Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH PENGEMBANGAN PESERTA DIDIK KEJURUAN KONSEP DASAR PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA MASA REMAJA

NURUL FATHANAH MUSTAMIN 1201207630

PROGRAM PROFESI GURU TERINTEGRASI (PPGT) SMK KOLABORATIF KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL JANUARI TAHUN 2013

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan hidayahnya sehingga penulisan makalah dengan judul: Konsep Dasar Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Masa Remaja ini dapat penulis selesaikan sesuai dengan jadwal waktu yang diberikan. Tak lupa shalawat dan taslim kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW karena atas perjuangan beliau kita dapat terbebas dari lembah kebodohan yang gelap gulita menuju puncak yang terang benderang. Pada Makalah ini penulis membahas tentang definisi pertumbuhan, perkembangan dan remaja, faktor-faktor yang mempengaruhi remaja, tahapan-tahapan perkembangan ciri-ciri fisik serta perkembangan bahasa pada remaja. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang ikut serta membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini. Penulis sadar bahwa isi maupun susunan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu bagi pihak-pihak yang ingin menyampaikan saran dan kritik untuk perbaikan makalah selanjutnya akan penulis terima dengan senang hati dan ucapan terima kasih.

Makassar, 6 Januari 2013

PENULIS

BAB I PENDAHULUAN Pada era globalisasi dan modernisasi yang sedang berjalan saat ini, banyak terjadi perubahan salah satunya terhadap usia rentan yakni masa remaja. Remaja merupakan masa peralihan dari kanakkanak menuju dewasa, banyak perubahan yang akan dialami seorang peserta didik pada masa ini yang menimbulkan dampak, baik positif maupun negatif. Peranan keluarga dalam pembinaan generasi muda cukup dominan. Pembentukan perilaku positif yang harus dimiliki oleh seorang warga negara yang baik, bermula dari keluarga. Djamaludin Ancok (1995) yang dikutif dari buku Hendriati Agustiani menyatakan bahwa pada saat ini pembinaan terhadap kaum remaja belum menemukan format yang maksimal, maraknya tawuran, dan berbagai kenakalan remaja lainnya dianggap sebagai akibat dari proses keterasingan dari kehidupan yang wajar. Salah satu akibatnya remaja dapat terasing dari kasih sayang dan perhatian orang tua. Umumnya orang tua dalam mendampingi anak mereka yang tengah menginjak masa remaja, penuh dengan perasaan was-was. Perkembangan individu merupakan sesuatu yang kompleks, artinya banyak faktor yang turut berpengaruh dan saling terjalin dalam berlangsungnya proses perkembangan anak. Baik unsur-unsur bawaan maupun unsur-unsur pengalaman yang diperoleh dalam berinteraksi dengan lingkungan sama-sama memberikan kontribusi tertentu terhadap arah dan laju perkembangan anak tersebut. Banyaknya aspek yang dibicarakan dalam membahas masalah perkembangan menyebabkan banyaknya istilah dan konsep yang digunakan. Begitu pula banyaknya pandangan dan teori dalam menjelaskan fenomena-fenomena perkembangan anak membuat semakin kayanya pengetahuan tentang perkembangan anak. Gambaran pembahasan tentang perkembangan di atas diawali dengan perlunya memahami konsep-konsep perkembangan yang dilanjutkan dengan pembahasan aspek-aspek perkembangan anak.

BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Pertumbuhan, Perkembangan dan Remaja 1. Definisi Pertumbuhan Pertumbuhan (growth) merupakan sebuah istilah yang lazim digunakan dalam biologi, sehingga pengertiannya lebih bersifat biologis. menurut A.E. Sinolungan (1997), pertumbuhan menunjuk pada perubahan kuantitatif, yaitu dapat dihitung atau diukur, seperti panjang atau berat tubuh.Istilah Pertumbuhan cenderung menunjuk pada kemajuan fisika atau pertumbuhan tubuh yang melaju sampai pada suatu titik optimum dan kemudian menurun menuju keruntuhannya. Pertumbuhan manusia merupakan perubahan fisik menjadi lebih besar dan lebih panjang, dan prosesnya terjadi sejak anak sebelum lahir hingga ia dewasa. Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur dengan berat, ukuran panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolisme dalam tubuh. 2. Definisi Perkembangan Perkembangan adalah pola perubahan individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat. Namun tidak setiap perubahan yang dialami organisme atau individu itu merupakan perkembangan. Dengan belajar, perilaku individu juga bisa berubah. Begitupun karena faktor peristiwa atau pengaruh penggunaan obat tertentu, individu juga bisa berubah.Untuk itu perlu ada suatu penjelasan lebih rinci tentang perubahan yang dimaksud sebagai perkembangan. Pertama, perubahan dalam arti perkembangan terutama berakar pada unsur biologis. Pengalaman-pengalaman atau aktivitas-aktivitas khusus anak dapat menimbulkan perubahan pada diri yang bersangkutan. Perubahan dalam arti perkembangan lebih berkaitan dengan fungsi waktu dan kematangan biologis sehingga terjadi dalam periode yang lebih lama dan bersifat umum, tidak terkait dengan peristiwa atau pengalaman khusus tertentu. Kedua, perkembangan dapat mencakup perubahan baik dalam struktur maupun fungsi atau perubahan fisik maupun psikis. Perubahan dalam struktur lazimnya merujuk kepada perubahan fisik baik dalam hal ukuran maupun bentuknya (seperti perubahan lengan, kaki, otot, jaringan syaraf, atau bagian-bagian tubuh lainnya), sedangkan perubahan fungsi mengacu kepada

perubahan dalam hal aktivitas yang secara inheren terdapat dalam struktur fisik tersebut (seperti kelenturan otot, keterampilan bergerak, kemampuan berfikir, reaksireaksi emosional, dan perubahan-perubahan sejenis lainnya). Dengan kata lain, perubahan struktur mengacu kepada perubahan wujud jasadnya, sedangkan perubahan fungsi mengacu kepada perubahan aspek mental atau aktivitas yang ditimbulkan sehubungan dengan adanya perubahan dalam jasad tersebut. Ketiga, perubahan dalam arti perkembangan bersifat terpola, teratur, terorganisasi, dan dapat diprediksi. Ini berarti bahwa secara normal, perkembangan individu mengikuti pola-pola tertentu yang sudah dapat diketahui dan diperkirakan. Keempat, perkembangan dapat bersifat unik bagi setiap individu. Santrock & Yussen (1992: 17) menyatakan bahwa: each of us develops in certain ways like all other individual, like some other individuals, and like no other individuals . Masing-masing kita berkembang dalam cara-cara tertentu seperti semua individu yang lain, seperti beberapa individu yang lain dan seperti tak ada individu yang lain. Di samping adanya kesamaan-kesamaan umum dalam polapola perkembangan yang dialami oleh setiap individu, Keenam, perubahan dalam arti perkembangan dapat berlangsung sepanjang hayat dari mulai sejak masa konsepsi hingga meninggal dunia. Perkembangan tidak hanya terbatas sampai dengan masa remaja, melainkan dapat berlanjut terus hingga seseorang meninggal dunia. Ini juga berarti bahwa perubahan dalam arti perkembangan tidak hanya mencakup proses pertumbuhan, pematangan, dan penyempurnaan, melainkan juga mencakup proses penurunan dan perusakan. Dengan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan dapat didefinisikan sebagai pola perubahan organism (individu) baik dalam struktur maupun fungsi (fisik maupun psikis) yang terjadi secara teratur dan terorganisasi serta berlangsung sepanjang hayat. 3. Remaja Istilah remaja dikenal dengan adolescence yang berasal dari kata dalam bahasa latin adolescere (kata bendanya adolescentia = remaja), yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa. Dalam berbagai buku psikologi terdapat perbedaan pendapat tentang remaja, namun pada intinya mempunyai pengertian yang hampir sama. Istilah yang digunakan untuk menyebutkan masa peralihan masa kanak-kanak dengan dewasa, ada yang menggunakan istilah puberty (Inggris), puberteit (Belanda), pubertasi (Latin), yang berarti

