Anda di halaman 1dari 83

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana

BAB II STUDY LITERATUR

2.1

PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN Perumahan adalah salah satu kebutuhan pokok yang menjadi tolok ukur

keberhasilan atau tingkat kesejahteraan suatu keluarga disamping kebutuhan pangan dan sandang. Di dalam rumahlah manusia berlindung dari panas, hujan, dan ancaman keamanan serta mengenal lingkungannya. Oleh karena itu, rumah bukan hanya sekedar sarana pelengkap kehidupan, tetapi lebih sebagai proses bersosialisasi di masyarakat luas. Keadaan atau kondisi tempat tinggal (rumah) serta rumah tangga/masyarakat dapat mencerminkan gambaran keberhasilan pembangunan, khususnya di bidang perumahan dan permukiman. Permasalahan di bidang perumahan yang sangat terasa adalah tingginya tingkat pertumbuhan penduduk (rumah tangga baru) sehingga permintaan unit rumah terus meningkat sejalan dengan dinamika pertumbuhan penduduk. Di sisi lain luas lahan untuk pembangunan perumahan yang relatif tidak bertambah, juga merupakan persoalan yang tidak bisa dianggap mudah. Selain permasalahan tingginya kebutuhan perumahan, pembangunan perumahan juga perlu memenuhi persyaratan sehat dan aman, baik ditinjau dari sisi kesehatan (antara lain kondisi rumah, sanitasi lingkungan, sumber air bersih, dan polusi) maupun keamanan (antara lain kejahatan dan bencana alam). Pembangunan permukiman dan perumahan layak huni merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi peningkatan kualitas hidup manusia dan pada dasarnya merupakan suatu wadah bagi pengembangan sumber daya masyarakat. Perumahan dan permukiman yang sehat dan higenis merupakan suatu indikasi terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang ditandai oleh meningkatnya kualitas kehidupan yang wajar dan bermanfaat yang pada hakekatnya memberikan perhatian utama terpenuhi akan kebutuhan papan sebagai salah satu kebutuhan pokok manausia. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana

Pengembangan permukiman tidak hanya menyediakan perumahan untuk tempat tinggal, tetapi juga untuk menciptakan tingkat kehidupan yang sehat secara lingkungan, sosial, ekonomi, budaya dan yang menjamin kualitas kehidupan bagi komunitas disekitarnya. Dimana setiap orang dapat hidup sejahtera, saling menghormati mempunyai akses terhadap prasarana dasar dan pelayanan permukiman yang sesuai dan layak serta mampu memelihara dan meningkatkan kualitas lingkungan. Lingkungan permukiman kurang layak huni yang tumbuh diberbagai kota di Indonesia cenderung disebabkan oleh arus urbanisasi masyarakat untuk mencari penghasilan dan penghidupan yang lebih baik, dan hampir sebagian besar kurang memiliki keterampilan sehingga tingkat hunian terhadap lahan yang ada semakin lama semakin sempit sehingga pada akhirnya terjadi penguasaan lahan oleh sekelompok penduduk urban secara illegal akibatnya tumbuh daerah baru atau lahan hunian baru sementara yang kumuh dan tidak teratur yang tidak sesuai lagi dengan peruntukan-peruntukan sebagimana yang direncanakan dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR). Pembangunan permukiman baik di perkotaan maupun di pedesaan harus dilaksanakan secara terpadu dan terdesentralisasi dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah sesuai jiwa dan semangat Undang-Undang No 22 Tahun 1999. Pelaksanaannya dapat dilakukan oleh masyarakat atau dunia usaha secara mandiri dimana pemerintah pusat hanya sebagai katalisator yang berperan sebagai pembina, pengarah dan pengatur agar tercapai satu tujuan yang diharapkan. Pembangunan perumahan dan permukiman merupakan kegitaan yang bersifat multisektor. Hasilnya langsung menyentuh salah satu kebutuhan dasar masyarakat disamping sandang dan pangan. Sejak awal, pembangunan perumahan dan permukiman di Indonesia telah terselenggara berdasarkan prinsip : 1. Pemenuhan kebutuhan akan rumah layak yang merupakan tanggungjawab masyarakat sendiri. 2. Pemerintah mendukung melalui penciptaan iklim yang memungkinkan masyarakat mandiri dalam mencukupi kebutuhannya akan rumah layak. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Dukungan diberikan melalui penyediaan prasarana dan sarana, perbaikan lingkungan permukiman, peraturan perundangan yang bersifat memayungi, layanan kemudahan dalam perijinan bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Sejalan dengan berlakunya UU No 22 Tahun 1999 dan UU No 25 Tahun 1999 yang disertai dengan PP No 23 Tahun 2000, penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman dilakukan selaras dengan kebijakan dan strategi nasional pembangunan perumahan dan permukiman, yang sampai saat ini masih terus diupayakan mencari masukan untuk kelengkapan dan kesempurnaannya. Bagian terpenting dalam strategi nasional tersebut adalah mengembangkan infrastruktur pembangunan perumahan dan permukiman, dalam hal ini diarahkan pada pembentukan kelembagaan pembiayaan pembangunan perumahan dan permukiman. Pembangunan perumahan dan permukiman merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang pada hakekatnya ialah pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat indonesia, hampir sebagian besar tata kota negara berkembang umumnya tidak terkendali untuk menampung perkembangan penduduk yang cepat. Berdasarkan UU RI No.4 Th 1992 tentang perumahan dan permukiman, permukiman adalah bagian lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik kawasan perkotaan maupun kawasan perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Permukiman yang dimaksud dalam undang undang ini mempunyai lingkup tertentu yaitu kawasan yang didominasi oleh lingkungan hunian yang dengan fungsi utama sebagai tempat tinggal yang dilengkapi dengan prasarana, sarana lingkungan dan tempat kerja yang memberikan pelayanan dan kesempatan kerja terbatas untuk mendukung peri kehidupan sehingga fungsi permukiman tersebut dapat berdaya guna dan berhasil guna.

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Dilihat dari proses bermukim, rumah merupakan sarana pengamanan diri manusia, pemberi ketentraman hidup, dan sebagai pusat kegiatan budaya manusia. Di dalam rumah dan lingkungannya manusia dibentuk menjadi manusia. Di dalam rumah dan lingkungannya manusia dibentuk menjadi manusia yang berkepribadian. Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembina keluarga (pasal 1 UU RI No. 4 tentang perumahan dan permukiman). Selain berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian yang digunakan manusia sebagai tempat berlindung dari gangguan iklim dan mahkluk hidup lainnya, rumah juga merupakan tempat awal pengembangan kehidupan dan penghidupan keluarga dalam lingkungan yang sehat, aman , serasi, dan teratur. Dalam pasal 3 Undangundang No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman, dinyatakan bahwa penataan perumahan dan permukiman, dinyatakan bahwa penataan perumahan dan permukiman berlandaskan pada azas manfaat, adil, dan merata, kebersamaan dan kekeluargaan, kepercayaan kepada diri sendiri, keterjangkauan dan kelestarian lingkungan hidup. Sedangkan tujuan penataan perumahan dan permukiman tersebut adalah: a. Memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia dalam rangka peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. b. Mewujudkan perumahan dan permukiman yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur. c. Memberi arah pada pertumbuhan wilayah dan persebaran penduduk yang rasional. d. Menunjang di bidang ekonomi, sosial, budaya dan lainlain. Dalam pasal 8 Undangundang No. 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman juga dinyatakan bahwa setiap pemilik rumah atau yang dikuasakannya wajib: 1. Memanfaatkan rumah sebagaimana mestinya sesuai dengan fungsi sebagai tempat tinggal atau hunian. 2. Mengelola dan memelihara rumah sebagaimana mestinya. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Kewajiban ini ditekankan untuk mewujudkan pemanfaatan rumah sesuai dengan fungsinya yang utama sebagai tempat tinggal atau hunian dan pembinaan keluarga dan tidak untuk keperluan lain. Pemanfaatan dan penggunaan untuk keperluan lain yang berbeda dengan fungsi utama rumah, perlu dicegah agar tidak menimbulkan dan tidak melanggar peraturan yang berlaku. Sesuai dengan pedoman peraturan Direktorat Jendral Pembangunan Daerah dalam Negeri Tahun 1996 yaitu : a. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. b. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup dikawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan penghidupan. c. Satuan lingkungan permukiman adalah kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan ukuran dengan penataan tanah, ruang, prasarana dan sarana lingkungan yang tersruktur. Menurut Doxiadis dalam teori ekistics (Doxiadis, 1967; hal 21) tempat kediaman manusia (Human Settlement) didefenisikan sebagai tempat kediaman manusia terdiri atas: 1. 2. Isi (The Content), yaitu manusia baik secara individu maupun dalam masyarakat. Wadah (The container), atau tempat kediaman fisik maupun buatan. Kedua elemen ini secara bersamaan membentuk tempat kediaman manusia, dimana dimensi terbesar yang mungkin adalah sebatas wilayah geografis dan permukaan bumi. Keseluruhan permukaaan bumi ini adalah merupakan wadah terbesar bagi manusia, keseluruhan dunia bagi manusia. Suatu tempat kediaman manusia membutuhkan kedua elemen tersebut diatas untuk tempat kegiatan yang mendukung peri kehidupan dan

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana mendapatkan eksistensinya. Manusia secara individu atau kelompok, kalau tidak disuatu tempat tidak dapat dikatakan membentuk permukiman atau merupakan bagian dari permukiman. Berdasarkan ruang harus UNDANG-UNDANG fungsi REPUBLIK kawasan INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG penataan memperhatikan sebagaimana dijelaskan pada ; Pasal 5 Ayat (2) Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budi daya. Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan merupakan komponen dalam penataan ruang baik yang dilakukan berdasarkan wilayah administratif, kegiatan kawasan, maupun nilai strategis kawasan. Yang termasuk dalam kawasan lindung adalah: a. kawasan yang memberikan pelindungan kawasan bawahannya, antara lain, kawasan hutan lindung, kawasan bergambut, dan kawasan resapan air; b. kawasan perlindungan setempat, antara lain, sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau/waduk, dan kawasan sekitar mata air; c. kawasan suaka alam dan cagar budaya, antara lain, kawasan suaka alam, kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya, kawasan pantai berhutan bakau, taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam, cagar alam, suaka margasatwa, serta kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan; d. kawasan rawan bencana alam, antara lain, kawasan rawan letusan gunung berapi, kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan tanah longsor, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan banjir; dan e. kawasan lindung lainnya, misalnya taman buru, cagar biosfer, kawasan perlindungan plasma nutfah, kawasan pengungsian satwa, dan terumbu karang. Pasal 6 Ayat (1) Penataan ruang diselenggarakan dengan memperhatikan:

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana a. kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang rentan terhadap bencana; b. potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan; kondisi ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, pertahanan keamanan, lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai satu kesatuan; dan c. geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi. Berdasarkan RTRW Kota Padang 2008-2028 Arahan pemanfaatan ruang pada Kawasan Permukiman di Kota Padang adalah sebagai berikut : Pembangunan baru pada lingkungan siap bangun dalam bentuk kawasan maupun yang berdiri sendiri terutama di WP-III, WP-IV dan WP-VI; Pemeliharaan lingkungan pada kawasan-kawasan yang sudah tertata/stabil dengan kondisi lingkungan baik, terutama di WP-I, WP-III dan WP-IV; Perbaikan lingkungan pada kawasan-kawasan dengan kategori kondisi lingkungan sedang namun akan ditingkatkan kondisinya, terutama di WP-I dan WP-IV; Peremajaan pada kawasan dengan kondisi kumuh sedang dan berat dengan pembangunan vertikal baik peremajaan dengan alih-fungsi maupun peremajaan tidak alih-fungsi, khusus di WP-I; Relokasi kawasan permukiman padat yang berada di kawasan pinggir pantai dalam rangka pengamanan daerah sempadan pantai dan sempadan sungai dan pengembangan water front city di sepanjang Pantai Padang dan di sepanjang sungai-sungai besar di Kota Padang; Relokasi permukiman penduduk yang berada di kawasan Hutan Lindung dan Hutan Suaka Alam Wisata, terutama di di WP III, WP-IV dan WP-V, agar fungsi lindungnya dapat dipertahankan.

