Anda di halaman 1dari 39

PENUNTUN PRAKTIKUM

BIOKIMIA
(UNTUK MAHASISWA KEDOKTERAN UMUM)

BLOK 8

Oleh TEAM BAGIAN BIOKIMIA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2013

Praktikum Karbohidrat
1.Glikolisis

pada Sel Ragi

a.Dasar Dalam sel ragi, glukosa akan diubah menjadi etanol dan CO2. Penambahan inhibitor menyebabkan sedikit glukosa yang diubah menjadi etanol dan CO2. b.Tujuan 1. Mempelajari proses glikolisis di dalam sel ragi dengan mengukur kadar glukosa yang tersisa dan kolom CO2 yang dihasilkan. 2. Mempelajari pengaruh inhibitor terhadap proses glikolisis sel ragi. C.Bahan dan Alat 1. Tabung peragian 2. Suspensi ragi 3. Larutan glukosa 2% 4. Inhibitor proses glikolisis: larutan fluoride dan larutan arsenat 5. Spektrofotometer d.Metode 1. Sediakan 4 tabung reaksi yang bersih dan kering. Tabung 1 :kontrol positif Tabung 2 :kontrol negatif Tabung 3 :pengaruh inhibitor fluorida Tabung 4 :pengaruh inhibitor arsenat 2. Pipetkan ke dalam tiap-tiap tabung larutan sebagai berikut:
Larutan Suspensi ragi Suspensi ragi yang telah dididihkan Larutan fluorida Kontrol (+) 14 mL Kontrol () 14 mL Fluorida (F) 13.5 mL 0.5 mL Arsenat (A) 13.5 mL -

Larutan arsenit Larutan glukosa 2%

2 mL

2 mL

2 mL

0.5 mL 2 mL

3.

Campurkan isi tabung dengan membolak-balikkannya 3-4 kali sehingga lengan tertutup tabung peragian terisi penuh dengan suspense ragi. Biarkan 15 menit dalam suhu kamar.

4.

Setelah 15 menit, lalukan pengukuran pada setiap tabung tersebut: a. Tinggi kolom CO2 yang terbentuk pada lengan tertutup. Tinggi kolom CO2 diukur dengan menggunakan penggaris. b. Kadar glukosa. Kadar glukosa ditetapkan dengan metode Folin-Wu. c. Pipetkan ke dalam tabung Folin-Wu:
Larutan Blangko 2 2 Standar 1 2 2 2 2 2 K(+) 2 2 Uji (duplo) K(-) 2 2 F 2 2 A 2 2

Filtrat bebas protein (mL) Standar glukosa 0.1 mg/dl (mL) Akuades (mL) Pereaksi Cu2O (mL)

Campurkan dengan baik dengan menggoyang-goyangkan tabung. Letakkan dalam penangas air mendidih selama 8 menit. Kemudian dinginkan dalam es selama 3 menit. Asam fosfomolibdat (mL) 2 2 2 2 2 2 2 Campurkan dengan baik. Diamkan selama 3 menit untuk melarutkan Cu2O. Encerkan sampai 25 ml dengan akuades. Baca serapan (A) tiap tabung pada spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm Kadar glukosa ditentukan dengan :

Kadar glukosa = Au Ab x 100 mG/dL As Ab

2.Glikolisis pada Sel Darah Merah


a.Dasar Dalam sel darah merah, glukosa akan diubah menjadi asam laktat. Penambahan inhibitor menyebabkan sedikit glukosa yang diubah menjadi laktat. b.Tujuan 1. Mempelajari proses glikolisis di dalam sel darah merah dengan mengukur kadar glukosa yang tersisa 2. Mempelajari pengaruh inhibitor terhadap proses glikolisis sel darah merah. c.Bahan dan Alat 1. Tabung reaksi 2. Sel darah merah 50% 3. Dapar KRP (Krebs-Ringer Phosphate) pH 7,4 4. Larutan glukosa 0,5 % dalam dapar KRP 5. Inhibitor proses glikolisis: larutan fluoride dan larutan arsenat d.Metode 1. Sediakan 4 tabung reaksi yang bersih dan kering. Tabung1 :kontrol positif Tabung2 :kontrol negatif Tabung3 :pengaruh inhibitor fluorida Tabung4 :pengaruh inhibitor arsenat 2. Pipetkan ke dalam tiap-tiap tabung larutan sebagai berikut:
Larutan Sel darah merah50% Kontrol (+) 0.5 mL Kontrol () 0.5 mL Fluorida (F) 0.5 mL 6.5 mL Dapar KRP pH 7.4 7 mL 7 mL Masukkan penangas l00o C 5 menit 6.5 mL Arsenat (A) 0.5 mL

Larutan fluorida Larutan arsenit Larutan glukosa 0.5%

1 mL

1 mL

0.5 mL 1 mL

0.5 mL 1 mL

3. Keram dalam inkubator/penangas air, 37 C selama tepat 30 menit. 4. Setelah 30 menit lakukan pemeriksaan kadar glukosa pada ke 4 tabung Sebelum melakukan penetapan kadar glukosa yang tersisa pada proses glikolisis dalam sel darah merah, terlebih dahulu dilakukan pemisahan protein dengan metoda Folin -Wu. Cara pembuatan filtrat darah bebas protein dengan metoda Folin Wu Bahan dan pereaksi: 1. Suspensi eritrosit 2. Akuades 3. Larutan natrium tungstat 10% 4. Larutan asam sulfat (H2SO4) 2/3 N Cara Kerja: 1. Pipetkan 7 mL akuades ke dalam labu Erlenmeyer 125 mL yang kering. 2. Tambahkan 1 mL darah, goyang labu dengan perlahan-lahan agar terjadi hemolisis lengkap. 3. Tambahkan 1 mL larutan Na-tungstat 10%, campur dengan menggoyang labu. 4. Tambahkan 1 mL larutan (H2SO4) 2/3 N secara tetes demi tetes sambil terus menggoyang labu. Tidak boleh terbentuk gelembung-gelembung. 5. Tutup labu Erlenmeyer, goyangkan labu dan diamkan 10 menit. Campuran akan berwarna coklat. 6. Saring melalui kertas saring yang kering dan filtrat jernih yang keluar ditampung untuk pemeriksaan kadar glukosa. 7. Lakukan penetapan kadar glukosa dengan metoda Folin-Wu

Pengukuran kadar glukosa: Bahan dan pereaksi: 1. Filtrat bebas protein. 2. Larutan tembaga alkalis mengandung natrium karbonat, tembaga sulfat dan asam tartrat. 3. Pereaksi asam fosfomolibdat mengandung asam molibdat dan natrium tungstat. 4. Larutan standar glukosa 0.1 mg/mL.

Cara Kerja: Pipetkan ke dalam tabung Folin-Wu:


Larutan Filtrat bebas protein (mL) Standar glukosa (mL) Akuades (mL) Pereaksi Cu2O (mL) Blanko 2 2 Standar glukosa 0.1 mg/dl 1 2 2 2 2 2 K(+) 2 2 Uji (duplo) K(-) 2 2 F 2 2 A 2 2

Campurkan dengan baik dengan menggoyang-goyangkan tabung. Letakkan dalam penangas airmendidih selama 8 menit. Kemudian dinginkan dalam es selama 3 menit. Asam fosfomolibdat (mL) 2 2 2 2 2 2 2 Campurkan dengan baik. Diamkan selama 3 menit untuk melarutkan Cu2O. Encerkan sampai 25 ml dengan akuades. Baca serapan (A) tiap tabung pada spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm Kadar glukosa ditentukan dengan : Kadar glukosa = Au Ab x 100 mG/dL As Ab

PRAKTIKUM URIN
PENGANTAR

Pemeriksaan urine tidak hanya memberikan gambaran tentang ada tidaknya penyakit-penyakit ginjal dan saluran-saluran pembuangannya, namun pada fungsi ginjal yang baikpun dapat juga diperoleh data penting mengenai penyakit-penyakit yang terdapat ditempat-tempat lain dalam tubuh. Karena dari setiap pasien untuk pemeriksaan kimiawi selalu dapat diperoleh jumlah urine yang cukup banyak. Pemeriksaan urine seharusnya diutamakan daripada pemeriksaan kimiawi darah, yang selalu hanya tersedia jumlah sample yang sedikit. Pemeriksaan darah boleh dikata sebagai pemeriksaan sewaktu, sedang pemeriksaan urine merupakan pencatatan sinambung. Suatu nilai fisiologis dalam darah kadang-kadang tepat tidak dapat, sedang hal ini dapat ditemukan pada pemeriksaan urine. Namun untuk penafsiran yang benar diperlukan diperlukan ichtisar yang baik mengenai fisiologi ginjal. GINJAL SEBAGAI ALAT EKSKRESI Hasil-hasil pemecahan pada metabolisme, terbanyak dikeluarkan dari tubuh lewat ginjal bersama urine. Ini terutama berlaku untuk akhir metabolisme protein yang mengan dung nitrogen. Pada keadaan sakit, sebagian metabolisme terganggu ginjal mengeluarkan hasil-hasil pemecahan metabolisme yang terganggu tersebut, dan asalkan fungsi ginjal cukup baik, maka sering ditarik kesimpulan penting dari pemeriksaan urine. Juga banyak racun-racun dan obatobat dikeluarkan lewat urine, baik dalam keadaan tak di ubah atau hasil pemecahannya. Fungsi ginjal kedua yang amat penting untuk tubuh adalah mempertahankan cairan ekstrasel sedapat mungkin konstan (homeostasis). Pengaturan oleh ginjal dilakukan pengeluaran urine yang atau asam atau alkalis, tergantung kebutuhan sewaktu, dan dengan demikian kesetimbangan asam-basa darah dapat dipertahankan (pengaturan pH). Bila dalam darah kadar keseluruhan mineral terlalu tinggi atau terlalu rendah maka oleh ginjal air akan ditahan atau dikeluarkan sehingga kadar mineral dalam darah kembali normal . Ini disebut osmoregulasi, karena kadar mineral dalam darah terutama menentukan tekanan osmotis filtrat bebas protein darah dalam ruang interstisial. Dengan naiknya tekanan osmosa darah, hipofisis pers posterior mengeluarkan lebih banyak pituirin, yang mengerem pengeluaran air. Pada penurunan tekanan osmosa, misalnya setelah minum air banyak , pituirin lebih sedikit dikeluarkan dan terjadilah diuresis air. Bila sistet pembuluh darah kurang terisi, misalnya ada kegagalan kemuka (forward failure), ginjal menahan air dan NaCl, sehingga volume darah

