Anda di halaman 1dari 4

Kristenisasi Lewat Jalur Politik, Hadapi dengan POROS MASJID

Oleh: Hj.Irena Handono

"Salib itu kan perlambang hablumminallah dan hablumminannas seperti di Islam. Dan
salib itu juga lambang berserah diri, yang juga menjadi salah satu hakikat ajaran
Islam," jelas Asrianty Puwantini, caleg ’kontroversial’ PDS dari Jawa Timur.

Akhir-akhir ini heboh beredar di internet, televisi swasta, berita tentang caleg
wanita Partai Damai Sejahtera (PDS) yang memakai jilbab. Kemudian pertanyaan yang
mencuat adalah apakah ini merupakan salah satu dari upaya kristenisasi yang mana
mereka saat ini menempuh jalur partai politik?

Dengarlah apa yang disampaikan ahli etika Kristen Pendeta Dr.Verkuil yang berujar
bahwa berpolitik bagi warga gereja merupakan pengabdian kepada Kristus Kepala
Gereja. Dengan kata lain, kehadiran Kristen di panggung politik adalah suatu
panggilan yang wajib ditunaikan sebagai bentuk pertanggungjawaban iman.

Pecah belah suara umat Islam

Terbukanya kesempatan untuk membuat partai-partai baru di era reformasi, membuat


suara umat islam yang dahulu terkerucut pada satu partai yakni PPP (Partai
Persatuan Pembangunan) menjadi terpecah belah kepada sekian banyak partai. Kondisi
ini sejenak terasa bagaikan angin segar bagi perpolitikan di Indonesia namun
sesungguhnya justru sebaliknya. Disaat umat Islam sibuk dibingungkan dengan
berbagai partai, di iming-iming seolah-olah setiap orang bisa duduk di kursi
legeslatif. Sementara disisi lain umat kristen merapatkan diri hanya mendukung
satu partai. Ketika partai kristen ini melampaui jauh batas minimum suara untuk
dapatkan kursi legeslatif, maka partai-partai umat islam hanya mendapatkan suara
yang tidak memenuhi kuota, dan akhirnya tidak mampu menyaingi partai kristen untuk
berkuasa dalam parlemen.

Kita lihat saja, perimbangan keterwakilan kaum muslimin di parlemen sampai


sekarang ini masih jauh dari proporsional dibandingkan dengan kristen. Kalau
jumlah non muslim di negeri ini tidak lebih dari 20% maka semestinya jumlah mereka
di parlemen tidak lebih dari 20% pula. Tetapi kenyataan proses dan hasil pemilu
beberapa kali di negeri ini, kalangan kristen dapat masuk ke senayan bahkan dengan
menaiki kendaraan partai yang beraroma Islam.

Politik Kristen

”Berpolitik bagi warga gereja merupakan pengabdian kepada Kristus”, Pendeta


Dr.Verkuil.

Perlu diketahui bahwa Politik Kristen tidak menyangkut PDS saja. Di awal lahirnya
negara ini, ada Parkindo (Partai Kristen Indonesia), yang kemudian dimasa rezim
Orde Baru, Parkindo meleburkan diri dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia). Ketika
memasuki Era Reformasi diberikan kesempatan seluas-luasnya kepada warga negara
membentuk partai-partai politik, orang-orang Kristen pun tidak ketinggalan
menyambutnya. Mereka merasa berhak dan berkewajiban membentuk partai dengan nilai-
nilai kekristenan. Maka lahirlah belasan partai kristen, walau dalam Pemilu hanya
PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa) (1999) dan PDS (Partai Damai Sejahtera)
(2004) yang berhasil mengikutinya. Keduanya berhasil mendudukkan wakil-wakilnya di
DPR-RI.

Kristen secara politik mengenal sistem bipolar. Yang terdiri atas kutub
konsentrasi dan kutub polarisasi. Kutub konsentrasi, adalah dengan maksud bahwa
supaya ummat kristen punya perwakilan, mempunyai suara di legeslatif sehingga
berangkat dari pemikiran ini umat kristen harus punya partai. Umat kristen di
konsentrasikan untuk memilih PDS dengan tujuan agar PDS punya suara cukup besar
hingga memiliki kursi di parlemen.

Kutub polarisasi, adalah bahwa tidak semua tokoh kristen harus masuk PDS. Semua
tokoh kristen harus menyebar ke partai-partai yang ada untuk mewarnai,
mempengaruhi partai-partai yg lain. Partai-partai yang menjadi target ini adalah
partai-partai terbuka yang bisa menerima orang kristen. Hal inilah yang tidak
diketahui oleh umat Islam.

Kedua kutub tersebut bermuara pada sebuah lembaga yang disebut FKKI (Forum
Komunikasi Kristen Indonesia), lembaga tempat bersatunya seluruh kristen apapun
partainya. Jadi bukanlah mustahil jika dikatakan sesungguhnya partai kristen
mengetahui apa rahasia di partai-partai yang lain.