kedewasaan yang dilandasi sifat dan tanda-tanda kelaki-lakian dan keperempuanan. Ada pula yang menyebutkan istilah adulescento (Latin) yaitu masa muda. Istilah pubercense yang berasal dari kata pubis yang dimaksud pubishair adalah mulai tumbuhnya rambut disekitar kemaluan. Istilah yang digunakan di Indonesia para ahli psikologi juga bermacam-macam pendapat tentang definisi remaja. Disini dapat diajukan batasan remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak dengan dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa.Menurut Sartilo (1991), tidak ada profil remaja di Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagi suku, adat dan tingkat sosial-ekonomi, maupun pendidikan. Sebagai pedoman umum remaja di Indonesia dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun. B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Secara garis besar, pendapat yang dikemukakan oleh para ahli dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu 1. Aliran Nativisme Menurut aliran ini bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (natus = lahir). Anak sejak lahir membawa sifat-sifat dan dasar-dasar tertentu yang dinamakan sifat pembawaan. Para ahli yang mengikuti paham ini biasanya menunjukkan berbagai kesamaan/kemiripan antara orangtua dengan anak-anaknya. Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka anaknya juga akan menjadi ahli musik, ayahnya seorang ahli fisika maka anaknya juga akan menjadi ahli fisika. Keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh orangtua juga dimiliki oleh anaknya. Sifat pembawaan tersebut mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan individu. Pendidikan dan lingkungan hampir-hampir tidak ada pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Akibatnya para ahli pengikut aliran ini berpandangan pesimistis terhadap pengaruh pendidikan. Tokoh aliran ini ialah Schopenhauer dan Lombroso. 2. Aliran Empirisme Menurut aliran ini bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor dari luar/lingkungan. Sedangkan pembawaan tidak memiliki peranan sama sekali. Tokoh aliran ini ialah John Locke (1632 1704) yang terkenal dengan teori Tabularasa. Ia

mengatakan bahwa anak lahir seperti kertas putih yang belum mendapat coretan sedikitpun, akan dijadikan apa kertas itu terserah kepada yang menulisnya. Aliran empirisme menimbulkan optimisme dalam bidang pendidikan. Segala sesuatu yang terdapat pada jiwa manusia dapat diubah oleh pendidikan. Watak, sikap dan tingkah laku manusia dapat diubah oleh pendidikan. Pendidikan dipandang mempunyai pengaruh yang tidak terbatas. Keburukan yang timbul dari pandangan ini adalah anak tidak diperlakukan sebagai anak, tetapi diperlakukan semata-mata menurut keinginan orang dewasa. Pribadi anak sering diabaikan dan kepentingannnya dilalaikan. c. Aliran Konvergensi Menurut aliran ini bahwa manusia dalam perkembangan hidupnya dipengaruhi oleh bakat/pembawaan dan lingkungan atau dasar dan ajar. Manusia lahir telah membawa benih-benih tertentu dan bisa berkembang karena pengaruh lingkungan. Aliran ini dipelopori oleh W. Stern. Pada umumhnya paham inilah yang sekarang banyak diikuti oleh para ahli pendidikan dan psikologi, walaupun banyak juga kritik yang dilancarkan terhadap paham ini. Salah satu kritik ialah Stern tidak dapat dengan pasti menunjukkan perbandingan kekuatan dua pengaruh itu. Dengan demikian pendidikan harus mengusahakan agar benih-benih yang baik dapat berkembang secara optimal dan benih-benih yang jelek ditekan sekuat mungkin sehingga tidak dapat berkembang. C. Pertumbuhan Fisik Peserta Didik Remaja Pada saat remaja, berlangsung perkembangan fisik. Perkembangan ini ditandai dengan bertambahnya tinggi dan berat badan, munculnya ciri-ciri kelamin primer dan sekunder. Ciri-ciri kelamin primer berkenaan dengan perkembangan alat-alat produksi, baik pada pria maupun wanita. Pada awal masa remaja anak wanita mulai mengalami menstruasi dan laki-laki mimpi basah, dan pengalaman ini merupakan pertanda bahwa mereka telah memasuki masa kematangan seksual. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan kematangan fisik, mental, sosial, dan emosi. Remaja memiliki energi yang besar, emosi yang berkobarkobar sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Sedangkan mengutif pendapat (Sarwono 1995), bahwa perubahanperubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja, yang berdampak pada perubahan-perubahan psikologis. Pertumbuhan fisik ini merupakan awal dimana remaja mempunyai peran dan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, memanfaatkan apa yang dimiliki sesuai perannya masing-masing,