diperbesar. Pada waktu peredaran darah telah baik kembali, ginjal melepas kembali air dan NaCl yang ditahan. Kejadian ini tidak hanya dijumpai pada kekurangan pengisian yang mutlak, namun juga pada kekurangan pengisian relatif. Yaitu bila pengisian system pembuluh darah yang membesar tidak mencukupi untuk keperluan peredaran darah yang meningkat. Ini disebut pengaturan volume. Juga dibawah pengaruh hormon suprarenalis, air dan NaCl ditahan. Pengeluaran bahan-bahan kebanyakan boleh dikata tidak tergantung dari diuresis contoh : seseorang mengeluarkan setiap jam 25 ml urine dengan kadar protein 10%. Sesudah minum air terjadilah diuresis air dan urin jernih banyak dikeluarkan dengan berat jenis rendah, dalam urin ini kadar protein akan turun sampai 0,5%, karena pengeluaran protein per jam tetap misalnya dalam contoh ini gram. Untuk memperoleh ihtisar yang baik mengenai banyaknya pengeluaran bahan lewat urin, perlu diketahui lewat peiode waktu ginjal membentuk urin yang diperiksa. Karena umumnya periode waktu tersebut tidak diketahui, maka dapatlah dipedomani berat jenis urin. Reaksi urobilin positif lemah pada berat jenis urin 1,030 menunjukkan pengeluaran urobilin sedikit dan dipandang normal. Namun pada berat jenis 1,003 hal ini menunjukkan pengeluaran urobilin yang banyak dan menunjukkan kelainan hati atau saluran empedu atau pemecahan darah yang meningkat. Pengeluaran hasil-hasil pemecahan rupanya sepanjang hari konstan. Hal ini berlaku untuk kreatinin, sepanjang kadarnya dalam darah konstan, yang boleh dikata konstan hanyalah kreatinin, lain bahan seperti glukosa, protein, kalsium dan fosfor menunjukkan irama pada siang hari, pada malam hari pengeluaran bahan-bahan tersebut lebih sedikit dari pada siang hari, rupanya dalah fungsi tubulus. Oleh karena ini kita dapat tidur nyenyak, tetapi tidak pada semua orang dewasa irama tersebut nyata, dan pada gangguan peredaran, pada perubahan sikap berdiri ke sikap tidur, irama ini udah kacau. Ginjal yang melaksanakan fungsi-fungsi tersebut terdapa dibagian belakan dinding perut daerah pinggang. Terdapat dua buah ginjal yang berbentuk bagai buah kacang dengan berat kurang lebih 300 gram, dengan pembuluh-pembuluh darah besar. Kurang lebih 25% darah yang dipompa jantung melewati ginjal, jadi kurang lebih 1,2 liter per menit. Pada masing-masing ginjal terdadat berjutajuta nefron, disini darah disaring dengan tekanan tinggi dalam glomerulus, setiap hari kurang lebih 175 liter cairan disaring melewati glomerulus dan filtratnya masuk ke tubulus. Tubulus adalah pembuluh-pembuluh berkelok-kelok yang bermuara pada piala ginjal. Dalam tubuli terjadi absorbsi kembali secara aktif semua bahan dari filtrat glomerulus mempunyai komposisi sama dengan cairan intertisial, yaitu tanpa protein plasma, namun ada ion koloid sepanjang bahan ini tidak terikat protein plasma. Misalkan kadar gula darah 100 mg% dan kadar rata-rata ureum darah 300 mg/liter, pada penyaringan 175 liter cairan, maka lewat glomeruli akan disaring
8

175 gram glukosa dan 52,5 gram ureum. Bila setiap hari dikeluarkan rata-rata 1,5 liter urin tanpa glukosa dengan 20 gram ureum, maka dari tubuli diserap kembali atau berpindah secara difusi 175 gram glukosa dan 32,5 gram ureum. PENGUMPULAN SAMPEL URIN Hasil-hasil pemeriksaan urin hanya mempunyai arti bila didasari pada periode waktu kapan urin dibentuk. Pada umumnya jumlah urin yang dibentuk dalam waktu tertentu tidak diketahui. Untuk mempunyai gambaran mengenai jumlah tersebut maka dapat diambil sebagai pedoman berat jenis urin itu. Sebaiknya diperiksa urin yang dibentuk malam hari, karena oleh adanya irama siang hari, urin malam hari mempunyai berat jenis tertinggi. Dalam urin tersebut terdapat kadar tertinggi kadar metabolit-metabolit sbb : 1. Untuk pemeriksaan rutin urin, Bila mungkin digunakan urin pagi, keuntungannya ialah a. Tidak ada kekeruhan yang mengganggu karena perubahan kimiawi oleh pertumbuhan bakteri b. Tidak ada oksidasi sehingga beberapa bahan lebih mudah dan lebih cepat ditentukan misalnya urobilinogen c. Kadar spontan maksimal, sehingga penetapan berat jenis mempunyai makna untuk menilai fungsi ginjal d. Tidak ada pengaruh goyangan siang hari, misalnya kadar urobilinogen urin sore sering meningkat 2. Dalam kasus khusus seyogyanya diambil urin siang hari, Hal ini dilakukan pada keadaan-keadaan berikut : a. Albuminoria ortostasis Harus dibandingkan kadar protein pagi yang dibentuk sebelum seseorang bangun dengan urin sesudah seseorang bangun b. Pada pemeriksaan pembebanan, urin harus dikumpulkan pada waktu-waktu Tertentu yang ditetapkan secara teliti. c. Pada pengaturan diet penderita diabetes, urin harus dikumpulkan dalam 3 4 porsi selama 24 jam 3. Untuk semua penetapan kuantitatif hanya urin yang dikumpulkan dalam 24 jam Yang digunakan, dan sampel diambil dari kumpulan ini. Hanya untuk metabolit-metabolit yang oleh ginjal di ekskresi dalam jumlah yang boleh dikatakan tetap selama 24 jam dapat diambil sebagai sample. Contoh urin dalam waktu yang pendek

CARA MENGAMBIL URIN Untuk pemeriksaan rutin laki-laki, urin dapat diambil dengan jalan biasa , yaitu orang tersebut disuruh kencing, sebaiknya porsi urin mula-mula dibuang, dan porsi selanjutnya ditampung. Untuk wanita juga berlaku hal yang sama, porsi urin yang dikeluarkan awal dibuang dan baru porsi akhir ditampung. Semua ini dmaksudkan untuk menghindarkan pencemaran yang berasal dari saluran kencing sendiri , pengambila urin dengan kateter hanya dilakukan bila ada indikasi karena resiko infeksi saluran kencing yang besar pada kateterisasi PENYIMPANAN URIN Pada suhu urin merupakan medium biakan yang bagus bagi bakteri. Setiap contoh urin sering mengandung beberapa bakteri dari vagina, preputium, maupun mulut uretra. Sesudah beberapa jam, komposisi urin berubah karena pertumbuhan bakteri, kecuali bila urin langsung sesudah dikeluarkan disimpan dalam lemari es. Juga dapat ditambah pengawet untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Sebagai bahan pengawet dapat digunakan : 1. Asam badan jenuh 1 ml dalam 10 ml urin 2. Toluol : 1 ml per liter urin 3. Timol : 100mg per liter urin 4. Raksa oksida : 100 mg per liter urin Untuk penetapan ureum dengan metode urease, penetapan diastase, uji ragi, penetapan alcohol tidak boleh ditambah pengawet. Urin 24 jam untuk penetapan urobilinogen dapat disimpan dengan 5 ml 1 N NaOH dibawah petroleum eter dalam gelap . Bila diambil contoh dari kumpulan urin 24 jam , maka urin harus selalu langsung dicampur dan di aduk baik-baik sebelumnya. Untuk pemeriksaan kimiawi kuantitatif urin dapat disimpan dengan dibekukan pada 10 -20o C dalam botol penisilin . Macam percobaan :

1. Penentuan berat jenis urin


Dasar: Jumlah zat padat total dalam urin ditentukan oleh volume dan berat jenisnya Bahan dan alat : 1. Urin normal 24 jam 2. Gelas ukur 3. Pipet tetes 4. Urinometer/urometer 5. Termometer 6. Botol timbang

10

Cara kerja : Cara A. 1. Tetapkan vulume (ml) urin memakai gelas ukur (pengawet toluene yang ada dipermukaan disisihkan dengan memakai pipet tetes) 2. Catatlah suhu tera urinometer dan tetapkan suhu urin 3. Isi gelas ukur dengan urin 25 50 ml , masukkan urinometer, letakkan sedemikian rupa urinometer sehingga tidak menyentuh dinding gelas ukur dan catatlah berat jenis urin pada permukaan urin pada urinometer 4. Apabila suhu urin tidak sama dengan suhu tera , tambahkan 0,001 untuk setiap 3 derajat dibawah suhu tera. 5. Simpanlah urin kembali dengan memakai pengawet toluene. Cara B. 1. Mula-mula pipet 1 5 ml air suling dalam botol timbang dan timbang beratnya. 2. Pipet dengan pipet yang sama 1 5 ml urin dan masukkan botol timbang dan timbang beratnya. 3. Berat urin dibagi berat air suling yang sama, adalah berat jenis urin. Cara menera urinometer 1. Dimasukkan urinometer pada air suhu 150 derajat Celsius BJ = 1,000 2. Dimasukkan pada larutan sukrosa 1,28% maka BJ = 1, 005 3. Dimasukkan pada larutan sukrosa 2,56% maka BJ = 1, 010 4. Dimasukkan pada larutan sukrosa 5,70% maka BJ = 1, 020 5. Dimasukkan pada larutan sukros 7,54% maka BJ = 1,030

