Anda di halaman 1dari 45

Daftar Pertanyaan Ujian THT RSUD Cianjur

TELINGA
1. Pembagian anatomi Telinga (Luar, Tengah, Dalam) A. Lapisan Membrana timpani Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu : 1. Stratum kutaneum ( lapisan epitel) berasal dari liang telinga. 2. Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani. 3. Stratum fibrosum ( lamina propria) yang letaknya antara stratum kutaneum dan mukosum.

B. Tulang pendengaran Terdapat 3 jenis tulang pendengaran yaitu tulang maleus, inkus dan stapes. Ketiga tulang ini merupakan tulang kompak tanpa rongga sumsum tulang. a) Malleus adalah tulang pendengaran terbesar, dan terdiri atas caput, collum, processus longum atau manubrium, sebuah processus anterior dan processus lateralis. Caput mallei berbentuk bulat dan bersendi di posterior dengan incus. Collum mallei adalah bagian sempit di bawah caput. Manubrium mallei berjalan ke bawah dan belakang dan melekat dengan erat pada permukaan medial membran timpani. Manubrium ini dapat dilihat melalui membran timpani pada pemeriksaan dengan otoskop. Processus anterior adalah tonjolan tulang kecil yang dihubungkan dengan dinding anterior cavum timpani oleh sebuah ligamen. Processus lateralis menonjol ke lateral dan melekat pada plica mallearis anterior dan posterior membran timpani. b) Incus mempunyai corpus yang besar dan dua crus. Corpus incudis berbentuk bulat dan bersendi di anterior dengan caput mallei. Crus longum berjalan ke bawah di belakang dan sejajar dengan manubrium mallei. Ujung bawahnya melengkung ke medial dan bersendi dengan caput stapedis. Bayangannya pada membrana tympani kadang - kadang dapat dilihat pada pemeriksaan dengan otoskop. Crus breve

menonjol ke belakang dan dilekatkan pada dinding posterior cavum tympani oleh sebuah ligamen. c) Stapes mempunyai caput, collum, dua lengan, dan sebuah basis. Caput stapedis kecil dan bersendi dengan crus longum incudis. Collum berukuran sempit dan merupakan tempat insersio m. stapedius. Kedua lengan berjalan divergen dari collum dan melekat pada basis yang lonjong. Pinggir basis dilekatkan pada pinggir fenestra vestibuli oleh sebuah cincin fibrosa, yang disebut ligamentum annulare.

2. Batas-batas Telinga a) Telinga luar b) Telinga tengah (cavum timpani) a. Batas Luar b. Batas Depan : membran timpani : tuba eustachius

c. Batas Bawah : vena jugularis (bulbus jugularis) d. Batas Belakang: auditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis e. Batas Atas : tegmen timpani (meningen/ otak)

f. Batas Dalam : berturut-turut dari atas ke bawah, kanalis semi sirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) & promontorium A. Telinga dalam

3. Stadium Otitis Media Akut


Otitis media adalah infeksi pada rongga telinga tengah , sering diderita oleh bayi dan anakanak, penyebabnya infeksi virus atau bakteri. Ada 5 stadium otitis media supuratif akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah, yaitu : a. Stadium Oklusi Tuba Eustachius Stadium oklusi tuba Eustachius terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh retraksi membrana timpani akibat tekanan negatif dalam telinga tengah karena terjadinya absorpsi udara. Selain retraksi, membrana timpani kadang-kadang tetap normal atau hanya

berwarna keruh pucat atau terjadi efusi. Stadium oklusi tuba Eustachius dari otitis media supuratif akut (OMA) sulit kita bedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan virus dan alergi. b. Stadium Hiperemis (Pre Supurasi) Stadium hiperemis (pre supurasi) akibat pelebaran pembuluh darah di membran timpani yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat. c. Stadium Supurasi Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen (nanah). Selain itu edema pada mukosa telinga tengah makin hebat dan sel epitel superfisial hancur. Ketiganya menyebabkan terjadinya bulging (penonjolan) membrana timpani ke arah liang telinga luar. Pasien akan tampak sangat sakit, nadi & suhu meningkat dan rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Anak selalu gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak. Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan ruptur membran timpani akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran timpani. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan. Nekrosis ini disebabkan oleh terjadinya iskemia akibat tekanan kapiler membran timpani karena penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil. Keadaan stadium supurasi dapat kita tangani dengan melakukan miringotomi. Bedah kecil ini kita lakukan dengan membuat luka insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi pada membran timpani akan mudah menutup kembali sedangkan ruptur lebih sulit menutup kembali. Bahkan membran timpani bisa tidak menutup kembali jika membran timpani tidak utuh lagi. d. Stadium Perforasi Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Kadang-

kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman. Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu menurun dan bisa tidur nyenyak. Jika membran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret (nanah) tetap berlangsung selama lebih 3 minggu maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih 1,5-2 bulan maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik (OMSK). e. Stadium Resolusi Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur kembali normal hingga perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret purulen tidak ada lagi. Stadium ini berlangsung jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman rendah. Stadium ini didahului oleh sekret yang berkurang sampai mengering. Apabila stadium resolusi gagal terjadi maka akan berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik (OMSK). Kegagalan stadium ini berupa membran timpani tetap perforasi dan sekret tetap keluar secara terus-menerus atau hilang timbul. Otitis media supuratif akut (OMA) dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa. Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani. Gejala Klinik Otitis Media Supuratif Akut (OMA) Gejala klinik otitis media supuratif akut (OMA) tergantung dari stadium penyakit dan umur penderita. Gejala stadium supurasi berupa demam tinggi dan suhu tubuh menurun pada stadium perforasi. Gejala klinik otitis media supuratif akut (OMA) berdasarkan umur penderita, yaitu : a) Bayi dan anak kecil. Gejalanya : demam tinggi bisa sampai 390C (khas), sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, mencret, kejang-kejang, dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit.

b) Anak yang sudah bisa bicara. Gejalanya : biasanya rasa nyeri dalam telinga, suhu tubuh tinggi, dan riwayat batuk pilek. c) Anak lebih besar dan orang dewasa. Gejalanya : rasa nyeri dan gangguan pendengaran (rasa penuh dan pendengaran berkurang). Terapi Otitis Media Supuratif Akut (OMA) Tergantung stadium penyakit, yaitu : a. Oklusi tuba Eustachius. Terapinya : obat tetes hidung & antibiotik. b. Hiperemis (pre supurasi). Terapinya : antibiotik, obat tetes hidung, analgetik & miringotomi. c. Supurasi. Terapinya : antibiotik & miringotomi. d. Perforasi. Terapinya : antibiotik & obat cuci telinga. e. Resolusi. Terapinya : antibiotik. Aturan pemberian obat tetes hidung : Bahan. HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologis untuk anak berusia dibawah 12 tahun. HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologis untuk anak berusia diatas 12 tahun dan orang dewasa. Tujuan. Untuk membuka kembali tuba Eustachius yang tersumbat sehingga tekanan negatif dalam telinga tengah akan hilang. Aturan pemberian obat antibiotik : a. Stadium oklusi. Berikan bila disebabkan kuman bukan otitis media yang disebabkan virus dan alergi (otitis media serosa). b. Stadium hiperemis (pre supurasi). Berikan golongan penisilin atau ampisilin selama minimal 7 hari. Golongan eritromisin dapat kita gunakan jika terjadi alergi penisilin. Penisilin intramuskuler (IM) sebagai terapi awal untuk mencapai konsentrasi adekuat dalam darah. Hal ini untuk mencegah terjadinya mastoiditis, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Berikan ampisilin 50-100 mg/kgbb/hr yang

terbagi dalam 4 dosis, amoksisilin atau eritromisin masing-masing 50 mg/kgbb/hr yang terbagi dalam 3 dosis pada pasien anak. c. Stadium resolusi. Lanjutkan pemberiannya sampai 3 minggu bila tidak terjadi resolusi. Tidak terjadinya resolusi dapat disebabkan berlanjutnya edema mukosa telinga tengah. Curigai telah terjadi mastoiditis jika sekret masih banyak setelah kita berikan antibiotik selama 3 minggu. Aturan tindakan miringotomi : Stadium hiperemis (presupurasi). Bisa dilakukan bila terlihat hiperemis difus. Stadium supurasi. Lakukan jika membran timpani masih utuh. Keuntungannya yaitu gejala klinik lebih cepat hilang dan ruptur membran timpani dapat kita hindari. Aturan pemberian obat cuci telinga : Bahan. Berikan H2O2 2-3% selama 3-5 hari. Efek. Bersama pemberian antibiotik yang adekuat, sekret akan hilang dan perforasi membran timpani akan menutup kembali dalam 7-10 hari. Komplikasi Otitis Media Supuratif Akut (OMA) Ada 3 komplikasi otitis media supuratif akut (OMA), yaitu : a. Abses subperiosteal. b. Meningitis. c. Abses otak. Dewasa ini, ketiga komplikasi diatas lebih banyak disebabkan oleh otitis media supuratif kronik (OMSK) karena maraknya pemberian antibiotik pada pasien otitis media supuratif akut (OMA).