remaja dituntut untuk mampu menampilkan tingkah laku yang dianggap pantas atau sesuai dengan usianya . Saat inilah masa remaja membutuhkan bimbingan dari orang-orang terdekat supaya tidak terjerumus kepada hal-hal yang tidak diharapkan. Untuk lebih mengenal sosok remaja dilihat dari segi fisik akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan masa remaja diantaranya : 1. Ciri-ciri Umum Masa Remaja Adanya perubahan baikm di dalam maupun di luar dirinya membuat kebutuhan remaja semakin meningkat terutama kebutuhan sosial dan kebutuhan psikologisnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut remaja memperluas jaringan sosialnya di luar lingkungan keluarga, seperti lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakat lain. Secara umum masa remaja dibagi menjadi 3 (tiga ) bagian yaitu : a. Masa remaja awal (12-15 tahun) Pada masa ini individu mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak dan berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan tidak tergantung pada orang tua. Fokus dari tahap ini adalah penerimaan terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat dengan teman sebaya.
b. Masa remaja pertengahan ( 15-18 tahun)

Masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berpikir yang baru. Teman sebaya masih memiliki peran yang penting, namun individu sudah lebih mampu mengarahkan mengarahkan diri sendiri (self-directed). Pada masa ini remaja mulai mengembangkan kematangan tingkah laku, membuat keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan tujuan vokasional yang ingin dicapai. Selain ini penerimaan dari lawan jenis menjadi penting bagi individu. c. Masa remaja akhir (19-22 tahun) Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa. Selama periode ini remaja berusaha memantapkan tujuan vokalisional dan mengembangkan sense of personal identity. Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa, juga menjadi ciri tahap ini. 2. Proses Masa Remaja Masa remaja dikenal sebagai salah satu periode dalam rentang kehidupan manusia yang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan tersebut bersumber dari kedudukan masa remaja

sebagai periode transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Proses masa remaja dapat diuraikan sebagai berikut : a. Perubahan Fisik Terjadi pada awal masa remaja atau masa pubertas, yaitu sekitar umur 11-15 tahun pada wanita dan 12-16 tahun pada pria (Hurlock, 1973 ; 20-21). b. Perubahan emosionalitas Terjadinya perubahan dalam aspek emosionalitas pada remaja salah satunya terjadi sebagai akibat perubahan fisik dan hormonal. Ini semua menuntut kemampuan pengendalian dan pengaturan baru atas prilakunya. c. Perubahan kognitif Perubahan kognitif yaitu perubahan dalam kemampuan berfikir.dalam tahapan ini bermula pada umur 11 atau 12 tahun, kemampuan-kemampuan berpikir yang baru ini memungkinkan individu untuk berpikir secara abstrak dan hipotesis, yang pada gilirannya kemudian memberikan peluang bagi individu untuk mengimajinasikan kemungkinan lain untuk segala hal.
d. Implikasi psikososial