2. Uji Derajat Keasaman ( pH )


Untuk mengukur derajat keasaman urin dapat digunakan kertas lakmus yang mempunyai daerah perubahan warna antara pH 5,4 sampai pH 7,8. Disini digunakan urin segar sebab bila disimpan pH dapat naik. Pengukuran derajat keasaman biasanya cukup dengan cara diatas sebab derajat keasaman urin tergantung faktorfaktor yang kerang penting seperti pangan yang dikonsumsi. Pengukuran derajat keasaman menjadi penting pada keadaan berikut ini : 1. Batu ginjal, pemeriksaan pH urin berulang ulang penting untuk mendapatkan ihtisar mengenai difat batu , dan dengan demikian dpat diatur diet yang dianjurkan pada pasien 2. Pada pengobatan infeksi saluran kencing, dengan diet berganti pH 3. Pada keadaan asidosis berat, pH dikendalikan setelah pemberian bikarbonat 4. Pada pengobatan seri obat sulfa, harus diberikan bikarbonat banyak, bila urin asam harus diberikan bikarbonat lebih banyak. Metode pengukuran pH lain yang lebih teliti diantaranya dengan Kolorimetris, potensiometris dan titrasi.

11

3.

Uji Obermeyer

Tujuan : Memeriksa adanya indikan dalam urin Dasar : Gugus indoksil dioksidasi oleh pereaksi Obermeyer yang mengandung FeCl3 dala HCl pekat membentuk warna biru indigo yang larut dalam kloroform. Bahan dan pereaksi : 1. Urin normal 24 jam 2. Tabung reaksi 3. Pereaksi Obermeyer 4. Kloroform

Cara kerja 1. Masukkan dalam tabung reaksi 8 ml urin 2. Tambahkan 8 ml pereaksi Obermeyer, diamkan beberapa menit 3. Tambahkan 3 ml kloroform, campur dengan membalik-balik tabung 10 X (jangan dikocok)dapat terjadi emulsi. Kloroform akan mengekstraksi biru indigo

4. Uji gula mereduksi secara Benedict


Tujuan : Menetapkan kadar gula urin secara semikuantitatif Dasar : Gula mereduksi yaitu gula yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas, senyawa ini akan merduksi ion kupri menjadi kuprooksida yang tidak larut dan berwarna merah. Banyaknya endapan merah yang terbentuk sesuai dengan kadar gula yang terdapat dalam urin. Bahan dan alat : 1. Urin normal 24 jam dan urin yang mengandung glukosa 2. Larutan Benedict 3. Pipet Mohr 10 ml 4. Pipet tetes 5. Alat pemanas air/tangas air 6. Pengatur waktu Cara kerja : 1. Campurlah dalam tabung reaksi 2,5 ml larutan Benedict dan 4 tetes urin 2. Panaskan dalam tangas air mendidih selama 5 menit atau panaskan langsung hingga mendidih selama 2 menit 3. Dinginkan perlahan-lahan 4. Perhatikan endapan yang terbentuk 5. Simpulkan sesuai table berikut

12

Warna keruh Hijau/hijau kekuningan Kuning kehijauan/kuning Jingga Merah

Penilaian

Konsentrasi gula

Biru/hijau

+1 +2 +3 +4

kurang dari 0,5% 0,5 1,0 % 1,0 2,0 % lebih dari 2,0 %

5. Uji Protein Urin menurut Heller


Dasar : Protein dalam urin mengalami denaturasi oleh asam nitrat yang tampak sebagai cincin putih pada perbatasan kedua cairan Tujuan : Memeriksa adanya protein dalam urin Bahan dan alat : 1. Urin normal 24 jam dan urin patologis 2. Asam nitrat pekat masukkan dalam buret 3. Tabung reaksi 4. Pipet Mohr 10 ml Cara kerja : 1. Alirkan dari buret 3 ml asam nitrat pekat perlahan-lahan kedalam tabung reaksi 2. Dengan memakai pipet Mohr, pelan-pelan tambahkan 3 ml urin normal atau patologis melalui dinding tabung sehingga kedua cairan tidak bercampur 3. Perhatikan cincin putih yang terjadi antara dua lapisan ( hasil diparaf dosen /pengawas praktikum ) Catatan : Urea asam urat dan garamnya dapat menghasilkan cincin putih, tetapi hal ini dapat dibedakan dengan memakai urin yang telah diencerkan 3 4 X sehingga pengaruh ini dapat dihilangkan.

13

PRAKTIKUM DARAH KUALITATIF


TEORI : Darah merupakan jaringan tubuh yang berbentuk cair, yang beredar dalam system pembuluh darah. Jumlah darah didalam tubuh kira-kira 5 7 % dari berat badan atau pada orang dewasa kira-kira 4,5 5 liter. Darah terdiri dari berbagai sel seperti eritrosit atau sel darah merah (SDM) , sel darah putih (lekosit) dan trombosit. Eritrosit adalah sel yang terbanyak didalam darah, jumlahnya mencapai 5 juta butir/ ml , trombosit jumlahnya 250.000 400.000 butir/ml dan lekosit 5.000 10.000 /ml . Fungsi ketiga macam sel ini berbeda. Sel darah merah berfungsi mengikat dan membawa oksigen dari paru paru ke seluruh tubuh, serta membawa dan melepaskan CO2 dari seluruh tubuh ke paru. Untuk itu SDM dilengkapi dengan molekul khusus yang melaksanakan fungsi tersebut dan sekaligus memberi warna merah pada darah, yaitu hemoglobin (HB). Hemoglobin adalah suatu protein dengan berat molekul 64.450 didalam hemoglobin terdapat atom besi dalam keadaan tereduksi ( Fe2+) . Dengan bantuan Fe2+ ini hemoglobin dpat mengikat oksigen. Hemoglobin yang mengikat oksigen disebut hemoglobin teroksidasi atau oksihemoglobin (HBO2 ) , sedang hemoglobin yang sudah melepas oksigen disebut hemoglobin tereduksi atau deoksihemoglobin (deoksiHb ) Peristiwa tersebut dapat dituliskan dengan reaksi sbb : paru < ============= jaringan

Hb

O2

HbO2

Atom besi dalam hemoglobin dapat ter oksidasi bila muatan positif atom besi menjadi 3 + (Fe3+ ) Hemoglobin dengan besi teroksidasi ( Fe3+) disebut hemoglobin ter oksidasi atau methemoglobin (metHb) atau Hb(Fe3+) . Dalam keadaan ini hemoglobin tidak dapat lagi mengikat oksigen. Hemoglobin yang ter oksidasi menjadi methemoglobin akan kehilangan fungsinya. Perubahan Hb menjadi metHb dapat terjadi karena adanya senyawa peng oksidasi . Bila ini terjadi dalam tubuh maka dapat timbul akibat yang fatal, misalnya karena pemberian obat-obatan tertentu terutama pada orang yang berbakat untuk keadaan tersebut . Selain itu hemoglobin juga dapat berikatan dengan suatu gas hasil pembakaran tidak sempurna dari dari suatu bahan bakar yaitu CO (karbon monoksida ) sehingga terbentuk HbCO . Ikatan hemoglobin dan CO ini 200 kali lebih kuat dari pada ikatan Hb dengan O 2 akibatnya hemoglobin tidak dapat lagi mengikat membawa dan mendistribusikan O2. Hemoglobin juga mempunyai sifat seperti enzim peroksidase, ini berarti hemoglobin dapat mengkatalisis reduksi H2O2 bila ada suatu reduktor. Berbeda dengan enzim pada hemoglobin sifat ini tidak hilang setelah pemanasan. Sifat ini dapat digunakan untuk melacak adanya darah dalam suatu bahan uji. Sifat seperti peroksidase ini disebabkan oleh adanya gugus hem dalam hemoglobin. Sel darah merah seperti sel lainnya akan mengkerut dalam larutan dengan tekanan osmotic yang lebih tinggi (hipertonik) dari tekanan osmotic plasma. Dalam larutan dengan tekanan osmotic lebih rendah (hipotonik) maka SDM akan membengkak karena cairan dari luar sel akan masuk kedalam sel dan kemudian

14

terjadi lisis membran (hemolisis) . Hemoglobin dari SDM yang mengalami lisis larut dlam plasma sehingga memberi wrna merah pada plasma. SDM normal akan mulai mengalami lisis bila dimasukkan dalam NaCl 0,48% dan pada larutan NaCl 0,33 % terjadi lisis sempurna. SDM juga dapat mengalami lisis oleh obat-obatan . Struktur membran SDM mengandung lipid be layer , bila SDM dimasukkan dalam pelarut organic misalnya : eter, toluene, maka membran SDM akan mengalami lisis karena larutnya lipid membran sehingga hemoglobin terlepas kedalam pelarutnya. Hemoglobin dan derivat-derivatnya dapat dibedakan dengan menggunakan spektroskop, yaitu berdasarkan perbedaan absorpsi warna-warna tertentu dari cahaya putih. Bila suatu larutan berwarna diletakkan antara alat tersebut dan sumber cahaya, akan terlihat daerah (pita) hitam pada spectrum dimana terjadi penyerapan warna tersebut Oksihemoglobin yang encer menunjukkan 3 pita absorpsi yaitu pita sempit absorpsi cahaya pada panjang gelombang 578 nm , pita yang lebih lebar pada 542 nm dan yang ketiga pada panjang gelombang 425 nm. Hemoglobin tereduksi (deoksihemoglobin) sebaliknya hanya menunjukkan satu pita absorbsi lebar pada 559 nm. Bila pada darah ditambahkan zat peng oksidasi akan terbentuk methemoblobin , dalam larutan asam, methemoglobin mempunyai satu pita absorpsi dengan pusat pada panjang gelombang 634 nm . Hemoglobin karbon monoksida menunjukkan dua pita absorpsi yang pertama pada 570 nm yang kedua pada 542 nm. Tujuan praktikum : 1. Memperlihatkan sifat peroksidase Hb 2. Memperlihatkan Hb dapat mengikat dan melepas O2 3. Memperlihatkan Hb yang mengikat CO secara kuat tidak dapat mengikat O2 4. Memperlihatkan besi dalam Hb bila di oksidasi akan menjadi methemoglobin dan tidak dapat mengikat oksigen lagi. 5. Memperlihatkan pengaruh larutan hiper/hipo tonik terhadap membran sel darah merah 6. Memperlihatkan pengaruh pelarut organic terhadap fragilitas sel darah merah. 7. Memperlihatkan bahwa Hb dan derivatnya dapat menyerap sebagian gelombang cahaya putih yang melewatinya.

