Anda di halaman 1dari 28

EVALUASI BAHAYA POTENSIAL FAKTOR FISIK PADA PT.

BINA BUSANA INTERNUSA


Oleh : Kelompok 1

Survei Dilaksanakan Tanggal : 25 Maret 2013 PELATIHAN DOKTER HIPERKES PROGRAM STUDI MAGISTER KEDOKTERAN KERJA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA

LATAR BELAKANG
Perkembangan industri saat ini memberikan dampak negatif Penyebabnya adalah pencemaran udara akibat proses pengolahan atau hasil industri. Banyak jenis debu organik dihasilkan oleh industri tekstil mulai dari proses awal yakni pembuatan biji kapas sampai penenunan Maka dari itu, tidak boleh menganggap sepele terhadap debu.

MASALAH
Terdapat bahaya potensial yang dapat mengganggu kesehatan pekerja PT. Bina Busana Internusa.

TUJUAN
Tujuan Umum Dapat diketahui dan dipahaminya kinerja program K3 di PT.Bina Busana Internusa.

TUJUAN
Tujuan Khusus Diketahuinya alur produksi, diketahuinya bahaya potensial yang dominan dan resiko kecelakaan kerja, diketahuinya masalah akibat debu kain, diketahuinya masalah dalam pelaksanaan program K3, dan diketahuinya usaha-usaha yang telah dilakukan oleh perusahaan dalam mengatasi masalah yang ada akibat bahaya potensial debu kain di PT. Bina Busana Internusa.

PROFIL PERUSAHAAN

Berdiri Produk

: 10 november 1989 : Mens Shirt, Hospital Uniform , Office Uniform, Working Uniform Lokasi : Jl. Pulo Buaran II blok Q No. 1 Pulogadung, Jakarta 13920, Indonesia Luas wilayah : 1.680 m2 Pekerja : 582 orang

ALUR PRODUKSI
Quality Control Proses Pembuatan Proses Finishing Proses CuttingPola dengan Mesin Kebut Pembuatan Sampel Proses Pembuatan Proses Ironing Manset dan Interlining Proses Packing Proses Sewing Inspeksi Bahan

Pemesanan Bahan

PROGRAM KESEHATAN KERJA


Pelayanan kesehatan Senin, Rabu dan Jumat. Pelayanan diberikan selama jam kerja. Jika sulit ditangani, misalnya terjadi kecelakaan saat bekerja, maka pekerja tersebut akan dirujuk ke RS terdekat, seperti RS. Carolus.

Dalam keseharian, klinik hanya dijaga oleh seorang perawat, sementara dokter anya datang sekali dalam dua hari pada jam 08.0012.00. Program klinik perusahaan MCU setiap enam bulan sekali dan pemeriksaan lab berupa darah rutin dan kimia darah, serta pemeriksaan penunjang seperti Rontgen Thorax dan EKG.

Kekurangan dari klinik perusahaan ini tidak dibuat data penyakit yang sering dikeluhkan dan sering terjadi pada para pekerja, tidak ada sistem pelaporan kesehatan pekerja melainkan hanya jumlah kunjungan pekerja ke klinik.

Tabel Bahaya Potensial Faktor Fisik Pada PT. Bina Busana Internusa dan Faktor Resiko Yang Dapat Terjadit

Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Keselamatan kerja : usaha dapat melaksanakan pekerjaan tanpa kecelakaan, memberikan suasana/lingkungan kerja yang aman sehingga tercapai hasil yang menguntungkan dan bebas bahaya Permenaker Nomor : PER.05/MEN/1996 Bab III pasal 4 perusahaan wajib mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja program K3 serta melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan.

Efek Paparan Bahaya Potensial Terhadap Kesehatan Pekerja PT BBI


Penyakit pekerja : beberapa faktor kondisi lingkungan kerja, peralatan kerja, material, proses produksi, limbah dan hasil produksi. International Labor Organization (ILO) setiap tahun terjadi 1,1 juta kematian yang disebabkan penyakit atau pekerjaan. Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan dan sisanya adalah kematian karena penyakit akibat kerja dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya.

11 (sebelas) proses pengerjaan industri di PT.BBI, keseluruhannya terpapar dengan hazard cahaya, dimana 10 diantaranya terpapar dengan hazard debu dan 1 bagian lainnya terpapar dengan hazard bising diatas NAB.