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Kawasan study yang terletak pada Kelurahan Pasia Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah merupakan Wilayah Pengembangan III (WP III). Dimana Kecamatan Koto Tangah diarahkan untuk pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa skala lokal dan regional, transportasi darat skala regional, pendidikan, permukiman dengan kepadatan rendah sampai sedang. Sedangkan pada kawasan lindung dapat dikembangkan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan penelitian dan evakuasi bencana dan berdasarkan arahan kependudukan Kota Padang, Kecamatan Koto Tangah diarahkan pada daerah yang berkependudukan rendah pada radius sekitar 1 Km dari garis pantai dengan kepadatan penduduk rata-rata > 10.000 Jiwa/Km atau > 100 Jiwa/Ha. Arahan pemanfaatan kawasan permukiman Kota Padang, Kecamatan Koto Tangah yang merupakan wilayah pengembangan III adalah : Pembangunan baru pada lingkungan siap bangun dalam bentuk kawasan maupun yang berdiri sendiri Pemeliharaan lingkungan pada kawasan-kawasan yang sudah

tertata/stabil dengan kondisi lingkungan baik Relokasi permukiman penduduk yang berada di kawasan Hutan Lindung dan Hutan Suaka Alam Wisata. Berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Koto Tangah tahun 2006, arahan peruntukan kawasan terdiri atas ; a. Pembagian Zona Zona konservasi (conservation zone) adalah kawasan yang dibatasi

pemanfaatannya hanya untuk kegiatan-kegiatan tertentu dengan maksud untuk pelestarian lingkungan,melindungi kawasan dari kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan, mencegah terjadinya kerusakan eksosistem,memperkecil dampak kerusakan apabila terjadi bencana alam, dan mencegah kemungkinankemungkinan lain yang bersifat negatif terhadap tatanan kehidupan manusia, flora dan fauna.

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Mencakup 2 bagian Kawasan Perencanaan, yaitu Kawasan Sepanjang Pantai dan Kawasan Hutan Lindung yang terletak di bagian Timur Kawasan Perencanaan. Zona Konservasi ini dibatasi peruntukkannya untuk kegiatan-kegiatan yang sangat sedikit okupasi lahan (land occupation) dan minimal rasio tutupan bangunan (building coverage ratio). Kegiatan yang dapat dilakukan pada Zona Konservasi ini adalah kegiatan di bidang pariwisata dengan bangunan ber-KDB sangat rendah (<10%), kegiatan penelitian di bidang pertanian, kehutanan dan kelautan, kegiatan rekreasi luar ruang, dan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penyelamatan apabila terjadi bencana. Pengembangan jaringan prasarana dapat dilakukan di Zona Konservasi ini sejauh jaringannya terintegrasi dengan lingkungan dan tidak mengurangi fungsi perlindungan terhadap kawasan. Luas Zona Konservasi keseluruhan adalah 13.826 Ha. Zona pembangunan (development Zone) adalah kawasan yang

direncanakan dan diarahkan pemanfaatannya untuk mendukung berbagai aktifitas perkotaan, seperti untuk permukiman, perdagangan dan jasa, industri, sarana dan prasarana, pariwisata dan pertanian perkotaan (urban farming). Bagian Kawasan Perencanaan yang berada di antara Zona Konservasi Sepanjang Pantai sampai ke Jalan Padang By-Pass. Zona Pembangunan diarahkan peruntukkannya untuk kegiatan-kegiatan perkotaan sesuai dengan kebutuhan pengembangan Kawasan Perencanaan untuk 5 10 tahun ke depan. Pemanfaatan ruang pada Zona Pembangunan ini direncanakan dan diatur pola pemanfaatannya, sehingga dapat diperoleh optimasi pemanfaatan ruang dan maksimalisasi nilai-tambah.

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Pengembangan secara vertikal terbatas harus mulai diterapkan di Zona Pembangunan ini sehingga ketersediaan lahan untuk Ruang Terbuka Hijau dapat dijaga dalam jangka panjang. Kegiatan yang dapat dikembangkan adalah kegiatan permukiman, perdagangan dan jasa, perkantoran, industri ringan dan rumah-tangga, sarana dan prasarana perkotaan, pariwisata dan pertanian perkotaan (urban farming). Luas Zona Pembangunan keseluruhan adalah 3.399 Ha. Zona pengembangan (extension zone) adalah kawasan yang direncanakan sebagai areal pengembangan untuk menampung perkembangan yang terjadi dimasa mendatang sebagai akibat dari berkembangnya aktifitas perkotaan. Bagian Kawasan Perencanaan yang berada di antara Zona Pembangunan dengan Zona Konservasi Kawasan Hutan Lindung. Zona Pengembangan ini dibatasi peruntukkannya untuk kegiatankegiatan dengan rasio tutupan bangunan (building coverage ratio) yang rendah, karena kawasan ini diharapkan sebagai kawasan cadangan (reserve area) apabila perkembangan di Zona Pembangunan telah mencapai titik optimal. Pada dasarnya semua kegiatan di Zona Pembangunan dapat dilakukan di Zona Pengembangan, namun untuk menjaga keberlanjutan pembangunan, sampai akhir tahun perencanaan kegiatan yang diarahkan di Zona Pengembangan ini adalah kegiatan-kegiatan dengan yang terkait dengan pengembangan Kawasan Penyelamatan (Kawasan Evakuasi) apabila terjadi bencana alam. Kegiatan permukiman, penelitian, pariwisata dan rekreasi dapat dikembangkan dengan KDB yang rendah (<30%). Luas Zona Pengembangan keseluruhan adalah 6.000 Ha. TABEL 2.1

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana

Sumber : Hasil Rencana, 2006.

Dimana berdasarkan penjelasan RDTR di atas Kelurahan ulak karang utara merupakan Zona Konservasi dengan arahan peruntukan seperti pada tabel 2.1 di atas.

b. Rencana Blok Peruntukan (block plan) Kawasan Lindung Di dalam penyusunan Rencana Blok Peruntukkan Lahan ( Block Plan) Kawasan Perencanaan, keberadaan Kawasan Lindung yang merupakan Kawasan Lindung Daerah Bawahannya berupa Hutan Lindung dan Hutan Suaka Alam Satwa seluas sekitar 120 Km dipertahankan keberadaannya. Dalam konteks pengembangan Kawasan Perencanaan sebagai Kawasan Rawan Bencana, Kawasan Sepanjang Pantai direncanakan sebagai Kawasan Lindung (Zona Konservasi) yang dibatasi pengembangannya, dan Kawasan Sempadan Sungai dijadikan sebagai Kawasan Lindung. TABEL 2.2 Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana

Sumber : Hasil Rencana, 2006.

Arahan kegiatan pada Kawasan Lindung di Kawasan Perencanaan direncanakan sebagai berikut : Hutan Lindung Kegiatan Penelitian Kegiatan Evakuasi Bencana Kegiatan Rekreasi Luar Ruang

Hutan Suaka Alam Satwa Kegiatan Penelitian Kegiatan Pengembangbiakan Satwa Langka

Sempadan Sungai Kegiatan Pemantauan dan Penelitian Perairan Sungai Kegiatan Rekreasi Kegiatan Olahraga Air Kegiatan Pendukung Pelaksanaan Evakuasi

Sempadan Pantai Kegiatan Pemantauan dan Penelitian Kelautan Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Kegiatan Pariwisata dan Rekreasi Air Kegiatan Olahraga Pantai Kegiatan Penunjang Usaha Perikanan Tangkap Kegiatan Penunjang Usaha Perikanan Budidaya

Kawasan Budidaya Untuk mendukung fungsi Kawasan Perencanaan sebagai salah-satu bagian kawasan yang menjadi kawasan terdepan (frontier region) dalam pengembangan Kota Padang, khususnya di bagian utara, pengembangan Kawasan Budidaya akan diarahkan untuk kegiatan-kegiatan yang mencerminkan efektifitas pemanfaatan lahan, memberikan nilai-tambah yang optimal, berdampak positif terhadap peningkatan taraf kehidupan dan perekonomian masyarakat, pelestarian lingkungan dan nilai-nilai budaya, serta tanggap terhadap berbagai kemungkinan bencana alam. Dengan pertimbangan tersebut, dan memperhatikan Rencana Pembagian Zona Pengembangan, maka Kawasan Budidaya yang direncanakan di Kawasan Perencanaan Kecamatan Padang Utara akan mencakup pengembangan kegiatan-kegiatan sebagai berikut ; Kegiatan Perumahan Dikembangkan pada kawasan bukan lindung serta sesuai dengan dayadukung dan kesesuaian lahan. Dibatasi pengembangannya pada kawasan yang termasuk rawan bencana (gempabumi dan tsunami). Dikembangkan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan sarana perumahan dan fasilitas pendukungnya. Dikembangkan dalam rangka untuk mendukung pengembangan kegiatan lainnya (perdagangan dan jasa, industri dan pertanian). Diintegrasikan pengembangannya dengan rencana pengembangan jaringan prasarana. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Terintegrasi dengan pengembangan Ruang Terbuka Hijau.

Kegiatan Perdagangan dan Jasa Dikembangkan sebagai bagian dari kontribusi untukmendukung fungsi Kota Padang sebagai Pusat Perdagangan dan Jasa. Dikembangkan pada kawasan bukan lindung serta sesuai dengan dayadukung lahan. Dibatasi pengembangannya pada kawasan yang termasuk rawan bencana (gempabumi dan tsunami). Dikembangkan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan sarana usaha dan sekaligus sarana pelayanan ekonomi. Dikembangkan dalam rangka untuk mendukung pengembangan kegiatan lainnya (permukiman, industri dan pertanian). - 27 Diintegrasikan pengembangannya dengan rencana pengembangan jaringan prasarana, khususnya rencana sistem jaringan transportasi. Terintegrasi dengan pengembangan Ruang Terbuka Hijau.

Kegiatan Industri Dibatasi untuk kegiatan industri ringan dan industri pengolahan nonpolutif. Tidak menyatu dengan Kawasan Perumahan dan sarana pelayanan yang rentan terhadap polusi (misalnya sarana pendidikan, sarana peribadatan, sarana kesehatan dan sarana rekreasi). Dikembangkan pada kawasan bukan lindung serta sesuai dengan dayadukung dan kesesuaian lahan. Dibatasi pengembangannya pada kawasan yang termasuk rawan bencana (gempabumi dan tsunami). Dikembangkan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan lapangan kerja (dapat menyerap tenaga kerja lokal). Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Dikembangkan dalam rangka untuk mendukung pengembangan kegiatan lainnya (perdagangan dan jasa, pertanian dan perikanan). Diintegrasikan pengembangannya dengan rencana pengembangan jaringan prasarana. Didukung dengan Studi Analisis Dampak Lingkungan. Dilengkapi dengan Instalasi Pengolahan Limbah (apabila menghasilkan limbah yang tergolong B3).

Kegiatan Ruang Terbuka Hijau Dikembangkan pada kawasan yang dapatmenerima dampak tidak langsung apabila terjadi bencana alam (gempabumi, tsunami atau banjir). Terintegrasi dengan kegiatan Olahraga dan Rekreasi. Diintegrasikan dengan pengembangan kegiatan lainnya (Perumahan, Perdagangan dan Jasa, serta Industri). Dikembangkan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan ruang terbuka hijau. Diintegrasikan pengembangannya dengan rencana pengembangan jaringan prasarana. Kegiatan Pertanian Diarahkan pada pengembangan kegiatan pertanian perkotaan (urban agriculture) yang hemat lahan dan memiliki nilai-tambah tinggi. Dikembangkan pada kawasan bukan lindung serta sesuai dengan dayadukung dan kesesuaian lahan. Dikembangkan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan lapangan kerja serta sekaligus untuk memenuhi kebutuhan pangan. Dikembangkan dalam rangka untuk mendukung pengembangan kegiatan lainnya (perdagangan dan jasa serta industri). Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Diintegrasikan pengembangannya dengan rencana pengembangan jaringan prasarana.

Komponen masing-masing kegiatan yang akan dikembangkan pada Kawasan Budidaya adalah sebagai berikut ; Perumahan Rumah Kecil dengan ukuran persil 60 m. Rumah Sedang dengan ukuran persil 60 - 200 m. Rumah Besar dengan ukuran persil > 200 m. Rumah Taman Rumah Susun Rumah Panggung

Perdagangan dan Jasa Mal / Plaza / Pusat Perbelanjaan / Pasar Modern Pasar Tradisional Pertokoan Perkantoran Pemerintah Perkantoran Swasta Rumah Toko Rumah Kantor Sarana Pendidikan Sarana Peribadatan Sarana Kesehatan Sarana Pariwisata (Hotel/Penginapan, Restoran, Souvenir Shop) Sarana Olahraga dan Rekreasi Sarana dan Prasarana Transportasi (Jaringan Jalan, Terminal, Pelabuhan)

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Prasarana Perkotaan Lainnya (TPS, TPA, IPAL, IPLT, Depo, IPA, Waduk, Pond, dll) Industri Industri Pengolahan Pertanian Industri Pengolahan Perikanan Industri Rumah-tangga Industri Pengolahan (non-polutif)

Ruang Terbuka Hijau Dikembangkan pada kawasan yang dapatmenerima dampak tidak langsung apabila terjadi bencana alam (gempabumi, tsunami atau banjir). Terintegrasi dengan kegiatan Olahraga dan Rekreasi. Diintegrasikan dengan pengembangan kegiatan lainnya (Perumahan, Perdagangan dan Jasa, serta Industri). Dikembangkan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan Ruang Terbuka Hijau. Diintegrasikan pengembangannya dengan rencana pengembangan jaringan prasarana. Pertanian Diarahkan pada pengembangan kegiatan pertanian perkotaan (urban agriculture) yang hemat lahan dan memiliki nilai-tambah tinggi. Dikembangkan pada kawasan bukan lindung serta sesuai dengan dayadukung dan kesesuaian lahan. Dikembangkan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan lapangan kerja serta sekaligus untuk memenuhi kebutuhan pangan. Dikembangkan dalam rangka untuk mendukung pengembangan kegiatan lainnya (perdagangan dan jasa serta industri).