4. Otitis media supuratif kronik (OMSK) Definisi : infeksi kronis ditelinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret encer/kental, bening/bernanah. Otitis media akut dengan perforasi membran timpani menjadi otitis media supuratif kronik apabila prosesnya sidah lebih dari 2 bulan. Bila proses infeksi kurang dari 2 bulan, disebut otitis media supuratif subakut. Jenis otitis media supuratif kronis dapat terbagi 2 jenis, yaitu OMSK tipe benigna dan OMSK tipe maligna a. OMSK Tipe benigna (Tipe Benigna= tubotimpani = tipe jinak = tipe aman = tipe rhinogen) Proses peradangannya terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe benigna jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe benigna tidak terdapat kolesteatoma. Secara klinis terbagi atas: a) OMSK aktif, merupakan OMSK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif. Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau setelah berenang dimana kuman masuk melalui liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen b) OMSK tenang, ialah OMSK yang keadaan kavum timpaninya terlihat basah atau kering. Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo, tinitus, atau suatu rasa penuh dalam telinga

b. OMSK tipe maligna Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Tipe ini lebih sering mengenai pars flasida dan khasnya dengan terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatom. Biasanya pada kasus lanjut didapatan abses atau fistel retroaurikuler, polip atau jaringan granulasi di liang telinga luar yang berasal dari dalam telinga tengah. Secret yang terbentuk nanah dan khas (aroma kolesteatom) Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna : 1. Adanya Abses atau fistel retroaurikular 2. Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani. 3. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk ( aroma kolesteatom) 4. Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom. Letak perforasi di membran timpani penting untuk menentukan tipe/ jenis OMSK. Perforasi membran timpani dapat ditemukan di daerah sentral, marginal atau atik. Pada perforasi sentral, perforasi terdapat di pars tensa, sedangkan di seluruh tepi perforasi masih ada sisa membran timpani. Pada perforasi marginal sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sakulus timpanikum. Perforasi atik ialah perforasi yang terletak di pars flaksida. Jenis-Jenis Perforasi dapat dibagi menjadi : a. Perforasi Sentral kecil b. Perforasi Sentral (Sub Total)

c.

Perforasi Atik

d. Perforasi Postero Superior/ Marginal

Kolesteatoma adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma bertambah besar.
Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu :

a. Kongenital, terbentuk pada masa embrional dan ditemukan dengan keadaan membrane timpani utuh tanpa ada tanda-tanda infeksi. Lokasi kolesteatoma biasa di cavum timpani, daetah petrosus mastoid atau di cerebellopontin angel yang sering ditemukan secara tidak sengaja oleh para ahli. b. Akustial (didapat) yang terbentuk setelah anak lahir, terbagi atas dua: Kolesteatoma akuisital primer

Terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrane timpani. Timbul akibat adanya proses invaginasi dari membrane timpani pars flasida karena adanya tekanan negative di telinga tengah akibat gangguan tuba eustachius Kolesteatoma akuisital sekunder

Terbentuk setelah adanya perforasi membrane timpani. Timbul sebagai akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau pinggir perforasi ke telinga tengah. Kolesteatoma merupaan media yang baik untuk perkembangan kuman. Kuman yang paling sering ialah Pseudomonas aerogenosa. Apabila sudah disertai infeksi, kolesteatoma akan menekan dan mendesak jaringan di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis pada tulang yang diperberat karena disertai reaksi asam oleh bakteri. Manifestasi klinik : 1. Telinga Berair (Otorrhoe) Sekret bersifat purulen atau mukoid tergantung stadium peradangan. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi.

Keluarnya sekret biasanya hilang timbul. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis. 2. Gangguan Pendengaran Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat. 3. Otalgia (Nyeri Telinga) Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis. 4. Vertigo Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum.

Pemeriksaan Radiologi. 1. Proyeksi Schuller Memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. 2. Proyeksi Mayer atau Owen Diambil dari arah anterior telinga tengah. Akan tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur. 3. Proyeksi Stenver Memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan kanalis semisirkularis. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukan adanya pembesaran 4. Proyeksi Chause III Memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom. Bakteriologi Bakteri yang sering dijumpai pada OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa, Stafilokokus aureus dan Proteus. Sedangkan bakteri pada OMSA Streptokokus pneumonie, H. influensa, dan Morexella kataralis. Bakteri lain yang dijumpai pada OMSK E. Coli, Difteroid, Klebsiella, dan bakteri anaerob adalah Bacteriodes sp. 1. Bakteri spesifik

Misalnya Tuberkulosis. Dimana Otitis tuberkulosa sangat jarang ( kurang dari 1% menurut Shambaugh). Pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh infeksi paru yang lanjut. Infeksi ini masuk ke telinga tengah melalui tuba. Otitis media tuberkulosa dapat terjadi pada anak yang relatif sehat sebagai akibat minum susu yang tidak dipateurisasi. 2. Bakteri non spesifik baik aerob dan anaerob. Bakteri aerob yang sering dijumpai adalah Pseudomonas aeruginosa, stafilokokus aureus dan Proteus sp. Antibiotik yang sensitif untuk Pseudomonas aeruginosa adalah ceftazidime dan ciprofloksasin, dan resisten pada penisilin, sefalosporin dan makrolid. Sedangkan Proteus mirabilis sensitif untuk antibiotik kecuali makrolid. Stafilokokus aureus resisten terhadap sulfonamid dan trimethoprim dan sensitif untuk sefalosforin generasi I dan gentamisin2 PENATALAKSANAAN Terapi OMSK terkadang memerlukan waktu yang lama serta harus berulang-ulang, karena sekret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh satu atau beberapa keadaan yaitu adanya perforasi membran timpani yang permanen sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar, terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung, dan sinus paranasal, sudah terbentuk jaringan patologik yang ireversibel dalam rongga mastoid, gizi dan higiene yang kurang. Tipe Benigna Prinsip terapi ialah konservatif atau dengan medikamentosa. Bila sekret yang keluar terus menerus, maka diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H2O2 3 % selama 3-5 hari. Setelah sekret berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan memeberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotika dan kortikosteroid. Karena semua obat tetes yang mengandung antibiotik bersifat ototoksik. Sehingga dianjurkan penggunaan obat tetes telinga jangan diberikan terus menerus lebih dari 1 atau 2 minggu atau pada OMSK yang sudah tenang. Bila sekret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah observasi selama 2 bulan, maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini bertujuan

untuk menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta memperbaiki pendengaran. Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada, atau terjadinya infeksi berulang, maka sumber infeksi harus diobati terlebih dahulu, mungkin juga perlu melakukan pembedahan, misalnya adenoidektomi dan tonsilektomi. Pemberian Antibiotik Topikal Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan dulu, adalah tidak efektif. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah, maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Bubuk telinga yang digunakan seperti : a. b. c. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine Terramycin. Asidum borikum 2,5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg

Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah : 1. Polimiksin B atau polimiksin E

Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif, Pseudomonas, E. Koli Klebeilla, Enterobakter, tetapi resisten terhadap gram positif, Proteus, B. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. 2. Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif, misalnya : Stafilokokus aureus, Proteus sp. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. Toksik terhadap ginjal dan telinga. 3. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid Pemberian Antibiotik Sistemik Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. Bila terjadi kegagalan pengobatan, perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. Antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. Makin tinggi kadar obat, makin banyak kuman terbunuh, misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini, misalnya golongan beta laktam. Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah : - Pseudomonas : Aminoglikosida karbenisilin - P. mirabilis : Ampisilin atau sefalosforin - P. morganii, P. vulgaris : Aminoglikosida Karbenisilin - Klebsiella : Sefalosforin atau aminoglikosida

- E. coli : Ampisilin atau sefalosforin - S. Aureus Anti-stafilikokus : penisilin, sefalosforin, eritromisin, aminoglikosida - Streptokokus : Penisilin, sefalosforin, eritromisin, aminoglikosida - B. fragilis : Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon (siprofloksasin, dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim, seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas, tetapi harus diberikan secara parenteral. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMSK belum pasti cukup, meskipun dapat mengatasi OMSK. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik (sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif, dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4 minggu. OMSK Maligna Pengobatan untuk OMSK maligna adalah operasi. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta memperbaiki pendengaran.

Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain :

a. Mastoidektomi sederhana Dilakukan pada OMSK tipe benigna yang dengan pengobatan konservatif tidak sembuh. Dengan operasi ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuannya supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki. b. Mastoidektomi radikal Dilakukan pada OMSK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. Tujuan operasi ini ialah membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. Fungsi pendengaran tidak diperbaiki. Kerugian operasi ini ialah pasien tidak diperbolehkan berenang seumur hidupnya. Pasien harus datang dengan teratur untuk kontrol, supaya tidak terjadi infeksi kembali. c. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi Dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah atik, tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. Tujuan operasi ialah membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid, dan mempertahankan pendengaranyang masih ada. d. Miringoplasti Merupakan jenis operasi timpanoplasti paling ringan, dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe I. rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Tujuannya adalah mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada OMSK tipe benigna dengan perforasi menetap. Dilakukan pada OMSK benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani.

e.

Timpanoplasti Dilakukan pada OMSK benigna dengan kerusakan lebih berat atau OMSK

benigna yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Tujuannya adalah menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani sering kali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang pendengaran yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II, III, IV, V. Sebelum rekonstruksi dikerjakan, lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum timpani dengan atau tanpa mastoidektomi, untuk membersihkan jaringan patologis. Tidak jarang pula operasi ini terpaksa dilakukan dua tahap dengan jarak waktu 6 sampai dengan 12 bulan. e. Pendekatan ganda timpanoplasti (Combined approach tympanoplasty) Merupakan teknik operasi yang dilakukan pada kasus Maligna dan Benigna dengan jaringan granulasi yang luas. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). Membersihkan kolesteatoma dan jaringan granulasi di kavum timpani, dikerjakan melalui dua jalan (cobined approach), yaitu melalui liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Teknik operasi ini dilakukan pada OMSK maligna belum disepakati oleh para ahli, karena sering terjadi kekambuhan kolesteatom. Jenis operasi mastoid yang dilakukan tergantung pada luasnya infeksi atau kolesteatom, sarana yag tersedia dan pengalaman operator. Sesuai dengan luasnya infeksi atau luasnya kerusakan yang sudah terjadi, kadang-kadang dilakukan kombinasi dari jenis operasi tersebut atau modifikasinya. KOMPLIKASI

Otitis media supuratif mempunyai potensi untuk menjadi serius karena komplikasinya yang dapat mengancam kesehatan dan menyebabkan kematian. Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan patologik yang menyebabkan otore. Walaupun demikian organisme yang resisten dan kurang efektifnya pengobatan, akan menimbulkan komplikasi. biasanya komplikasi didapatkan pada pasien OMSK tipe maligna, tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh kuman yang virulen pada OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi intra kranial yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari OMSK berhubungan dengan kolesteatom. A. Komplikasi ditelinga tengah : 1. Perforasi persisten membrane timpani 2. Erosi tulang pendengaran 3. Paralisis nervus fasial C. Komplikasi ekstradural 1. Abses ekstradural 2. Trombosis sinus lateralis 3. Petrositis D. Komplikasi ke susunan saraf pusat 1. Meningitis 2. Abses otak 3. Hindrosefalus otitis B. Komplikasi telinga dalam 1. Fistel labirin 2. Labirinitis supuratif 3. Tuli saraf ( sensorineural)

Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial harus melewati 3 macam lintasan: 1. Dari rongga telinga tengah ke selaput otak 2. Menembus selaput otak. 3. Masuk kejaringan otak. 5. Mastoidektomi a. Indikasi : b. Cara : c. Komplikasi : 6. Timpanoplasti a. Indikasi : b. Cara : c. Komplikasi : 7. Miringotomi a. Indikasi : b. Cara : c. Komplikasi : 8. Korpus alienum Serangga hidup otalgia, gaduh --> matikan serangga dengan minyak goreng Benda mati. kecil --> tidak ada gejala. besar --> otalgia, tinitus, tuli konduktif . Ekstraksi dengan kait halus, forceps, bilas air hangat 9. CERUMEN (dalam keadaan normal):

sekret kelenjar sebasea dan kel. Serumen pd 1/3 luar liang telinga konsistensi lunak -- padat Berfungsi proteksi ( Boies) pH asam sebagai pelumas (cegah kekeringan / fissura kulit) efek bakterisidal (lisosim, Ig, pH asam)

CERUMEN OBTURAN a. PENUMPUKAN CERUMEN dgn akibat : i. gangguan pendengaran ii. rasa tertekan / nyeri ( bila kemasukan air ) b. Penanganan : i. cerumen lunak : kapas lidi atau irigasi air hangat ii. cerumen padat : forseps telinga, kait iii. cerumen keras : berikan pelunak cerumen 2-3 hari(waxsol, larutan karbogliserin 10%)

10. NIHL (Noise Induce Hearing Loss) a. Definisi : gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang lama dan biasanya disebabkan oleh lingkungan kerja b. Etiologi : c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemaparan kebisingan : 1. Intensitas kebisingan 2. Frekwensi kebisingan 3. Lamanya waktu pemaparan bising 4. Kerentanan individu 5. Jenis kelamin

6. Usia 7. Kelainan di telinga tengah d. SLM (sound level meter) adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan, yang terdiri dari mikrofon, amplifier, sirkuit attenuator dan beberapa alat lainnya. 30 130 dB dan dari frekwensi 20 20.000 Hz

11. OTOTOKSIK : Efek samping obat yang merusak sel-sel sensorik organon corti atau vestibuler GEJALA : Penurunan pendengaran, Tinnitus, Kadang-kadang dengan vertigo OBAT-OBAT OTOTOKSIK Gol. Analgetik-antipiretik Gol. Anti malaria Gol. AB Aminoglikosida - Gol. Anti helmentik - Gol. Diuretik - Bahan-bahan kimia

TERAPI : Hentikan Pemberian Obat 12. Alat bantu dengar Alat bantu dengar adalah suatu perangkat elektronik yang berguna untuk memperkeras (amplifikasi) suara yang masuk ke dalam telinga, sehingga si pemakai dapat mendengar dengan jelas suara yang ada disekitarnya. Pada dasarnya Alat bantu dengar terdiri dari 4 komponen utama yaitu: 1. Mikrofon : berperan menerima suara dari luar dan mengubah suara menjadi energy listrik kemudian meneruskannya ke amplifier 2. Amplifier : berfungsi memperkeras suara dengan cara memperbesar energy listrik yang selanjutnya mengirimnya ke recerveir

3. Receiver : mengubah energy listrik yang telah diperbesar amplifier menjadi energy bunyi kembali dan meneruskan ke liang telinga 4. Batere : sebagai sumber energy

Alat Bantu Dengar terdiri dari 6 jenis yaitu : 1. Pocket Aid

ABD jenis ini digunakan ada gangguan pendengaran sedang, berat sampai sangat berat. Alat ini terdiri dari mikrofon , amplifier, sirkuit yang telah di modifikasi dan tempat baterai dengan sebuah kotak yang dapat dijepitkan di baju emakai atau dimasukan ke dalam saku atau kantong khusus. Sebuah kabel akan membawa sinyal elektrik ke receiver yang diarahkan pada sepasang cetakan telinga pemakai. Kekurangan alat bantu dengar jenis pocket ini jika dipakai oleh bayi, receiver ini bentuknya lebih besar dibanding ukuran telinga bayi sehingga bisa menyebabkan iritasi atau luka pada daun telinga.

2. Behind the Ear (BTE) ABD yang dipasang pada bagian belakang telinga dan dihubungkan ke earmould yang dipasang tepat di telinga luar.

Kelebihan : a) Model lebih banyak dan beragam serta harga dimulai dari yang terjangkau hingga yang termahal b) Mudah mengoperasikan untuk segala jenis usia dan berbagai tingkat gangguan pendengaran c) Memiliki earbuds yang dapat diganti sesuai dengan ukuran liang telinga.

Kekurangan : a) Rentan terkena air keringat apabila banyak melakukan aktivitas sedang hingga berat b) Terdapat adanya noise atau distorsi bika mencoba menelpon dengan teleon seluler akibat sinyal. 3. In the Ear ABD model dalam telinga, dapat digunakan untuk penderita gangguan pendengaraan kategori ringan sampai sedang.

Kelebihan : a) b) Ukuran relatif kecil Menggunakan cetakan akrilik untuk menentukan bentuk liang telinga luar sehingga bisa melakukan pengepasan ukuran telinga Kekurangan : a) b) c) Harga sedikit lebih mahal Tidak cocok diakai untuk anak-anak Rentan jatuh jika dipakai berkegiatan yang melakukan gerakan aktif

4. In the Canal ABD bentuk kanal ini terdiri dari dua jenis yaitu ITC dan ICC. Alat bantu dengar jenis ITC bentuk dan ukuranya dapat disesuaikan dengan penggunanya. Berukuran relatif kecil. Sedangkan ICC, alat ini terletak di dalam saluran telinga.

Kelebihan : a) Model lebih menarik karena ukuranya yang kecil dan sangta fungsional dibandingkan model BTE b) c) Hampir tidak terlihat, karena berada di mulut lubang telinga dan serua warna kulit Model ini dapat mendengarkan suara-suara alami dan cukup jernih dibanding BTE

Kekurangan : a) Semakin besar anak akan semakin longgar karena lubang telinga mengalami pertumbuhan ukuran b) c) Memiliki baterai yang kecil Berisiko tinggi kerusakan akibat kotoran telinga yang menumpuk dan kelembaban di liang telinga 5. Completely in the Canal (CIC) Jenis ABD ini berukuran lebih kecil yang diletakkan agak ke dalam liang telinga. Dapat digunakan untuk penderita kategori ringan sampai sedang.

Kelebihan : a) b) Model ini lebih kecil dariada model ITE atu ITC Kemampuan menyaring suara lebih alami karena dekat dengan gendang telinga

Kekurangan : a) b) c) Harga lebih mahal diabnding ketiga model diatas Tidak direkomendasikan untuk anak anak Adanya gangguan umpan balik terhadap kualitas suara karena mikrofon dan gendang telinga sangat dekat berupa suara noise sehingga kesulitan untuk mendengarkan sekitar dengan jelas

6. Middle Ear Implant / Implan Koklea Merupakan perangkat elektronik yang mempunyaikemampuan menggantikan fungsi koklea untuk meningkatkan kemampuan mendengar dan berkomunikasi pada pasien tuli berat dan total bilateral. Indikasi pemasangan implant koklea adalah keadaan tuli berat bilateral atau tuli total bilateral (anak maupun dewasa) yang tidak atau sedikit manfaat dengan alat bantu konvensional, usia 12 bulan sampai 17 tahun, tidak ada kontraindikasi medis dan calon pengguna mempunyai perkembangan kognitif yang baik. Kontraindikasi pemasangan implant koklea antara lain tuli akibat kelainan pada jalur saraf pusat (tuli sentral), proses penulangan koklea, koklea tidak berkembang. Perangkat implant koklea terdiri dari : 1. Komponen luar : mikrofon, speech processor, kabel penghubung mikrofon dengan speech processor, transmitter. 2. Komponen dalam : receiver, multi chanel electrode Cara kerja implant koklea Implus saraf ditangkap oleh mikrofon dan diteruskan menuju speech processor melalui kabel penghubung. Speech processor akan melakukan seleksi infoemasi suara yang sesuai danmengubahnya menjadi kode suara yang akan disampaikan ke transmitter. Kode suara yang akan dipancarkan menembus kulit menuju receiver atau stimulator. Pada bagian ini kode suara akan diubah menjadi sinyal listrik dan akan dikirim menuju elektroda elektroda yang sesuai di dalam koklea sehingga menimbulkan stimulasi serabut serabut saraf. Pada speech processor terdapat sirkuit listrik khusus yang berfungsi meredam bising lingkungan. Persiapan implantasi koklea

Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari implantasi koklea perlu dilakukan persiapan yang matang mencakup konsultasi denga orang tuauntuk memperoleh informasi tentang riwayat penyakit anak serta harapan orang tua terhadap implantasi koklea. Pemeriksaan fisik meliputi pemriksaan THT, radiologic (CT-Scan untuk melihat keadaan koklea), laboratorium darah. Tes pendengaran yang harus dilakukan antara lain Behavior observasional audiometric (BOA), timpanometri, OAE, BERA dan ASSR (auditory steady state respon) bila diperlukan serta audiometric nada murni untuk anak yang lebih besar dan koperatif. Tes kemampuan wicara dan berbahasa perlu dinilai sebelum menggunakan ABD. Sebelum operasi dianjurkan untuk menggunakan ABD selama 8 -10 minggu bersamaan dengan terapi audio verbal untuk menilai manfaatnya. Tes psikologi dilakukan untuk menilai kemampuan anak untuk belajar setelah dilakukan implantasi koklea. Program rehabilitasi pasca bedah Switch on yaitu pengaktifan alat, dilakukan 2 4 minggu pasca bedah. Pemeriksaan CTScan pasaca bedah untuk menilai keadaan elektroda yang telah terpasang di dalam koklea. Pada anak yang tidak kooperatif data awal dapat diperoleh dengan melakukan NRT(neural respon telemetry) terlebih dahulu kemudian menerapkan C (comfortable) level yaitu suara keras yang dapa ditoleransi tanpa menimbulkan rasa sakit dan T (threshold) level suara terkecil yang dideteksi. Yang dimaksud dengan pemetaan (mapping) adalah proses untuk menetapkan dan mengatur sejumlah aliran listrik yang disampaikan ke koklea. Program yang dibuat disimpan pada speech processor dan jumlahnya tergantung pada jenis implant yang digunakan dan berbeda untuk tiap orang. Selajutnya anak mengikuti program audio verbal secara teratur disertai pemetaan berkala. Keberhasilan implantasi koklea ditentukan dengan menilai kemampuan mendengar, pertambahan kosa kata dan pemahaman bahasa.

Jenis ABD fully implantable atau middle ear implant adalah alat bantu dengar yang sama sekali tidak terlihat, mengubah bunyi menjadi gerak mekanik yang langsung menstimulasi tulang tulang pendengaran dengan kualitas bunyi yang sangat baik dan digunakan khusus dewasa. Alat bantu dengar ini terdiri dari tiga komponen, yaitu prosesor audio eksternal yang mengirim sinyal elektrik dan sebuag transducer yang dipasang di tulang pendengaran. Keuntungan alat bantu dengar jenis ini adalah meningkatkan kejelasan suara, mengurangi feedback, dan mengeliminasi adanya efek oklusi. 13. Gangguan pendnegaran Pembagian gangguan pendengaran berdasarakan tingkatan beratnya gangguan pendengaran. 1. Tuli Konduktif Disebabkan oleh kondisi patologis pada kanal telinga eksterna, membran timpani atau telinga tengah. Gangguan pendengaran konduktif tidak melebihi 60 Db karena dihantarkan menuju koklea melalui tulang (hantaran melalui tulang) bila intensitasnya tinggi. Penyebab tersering jenis ini adalah Otitids media sekretorik. Kedua kelainan tersebut jarang menyebabkan kelainan gangguan pendengaran melebihi 40 db. 2. Tuli Sensorineural Disebabkan oleh kerusakan atau malfungsi koklea, saraf pendengaran dan batang otak sehingga bunyi tidak dapat diproses sebagaimana mestinya. Bila kerusakan terbatas pada sel rambut di koklea, maka sel ganglion dapat bertahan atau mengalami degenerasi transneural. Bila sel ganglion rusak, makan nervus VIII akan mengalami degenerasi Wallerian.

Penyebabnya antara lain adalah : kelainan bawaan, genetik, penyakit/ kelainan pada saat dalam kandungan, proses kelahiran, obat ototoksik, infeksi virus, radang selaput otak, kadar bilirubin yang tinggi. Penyebab utama gangguan pendengaran ini disebabkan oleh genetik atau infeksi, sedangkan penyakit lebih jarang. 3. Tuli Campuran Bila gangguan pendengaran atau tuli konduktif dan sensorineural terjadi bersamaan. Faktor Penyebab 1) Faktor Genetik Gangguan pendengaran karena faktor genetik pada umumnya berupa gangguan pendengaran bilateral tetapi dapat pula asimetrik dan mungkin bersifat statis maupun progresif, kelainan dapat bersifat dominan, resesif, berhubungan dengan kromosom X (Contoh : Hunters Syndrome, Alport Syndrome, Norrie disease) kelainan mitokondria (Keanes Sayre syndrome), atau merupakan suatu malformasi ada satu atau beberapa organ telinga (stenosis atau atresia kanal telinga eksternal sering dihubungkan dengan malformasi pinna dan rantai osikuler yang menimbulkan tuli konduktif. 2) Faktor Didapat a) Infeksi Rubela kogenital, Cytomegalovirus, Toxoplsamosis, Herpes Simpleks, Meningitis Bakteri, Otitis Media Supuratif Kronik , Mastoiditis, Kolesteatoma, Endolabirinitis, Kogenital Sifilis. b) Neonatal hiperbillirubinemia c) Masalah perinatal Prematuritsa, anoksia berat, hiperbillirubinemia, obat ototoksik. d) Obat Ototoksik

Golongan Antibiotik : Erythromycin, Gentamicin, Streptomycin, Netilmicin, Amikasin, Neomycin, Kanamycin, Vancomycin. Golongan Diuretika : Furosemide. e) Trauma Fraktur tulang temporal , perdarahan pada telinga tengah atau koklea, dislokasi osikular, trauma suara. f) Neoplasma Bilateral acoustic neurioma (neurofibromatosis 2) cerebellopalatine tumor, tumor telinga tengah . 18. KELAINAN CONGENITAL Preaurikular fistel Accessory auricle Kelainan ukuran / posisi anotia, microtia, macrotia, loop ear(bat ear) syndroma kongenital Treacher Collin syndr

14. Audiomteri Audiometri adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengetahui level pendengaran seseorang. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri, maka derajat

ketajaman pendengaran seseorang dapat dinilai. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau seseorang yang akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendengaran. Dalam mendeteksi kehilangan pendengaran, audiometer adalah satu-satunya instrumen diagnostik yang paling penting. Uji audiometri ada dua macam: (1) audiometri nadamurni, di mana stimulus suara terdiri atas nada murni atau musik (semakin keras nada sebelum pasien bisa mendengar berarti semakin besar kehilangan pendengarannya), dan (2) audiometri wicara di mana kata yang diucapkan digunakan untuk menentukan kemampuan mendengar dan membedakan suara. Frekuensi Merujuk pada jumlah gelombang suara yang dihasilkan oleh sumber bunyi per detik siklus perdetik atau hertz (Hz). Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwensi dari 20 sampai 20.000Hz. 500 sampai 2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari yang dikenal sebagai kisaran wicara. Nada adalah istilah untuk menggambarkan frekuensi; nada dengan frekwensi 100 Hz dianggap sebagai nada rendah, dan nada 10.000 Hz dianggap sebagai nada tinggi. Unit untuk mengukur kerasnya bunyi (intensitas suara) adalah desibel (dB), tekanan yang ditimbulkan oleh suara. Kehilangan pendengaran diukur dalam decibel, yang merupakan fungsi logaritma intensitas dan tidak bisa dengan mudah dikonversikan ke persentase. Ambang kritis kekerasan adalah sekitas 30 dB. Beberapa contoh intensitas suara yang biasa termasuk gesekan kertas dalam lingkungan yang sunyi, terjadi pada sekitar 15 dB; per kapan rendah, 40 dB; dan kapal terbang jet sejauh kaki, tercatat sekitar 150 dB. Suara yang lebih keras i 80 dB didengar telinga manusia sangat keras. Suara yang terdengar tidak nyaman dapat merusak telinga dalam Timpanogram atau audiometri impedans, menggunakan refleks otot telinga tengah terhadap stimulus suara, kelenturan membrana timpani, dengan mengubah teh udara dalam kanalis telinga yang tertutup Respons batang otak auditori (ABR, auditori brain sistem response) adalah potensial elektris yang dapat terteksi dari narvus kranialis VIII (narvus akustikus) alur

auditori asendens batang otak sebagai respons stimulasi suara. Merupakan metoda objektif untuk mengukur pendengaran karena partisipasi aktif pasien sama sekali tidak diperlukan seperti pada audiogram perilaku. Elektroda ditempatkan pada dahi pasien dan stimuli akustik, biasanya dalam bentuk detak, diperdengarkan ke telinga. pengukuran elektrofisiologis yang dihasilkan dapat di tentukan tingkat desibel berapa yang dapat didengarkan pasien dan apakah ada kelainan sepanjang alur syaraf, seperti tumor pada nervus kranialis VIII. Elektrokokleografi (ECoG) adalah perekaman potensial elektrofisologis koklea dan nervus kranialis VIII bagai respons stimuli akustik. Rasio yang dihasilkan digunakan untuk membantu dalam mendiagnosa kelainan keseimbangan cairan telinga dalam seperti penyakit Meniere dan fistula perilimfe. Prosedur ini dilakukan dengan menempatkan elektroda sedekat mungkin dengan koklea, baik di kanalis auditorius eksternus tepat di dekat membrana timpani atau melalui elektroda transtimpanik yang diletakkan melalui mambrana timpani dekat membran jendela bulat. Untuk persiapan pengujian, pasien diminta unluk tidak memakai diuretika selama 48 jam sebelum uji dilakukan sehingga keseimbangan cairan di dalam telinga tidak berubah. a. Audiometri nada murni

Suatu sistem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500, 1000-2000, 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hantaran udara dan hantaran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang, sehingga akan didapatkan kurva hantaran tulang dan hantaran udara. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengetahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Gambaran audiogram ratarata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada murni.

Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekuensi 20-20.000 Hz. Frekuensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari. Kehilangan (Desibel) 0-15 >15-25 >25-40 >40-55 >55-70 >70-90 >90 Klasifikasi Pendengaran normal Kehilangan pendengaran kecil Kehilangan pendengaran ringan Kehilangan pendengaran sedang Kehilangan pendengaran sedang sampai berat Kehilangan pendengaran berat Kehilangan pendengaran berat sekali

Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran pasien pada stimulus nada murni. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. Grafiknya terdiri dari skala decibel, suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone conduction). Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL. 15. Vertigo Vertigo adalah perasaan berputar. Dalam bahasa Indonesia pusing yang sangat membingungkan, sebab terlalu luas pemakaiannya. Berdasarkan kejaian, vertigo ada beberapa macam : a. Vertigo spontan : vertigo timbul tanpa pemberi rangsangan. Rangsangan timbul dari penyakitnya sendiri, misalnya penyakit meniere oleh sebab takanan endolimfa yang meninggi b. Vertigo posisi : timbul disebabkan perubahan posisi kepala. Vertigo timbul karena perangsangan kupula kanalis semisirkularis oleh debris atau karena kelainan servikal. Debris adalah kotoran yang menempel pada kupula kanalis semisirkularis c. Vertigo kalori : pada pemeriksaan kalori.

Tinitus adalah salah satu bentuk gangguan pendengaran berupa sensasi suara tanpa adanya rangsangan dari luar, dapat berupa sinyal mekanoakustik maupun listrik. Keluhan suara yang di dengar sangat bervariasi, dapat berupa bunyi mendenging, menderu, mendesis, mengaum, atau berbagai macam bunyi lainnya. Suara yang didengar dapat bersifat stabil atau berpulsasi. Keluhan tinitus dapat dirasakan unilateral dan bilateral. Berdasarkan objek yang mendengar, tinitus dapat dibagi menjadi tinitus objektif dan tinitus subjektif. a. Tinitus Objektif Tinitus objektif adalah tinitus yang suaranya juga dapat di dengar oleh pemeriksa dengan auskultasi di sekitar telinga. Tinitus objektif biasanya bersifat vibratorik, berasal dari transmisi vibrasi sistem muskuler atau kardiovaskuler di sekitar telinga. Umumnya tinitus objektif disebabkan karena kelainan vaskular, sehingga tinitusnya berdenyut mengikuti denyut jantung. Tinitus berdenyut ini dapat dijumpai pada pasien dengan malformasi arteriovena, tumor glomus jugular dan aneurisma. Tinitus objektif juga dapat dijumpai sebagai suara klik yang berhubungan dengan penyakit sendi temporomandibular dan karena kontraksi spontan dari otot telinga tengah atau mioklonus palatal. Tuba Eustachius paten juga dapat menyebabkan timbulnya tinitus akibat hantaran suara dari nasofaring ke rongga tengah. b. Tinitus Subjektif Tinnitus objektif adalah tinnitus yang suaranya hanya dapat didengar oleh penderita saja. Jenis ini sering sekali terjadi.tinitus subjektif bersifat nonvibratorik, disebabkan oleh proses iritatif dan perubahan degeneratif traktus auditoris mulai sel-sel rambut getar sampai pusat pendengaran. Tinitus subjektif bervariasi dalam intensitas dan frekuensi kejadiannya. Beberapa pasien dapat mengeluh mengenai sensasi pendengaran dengan intensitas yang rendah, sementara pada orang yang lain intensitas suaranya mungkin lebih tinggi. Berdasarkan kualitas suara yang didengar pasien ataupun pemeriksa, tinitus dapat dibagi menjadi tinitus pulsatil dan tinitus nonpulsatil. a. Tinitus Pulsatil Tinitus pulsatil adalah tinitus yang suaranya bersamaan dengan suara denyut jantung. Tinitus pulsatil jarang dimukan dalam praktek sehari-hari. Tinitus pulsatil dapat terjadi akibat adanya

kelainan dari vaskular ataupun di luar vaskular. Kelaianan vaskular digambarkan dengan sebagai bising mendesis yang sinkron dengan denyut nadi atau denyut jantung. Sedangkan tinitus nonvaskular digambarkan sebagai bising klik, bising goresan atau suara pernapasan dalam telinga. Pada kedua tipe tinitus ini dapat kita ketahui dengan mendengarkannya menggunakan stetoskop. b. Tinitus Nonpulsatil Tinitus jenis ini bersifat menetap dan tidak terputuskan. Suara yang dapat didengar oleh pasien bervariasi, mulai dari suara yang berdering, berdenging, berdengung, berdesis, suara jangkrik, dan terkadang pasien mendengarkan bising bergemuruh di dalam telinganya. Biasanya tinitus ini lebih didengar pada ruangan yang sunyi dan biasanya paling menganggu di malam hari sewaktu pasien tidur, selama siang hari efek penutup kebisingan lingkungan dan aktivitas sehari-hari dapat menyebabkan pasien tidak menyadari suara tersebut. Etiologi Tinitus paling banyak disebabkan karena adanya kerusakan dari telinga dalam. Terutama kerusakan dari koklea. Secara garis besar, penyebab tinitus dapat berupa kelainan yang bersifat somatik, kerusakan N. Vestibulokoklearis, kelainan vascular, tinitus karena obat-obatan, dan tinitus yang disebabkan oleh hal lainnya. 1. Tinitus karena kelainan somatik daerah leher dan rahang a. Trauma kepala dan Leher Pasien dengan cedera yang keras pada kepala atau leher mungkin akan mengalami tinitus yang sangat mengganggu. Tinitus karena cedera leher adalah tinitus somatik yang paling umum terjadi. Trauma itu dapat berupa Fraktur tengkorak, Whisplash injury. b. Artritis pada sendi temporomandibular (TMJ) Berdasarkan hasil penelitian, 25% dari penderita tinitus di Amerika berasal dari artritis sendi temporomandibular.4 Biasanya orang dengan artritis TMJ akan mengalami tinitus yang berat. Hampir semua pasien artritis TMJ mengakui bunyi yang di dengar adalah bunyi menciut. Tidak diketahui secara pasti hubungan antara artritis TMJ dengan terjadinya tinitus. 2. Tinitus akibat kerusakan n. Vestibulokoklearis Tinitus juga dapat muncul dari kerusakan yang terjadi di saraf yang menghubungkan antara telinga dalam dan kortex serebri bagian pusat pendengaran. Terdapat beberapa kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan dari n. Vestibulokoklearis, diantaranya infeksi virus pada n.VIII,

tumor yang mengenai n.VIII, dan Microvascular compression syndrome (MCV). MCV dikenal juga dengan vestibular paroxysmal. MCV menyebabkan kerusakan n.VIII karena adanya kompresi dari pembuluh darah. Tapi hal ini sangat jarang terjadi. 3. Tinitus karena kelainan vaskular Tinitus yang di dengar biasanya bersifat tinitus yang pulsatil. Akan didengar bunyi yang simetris dengan denyut nadi dan detak jantung. Kelainan vaskular yang dapat menyebabkan tinitus diantaranya: a. Atherosklerosis Dengan bertambahnya usia, penumpukan kolesterol dan bentuk-bentuk deposit lemak lainnya, pembuluh darah mayor ke telinga tengah kehilangan sebagian elastisitasnya. Hal ini mengakibatkan aliran darah menjadi semakin sulit dan kadang-kadang mengalami turbulensi sehingga memudahkan telinga untuk mendeteksi iramanya. b. Hipertensi Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan gangguan vaskuler pada pembuluh darah koklea terminal. c. Malformasi kapiler Sebuah kondisi yang disebut AV malformation yang terjadi antara koneksi arteri dan vena dapat menimbulkan tinitus. d. Tumor pembuluh darah Tumor pembuluh darah yang berada di daerah leher dan kepala juga dapat menyebabkan tinitus. Misalnya adalah tumor karotis dan tumor glomus jugulare dengan ciri khasnya yaitu tinitus dengan nada rendah yang berpulsasi tanpa adanya gangguan pendengaran. Ini merupakan gejala yang penting pada tumor glomus jugulare. 4. Tinitus karena kelainan metabolik Kelainan metabolik juga dapat menyebabkan tinitus. Seperti keadaan hipertiroid dan anemia (keadaan dimana viskositas darah sangat rendah) dapat meningkatkan aliran darah dan terjadi turbulensi. Sehingga memudahkan telinga untuk mendeteksi irama, atau yang kita kenal dengan tinitus pulsatil. Kelainan metabolik lainnya yang bisa menyebabkan tinitus adalah defisiensi vitamin B12, begitu juga dengan kehamilan dan keadaan hiperlipidemia.

5. Tinitus akibat kelainan neurologis Yang paling umum terjadi adalah akibat multiple sclerosis. multiple sclerosis adalah proses inflamasi kronik dan demyelinisasi yang mempengaruhi system saraf pusat. Multiple sclerosis dapat menimbulkan berbagai macam gejala, di antaranya kelemahan otot, indra penglihatan yang terganggu, perubahan pada sensasi, kesulitan koordinasi dan bicara, depresi, gangguan kognitif, gangguan keseimbangan dan nyeri, dan pada telinga akan timbul gejala tinitus. 6. Tinitus akibat kelainan psikogenik Keadaan gangguan psikogenik dapat menimbulkan tinitus yang bersifat sementara. Tinitus akan hilang bila kelainan psikogeniknya hilang. Depresi, anxietas dan stress adalah keadaan psikogenik yang memungkinkan tinitus untuk muncul. 7. Tinitus akibat obat-obatan Obat-obatan yang dapat menyebabkan tinitus umumnya adalah obat-obatan yang bersifat ototoksik. Diantaranya : a. Analgetik, seperti aspirin dan AINS lainnya b. Antibiotik, seperti golongan aminoglikosid (mycin), kloramfenikol, tetrasiklin, minosiklin. c. Obat-obatan kemoterapi, seperti Belomisisn, Cisplatin, Mechlorethamine, methotrexate, vinkristin d. Diuretik, seperti Bumatenide, Ethacrynic acid, Furosemide e. lain-lain, seperti Kloroquin, quinine, Merkuri, Timah 8. Tinitus akibat gangguan mekanik Gangguan mekanik juga dapat menyebabkan tinitus objektif, misalnya pada tuba eustachius yang terbuka sehingga ketika kita bernafas akan menggerakkan membran timpani dan menjadi tinitus. Kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius serta otot-otot palatum juga akan menimbulkan tinitus. 9. Tinitus akibat gangguan konduksi Gangguan konduksi suara seperti infeksi telinga luar (sekret dan oedem), serumen impaksi, efusi telinga tengah dan otosklerosis juga dapat menyebabkan tinitus. Biasanya suara tinitusnya bersifat suara dengan nada rendah. Tinitus akibat sebab lainnya a. Tuli akibat bising

Disebabkan terpajan oleh bising yang cukup keras dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Umumnya terjadi pada kedua telinga. Terutama bila intensitas bising melebihi 85db, dapat mengakibatkan kerusakan pada reseptor pendengaran korti di telinga dalam. Yang sering mengalami kerusakan adalah alat korti untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi 3000Hz sampai dengan 6000Hz. Yang terberat kerusakan alat korti untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi 4000Hz. b. Presbikusis Tuli saraf sensorineural tinggi, umumnya terjadi mulai usia 65 tahun, simetris kanan dan kiri, presbikusis dapat mulai pada frekuensi 1000Hz atau lebih. Umumnya merupakan akibat dari proses degenerasi. Diduga berhubungan dengan faktor-faktor herediter, pola makanan, metabolisme, aterosklerosis, infeksi, bising, gaya hidup atau bersifat multifaktor. Menurunnya fungsi pendengaran berangsur dan kumulatif. Progresivitas penurunan pendengaran lebih cepat pada laki-laki disbanding perempuan. c. Sindrom Meniere Penyakit ini gejalanya terdiri dari tinitus, vertigo dan tuli sensorineural. Etiologi dari penyakit ini adalah karena adanya hidrops endolimf, yaitu penambahan volume endolimfa, karena gangguan biokimia cairan endolimfa dan gangguan klinik pada membrane labirin1,4,5,6

Diagnosis Untuk mendiagnosis pasien dengan tinitus, diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang baik. a. Anamnesis

Anamnesis adalah hal yang sangat membantu dalam penegakan diagnosis tinitus. Dalam anamnesis banyak sekali hal yang perlu ditanyakan, diantaranya: - Kualitas dan kuantitas tinitus - Lokasi, apakah terjadi di satu telinga ataupun di kedua telinga - Sifat bunyi yang di dengar, apakah mendenging, mendengung, menderu, ataupun mendesis dan bunyi lainnya - Apakah bunyi yang di dengar semakin mengganggu di siang atau malam hari - Gejala-gejala lain yang menyertai seperti vertigo dan gangguan pendengaran serta gangguan neurologik lainnya. - Lama serangan tinitus berlangsung, bila berlangsung hanya dalam satu menit dan setelah itu hilang, maka ini bukan suatu keadaan yang patologik, tetapi jika tinitus berlangsung selama 5 menit, serangan ini bias dianggap patologik. - Riwayat medikasi sebelumnya yang berhubungan dengan obat-obatan dengan sifat ototoksik - Kebiasaan sehari-hari terutama merokok dan meminum kopi - Riwayat cedera kepala, pajanan bising, trauma akustik - Riwayat infeksi telinga dan operasi telinga Umur dan jenis kelamin juga dapat memberikan kejelasan dalam mendiagnosis pasien dengan tinitus. Tinitus karena kelainan vaskuler sering terjadi pada wanita muda, sedangkan pasien dengan myoklonus palatal sering terjadi pada usia muda yang dihubungkan dengan kelainan neurologi. Pada tinitus subjektif unilateral perlu dicurigai adanya kemungkinan neuroma akustik atau trauma kepala, sedangkan bilateral kemungkinan intoksikasi obat, presbikusis, trauma bising dan penyakit sistemik. Jika pasien susah untuk mendeskripsikan apakah tinitus berasal dari telinga kanan atau telinga kiri, hanya mengatakan di tengah kepala, kemungkinan besar terjadi kelainan patologis di saraf pusat, misalnya serebrovaskuler, siringomelia dan sklerosis multipel. Kelainan patologis pada putaran basal koklea, saraf pendengar perifer dan sentral pada umumnya bernada tinggi (mendenging). Tinitus yang bernada rendah seperti gemuruh ombak adalah ciri khas penyakit telinga koklear (hidrop endolimfatikus).1

b. Pemeriksaan fisik dan Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan fisik dan penunjang yang baik, diharapkan sesuai dengan diagram berikut:
ear exam-->(audible sounds)-+-->sync w/respiration-->patent eustachian | | tube | | | | | | | +-->sync w/pulse-->aneurysm, vascular tumor, v | vascular malformation, (no audible sounds) | venous hum | | | | | | | +-->continuous-->venous hum, acoustic | emissions | | v neurological exam-->(normal)-->audiogram | | | | | +-->normal-->idiopathic tinnitus | | | | | +-->conductive hearing loss v | | (brain stem signs) | v | | impacted cerumen, chronic | | otitis, otosclerosis | | v | multiple sclerosis, +-->sensorineural hearing loss tumor, ischemic | infarction v BAER Test | v +---------+--------------+ | | | | v v abnormal (neural) normal cochlear | | | | | | v v acoustic neuroma noise damage other tumors ototoxic drugs vascular compression labyrinthitis Meniere's Disease perilymph fistula presbycusis
sumber : http://www.bixby.org/faq/tinnitus/diagnose.htm

Pemeriksaan fisik pada pasien dengan tinitus dimulai dari pemeriksaan auskultasi dengan menggunakan stetoskop pada kedua telinga pasien. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan apakah tinitus yang didengar pasien bersifat subjektif atau objektif. Jika suara tinitus juga dapat didengar oleh pemeriksa, artinya bersifat subjektif, maka harus ditentukan sifat dari suara tersebut. jika suara yang didengar serasi dengan pernapasan, maka kemungkinan besar tinitus terjadi karena tuba eustachius yang paten. Jika suara yang di dengar sesuai dengan denyut nadi dan detak jantung, maka kemungkinan besar tinitus timbul karena aneurisma, tumor vaskular, vascular malformation, dan venous hum. Jika suara yang di dengar bersifat kontinua, maka kemungkinan tinitus terjadi karena venous hum atau emisi akustik yang terganggu. Pada tinitus subjektif, yang mana suara tinitus tidak dapat didengar oleh pemeriksa saat auskultasi, maka pemeriksa harus melakukan pemeriksaan audiometri. Hasilnya dapat beragam, di antaranya: - Normal, tinitus bersifat idiopatik atau tidak diketahui penyebabnya. - Tuli konduktif, tinitus disebabkan karena serumen impak, otosklerosis ataupun otitis kronik. - Tuli sensorineural, pemeriksaan harus dilanjutkan dengan BERA (Brainstem Evoked Response Audiometri). Hasil tes BERA, bisa normal ataupun abnormal. Jika normal, maka tinitus mungkin disebabkan karena terpajan bising, intoksikasi obat ototoksik, labirinitis, meniere, fistula perilimfe atau presbikusis. Jika hasil tes BERA abnormal, maka tinitus disebabkan karena neuroma akustik, tumor atau kompresi vaskular. Jika tidak ada kesimpulan dari rentetan pemeriksaan fisik dan penunjang di atas, maka perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa CT scan ataupun MRI. Dengan pemeriksaan tersebut, pemeriksa dapat menilai ada tidaknya kelainan pada saraf pusat. Kelainannya dapat berupa multipel sklerosis, infark dan tumor.7

Penatalaksanaan Pengobatan tinitus merupakan masalah yang kompleks dan merupakan fenomena psikoakustik murni, sehingga tidak dapat diukur. Perlu diketahui penyebab tinitus agar dapat diobati sesuai dengan penyebabnya. Misalnya serumen impaksi cukup hanya dengan ekstraksi serumen. Tetapi masalah yang sering di hadapi pemeriksa adalah penyebab tinitus yang terkadang sukar diketahui.

Ada banyak pengobatan tinitus objektif tetapi tidak ada pengobatan yang efektif untuk tinitus subjektif. Pada umumnya pengobatan gejala tinitus dapat dibagi dalam 4 cara yaitu : 1. Elektrofisiologik yaitu dengan membuat stimulus elektro akustik dengan intensitas suara yang lebih keras dari tinitusnya, dapat dengan alat bantu dengar atau tinitus masker. 2. Psikologik, dengan memberikan konsultasi psikologik untuk meyakinkan pasien bahwa penyakitnya tidak membahayakan dan dengan mengajarkan relaksasi setiap hari. 3. Terapi medikamentosa, sampai saat ini belum ada kesepakatan yang jelas diantaranya untuk meningkatkan aliran darah koklea, tranquilizer, antidepresan, sedatif, neurotonik, vitamin, dan mineral.
4. Tindakan bedah dilakukan pada tinitus yang telah terbukti disebabkan oleh akustik neuroma.

Pada keadaan yang berat, dimana tinitus sangat keras terdengar dapat dilakukan Cochlear nerve section. Menurut literatur, dikatakan bahwa tindakan ini dapat menghilangkan keluhan pada pasien. Keberhasilan tindakan ini sekitar 50%. Cochlear nerve section merupakan tindakan yang paling terakhir yang dapat dilakukan.

Pasien tinitus sering sekali tidak diketahui penyebabnya, jika tidak tahu penyebabnya, pemberian antidepresan dan antiansietas sangat membantu mengurangi tinitus. Hal ini dikemukakan oleh Dobie RA, 1999. Obat-obatan yang biasa dipakai diantaranya Lorazepam atau klonazepam yang dipakai dalam dosis rendah, obat ini merupakan obat golongan benzodiazepine yang biasanya digunakan sebagai pengobatan gangguan kecemasan. golongan antidepresan trisiklik.4 Pasien yang menderita gangguan ini perlu diberikan penjelasan yang baik, sehingga rasa takut tidak memperberat keluhan tersebut. Obat penenang atau obat tidur dapat diberikan saat menjelang tidur pada pasien yang tidurnya sangat terganggu oleh tinitus itu. Kepada pasien harus dijelaskan bahwa gangguan itu sukar diobati dan dianjurkan agar beradaptasi dengan gangguan tersebut. Penatalaksanaan terkini yang dikemukakan oleh Jastreboff, berdasar pada model neurofisiologinya adalah kombinasi konseling terpimpin, terapi akustik dan medikamentosa bila diperlukan. Metode ini disebut dengan Tinnitus Retraining Therapy. Tujuan dari terapi ini adalah memicu dan menjaga reaksi habituasi dan persepsi tinitus dan atau suara lingkungan yang Obat lainnya adalah

amitriptyline atau nortriptyline yang digunakan dalam dosis rendah juga, obat ini adalah

mengganggu. Habituasi diperoleh sebagai hasil modifikasi hubungan system auditorik ke sistem limbik dan system saraf otonom. TRT walau tidak dapat menghilangkan tinitus dengan sempurna, tetapi dapat memberikan perbaikan yang bermakna berupa penurunan toleransi terhadap suara. TRT biasanya digunakan jika dengan medikasi tinitus tidak dapat dikurangi atau dihilangkan. TRT adalah suatu cara dimana pasien diberikan suara lain sehingga keluhan telinga berdenging tidak dirasakan lagi. Hal ini bisa dilakukan dengan mendengar suara radio FM yang sedang tidak siaran, terutama pada saat tidur. Bila tinitus disertai dengan gangguan pendengaran dapat diberikan alat bantu dengar yang disertai dengan masking.8 TRT dimulai dengan anamnesis awal untuk mengidentifikasi masalah dan keluhan pasien. Menentukan pengaruh tinitus dan penurunan toleransi terhadap suara sekitarnya, mengevakuasi kondisi emosional pasien, mendapatkan informasi untuk memberikan konseling yang tepat dan membuat data dasar yang akan digunakan untuk evaluasi terapi. 1,4 Terapi edukasi juga dapat kita berikan ke pasien. Diantaranya: - Hindari suara keras yang dapat memperberat tinitus. - Kurangi makanan bergaram dan berlemak karena dapat meningkatkan tekanan darah yang merupakan salah satu penyebab tinitus. - Hindari faktor-faktor yang dapat merangsang tinitus seperti kafein dan nikotin - Hindari obat-obatan yang bersifat ototoksik - Tetap biasakan berolah raga, istarahat yang cukup dan hindari kelelahan

Berdasarkan Chicago Dizziness and Hearing Association dengan versi yang telah diperbaharui pada tanggal 26 oktober 2008, berikut diagram penatalaksaan tinitus: Tinnitus Management Flow Sheet
Chicago Dizziness and Hearing, Version Oct 26, 2008

Tinnitus (noise in ear) Interview Audiogram, Tinnitus matching, OAE ABR Anxious, depressed ECOG MRI if unilateral

Had diagnostic workup? Anxiolytics (Klonazepam, Aplrazolam) Antidepressants (Effexor, Nortriptyline, Paxil) Sedatives (Lunesta, Klonazepam, Trazedone) Devices: Masking (household noises, Tinnitus CDs) Hearing aid Masker Conditioning device (Neuromonics, similar)

Anxious, depressed, sleepless?

Betahistine Dyazide

Ear meds

Patient wishes to try Medication, TRT, devices

Neurontin, Topamax, Oxcarbamazine Niacin 50 bid Pavabid 150 BID Persantine 25 TID Trental 400 TID

Anticonvulsan ts

Schedule for TRT Psychological management Hypnosis, Biofeedback

Vasoactive Electrical stimulators Not appropriate for everyone Neuroprobe 500 Ultrasonic (Ultraquiet, Hisonic)

Medrol dose pack

Steroid s Alternative

Ginkgo Acupuncture Lipoflavenoid s

Surgery (last resort)

Cochlear nerve section Labyrinthectomy Electrical stimulator implant


Sumber : http://www.dizziness-and-balance.com/disorders/hearing/pdfs/tinnitus%20management.pdf

Beri Nilai