Anda di halaman 1dari 45

BAB I

TINJAUAN UMUM PALYNOLOGY

Palinologi adalah studi mengenai polen dan spora tumbuh-tumbuhan, di


dalamnya terdapat juga acritrarchs dan dinoflagellates. Menurut Fide dan Williams
(1944), palynology berasal dari perkataan palynos yang artinya debu, karena ukuran
polen menyerupai debu. Menurut Erdtman (1966), palynology merupakan studi polen
dan spora, studi ini berkisar pada morfologi butir polen dan spora tetapi tidak meliputi
bagian dalamnya.
Polen atau serbuk sari merupakan butir halus berwarna kuning yang dihasilkan
oleh tumbuhan berbunga (Spermatpphyta). Tumbuh-tumbuhan dari kelompok
spermatophyta pada musim berbungan akan menghasilkan polen sebagai sel kelamin
jantan. Di saat proses pembuahan butir-butir polen akan disebarkan baik oleh angin,
serangga atau air hujan, tetapi tidak semua sel kelamin jantan ini dapat membuahai sel
kelamin betina. Sebagian besar polen-polen tersebut tidak dapt mencapai tujuannya untuk
proses penyerbukan. Polen-polen yang tidak mencapai sel kelamin jantan akan jatuh dan
ikut terendapkan di sungai, rawa-rawa, danau, lagoon sampai zona litoral.
Spora dihasilkan oleh tumbuh-tumbhan dari kelompok Ptrophyta, Bryophyta, dan
sebaian Thallophya. Golongan Pterophyta (paku-pakuan), ada yang menghasilkan dua
jenis spora (heterospore). Spora jantan memiliki ukuran lebih kecil dari spora betina.
Terdapat kelompok lain dari thallophyta yang menghasilkan spora sama ukurannya,
sehingga tidak dapat dibedakan antara jantan dan betinanya, spora demikian disebut
isospora, pada umumnya isospora ukurannya sangat kecil.
Acritrachs merupakan organisme uniseluler dari lingkungan laut. Kelompok ini
belum masuk dalam klasifikasi mahluk hidup. Bentuk dari acritarchs umumnya
triangular, circular, ovoid dan fusiform.
Dinoflagellate, merupakan organisme uniseluler yang hidup dilingkuan air,
bersifat motile dan heterotrophic, parasitic atau photosyntethetic. Secara umum memiliki
dua jenis flagel, jenis satu dengan sulkus yang melingkar dan jenis yang kedua
longitudinal dengan orientasi posterior.

1
Aplikasi palinologi dalam bidang geologi meliputi penarikan umur relatif batuan,
studi paleoekologi, biostratigrafi dan studi kematangan minyak.

1.1. Klasifikasi Tumbuhan

Secara garis besar tumbuh-tumbuhan dikelompokan menjadi dua golongan yaitu;


tumbuhan non vascular dan tumbuhan vascular:

Tumbuhan non vaskular:


Divisi Bryophyta
Divisi Hepatophyta
Divisi Anthocerphyta
Tumbuhan
Tumbuhan Vaskular :
Tumbuhan vascular tak berbiji terdiri:
Divisi Licophyta
Divisi Sphenophyta
Divisi Pterophyta
Tumbuhan vascular bebiji:
Gymnpospermae meliputi
Divisi Coniferophyta
Divisi Cicadophyta
Divisi Ginkgophyta
Divisi Gnetophyta
Angiospermae hanya satu divisi
Divisi Anthophyta

( Campbell dan Reece dan Mtchell, 1999)

Dalam diktat ini hanya tampilkan beberapa contoh proses reproduksi yang dianggap
mewakili untuk studi palinologi, dari tumbuhan non vascular dan tumbuhan vascular.

1.Bryophyta
Anggota yang paling popular dari divisi Bryophyta adalah lumut. Terdapat
Bryophta yang telah mamiliki susunan sel yang berfungsi seperti pembuluh (Xylem dan
Phloem), walaupun bukan sebagai pembuluh sejati. Dalam proses reproduksi sel
gametofit (N) pada lumut akan membentuk zygote (2N), dan mengalami pembelahan

2
miosis menjadi spora. Perkecambahan spora akan menghasilkan rumpun baru dari
gametofit. Spora yang tidak mampu berkecambah ini akan tersimpan dalam sedimen.

Gambar 1.1. Proses reproduksi lumut

3
2.Pterophyta
Pterophyta lebih dikenal dengan tumbuhan pakis. Daun pada tumbuhan pakis
dinamakan fronds, biasanya tumbuh langsung dari rhizoma. Dalam tumbuhan paku ,
sporangia (kantong spora) terbentuk dari bagian bawah daun vegetatif yang berwarna
hijau. Sel-sel dalam sporangia mengalami proses miosis membentuk spora haploid yang
akan disebarkan ke udara, pada kondisi yang memungkinkan spora tersebut akan tumbuh
berkambang menjadi gametofit. Organ jantan dan betina berkembang di bagian bawah
gametofit. Gamet jantan berupa sperma berflagel, di lingkungan lembab/berair akan
berenang menuju sel telur, sehingga terbentuk zygote yang akan tumbuh menjadi sporofit
baru.