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Diintegrasikan pengembangannya dengan rencana pengembangan jaringan prasarana. 2.2 2.2.1 PENYELENGGARAAN KAWASAN KHUSUS NELAYAN Maksud, Tujuan dan Lingkup Pengaturan Penyelenggaran Kawasan Khusus Nelayan Pengaturan penyelenggaraan kawasan khusus nelayan telah diatur sebelumnya di dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia No. 15/PERMEN/M/2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Pengembangan Kawasan Nelayan. Peraturan menteri negara perumahan rakyat republik indonesia nomor 15/PERMEN/M/2006 menyatakan perumahan kawasan nelayan untuk selanjutnya disebut kawasan nelayan adalah perumahan kawasan khusus untuk menunjang kegiatan fungsi kelautan dan perikanan. Pengaturan dalam bentuk petunjuk pelaksanaan dimaksudkan agar para pembina di berbagai tingkat pemerintahan maupun pelaksana mempunyai suatu panduan untuk mengembangkan kawasan perumahan yang dikhususkan bagi para nelayan dengan mempertimbangkan berbagai aspek pengembangan kawasan, khususnya dalam penyelenggaraan dan pengelolaan kawasan. Sehingga pada saatnya dapat menciptakan suatu kawasan nelayan yang layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pengaturan petunjuk pelaksanaan itu sendiri bertujuan untuk terlaksananya kelancaran penyelenggaraan dan pengelolaan pengembangan kawasan perumahaan nelayan secara berdaya guna dan berhasil guna. Lingkup pengaturan dalam bentuk petunjuk pelaksanaan penyelenggaraan pengembangan kawasan nelayan itu sendiri sesuai dengan hal-hal sebagaimana telah diatur sebelumnya di dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 14/PERMEN/M/2006 tentang Penyelenggaraan Perumahan Kawasan Khusus, dengan mempertimbangkan hal-hal khusus terkait dengan nelayan. 2.2.2 Prioritas Penanganan Penyelenggaraan Kawasan Nelayan Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana

Penanganan penyelenggaraan kawasan nelayan sebagaimana dijelaskan di dalam PERMENPERA No. 15 Th 2006, diprioritaskan bagi yang mempunyai kondisi sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kondisi lingkungannya tidak tertata dan kumuh. Mencemari perairan disekitarnya. Aksesibilitas rendah ke kawasan nelayan atau terisolir karena misalnya terletak di perbatasan negara dan pulau-pulau kecil terpencil Masyarakatnya miskin Rawan bencana kebakaran Rawan terhadap trepan gelombang termasuk abrasi, tsunami, dan angin Adanya rencana pembangunan pelabuhan perikanan, dan industri perikanan

2.2.3

Kebijakan Penanganan Pra Bencana Tsunami Kelurahan Pasia Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah merupakan Daerah

pesisir yang rawan akan bencana tsunami. Oleh karena itu dalam penataan ruang kawasan rawan tsunami terdapat 2 kebijakan penanganan pra bencana. Adapun kebijakan yang dapat dilakukan adalah : 1. Kebijakan Mitigasi Kegiatan yang bertitik berat pada upaya untuk mengurangi dan memperkecil akibat yang ditimbulkan oleh bencana. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah penataan ruang yang tanggap terhadap bencana tsunami, pengadaan prasarana dan sarana yang didisain untuk tahap terhadap dampak tsunami, penyusunan zoning regulation dan disain teknis bangunan penting di kawasan rawan tsunami. 2. Kebijakan Kesiapsiagaan Yaitu meliputi kegiatan utk mengadakan tempat evakuasi, jalur evakuasi pelatihan dan gladi bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, serta mendidik dan melatih aparat pemerintah termasuk penyiagaan pos-pos pengamatan, pos pengamatan cuaca, pos pengendalian banjir dan pos siaga lain yang sejenis. Kegiatan ini didahului oleh sosialisasi kepada masyarakat di Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana kawasan rawan bencana tsunami akan perlunya menyesuaikan pemanfaatan ruang agar resiko dampak tsunami dapat ditekan seminimal mungkin.

1. Pengertian Perumahan Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Pembangunan di bidang yang berhubungan dengan tempat tinggal beserta sarana dan prasarananya seharusnya perlu mendapat perhatian yang prioritas mengingat tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan dasar ( basic need) manusia. Perundang undangan mengenai perumahan tertuang dalam Undangundang Nomor 4 tahun 1992 dan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992. Salah satu landasan yang digunakan untuk meningkatkan peran kelembagaan dalam pembangunan perumahan dan permukiman adalah Undangundang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Undangundang ini menyebutkan bahwa perumahan berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunioan yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan, sedangkan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan hutan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun kawasan pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Apabila di lihat dari segi makro, dalam melakukan pembangunan perumahan dan permukiaman, seharusnya dilakukan sinkronisasi antara dua sistem, yaitu perkotaan dan pedesaan. Hal ini harus diupayakan guna menghindari terjadinya over load (kelebihan beban) pada lingkungan perumahan dalam wilayah perkotaan yang dapat menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi wilayah perkotaan maupun wilayah di belakangnya (hinterland), yang biasanya adalah suatu wilayah pedesaan.

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana 2. Program-Program Pembangunan Perumahan Kebijakan pembangunan dalam bentuk rencana yang lebih rinci, baik yang berupa rencana jangka pendek maupun rencana jangka panjang. Strategi pembangunan perumahan dalam jangka pendek tertuang dalam tahapan pembangunan lima tahun (pelita), sedangkan rencana jangka panjang adalah rencana yang terkandung dalam GBHN. Berdasarkan kebijakan-kebijakan yang digariskan dalam GBHN 1993, secara umum program pembangunan perumahan dan permukiman dapat digolongkan dalam empat kategori, yaitu perumahan untuk wilayah perkotaan, permukiman untuk pedesaan, pembangunan perumahan untuk pemukiman lainnya, serta program-program bantuan bagi pengadaan perumahan dan permikiman. Penggolongan ini dimaksudkan untuk mempermudah penyusunan strategi pembangunan perumahan di masing-masing wilayah yang mempunyai karakter yang sangat berbeda. Kategori pembanguna perumahan dan permukiman disusun dengan tujuan untuk mencapai hal-hal seperti berikut : 1. Pemerataan program pembangunan perumahan dan permukiman secara adil yang meliputi aspek tata ruang, pertanahan, prasarana dan fasilitas lingkungan, teknologi, industri bahan bangunan dan jasa konstruksi, pembiayaan, kelembagaan, pengembangan sumberdaya manusia, penelitian dan peraturan perundang-undangan. Adil dalam hal ini tidak berarti harus didistribusikan sama rata untuk setiap kategori wilayah, namun sedanding dengan kebitihan dean manfaat yang akan diperoleh dari pembangunan di setiap wilayah tersebut. 2. Produk pembangunan perumahan bersifat affordoble. Program pembangunan di setiap wilayah dilaksanakan dengan strategi dan pendekatan yang berbeda agar tercapai azas keterjangkauan yang disesuaikan dengan daya beli masyarakat di wilayah tersebut. 3. Strategi pembangunan perumahan dan permukiman disusun dengan memperhatikan kondisi dan potensi lingkungan dalam kerangka pelestarian lingkungan demi tercapainya pembangunan yang

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana berkelanjutan. Katagorisasi program disusun untuk mempermudah penyusunan strategi pembangunan yang sesuai dengan karakter lingkungan di setiap wilayah. 4. program pembangunan diselenggarakan dengan memperhatikan tuntutan manusia pengguna di setiap wilayah. Karakter sosial dan latar budaya yang berbeda akan membgentuk tuntutan yang juga berbeda terhadap hunian sebagai tempat hidup manusia. 5. 3. Pengertian & Cangkupan Wilayah Pesisir 3.1 Pengertian Wilayah Pesisir Menurut Hansom (1988), kawasan pesisir meliputi daratan yang mengelilingi benua (continent) dan kepulauan, merupakan perluasan daratan yang dibatasi oleh pengaruh pasang surut yang terluar dari suatu paparan benua (continental shelf). Menurut Clark (1992), kawasan pesisir merupakan kawasan peralihan antara ekosistem laut dan daratan yang saling berinteraksi. Oleh karena itu setiap aspek pengelolaan kawasan pesisir dan lautan secara terpadu baik secara langsung maupun tidak langsung, selalu berhubungan dengan air. Hubungan tersebut terjadi melalui pergerakan air sungai, aliran air limpasan (run off), aliran air tanah (ground water), air tawar beserta segenap isinya (seperti unsur nutrient, bahan pencemar, dan sediment) yang berasal dari ekosistem daratan dan akhirnya akan bernuara di perairan pesisir. Menurut Beatly Etal (1994), dinyatakan bahwa berdasarkan kesepakatan internasional kawasan pesisir didefenisikan sebagai kawasan peralihan antara laut dan daratan. Kearah darat mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang surut dan kearah laut meliputi daerah paparan benua (continental shelf). Menurut Coastal Committe Of NSW (1994), wilayah pesisir merupakan wilayah yang mempunyai batas kearah daratan sejauh 1 Km dari garis pantai saat kedudukan muka air tertinggi dan kearah laut lepas sejauh 3 mil. Wilayah Pesisir dibatasi oleh daratan yang masih dipengaruhi oleh proses laut dan menghasilkan Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana sistem-sistem bentuk daratan dan ekologi yang unik (Verhagen, 1994 ;Sekretariat Proyek MREP,1997, dalam Vikal Islami, dalam Dini Satrisni). Menurut Key dan Alder (1999), batasan pesisir dapat ditenyukan berdasarkan pendekatan ilmiah (Scientific Defination) dan pendekatan kebijakan (Policy Oriented Defnition). Secara ilmiah, Ketchum (1972 dalam Key dan Alder 1999), mendefenisikan bahwa kawasan pesisir merupakan pertemuan antara daratan dan lautan dengan batasan ke daratan dan lautan ditentukan oleh pengaruh daratan ke lautan dan pengaruh lautan ke daratan. Berdasarkan kebijakan, pada umumnya batasan kawasan pesisir merupakan wilayah administratif, baik ke darat maupun ke laut, ataupun batasan yang ditentukan secara politis (Hilldebrand dan Norrena, 1992 ;Jones dan Westmacott,1993, dalam Vikal Islami, dalam Dini Satrisni). Pengertian wilayah pesisir secara ekologis merupakan kawasan lautan yang masih terpengaruh oleh aliran sungai dan sedimentasi (alami) serta terpengaruh oleh penebangan hutan (buatan). Wilayah pesisir secara administrasi adalah wilayah batas terluar dari suatu hukum kabupaten atau kota yang mempunyai laut sejauh 12 mil kearah laut untuk propinsi dan sepertiga untuk kabupaten atau kota. 3.2 Klasifikasi Wilayah Pesisir Propinsi Sumatera Barat yang terletak di pantai barat pulau Sumatera mempunyai Luas perairan 138.750 km2 belum termasuk ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia). Pantai garis pantainya (termasuk kepulauan Mentawai) mencapai 2.420 Km dengan jumlah pulau besar dan kecil 375 buah. Wilayah pesisir Propinsi Sumatera Barat terdapat 2 Kota dan 5 Kabupaten, yaitu Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pesisir selatan, serta Kepulauan Mentawai.