1.Uji Sel Darah merah terhadap Oksihemoglobin & deoksihemoglobin


Tujuan : Membuktikan bahwa hemoglobin dapat mengikat oksigen menjadi HbO 2 dan senyawa ini dapat terurai kembali deoksi Hb dan O2 Dasar : Dalam keadaan tereduksi Fe dalam Hb dapat mengikat dan melepaskan O 2 Dalam lingkungan udara biasa, Hb segera mengikat O2 menjadi Hb O2 didalam tabung reaksi HbO2 akan melepas O2 pada penambahan pereaksi Stokes (pereduksi) Bahan dan pereaksi : 1. Suspensi darah 2. Pereaksi Stokes 3. Larutan Amonium Hidroksida (NH4OH)
15

Cara kerja : A. Oksihemoglobin


1. Kedalam tabung reaksi masukkan 2 ml darah dan 6 ml air suling, campur dengan baik , perhatikan dan catat terbentuknya HbO 2 yang berwarna merah , kareana bereaksi dengan oksigen 2. Bagilah menjadi 2 tabung masing-masing 4 ml, tabung yang satu digunakan sebagai kontrol.

B. Pembentukan deoksihemoglobin
1. Pipetkan kedalam tabung reaksi 2 ml pereaksi Stokes dan tambahkan NH4OH secukupnya untuk melarutkan endapan yang terbentuk 2. Pada salah satu tabung yang berisi HbO2 dari percobaan A teteskan beberapa tetesperekasi Stokes dari percobaan (B 1.) perhatikan dan catat warna deoksi Hb yang terbentuk dan bandingkan dengan warna HbO 2 dalam tabung yang satu lagi pada percobaan (A. 2.) (tabung kontrol).

C. Pembentukan kembali HbO2 dari deoksi Hb


1. Kocok kuat-kuat tabung yang berisi deoksi Hb tersebut (hasil percobaan B.2.) Perhatikan dan catat warna HbO2 yang kembali terbentuk. O2 yang di ikat oleh Hb berasal dari udara . De oksigenasi dan re oksigenasi dapat dilakukan berulang-ulang.

2.Uji karbonmonoksida hemoglobin ( HbCO)


Tujuan percobaan : Bahwa gas CO, suatu gas hasil pembakaran tidak sempurna dan sangat berbahaya. Gas ini akan mengikat Hb menjadi HbCO . Warna dari HbCO lebih terang dari HBO 2 sedangkan ikatannya 200 X lebih kuat dan sukar dilepas kembali. Dasar percobaan : HbO2 direaksikan dengan gas CO menghasilkan HbCO yang berwarna merah terang dan CO tidak dapat dilepas dari Hb dengan pereaksi Stokes. HbO2 HbCO + CO <---------------- HbCO + O2

+ Stokes <----------//--- tetap warna merah terang Td bereaksi

16

Bahan dan pereaksi : 1. 2. 3. 4. Suspensi darah Sumber gas CO Pereaksi Stokes Larutan NH4OH

Cara Kerja : 1. Campurkan 2 ml darah dengan 6 ml air suling bagi campuran ini dalam 2 tabung reaksi 2. Ke dalam tabung pertama di alirkan gas CO selama beberapa menit perhatikan dan catat warna yang terjadi pada tabung satu dan dua 3. Ke dalam masing-masing tabung tambahkan 1 ml perekasi Stokes (yang sudah diberi NH4OH (percobaan 1-B1 ) Perhatikan bandingkan perubahan warna yang terjadi.

3.Uji Pembentukan Methemoglobin


Tujuan Percobaan : Bila besi di dalam hemoglobin yang berbentuk ferro (Fe 2+) di oksidasi menjadi ferri (Fe3+) warna hemoglobin berubah menjadi gelap dan tidak mampu lagi mengikat oksigen. Dasar Percobaan : Oksidasi ferro dalam hemoglobin oleh suatu oksidator kalium ferrisianida K 3Fe(CN)6 sehingga terbentuk HbFe3+ atau disebut metHb, seperti reaksi berikut : Hb(Fe2+) Hb(Fe3+) + + 4 K3Fe(CN)6 O2 -------------- > Hb(Fe3+) + 3 K4Fe(CN)6 ------// --- tidak ada reaksi

Bahan dan pereaksi : 1. Suspensi darah 2. Larutan K3Fe(CN)6 10% dibuat baru 3. Pereaksi Stokes 4. NH4OH Cara Percobaan : 1. Campur 1 ml darah dengan 9 ml air suling dalam tabung reaksi, bagi isi tabung menjadi 2 bagian, masing-masing 5 ml 2. Ke dalam tabung yang pertama , tambahkan beberapa tetes larutan K3Fe(CN)6 perhatikan dan catat perubahan warna yang terjadi. 3. Kocok tabung kuat-kuat perhatikan dan catat perubahan warna 4. Tambahkan beberapa tetes pereaksi Stokes yang telah diberi NH 4OH (percobaan 1- B 1). Perhatikan apakah ada perubahan warna , kocok kuatkuat apakah ada perubahan warna.

17

5. Tabung ke dua di rendam dalam air hangat ( 40o C) tambahkan ke dalam tabung beberapa tetes K3Fe(CN)6 perhatikan perubahan warna dan gelembung yang terbentuk.

4.Hemolisis sel darah merah


Tujuan percobaan : Memperlihatkan bahwa membran sel darah merah dapat mengalami lisis dalam pelarut organic Dasar Percobaan : Membran sel darah merah (SDM) antara lain mengandung lipid. Bila SDM dimasukkan ke dalam larutan yang mengandung pelarut organic, maka membran lipid akan larut, sehingga terjadi hemolisis. Bahan dan Pereaksi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Suspensi darah NaCl 0,9% Kloroform Eter Aseton Toluen Alkohol

Cara Percobaan : 1. Kedalam 6 tabung reaksi masing-masing dimasukkan 10 ml NaCl 0,9% 2. Tabung pertama digunakan sebagai kontrol, dan pada ke 5 tabung lainnya tambahkan masing-masing 2 tetes ; kloroform ; eter ; aseton ; toluene dan alcohol secara ber urutan. 3. Tambahkan ke dalam tiap tabung 2 tetes suspensi darah , campur dengan membaliknya perlahan lahan, biarkan setengah jam (jangan di kocok ). Perhatikan warna yang terbentuk pada larutan bagian atas dan bandingkan dengan kontrol.

5.Pengaruh pelarut kimia terhadap membran sel darah merah


Tujuan Percobaan : Memperlihatkan pengaruh larutan hiper/hipotonik terhadap membran sel darah merah Dasar Percobaan : SDM akan mengkerut bila berada dalam larutan hipertonik terhadap tekanan osmotic plasma. Dalam larutan yang hipotonik, cairan dari luar sel akan masuk ke dalam sel

18

sehingga SDM akan membengkak , dan akhirnya terjadi hemolisis. Hemoglobin dalam SDM akan larut dalam larutan, sehingga memberi warna merah jernih pada larutan. Bahan dan Pereaksi : 1. Suspensi darah 2. NaCl 2% Cara Percobaan : 1. Kedalam 10 tabung reaksi isikan campuran sebagai berikut : Nomor tabung 1 2. 3. 4 5 6. 7 8 9 10 Air suling (ml) 10 9 8 7,5 7 6,5 6 5,5 5 4,5 NaCl 2% (ml) 0 1 2 2,5 3 3,5 4 4,5 5 5,5 % NaCl 0 ... ... ... ....

2. Campur dengan baik 3. Tambahkan 2 tetes suspensi darah ke dalam setiap tabung dan campur dengan membalikanya perlahan-lahan, diamkan selama 1 jam. 4. Perhatikan dan catat derajat hemolisis apad tiap-tiap tabung reaksi ??? Pertanyaan : 1. Peristiwa faal apa yang ditiru pada percobaan Uji oksiHB dan deoksiHb 2. Apa yang terjadi bila orang keracunan gas CO 3. Suspensi darah ditambah beberapa tetes K3Fe(CN)6 di kocok kuat dan berdasarkan warna yang terbentuk apakah HbO 2 dapat terbentuk kembali? Jelaskan 4. Apakah yang dimaksud hemolisis 5. Berapakah retensi osmotic minimum SDM?? Catatan : Pereaksi Stokes : cara buat, larutkan 20 g FeSO4 (ferro sulfat) dan 30 g asam tartrat dalam air encerkan sampai 1000 ml. Bila hendak dipakai, ambil 5 ml dan tambahkan ammonium hidroksida sampai endapan yang terbentuk larut kembali.

19

PRAKTIKUM DARAH KUANTITATIF


PENDAHULUAN : Analisa kuantitatif darah berguna untuk mengtahui fungsi tubuh pada keadaan sehat dan atau pada keadaan sakit, karena berbagai komposisi cairan tubuh termasuk darah akan mengalami perubahan. Faktor yang mempengaruhi komposisi kimia darah pada suatu penyakit secara umum dibagi menjadi fisik dan metabolic. Faktor fisik antara lain retensi, dapat terjadi akibat perubahan atau kerusakan membran permeable seperti paru-paru, ginjal atau hati contohnya akumulasi nitrogen akibat nefritis dan obstruksi saluran empedu oleh batu empedu akan mengakibatkan hiperkolesterolemia. Pada gangguan metabolisme terjadi juga perubahan kimia darah, misalnya peningkatan glukosa darah akibat diabetesmelitus.Dapat dikatakan bahwa pemeriksaan kimia darah dilakukan bila ada bila ada persangkaan gangguan pada proses pembentukan, pemanfaatan dan eliminasi , faktor fisik dan metabolic kadang-kadang tidak dapat dipisahkan, seperti terlihat pada penyakit ginjal. Pada analisis kuantitatif darah, protein dapat dapat mengganggu terutama pada analisis senyawa yang mengandung nitrogen amin atau amida serta reaksi yang melibatkan reduksi atau oksidasi ion metal. Sebelum analisis dilakukan, protein darah harus dipisahkan terlebih dahulu dengan pengendapan. Pengendapan protein antara lain dengan asam tungstat, seng hidroksida dan asam triklor asetat, tergantung keperluannya.

1. Pembuatan filtrat darah bebas protein A. Metode Folin Wu Dasar : Protein akan mengendap pada penambahan asam tungstat, filtrat ini dipakai untuk berbagai pemeriksaan seperti kadar glukosa darah, urea, kreatinin, asam amino dan klorida. Bahan dan pereaksi : 1. 2. 3. 4. Cara : 1. Pipetkan 7 ml akuadest kedalam labu Erlenmeyer 125 ml yang kering 2. Tambahkan 1 ml darah , goyang labu dengan perlahan agar terjadi hemolisis lengkap. 3. Tambahkan 1 ml larutan Na tungstat 10% campur dengan menggoyang labu Darah Akuadest Larutan Natrium tungstat 10% Larutan asam sulfat 2/3 N

20

4. Tambahkan 1 ml larutan asam sulfat 2/3N secara tetes demi tetes sambil terus menggoyang labu , tidak boleh terbentuk gelembung-gelembung. 5. Tutup labu Erlenmeyer dan goyangkan labu dan kemudian diamkan labu selama 10 menit campuran akan berwarna coklat. 6. Saring melalui kertas saring yang kering dan filtrat jernih yang keluar di tampung 7. Uji filtrat dengan Uji biuret.

B. Metode Somogyi
Dasar : Protein darah akan mengendap pada penambahan seng hidroksida, filtrat ini khusus untuk uji kadar glukosa dan urea Bahan dan pereaksi : 1. 2. 3. 4. Cara : 1. Pipetkan 15 ml akuadest ke dalam labu Erlenmeyer yang kering 125 ml 2. Tambahkan 1 ml darah , goyang agar terjadi hemolisis lengkap 3. Tambahkan 2 ml Tambahkan 2 ml larutan Ba-hidroksida 0,3 N, campur dengan baik 4. Tambahkan 2 ml larutan seng sulfat 5% campur dengan baik, tidak boleh terbentuk gelembung-gelembung . 5. Saring melalui kertas saring yang kering dan filtrat jernih yang keluar ditampung 6. Uji filtrat dengan biuret. Darah Akuadest Larutan barium hidroksida 0,3 N Larutan seng sulfat 5%

C. Metode asam triklorasetat (TCA)

Dasar : Protein darah akan mengendap pada penambahan larutan TCA. Bahan dan pereaksi : 1. Darah 2. Asam triklorasetat (TCA) 5% 3. Labu Erlenmeyer 125 ml Cara :

21

1. Pipetkan 10 ml TCA 5% dalamerlenmeyer 125 ml 2. Tambahkan 0,5 ml darah atau serum , campur baik-baik dengan cara menggoyang(jangan di kocok) 3. Saring melalui kertas saring yang kering dan filtrat yang keluar di tampung dalam tabung reaksi 4. Uji filtrat dengan biuret.

2. Penetapan gula darah A. Metode Folin - Wu


Dasar Percobaan : Filtrat darah bebas protein dipanaskan dalam larutan tembaga alkalis akan menghasilkan kupro oksida (Cu2O). Kemudian Cu2O direaksikan dengan asam fosfomolibdate yang akan menghasilkan warna biru yang dapat dibaca pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 420 nm. Nilai serapan yang diperoleh dibandingkan dengan standar. Bahan dan pereaksi : 1. Filtrat darah Folin Wu 2. Larutan tembaga alkalis mengandung natrium karbonat, tembaga sulfat, dan asam tartrat 3. Pereaksi fosfomolibdate mengandung asam molibdate dan natrium tungstat 4. Larutan standar glukosa 0,1 mg/ml Cara : ========================================================= Penambahan (ml) Tabung Folin Wu 1 2 3 4 5 (blangko) ---------------------------------------------------------------------------------------------------Filtrat darah ---2,0 2,0 Standar Glukosa -2,0 2,0 --Akuadest 2,0 ----Perekasi Tembaga 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 alkalis Campur dengan baik dengan menggoyang tabung, letakkan tabung dalam penangas air mendidih selama 8 menit, kemudian dinginkan dalam es selama 3 menit. Asam fosfomolibdate 2,0 2,0 2,0 2, 2,0

Campur dengan baik, diamkan 3 menit untuk melarutkan Cu 2O , kemudian encerkan sampai 25,0 ml dengan akuadest, baca absorbansinya (serapannya) pada 420 nm ---------------------------------------------------------------------------------------------------Serapan pada 420 nm . . ----------------------------------------------------------------------------------------------------

22

Cara penghitungan : Au - AB --------------- X 0,2 As - AB 100 -------0,2

Kadar gual darah (mg/dl)

Au : Absorbansi Zat Uji As : Absorbansi Zat Standar AB: Absorbansi Blangko Hasil Percobaan secara duplo dirata-rata

B. Metode Asatoor dan King


Dasar : Penentuan ini menggunakan sifat glukosa yang dapat mereduksi,. Darah dimasukkan dalam larutan Na sulfat-Cu sulfat isotonic agar glukosa tidak mudah mengalami glukolisis. Disini dilakukan penambahan CuSO4 kedalam larutan Na sulfat Cu sulfat isotonic sehingga tidak diperlukan lagi penambahan-penambahan CuSO4 . Bahan dan alat : 1. Larutan Na sulfat Cu sulfat isotonic , Na2SO4 10 H2O 30 g + CuSO4 5 H2O 6 g dalam akuadest hingga 1 liter 2. Larutan Na tungstat 10% Na2WO42 H2O 10 g dilarutkan dalam akuadest, kemudian diencerkan hingga 100 ml 3. Larutan tartrat alkalik, 4. Reagen asam fosfomolibdate 5. Larutan standar glukosa 1 mg/ml 6. Larutan standar kerja Cara : 1. Kedalam 3,8 ml larutan Na sulfat Cu sulfat isotonic dimasukkan 0,1 ml darah, dicampur kemudian, ditambahkan 0,1 ml larutan Na tungstat 10%, dicampur lalu di sentrifuga 2. Ke dalam 1 ml supernatan ditambahkan 1 ml larutan tartrat alkalik , tabung di tutup dengan kapas, tabung dimasukkan dalam penangas air mendidih selama 10 menit, kemudian dinginkan dan ditambah : 3 ml larutan asam fosfomolibdate dan 3 ml akuadest 3. Campur baik-baik sesudah 5 menit warna yang timbul dibaca dengan spektrofotometer pada 680 nm 4. Disiapkan juga 2 tabung untuk campuran yang dibuat masing-masing dari : - 1 ml larutan standar kerja - 1 ml larutan Na sulfat Cu sulfat isotonic untuk blangko yang diperlakukan sama seperti filtrat sample.

23

5. Campuran blanko digunakan untuk memperoleh titik nol spektrofotmeter.

Penghitungan : OD sample 100 ------------- X -----OD satandar 0,025 X kadar standar = mg glokosa/100 ml darah

Sample mengandung 0,025 ml darah(0,1 ml dalam 4 ml, kemudian diambil 1 ml supernatan). Catatan : Metode ini dapat digunakan untuk kadar glukosa darah sampai 300 mg/100 ml darah , bila kadar lebih dari itu maka filtrat yang diperlakukan dikurangi, kemudian volume dijadikan 1 ml dengan Na sulfat-Cu sulfat, darah dalam keadaan ini tahan sampai 24 jam. ( Dawiesah, 1988) dalam PAU UGM. Penentuan lainnya : Nelson-Somogyi, metode ferrisianida, titrimetri pada hasil harus disebut metode yang digunakan karena bisa berbeda hasil

3. Kadar urea darah dengan DAM


Dasar : Urea dalam suasana asam bereaksi dengan di asetil monoksim (DAM) dan dengan katalisator kation akan membentuk senyawa turunan diazin yang menyerap warna pada panjang gelombang 525 nm. Penambahan thiosemikarbasida pada pereaksi akan meningkatkan intensitas warna yang terbentuk dan mengurangi kepekaan senyawa turunan diazin terhadap cahaya. Bahan dan pereaksi : 1. Darah atau serum 2. TCA 5% 3. Larutan katalisator, Dalam 1 liter mengandung FeCl3 1,6 M, thiosemikarbasida 5 mM, H2SO4 1,3 M dan H3PO4 4 M 4. Larutan DAM 140 mM/liter 5. Larutan standar urea 40 mg/100 ml Cara : 1. Deproteinisasi darah atau serum Penambahan(ml) 1 6,0 0,3 -Tabung sentrifugasi 2 6,0 -0,3

Larutan TCA 5% Serum atau darah Larutan standar

24

Campur dengan baik, kemudian sentrifugasi selama 5 menit, gunakan supernatan untuk prosedur selanjutnya 2.Pengukuran kadar urea : siapkan 5 tabung reaksi yang bersih dan kering Tabung 1(blangko) 2 Akuadest 0,2 -Larutan supernatan serum TCA -0,2 Larutan supernatan standar TCA --Larutan katalisator 4,0 4,0 Larutan DAM 4,0 4,0 Penambahan(ml)

3 -0,2 -4,0 4,0

4 --0,2 4,0 4,0

5 --0,2 4,0 4,0

Campur dengan baik, kemudian diletakkan dalam penangas air mendidih selama 6 menit tepat, Angkat dari penangas dan diamkan 10 menit pada suhu ruangan, baca absorbansi pada 525 nm Catatan : warna yang terbentuk cepat memucat, sehingga pembacaan harus dilakukan dengan cepat. Penghitungan : Au - Ab = ------------ X 40 = mg/dl As - Ab

Kadar urea serum

Ab = absorbansi blangko As = absorbansi standar Au = absorbansi uji/sample Diperiksa secara duplo : hasil dirata-rata

25

EMPEDU
Teori : Empedu diproduksi oleh hati dan disimpan sementara dalam kandung empedu sebelum dikeluarkan ke duodenum, diperkirakan hati menghasilkan 500 1000 ml empedu per hari. Empedu manusia berwarna kuning keemasan, namun bila dibiarkan pada udara terbuka maka warnanya akan berubah menjadi hijau, biru dan coklat karena pigmen empedu ter oksidasi. Empedu bereaksi alkalis (pH 7,8 8,6). Kandungan empe4du yang penting antara lain adalah garam-garam empedu, pigmen-pigmen empedu, lesitin, kolesterol dan garam-garam anorganik. Empedu tidak mengandung protein kecuali musin, yang di sekresi oleh dinding kandung empedu, dan sejumlah kecil enzim seperti fosfatase alkali. Empedu merupakan campuran hasil sekresi dan ekskresi. Bahan-bahan yang disekresi misalnya garam-garam empedu, sedangkan yang di ekskresi misalnya pigmen empedu dan kolesterol. Asam-asam empedu utama dalam empedu manusia adalah asam kolat dan asam kanodeoksikolat. Asam empedu mengaktifkan lipase dan mempengaruhi emulsifikasi lipid, yang diperlukan untuk hidrolisis dan absorpsi lipid, selain itu asam empedu juga penting untuk penyerapan kolesterol dan pembentukan ester kolesterol. Garam-garam empedu membantu pencernaan dan penyerapan lemak serta vitamin-vitamin yang larut dalam lemak ( vitamin A D E K ), aktivitas ini melalui 2 cara : - Garam empedu menurunkan tegangan permukaan dan meningkatkan emulsifikasi lemak sehingga mudah dicernakan oleh lipase. - Garam mepedu berikatan dengan asam lemak membentuk suatu komplek yang lebih mudah larut dan diserap. Pigmen-pigmen empedu sebagian besar merupakan hasil katabolisme hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel-sel darah merah oleh system retikuloendotelial dari hati, limpa dan sumsum tulang. Pigmen empedu yang utama adalah biliverdin yang berwarna hijau, dan bilirubin yang berwarna jingga atau kuning coklat. Oksidasi dari pigmen empedu oleh berbagai reaksi akan menghasilkan suatu turunan yang berwarna misalnya mesobiliverdin (berwarna hijau hingga biru), mesobilirubin (berwarna kuning) dan mesobilisianin (berwarna biru hingga ungu). Tujuan Praktikum : Untuk mempelajari sifat-sifat dan susunan empedu.

26

1. Sifat empedu
Tujuan : Mengetahui warna, bau, konsistensi dan pH empedu. Bahan dan alat : 1. 2. 3. 4. Empedu kental Gelas kimia Batang pengaduk Kertas indicator

Cara : Dalam gelas kimia masukkan sedikit empedu asli Periksa : warna empedu, Bau, Konsistensi, pH (dengan kertas indicator pH)

2.Uji Gmelin
Tujuan : Membuktikan adanya pigmen empedu Dasar reaksi : Penambahan asam nitrat pada pigmen empedu akan menghasilkan senyawa hasil oksidasi yang berwarna Bahan dan alat : 1. 2. 3. 4. Cara : 1. Masukkan 3 ml asam nitrat pekat dalam tabung reaksi 2. Miringkan tabung reaksi, dengan pipet alirkan secara hati-hati 3 ml larutan empedu encer melalui dinding tabung sehingga kedua larutan tidak bercampur 3. Perhatikan warna yang terbentuk pada perbatasan kedua cairan Larutan empedu encer Larutan asam nitrat pekat Tabung reaksi Pipet volumetric

27

3.Uji Pettenkofer
Tujuan : Membuktikan adanya asam empedu Dasar percobaan : Asam asam empedu yang terdapat dalam empedu terutama sebagai garam empedu, merupakan senyawa aromatik komplek, Asam empedu bereaksi dengan furfural (yang terbentuk pada penambahan asam pekat dan karbohidrat) membentuk turunan yang berwarna. Bahan dan alat : 1. Larutan asam empedu encer 2. Larutan sukrosa 5% 3. Asam sulfat pekat dalam buret 4. Tabung reaksi 5. Pipet volumetric 6. Pipet tetes Cara : 1. Masukkan 5 ml larutan empedu encer dalam tabung reaksi 2. Tambahkan 5 tetes larutan sukrosa 5% 3. Miringkan tabung reaksi lalu alirkan dengan hati-hati 3 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung sehingga membentuk 2 lapisan cairan, perhatikan cincin yang terbentuk pada perbatasan antara 2 lapisan

4. Fungsi empedu sebagai emulgator


Tujuan : Membuktikan empedu bersifat sebagai emulgator (bahan penstabil emulsi) Dasar : Emulsi adalah suatu suspensi metastabil yang terbentuk dari 2 atau lebih zat cair yang tidak dapat larut satu sama lain. Untuk menstabilkan dibutuhkan emulgator yang berguna untuk menurunkan tegangan permukaan antar kedua fase cairan . Garam empedu dapat menurunkan tegangan permukaan sehingga ia berperan pada proses emulsifikasi lemak dalam usus. Bahan dan alat : 1. Larutan empedu encer 2. Minyak goring 3. Air suling 4. Tabung reaksi Cara : 1. Sediakan 2 tabung reaksi, pada masing-masing tabung masukkan 3 ml air suling 2. Pada kedua tabung tambahkan 1 tetes minyak 3. Pada tabung pertama tambahkan 3 ml air 4. Pada tabung kedua tambahkan 3 ml larutan empedu encer 5. Kocok kedua tabung, catat dan perhatikan bentuk kedua emulsi dalam tabung

28

PRAKTIKUM CAIRAN TUBUH


SALIVA ( AIR LIUR )
TEORI : Air liur (saliva) di sekresi oleh 3 pasang kelenjar besar yaitu : parotis, submaksilaris dan sublingualis. Air liur parotis merupakan cairan hipotonis yang sangat encer dengan konsentrasi zat padat yang rendah. Sedang air liur submaksilaris dapat kental maupun encer tergantung pada rangsang simpatis atau parasimpatis, air liur sublingualis mengandung banyak musin. Selain itu air liur juga di sekresi oleh beberapa kelenjar kecil dalam mukosa mulut seperti labialis, lingualis, bukal dan palatal. Sekresi air liur dari kelenjar dalam mulut dapat disebabkan oleh rangsangan local dalam mulut atau oleh perangsangan pusat akibat rangsang psikis atau somatic. Air liur dalam rongga mulut berfungsi sebagai pelicin dan untuk membasahi makanan saat dikunyah sehingga mudah ditelan. Air liur juga merupakan tempat ekskresi obat obatan tertentu seperti alcohol dan morfin. Air liur mengandung air kira-kira 99,5%. Sekitar 2/3 dari bahan yang terlarut dalam air liur merupakan bahan organic dan 1/3 nya merupakan bahan anorganik. Komponen anorganik dalam air liur antara lain adalah Natrium, Kalium, Kalsium, Magnesium, Fosfat dan Bikarbonat. Sedang kandungan senyawa organic dalam air liur terdiri atas musin dan enzim amilase, bahan organic lain yang juga terdapat dalam jumlah sedikit adalah urea, kolesterol, hormon-hormon tertentu dll. Saliva juga mengandung berbagai macam sel seperti sel epitel mukosa mulut, leukosit dan bakteri. pH air liur antara 5,6 7,6 biasanya pH mendekati 6,8. Pada saat makan pH meningkat dan sesudah makan pH akan turun. Air liur dari kelenjar parotis mengandung sejumlah besar enzim amilase, lizozim, fosfatase asam, aldolase dan kolinesterase. Namun yang penting untuk proses fisiologis tubuh adalah amilase dan lizozim. Amilase air liur juga disebut ptyalin. Amilase bekerja mengkatalisis pencernaan pati menjadi dekstrin (amilodekstrin, eritrodekstrin dan akrodekstrin) dan maltosa dengan dengan hidrolisis ikatan glukosidik alfa 1,4 pati. Enzim ini tidak aktif pada pH 4 atau lebih rendah sehingga pencernaan air liur segera terhenti setelah makanan berada dalam suasana asam lambung. Tujuan Praktikum : Untuk mempelajari sifat dan susunan air liur Macam Percobaan : Pengumpulan air liur . Untuk percobaan air liur ini tiap mahasiswa mengumpulkan air liurnya sendiri kira-kira 20 ml dalam sebuah gelas kimia. Untuk merangsang sekresi air liur kunyahlah sepotong paraffin (lilin) yang telah disediakan. Kemudian saringlah sebagian air liur tersebut.

29

AIR LIUR YANG TIDAK DISARING : 1. Penetapan pH air liur


Tujuan : Menetapkan pH air liur sewaktu Dasar : Pada kisaran pH tertentu suatu indicator akan memberikan perubahan warna sesuai dengan kadar H+ dalam larutan yang diperiksa. Bahan dan alat : 1. Air liur yang tidak disaring 2. Indikator universal Cara : 1. Celupkan sepotong indicator universal ke dalam air liur yang tidak disaring 2. Cocokan warna indicator tsb pada standar warna pH untuk indicator tsb. Tentukan pH nya

2. Uji Biuret
Tujuan : Membuktikan adanya senyawa dengan ikatan peptida ( protein ) dalam air liur secara kualitatif Dasar : Biuret adalah senyawa yang terbentuk dengan 2 ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan urea. Reaksi biuret adalah reaksi terhadap adanya paling sedikit 2 ikatan peptida. Reaksi biuret (larutan CuSO4 alkalis) terdiri atas larutan NaOH dan larutan CuSO4 . Cu pada larutan alkalis bereaksi dengan protein membentuk suatu komplek koordinasi antara ion Cu2+ dengan gugus C=O dan N-H pada ikatan peptida . Komplek tsb memberi warna lembayung. Semua zat dengan 2 atau lebih ikatan peptida memberi reaksi positif. Zat zat lain yang mengandung gugus karbamil (-CONH) seperti CSBH2 , -C(NH)NH2 atau CH2NH2 juga memberi rekasi yang sama. Bahan dan alat : 1. Air liur yang tidak di saring 2. Larutan NaOH 10% 3. Larutan CuSO4 4. Tabung reaksi 5. Pipet volumetric 6. Pipet tetes

30

Cara : 1. Masukkan 2 ml air liur yang tidak di saring dalam tabung reaksi 2. Tambahkan 2 ml NaOH 10 % campur dengan baik 3. Tambahkan 1 tetes larutan CuSO4 . Campur dengan baik, bila belum terbentuk warna lembayung tambahkan lagi 1 tetes CuSO 4 hingga maksimum 10 tetes.

3. Uji Millon
Tujuan : mengidentifikasi asam amino tirosin secara kualitatif Dasar : Tirosin yang merupakan asam amino yang mengandung gugus hidroksi fenil (fenol) akan mengalami nitrasi dengan pereaksi Millon yang mengandung ion-ion merkuri/merkuro dalam asam nitrat/nitrit membentuk warna merah . Bahan dan alat : 1. Air liur yang tidak di saring 2. Pereaksi Millon terdiri atas 100 g merkuri dalam 140 ml asam nitrat pekat , dan di Encerkan dengan air sampai volumenya 3 X 3. Tabung reaksi 4. Pipet volumetric 5. Pipet tetes 6. Penangas air 7. Gelas kimia Cara : 1. Masukkan 2 ml air liur yang tidak di saring dalam tabung reaksi 2. Tambahkan 2 3 tetes perekasi Millon, campur dengan baik 3. Panaskan hingga terbentuk warna merah

4. Uji Molisch
Tujuan : Membuktikan adanya karbohidrat dalam air liur secara kualitatif Dasar : Reaksi ini disebabkan oleh daya dehidrasi asam anorganik pekat terhadap karbohidrat, membentuk furfural atau turunannya seperti hidroksi metil furfural. Pereaksi Molisch yang terdiri atas alfa naftol akan bereaksi dengan furfural membentuk senyawa ungu. Bahan dan alat : 1. Air liur yang tidak di saring 2. Pereaksi Molisch yang terdiri dari 25 g alfa naftol dalam alcohol 95 % sampai 500 ml dan dibuat baru setiap kali praktikum 3. Asam sulfat pekat dalam buret

31

4. Tabung reaksi 5. Pipet volumetric 6. Pipet tetes Cara : 1. Masukkan 2 ml air liur yang tidak di saring dalam tabung reaksi 2. Tambahkan 2 tetes pereaksi Molisch, campur dengan baik 3. Miringkan tabung reaksi lalu alirkan dengan hati-hati 2ml asam sulfat pekat dari buret melalui dinding tabung hingga tidak bercampur. 4. Reaksi positif ditandai dengan pembentukan cincin berwarna ungu pada batas antar kedua lapisan

A. AIR LIUR YANG DI SARING 1. Uji Presipitasi


Tujuan : Membuktikan adanya musin dalam air liur Dasar : Protein dapat dipresipitasi oleh asam asetat Bahan dan alat : 1. Air liur yang di saring 2. Asam asetat encer 3. Tabung reaksi 4. Pipet volumetric 5. Pipet tetes Cara : 1. Masukkan 2 ml air liur yang disaring ke dalam tabung reaksi 2. Tambahkan 1 tetes asam asetat encer. Campiur dengan baik 3. Perhatikan apakah presipitasi amorf terbentuk

1. Uji Sulfat Tujuan : Membuktikan adanya sulfat dalam air liur Dasar : Ion sulfat dalam suasana asam dapat di endapkan oleh Barium Bahan dan alat : 1. Air liur yang di saring 2. Asam klorida encer 3. Larutan BaCl2 2% 4. Tabung reaksi 5. Pipet volumetric 6. Pipet tetes

32

Cara : 1. 2. 3. 4. Masukkan 1 ml air liur yang disaring dalam tabung reaksi Tambahkan 3 5 tetes HCl Tambahkan 5 10 tetes BaCl2 2% campur dengan baik Perhatikan dan catat apa ada endapan putih dari barium sulfat.

2. Uji Fosfat
Tujuan : Membuktikan adanya fosfat dalam air liur Dasar : Fosfat bereaksi dengan asam molibdate membentuk asam fosfomolibdate, dengan penambahan bahan pereduksi yang sesuai, asam fosfomolibdate di reduksi sehingga memberikan warna biru tua (biru molybdenum) Bahan dan alat : 1. Air liur yang disaring 2. Larutan urea 10 % 3. Pereaksi molibdate spesial 4. Larutan FeSO4 spesial 5. Tabung reaksi 6. Pipet volumetric 7. Pipet tetes Cara : 1. Masukkan 1 ml air liur yang di saring dalam tabung reaksi 2. Tambahkan 1 ml larutan urea 10% dan 10 ml larutan molibdate spesial, campur dengan baik 3. Tambahkan 1 ml Larutan FeSO4 spesial, campur dengan baik 4. Warna biru bertambah nyata setelah dibiarkan, nyatakan adanya orthofosfat Soal : 1. Tulis reaksi kimia Biuret 2. Tulis reaksi pembentukan : furfural dan 5 hidroksimetil furfural

33

ENZIM
z

TEORI : Enzim adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam system biologik. Hampir semua reaksi kimia dalam system biologis dikatalisis oleh enzim. Sintesis enzim terjadi didalam sel dan sebagian besar enzim dapat di ekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya. Kepentingan medis enzim : Enzim terdistribusi di tempat-tempat tertentu didalam sel lebih kurang sesuai dengan golongannya dan juga fungsinya, sebagai contoh enzim yang berperan dalam sintesis dan reparasi DNA terletak didalam inti sel. Enzim yang mengkatalisis berbagai reaksi yang menghasilkan energi secara aerob terletah dalam mitokondria. Enzim yang berhubungan dengan biosintesis protein berada bersama ribosom, dengan demikian reaksi kimia dalam sel berjalan sangat terarah dan efisien. Ada beberapa penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas sintesis enzim tertentu, misalnya pada defisiensi enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PDH/G6PD). Sel darah merah (SDM) penderita defisiensi G6PDH ini sangat rentan terhadap pembebanan oksidatif, misalnya pada pemakaian obat-obatan tertentu dan obat malaria dapat terjadi hemolisis intravaskuler. Analisis enzim dalam serum dapat dipakai untuk deteksi penyakit seperti infark otot jantung, kerusakan jaringan hati, bendungan saluran empedu, penyakit prostat dll. Dasar penggunaan enzim sebagai dasar penunjang diagnosis ialah : 1. Pada dasarnya sebagian besar enzim berada dalam sel 2. Emzim tertentu adanya intrasel, bila berada dalam serum berarti terjadi kerusakan pada jaringan asalnya. Penggolongan enzim : Jumlah enzim ada ribuan macam tapi dapat digolongkan menjadi 6 golongan : 1. Oksidoreduktase, kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi reaksi redoks. 2. Transferase, kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi pemindahan berbagai gugus misal, amina , karboksil, metil, asil dll. 3. Hidrolase, kelompok enzim ini mengkatalisis pemutusan ikatan kovalen sambil mengikat air. 4. Liase, kelompok enzim memutus ikatan kovalen tanpa mengikat air.] 5. Isomerase, kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi isomerisasi. 6. Ligase(sintase), kelompok enzim ini mengkatalisis pembentukan ikatan kovalen.

Kespesifikan enzim dibedakan dalam : kespesifikan optik dan gugus Kespesifikan optik tampak pada enzim yang bekerja pada karbohidrat dan misal hanya bekerja terhadap isomer D bukan L, juga bila di asam amino dan protein misal hanya bekerja pada isomer amino L bukan isomer D. Kespesifikan gugus, hanya pada gugus tertentu misal enzim alcohol dehidrogenase tidak dapat mengkatalisis reaksi dehidrogenase pada senyawa bukan alcohol.

34

Faktor faktor yang mempengaruhi kerja enzim, seperti protein lainnya sifat biologis enzim sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor fisika kimia. Enzim bekerja pada kondisi tertentu yang relatif ketat. Adapun faktor yang mempengaruhi kerja enzim anatar lain : suhu, pH, oksidasi udara atau senyawa lain, penyinaran UV, sinar X, alfa beta dan gama. Disamping itu kecepatan reaksi enzimatik dipengaruhi pula oleh konsentrasi enzim maupun substratnya. Pengaruh suhu : Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim namun enzim tidak dapat bekerja. Kenaikan suhu lingkungan akan meningkatkan energi kinetik enzim dan meningkatkan frekuensi benturan antar molekul enzim dan substrat dan pada suhu tertentu akan mencapai kecepatan reaksi maksimum, bila suhu ditingkatkan terus maka jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi. Kecepatan reaksi enzimatik berlangsung maksimal pada suhu optimum. Enzim pada suhu 37o C optimum dalam tubuh manusia . Sebagian besar enzim tidak aktif pada pemanasan sampai 60o C karena mengalami denaturasi. Pengaruh pH : Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu. Bila dilakukan pengukuran aktivitas enzim pada beberapa macam pH yang berlainan maka sebagian besar enzim akan menunjukkan aktivitas maksimum antara pH 5,0 9,0. Kecepatan reaksi enzimatik berlangsung maksimal pada pH optimum. Ada enzim yang mempunyai pH optimum sangat rendah yaitu pepsin, pH optimum pepsin adalah 2. Pada pH yang jauh diluar pH optimum enzim akan terdenaturasi. Selain itu pada keadaan ini baik enzim maupun substrat dapat mengalami perubahan muatan listrik yang mengakibatkan enzim tidak dapat berikatan dengan substrat. Pengaruh konsentrasi enzim Peningkatan konsentrasi enzim akan meningkatkan reaksi enzimatik. Dapat dikatakan bahwa kecepatan reaksi enzimatik (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim (E) makin besar konsentrasi enzim reaksi enzimatik makin cepat Pengaruh konsentrasi substrat : Pada suatu reaksi enzimatik bila konsentrasi substrat diperbesar sedangkan konsentrasi lainnya tetap, maka kecepatan reaksi (v) akan meningkat samapai suatu batas kecepatan maksimum (V) Pada titik maksimum ini enzim telah jenuh dengan substrat. Dalam suatu reaksi enzimatik, enzim akan mengikat substrat membentuk komplek enzim substrat (ES) kemudian komplek ini akan terurai menjadi enzim (E) dan produk (P) makin banyak komplek (ES) terbentuk makin cepat reaksi berlangsung sampai batas kejenuhan (ES). Pada konsentrasi substrat (S) melampaui batas kejenuhan kecepatan reaksi akan konstan, dalam keadaan ini seluruh enzim sudah berada dalam bentuk komplek (ES) artinya penambahan jumlah (S) tidak menambah jumlah (ES).

35

1. Pengaruh konsentrasi enzim Terhadap kecepatan reaksi


Tujuan : Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik berbanding lurus dengan konsentrasi enzim Dasar : Pada konsentrasi substrat tertentu, penambahan enzim dengan konsentrasi bertingkat akan meningkatkan terbentuknya jumlah komplek enzim substrat, sehingga jumlah produk yang terbentuk juga meningkat. Bahan dan pereaksi : 1. Susu 2. Larutan enzim protease ( pepsin 0,5% , atau bromelin) 3. Penangas air Cara : 1. Siapkan penangas air dengan suhu 37o C letakkan kedalamnya sebuah tabung reaksi berisi 15 ml susu 2. Selain itu letakkan juga didalamnya 3 tabung reaksi masing-masing berisi 1, 0 ml enzim protease, 0,5 ml enzim protease + 0,5 ml air , 0,25 ml enzim protease +, 0,75 ml air 3. Setelah di inkubasi selama 5 menit pipetkan masing-masing 5 ml susu hangat ke dalam 3 tabung reaksi yang berisi enzim protease diatas 4. Lakukan satu demi satu jangan serentak, campurkan isi tabung dengan baik dan cepat, amati penggumpalan susu dalam hitungan detik dari tiap-tiap tabung.

2. Pengaruh konsentrasi substrat terhadap Kecepatan reaksi


Tujuan : Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik sampai batas tertentu dipengaruhi oleh konsentrasi substrat. Dasar : Pada konsentrasi tertentu penambahan substrat dengan konsentrasi meningkat sampai konsentarsi tertentu akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatik hingga mencapai kecepatan maksimum . Penambahan substrat setelah konsentrasi tersebut tidak akan meningkatkan kecepatan reaksi enzim, sebab telah mealmpaui titik jenuh enzim. Bahan dan pereaksi : 1. Susu 2. Larutan enzim protease (pepsin 0,5% atau bromelin)

36

Cara : 1. Siapkan 3 tabung reaksi bersih dan kering, masukkan kedalamnya pada tabung pertama 5 ml susu, tabung kedua 4 ml susu + 1 ml air, tabung ketiga 3 ml susu dan 2 ml air. Siapkan juga I tabung reaksi berisi 3 ml enzim. 2. Letakkan keempat tabung dalam penangas air 37o C selama 5 menit. 3. Pipetkan 1 ml larutan enzim kedalam masing-masing tabung diatas dan amati waktu penggumpalan susu pada tiap tabung, lakukan satu persatu jangan serentak. 4. Catatlah waktu yang diperlukan untuk penggumpalan susu dalam hitungan detik.

UJI OKSIDASI BIOLOGI :


1. Uji Schardinger
Tujuan : 1. Memperlihatkan bahwa oksidasi dapat terjadi melalui dehidrogenasi suatu substrat, dalam hal ini formaldehida 2. Memperlihatkan adanya enzim dehidrogenase aerob, yaitu aldehide dehidrogenase dalam susu segar Dasar : Aldehid dehidrogenasi mengoksidasi formaldehyde dengan cara melepas hydrogen. Hidrogen yang terbentuk dapat dipindahkan langsung ke oksigen udara menjadi H2O2 atau suatu senyawa penerima misalnya riboflavin atau biru metilen. Pada akhirnya senyawa penerima yang tereduksi tersebut akan menyerahkan hydrogen ke oksigen udara membentuk H2O2. Hal ini tampak jelas bila menggunakan biru metilen sebagai penerima hydrogen . Biru metilen tereduksi tidak berwarna (leuko biru metilen) pada permukaan larutan susu akan teroksidasi kembali menjadi biru karena ada kontak dengan udara Bahan dan pereaksi : 1. Susu segar dan susu pasteurisasi 2. Larutaa biru metilen 0,02% 3. Larutan formaldehyde 0,4% Cara : 1. Siapkan 2 tabung reaksi, satu tabung di isi 5 ml susu segar, tabung kedua di isi 5 ml susu pasteurisasi 2. Kemudian tambahkan berturut-turut 1 ml biru metilen dan 1 ml formal dehide pada masing-masing tabung. 3. Campur dengan baik dan masukkan penangas air suhu 60 65 oC 4. Cata apa yang terjadi

Pertanyaan : 1. Tulis reaksi dehidrogenasi formal dehide menjadi asam format 2. Mengapa susu pasteurisasi memberi uji Schardinger berbeda

37

2.Uji Peroksidase
Tujuan : Membuktikan adanya enzim peroksidase di dalam susu segar Dasar : Hidrogen peroksida akan di reduksi oleh peroksidase di dalam susu segarmenjadi H2O Bahan dan pereaksi : 1. Susu segar 2. Larutan guaiak 1% dalam alcohol atau KMnO4 1% dalam air 3. Larutan H2O2 3% Cara : 1. Campur 2 ml susu segar dengan 8 ml air suling, bagilah dalam 2 tabung 2. Panaskan tabung pertama sampai mendidih dan dinginkan. 3. Teteskan 5 10 tetes KmnO4 dalam tiap tabung. 4. Tambahkan 2 3 tetes H2O2 ke dalam tiap tabung 5. Perhatikan apa yang terlihat. Soal : 1. Apa perbedaan susu yang dipanaskan dan susu segar ? 3. Uji Amilase pencernaan Tujuan : Membuktikan adanya enzim amylase dalam pencernaan saliva Dasar : Amilase akan mencerna amilum menjadi amilosa, amilopektin dan glukosa Amilum + I2 biru Amilosa + I2 biru Amilopektin + I2 merah Glukosa + I2 ungu (warna I2 tidak berubah) Bahan dan Pereaksi : 1. Larutan amilum 0,1% 2. Larutan I2 0,1% dalam air 3. Larutan amilase (dari saliva yang dikumpulkan praktikan) Cara : 1. 2. 3. 4. 5.

Ambil 2 ml larutan amilum dalam tabung reaksi Tambahkan 0,5 ml saliva, campur homogen (dikocok perlahan) Inkubasikan 37oC pada water bath Setiap menit tetesi larutan iodium, tetap diatas water bath sambil dikocok Amati pada menit ke berapa warna iodium tidak berubah

Soal Apa beda rumus molekul amilum, amilosa, amilopektin dan glukosa

38

3. Uji Antioksidan Vitamin C


Tujuan : Memperlihatkan efek antioksidan vitamin C (asam askorbat) Dasar : Senyawa fenol oleh adanya enzim polifenoloksidase (PPO) akan di oksidasi oleh oksigen udara menjadi senyawa berwarna coklat dan H2O2 . dengan adanya vitamin C fenol yang ada dalam buah-buahan terlindung dari oksidasi sehingga warna coklat tidak terbentuk. Bahan dan pereaksi : 1. Larutan asam askorbat 1 mg/ml 2. Potongan pisang/apel Cara : 1. Siapkan 2 gelas kimia, masing masing diberi potongan pisang/apel 2. Tambahkan air 5 ml pada gelas kimia kesatu 3. Tambahkan 5 ml larutan asam askorbat pada gelas kimia kedua 4. Biarkan dalam beberapa menit 5. Amati perubahan warnanya dan catat waktunya

Pertanyaan : Mengapa vitamin C berperan sebagai antioksidan dan bagaimana reaksi kimianya?

39