Gambar 1.2. Proses reproduksi Pterophyta (pakis)

4
3.Gymnospermae

Kelompok Gymnosperma dikenal dengan istilah tumbuhan biji terbuka. Sebagian


besar dari kelompok Gymnosperma polennya memiliki kantung udara (wing/succ),
sehingga proses reproduksinya tidak tergantung terhadap keberadan air di udara. Angin
merupakan alat perantara yang menerbangkan polen untuk mencapai sel telur. Sebagai
contoh pada pinus, bunga jantan pinus (Pinnus mercusii) yang merupakan untaian dan
sangat banyak mengandung benang sari, bunga betina berbentuk kerucut (stobilus).
Dengan bantuan angin polen dari bunga jantan akan diterbangkan untuk menyerbuki
bunga betina. Dengan adanya kantong udara polen pinus ini akan diterbangkan jauh

1.3.Proses reproduksi Gymnosperma (Pinnus mercusii)

5
4. Angiospermae
Disebut juga tumbuhan berbunga. Angiospermae ditandai dengan adanya bunga
yang tersusun dari bunga jantan dan bunga betina dalam satu tangkai bunga. Butir-butir
polen dalam benang sari mengelilingi bunga betina disekitar sisinya. Angiospermae
dikenal juga dengan tumbuhan berbiji tertutup, yang menunjukan adanya perkembangan
buah dari bagian bunga betina. Keistimewaan angiospermae adalah adanya pembuahan
ganda. Polen melepaskan dua inti sperma, satu inti akan membentuk zygote yang akan
berkembang membentuk embrio, inti lain membentuk cadangan makanan.

6
1.4.Proses reproduksi tumbuhan angiospermae

7
BAB II
MORFOLOGI

Butiran polen memiliki karakter yang spesifik yang tediri atas bentuk, aperture,
sclupture/ornamentasi dinding, simetri dan ukuran. Menurut Blackmore (dalam Hesse
dan Ehrendorfer, 1990) perbedaan karakter morfologi polen dapat digunakan untuk
identifikasi jenis, kontruksi klasifikasi atau interpretasi filogenetik.
Untuk mempelajari morfologi polen, spora, acritarchs dan dinoflagellate
membutuhkan miroskop yang memiliki perbesaran mencapai (1000X), karena ukurannya
yang sangat kecil, bahkan ada yang kurang dari 10 μ.

2.1. Morfologi polen

Morfologi polen yang penting untuk dijadikan pedoman identifikasi/diskripsi meliputi


bentuk polen, ukuran, simetri, aperture (jumlah dan bentuknya), dan ornamentasi pada
dinding polen

Gambar 2.1. Morfologi Umum polen (Sewyer, 1981)

8
A.Bentuk polen
Erdtman (1966), pengelompokan bentuk polen bedasakan atas perbandingan antara
sumbu polar (P) dengan sumbu equatorialnya (E). Sumbu polar merupakan sumbu rotasi
dan sumbu equatorial tempat keberadaan apertur. Adapun Moore dan Webb (1978),
menggambarkan sumbu ekuatorial dan polar sbb:

Gambar 2.1.A. Sumbu ekuatorial dan polar dari polen

Berdasarkan perbandingan ukuran sumbu polar dan ekuatorial tersebut polen


dikelompokan menjadi:

Bentuk polen Perbandingan P/E

Peroblate <4/8
Oblate 4/8 – 6/8
Subspheroidal 6/8 – 8/6
Suboblate 6/8 – 7/8
Oblate spheroidal 7/8 – 8/8
Prolate spheriodal 8/8 – 8/7
Subprolate 8/7 - 8/6
Prolate 8/6 – 8/4
Perprolate >8/4

9
B. Simetri polen
Reitsma (1970), mengelompokan simetri polen berdasarkan kenampakan ekuatorial dan
polar . Dalam tampak polar maupun tampak ekuatorial yang menjadi pembeda adalah ada
atau tidaknya sudut dalam polen, diikuti dengan bangun dari polennya.

10
11
Gambar 2.1.B. Simetri polen tampak polar dan ekuarorial (Reitsma ,1970)

C. Ukuran polen
Ukuran polen penulis yang sama membaginya menjadi sangat kecil <10μ, kecil 10-
25 μ, medium 25-50μ, besar 50-100 μ, sangat besar 100-200μ, giganta > 200μ.

D. Aperture

Berdasarkan fungsinya aperture pada polen sebagai pintu keluarnya cairan sel dalam
proses pembuahan. Thanikaimoni (dalam Blackmore dan Ferguson, 1986), menjelaskan
bahwa secara morfologis aperture adalah daerah eksin yang terbuka dan tipis, ditempat
ada initin biasanya menebal. Secara fisiologis aperture merupakan zona germinasi, bisa
juga organ yang mengatur mekanisme perubahan volume.
Berdasarkan bentuknya apertur dikelompokan menjadi empat bentuk, tetapi yang
paling sering dijumpai adalah bentuk kolpus/colpus dan porus. Pembagian bentuk
apertur sbb:
1. Sulkus/sulcus, berupa kerutan atau celah yang menanjang, tegak lurus terhadap sumbu
yang membujur, terdapat di zona polar (terdapat pada palmae)
2. Kolpus/colpus, berupa celah atau torehan yang memanjang dengan sudut tegak lurus
terhadap bidang ekuator
3. Ruga, berupa celah atau kerutan yang memanjang dengan arah yang berbeda dengan
tipe colpus dan sulcus
4. Porus, berupa pori atau lubang bundar

Dalam satu polen bias terdapat dua macam apertur secara bersama-sama, seperti colpus
dan porus maka disebut colpors. Sering terjadi variasi dari apertur, seperti adanya
penebalan, Moore dan Webb (1978) menggambarkannya sbb:

1. Costa (A), penebalan disekitar neksin pada endoapertur


2. Vestibulum (B), antar seksin dan neksin terpisah disekitar apertur yang berupa porus

12
3. Annulus (C), penebalan seksin pada ektoporus
4. Operculum (D), di bagian tengah apertur terdapat membran tipis eksin

5. Costae (E), penebalan yang terjadi disekitar neksin


6. Margo (F), penebalan disekitar colpus

Gambar 2.1.D. Variasi yang terjadi pada apertur (Moore dan Webb, 1978)

13
E. Jumlah apertur
Disamping bentuk apertur, jumlah apertur menjadi bagian dalam identifikasi dan
diskripsi. Moore dan Webb (1978), membuat pengelompokan berdasarkan jumlah
apertur, bentuk apertur dan zona penyebaran dari aperture sbb:

2.1.3. Klasifikasi apertur beradasrkan jumlah dan sebarannya

14
D. Ornamentasi/sclupture/hiasan

Dinding luar polen (eksin), terdiri dari dua lapisan, yakni lapisan luar disebut
ekteksin dan lapisan dalam disebut endeksin. Dinding polen (eksin) yang tersimpan
menjadi fosil. Di bagian luar lapisan eksin tersebut terdapat hiasan
(ornamentation/sclupture) yang penting untuk diskripsi polen. Moore dan Webb
(1978), membagi bentuk ornamentasi sbb:
Psilate : bila permukaan polen halus
Verrucate : bila polen atau spora mempunyai tonjolan seperti kutil, biasanya
tonjolan
lebarnya lebih besar dari tingginya
Echinate : bila ornamentasinya menyerupai duri
Striate : bila ornamentasinya memanjang dengan pola paralel
Reticulate : polen atau spora memiliki pola ornamentasi seperti jarring-jaring
Rugulate : apabila elemen ornamentasinya memanjang kesamping dan tidak
teratur
Clavate : tonjolan ornamentasinya melebar dibangian pangkal
Perforate : ornamentasinya berupa lubang-lubang dengan diameter kurang dari
satu
mikrometer
Gemmete : ornamentasinya baik lebar maupun tinggi tonjolannya sam
ukurannya
dan mengkerut pada bagian dasarnya
Scabrate : memiliki proyeksi elemen dengan diameter lebih dari satu
micrometer
dan menyerupai granua sehingga disebut juga granulate

15
2.1.4. Terminologi eksin menurut: A. Faegri (1956), B. Reitsma (1970)

16
Gambar 2.1.5. Ornamentasi polen menurut (Moore dan Webb, 1978)

17
2.2. Morflogi spora

Morfologi spora meliputi bentuk, ukuran, simetri, apertur, dan ornamentasi. Untuk
ornamentasi spora pola yang dipakai dalam polen dapat pula digunakan di spora.
Morfologi umum spora menurut Robert H. Tschudy dan A.Scott dan R. Scott (1969)

Gambar 2.2.1. Morfologi spora

A..Bentuk spora

Bentuk umum spora lebih sederhana dari polen. Dalam hal bentuk terminology untuk
polen juga dapat digunakan dalam spora, hanya saja terbatas pada bentuk dasar elliptic
untuk spora monolate dan triangular/circular untuk spora trilate. Bentuk spora sangat
tergantung kepada jumlah aperturnya. Di bawah ini dicantumkan contoh-contoh bentuk
spora dari Robert H. Tschudy dan A. Scott dan R.A. Scott (1969).

18
Gambar 2.2.A. Bentuk –bentuk spora

19
B. Ukuran spora
Ukuran spora yang lazim berkisar 0,5 μ – 200 μ, untuk megaspora dapat mencapai
lebih dari 200 μ.

C. Simetri
Simetri pada spora dapat pula menggunakan pola simetri pada polen sebagaimna
Digambarkan dalam morfologi umum spora di uraian sebelumnya.

D. Aperture
Spora yang sederhana tidak memiliki apertu (alete) atau inaperturet. Untuk spora yang
Memiliki apertur hanya dikelompokan kepada dua jenis, yaitu spora dengan satu aper-
tur disebut monolate, dan spora dengan tiga apertur disebut trilate. Apertur pada spora
dusebut leasure, yaitu bentuk sutura atau alur.

E. Ornamentasi
Terminologi sclupture atau hiasan pada spora sama dengan yang digunakan dalam ter-
minologi hiasan dalam polen.

2.3.Morfologi acritarchs
Acritrach ditemukan dalam sedimen dari Precambrian hingga resen. Merupakan
organismen uniseluler yang hidup di laut. Komposisi dinding cangakangnya terbentuk
dari semacam asam lemak (fatty acids), menyerupai zat sporopolenin dari tumbuhan
vasculuar

20
1.Triangular cyst (Verhachium)

21
22
23
BAB III
MEDIA FOSIL POLEN DAN SPORA

Polen dan spora sangat peka terhadap pengaruh oksigen. Proses oksidasi akan
segera merusak polen dan spora begitu terjadi kontak dengan udara. Bakteri dan jamur
dapat menghancurkan polen dan spora dalam sedimen sebelum benda tersebut sempat
terfosilkan. Sebaliknya polen dan spora tahan terhadap pengaruh asam, terutama batuan
yang berkadar asam rendah (pH <6), merupakan media penyimpanan polen yang baik.
Di dalam kondisi lingkungan asam bakteri dan jamur sulit untuk dapat hidup, sehingga
polen dan spora memiliki kesempatan untuk terfosilkan lebih besar. Sebagai petunjuk
pada batuan yang mempunyai tingkat keasaman tinggi baik untuk untuk mencari fosil
polen/spora. Demikian juga pada batuan yang banyak mengandung unsure-unsur halogen
(Cl, Br )., polen/spora dapat tersimpan dengan baik. Batugamping tidak baik untuk
penyimpanan polen, sedangkan lapisan garam, gambut dan batubara polen dapat
tersimpan denganbaik. Khusus untuk gambut dan batubara karena pembentuknya adalah
material organic dari tumbuhan maka polen.spora merupakan bagian dari endapan
tersebut.
Semua batuan sedimen yang berwarna merah atau coklat sangat sulit untuk
ditemukan polen/spora didalamnya. Warna merah atau coklat dari sedimen merupakan
indikasi telah terjadi oksidasi dari besi ( Fe++ ------- Fe+++, dalam kondisi demikian
oksigen berperan dalam proses oksidasi yang akan menghancurkan polen dan spora.
Pada batupasir sulit ditemukan polen/spora karena banyak okigen didalamnya.
Lokasi yang baik untuk penelitian polen dan spora anatra lain adalah danau atau
bekas danau. Danau merupakan cekungan yang ideal untuk menampung polen/spora dari
vegetasi yang ada disekitarnya. Di wilayang yang memiliki iklim dingin endapan es
merupakan objek yang baik untuk penelitian polen. Di bawah ini dicantumkan
bagaimana hubungan antara lotologi dengan karakteristik polen yang dikandungnya
berdasarkan hasil penelitian Morley (1991).

24
Hubungan Lingkungan Sedimentasi , Litologi ,
Dan Karakteristik Polen/spora Yang Dikandungnya (Morley, 1991)

Lingkungan Litologi Karakteristik


Sedimentasi Palinologi

Laut dangkal Lempung Kandungan poleb mangrove cukup


Pasir halus banyak, jenisnya> 40%, palmae
Cangkang <15%, polen jenis lain <30%, ke-
Ragaman jenis rendah sampai se-
dang, sedikit spora

Delta, lagoon Lempung, Kandungan polen mangrove se-


estuarin pasir halus dang, sampai kaya, mangrove .40%
sedikit kerikil banyak Sonneratia, Palmae
sisa tumbuhan 15-35%, spora jenisnya cukup
ba-
kadang cangkang nyak

Mangrove Lempung, pasir Kandungan polen sedang sampai ,


Halus, gambut , kaya, polen mangrove
mencapai
Sedikit pasir >40%,Rhizophora .50%,
Palmae
dan kerikil, <10%, keragaman jenis
rendah
sisa tumbuhan sampai sedang, spora rendah
dan cangkang

Belakang Lempung, pasir Kandungan polen sedang sampai


Halus, pasir, dan kaya, jenis polen mangrove sedikt
Sedikit kerikil Rhizophora <40%, Palmae banyak

25
a.l: Oncosperma, Phoenix, Nypa,
Calamus, banyak pandanaceae,

Lingkungan Litologi Karakteristik


Sedimentasi Palinologi
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
- keragaman polen sedang
sampai
tinggi, spora sedang sampai tinggi

Rawa air tawar Gambut, lempung, Kandungan polen sedang sampai


Pasir halus, pasir, banyak, tidak ada polen mangrove
Sedikit kerikil sedikit palmae, banyak jenis po-
len: Eugenia, Macaranga, Poaceae
Pandanus, Euphorbiaceae, Rubia-

Ceae, dll. keragaman polen tinggi

Rawa gambut Gambut Kandungan polen sangat banyak,


sangat sedikit polen mangrove,
dan Palmae tertentu saja. Banyak
dijumpai tipe polen: Ilex, Rubia-
ceae, Stremonurus, Rubiaceae
Camnosperma dll.
Keragaman
polen tinggi, spora rendah sampai
sedang

26
BAB IV
SEJARAH POLEN DAN SPORA

4.1. Spora/Polen Paleozoikum dan Mesozoikum

Kelompok tumbuhan Pteridophyta pertama kali muncul pada Paleozoikum Bawah


(Silur). Bentuk sporanya sangat sederhana dari tipe monolate, trilate tanpa ornamentasi
(psilate).
Pada zaman karbon seluruh kelompok utama tumbuhan penghasil spora dari
Pteridophyta ditemukan. Di periode tersebut secara bersamaan mulai tumbuh dari
kelompok Gymnospermae sebagai pionir.
Pada zaman Triasik kelompok tumbuhan Gymnospermae melimpah, dan seluruh
tipe polen yang memiliki saccate (kantong udara/sayap) yang utama ditemukan. Juga
terdapat Gymnospermae yang saat ini sudah jarang ditemukan dari yang polyplycate.
Kelompok Ephedra umum terdapat di Afrika dan Amerika Selatan pada waktu itu,
dimana Atlantik belum terpisah.
Polen dari tumbuhan Angiospermae yang pertama adalalah Clavatipollenites
yang berumur Jura Atas. Angiospermae selama zaman kapur secara perlahan berkembang
menggeser tumbuhan Gymnospermae. Pada zaman Kapur Atas kelompok Normapolles
(polen dengan triaperturate) dan Aquilopllenites merupakan polen utama.

4.2. Spora/Polen Tersier

27
Pada zaman tersier terlihat perubahan bertahap terfadap tumbuh-tumbuhan
dipermukaan bumi ini. Perubahan ini merupakan perkembangan yang hampir pesat,
hingga mencapai puncaknya memasuki zaman Kuarter. Beberapa tipe polen modern telah
ada pada kala Eosen, misalnya Spiniconocolpites echinatus (Nypa fruticans), dan ketiga
jenis dari genus Nothofagus (Nothofagus brassii, Nothofagus fusca, Nothofagus
menzeisii), ketiga jenis ini menggambarkan pergerakan besar dari daratan yang terus
menerus selama zama Tersier, khususnya sebelah utara benua Australia
Di Asia Tenggara, Eosen Atas dikarakteristikan oleh munculnya spora dari paku-
pakuan seperti Stenochlaena palustris.
Kala Oligosen terjadi pemunculan pertama dari jenis Florscuetzia levipoli, ini
merupakan polen yang beasal dari lingkungan back mangrove.
Pada kala Miosen Atas penciri yang penting adalah Alangium havillandii. Untuk
penciri kala Pliosen adalah jenis Stenochlaena laurifolia, dan puncaknya adalah
Dacrycarpus imbricatus.

4.3.Zaman Kuarter di Wilayah Asia Tenggara

Di wilayah Asia Tenggara zaman Kuater ditandai oleh pemunculan jenis polen tri
saccate seperti Dacrycarpus imbricatus. Tepatnya pada Pliosen bagian atas ditandai
dengan pemunculan bi-saccate polen dari jenis Phyllocladus hypophyllus dan kepunahan
dari Stenochlaena laurifolia.

Zaman Kuarter (± 2 juta tahun) adalah terlalu pendek untuk memungkinkan


terjadinya evolusi tumbuhan. Walaupun demikian terjadi perubahan suhu, curah hujan,
dan perubahan muka air laut yang cukup tahjam. Di wilayah panas telah terjadi sekurang-
kurangnya delapan kali glasiasi, di Asia Tenggara hal tersebut mengakibatkan
munculanya paparan Sunda dan Sahul.

28
Di pegunungan wilayah Asia Tenggara, zona ketinggian vegetasi berkurang.
Batasa hutan di Papua New Guinea rata-rata berkisar antara 3800 – 2200 meter diatas
permukaan laut, terendah 1600 meter. Garis salju terendah adalah 1000 meter.

Di Sumatera batas bawah dari hutan Dacrycarpus adalah 800 meter. Pola
perubahan adanya perubahan zona vegetasi ini dapat diterangkan dengan menggunakan
gradien temperatur.

4.4. Zaman Kuarter Di Wilayah Tropik Afrika Dan Amerika Latin

Bukti tentang zaman Kuarter yang dingin diperoleh dari pegunungan. Di


Kolombia batas hutan dimulai pada ketinggian 1600 meter. Hal serupa terjadi di Afrika
Timur.

Banyak fakta bahwa dataran rendah merupakan daerah kering. Danau Victoria
lebih kering dibandingkan dengan daerah disekitarnya, demikian juga dengan Sungai Nil.
Vegetasi di sekitar danau yang merupakan savanna diganti dengan hutan.. Bukti juga
ditemukan di danau Besumtwi, di Afrika Barat.

Di Surinam vegetasi pantai yang muncul adalah hutan back mangrove/zona


belakang mangrove. Setiap terjadi perubahan muka air laut, vegetasi mangrove akan
mundur sesuai dengan garis pantai, tetapi jika musim kering vegetasi berganti menjadi
savanna.
Bukti di Amazon menunjukkan adanya kemunduran hutan hujan selama
Pleistosen.

4.5. Zonasi Umur Palynology

29
Berdasarkan hasil penelitian sejarah perkembangan polen/spora maka telah dibuat
zonasi umur palynology yang dapat digunakan untuk pembuatan umur relatif. Ada
beberapa peneliti yang membuat zonasi umur diantaranya Germeraad, Hoping dan Muller
(1968), tetapi disini akan ditampilkan zonasi dari Morley (1991), karena zonasi ini
berdasarkan penelitian di wilayah Asia Tenggara, sehingga lebih cocok untuk
diaplikasikan di Indonesia.

30
31
BAB V
VEGETASI HUTAN TROPIK

5.1. Vegetasi Hutan Hujan Tropik

Hutan hujan tropik adalah hutan yang berada di wilayah tropik dengan curah
hujan per tahun berkisar antara 200-400 cm,atau rata-rata 250 cm. Temperatur udara
cukup tinggi dan stabil tiap tahun dengan rata-rata 25-26 ºC, atau rentang kisaran 20-
30ºC. Polunin (1957), membagi hutan hujan tropik menjadi empat wilayah geografi:
1.Wilayah Amazonian di Amerika Utara, meliputi Caribbean, wilayah teluk Mexico,
Brazil, Columbia dan Ekuador.
2.Wilayah sekitar ekuator di Afrika tengah dan timur
3. Wilayah India barat dan Ceylon
4. Wilayah Malayan meliputi; utara ke Himalaya, timur-laut ke Indo-china dan
Philipina, ke selatan dan timur Indonesia dan Papua New Guenia ke Fiji hingga berba-
tasan dengan timur Australia.
Bila melihat pembagian wilayah tersebut Indonesia termasuk dalam wilayah
Malayan dan sekitarnya. Posisi Indonesia yang berada di wilayah Asia Tenggara, dengan
rata-rata curah hujan diatas 250 cm per tahun merupakan wilayah tropik basah, yang
mana hutan sepanjang tahun dapat memperoleh curah hujan dan tetap hijau .
Struktur flora hutan hujan tropik sangatlah beragam. Tingkat indeks diverstasnya
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan struktur flora dari wilayah temperate (wilayah
klim sedang). Sebagai contoh struktur flora dari pulau Kalimantan dari zona ketinggian
± 900m antara lain terdiri dari Agatis alba, Dacrydium elatum, Podocarpus neriifolius,
Tristania merguensis, Myrsyna porteriana, Elaeocarpus grifithii, Eugenia polita, Eugenis
subdecussata, Dispyros, Canthium didymun, Erybotria, parastemon urophyllum,
Trenstromia japonica.

Withmore (1975), telah membuat zonasi hutan hujan tropik berdasarkan elevasi
dari posisi geografi, dengan mencantumkan jenis-jenis flora yang mendominasi dari
setiap zonannya sbb:

32
Tinggi tempat (m) Tipe vegetasi Struktur flora
>3000 Hutan hujan tropik Monoton, dominasi
sub alpin rerumputan/mirip padang
rumput, jenis yang spesifik
a.l: Agrostis, Juncus, Carex,
Scripus
1500-3000 Hutan hujan tropik Didominasi oleh
pegunungantinggi Monocotyledon al:
Dacrycarpus imbricatus,
Vaccinium, Rhododendron,
Malaleuca, Schima walicii,
Tumbuhan epipit usnea
(yellow Green Lichen)
1200-1500 Hutan hujan tropik Fagaceae(Castanopsis,
pegununganrendah Quercus) Persea, Altingia
exelsa, Celtis,
Cinnamomum burmansea,
<1200 Hutan hujan tropik Keragaman tinggi a.l:
dataran rendah Leguminosae,
Dipterocarpus haseltii.
Koopsia exelsa, Koopsia
malaccensis.

5.2. Hutan Mangrove

Di wilayah tropik basah disamping terdapat hutan hujan tropik dijumpai pula
hutan mangrove. Ada beberapa pemahaman tentang mangrove, istilah ini sering
digunakan untuk vegetasi, tetapi juga dapat dipakai sebagai habitat atau tempat hidup dari
vegetasinya. Tomlinson (1986) dan Wightman (1989), mendefinisikan mangrove baik
sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas.
Sementara Saenger dkk (1983) mendefinisikan mangrove sebagai sebagai formasi

33
tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung.
Tetapi Soerianegara (1987) memberi batasan kepada mangrove sebagai hutan yang
tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi
oleh pasang surut air laut, yang terdiri dari genus Avicennia, Sonneratia, Rhizophora,
Ceriops, Lumnitzera, Exoecaria, Xylocarpus, Aegiceras, Scyphyphora dan Nypa.

5.3. Lingkungan Pengendapan Polen/spora

Berdasarkan lingkungan hidup dari tumbuh-tumbuhan tersebut Haseldonckx


(1974) dan Morley (1977) mengelompokan lingkungan pengendapan polen/spora
menjadi beberapa macam berdasarkan taksa pencirinya:
1.Mangrove
Merupakan hutan pantai di daerah delta yang sering digenangi air payau, taksa penciri
mangrove adalah Rhizophora, Sonneratia dan Avicennia.

2.Back Mangrove
Merupakan daerah belakang sabuk mengrove, daerah peralihan antara mangrove dengan
rawa air tawar. Taksa pencirinya adalah Brownlowia, Nypa, Canthium, Acrostichum dan
Oncosperma

3.Peat swamp/Alluvial swamp


Rawa gambut adalah daerah yang selalu basah dengan pengaruh laut.Taksa penciri dari
lingkungan ini adalah Durio, Sapotaceae,Chepalomappa Shorea, Calophyllum,. Pada
alluvial swamp lebih banyak Pteridophyta.

4.Riparian
Merupakan daerah disekitar pinggir sungai. Taksa penciri lingkungan ini adalah
Baringtonia racemosa, Marginipollis concinus, Ilex, Striaticolpites Catatumbus dan
Myrtacidites

5.Rawa Air Tawar

34
Lingkungan berupa genamgan air tawar, kaya mineral dengan Ph 6 atau lebih, permukaan
air selalu naik turun dan pengeringan sering terjadi. Air genangan dapat berasal dari air
hujan atau limpahan sungai akibat pasang naik air laut. Jenis taksa yang umum ditemui
adalah Podocarpaceae, Elaeocarpus, Sallaca dan Nenga

6.Daerah Pegunungan
Lingkungan pengendapan di daerah pegunungan mengikuti pola zonasi hutan hujan
tropik., sebagaimana telah diterangkan sebelumnya.

BAB VI
PROSES PREPARASI POLEN

35
Berdasarkan tujuannya preparasi polen terbagi dalam dua macam. Yang pertama
preparasi untuk tujuan koleksi referensi polen/spora dari bahan segar. Sedangkan yang
kedua adalah preparasi untuk memisahkan polen/spora dari sedimen, sehingga
polen/spora dapat didiskripsi dan diidentifikasi.
6.1. Preparasi polen/spora segar

Polen/spora segar dimasukan


Ke dalam tabung reaksi

Acetolisis dan panaskan 10'

Centrifugasi 2000-3000rpm , 5 menit

Buang cairan tambahkan asam asetat

Centrifugasi kembali

Keringkan, rendam dg glycerin 10% ,30'

Centifugasi dg cara sama, keringkan

Polen/spora siap diletakan di atas


objek glass dengan bantuan jarum
yg ujungnya diberi glycerin kim,
Dikerjakan di atas hot plate

Centrifugasi 2000-3000 rpm selama 3-5'

Keluarkan cairannya

36

Beri asam asetat dan centrifugasi lagi


Rendam
Keluarkan
dg cairannya
glycerin 30'
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan bahan untuk membuat koleksi
referensi polen/spora segar adalah dalam hal:

1.Memilih bunga yang siap mekar atau yang sudah mekar yang masih memiliki serbuk
sari. Untuk spora paku pilih yang kotak sporanya sudah matang
2.Pada saat acetolysis perbandingan antara (CH3 CO2 )2 O dengan H2 SO4 adalah 9:1,
3.Pada saat mengambil polen/spora dengan ujung jarum dan meletakannya di atas object
glass masih dimeja biasa, setelah menemel baru dipanaskan di hot plate agar glycerin
mencarir, tutup object glass dengan cover glass, untuk perekatnya bisa digunakan lem
dari parafin atau Canada balsam.
4.Beri nama species/kode untuk urutan koleksi, selanjutnya adalah mengamati polen/
spora tersebut di bawah mikroskop.
5.Sisa polen yang ada dalam tabung reaksi diberi glycerin cair, di simpan dalam botol
kecil, beri nama species dan nomor untuk arsip.

37
Pekerjaan selanjutnya adalah membuat diskripsi dari koleksi referensi tersebut, sehingga
pada saat diperlukan sudah tersedia referensi yang lengkap datanya.

Dalam diskripsi memuat karakter morfologi dari kenampakan polen, yaitu tampak
ekuatorial, tampak polar, bentuk, ornamentasi, rata-rata ukuran polen/spora, bentuk
apertur, jumlah apertur, orientasi umum dari kenampakan polen, dan dilengkapi dengan
fotografi. Di bawah ini dilampirkan contoh-contoh hasil diskripsi polen segar dari
lingkungan mangrove.

CONTOH LEMBAR DISKRIPSI POLEN

38
6.2. Preparasi plen/spora dari sedimen

39
Tujuannya adalah memisahkan palinomorf dari sedimen, sehingga dapat
didiskripsi. Dari tahap penghilangan karbonat sampai dengan pencucian akhir, untuk

Percontop
Perconto batuan

Dihaluskan hingga 1-2 mm

Rendam dengan HCL 50%


(cuci dg akuades)

Rendam dengan HF p.a


(cuci deg akuades)

Rendam dalam HCL 50% panas

(cuci dg akuades)
Tambahkan ZnCl2 B.J.2.2

Pencucian akhir Oksidasi dg HNO3/ larutan Schulze

Rendam dg KOH 5% dlm waterbath 3'

(pencucian akhir)

Pembuatan slide untuk


indeks warna spora dan Saring dg ukuran 5μm
kerogen
Pembuatan slide

40
mengganti zat terlebih dahulu dilakukan pengadukan, diikuti sentrifugasi dan
pembuangan cairan, baru dilakukan pergantian tahap. Dengan demikian diharapkan
palinomorf mengendap dalam tabung reaksi, karena tidak turut terbuang dengan cairan
pelarut/pencuci yang dibuang .

Prosedur preparasi banyak diajukan oleh para akhli dengan sedikit perbedan perlakuan,
tergantung terhadap pengalaman maupun kecocokan dari pengguna.