Semua perubahan yang terjadi dalam kurun waktu yang singkat membawa akibat bahwa fokus utama dari perhatian remaja adalah dirinya sendiri. Menurut Erikson (1968), seorang remaja bukan sekedar mempertanyakan siapa dirinya, tapi bagaimana dan dalam konteks apa atau dalam kelompok apa dia bisa menjadi bermakna dan dimaknakan. 2. Perkembangan bahasa Peserta Didik Remaja Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. bahasa merupakan alat bergaul. Oleh karena itu penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu memerlukan berkomunikasi dengan orang lain. Sejak seorang bayi mulai berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa diperlukan. Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif yang berarti faktor intelek sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang ia telah banyak belajar dari lingkungan, dan dengan demikian bahasa remaja terbentuk dari kondisi lingkungan. Lingkungan remaja mencakup lingkungan keluarga, masyarakat dan khususnya pergaulan teman sebaya, dan lingkungan sekolah.

Perkembangan bahasa remaja dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal. Hal ini berarti pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku bahasa. Bersamaan dengan kehidupannya di dalam masyarakat luas, anak (remaja) mengkutip proses belajar disekolah. Sebagaimana diketahui, dilembaga pendidikan diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan di dalam masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak (remaja) menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya. Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga masyarakat, dan sekolah dalam perkembangan bahasa, akan menyebabkan perbedaan antara anak yang satu dengan yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh pilihan dan penggunaan kosakata sesuai dengan tingkat sosial keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan pendidikan rendah atau buta huruf, akan banyak menggunakan bahasa pasar, bahasa sembarangan, dengan istilah-istilah yang kasar. Masyarakat terdidik yang pada umumnya memiliki status sosial lebih baik, menggunakan istilah-istilah lebih selektif dan umumnya anak-anak remajanya juga berbahasa lebih baik.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pada hakikatnya pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam hal ini peserta didik, tidak dapat dicegah karena akan terus berjalan secara alami. Hal terpenting adalah bagaimana remaja tersebut dapat mengisi tahap demi tahap pertumbuhan dan perkembangan mereka, baik perkembangan fisik, intelektual, emosi, bahasa, bakat khusus, moral dan sikap, dengan hal positif dan bermanfaat. Dibutuhkan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan, seperti orang tua pada lingkungan rumah, Guru pada lingkungan sekolah dan lingkungan yang lebih luas lagi yakni lingkungan masyarakat. Guru sebagai pendidik harus mengarahkan, membimbing, mengontrol, dan memberikan saran dalam tiap tahap dan gejala perkembangan remaja, serta dapat menjadi teladan yang baik dan menjadi sumber inspirasi peserta didik remaja. Masa pertumbuhan fisik dan perkembangan intelek peserta didik remaja merupakan masa dan tahapan yang menentukan kehidupan remaja dikemudian hari. Oleh karenanya diperlukan sinergitas dari berbagai pihak terutama, orang tua, guru, lingkungan masyarakat dan negara sebagai pemegang kebijakan. B. Saran Anak selalu berkembang seiring dengan zaman, anak-anak zaman sekarang berbeda dengan anak-anak zaman dahulu dan masa depoan untuk itu perlu di tingkatkan adanya sosialisasi bagi guru, pendidik, calon pendidik dan orang tua peserta didik demi memajukan bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA A.E.Sinolungan, 1997. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Gunung Agung Dra. Desmita, M.Si, 2011. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung : Remaja Rosdakarya Dr. Ahmad Fauzi, 2008. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia Hendriati Agustiani, 2006. Psikologi perkembangan : pendekatan ekologi kaitannya dengan konsep diri dan penyesuaian diri pada remaja. Bandung : Refika Aditama Kurnea Setya, 2011. Konsep Dasar Perkembangan Peserta Didik. Tersedia di http://kurnea-setia.blogspot.com. Di unduh pada tanggal 06 Januari 2013 Sumadi Suryabata, 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers