Anda di halaman 1dari 13

ANATOMI OTOT PENDAHULUAN Otot membentuk 43% berat badan; > 1/3-nya merupakan protein tubuh & -nya

tempat terjadinya aktivitas metabolik saat tubuh istirahat. Proses vital di dalam tubuh (seperti. Kontraksi jantung, kontriksi pembuluh darah, bernapas, peristaltik usus) terjadi karena adanya aktivitas otot. ANATOMI SISTEM OTOT KLASIFIKASI 1. Otot Rangka (Skeletal) = striated muscle = voluntary muscle 2. Otot Polos (Smooth) = viceral muscle = involuntary muscle 3. Otot Jantung (Cardiac) = myocardium OTOT RANGKA 1. Sel otot rangka berbentuk silindris, masing-masing memiliki beberapa nukleus dan tampak bergaris / lurik 2. Melekat pada tulang 3. Diinervasi oleh serabut saraf motorik OTOT RANGKA TENDON 1. Hampir semua otot rangka menempel pada tulang. 2. Tendon: jaringan ikat fibrosa (tidak elastis) yang tebal dan berwarna putih yang menghubungkan otot rangka dengan tulang. 3. Sebagian besar tendon menyerupai tali, tapi beberapa rata (flat) yang disebutaponeurosis 4. Tendon tersusun dari jaringan ikat yang sangat kuat dan menyatu denganfascia yang melingkupi otot dan dengan periosteum (jaringan ikat yang melingkupi tulang) 5. Suatu otot biasanya memiliki dua tendon, masing-masing melekat pada dua tulang yang berbeda. Perlekatan yang immobile atau statis disebut origo, sementara perlekatan yang lebih banyak digerakkan disebut insersio 6. Otot itu sendiri melewati sendi dari kedua tulang dimana otot tersebut melekat, sehingga bila otot tersebut berkontraksi, otot akan menarik insersionya dan menggerakkan tulang ke arah tertentu Struktur Otot Rangka 1. Fascia , Fascia adalah jaringan yang membungkus dan mengikat jaringan lunak 2. Fungsi: mengelilingi otot, menyedikan tempat tambahan otot, memungkinkan struktur bergerak satu sama lain dan menyediakan tempat PD dan saraf - Otot rangka merupakan kumpulan fasciculus (berkas sel otot berbentuk silindris yang diikat oleh jaringan ikat). - Seluruh serat otot dihimpun menjadi satu oleh jaringan ikat yang disebutepimysium (fascia). Setiap fasciculus dipisahkan oleh jar.ikat perimysium - Di dalam fascicle, endomysium mengelilingi 1 berkas sel otot. - Di antara endomysium & berkas serat otot tersebar sel satelit yang berfungsi dalam perbaikan jaringan otot yang rusak.

Sel otot serat otot (endomysium) fascicle fasciculus (epimysium) otot rangka (organ)

(perimysium) fascia

Struktur Otot Rangka Sarcolemma (membran sel/serat otot) & Sarcoplasma 1. Unit struktural jaringan otot ialah serat otot (diameter 0,01-0,1 mm;panjang 1-40 mm). 2. Besar dan jumlah jaringan, terutama jaringan elastik, akan meningkat sejalan dengan penambahan usia. 3. Setiap 1 serat otot dilapisi oleh jaringan elastik tipis yang disebutsarcolemma. 4. Protoplasma serat otot yang berisi materi semicair disebut sarkoplasmA. 5. Di dalam matriks serat otot terbenam unit fungsional otot berdiameter 0,001 mm yang disebut miofibril. Struktur Otot Rangka Miofibril (diameter 1-2m) 1. Di bawah mikroskop, miofibril akan tampak seperti pita gelap & terang yang bersilangan. 2. Pita gelap (thick filament) dibentuk oleh myosin 3. Pita terang (thin filament) dibentuk oleh aktin, troponin & tropomiosin) Struktur Otot Rangka Sarkomer 1. 1 sarkomer terdiri: - filamen tebal, - filamen tipis, - protein yang menstabilkan posisi filamen tebal & tipis, & - protein yang mengatur interaksi antara filamen tebal & tipis. 2. Pita gelap (pita/ bands Aanisotropic); pita terang (pita/bands I isotropic) 3. Filamen tebal terdapat di tengah sarkomer Pita A, terdiri 3 bagian: - garis M; zona H; dan zona overlap 4. Filamen tebal terdapat pada pita I; 5. garis Z merupakan batas antara 2 sarkomer yang berdekatan & mengandungprotein Connectins yang menghubungkan filamen tiois pada sarkomer yang berdekatan. Struktur Otot Rangka Retikulum sarkoplasma 1. Jejaring kantung dan tubulus yang terorganisir pada jaringan otot 2. retikulum endoplasma di sel lain. 3. Terdiri tubulus-tubulus yang sejajar dengan miofibril, yang pada garis Z dan zona H bergabung membentuk kantung (lateral sac) yang dekat dengan sistem tubulus transversal (Tubulus T). 4. Tempat penyimpanan ion Ca2+. 5. Tubulus T saluran untuk berpindahnya cairan yang mengandung ion. 6. Tubulus T dan retikulum sarkoplasma berperan dalam metabolisme, eksitasi, dan kontraksi otot.

