Anda di halaman 1dari 3

Primary Survey Penilaian keadaan penderita dan prioritas terapi berdasarkan jenis perlukaan, tanda-tanda vital, dan mekanisme

trauma. Pada penderita yang terluka parah, terapi diberikan berdasarkan prioritas. Pengelolaan penderita berupa primary survey yang cepat dan kemudian resusitasi, secondary survey dan akhirnya terapi definitif. Proses ini merupakan ABC-nya trauma, dan berusaha untuk mengenali keadaan yang mengancam nyawa terlebih dahulu, dengan berpatokan pada urutan berikut: A (airway), menjaga airway dengan kontrol servikal (cervical spine control) B (breathing), menjaga pernapasan dengan ventilasi C (circulation), dengan kontrol perdarahan (hemorrhage control) D (disability), status neurologis E (exposure/ environmental control), buka baju penderita, tetapi tetap cegah hipotermi 1. Airway, dengan kontrol servikal (cervical spine control) Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan napas. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan napas yang dapat disebabkan benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur mandibula atau maksila, fraktur laring atau trakea. Usaha untuk membebaskan airway harus melindungi vertebrae cervical. Dalam hal ini dapat dimulai dengan melakukan chin lift atau jaw thrust. Pada penderita yang dapat berbicara dapat dianggap bahwa jalan napas bersih (ATLS, 2004). 2. Breathing, menjaga pernapasan dengan ventilasi Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding dada, dan diafragma. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat. Dada penderita harus dibuka untuk melihat ekspirasi pernafasan. Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru. Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura. Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada yang mungkin mengganggu ventilasi (ATLS, 2004). 3. Circulation, dengan kontrol perdarahan (hemorrhage control)

a. Volume darah dan cardiac output. Terdapat 3 penemuan klinis yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi mengenai keadaan hemodinamik, yaitu tingkat kesadaran, warna kulit, dan nadi (ATLS, 2004). 1) Tingkat kesadaran Bila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang, yang akan mengakibatkan penurunan kesadaran. 2) Warna kulit Warna kulit dapat membantu diagnosis hipovolemia. Wajah pucat keabuabuan dan kulit ekstremitas yang pucat merupakan tanda hipovolemia. 3) Nadi Nadi yang cepat dan kecil merupakan tanda hipovolemia, walaupun dapat disebabkan oleh keadaan yang lain. Nadi yang tidak teratur biasanya merupakan tanda gangguan jantung. Tidak ditemukannya pulsasi dari arteri besar merupakan pertanda dilakukannya resusitasi segera. b. Perdarahan. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan pada luka. Spalk udara (pneumatic splinting device) juga dapat digunakan untuk mengontrol perdarahan. Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia distal, sehingga tourniquet hanya dipakai bila ada amputasi traumatic (ATLS, 2004). 4. Disability, status neurologis Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat. Yang dinilai disini adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, tandatanda lateralisasi, dan tingkat (level) cedera spinal. Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi atau/ dan penurunan perfusi ke otak, atau disebabkan trauma langsung pada otak (ATLS, 2004). 5. Exposure/ environmental control, buka baju penderita, tetapi tetap cegah hipotermi Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya, sering dengan cara menggunting guna memeriksa dan evaluasi penderita. Setelah pakaian penderita dibuka, penting untuk diselimuti agar penderita tidak kedinginan dan hipotermi. Harus dipakaikan selimut hangat, rungan cukup hangat dan diberikan cairan intra-vena yang sudah dihangatkan.

Periksa hal-hal yang mungkin terlewat pada pemeriksaan sebelumnya, misalnya perlukaan pada tubuh yang tertutup pakaian, darah yang keluar dari MUE atau anus, dan lain-lain (ATLS, 2004).

Adjunct Primary Survey Tambahan (adjunct) pada primary survey merupakan pemeriksaan atau tindakan tambahan yang boleh dilakukan selama primary survey untuk menunjang diagnosis atau membantu evaluasi resusitasi yang dilaksanakan, namun pelaksanaannya sendiri tidak boleh mengganggu atau menunda tindakan resusitasi yang sedang dilaksanakan. Tindakan yang dilakukan, meliputi: monitor EKG, kateter urin dan lambung, monitor (laju napas dan arterial blood gas, pulse oximetry, tekanan darah), pemeriksaan rontgen dan pemeriksaan tambahan lainnya (ATLS, 2004). Secondary Survey Survei sekunder adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination), termasuk pemeriksaan tanda vital. Survei sekunder baru dilaksanakan setelah primary survey selesai, resusitasi sudah dilakukan, dan ABC-nya penderita dipastikan membaik. Pada survei sekunder ini dilakukan pemeriksaan neurologi lengkap, termasuk mencatat skor GCS bila belum dilaksanakan dalam survei primer. Pada survei sekunder ini juga dilakukan pemeriksaan radiologi yang diperlukan. Prosedur khusus seperti DPL, evaluasi radiologis dan pemeriksaan laboratorium juga dikerjakan pada kesempatan ini. Evaluasi lengkap dari penderita memerlukan pemeriksaan berulang-ulang (ATLS, 2004).

Anda mungkin juga menyukai