Anda di halaman 1dari 2

Adanya kehidupan di akhirat adalah merupakan bukti keadilan Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari kita menyaksikan banyak perbuatan-perbuatan manusia yang belum mendapat balasan yang setimpal. Kita saksikan adanya penyelewengan2 tetapi kerana hakim tidak dapat membuktikan akhirnya si penyeleweng tidak dihukum sampai mati, kita saksikan ada orang-orang yang berkuasa yang zalim yang mengamalkan kezalimannya sampai mati tidak ada seorang pun yang sanggup menghukumnya. Sebaliknya kita saksikan juga adanya orang yang adil yang menegakkan kebenaran tetapi mereka mendapat perlakuan yang tidak senonoh, dipenjarakan, disiksa, diusir dari tempat kediamannya bahkan tidak sedikit yang dibunuh. Jadi apa artinya adanya perbuatan baik dan perbuatan jahat kalau tidak ada balasan yang setimpal? Bukankan itu hanya perbuatan sia-sia? Untuk apa kita berbuat baik dan menghindari perbuatan-perbutan jahat yang pada zahirnya kadang-kadang menguntungkan keduniaan kita kalau akhirnya tidak ada pembalasan? Demikianlah kenyataannya kalau hidup ini hanya dibatasi sampai di dunia sahaja. Padahal di dalam Al-Qur'an Allah swt menyatakan dengan jelas bahawa hidup ini tidak sia-sia, ada tujuan yang jelas (Al-Mu;minun 115, AlQiyamah 36) Maka untuk mewujudkan bahwa hidup ini benar-benar ada tujuan dan tidak sia-sia maka mesti diwujudkannya balasan yang adil untuk setiap amal perbuatan. Maka untuk mewujudkan hal itu Allah menciptakan sambungan kehidupan di dunia ini dengan adanya kehidupan di akhirat nanti. Di sinilah manusia akan merasakan hasil perbuatannya secara adil .(Ali Imran 185). Maka Allah swt yang Maha Bijaksana telah menetapkan sunnah-Nya bahawa hidup di dunia adalah masa untuk beramal sebaik-baiknya. (Al-Mulk 2) Sedang balasan akan ditunaikan secara adil dan sempurna di akhirat nanti, dengan demikian tidak ada satu perbuatan pun di dunia ini yang sia-sia, semua ada nilai dan buahnya, amal baik akan berbuah baik dan amal buruk akan berbuah buruk. (Ali Imran 185) Maka sangat masuk akallah adanya kehidupan semula setelah dunia in.

Kesan beriman Kepada Hari Akhirat. Beriman kepada hari akhir sangat mendidik manusia menjadi baik. Kerana keyakinannya yang mantap bahawa dia akan hidup dan bertempat seterusnya di akhirat maka terdoronglah untuk selalu beramal yang boleh mewujudkan keselamatan dan membuahkan kebahagiaannya di akhirat nanti menurut arahan Allah dan RasulNya. Maka orang yang beriman secara benar kepada hari akhirat pasti di dunia ia beramal saleh, itulah sebabnya orang yang beriman kepada hari akhirat selalu membuat kebaikan di mana dia berada di dunia ini. Kerana harnya amal soleh sahajalah yang boleh mendatangkan keselamatannya di akhirat nanti.

Maka amalan soleh seseorang sangat ditentukan kadar imannya kepada hari akhirat bila kadar keimanannya kepada hari akhirat kuat maka amal solehnya kuat dan sebaliknya. Itulah sebabnya di dalam Al-Qur'an banyak ayat-ayat yang menghubungkan iman dengan amal soleh. (At-Taubah 18, 44, 45, AlMujadalah 22, AlMumtahanah 6) Sebaliknya orang yang tidak beriman kepada hari akhirat pasti ia hanya berbuat untuk mencari kesenangan nafsunya di dunia sahaja. Apa sahaja yang boleh mendatangkan kesenangan dan keinginan nafsunya akan ditempuhnya meskipun akibatnya membuat kerusakan dan merugikan orang lain. Maka orang yang tidak beriman kepada hari akhirat selalu condong berbuat kerusakan di bumi Allah sebab ia beramal mengikut kemahuan hawa nafsunya untuk mengejar kesenangan sepuaspuasnya dalam kesempatan hidup di dunia ini dan arti hidup baginya adalah untuk memuaskan nafsunya. (Al-Baqarah 26,27)