BAB VII

41
ALUR ANALISIS POLEN

1. Diskripsi identifikasi
2. Tabulasi data pertaksa
3. Perhitungan/kuantifikasi (minimum dalam bentuk persen)
4. Mengelompokan taksa berdasarkan kesamaan lingkungan
5. Membuat diagram

7.1. Diskripsi dan Identifikasi


Proses ini dilakukan untuk menentukan jenis-jenis polen dan spora atau
palinomorf lainnya. Adapun teknisnya sudah dijelaskan dalam bab sebelumnya.

7.2. Tabulasi Data Pertaksa


Pekerjaan ini sangat baik dilakukan jika dipersiapkan tabelnya sebelum
melakukan diskripsi dan identifikasi, sehingga disaat identifikasi dilakukan sekaligus
berlangsung proses tabulasi.

7.3. Perhitungan/Kuantifikasi
Menghitung persen taksa dari tiap perconto, sebagai dasar untuk melihat
dominansi polen/spora. Dengan cara sbb:

P= N/M X 100%

P : Persentase
N: Jumlah individu polen/spora dari setiap perconto
M: Jumlah total polen/spora dari setiap perconto dikurangi jumlah
total
dari Laevigatosporites

42
7.4. MengelompokanTaksa Berdasarkan Lingkungan
Tahap berikutnya adalah mengelompokan taksa-taksa berdasarkan kesamaan
lingkungan. Data ini bisa diambil dari tabulasi yang telah dipersiapkan tabelnya.
Dilanjutkan dengan menghitung persen dari tiap lingkungan yang dianalisis.

7.5. Membuat diagram


Berdasarkan data tersebut kini dapat dilakukan pembuatan diagram, bisa
berupa diagram batang, diagram lingkaran atau bentuk lainny sesuai dengan
kebutuhan peneliti. Di bawah ini contoh diagram.

Gambar 7.5. Diagram lingkungan palinomorf

43
DAFTAR PUSTAKA

Blackmore,S. and Barnes, S.H. Comparative Studies of Mature and Developing Pollen
Grains, dalam Vlaugher, D. (editior), 1990. Scenning Electron Microscopy in
Taxonomy and Fuction Morphology, Sytematic Assotiation Special Volume No.
41. pp 1-21. Oxford, Clarendon Press
Campbell, N.A. and Reece, J.B. and Mitchell. L.G. 2003. Biologi, Edisi ke lima jilid 2
Penerbit Erlangga
Erdtman, G. 1966. Pollen Morphology and Plant Taxonomy Angiosperm, New York,
Hafner Publishing Company
Kartawinata,K, 1985, Tropical Rain Forest Phytogeography, Ecology and Altitudinal Zo-
nation, p. 140-150. Dalam Report os Escap-Biotrop Training Course on Remote
Sensing Techniques Applied of Vegetation Studies
Morley, R,J. 1990. Introduction of Palynology With Emphasis on Southeast Asia
Unpublish
Morley, R,J, 1991,Tertiary Strtigraphic Palynology in Southeast AsiaCurrent Status And
New Directions. Geol. Soc. Malaysia. Bulletin 28, November 1991, pp1-36
Moore, P.D. and Webb, J.A. 1978. An Illustrated Guide to Pollen Analysis. Departemen
Of Plant Science, King Collage, London, Hodder and Stoughton
Noor, Y.R, Khazali, M. dan Suryadiputra, I.N. 1999, Panduan Pengenalan Mangrove di
Indonesia, Bogor, Wetlands International Indonesia Programme
Robert, H. T.Schudy, 1969, Aspect of Palynology, Wiley Interscience, a division. Jhon
Wiley & Sons, New York
Whithmore, T,C. 1975. Tropical Rain Forest of The Far East, Clarendron Presses,
London
Seanger , 1983, dalam Noor, Y.R. Khazali dkk. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di
Indonesia. Bogor , Wetlands International Indonesia Programme

44
DAFTAR ISI

Bab 1. Tinjauan umum palynology………………………………………………………1


1.1. Klasifikasi tumbuhan. ……………………………………………………….2
Bab 2. Morfologi. ………………………………………………………………………...7
2.1. Morfologi polen.. .……………………………………………………………7
2.2. Morfologi spora……………………………………………………………..15
2.3. Morfologi acritarchs………………………………………………………...17
2.4. Morfologi dinoflegellate…………………………………………………….18
Bab 3. Media fosil polen dan spora……………………………………………………...20
Bab 4. Sejarah polen dan spora…………………………………………………………..23
4.1. Spora/pole paleozoikum dan mesozoikum………………………………….23
4.2. Spora/polen tersier…………………………………………………………..23
4.3. Zaman kuarter di wilayah asia tenggara…………………………………….24
4.4. Zaman kuarter di wilayah tropik afrika dan amerika latin …………………25
4.5. Zonasi umur palynology…………………………………………………….25
Bab 5. Vegetasi hutan tropik…………………………………………………………….27
5.1. Hutan hujan tropik…………………………………………………………..27
5.2. Vegetasi Mangrove………………………………………………………….28
Bab 6. Proses preparasi polen……………………………………………………………31
6.1. Preparasi polen segar………………………………………………………..31
6.2. Preparasi polen dari sedimen………………………………………………..34
Bab 7. Alur analisis polen ……………………………………………………………….38
Daftar pustaka …………………………………………………………………………...40
Lampiran tumbuhan penghasil polen dan spora ………………………………………...41

45