BAHAYA POTENSIAL DEBU


Paparan hazard debu yang berlangsung lama secara terus menerus terhadap para pekerja diindustri garment ini dapat memicu gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan penurunan kinerja produktifitas perusahaan. Paparan debu 5-10 mikron akan tertahan oleh saluran pernafasan bagian atas, 3-5 mikron akan tertahan oleh saluran pernafasan bagian tengah, 1-3 mikron sampai dipermukaan alveoli, 0,5-0,1 mikron hinggap dipermukaan alveoli/selaput lendir sehingga menyebabkan vibrosis paru, 0,1-0,5 mikron melayang dipermukaan alveoli. Depkes mengisaratkan bahwa ukuran debu yang membahayakan berkisar 0,1 sampai 10 mikron.

Debu yang ditemukan bisa berasal dari seratserat kain pada saat proses produksi. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya data dipoliklinik perusahaan dilantai 2 yang menunjukkan bahwa angka kunjungan tertinggi pada februari 2013 adalah ispa 51 orang dan diikuti oleh sakit kepala dan alergi masing-masing 26 orang.

Langkah pengendalian pihak perusahaan telah menerapkan : Eliminasi Dengan pemakaian sistem ventilasi silang. Untuk lantai 1 ventilasi masih kurang dari 15% luas lantai, sedangkan untuk lantai 2 ventilasi lebih dari 15% luas lantai. (hal ini sesuai dengan Keputusan Menkes RI No.1405/Menkes/SK/XI/2002 tentang persyaratan kesehatan lingkungan kerjaperkantoran dan industri, syarat untuk ruangan kerja yang tidak ber AC harus memiliki lubang ventilasi minimal 15% dari luas lantai. Didalam pabrik PT.BBI dilantai 1 telah terpasang exhause fan sebanyak 3 buah dengan blower 1 buah (tidak hidup) dan kipas angin kecil 2 buah. Sedangkan untuk lantai 2 exhause fan sebanyak 6 buah, blower 2 dan kipas angin kecil 7 buah. Hal ini masih dirasa kurang oleh karena pencahayaan dari lampu yang banyak dan kurangnya lubang angin serta banyaknya tenaga kerja dilantai tersebut.

Isolasi Pembersihan ruangan oleh cleaning servis rutin setiap hari.

Alat Pelindung Diri Perusahaan menganjurkan dan menyediakan masker untuk para karyawan, tetapi masih ditemukan karyawan yang tidak memakai masker pada saat bekerja, dengan alasan diantaranya tidak nyaman dengan pemakaian masker.

Administrative Adanya tanda untuk menghindari daerah yang terdapat hazard tanpa alat pelindung diri dan adanya prosedur cara pemakaian alat pelindung diri yang dibutuhkan untuk area tersebut mutlak harus dimiliki oleh perusahaan. Untuk hal ini PT. BBI telah membuat tanda bahaya dan tata cara mengenakan alat pelindung diri tetapi tetap ada pekerja yang tidak mematuhi peraturan tersebut.

BAHAYA POTENSIAL BISING


Efek pemaparan bising terhadap tenaga kerja, meliputi ; (i) Kebisingan dapat mengganggu konsentrasi dimana pada suatu lokasi kerja konsentrasi ini diutamakan terutama untuk pekerjaan pekerjaan yang memerlukan banyak berpikir, berperan meningkatkan kelelahan (ii)Berbicara di dalam suasana bising akan memerlukan energi yang lebih banyak karena harus berteriak teriak, (ii) Salah memahami perkataan, perintah, atau peringatan keamanan yang penting menyangkut pekerjaan, sehingga akibatnya akan terjadi kecelakaan, juga dapat terjadi gangguan pendengaran, gangguan psikologis, cepat marah,mudah tersinggung, perut mual, kepala pusing, susah tidur, gangguan tubuh lainya:konsentrasi pembuluh darah, perifer, tungkai bawah, penigkatan kadar adrenalin darah, ketegangan otot daerah paha, peningkatan peristaltik lambung dan usus.

Di pabrik ditemukan nilai bising 99,9 dB di bagian mesin pound yang merupakan nilai yang jauh diatas NAB. Pada bagian ini tidak ditemukan APD berupa ear muff untuk pekerja. Sedangkan dibagian lain untuk mengurangi efek kebisingan, perusahaan menyediakan alat pelindung diri berupa ear muff untuk yang bekerja di mesin kebut, sedangkan di bagian-bagian yang lain tidak ditemukan. Hal ini seharusnya menjadi pertimbangan perusahaan bahwa bagian dengan nilai bising tertinggi seharusnya mendapat ear muff sebagai APD namun kenyataannya tidak demikian.