Struktur Otot Rangka 1. Motor end plates merupakan tempat inervasi ujung-ujung saraf pada otot. OTOT POLOS 1. Sel otot polos memiliki ujung yang runcing, satu buah nukleus dan tidak ada stria. 2. Kontraksinya tidak disadari (involuntary) 3. Terdapat organ internal sehingga disebut juga otot viseral OTOT JANTUNG 1. Otot jantung bercabang, memiliki satu nukleus, dan stria yang tipis 2. Disebut juga myocardium 3. Membentuk keempat ruang jantung 4. Dapat berkontraksi sendiri (autoregulasi) FISIOLOGI OTOT FISIOLOGI SISTEM OTOT 1. GERAK OTOT -Antagonistik -Sinergistik TONUS OTOT 1. Adalah kondisi dimana otot sedikit kontraksi 2. Fungsi: mempertahankan posisi tegak tubuh 3. Pengaturan tonus otot oleh Cerebellum KONTRAKSI OTOT 1. Sumber energi : -ATP (Adenosine Tri Phosphat) Sumber energy primer Creatinie Phosphat Glycogen paling banyak => Sumber energy sekunder KONTRAKSI OTOT MEKANISME FILAMEN YANG BERGESER 1. Impuls saraf sampai pada terminal dari akson serabut saraf, Asetilkolindilepaskan dan tersebar di celah sinaps 2. Asetilkolin membuat sarkolema lebih permeabel terhadap ion Na yang kemudian segera masuk ke dalam sel 3. Sarkolema mengalami depolarisasi, menjadi lebih negatif di bagian luar, dan positif di bagian dalam. Tubulus T membawa pergantian ionisasi ini ke dalam sel otot 4. Depolarisasi menstimulasi pelemasan ion Ca2+ dari retikulum sarkoplasmik. Ion Ca2+ berikatan dengan kompleks troponin-tropomiosin yang menggesernya dari filamen aktin 5. Miosin memecah ATP untuk melepaskan energinya, miosin kemudian melekat pada filamen aktin dan menarik aktin ke tengah dari sarkomer, sehingga sarkomer memendek 6. Semua sarkomer dalam serat otot memendek serat otot seluruhnya berkontraksi 7. Sarkolema mengalami repolarisasi. Ion K keluar dari sel, memulihkan kondisi positif di luar dan negatif di dalam sel. Pompa ion kemudian mengembalikan Na keluar dan K ke dalam sel. 8. Kolinesterasi di sarkolema menginaktivasi asetilkolin 9. Bila ada impuls saraf selanjutnya akan memperpanjang kontraksi (lebih banyak asetilkolin yang dilepaskan)

10. Bila tidak ada impuls saraf lagi, serat otot akan relaksasi dan kembali ke panjang mula-mula FUNGSI OTOT RANGKA 1. Menghasilkan gerakan rangka. 2. Mempertahankan sikap & posisi tubuh. 3. Menyokong jaringan lunak. 4. Menunjukkan pintu masuk & keluar saluran dalam sistem tubuh. 5. Mempertahankan suhu tubuh; kontraksi otot:energi panas Histologi Otot dan Mekanisme Kontraksi Otot

A. Histologi Otot (Otot Rangka)1,2


Otot rangka (lurik) secara umum berwarna merah muda, sebagian disebabkan oleh pigmen mioglobin dalam serat otot dan vaskularisasi di dalam otot itu sendiri.1 Variasi antara otot merah ataupun putih disebabkan oleh banyaknya pigmen tersebut dalam serat otot. Serat otot rangka berbentuk silindris panjang dan berinti banyak dengan ujung serat otot meruncing atau agak membulat pada ujung otot (mendekati tendon). Kekuatan kontraksi otot ini dipengaruhi oleh banyaknya serat otot (sebagai unit fungsional kontraksi), bukan oleh panjangnya serat otot. Contohnya: pada otot pengatur gerak bola mata; serat ototnya mengandung puluhan hingga ratusan serat otot, berbeda pada otot pada daerah femur; serat ototnya mengandung ratusan tibu serat otot.2 Tiap gelendong otot dibungkus oleh jaringan ikat yaitu epimisium, yang tampak sebagai selubung putih di sekitar otot. Di dalamnya, terdapat serat-serat otot yang tersusun dalam fasikulus. Diantara fasikulus. Setiap fasikulus tersebut dikelilingi oleh jaringan ikat yang sama yaitu perimisium. Di dalam fasikulus, setiap serat otot dibungkus oleh jaringan ikat bernama endomisium. Struktur tambahan berupa arteri, vena, dan neuron menyelinap diantara jaringan ikat pada otot. Nukleus ditemukan di pinggir serat otot. Otot rangka ini memiliki multinukleus karena berasal dari fusi beberapa nukleus dari mioblas. Jadi satu serat otot rangka terbentuk dari beberapa mioblas.1,2 Perjalanan pembentukan otot rangka:2 Mioblas (mensenkim) berdekatan dan fusi tabung panjang multinukleus (miotube) sintesis miofilament nukleus bergeser ke tepi dekat sarkolema. Bagian mioblas yang tidak ber-differensiasi menjadi populasi sel satelit (regenerasi serat otot) berada di sekitar serat otot. Di dalam serat otot, ada struktur yang disebut dengan miofibril. Miofibril ini terdiri dari dua pita yaitu pita A (pita gelap) dan pita I (pita terang). Jika dilihat lebih detail lagi, di dalam pita A ada bagian yang lebih terang sedikit yaitu pita H dan pita I

dibelah dua oleh pita Z. Segmen yang terdapat diantara dua pita Z disebut sarkomer.2 Di dalam miofirbril tersusun miofilamen berupa filamen aktin (tipis) dan filamen miosin (tebal).1 Miosin menempati bagian tengah sarkomer membentuk pita A, sedangkan aktin terikat pada pita Z dan ujung bebasnya menyelinap masuk ke dalam pita A sehingga pada potongan melintang terlihat satu miosin dikelilingi oleh enam aktin dalm bentuk heksagonal. Untuk potongan pada pita I, ditemukan titin dan aktin. Kembali ke pita H (pita A yang tidak mengandung aktin), lebar dari pita H ini tergantung dari keadaan otot (kontraksi maupun relaksasi). Filamen aktin dikelilingi oleh untaian tropomiosin. Di tropomiosin tersebut ada struktur yang lain berupa troponin (trimer yaitu T,C, dan I).2 Troponin ini berfungsi sebagai penutup dari situs aktin. Situs tersebut akan berhubungan dengan kepala miosin dalam melakukan kontraksi. Otot dipersarafi melalui taut neuromuskular.1 Ujung saraf nya berupa ujung saraf ber-mielin (alfa-neuron motorik). Ujung saraf ini jumlahnya tergantung dari gerakan yang dilakukan oleh otot. Otot yang membutuhkan gerakan halus dipersarafi; satu serat otot dengan satu serabut saraf. Lain dari itu, satu serabut saraf dapat mempersarafi banyak serat otot. Di ujung dari serabut saraf, ada celah sangat kecil yaitu motor end plate.Mendekati ujung saraf, akson tidak lagi diselubungi oleh selubung mielin tetapi masih diselubungi oleh sel Schwann. Di tautan ini lah terjadi pelepasan ACh dari neuron dan ditangkap oleh reseptor ACh di serat otot.1 B. Mekanisme Molekular Kontraksi Otot3,4 Mekanisme yang dikenal berupa sliding filament mechanism.3 Mekanisme ini tidak mengubah panjang dari masing masing filamen baik aktin maupun miosin. Aktin di kedua sisi sarkomer bergeser ke arah pertengahan pita A selama kontraksi. Aktin juga menarik pita Z ke tempat filamen tersebut bergerak sehingga sarkomer memendek. Pita H yang tidak dicapai oleh pergerakan aktin menjadi lebih kecil ketika aktin ini mendekat satu sama lain, bahkan dapat hilang (pita H) jika aktin saling bertemu. Pita I yang terdiri dari aktin yang tidak saling tumpang tindih dengan miosin berkurang lebarnya sehingga semakin banyak aktin yang tumpang tindih dengan miosin. Sementara itu, panjang pita A tidak berubah karena ditentukan oleh posisi miosin, bukan oleh aktin. Aktin bergerak ke arah dalam terhadap miosin diperankan oleh jembatan silang pada miosin.4 Di ujung kepala miosin ada tempat (site) yang berfungsi mengikat aktin untuk bergerak ke arah dalam. Dalam keadaan relaksasi, tempat pada aktin

tersebut ditutup oleh troponin yang menempel ke tropomiosin. Untuk membuka kompleks troponin dan tropomiosin yang menutup tempat berhubungannya, ion kalsiumlah yang berperan. Ion kalsium berikatan dengan troponin, menginisiasi kompleks (troponin dan tropomiosin) ke samping agar jembatan silang dapat berikatan dengan tempat di aktin. Setelah kontak dengan aktin, konformasi jembatan silang pun berubah menjadi menekuk ke arah dalam (ke arah pita A) seperti memiliki engsel.4 Hal ini disebut dengan power stroke (gerakan mengayun yang kuat) dari jembatan silang untuk menarik aktin ke arah dalam. Siklus pengikatan ini berulang dan berpindah dari molekul aktin ke molekul lainnya. Pada akhir siklus, hubungan jembatan silang dengan aktin terputus dan konformasi miosin kembali ke semula (stick golf). Seperti yang sudah dibahas di histologi, satu molekul miosin (dengan enam jembatan silang) di kelilingi oleh enam aktin (bersama tempat pengikatannya), siklus antara satu jembatan silang dengan satu tempat pada aktin berlangsung secara asinkron (berbeda satu sama lain). Hal ini supaya ketika ada satu interaksi yang sedang berpindah dari aktin ke berikutnya, sementara siklus lain menahan dengan cara menariknya ke dalam. Jika terjadi secara bersamaan, ke-enam pasangan menarik ke dalam dan melepasnya secara bersamaan, aktin pun akan keluar untuk kembali ke posisi normal.3 Otot rangka diaktifkan berkontraksi ketika adanya pelepasan ACh di taut neuromuskular.3,4 Terikatnya ACh oleh reseptor di sarkolema mengubah permeabilitas membran yang dihantarkan ke seluruh permukaan membran lainnya. Antara pita A dan pita I ada sarkolema yang menembus ke dalam serat membentuk tubulus transversus (tubulus T). Melaui perantara tubulus T inilah potensial aksi menyebar ke dalam serat otot termasuk retikulum sarkoplasma. RS merupakan retikulum endoplasma saling berhubungan mengelilingi sepanjang permukaan miofibril, tetapi tidak kontinu. Segmen yang terpisah membungkus setiap pita A dan pita I yang diujung setiap segmen membesar disebut dengan kantong lateral yang dekat dengan tubulus T tetapi tidak kontak langsung satu sama lain. Di kantong ini tersimpan ion kalsium, potensial aksi menyebabkan keluarnya ion ini ke sarkoplasma. Jembatan silang miosin memiliki dua tempat khusus yaitu tempat pengikatan dengan aktin dan tempat enzim ATP-ase.3 Tempat ATP-ase akan mengikat ATP dan menguraikannya menjadi ADP dan Pi (fosfat inorganik) yang dalam prosesnya menghasilkan energi. Sebelum berikatan antara ATP dengan ATP-ase, ion

magnesium perlu berikatan dengan ATP sebelum ATP-ase dapat menguraikan ATP tersebut. KONTRAKSI OTOT A. Pengertian Kontraksi otot Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang relatif dari filamen-filamen aktin dan miosin. Selama kontraksi otot, filamen-filamen tipis aktin terikat pada dua garis yang bergerak ke Pita A, meskipun filamen tersebut tidak bertambah banyak.Namun, gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan dalam penampilan sarkomer, yaitu penghapusan sebagian atau seluruhnya garis H. selain itu filamen myosin letaknya menjadi sangat dekat dengan garis-garis Z dan pita-pita A serta lebar sarkomer menjadi berkurang sehingga kontraksi terjadi. Kontraksi berlangsung pada interaksi antara aktin miosin untuk membentuk komplek aktin-miosin. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kontraksi otot adalah prosesterjadinya pengikatan aktin dan miosin sehingga otot memendek. Aktin merupakan bentuk jaring otot yang berfungsi untuk membentuk permukaan sel, pigmen penyusun otot yang berdinding tipis, protein yang merupakan unsure kontraksi dalam otot. Sedangkan Miosinadalah protein dalam otot yang mengatur kontraksi dan relaksasi filament penyusun otot yang berdinding tebal. Periode kontraksi otot terdiri dari: 1. Periode Latent (PL) Periode pemberian rangsang sampai terjadinya respon. 2. Periode Kontraksi (PK) Periode pemendekan otot atau kontraksi. 3. Periode Relaksasi (PR) Periode kembalinya otot pada keadaan semula setelah mengalami kontraksi. Karakteristik Otot a. Kontraktibilitas yaitu kemampuan untuk memendek b. Ekstensibilitas yaitu kemampuan untuk memanjang c. Elastisitas yaitu kemampuan untuk kembali ke ukuran semula setelah memendek atau memanjang B. Faktor-faktor yang mempengaruhi kontraksi otot Kontraksi otot dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : Treppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitas miofibril. Summasi, berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot berkontraksi dengan kekuatan berbeda yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi bergelombang). Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena pekerjaan itu sendiri. Tetani adalah peningkatan frekuensi stimulasi dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan tegangan kontraksi. Rigor terjadi bila sebagian terbesar ATP dalam otot telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak lagi dapat dikembalikan ke RS melalui mekanisme pemompaan. Metode pergeseran filamen dijelaskan melalui mekanisme kontraksi pencampuran aktin dan miosin membentuk kompleks akto-miosin yang dipengaruhi oleh ATP. Miosin merupakan produk, dan proses tersebut mempunyai ikatan dengan ATP. Selanjutnya ATP yang terikat dengan miosin terhidrolisis membentuk kompleks miosin ADP-Pi dan akan berikatan dengan aktin. Selanjutnya

tahap relaksasi konformasional kompleks aktin, miosin, ADP-pi secara bertahap melepaskan ikatan dengan Pi dan ADP, proses terkait dan terlepasnya aktin menghasilkan gaya fektorial. C. Mekanisme Kontraksi Otot Dimulai dengan pembentukan kolin menjadi Asetilkolin yang terjadi di dalam otot. Proses itu akan diikuti dengan penggabungan antara ion kalsium, troponium, dan tropomisin. Penggabungan ini memacu penggabungan miosin dan aktin menjadi aktonmiosin. Terbentuknya Aktonmiosin menyebabkan sel otot memendek (berkontraksi) pada plasma sel, ion kalsium akan berpisah dari troponium sehingga aktin dan miosin juga terpisah dan otot akan kembali relaksasi. Yang terjadi pada waktu kontraksi, filamen Aktin akan meluncur atau mengerut diantara miosin kedalam zona H (Zona H adalah bagian terang antara 2 pita), dengan demikian serabut otot memendek atau yang tetap panjang adalah pita A (pita Gelap), sedngkan pita I (pita terang) dan zona H bertambah pendek waktu kontraksi. Lalu ujung miosin dapat mengikat ATP dan menghidrolisis menjadi ADP. Beberapa energi dilepaskan dengan cara memotong pemindahan ATP ke miosin yang berubah ke konfigurasi energi tinggi. Miosin yang berenergi tinggi ini kemudian mengikatkan diri dengan kedudukan khusus pada aktin membentuk jembatan silang. Kemudian simpanan energi miosin dilepaskan dan ujung miosin lalu beristirahat dengan energi rendah pada saat ini terjadi relaksasi.

D. Energi Pada Otot ATP merupakan sumber energi utama untuk kontraksi otot. ATP berasal dari oksidasi karbohidrat dan lemak. Kontraksi Otot merupakan interaksi antara Aktin dan miosin yang memerlukan ATP ATP ADP+P Aktin + Miosin Aktonmiosin ATP ase Sebelum ATP berekasi dengan Aktin dan miosin terlebih dahulu ATP dipecah menjadi ADP dan Asam fosfat (H3PO4). Dan jika kontraksi Otot terus berlagsung otot menggunakan cadangan energi dalam bentuk kreatinfosfat dan oksimioglobin. Kreatinfosfat merupakan persenyawaan fosfat berenergi tinggi yang terdapat dalam konsentrasi tinggi otot yang selanjutnya kreatinfosfat dipecah menjadi kreatin dan asam fosfat dan membebaskan energi. Dan energi yang dibebaskan tadi digunakan untuk menyintesis ATP bersama ADP. Kreatin Fosfo kreatin + ADP Kreatin + ATP Fosfokinase Dan pemecahan ATP dan Fosfokreatin untuk menghasilkan energi tidak memerlukan oksigen sehingga fase kontraksi otot disebut fase Anaerob. Jadi pada kontraksi otot energi yang digunakan berupa ATP yang diubah menjadi ADP dan ADP bersama fosfokreatin mensintetis ATP. Otot yang berkontraksi dalam waktu lama dapat mengalami kelelahan, hal ini disebabkan menurunnya ATP dan fosfokreatin, sedangkan ADP, AMP dan Asam laktat naik konsentrasinya dan kontraksi otot yang terus menerus bekerja memerlukan Energi banyak dan menghabiskan cadangan oksigen otot. Dalam keadaan demikian, Energi untuk kontraksi diperoleh dari pemecahan glikogen kram otot. Sehingga dalam keadaan istirahat, Otot berelaksasi dan Asam laktat dioksidasi menjadi Air (H2O) dan karbondioksida (CO2) dan membebaskan energi sehingga energi yang dibebaskan untuk

pembentukan ATP dan Fosfokreatin yang digunakan untuk berelaksasi. Dan energi yang dibebaskan juga digunakan untuk membentuk kembali glikogen dari asam laktat Skema Energi ATP ADP+H3PO4+Energi ( untuk pemanfaatan seketika) Kreatinfosfat kreatin + H3PO4 + Energi (sintesis ATP dan ADP) Glikogen Asam laktat+Energi (untuk risintesis kreatinfosfat) Asam laktat+O2 H2O+CO2+Energi (risintesis asam laktat menjadi glikogen) Gambaran Umum Patofisiologi Keram Otot Kram adalah suatu sensasi yang tidak menyenangkan dan sering menimbulkanrasa nyeri yang disebabkan karena kontraksi otot yang terus menerus. Penyebab umumdari kram otot skeletal adalah kelelahan otot misalnya karena kerja yang berat dan terusmenerus, kadar kalsium yang rendah dan kadar K (potassium) yang rendah. Otot polos pun dapat mengalami keram yang biasa terjadi pada menstruasi dan Gastroentritis.Otot skeletal dapat dikendalikan secara sadar (volunter). Di antara otot skeletal, bagian yang sering mengalami keram antara lain bagian betis, paha dan kaki. Kram ototini biasa dihubungkan dengan aktivitas yang berat dan dapat terasa sangat sakit. Hal ini pun dapat terjadi ketika keadaan otot sedang relaksasi. Sekitar 40% dari orang yangmengalami keram otot skeletal biasanya tidak dapat bergerak bahkan berjalan apabilamengenai tungkai. Banyak kasus yang membutuhkan waktu kurang lebih 7 hari untuk dapat berjalan kembali seperti semula.Otot skeletal bekerja sebagai pasangan yang antagonis contoh pada otot bisep dantrisep. Kontraksi dari satu otot skeletal membutuhkan relaksasi dari otot yang berlawanandalam pasangannya. Kram terjadi ketika otot tidak dapat berelaksasi secara sempurnadiakibatkan oleh serat miosin tidak sepenuhnya lepas dari filament aktin. Dalam ototskeletal, ATP dan magnesium harus berikatan kepada serat miosin dengan tujuan untuk melepaskan ikatan miosin terhadap aktin sehingga dapat terjadinya relaksasi. Tidak adanya salah satu komponen atau molekul tersebut menyebabkan myosin tetap berikatankepada aktin. Usaha untuk membuat kontraksi pada otot yang berlawanan (seharusnyarelaksasi) pada keram otot, dapat menyebabkan robeknya otot skeletal dan memperburuk rasa sakit. Otot harus mendapatkan ATP dan Mg kembali sebelum serat miosin terlepasdari aktin sehingga otot dapat berelaksasi. Mg juga berfungsi untuk pompa kanal Na-K dan pembentukan ATP.

Jenis dan Penyebab Kelainan pada Otot- Otot pun dapat mengalami kelainan. Beberapa kelainan yang terjadi pada otot adalah sebagai berikut. No Jenis Kelainan Keterangan Otot 1. Tetanus Kondisi otot yang mengalami kejang terus menerus. Penyebab penyakit ini karena infeksi bakteri clostridium tetani. Ketika terjadi luka bakteri ini bisa masuk melewati luka yang terbuka 2. Kram Otot berada dalam keadaan kejang. Keadaan ini antara lain disebabkan karena terlalu lamanya aktivitas otot secara terus menerus. 3. Hipertropi otot Suatu keadaan otot yang lebih besar dan lebih kuat. Ula ini

4.

5.

6. 7.

8.

disebabkan karen otot sering dilatih bekerja dan berolahraga. Hipertropi otot ini sering dimiloki oleh atlet binaragawan. Atropi otot Keadaan otot yang lebih kecil dan lemah kontraksinya. Kelainan ini disebabkan karena infeksi virus polio. Pemulihannya dengan pemberian latihan otot, pemberian stimulan listrik, atau dipijat dengan teknik tertentu. Stiff (kaku leher) Keadaan meradangnya otot trapesius. Hal ini disebabkan karena gerak hentakan secara tiba-tiba. Selain itu, stress yang berat akan membuat kejang otot leher dan punggung. Rasa sakit itu akan hilang jika stress sudah hilang. Hernia abdominal Kondisi usus melorot ke bawah, disebbkan oleh sobeknya dinding otot perut Fibriosis Pembentukan jaringan ikat fibrosa. Sesl-sel otot skelet ataupun alat jantung yang mati karena suatu sebab akan diganti oleh jaringan ikat karena sel-sel otot ini tidak mampu beregenerasi, sehingga otot-otot ini akan melemah Distropi otot Merupakan penyakit kronis pada otot sejak anak-anak, diperkirakan merupakan penyakit genetis (bawaan)

Uraian tersebut merupakan kelainan yang terjadi pada otot. Dengan penjelasan tersebut, kita dapat memberikan usaha preventif untuk menjaga kesehatan otot dan mengantisipasi jika terjadi kelainan pada otot. Usaha-usaha tersebut antara lain: 1. latihan otot dapat membuat otot menjadi kuat, sehingga dapat terhindar dari atrofi otot; 2. melakukan olahraga secara teratur; 3. aktivitas yang banyak menyebabkan otot lelah sehingga dapat mengakibatkan kram otot, untuk itu kita dapat mengatur aktivitas supaya tidak terjadi gangguan otot; 4. hindarilah stres berat dengan pola hidup yang benar.

Pemeriksaan Fisik Pada Ekstremitas


1.
1.1 Ekstermitas atas

Ekstermitas

Inspeksi : bagaimana pergerakan tangan,dan kekuatan otot Palpasi : apakah ada nyeri tekan,massa/benjolan Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot,melakukan pemeriksaan tonus kekuatan otot,dan tes keseimbangan. Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps Sensorik : apakah klien dapat membedakan nyeri, sentuhan,temperature,ra sa ,gerak dan tekanan.

1.2. Ekstermitas bawah

Inspeksi : bagaimana pergerakan kaki,dan kekuatan otot Palpasi : apakah ada nyeri tekan,massa/benjolan Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot,melakukan pemeriksaan tonus kekuatan otot,dan tes keseimbangan. Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps Sensorik : apakah klien dapat membedakan nyeri, sentuhan,temperature,ra sa ,gerak dan tekanan.

2.

Pemeriksaan Refleks

Repleks biasanya tidak terlalu singkat terjadinya pada klien yang lebih dewasa. Respon repleks pada ekstremitas bawah berkurang sebelum ekstremitas-ekstremitas atas terpengaruh (Seidel et al., 1991). Menimbulkan reaksi repleks memungkinkan perawat untuk mengkaji integritas jalur-jalur sensori dan gerak dari lengkung repleks dan segmen batang spinal spesifik. Pengujian refleks tidak berarti menentukan pungsi saraf pusat. Saat otot dan tendon di regangkan selama pengujian refleks, implus-implus saraf merambat sepanjang jalur saraf aferen ke bagian dorsal segmen batang spinal. Implus-implus bergerak ke saraf motor eferen dalam batang spinal. Kemudian sebuah saraf motor mengirim implus kembali ke otot dan menyebabkan respon refleks terjadi. 2.1. Pemeriksaan Refleks Otot Biseps Posisi pasien tidur terlentang dan siku kanan yang akan diperiksa, diletakan diatas perut dalam posisi fleksi 60 derajat dan rileks. Pemeriksa berdiri dan menghadap pada sisi kanan pasien. Carilah tendon biseps dengan meraba fossa kubiti, maka akan teraba keras bila siku difleksikan. Letakan jari telunjuk kiri pemeriksa diatas tendon otot biseps. Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan, diatas jari telunjuk kiri pemeriksa.

1. 2. 3. 4. 5.

6. Terlihat gerakan fleksi pada siku akibat kontraksi otot biseps dan terasa tarikan tendon otot biseps dibawah telunjuk pemeriksa. 2.2. Pemeriksaan Refleks Otot Triseps Posisi pasien tidur terlentang. Bila siku tangan kanan yang akan diperiksa, maka diletakan diatas perut dalam posisi fleksi 90 derajat dan rileks. Pemeriksa berdiri pada sisi kanan pasien. Carilah tendon triseps 5 cm diatas siku ( proksimal ujung olecranon ). Letakan jari telunjuk kiri pemeriksa diatas tendon otot triseps. Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan diatas jari telunjuk kiri pemeriksa. Terlihat gerakan ektensi pada siku akibat kontraksi otot triseps dan terasa tarikan tendon otot triseps dibawah telunjuk pemeriksa. 2.3. Pemeriksaan Refleks Tendon Patela Posisi pasien tidur terlentang atau duduk. Pemeriksa berdiri pada sisi kanan pasien. Bila posisi pasien tidur terlentang, lutut pasien fleksi 60 derajat dan bila duduk lutut fleksi 90 derajat. Tangan kiri pemeriksa menahan pada fossa poplitea. Carilah 2 cekungan pada lutut dibawah patela inferolateral/ inferomedial, diantara 2 cekungan tersebut terdapat tendon patela yang terasa keras dan tegang. Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan diatas tendon patella. Terlihat gerakan ektensi pada lutut akibat kontraksi otot quadriseps femoris. 2.4. Pemeriksaan Refleks Tendon Achiles Pasien tidur terlentang atau duduk. Bila pasien tidur terlentang pemeriksa berdiri dan bila pasien duduk pemeriksa jongkok disisi kiri pasien. Bila pasien tidur terlentang lutut fleksi 90 derajat dan disilangkan diatas kaki berlawanan, bila pasien duduk kaki menggelantung bebas. Pergelangan kaki dorsofleksikan dan tangan kiri pemeriksa memegang/ menahan kaki pasien. Carilah tendon achiles diantara 2 cekungan pada tumit yang terasa keras dan makin tegang bila posisi kaki dorsofleksi. Ayunkan reflek hammer diatas tendon achiles. Terasa gerakan plantar fleksi kaki yang mendorong tangan kiri pemeriksa dan tampak kontraksi otot gastrocnemius

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.