manusia (1 gr lemak menghasilkan sekitar 9,3 kalori), sebagai pelarut vitamin A,D, E, K dan sebagai pelindung bagi pada temperatur rendah. c) Karbohidrat. Berfungsi sebagai salah satu pembentuk energi yang paling murah. Pada umumnya sumber karbohidrat ini berasal dari tumbuh- tumbuhan (beras, jagung, singkong, dan sebagainya), yang merupakan makanan pokok. d) Vitamin Vitamin merupakan molekul organik yang terdapat didalam makanan. Fungsi vitamin berlainan satu sama lain tetapi secara umum fungsinya adalah mengatur metabolisme tubuh. e) Mineral Berfungsi sebagai bagian dari zat yang aktif dalam metabolisme atau sebagai bagian penting dari struktur sel dan jaringan. Bayi membutuhan kurang lebih 150ml/ kg BB air maupun cairan lainnya hal ini untuk mencegah bayi yang mudah mengalami dehidrasi maupun diare. 1.5.1 Pengaturan Pemberian Makanan Balita Pemberian makanan adalah cara pemberian makanan kepada balita, dimana pemberian makanan tersebut harus disesuaikan dengan usia balita dan dilakukan secara bertahap, karena kerja saluran cerna balita belum sempurna. Pengturan makanan dimulai dari pemberian ASI, makanan lumat/lunak, makanan

Universitas Sumatera Utara

lembek, sampai akhirnya makanan padat, seperti yang terdapat dalam table berikut ini. Table 1. Pengaturan Pemberian Makanan Pada Balita menurut umur Umur Anak 0-6 bulan 6-9 bulan 9-12 bulan 1-5 tahun ASI saja Makanan Lumat/Lunak Makanan Lembek Makanan Padat Pemberian Makanan

1.5.2 Angka kecakupan zat gizi balita Jumlah makanan yang diberikan pada balita harus berangsur bertambah sesuai dengan bertambahnya kebutuhan balita akan berbagai zat gisi. Berikut ini merupakan angka kecukupan zat gizi rata-rata yang dianjurkan untuk perorangan dalam satu hari. Tabel 2. Cakupan zat gizi yang dianjurkan per orang per hari untuk Indonesia dalam mempertahankan kesehatan yang baik sesuai umur. Golongan Umur Berat Badan (Kg) Tinggi Energi Protein (g) Vit.A (RE) Besi (mg) Lodium ()

Badan (cm) (Kkal)

0-6 bln 7-12 bln 1-3 bln 4-6 bln

5.5 8.5 12 18

60 71 90 110

560 800 1250 1750

12 15 23 32

350 350 350 460

3 5 8 9

50 70 70 100

Universitas Sumatera Utara

Sumber : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Risalah widyakarya Pangan dan Gizi VI, 1998. Hlm.877. (Almatsier, 2002) 1.5.3 Pengaruh makanan bagi kesehatan Balita Makanan sehari hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang di butuhkan untuk fungsi normal tubuh. Begitu juga sebaliknya bila makanan tidak dipilih dengan baik tubuh akan mengalami kekurangan zat zat gizi esensial gizi tertentu. Beberapa manfaat bagi tubuh yaitu 1) memberi energi dari karbohitrat, lemak, dan protein, 2) pertumbuhan dan pemeliharaan, jaringan tubuh dari protein mineral dan air 3) mengatur proses tubuh dari protein, mineral air dan vitamin (Almatsier, 2002). Menurut Almatsier (2002) kekurangan gizi secara umum dapat menyebabkan gangguan pada beberapa proses tubuh yaitu; a. Pertumbuhan Anak anak yang kurang gizi tidak dapat tumbuh menurut potensialnya b. Produksi tenaga Kekurangan energi berasal dari makanan yang menyebabkan seseorang kekurangan tenaga untuk bergerak dan melakukan aktifitas. Orang menjadi mala, merasa lemah, dan produktivitas kerja menurut. c. Pertahanan tubuh Daya tahan terhadap tekanan dan stres menurunkan sistem imunitas dan antibodi berkurang, sehingga orang mudah terserang infeksi. Pada anakanak hal ini menyebabkan kematian.

Universitas Sumatera Utara

d. Struktur dan fungsi otak Kurang gizi pada usia muda dapat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kemampuan berpikir. Otak, mencapai bentuk maksimum pada usia 2 tahun kurang gizi dapat mengakibatkan terganggunya fungsi otak secara permanen. Makanan yang baik akan memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh. Fungsi zat gizi bagi tubuh. 1) Memberi energi Zat-zat dapat memberikan energi bagi tubuh. Zat gizi tersebut adalah karbohidrat, lemak dan protein. Oksidasi zat gizi ini menghasilkan energi yang diperlukan tubuh melakukan aktivitas. Dalam fungsi sebagai zat pemberi energi, ketiga zat tersebut dinamakan zat pembakar. 2) Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh Protein, mineral dan air adalah zat pembangun yang diperlukan untuk membentuk sel-sel baru, memelihara dan mengganti sel-sel yang rusak. 3) Mengatur proses tubuh Protein, mineral, air dan vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh.Dalam fungsinya ini ke empat zat gizi tersebut dinamakan zat pangatur (Almatsier, 2002)

Universitas Sumatera Utara

2. Status Gizi 2.1. Defenisi Status Gizi Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi.(Almatsier, 2002). Status gizi digunakan untuk mengetahui kesehatan anak. Secara umum status gizi lebih dapat di bagi menjadi lima kategori yaitu : status gizi lebih, status gizi baik, status gizi sedang, status gizi kurang, status gizi buruk. Status gizi optimal menurut Dorice M (1992) adalah keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan zat

gizi.(Supariasa,2002). 2.2 Pengukuran status gizi Cara pengukuran status gizi balita yang paling sering di masyarakat adalah antropometri gizi yaitu suatu cara yang berhubungan dengan berbagai makanan, pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat usia dan tingkat gizi (Supariasa, dkk, 2002 ). Parameter status gizi merupakan ukuran tunggal dari tubuh manusia seperti umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit. Parameter antropometri merupakan dasar dari penelitian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut dengan indeks antropometri (Supariasa, dkk, 2001). Beberapa indeks antropometri antara lain : (1) berat badan menurut umur, (2) tinggi badan menurut umur, (3) berat badan menurut tinggi badan (Supariasa, dkk,2002;Soekirman, 2000 ).

Universitas Sumatera Utara

Indeks antropometri. Berat badan menurut umur (BB/U). Berat badan merupakan salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitife terhadap perubahan yang mendadak seperti terserang penyakit, infeksi, menurunnya nafsu makan, atau menurunnya jumlah makanan yang di konsumsi (Supariasa, dkk, 2002). Kelebihan indeks BB/U antara lain mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat umum, baik untuk mengukur status gizi akut atau kronis, berat badan dapat berfluktuasi, sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil (Supariasa dkk, 2002; Soekirman 2000). Disamping mempunyai kelebihan, indeks BB/U juga mempunyai beberapa kekurangan antara lain dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang keliru bila terdapat edema dan asites, di daerah pedesaan yang masih terpencil data umur yang akurat, sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, secara operasional. Sering mengalami hambatan karena masalah sosial budaya setempat (Soekirman, 2000,

Supariasa,dkk 2002). Tinggi badan menurut umur (TB/U). Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur, pengaruh defesiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan tampak dalam waktu yang relative lama (Supariasa,dkk,2002). Disamping memberikan gambaran status gizi masa lampau, indeks TB/U juga lebih erat kaitannya dengan status ekonomi (Beaton&Bengoa,1973 dalam Supariasa, dkk, 2002). Keuntungan indeks TB/U antara lain, baik untuk menilai status gizi masa lampau, ukuran panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa, dapat dijadikan indikator keadaan social ekonomi penduduk (Soekirman, 2000 &

Universitas Sumatera Utara

Supariasa, dkk, 2002). Adapun kelemahan indeks TB/U antara lain: tinggi badan tidak cepat naik bahkan tidak mungkin turun, pengukuran relative sulit dilakukan karena anda harus berdiri tegak, sehingga diperlukan dua orang untuk mengukurnya, ketepatan umur sulit didapat, tidak dapat digambarkan keadaan gizi saat ini, dan dapat terjadi masalah dalam pembaaan skala (Soekirman, 2000). Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat ini. Terutama bila data umur yang akurat sulit diperoleh (Supariasa, dkk, Soekirman, 2000). Keuntungan indeks BB/TB antara lain independen terhadap umur dan ras dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal, kurus) Kelemahan indeks BB/TB ini adalah tidak dapat memberikan gambaran apakah anak tersebut pendek, normal, tinggi. Sulit untuk melakukan pengukuran tinggi badan, menggunakan dua buah alat ukur, pengukuran relative lama, membutuhkan dua orang untuk melakukannya (Supariasa, dkk, 2002; Soekirman,2000). 2.3 Klasifikasi Status Gizi Dalam buku petunjuk teknik pemantauan status gizi, dapat diklasifikasikan menjadi 5, yaitu gizi lebih, gizi baik, gizi sedang, gizi kurang dan gizi buruk, buku rujukan yang digunakan adalah WHONHCS (Word Health OrganizationNational Centre for Statistics) dengan indeks berat badan menurut usia (Supariasa, dkk,2002). Berat badan adalah suatu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-

Universitas Sumatera Utara

perubahan yang mendadak, misalnya terinfeksi penyakit. Baku tentang Antropometri ada beberapa macam, yaitu baku Boston dan Harverd, baku Tunner, dan baku NCHS. Akan tetapi yang direkomendasikan oleh WHO adalah baku NCHS (National Center for Health Statistik), karena pengumpulan datanya lebih menggambarkan populasi yang sebenarnya. Pada baku NCHS juga dibedakan untuk anak laki-laki dan perempuan. Table 3. Klasifikasi status gizi masyarakat direktorat Bina Gizi masyarakat Depkes RI tahun 1999 (Supariasa, dkk, 2002 hal 76). Kategori Gizi lebih Gizi baik Gizi sedang Gizi kurang Gizi buruk Cut of point*) >120 % median BB / U baku WHO - NHCS 80 % - 120% median BB / U baku WHO - NHCS 70 % - 79,9 % median BB / U baku WHO - NHCS 60 % - 69,9 % median BB / U baku WHO - NHCS < 60 % median BB / U baku WHO - NHCS

2.4. Faktor faktor yang mempengaruhi status gizi 2.4.1 Pengetahuan Apabila seorang ibu mempunyai cukup pengetahuan tentang cara memelihar giziserta mengatur makanan kejadian gizi kurang akan dapat dihindari. Kurangnya pengetahuan dan salah persepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum disetiap negara. Hal ini didukung juga dengan penelitian yang dilakukan Sandjaja (2000) yang melaporkan bahwa sebagian besar anak dalam keluarga tertentu dengan sosial ekonomi rendah mempunyai daya adaptasi yang tinggi sehingga mampu tumbuh dan kembang, salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan.

Universitas Sumatera Utara

2.4.2 Sosial Ekonomi Di negara berkembang seperti Indonesia yang jumlah pendapatan penduduk sebagian besar adalah golongan ekonomi rendah dan menengah sehingga akan berdampak kepada pemenuhan bahan makanan terutama mkanan yang bergizi. Keterbatasan ekonomi yang berarti tidak mampu membeli bahan makanan yang berkualitas baik, maka pemenuhan gizi juga akan terganggu. 2.4.3 Sosial budaya Pada dasarnya kebiasaan makan seseorang tidak didasarkan akan keperluan fisik akan zat-zat yangterkandung dalam makanan. Kebiasaan ini berasal dari pola makan yang didasarkan pada budaya kelompok dan diajarkan pada seluruh anggota keluarga. Beberapa budaya masyarakat tertentu masih menganut adanya makanan tertentu yang dianggap sebagai pantangan atau kepercayaan tahayul. Orang-orang Indonesia masih banyak yang beranggapan ada beberapa makanan yang harus dihindari atau menjadi pantangan terutama pada kondisi tertentu, misalnya pada ibu hamil. Dikalimantan masih banyak orang beranggapan bahwa ibu hamil harus menghindari makan 27 jenis ikan, padahal ikan adalah sumber utama protein yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan janin dan akan berdampak pada kesehatan dan status nutrisi anak kelak setelah lahir. 2.4.4 Status kesehatan Apabila seseorang mengalami kondisi yang kurang sehat atau mengalami suatu penyakit tertentu maka berpengaruh terhadap selera makannya dan pola diet sehingga terganggu pemenuhan kebutuhan gizi untuk energi dan pertumbuhan,

Universitas Sumatera Utara

perkembangan, dan kesehatannya. Misalnya orang yang mengalami gangguan dalam saluran pencernaan (infeksi lambung, kanker kolon, dll) yang harus mengikuti program diet dari dokter dan hal ini akan berdampak pada status nutrisinya. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan- perubahan yang mendadak, misalnya terinfeksi penyakit, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi( Supariasa,dkk, 2002).

2.4.5. Pola makan / pemberian makan Selain pengetahuan, Sumiarta (2005) menyebutkan bahwa pola asuh dan pemberian makanan sangat berpengaruh pada status gizi balita. Pola makan yang seimbang akan menyajikan semua makanan yang berasal dari setiap kelompok makanan dengan jumlahnya sehingga zat gizi dikomsumsi seimbang satu sama lain. Meskipun makanan yang diberikan orang tua kepada anak- anaknya makanan yang bergizi, tetapi kalau diberikan tanpa makan yang teratur maka anak- anak tetap saja bisa mengalami gizi buruk (Budianingrum, 2005) 2.5 Masalah masalah Gizi balita Secara nasional ada 4 (empat) masalah gizi utama di Indonesia, yaitu : kurang kalori protein, kekurangan vitamin A, gangguan akibat kurang yodium, anemia defisiensi zat besi. 1. Kurang Kalori Protein Kurang Kalori Protein (KKP) akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya, tidak tercukupi oleh diet. Kurang energi protein dikelompokkan menjadi KKP primer dan skunder.

Universitas Sumatera Utara

Setidaknya, ada 4 faktor yang melatarbelakangin KKP, yaitu : masalah sosial, ekonomi, biologi, dan lingkungan. ( Arisman, 2004) Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang ditemukan hanya anak tampak kurus. Gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus, kwashiorkor atau marasmik-kwashiorkor. 2. Kekurangan Vitamin A Buta akibat kurang gizi dapat menghinggapi siapa saja. Kondisi yang melatarbelakanginnya, seperti campak, diare, penyakit yang disertai demam, dan KKP, paling sering menyerang pada anak-anak yang kebetulan berkemukim di daerah yang serba kekurangan. Kekurangan vitamin A ialah penyakit sistemik yang merusak sel dan organ tubuh, dan menyebabkan metaplasi keratinisasi pada epitel saluran pernafasan, saluran kemih, dan saluran pencernaan. Perubahan pada ketiga saluran ini relative lebih awal terjadi ketimbang kerusakan yang terdektesi pada mata. (Arisman, 2004) 3.Gangguan Akibat Kurang Yodium Gejala yang khas terbagi menjadi dua bentuk, yaitu : a. jenis saraf, menampakkan gejala seperti defisiensi mental, bisu-tuli (deaf mutism), dan diplegia spastik b. jenis miksedema yang ditandai dengan spesipik hipotiroidisme dan dwarfisme

Universitas Sumatera Utara

Besar pengaruh GAKY belum terjelaskan seluruhnya. Sebagian besar ahli lebih senang menganalogikakan keadaan ini sebagai fenomena gunus es dengan kretin sebagai puncaknya. Kretin hanya menempati bagian seluas 1-10%, gangguan otak 5-30%, sementara hipotiroidisme 30-50%. Ketiga gangguan ini merupakan salah satu kesatuan yang disebut gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). 4. Anemia Defesiensi Zat Besi Anemia gizi disebabkan oleh defisiensi zat besi, asam folat, dan/atau vitamin B12 ; yang kesemuanya terakar pada asupan yang tidak adekuat, ketersediaan hayati rendah (buruk), dan kecacingan yang masih tinggi. Dari ketiga penyebab tersebut, defesiensi vitamin B12 (anemia pernisiosa) merupakan penyebab yang paling jarang terjadi selama kehamilan. (Arisman, 2004). 2.6. Upaya Menanggulangi Masalah Gizi Upaya menanggulangin masalah gizi seimbang, yakni : gizi kurang dan gizi lebih adalah dengan membiasakan mengkonsumsi hidangan sehari-hari dengan susunan zat gizi yang seimbang. Ada 13 pesan dasar gizi yang seimbang, yaitu : 1. Makanlah aneka ragam makanan 2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi 3. Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi 4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi 5. Gunakan garam beryodium 6. Makanlah makanan sumber zat besi

Universitas Sumatera Utara

7. Berikan air susu ibu (ASI) saja pada bayi sampai umur enam bulan 8. Biasakan makan pagi 9. Minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya 10. Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur 11. Hindari minum minuman beralkohol 12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan 13. Bacalah lebel pada makanan yang dikemas Penanggulangan masalah, gizi kurang perlu dilakukan secara terpadu antar departemen dan kelompok profesi melalui upaya-upaya peningkatan pengadaan pangan, penganekaragaman produksi dan konsumsi pangan, peningkatan status sosial ekonomi, pendidikan kesehatan masyarakat, serta peningkatan teknologi hasil pertanian dan teknologi pangan. Hal ini bertujuan untuk memperoleh perbaikkan pola konsumsi pangan ,masyarakat yang beranekaragaman dan seimbang dalam mutu gizi. (Almatsier, 2002) Upaya penanggulangan masalah gizi kurang yang dilakukan pemerintah secara terpadu antara lain : 1. Upaya pemenuhan persedian pangan nasional terutama melalui peningkatan produksi beranekaragam pangan. 2. Peningkatan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) yang diarahkan pada pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga.

Universitas Sumatera Utara

3.

Peningkatan upaya pelayanan gizi tesrpadu dan sistem rujukan dimulai dari pos pelayanan terpadu (posyandu).

4.

Peningkatan upaya keamanan pangan gizi melalui sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG)

5.

Peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi di bidang pangan dan gizi masyarakat.

6.

Peningkatan teknologi pangan untuk mengembangkan berbagai produk pangan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat luas.

7.

Intervensi langsung kepada sasaran melalui pemberian makanan tambahan (PMT), distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi, tablet dan sirup besi serta kapsul minyak yodium.

8. 9.

Peningkatan kesehatan lingkungan. Upaya fortifikasi bahan pangan dengan vitamin A, iodium dan zat besi.

10. Upaya pengawasan makanan dan minuman. 11. Upaya penelitian dan pengembangan pangan dan gizi. (Almatsier, 2002)

Universitas Sumatera Utara