BAHAYA POTENSIAL CAHAYA


Penerangan yang baik adalah penerangan yang memungkinkan seorang tenaga kerja melihat pekerjaaannya dengan teliti, cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu serta membantu menciptakan lingkungan kerja yang nikmat dan menyenangkan . Penerangan yang tidak didesain dengan baik akan menimbulkan gangguan atau kelelahan penglihatan selama kerja. Pengaruh dan penerangan yang kurang memenuhi syarat akan mengakibatkan kelelahan mata sehingga berkurangnya daya dan effisiensi kerja, kelelahan mental, keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala di sekitar mata, kerusakan indra mata dan lain-lain. Selanjutnya pengaruh kelelahan pada mata tersebut akan bermuara kepada penurunan performansi kerja, termasuk kehilangan produktivitas, kualitas kerja rendah, banyak terjadi kesalahan dan kecelakan kerja meningkat

Di PT. BBI pencahayaan yang didapat dari hasil pengukuran dengan alat lux meter menunjukkan rata-rata angka lux meter dibawah 100, sebagai nilai yang dianjurkan dalam Kepmenaker No. 15/Men/1999. Oleh karena itu perusahaan menambahkan alat penerangan tambahan dibeberapa bagian produksi yang membutuhkan ketelitian tertentu dalam proses pengerjaannya.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil kunjungan lapangan kelompok kami di PT. Bina Busana Internusa (BBI) pada tanggal 25 maret 2013 ditemukan beberapa hal yang belum sesuai dengan ketentuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja. Evaluasi faktor fisik dimulai dari bahaya paparan debu. Ditinjau dari alur produksi pada PT. BBI, risiko tinggi bahaya paparan debu tertinggi terdapat pada proses cutting bahan, interlining, dan finishing. Menurut penilaian kami usaha pencegahan yang dilakukan belum optimal , karena penggunaan APD yang tidak semestinya. Para pekerja seringkali tidak menggunakan APD yang telah disediakan oleh perusahaan atau tidak menggunakan dengan benar.

Faktor paparan bising terbanyak ditemukan pada proses produksi interlining yang melibatkan mesin pound. Efek paparan bising yang ditimbulkan oleh mesin pound tersebut belum mendapat perhatian dari pihak manajemen. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya APD pada pekerja di posisi ini. Selanjutnya sebagai evaluasi faktor paparan cahaya, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Pada sebagian besar proses produksi, ditemukan pencahayaan yang kurang. Hal ini dapat menjadi risiko bagi pekerja tersebut. Sistem pelayanan kesehatan yang diberikan kepada karyawan kurang memadai. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya dokter di perusahaan tersebut.

SARAN
Edukasi dan motivasi karyawan mengenai pentingnya penggunaan APD dengan benar. Penambahan sumber cahaya terutama pada aktivitas yang memerlukan ketelitian tinggi. Penambahan ear muff pada posisi interlining yang menggunakan mesin pound Pemberlakukan sistem rotasi pekerja dalam 8 jam kerja untuk mencegah kejenuhan. Pengadaan dokter perusahaan tetap.

REFERENSI
Kamal K. Penerapan Kesehatan Kerja Praktis Bagi Dokter dan Manajemen Perusahaan. Program Studi Magister Kedokteran Kerja Fakultas Kedoteran Universitas Indonesia, Jakarta; Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2011

Sumamur. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja. Edisi ke-1. Jakarta; Gunung Agung, 1980.
Fahmi U. Health Safety and Environment. Jakarta; Bina Diknakes, September 1997. Jain, R.K., et al, Environmental Impact Analysis, 2 nd Edition, Van Reinhold Co, New York, 1981 Firmansyah, F., 2010.Pengaruh Intensitas Penerangan Terhadap Kelelahan Mata Pada Tenaga Kerja di Bagian Pengepakan PT. Ikapharmindo Putramas Jakarta Timur.Skripsi : Universitas Sebelas Maret Peraturan Menteri Perburuhan no. 7 Tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan Serta Penerangan Dalam Tempat Kerja Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri SNI 16-7062-2004 tentang Pengukuran Intensitas Penerangan di Tempat Kerja Soeripto, 2008.Higiene Industri.Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Suhadri, B, 2008. Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Industri.Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan