Anda di halaman 1dari 2

Hubungan luka terkena parang dengan hasil pemeriksaan lab.

Pada scenario didapatkan hasil pemeriksaan laboratorium adalah sebagai berikut : jumlah leukosit 16.000sel/l, LED (Laju Endap Darah) = 35 mm/jam, dengan hitung jenis leukosit : basophil 1%, eosinophil 1%, metamyelosit 2%, neutrophil batang 6%, neutrophil segmen 75%, limfosit 4%, monosit 11%. Dibandingkan dengan harga rujukan, harga basophil, eosinophil, dan neutrophil batang termasuk normal, sementara limfosit menurun sedangkan jumlah leukosit, LED, neutrophil segmen, monosit dan metamyelosit lebih dari batas normal. Hal ini disebabkan karena adanya luka yang terjadi sebagai akibat dari terkena parang. Luka akibat terkena parang tersebut bisa menyebabkan bakteri atau mikroorganisme lainnya masuk, bakteri yang masuk akan menyebabkan terjadinya infeksi. Untuk membersihkan bakteri tersebut produksi neutrophil dan monosit ditingkatkan. Bakteri tersebut akan dibersihkan dengan cara difagositosis yang memang merupakan tugas dari neutrophil dan monosit. Biasanya yang memberikan tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri adalah neutrophil. Kedatangan neutrofil pada jaringan yang terluka disebabkan oleh sinyal kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel yang terinfeksi pada jaringan tersebut. Neutrofil bekerja dengan cara memasuki jaringan yang terinfeksi, kemudian memakan dan merusak mikroba yang terdapat di sana. Aktivitas dan matinya neutrofil dalam jumlah yang banyak menyebabkan adanya nanah. Granul pada neutrofil ada dua : Azurofilik yang mengandung enzym lisozom dan peroksidase. Granul spesifik lebih kecil mengandung fosfatase alkali dan zat-zat bakterisidal (protein Kationik) yang dinamakan fagositin. Adanya asam amino D oksidase dalam granula azurofilik penting dalam pencernaan dinding sel bakteri yang mengandung asam amino D. Selama proses fagositosis dibentuk peroksidase. Mielo peroksidase yang terdapat dalam neutrofil berikatan dengan peroksida dan halida bekerja pada molekultirosin dinding sel bakteri dan menghancurkannya. Cara kerja monosit hampir sama dengan cara kerja neutrofil. Perbedaannya, monosit akan berkembang menjadi makrofag setelah masuk ke dalam jaringan. Makrofag merupakan sel fagosit yang terbesar. Sel makrofag ini memiliki kaki semu (pseudopodia) yang panjang.

Pseudopadia ini berfungsi melekatkan diri pada mikroba. Mikroba yang menempel pada pseudopodia ini akan ditelan oleh makrofag dan kemudian dirusak oleh enzim-enzim lisosom makrofag. Jumlah eosinophil dan basophil didapatkan normal. Eosinophil biasanya meningkat jika ada parasit dalam tubuh, seperti cacing darah. Semakin banyak parasit, semakin banyak pula eosinophil di dalam darah. Sedangkan jumlah limfosit menurun karena limfosit beredar di darah hanya sebentar, limfosit membawa agen penginfeksi ke nodul limfe, karena adanya infeksi akibat luka parang tersebut banyak limfosit yang ke nodul limfe, maka jumlah limfosit yang ada di darah hanya sedikit.

Dapus Guyton A. C., Hall J. E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta : EGC. Effendi, Zukesti, dr. 2003. Peranan Leukosit Sebagai Anti Inflamasi Alergik Dalam Tubuh. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3564/1/histologi-zukesti2.pdf, diakses 4 April 2013)