Maka sesungguhnya program kristenisasi yang berbahaya adalah program kristenisasi


secara tidak langsung. Partai kristen menyadari bahwa mereka secara jumlah adalah
minoritas, maka mustahil untuk meraih massa namun target mereka adalah ”Tidak
kuasai massa tapi kuasai sistem”. Sehingga cara yang diambil adalah bagaimana
masuk dalam partai-partai yang ada dan menguasai partai-partai tersebut. Jika
sistem mereka pegang maka mereka juga akan kuasai hal-hal yang lain dan otomatis
massa itu sendiri akan terkendalikan.

Caleg PDS berjilbab

Partai Damai Sejahtera (PDS) walaupun secara jelas menunjukkan identitasnya dengan
tanda gambar salib, namun terdaftar sebagai partai terbuka. Mereka membuka diri
bagi orang Islam dengan memberikan porsi 20% kepada kalangan muslim. Dan justru
yang dibidik adalah caleg dari kalangan muslimah. Mengapa demikian?

Ketika umat kristen akan menjalankan misinya ’mencari domba-domba tersesat’ dengan
jalan antara lain mendirikan gereja, mengadakan bakti sosial, dll, seringkali
mendapat ganjalan dari umat Islam dan terbentur dengan perundang-undangan yang
berlaku. Namun jika yang mewakili umat kristen ini adalah seorang muslim untuk
berhadapan dengan umat islam dan aparat pemerintah, maka hasilnya tentu akan lain.
Maka kita tidak heran jika di suatu daerah ada pendirian gereja ilegal namun
didukung mati-matian oleh tokoh muslim yang notabene dia ustad atau pimpinan
pondok pesantren.

Artinya, ada kesengajaan partai kristen dalam merekrut caleg muslim dengan tujuan
agar mereka menjadi ujung tombak untuk menentang syariat islam. Maka bukan orang
kristen sendiri yang harus berhadapan dengan para aparat pemerintah tapi orang-
orang muslim dalam partai kristen yg akan berhadapan.

Lalu apakah mungkin menyuarakan kepentingan umat Islam melalui partai kristen? Ini
adalah hal yang mustahil. Ketika seorang muslim menjadi caleg PDS maka mustahil
dia akan mampu memperjuangkan kebijakan-kebijakan demi kebaikan umat. Segala
perundangan yang berbau syariah secara tegas ditolak oleh partai kristen. Contoh,
Perbankan Syariah dan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Walaupun keduanya membawa
kemaslahatan bagi masyarakat secara umum, namun ditolak dengan alasan
’menggelikan’ bahwa NKRI bukan negara agama.

PDI-P sebagai partai sekuler dan PDS yang mengatakan sebagai partai kristen secara
konsisten mereka menolak syariah Islam untuk diterapkan oleh negara. Itu semua
mereka sampaikan secara terbuka dan tegas. Setiap UU yang melanggar prinsip
sekulerisme dan berbau syariah mereka tolak dengan gigih. Sekulerisme harga mati,
syariah Islam wajib ditolak! Sementara sikap politisi Islam masih terlihat segan
dan tidak tegas untuk katakan akan memperjuangkan syariah Islam. Bahkan terkadang
bicara syariah Islampun enggan.

Potensi umat Islam Indonesia

Jumlah pemilih di Indonesia pada tahun 2009 diperkirakan akan sebesar 171 juta
suara. Dari jumlah tersebut pemilih muslim adalah 88 persen yang berarti sekitar
150 juta suara.

Dalam Pemilu 1955 suara partai Islam yang diwakili Masyumi dan NU mencapai 55
persen melebihi partai Nasionalis (PNI) dan komunis (PKI) yang hanya 45 persen.
Tapi di Pemilu 1999 turun menjadi 38 persen, sementara di Pemilu 2004 makin turun
lagi menjadi tinggal 34 persen.

Perkiraan perolehan suara di Pemilu 2009 oleh berbagai lembaga survei,

- PPP hanya akan dapatkan 4,15 persen


- PKS hanya 4,07 persen (turun dari 7 persen di Pemilu 2004)
- PKB akan turun dan memperolah 5 persen (dari 12 persen di pemilu yang lalu)
- PAN kehilangan suara dan tinggal 4,7 persen

(Survei oleh LP3ES pada Maret 2009)

Maka total suara muslim dalam Pemilu 2009 hanya 17,29 persen. Lalu kemana jumlah
55 persen jika mengikuti hasil pemilu 1955?

Greg Fealy, peneliti dari Australia National University (ANU) mengatakan, suara
partai Islam pada Pemilu 2009 tidak akan sampai 20 persen. Hasil ini juga
diperkuat oleh hasil survei LSI pada September 2008, suara partai Islam hanya 17
persen.

Masih menurut hasil penelitian para lembaga survei, maka diperkirakan suara umat
Islam akan masuk pada partai-partai terbuka / partai-partai nasionalis seperti
Golkar, Partai Demokrat dan PDI-P yang akan mendapatkan peningkatan perolehan
suara dibanding pemilu tahun lalu.

Jika umat Islam bekerja dengan baik, mengambil hikmah masa lampau di masa yang
sulit ini karena perpecahan akibat banyaknya partai, sebenarnya umat Islam masih
mempunyai peluang untuk menangkan Pemilu Pilpres. Karena jumlah pemilih muslim
sesungguhnya adalah 88 persen.

Sebagai partai pendukung syariah, maka partai islam memiliki prospek cerah untuk
didukung mayoritas rakyat Indonesia. Sebab ada kencenderungan nyata dikalangan
umat Islam yang semakin teguh pilihannya untuk kembali pada syariah Islam.
Sejumlah survei memperlihatkan bahwa dukungan masyarakat pada penerapan syariah
Islam dari hari ke hari makin menguat.

Survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah tahun 2001 menunjukkan, 57,8% responden
berpendapat bahwa pemerintahan yang berdasarkan syariah Islam adalah yang terbaik
bagi Indonesia. Survey tahun 2002 menunjukkan sebanyak 67% (naik sekitar 10%)
berpendapat yang sama (Majalah Tempo, edisi 23-29 Desember 2002). Survey tahun
2003 menunjukkan sebanyak 75% setuju dengan pendapat tersebut.

Sebanyak 80% mahasiswa memilih syariah sebagai pandangan hidup berbangsa dan
bernegara (Hasil survey aktivis gerakan nasionalis pada 2006 di Universitas
Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas
Airlangga, dan Universitas Brawijaya, Kompas, 4/3/'08).

Survey Roy Morgan Research yang dirilis Juni 2008 memperlihatkan, sebanyak 52%
orang Indonesia mengatakan, syariah Islam harus diterapkan di wilayah mereka. (The
Jakarta Post, 24/6/'08). Survey terbaru yang dilakukan oleh SEM Institute juga
menunjukkan sekitar 72% masyarakat Indonesia setuju dengan penerapan syariah
Islam.

Poros Masjid

Porsi pemilih muslim diperebutkan sedemikian rupa. Partai-partai berbasis Islam


makin banyak. Partai-partai nasionalis dan sekuler tapi membungkus diri dengan
asesoris-asesoris muslim juga makin banyak. Sementara seperti slogan mereka
”menjadi garam dunia”, tokoh-tokoh kristen sudah menyebar di setiap partai untuk
berperan menentukan kebijakan masing-masing partai yang dimasukinya.

Apa yang akan terjadi pada muslim di Indonesia hingga lima tahun kedepan kelak?
Akankah ada kesempatan memenangkan syariat Islam jika sistem dikuasai oleh mereka?
Mustahil! Namun kita masih mempunyai kesempatan jika mau merubahnya sekarang.

Pembentukan koalisi partai-partai berbasis Islam sepertinya kecil kemungkinan


untuk berhasil menyelamatkan suara pemilih Islam yang terebut oleh partai-partai
non islam. Dan perlu diingat bahwa jumlah pemilih Golput juga cukup signifikan.
Untuk menyelamatkan ini semua (88 persen suara umat Islam) perlu ditempuh suatu
upaya, sebuah gerakan nyata dari ummat Islam, lepas dari jalur partai. Sebelum
memasuki pemilu, untuk memilih presiden dan wakil presiden, umat Islam harus
terlebih dahulu menentukan calon Presiden dan wakil presiden yang diinginkan.
Dengan cara demikian suara umat Islam akan utuh dan kemenangan bisa diraih.
Bagaimana teknis penentuan, siapa penyelenggaranya dan dimana dilaksanakan? Bisa
dilakukan melalui masjid-masjid dengan membentuk POROS MASJID.

Sikap umat Islam di Pemilu 2009

Islam dengan seluruh ajarannya, mengatur semua aspek kehidupan umat manusia. Tidak
hanya sebatas mengatur ‘ibadah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan
sesamanya (mu’amalah), termasuk pengaturan sistem pemerintahan dan ketatanegaraan.
Tujuannya mewujudkan kemaslahatan umat, tegaknya nilai-nilai keadilan di bumi.
Jika nilai-nilai kemaslahatan dan keadilan itu diabaikan, maka sungguh akan
terjadi berbagai bentuk diskriminasi, penindasan dan kezaliman.

Maka, satu-satunya jalan untuk memperbaiki kondisi Indonesia, mewujudkan


kemaslahatan bagi umat : Pada pemilu legeslatif, jangan memilih partai yang
membuka diri pada caleg kristen. Tapi partai yang berjuang teguh menegakkan
syariat Islam! Bentuk POROS MASJID untuk tentukan calon pres dan wapres yang
benar-benar diinginkan oleh umat Islam. Melalui POROS MASJID, ummat bersatu untuk
pilih hanya satu pasangan.

InsyaAllah.