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Lebih lengkap data fisiografis wilayah pesisir Propinsi Sumatera Barat dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel Panjang Garis Pantai dan Jumlah Pulau Kecil di Propinsi Sumatera Barat No Pulau Kecil Total Panjang Jumlah (Km) (Km) (Bh) (Km) 1 Pasaman Barat 135,40 7,55 5 142,96 2 Agam 36,97 1,50 2 38,47 3 Padang Pariaman 58,19 4,14 6 62,33 4 Padang 76,05 23,58 19 99,63 5 Pesisir Selatan 234,20 44,00 20 278,20 6 Kep.Mentawai 1.798,80 323 1.798,80 Jumlah 540,81 1.879,55 375 2.420,39 Sumber : CRITIC Sumatera Barat dalam Eni Kamal, 2007,dalam Haryani,2007. Kota / Kabupaten Panjang

Jika dilihat dari segi demografi, ternyata kawasan pesisir Sumatera Barat merupakan wilayah yang sangat padat. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya aktivitas masyarakat pesisir sehingga dikhawatirkan akan mengancam kelestarian sumber daya alamnya dan terjadinya tekanan terhadap wilayah pesisir semakin hari semakin tinggi (Haryani, 2007). Berdasarkan batasan wilayah pesisir terbagi menjadi dua subsistem, yaitu daratan pesisir (shoreland), dan perairan pesisir (coastal water), keduanya berbeda tapi saling berintegrasi. Secara ekologis daratan pesisir sangat komplek dan mempunyai nilai sumberdaya yang tinggi. Namun demikian yang perlu diperhatikan adalah sistem perairan pesisir dan pengaruh terhadap daya dukung lahan dan ekosistem wilayah pesisir. Pengaruh daratan pesisir terhadap perairan pesisir terutama melalui aliran air. Perairan pesisir secara fungsional terdiri dari perairan eustaria, perairan samudera dan perairan pantai. Perairan Eustaria adalah suatu perairan pesisir yang semi tertutup, yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga dengan demikian eustaria dipengaruhi oleh pasang surut, dan terjadi pula percampuran yang masih dapat diukur antara air laut dengan air tawar yang berasal dari drainase daratan (Odum,1971). Perairan Samudera adalah semua perairan kearah laut terbuka dari Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana batas paparan benua atau teritorian, perairan pantai meliputi laut mulai dari batas eustaria ke arah laut sampai batas paparan benua atau batas teritorial. Klasifikasi wilayah pesisir menurut komoditas hayati, yaitu (1) Ekosistem Litoral yang terdiri dari pantai dangkal, pantai batu, pantai karang, pantai lumpur. (2) Hutan Payau. (3) Vegetarian Rawa Payau. (4) Hutan Raya Payau (5) Hutan Rawa Gambut. 3.3 Pengertian Pantai Menurut Triatmodjo : 991, ada dua istilah tentang kepantaian dalam Bahasa Indonesia yang sering rancu pemakaiannya, yaitu pesisir (coast) dan pantai (shore). Pesisir adalah daerah daratan di tepi laut yang masih mendapat pengaruh laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air laut. Sedangkan pantai adalah daerah ditepian perairan yang dipengaruhi oleh pasang tertinggi dan air surut terendah. Garis pantai adalah garis batas pertemuan antara daratan dan air laut, dimana posisinya tidak tetap dan dapat berpindah sesuai dengan pasang surut air laut dan erosi pantai yang terjadi. Sempadan pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya sesuai dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 m dari titik pasang tertinggi kearah daratan. Departemen Perikanan dan Kelautan mendefenisikan kawasan desa pantai merupakan perkembangan dan pertumbuhannya dimulai oleh pembentukan kelompok masyarakat yang mata pencahariannya erat dengan sumberdaya kelautan. Pemukiman umumnya berorientasi kearah laut. 3.4 Tipologi dan Sifat Tanah Lahan Pantai Lahan pantai merupakan bagian dari daratan pantai (Coastal Planning) yang berupa daerah peralihan dengan perairan laut, yang biasanya disebut juga sebagai Lahan pesisir . Dataran pantai mencangkup areal yang lebih luas berupa daerah datar dari daratan pulau ke daerah perairan laut pusat penelitian tanah dan agroklimat. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Berdasarkan dari defenisi lahan pantai, maka dapat dilihat karakteristik lahan pantai, dimana karakteristik lahan pantai akan mempengaruhi terhadap pengembangan lahan pantai tersebut. 3.5 Tipologi Lahan Pantai Lahan pantai terdapat pada dataran rendah, dalam lingkungan marin, relif datar dan cekung, terdiri atas lahan yang mendapat pengaruh pasang surut air laut dan ada yang tidak. Lahan yang mendapat pengaruh pasang surut dapat langsung berhadapan dengan pantai atau letaknya dibelakang pesisir pantai berpasir. Lahan yang tidak mendapat air pasang umumnya berupa lenting pasir dan letaknya lebih tinggi atau berupa lahan cembung memanjang paralel garis pantai. Kawasan pantai yang berupa dataran seperti teras atau dataran sempit dari bahan koluvum, karena letaknya cukup tinggi termasuk lahan kering dan tidak mendapat pengaruh air pasang. 3.6 Sifat Tanah Lahan Pantai Ditinjau dari sifat-sifat tanah, lahan pantai mempunyai kendala tanah yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangannya. Kendala sifat kimia adalah bahan sulfidik yang dihasilkan endapan marin. Tanah-tanah yang mempunyai kendala fisik dilahan pantai terdiri dari tanah yang tidak stabil karena melumpur pada tanah. 3.7 Identifikasi daerah rawan bencana Faktor utama yang menjadi pertimbangan dalam peruntukan lahan pesisir yang teridentifikasi rawan bencana tersebut adalah hendaknya dilakukan dengan mengacu kepada ketinggian suatu daerah / wilayah pesisir dari permukaan laut. Untuk itu perlu dilakukan Identifikasi terhadap daerah rawan bencana : Banjir Erosi, Abrasi & Sedimentasi Akresi garis pantai Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Subsiden / longsoran tanah Tsunami dan Gempa

Bagi keperluan penataan ruang pesisir yang rawan bencana tsunami terutama dalam arahan peruntukan lahan perlu delineasi zona rawan bencana tsunami berdasarkan ketinggian wilayah pesisir dari permukaan laut sebagai berikut (Haryani, 2007): 1. Zona amat berbahaya (<7 mdpl) Zona ini merupakan zona dengan kerentanan sangat tinggi sebaiknya diperuntukkan bagi kawasan pertahanan awal dari bencana tsunami atau ditetapkan sebagai zona konservasi. Pada zona ini sebaiknya dikembangkan green belt /jalur hijau baik dengan hutan mengrove maupun cemara laut serta perkebunan kelapa sebagai soft protection. 2. Zona Berbahaya (7-12 mdpl) Pada zona ini dimanfaatkan untuk aktivitas yang masih terbatas seperti kegiatan pariwisata pantai dan bahari dan pemukiman nelayan dengan intensitas pembangunan sedang. 3. Zona cukup aman (12-25 mdpl) Pada zona cukup aman sudah dapat dilakukan pembangunan, namun demikian tetap dengan kepadatan sedang dan pola permukiman cluster dimana tetap disediakan ruang evakuasi seperti mesjid, GOR, sekolah dan lain-lain dengan struktur dan konstruksi anti gempa. 4. Zona aman (>25 mdpl) Terutama untuk fungsi-fungsi vital seperti pusat pemerintahan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Intensitas pembangunan dapat dilakukan dari sedang sampai tinggi dengan peruntukan lahan permukiman dengan berpola cluster. Dalam Kepmen tentang Pedoman Umum Penataan Ruang Pesisir dan Pulau-pulau kecil, dijelaskan bahwa, Salah satu alternatif pola perencanaan dikawasan pesisir dan pulau-pulau kecil adalah membagi kawasan tersebut atas beberapa zona penting, yaitu : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana 1. 2. 3. 4. Zona Preservasi / Zona Inti Zona Konservasi Zona Penyangga Zona Pemanfaatan( Kawasan Budidaya)

5. Zona tertentu pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil 3.8 Penentuan Guna Lahan Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No.837/Kpts/II/1980 dan No.683/Kpts/8/1981 alokasi peruntukan lahan di Indonesia di bagi menjadi beberapa kategori: 1. Kawasan Lindung (Preservation Zone) 2. Kawasan Penyangga (Buffer Zone) 3. Kawasan Budidaya Kawasan Budidaya tanaman tahunan Kawasan Budidaya tanaman semusim/setahun

4. Kawasan Pemukiman Faktor Utama Klasifikasi peruntukan lahan : 1. Kemiringan Lahan 2. Jenis tanah (Kepekaan tanah terhadap erosi) 3. Intensitas hujan harian 4. Sistem penilaian yang digunakan adalah sistem scoring 4.3.1 Klasifikasi peruntukan lahan 1. Kawasan Lindung (Preservation zone), adalah areal yang mempunyai scoring kemampuan lahan adalah sama atau lebih dari 175, atau memenuhi beberapa syarat di bawah ini : Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan lebih dari 40% Tanah yang sangat peka terhadap erosi yaitu tanah regosol, litosol dan renzina dengan kemiringan lahan besar dari 15% Merupakan kawasan sempadan sungai dan pantai sekurangkurangnya 50-100 meter Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Merupakan kawasan perlindungan mata air sekurang-kurangnya dengan radius 200 meter Kawasan hutan mempunyai ketinggian 2000 meter atau lebih Guna keperluan/kepentingan khusus dan ditetapkan oleh

pemerintah sebagai kawasan lindung. 2. Kawasan Penyangga (Buffer Zone), adalah areal yang dapat berfungsi sebagai kawasan lindung dan kawasan budidaya. Letaknya diantara kawasan lindung dan kawasan budidaya. Zona penyangga disebut juga zona konservasi yang mempunyai fungsi perlindungan zona preservasi. Zona ini lebih diutamakan untuk penggunaan lahan yang ekstensif dengan persyaratan tertentu. Sesuai dengan ciri-ciri tersebut zona konservasi dapat digunakan sebagai kawasan hutan produksi, perkebunan dan perkebunan campuran. Penilaian penentuan kawasan penyangga bersdasarkan beberapa kriteria, yaitu: Areal yang mempnyai scoring kemampuan lahan antara 124-174 Keadaan fisik lahan memungkinkan untuk dilakukan budidaya secara ekonomis Lokasi secara ekonomis mudah dikembangkan sebagai kawasan penyangga Tidak merugikan dari segi ekologi dan lingkungan hidup Mempunyai kemiringan lahan 25%-40% apabila tanah tidak peka terhadap erosi atau kemiringan lahan 15%-25% apabila tanah peka atau sangat peka terhadap erosi. 3. Kawasan Budidaya, kawasan ini terdiri dari budidaya tanaman tahunan dan tanaman semusim. Penentuan kawasan ini berdasarkan scoring kemampuan lahan kecil atau sama dengan 124 atau memiliki kriteria sebagai berikut : Cocok untuk dikembangkan sebagai tanaman tahunan (kayu-kayu, tanaman perkebunan dan tanaman industri) dan tanaman semusim Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Memenuhi kriteria umum kawasan penyangga . 4. Kawasan Pemukiman, kawasan ini merupakan kawasan kegiatan atau sektor nonpertanian seperti pemukiman pedesaan dan perkotaan, industri, rekreasi dan kegiatan-kegiatan lainnya. Arealnya sama dengan kawasan budidaya hanya saja lahan tersebut mempunyai kemiringan antara 0-8%. Dapat dilihat pada tabel 2.4 sbg:

Tabel Sistem Penilaian Peruntukan Lahan Berdasarkan Sistem Untuk Penetapan Kawasan Lindung dan Budaya

NO 1

FAKTOR UTAMA Kemiringan Lahan

KELAS 1 2 3 4 5 1

URAIAN FAKTOR UTAMA Datar Landai Agak Curam Curam Sangat Curam Tidak Peka 0% - 8% 8% - 15% 15% - 25% 25% - 40% > 40% Aluvial Gleisol Planosol Hidromorf Kelabu Lateritik Air Latosol Brown Forest Soil Kambisol Non Calcic Brown

SCORING 20 40 60 80 100 15

2.

Kepekaan Tanah Terhadap Erosi

2 3

Agak Peka Kurang Peka

30 45

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana
4 Peka Mediteran Andosol Padsol Vertisol Grumosol Laterit Padsolik Regosol Litosol Organosol Renzina 0 - 13,6 13,6 - 20,7 20,7 - 27,7 27,7 - 34,8 > 34,8 60

Sangat Peka

75

3.

Intensitas Hujan Harian (curah hujan/hari hujan)

1 2 3 4 5

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

10 20 30 40 50

Sumber : Catatan kuliah Evaluasi Sumber Daya Lahan, 2009

3.9 Kesesuian Lahan Kesesuaian lahan adalah kecocokan suatu bidang lahan untuk suatu penggunaan lahan dalam mengusahakan komoditas tertentu. Dalam mengevaluasi, dipertimbangkan tingkat manajemen yang diterapkan. Adapun kelas kesesuaian lahan dapat dikelompokkan menjadi 1. S1 (Sesuai) Lahan tidak mempunyai faktor pembatas nyata bagi suatu penggunaan secara berkelanjutan atau pembatas sangat ringan (tidak berarti) yang tidak mengurangi produktivitas atau manfaat, dan/ hanya memerlukan masukan dengan biaya ringan 2. S2 (Cukup Sesuai) Lahan mempunyai faktor pembatas sedang untuk suatu penggunaan secara berkelanjutan, faktor pembatas tersebut akan mengurangi produktivitas atau manfaat, dan memerlukan masukan terus menerus agar dicapai tingkat keuntungan yang maksimal. 3. S3 (Sesuai Marginal)

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Lahan Mempunyai faktor pembatas berat untuk penerapan suatu penggunaan secara berkelanjutan dan akan menguarangi produktivitas atau manfaat, dan memerlukan masukan yang memerlukan nilai tambah marginal. 4. N1 (Tidak Sesuai Saat Ini) Lahan Mempunyai faktor pembatas berat/besar, tidak bisa diperbaiki dengan teknologi dan biaya yang layak saat ini, untuk penggunaan secara berkelanjutan. 5. N2 (Tidak Sesuai) Lahan Mempunyai faktor pembatas sangat berat sehingga sedikit sekali kemungkinan untuk mendapatkan produktivitas secara berkelanjutan. Dalam menentukan kawasan perumahan harus pula diperhatikan segi-segi sosial seperti adanya tempat-tempat keramat / bersejarah dan penghidupan penduduknya. Sedangkan untuk kawasan perumahan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Aksesibilitas Yaitu kemungkinan pencapaian dari kawasan ke kawasan. Aksesibilitas dalam kenyataannya berwujud jalan dan transportasi. 2. Kompatibilitas Yaitu keserasian dan keterpaduan antar kawasan yang menjadi lingkungannya. 3. Fleksibilitas Yaitu kemungkinan pertumbuhan fisik / pemekaran kawasan perumahan dikaitkan dengan kondosi fisik lingkungan dan keterpaduan prasarana. 4. Ekologi Yaitu keterpaduan antara tatanan kegiatan alam yang diwadahinya. Untuk dapat memenuhi syarat-syarat tersebut di atas diperlukan informasi tentang: 1. Topografi Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Yaitu kondisi permukaan tanah baik bentuk, karakter, tumbuhan, aliran sungai, kontur tanah, dan lain-lain yang sangat berpengaruh terhadap transportasi, sistem sanitasi, dan pola tata ruang. 2. Sumber alam Yaitu semua potensi dan kekayaan alam yang dapat mendukung penghidupan dan kehidupan. 3. Kondisi fisik tanah Yaitu kondisi fisik tanah yang mana kawasan perumahan akan dibangun. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan adalah:

Tidak mengandung gas beracun yang mematikan Tidak tergenang air Memungkinkan untuk membangun sarana dan prasarana Lokasi / letak geografis

4. 5. 6. 7.

Yaitu posisi kawasan perumahan terhadap kawasan-kawasan lain. Tata guna lahan Yaitu pola tata guna lahan di sekeliling perumahan. Nilai dan harga tanah Yaitu nilai potensi dan ekonomi dari tanah kawasan. Iklim Yaitu keadaan cuaca, hal yang harus diperhatikan adalah:

Arah jalannya matahari Lamanya penyinaran matahari Temperatur rata-rata Kelembaban Curah hujan rata-rata Musim Arah Angin Bencana alam

8.

Segala ancaman bahaya oleh alam, seperti angin puyuh, gempa bumi, dan banjir. 9. Vegetasi Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Segala tumbuhan yang ada maupun yang mungkin tumbuh di kawasan yang dimaksud. Hal yang diperhatikan adalah jenis dan pengaruhnya terhadap lingkungan 10. Hidrologi Semua jenis air tanah yang terkandung didalam tanah atau kawasan perencanaan. 11. Status Lahan Segala bentuk peruntukan lahan dikawasan 12. Kebisingan 2.1 Pengertian Wilayah Pesisir Wilayah pesisir merupakan wilayah yang mempunyai batas ke arah daratan sejauh 1 km dari garis pantai saat kedudukan muka air tertinggi dan kearah laut lepas sejauh 3 mil (Costal Commitee Of NSW, 1994). Wilayah pesisir dibatasi oleh daratan yang masih dipengaruhi oleh proses laut dan menghasilkan sistem-sistem bentuk daratan dan ekologi yang unik (Verhagen, 1994 ; Sekretariat Proyek MREP, 1997, dalam Dini Satriati). Batasan pesisir dapat ditentukan berdasarkan pendekatan ilmiah (Scientific Definition) dan pendekatan kebijakan (Policy Oriented Definition) (Key dan Alder 1999). Secara ilmiah, kawasan pesisir merupakan pertemuan antara daratan dan lautan dengan batasan ke daratan dan lautan ditentukan oleh pengaruh daratan ke lautan dan pengaruh lautan ke daratan (Ketchum, 1972 dalam Key dan Alder, 1999). Berdasarkan kebijakan, pada umumnya batasan kawasan pesisir merupakan wilayah administratif, baik ke darat maupun ke laut, ataupun batasan yang ditentukan secara politis (Hilldebrand dan Norrena, 1992 ; Jones dan Westmacott, 1993, dalam Dini Satriati). Wilayah pesisir secara umum dapat diartikan suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan, apabila ditinjau dari garis pantai ( coastline), maka suatu wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundarles), yaitu : batas yang sejajar garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana shore) (Dahuri, 2000). Untuk keperluan pengelolaan, penetapan batas-batas wilayah pesisir yang sejajar garis pantai relatif mudah. 2.2 Karakteristik Wilayah Pesisir Wilayah pesisir memiliki beberapa karakteristik, yaitu: 1. Wilayah pertemuan antara berbagai aspek kehidupan yang ada di darat, laut dan udara, sehingga bentuk wilayah pesisir merupakan hasil keseimbangan dinamis dari proses pelapukan (weathering) dan pembangunan ketiga aspek di atas; 2. Berfungsi sebagai habitat dari berbagai jenis ikan, mamalia laut, dan unggas untuk tempat pembesaran, pemijahan, dan mencari makan; 3. Wilayahnya sempit, tetapi memiliki tingkat kesuburan yang tinggi dan sumber zat organik penting dalam rantai makanan dan kehidupan darat dan laut; 4. Memiliki gradian perubahan sifat ekologi yang tajam dan pada kawasan yang sempit akan dijumpai kondisi ekologi yang berlainan; 5. Tempat bertemunya berbagai kepentingan pembangunan baik pembangunan sektoral maupun regional serta mempunyai dimensi internasional 2.3 Karakteristik Masyarakat Pesisir Masyarakat yang hidup di wilayah pesisir pantai pada umumnya adalah masyarakat tradisional yang miskin dengan kondisi sosial ekonomi dan latar belakang pendidikan yang relatif rendah, sekitar 90% masyarakat pesisir pantai hanya berpendidikan sampai SD (Supriono dkk, 1992, dalam Dini Satriati). 1. Masalah kerusakan fisik lingkungan Masalah kerusakan pada fisik lingkungan yang sering terjadi antara lain: a. Kerusakan ekosistem Kerusakan terumbu karang Kerusakan Mangrove Pemanfaatan sumber daya ikan yang berlebihan (Over Exploitation) Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana b. Pencemaran laut Bahan-bahan pencemaran laut: 44 % run off dan aliran dari laut 33 % emisi pesawat terbang 12 % pelayaran dan peristiwa tumpahan minyak 10 % pembuangan limbah ke laut 1 % penambagan minyak dan gas

Macam-macam pencemaran laut Intrusi air laut disebabkan pemanfaatan air tanah yang tidak memperhitungkan keseimbangan yang mengakibatkan turunnya permukaan air tanah Eutrofikasi yaitu merupakan peningkatan garamgaram nutrien terutama nitrat dan fosfat secara gradual sehingga dapat menyebabkan red tide dan pertumbuhan alga yang tidak normal Red tide yaitu perubahan warna air laut Tumpahan minyak Kejadian alam Erosi Sedimentasi Bencana alam seperti tsunami dan banjir Kemiskinan penduduk Sebagian besar penduduk di wilayah pesisir adalah nelayan, kemiskinan nelayan dapat dicirikan oleh 5 karakteristik: Pendapatan nelayan bersifat harian dan jumlahnya sulit untuk ditentukan Tingkat pendidikan nelayan atau anak-anak nelayan pada umumnya rendah Sifat produk yang dihasilkan nelayan

c.

2. Masalah sosial ekonomi a.

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana b. a. b. Bidang perikanan membutuhkan investasi cukup besar dan cenderung mengandung resiko besar Hanya tergantung pada perikanan Kurangnya pemahaman terhadap nilai sumber daya wilayah pesisir Masalah konflik pemanfaatan dan kewenangan Sebagai contoh: Konflik penggunaan ruang di lokasi pantai Konservasi mangrove yang konflik dengan pembangunan lain Konflik budi daya taman laut Masalah ketidak pastian hukum Sebagai contoh: Undang-undang nomor 24 tahun 1992: Kewenangan penataan ruang laut harus diatur dengan Undang-undang dengan kewenangan terbesar ada pada pemerintah pusat (sentralistik) Undang-undang nomor 22 tahun 1999: Menyerahkan kewenangan penataan ruang laut (sejauh 12 mil) sepenuhnya kepada daerah Undang-undang nomor 5 tahun 1960: Hak ulayat (termasuk hak ulayat laut) diakui eksisitensinya 2.4 Perumahan Sebagaimana diamanatkan dalam Undang Undang Dasar (UUD) 1945 dan pasal 28 H amandemen UUD 1945, bahwa rumah adalah salah satu hak dasar rakyat dan oleh karena itu setiap warga negara berhak untuk bertempat tinggal dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat. Selain itu, rumah juga merupakan kebutuhan dasar manusia dalam meningkatkan harkat, martabat, mutu kehidupan dan penghidupan, serta sebagai pencerminan diri pribadi dalam upaya peningkatan taraf hidup, serta pembentukan watak, karakter dan kepribadian bangsa. Rumah selain berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembina keluarga yang mendukung perikehidupan dan penghidupan juga Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

3. Masalah kelembagaan

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya, dan penyiapan generasi muda. Oleh karena itu, pengembangan perumahan dengan lingkungannya yang layak dan sehat merupakan wadah untuk pengembangan sumber daya bangsa Indonesia di masa depan. 2.5 Rumah Layak dalam Lingkungan Sehat, Aman, Lestari dan berkelanjutan. a. Lingkugan Sehat dan Aman b. Suatu kondisi perumahan dan permukiman yang memenuhi standar minimal dari segi kesehatan sosial budaya ekonomi dan kualitas teknik yang dikelola secara benar dan terus menerus. c. Lingkungan lestari dan berkelanjutan d. Yaitu lingkungan yang memperhatikan sumber daya alam, pola tatanan air dan usaha konservasi sumber daya alam, pengelolaan dan pemanfaatannya. e. Kategori Layak Layak Huni : Berkaitan dengan pencapaian fisik, kesehatan dan Layak Usaha kesusilan sebagai manusia bekelompok berbudaya. : Yang berkaitan dengan terpenuhinya kondisi lingkunga Yang kondusif bagi kelangsungan kehidupan social dan ekonomi Layak Berkembang : Terpenuhinya kondisi lingkungan yang mendukung teradinya kesejahteraan masyarakat protektif dan produktivitas. Kriteria Perumahan dan Permukiman yang layak Berkembang atau

dikembangkan : 1. Tidak Semua kawasan Ekonomis untuk dikembangkan sebagai kawasan hunian Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana 2. Tidak Semua kawasan Produktif cocok untuk dikembangkan sebagai kawasan permukiman. 3. Kriteria Lokasi Bermukim. Kriteria Lokasi Permukiman : 1. Dalam RTRW kawasan tersebut ditetapkan sebagai daerah dengan peruntukan perumahan dan pemukiman. 2. Kawasan perumahan dan pemukiman yang apabila dikembangkan dapat memberi manfaat bagi pemerintah Kota atau kabupaten dalam bentuk : Peningkatan ketersediaan pemukiman yang layak dan terjangkau. Dukungan bagi pembangunan dan pengembangan kawasan fungsional lain yang memerlukan perumahan dan pemukiman. Luas Kawasan yang direncanakan mendukung terlaksananya pola hunian berimbang yaitu tidak mengganggu keseimbangan fungsi kawasan serta upaya pelestarian SDA dan skala kegiatannya memberikan kesempatan kerja baru. Syarat Bagi Kawasan Perumahan dan Pemukiman : ( Bagi yang baru dibangun / dikembangkan ): 1. Tidak berada pada lokasi rawan bencana baik yang ruti atau pun diperkirakan akan tejadi / terkena bencana . 2. Mempunyai sumber air baku yang memadai ( kualitas & kuantitas ) atau berhubungan degan jaringan pelayana air bersih serta jaringan sanitasi. 3. Terletak pada hamparan yang luas dengan luas yang cuku dan emungkinkan teselenggaranya pola hunian yang berimbang. 4. Memanfaatkan lahan tidur atau lahan skala besar yang telah dikeluakan izinnya namun belum dibangun. 5. Bagi kawasan perumahan dan pemukiman akan dikembangkan sebagai kawasan pembanguan Rusuna ( Rusun Sederhan ) sewa / milik. Syarat Lokasi Pemukiman : 1. Lokasinya sedemikian rupa dan tidak terganggu oleh kegiatan lain 2. Mempunyai akses terhadap pusat-pusat pelayanan Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana 3. Mempunyai fasilitas drainase. 4. Mempunyai fasilitas penyediaan air bersih. 5. Dilengkapi dengan fasilitas pembuagan air kotor / Tinja. 6. Dilayani oleh fasilitas pembuagan sampah secara teratur. 7. Dilengkapi dengan fasilitas umum seperti taman kanak-kanak, taman dll 8. Dilayani oleh jaringan listrik dan telepon. Standar Umum Perumahan : Berikut ini akan dijelaskan mengenai standar-standar peumahan serta kebutuhan diingkungan perumahan tersebut. Besaran lingkungan perumahan ditentukan oleh : 1. Jumlah penduduk 2. Fasilitas atau pelayanan Umum 3. Luas Tanah / Lahan Total 4. Luas lahan untuk perumahan 5. Luas lahan untuk jaringan jalan 6. Luas lahan untuk ruangan terbuka 7. Kepadatan penduduk 8. Radius pelayanan 9. Luas lahan untuk fasilitas dan pelayanan umum. Dasar-dasar pengukuran skala lingkungan perumahan adalah : 1. Fasilitas pendidikan untuk alat ukur 2. Jumlah penduduk sebagai pengukuran skala 3. Lingkungan perumahan 2.6 Defenisi Tenaga Kerja Yang dimaksud tenaga kerja adalah penduduk yang dalam usia kerja yang umum dipakai adalah penduduk yang berumur 10 tahun keatas, namun pada tahun 2000 berdasarkan ketetapan ILO tenaga kerja yang dipakai yakni yang berumur 15 tahun keatas dan tenaga kerja adalah penduduk yang potensial dalam Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana bekerja atau tenaga kerja adalah jumlah seluruh penduduk dalam suatu negara yang dapat memproduksi barang dan jasa, dan jika ada permintaan terhadap tenaga kerja mereka mau berpartisipasi dalam aktivitas tersebut. Pengertian tenaga kerja berdasarkan sensus penduduk dikatakan bahwa tenaga kerja adalah penduduk yang terdiri dari angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlibat dan yang berusaha untuk terlibat dalam kegiatan aktif tersebut. Sedangkan yang dimaksud dengan yang bukan tenaga kerja adalah bagian tenaga kerja yang tidak bekerja atau sedang mencari kerja. Simanjuntak (1981) memberikan batasan bahwa yang dimaksud tenaga kerja atau man power mengandung dua pengertian. Pertama sebagai orang atau kelompok orang-orang bagian dari penduduk yang mampu bekerja. Mampu bekerja berarti mampu melakukan kegiatan yang mempunyai nilai ekonomis, yaitu bahwa kegiatan tersebut menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sedangkan pengertian yang kedua yang terkandung didalamnya adalah sebagai jasa yang diberikan dalam proses produksi (labour service). Dalam hal ini tenaga kerja mencerminkan kualitas usaha yang diberikan seorang dalam waktu tertentu untuk menghasilkan barang dan jasa. Pakar kelautan dan perikanan dari Perancis, Prof Dr Jean Chaussade menilai, tingkat kesejahteraan nelayan di Indonesia yang masih masuk kategori miskin, salah satu sebabnya adalah karena profesi nelayan itu hanya bersifat "sambilan" dan bukan "nelayan penuh" dalam kesehariannya. Menurut dia, profesi nelayan di Indonesia yang lebih banyak bersifat "sambilan" itu, terjadi karena dampak dari krisis ekonomi yang melanda, sehingga tekanan-tekanan krisis dimaksud berpengaruh pada banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan. Akibatnya, nelayan yang relatif tidak memerlukan kualifikasi dan standarisasi tertentu banyak dipilih oleh banyaknya tenaga-tenaga kerja yang kehilangan pekerjaannya itu

2.7

Kehidupan Nelayan di DaeRah Pesisir di Minang Kabau

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Kondisi nelayan di berbagai kawasan secara umum di tandai oleh beberapa cri seperti kemiskinan, keterbelakangan social, rendahnya SDM, karena sebagian penduduk hanya lulusan Sekolah Dasar atau bahkan belum tamat dan lemahnya fungsi dar keberadaan Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan Lembaga Keungan Mikro (LKM) atau kapasitas berorganisasi. Hal ini menyebabkan terjadinya kelemahan bargaining position dengan pihak-pihak lain di luar kawasan sehingga mereka kurang memilki kemampuan mengembangkan kapasitas dirinya dan organisasi dan kelembagaan social yang di miliki sebagai sarana aktualisasi dalam membangun wilayahnya (Kusnadi 2006 :91-92). Setelah berlakunya Undang-undang Otonomi Daerah tahun 1999 dan gerakan Kembali ka Nagari, Adat Minang mendapat tempat yang lebih baik dan dimasukkan sebagai salah satu dasar pemerintahan Nagari, Pemerintahan Daerah Kabupaten, dan Pemerintahan Daerah Provinsi, sesudah UUD 1945. Di bawah ini adalah ikhtisar Adat Minang, sering disebut Undang nan Empat, sebagaimana dipahami dan hidup dalam masyarkat Minangkabau. 1. Undang-undang Luhak dan Rantau Luhak bapangul Rantau barajo Bajalan samo indak tasundak Malenggang samo indak tapampeh Masyarakat Minangkabau meyakini adanya kesatuan genealogis semua Nagari-nagari dalam wilayah Minangkabau dan juga kesatuan genealogis penduduknya. Karena itu Adat Minang sebagai produk budaya adalah satu kesatuan juga. Nenek moyang orang Minangkabau diyakini turun dari puncak Gunung Marapi, dan Nagari tertua di Minangkabau adalah nagari Pariangan di Kabupaten Tanah Datar sekarang. Orang-orang yang satu keturunan menurut garis keturunan Ibu berkelompok membentuk sebuah suku, dan dipimpin oleh seorang lakilaki yang disebut Penghulu. 2. Undang-undang Nagari Nagari bakaampek suku Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Dalam suku babuah paruik Basawah baladang Babalai bamusajik Balabuah batapian Undang-undang Nagari berisi aturan dasar dan syarat-syarat berdirinya sebuah Nagari, yaitu syarat-syarat yang menunjukkan kemampuan penduduk beberapa kampung untuk mendirikan suatu susunan masyarakat yang lebih teratur. Syarat-syarat ini meliputi kemampuan ekonomi, prasarana dan jumlah penduduk atau suku. 3. Undang-undang dalam Nagari Barek samo dipikue, ringan samo dijinjing Saciok bak ayam, sadanciang bak basi, Sakik basilau, mati bajanguak Salah batimbang, hutang babayie Undang-undang dalam Nagari mengatur tata hubungan warga masyarakat dalam sebuah nagari. Sistem yang dipakai adalah tipikal masyarakat komunal, dengan ciri-ciri:
a. b.

Setiap orang secara alami langsung menjadi warga Nagari Demokrasi langsung, karena para Penghulu sangat dekat dengan masyarakatnya, diwakilkan. musyawarah dan mufakat dilaksanakan tanpa

c.

Gotong royong. Kebersamaan dalam menghadapi segala masalah dalam Nagari Social safety net, semua warga Nagari, dapat mengandalkan bahwa dirinya akan dibantu secara bersama-sama oleh masyarakat jika dia mengalami kesusahan yang mendesak.

d.

4. Undang-undang nan Duapuluh Undang-undang dalam Nagari mengatur tata hubungan warga masyarakat dalam sebuah nagari. Sistem yang dipakai adalah tipikal masyarakat komunal, dengan ciri-ciri:
a.

Setiap orang secara alami langsung menjadi warga Nagari

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana
b.

Demokrasi langsung, karena para Penghulu sangat dekat dengan masyarakatnya, musyawarah dan mufakat dilaksanakan tanpa diwakilkan.

c.

Gotong royong. Kebersamaan dalam menghadapi segala masalah dalam Nagari Social safety net, semua warga Nagari, dapat mengandalkan bahwa dirinya akan dibantu secara bersama-sama oleh masyarakat jika dia

d.

2.8

Pengertian Penduduk Penduduk/Warga/Perkumpulan Orang-orang atau manusia Orang-orang

yang berada di dalamnya terikat oleh aturan-aturan yang berlaku dan saling berinteraksi satu sama lain secara terus menerus/kontinyu. Suatu daerah tempat tinggal biasanya dipimpin oleh seseorang. Penduduk atau warga suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:

Orang yang tinggal di daerah tersebut Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain.

Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. 2.9 Piramida Penduduk Distribusi usia dan jenis kelamin penduduk dalam negara atau wilayah tertentu dapat digambarkan dengan suatu piramida penduduk. Grafik ini berbentuk segitiga, dimana jumlah penduduk pada sumbu X, sedang kelompok usia (cohort) pada sumbu Y. Penduduk lak-laki ditunjukkan pada bagian kiri sumbu vertikal, sedang penduduk perempuan di bagian kanan. Piramida penduduk menggambarkan perkembangan penduduk dalam kurun waktu tertentu. Negara atau daerah dengan angka kematian bayi yang rendah dan memiliki usia harapan hidup tinggi, bentuk piramida penduduknya hampir menyerupai kotak, karena mayoritas penduduknya hidup hingga usia tua. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Sebaliknya yang memiliki angka kematian bayi tinggi dan usia harapan hidup rendah, piramida penduduknya berbentuk menyerupai genta (lebar di tengah), yang menggambarkan tingginya angka kematian bayi dan tingginya risiko kematian. 2.10 Kepadatan dan Penyebaran Penduduk Untuk melihat kepadatan penduduk yang ada mengunakan analisis kepadatan Bruto, dimana kepadatan ini disebabkan adanya dominasi penduduk yang menetap pada suatu daerah berdasarkan aktivitas perekonomian, mata pencarian dan aksesbilitas. Dengan rumus: Bruto = jumlah penduduk (jiwa) Luas wilayah Adapun standar kepadatan penduduk yang digunakan yaitu : 2.11 Sangat Rendah : < 5 jiwa/ ha Rendah Menengah Urbanisasi Kata Urbanisasi atau urbanization didefinisikan oleh Munir ( 2004:1) sebagai bertambahnya proporsi penduduk yang berdiam di daerah kota yang disebabkan oleh proses perpindahan penduduk ke kota dan atau akibat dari perluasan daerah kota. Urbanisasi dapat terjadi melalui dua cara yaitu; perpindahan penduduk dari desa ke kota (rural urban migration) dan kedua karena berubahnya daerah pedesaan yang karena beberapa faktor lambat laun menjadi daerah perkotaan (Sinulingga, 1999: 70). Pada umumnya di Negara maju tingkat urbanisasi sangat tinggi dibanding di negara berkembang. Di negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat urbanisasi mencapai hampir 80%, sedangkan di negara-negara berkembang urbanisasi masih di bawah 40%. Di Indonesia urbanisasi baru mencapai 30,9% di Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta : 5-10 jiwa/ha : > 10 jiwa/ha

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana tahun 1990, sedangkan keseluruhan dunia mencapai 40% di tahun yang sama (Sinulingga, 1999: 81). 2.12 Kebijakan Pengelolaan Wilayah pesisir Dalam UUD no.22 tahun 1999 yang terakhir telah di sempurnakan melalui UUD no.32 tahun 2004 dinyatakan bahwa dinyatakan bahwa daerah propinsi terdiri dari wilayah daratan dan wilayah laut sejauh 12 mil laut yang di ukur dari gris pantai kea rah laut lepas dan atau kearah peraiaran kepulauan. Sedangkan kewenangan daerah kabupaten/kotaejauh sepertiga dari batas laut daerah provinsi. Melalui pelimpahan kewengan tersebut, maka daerah dapat lebih leluasa dalam merencanakan dan mengelola sumberdaya wilayah pesisir, termasuk jasa lingkungan lainnya bagi kepentingan pembangunan daerah itu sendiri. Proses pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir, berdasarkan kesepakatan internasional, mengikuti suatu siklus pembangunan atau kebijakan. Siklus tersebut terdiri dari 5 langkah yaitu : 1. Identifikasi isu-isu pegelolaansumberdaya wilayah pesisir 2. Persiapan atau perencanaan program 3. Adopsi program dan pendanaa 4. Pelaksanaan program 5. Monitoring dan evaluasi Konsep pengelolaan wilayah pesisir tarpadu membutuhkan waktu beberapa tahun untuk dapat diimlementasikan walaupun hanya untuk kawasan tertentu (sesuai pengalaman negara-negara tetangga seperti Filipina, Thailand dan sri langka). Propinsi Sumatra Utara dengan komposisi masyarakat pesisir yang sangat majemu di tuntut untuk dapat mengawali pengelolaan wilayah pesisir terpadu dengan menyelesaikan satu siklus kebijakan pengelolaan. Program akan menjadi lebih matang dan didukung oleh seluruh stakeholder bila telah berhasil melewati satu siklus yang dibuat juga dengan satu generasi program. Dokumen selanjutnya yaitu kebijakan zonasi, rencana pengelolaan dan rencana aksi. a. Kebijakan umum Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Memadukan pengelolaan Sumberdaya pesisir dan laut untuk mewujudkan pembangunan industry Perikanan, pariwisata bahari dan industry non perikanan secara terpadu Pengelolaan potensi sumberdaya pesisir dan laut secara terpadu Terkoordinasi dan saling berkaitan antar wilayah kabupaten Mendorong pengelolaan industry perikanan, pariwisata bahari dan industry Non perikanan secara terpadu berlandaskan potensi sumberdaya pesisir dan laut Mendorong pembangunan ekonomi secara optimal, efisien dan berorientasi pada ekonomi rakyat Mendorong berbagai kegiatan untuk meningkatkan kualitas lingkungan Mendorong peningkatan kapasitas kelembagaan dan penegakan hokum untuk mewujudkan kawasan pesisir ebagai kawasan perikanan terpadu Pengelolaan kawasan pesisir berbasis masyarakat Pengelolaan industry perikanan, pariwisata dan industry non perikanan terpadu berorientasi pada pengembangan teknologi 2.13 Penataan Ruang Bernasis Mitigasi Bencana Alam Kawasan-kawasan yang menyimpan potensi gempa bumi (jalur tunjangan, tubrukan, fragmen-fregmen benua mikro dan patahan-patahan aktif) dinamakan sebagai daerah-daerah atau zona sumber gempa bumi. Berdasarkan analisis probabilistic bahaya gempa. Wilayah Indonesia terbagi dalam 6 wilayah gempa, (dimana wilayah gempa 1 merupakan wilayah gempa paling rendah, dan wilayah gempa merupakan daerah gempa tertinggi), yaitu : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta semua aktifitas yang berkaitan dengan

b. Kebijakan khusu

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana a. Wilayah 1, berarti daerah tersebut mempunyai potensi sangat rendah untuk mengalami gempa, meliputi sebagian besar pulau Kalimantan, kecuali Kalimantan timur dan sebagian Kalimantan tengah. b. Wilayah 2, berarti daerah itu mempunyai potensi rendah untuk mengalami gempa, meliputi bagian timur pulau Kalimantan dan Sulawesi bagian selatan, pantai timur Sumatra, pantai utara jawa timur dan Madura. c. Wilayah 3, berarti daerah itu mempunyai potensi sedang untuk mengalami gempa, meliputi pantai utara pula jawa, pantai timur pulau Sumatra, Sulawesi tenggara, bagian timur Halmahera. d. Wilayah 4, berarti daerah itu mempunyai potensi ytinggi untuk mengalami gempa, meliputi bagian selatan pulau jawa dan Maluku e. Wilayah 5, berarti mempunyai potensi sangat tinngi untuk mengalami gempa, meliput bali, NTB, sebagian Sumatra dan papua f. Wilayah 6, berarti wilayah ini mempunyai potensi paling tinggi mengalami gempa, meliputi bagian barat pulau Sumatra, NTT, ambon, dan papua bagian tengah. Semakin besar resiko kegempaan, maka semakin awan daerah tersebut terhadap bahaya gempa. Upaya yang di lakukan untuk mengurangi dampak negative tsunami : 1. Hindari bangunan baru di daerah terpaan tsunami untuk mengurangi korban di masa depan 2. Mengatur pembangunan baru di daerah terpaan tsunami untuk memperkecil kerugian di masa dating 3. Merancang dan membangun bangan baru untuk mengurangi kerusakan. Prasarana merupakan kebutuhan pokok manusia sebagai penunjang segala aktifitas .seperti Listrik ,air bersih ,telpon ,Drainase dan jaringan Transportasi seperti yang di ketahui parsarana merupakan asset fisik yang di rancang dalam sistem sehingga memberikan pelayanan public penting . Untuk perencanaan Tapak kawasan perumahan nelayan di kelurahan pasinan tigo. berkaitan dengan Prasarana sesuai dengan kebutuhan .untuk saluran air minum (PDAM) saluran air limbah ,jaringan listrik,telfon ,dan tempat pembuangan sampah (TPS) . 2.1 Jaringan air bersih Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Perencanaan sistem jaringan dan kebutuhan air bersih didasarkan pada jenis kawasan yang di rencanakan .pengadaan air bersih dapat diambil dari sumber mata air terdekat dan di tampung pada resivior yang kemudian di salurkan pada seluruh kawasan permukiman yang di rencanakan dengan sistem jaringan untuk distribusi dengan sistem loop/melingkar. Pola distribusi sangat dipengaruhi oleh penentuan sumber air yaitu: a. Reservoir dengan sistem menara ,dibenarkan bila: -areal yang dilayani cukup luas -sumber airnya terletak sejajar atau lebih rendah dari tempat fasilitas fasilitas yang perlu di layani b. Reservior dalam tanah ,digunakan bila: Sumber air terletak didaratan tinggi ,dimana letaknya lebih tinggi dari fasilitas yang dilayani Tingkat kebutuhan yang cukup besar

c. Tanpa resivior ,digunakan bila -kebutuhan air lebih kecil - ketersediaan air cukup besar Sistem penyediaan air bersih terdiri dari -bangunan pengambilan air baku - saluran atau pipa transisi air baku - instalasi produksi - pipa air bersih sekunder - pipa transisi air bersih utama -bak penampungan - pipa distribusi utama - pipa distribusi sekunder Sumber sumber air bersih yang dapat di gunakan Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana PDAM Air tanah atau sumur.

Kota yang membutuhkan pelayanan air bersih 1. kebutuhan rumah tangga atau pemukiman ,dihitung berdasarkan 150 liter/orang/hari. 2. Kebutuhan untuk keperluan sosial di hitung 10% dari jumlah kebutuhan penduduk atau rumah tangga 3. Kebutuhan untuk keperluan pusat kegiatan lingkungan dihitung 20% dari jumlah kebutuhan penduduk. 4. Kebutuhan untuk cadangan 20% dari jumlah kebutuhan penduduk. Standar Kebutuhan dan Tingkat Pelayanan Air Bersih Perhitungan kebutuhan air bersih pada umumnya didasarkan pada jumlah penduduk dan tingkat pelayanan. Sebagaimana yang tertuang dalam MDGs bahwa pada tahun 2015 jumlah penduduk yang dilayani sistem air bersih akan tereduksi 50%. Pada tabel berikut adalah kriteria yang umum digunakan untuk menghitun kebutuhan air bersih suatu daerah. Apabila tingkat pelayanan telah diketahui dan jumlah sambungan juga telah diketahui maka dapat diperkirakan jumlah kebutuhan pipa primer, sekunder, dan tersier. Semakin kecil kerapatan suatu wilayah maka jumlah kebutuhan pipa per-sambungan akan semakin besar. Kriteria yang umum digunakan untuk menghitung kebutuhan jumlah pipa adalah sebagai berikut : Pipa Primer = 4 5 m / sambungan Pipa Sekunder = 6 8 m / sambungan Pipa Tersier = 9 12 m / sambungan 2.2 Listrik Rencana jaringan listrik didasari oleh kebutuhan dari setiap jenis kegiatan dan penempatan gardu listrik jauh dari kegiatan yang bersifat aktif. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Sistem jaringan listrik dari : -bangunan pembangkit -gardu induk extra tinggi dan gardu listrik -saluran udara tegangan extra tinggi -saluran udara tegangan tinggi -jaringan transmisi menengah Standar Pembangunan Gardu Listrik Standar pembangunan gardu listrik adalah sebagai berikut : A. Ukuran dan Kapasitas Maksimum Gardu per-Unit a. Luas tanah : 6 x 9 m2 b. Luas casis (Bangunan) : 4 x 7 m2 c. Radius Pelayanan : 200 m2 d. Kapasitas Maksimum : 630 KVA = 630.000 watt e. Medan Listrik yang bisa dicapai : 6.257 m2 B. Kebutuhan Listrik/Gardu Kebutuhan Listrik dapat dihitung dengan ketentuan sebagai berikut ; a. Untuk Perkantoran/Jasa/Pertokoan Kebutuhan listrik untuk perumahan Jenis rumah Ukuran petak Luas rata-rata m2 bangunan rata-rata (m2) Kecil Sedang besar 100 200 400 70 240 600 450 1.500 6.600 Kebutuhan (Watt) Jumlah rumah dilayani gardu unit 1.400 420 100 yang

Khusus untuk lingkungan real estate kebutuhan gardu diperhitungkan sebagai berikut : Medan elektris yang bisa dicapai gardu standar = 6.257 m2 atau dibulatkan 0,5 Ha untuk 1 gardu. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana b. Untuk Perkantoran/Jasa/Pertokoan Untuk bangunan-bangunan perkantoran/jasa/pertokoan, disyaratkan untuk setiap luas lantai bangunan seluas 1.000 m2 / 50.000 m2 menyediakan satu gardu khusus. Bebang tersambung kesehatan Balai pengobatan 900 V A/unit BKIA dan rumah bersalin 1300 VA/unit Apotik 1.300 V A/unit

Beban penyambung kawasan perumahan Dasar perhitungan beban tersambung untuk penerangan bagi semua tipe rumah adalah 5 VA/m2 maka beban tersambung kawasan perumahan : Rumah kecil : 450 VA/unit Rumah sedang: 1300 VA/unit Rumah besar : 3500 VA/unit

Standar Sempadan Saluran Udara Tegangan Tinggi Dan Ekstra Tinggi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat penghantar di udara yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik dari pusat pembangkit ke pusat beban dengan tegangan di atas 35 kV sampai dengan 245 kV. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat penghantar di udara yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik dari pusat pembangkit ke pusat beban dengan tegangan di atas 245kV.

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Ketentuan pemanfaatan lahan yang dilalui jalur dan di sekitar menara SUTT dan SUTET diatur berdasarkan prinsip berikut:

1. Perlu disediakan ruang aman, yaitu ruang sekeliling penghantar atau kawat listrik SUTT atau SUTET yang harus dibebaskan dari kegiatan manusia. VI - 34 SUTT atau SUTET sebagai ruang aman tetap digunakan oleh pemiliknya sesuai dengan rencana tata ruang. 3. Ruang aman meliputi jarak bebas horizontal dan jarak bebas vertikal. Jarak bebas horisonal adalah jarak antara titik tengah menara dengan benda terdekat. Jarak bebas vertikal adalah ketinggian minimal antara penghantar dengan tanah. 4. Jarak bebas horizontal minimal untuk SUTT ditetapkan 20 m ke kanan kiri dari titik tengah menara untuk menara tunggal dan 15 m untuk menara ganda, sementara jarak bebas vertikal bergantung pada letak menara tersebut dan beberapa faktor lainnya. 5. Jarak bebas horizontal minimal untuk SUTET ditetapkan 32 m ke kanan kiri dari titik tengah menara, sementara jarak bebas vertikal bergantung pada letak menara tersebut dan beberapa faktor lainnya. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

2. Tanah, bangunan dan tanaman yang berada di bawah sepanjang jalur

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana 6. Faktor-faktor yang menentukan ruang aman adalah tegangan, kekuatan angin dan suhu di sekitar kawat penghantar: a. Tegangan; makin besar tegangan yang bekerja pada penghantar makin besar jarak minimum (clearance) yaitu jarak yang terpendek yang diizinkan antara kawat penghantar dengan benda atau kegiatan lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b. Angin; makin besar tekanan angin, makin besar ayunan kawat penghantar ke kiri atau ke kanan dan pada satu gawang (jarak antara dua menara) ayunan yang terbesar karena pengaruh angin adalah pada kawat penghantar yang lengkungannya paling rendah sedangkan ayunan semakin kecil ke arah menara. c. Suhu kawat penghantar; makin besar suhu yang mempengaruhi kawat penghantar makin mengendor kawat penghantar tersebut, sehingga andongannya menjadi lebih besar dan kenaikan suhu tersebut disebabkan oleh suhu di sekeliling dan suhu yang diakibatkan oleh besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar tersebut. 2.3 Persampahan Pembuangan sampah penting memiliki fasilitas pembuangan samapah yang efisiensi .untuk tapak yang akan direncanakan ,(terutama sampah padat tetapi juga sampah yang mudah terbakar ataupun sampah yang tidak dapat Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana terbakar) dan pembuangan segera dapat dilakukan pada pengolaan sampah pada tapak atau sekitar tapak untuk penguburan .pembakaran atau proses kimiawi yang memerlukan upaya penelaahan untuk pengolahan .melakukan pembuangan sampah pada lahan terpisah untuk menghindari bau-bauan serta penggunaan metoda pembuangan untuk mencegah bersarangnya tikus dan pembiakan serangga . Sistem persampahan terdiri atas beberapa tempat : Tempat pembuangan akhir Bangunan pengelola sampah Penampungan sementa

Beberapa alternatif distribusi pembuangan sampah berasal dari kawasan pemukiman

Sistem pengumpulan sampah Terdapat 2 (dua) sistem pengumpulan yang digunakan dalam pengelolaan persampahan Kota Padang yaitu pola komunal dan pola door to door.

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Pola komunal, menggunakan becak motor atau becak sampah

(pengelolaannya bersifat swadaya masyarakat), gantungan sampah dan kontainer. Pola door to door, sampah langsung dikumpulkan truk dan langsung dibawa ke TPA.

Standar Perencanaan Prasarana Pengelolaan Sampah A. TIMBULAN DAN KARAKTERISTIK SAMPAH Berdasarkan data timbulan sampah yang terjadi selama ini, maka perkiraan timbulan sampah saat ini maupun kedepan adalah sebesar 2,5 l/orang per hari sedang sampah non-domestik sebesar 20%. Sedang karakteristik sampah mengacu kepada kondisi umum sampah untuk kota-kota di Indonesia pada umumnya terdiri dari : Sampah Organik = 70% Sampah Anorganik = 28% B 3 = 2% B. Proyeksi tingkat pelayanan Sesuai MDGs bahwa target pelayanan persampahan sampai tahun 2015 adalah reduksi setengahnya dari persentase yang belum dilayani, sehingga persentase pelayanan tahun 2015 adalah tergantung dari tingkat pelayanan yang telah ada.

Hubungan Antara Elemen-elemen Pengolaan Persampahan Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana

Sumber Sampah

Pewadahan

Pengumpulan Transfer dan Transpor . Pengeloaan

Penampungan akir Sumber 2.4 Jaringan Telpon Jaringan telpon untuk setiap perumahan pada umumnya telah menggunakan fasilitas ekonomi telpon yang baik .karena setiap perumahan dominan memiliki satu saluran jarinag telpon .jaringan telpon untuk tiap perumahan pada umumnya telah menggunakan telpon atau fasilitas komunikasi telpon yang baik . Sistem saluran telpon terdiri atas Saloran telpon otomat Saluran primer Rumah kabel Saluran sekunder : Thcobanoglous, 1993

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana

Standar Pembangunan Menara Telekomunikasi Ketentuan pembangunan menara telekomunikasi dimaksudkan untuk memberikan arah penyelenggaraan telekomunikasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di samping kehandalan cakupan (coverage) frekuensi telekomunikasi dengan tujuan meminimalkan jumlah menara telekomunikasi yang ada, dengan prioritas mengarahkan pada penggunaan/ dalam penggunaan/pengelolaannya maupun penggunaan ruang kota, namun tetap menjamin kehandalan cakupan pemancaran, pengiriman dan/ atau penerimaan telekomunikasi. Pola penyebaran titik lokasi menara telekomunikasi dibagi dalam kawasan berdasarkan pola dan sifat lingkungan, kepadatan bangunan dan bangunbangunan serta kepadatan jasa telekomunikasi yang lokasi persebarannya ditetapkan dengan keputusan Gubernur. Kawasan tersebut dibagi berdasarkankriteria sebagai berikut : A. Kriteria Kawasan I a. Lokasi yang kepadatan bangunan bertingkat dan bangunbangunan serta kepadatan penggunaan/pemakaian jasa tekelomunikasi padat. b. Penempatan titik lokasi menara telekomunikasi pada permukaan tanah Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana hanya untuk menara tunggal, keciali untuk kepentingan bersama beberapa operator dapat dibangun menara rangka sebagai menara bersama. c. Menara telekomunikasi dapat didirikan di atas tanah dan di atas bangunan dengan memperhatikan keamanan, keselamatan, estetika dan keserasian lingkungan. a. Lokasi yang kepadatan bangunan bertingkat dan bangunbangunan kurang padat. b. Penempatan titik lokasi menara telekomunikasi pada permukaan tanah dapat dilakukan untuk menara rangka dan menara tunggal. c. Menara telekomunikasi dapat didirikan di atas bangunan jika tidak dimungkinkan didirikan di atas permukaan tanah dengan memperhatikan keamanan, keselamatan, estetika dan keserasian lingkungan. BANTUAN TEKNIS PENYUSUNAN ATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG ( ZONING REGULATION) KAWASAN VI - 32 a. Lokasi dimana kepadatan bangunan bertingkat dan bangunbangunan tidak padat. b. Penempatan titik lokasi menara telekomunikasi pada permukaan tanah Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta RAWAN BENCANA DAN KAWASAN PENGEMBANGAN KOTA PADANG C. Kriteria Kawasan III B. Kriteria Kawasan II

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana dapat dilakukan untuk menara rangka dan menara tunggal. c. Menara telekomunikasi di atas bangunan bertingkat tidak diperbolehkan kecuali tidak dapat dihindari karena terbatasnya pekarangan tanah dengan ketentuan ketinggian disesuaikan dengan kebutuhan frekuensi telekomunikasi dengan tinggi maksimum 52 meter dari permukaan tanah dengan memperhatikan keamanan, keselamatan, estetika dan keserasian lingkungan. d. Menara telekomunikasi dibangun sesuai dengan kaidah penataan ruang kota, keamanan dan ketertiban, lingkungan, estetika dan kebutuhan telekomunikasi pada umumnya. Seperti disebutkan di atas, menara telekomunikasi diklasifikasikan dalam dua bentuk, yaitu menara tungal dan menara rangka. e. Menara telekomunikasi untuk mendukung sistem transmisi radio microwave, apabila merupakan menara rangka yang dibangun di permukaan tanah maksimum tingginya 72 meter, ditentukan hanya dapat dibangun dalam peruntukkan tanah II dan peruntukkan tanah III. f. Dilarang membangun menara telekomunikasi pada: Lokasi pada peruntukkan tanah spesifik perumahan kecuali pada peruntukkan tanah perumahan renggang dengan ketentuan harus dilengkapi Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana dengan persyaratan tidak berkeberatan dari tetangga di sekitar menara dan diketahui oleh lurah setempat. Bangunan bertingkat yang menyediakan fasilitas helipad. Bangunan bersejarah dan cagar budaya.

2.5 Jaringan jalan Ada beberapa pembagian jalan 1. Jalan penghubung lingkungan perumahan ROW ( righ of way/ lebar badan jalan) minimum 13 m Lebar perkerasan aspal minimum 6m Lebar perkerasan bahu jalan minimum 1m

2. Jalan poros lingkungan perumahan ROW ( right of way /lebar badan jalan) minimum 11 m Lebar perkerasan aspal minimum 4,5 m Lebar perkerasan bahu jalan minimum 1m

3. Jalan lingkungan perumahan I ROW (right of way)/lebar badan jalan ) minimum 7,5 m Lebar perkerasan minimum 3,5 m

4. Jalan lingkungan perumahan II ROW (Right of way/lebar badan jalan ) menimum 3,6 m Lebar perkerasan minimum 1,5 m

5. Jalan lingkungan perumahan III Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Hirarki jalan : 1) Jalan arteri mineral Lebar jalan minimal 9m Lebar bahu kiri atau kanan 1,5 m Kecepatan kendaraan minimal 60km/jam Melayani angkutan jarak jauh ,tidak terganggu oleh angkutan ulang alik dan lalu lintas lokal Jalan masuk lintas lokal Jalan masuk dan persimpangan harus di batasi ROW ( right of way /lebar badan jalan ) minimum 3,6 m Lebar perkerasan minimum 0,9 m

2) Jalan lokal primer Lebar jalan kurang dari 8 meter Lebar bahu kiri atau kanan 1,5 meter Jalan masuk dibatasi Persimpangan di rencanakan Kecepatan kendaraan minimal 20 km/jam

3) Jalan kolektor Lebar jalan kurang dari 7m Lebar bahu kiri atau kanan 1m

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Jalan masuk di batasi Persimpangan direncanakan Kecepatan kendaraan minimal 40km/jam

4) Jalan arteri sekunder Lebar jaln kurang dari 8m Jalan masuk dibatasi Kecepatan kendaraan minimal 30km/jam

5) Jalan kolektor sekunder Lebar jalan minimal 7m Terdiri dari dua bahu dan 5 meter dari jalur lalu lintas Kecepatan kendaraan minimal 20km/jam

6) Jalan lokal sekunder Lebar jalan minimal 3,5 -5 m Terdiri dari dua bahu kiri dan kanan yaitu 0,5-1 dan 2,5 -3m dari jalur lalu lintas Kecepatan kendaraan minimal 10km/jam

Jaringan jalan merupakan rangkaian ruas-ruas jalan yang dihubungkan dengan simpul-simpul. Simpul-simpul merepresentasikan pertemuan antar ruasruas jalan yang ada. Jaringan jalan mempunyai peranan penting dalam pengembangan wilayah dan melayani aktifitas kawasan.

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Peranan jaringan jalan Peranan jaringan jalan yang didasarkan pada cakupan wilayah Pelayanan adalah sebagai berikut : - Jaringan Primer Jalan : Sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah di tingkat Nasional dengan semua simpul jasa distribusi yang kemudian berwujud kota. Peranan pelayanan terdiri dari jalan arteri,a jalan kolektor dan jalan lokal - Jaringan Sekunder (Jalan) : Sistim jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk pelayanan masyarakat di dalam kota. Peranan pelayanannya terdiri dari jalan kolektor dan jalan lokal, Jalan arteri primer dan kolektor primer tidak terputus, walaupun memasuki kota Pola Jaringan Jalan Jaringan jalan mempunyai pola jaringan sesuai dengan karakteristik kawasan/wilayah dan rencana pengembangannya. Untuk daerah yang berkembang secara natural maka pola jaringannya akan terbentuk dengan karakteristik alamiahnya. Pola jaringan jalan secara umum adalah sebagai berikut :

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Jaringan jalan Lingkungan

Jaringan jalan di suatu kawasan dengan karakteristik guna lahan yang komplek perlu ada perencanaan. Perencanaan dilakukan dengan mempertimbangkan tata ruang yang ada. Jalan lingkungan yang membentuk jaringan disesuaikan dengan jenis guna lahan antara lain perumahan, perdagangan, industri, perkantoran dan pendidikan. Perlu juga diperhatikan juga fasilitas dan prasarana pendukung lain seperti pedestrian, halte, sub terminal, jalur hijau dan lain sebagainya.

Dari Konsep tata ruang dan Karakteristik kawasan, maka jaringan jalan dengan tipe grid network cukup memadai untuk melayani aksesibilitas lingkungan. Grid Network terdiri dari Jalan Primer dengan membelah kawasan dan bertemu di pusat kawasan. Jalan primer merupakan Jalan Penghubung Lingkungan yang merupakan akses utama dengan jalan lokal terdekat. Kemudian dirangkai denngan jalan Poros Lingkungan sebagai akses utama jalan lingkungan yang ada (jalan sekunder). Jaringan jalan harus memperhatikan juga fasilitas pendukung lainnya, antara lain jembatan, fasilitas pedestrian, terminal dan lain sebagainya. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Sebagai sarana utilitas ,jalan merupakan hal yang utama yang sangat di butuhkan .berdasarkan bentuk polanya jalan terbagi beberapa tipe yaitu a. Grid Iron Pada tipe jalan berbentuk grid-grid atau kisi-kisi dengan pembangunan rumah pada sisi-sisi jalan. Tipe ini memperlihatkan pengelompokan bangunan secara kotak-kotak memanjang yang terlihat sangat sederha. b. Cul de sac Pengelompokan rumah rumah secara cul de-sac ini memperlihatkan kesan yang lebih fleksibel dibandingkan tipe grid yang monoton. Pola ini juga terlihat lebih mudah dibandingkan dengan pola grid, namun pola ini cenderung memberikan kesan yang kurang terkelompok karena adanya perbedaan pengelompokan rumah. c. Loop Pada pola ini rumah-rumah dikelompokan berbentuk loop, dengan adanya ruang terbuka hijau ditengah-tengahnya. Namun pada poola ini juga ditemukannya kekurangan berupa pembagian persil-persil tanah yang kurang efektif dan beberapanya terdapat penyempitan muka persil. d. Lengkung Pola ini memperlihatkan pengelompokan rumah-rumah yang sangat tidak teratur. Pengelompokan seperti ini juga memberikan permasalahan dalam penataan sirkulasi lalu-lintas. e. Simpangan Pola ini juga memperlihatkan ketidak-teraturan dengan banyaknya simpangan-simpangan jalan. Pola ini cukup sulit dalam penataan pengelompokan rumah. Hal ini biasanya terjadi disebabkan adanya faktor mempengaruhi. lain yang

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana a b

e (De Chia ra & Koppelmen, 1978, Site Planning) 2.6 Drainase Sistem drainase adalah pembuangan air hujan dari halaman fasilitas atau elemen elemen yang di rencanakan dan jalan penampungan ,sehingga tidak terdapat genangan genangan air atau pencemaran lingkungan . Beberapa hal yang harus di pertimbangkan dalam pengaturan sistem drainase yaitu Rencana tapak Kondisi tofografi Luas daerah pengaliran dan kondisi aliran permukaan Keselarasan terhadap jaringan jalan yang ada banjir yang dapat menimbulkan

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Tempat pembuangan akhir atau badan penerimaan yang ada di daerah terbuka. Berdasarkan pertimbangan diatas maka sistem pembuangan air hujan dapat di jabarkan sebagai berikut air hujan dialirkan melelui saluran terbuka yang di tempatkan di sepanjang jalan- jalan yang ada di sekitarnya saluran terbuka tersebut pada tempat tertentu yaitu pada penyebrangan jalan di buat duiker dan pasangan batu kali yang di lengkapi dengan soncrete slob cover atau di buat gorong gorong. Sistem pembuangan air hujan terdiri dari Saluran primer Saluran sekunder Waktu penampung

Sistem drainase dapat di bagi atas 3 yaitu: 1. Pembuangan air hujan utama (saluran primer) a. Ukuran pipa untuk sistem pembuangan air hujan utama harus mempunyai diameter yang didasarkan pada analisis rancangan ,tetapi tidak kurang dari 15 inchi. b. Kelandain minimun harus di tetapkan untuk memungkinkan pembersihan dari saluran pada aliran lambat ,juga memudahkan pemindahan endapan daerah drainase di masa mendatang. 2. Saluran air hujan ke dua (saluran sekunder) Syrat syarat adalah : Ukuran pipa untuk sistem pembuangan utama air hujan memadai harus di sediakan dana di hubungkan ke pipa pembuangan yang memadai ,sesuai di perlukan menurut analisis . 3. Cekungan drainase dan selokan (saluran tersier) Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Syarat- syarat sebagai berikut : a. Selokan di perkeras dengan kelandaian minimum 0,5 % b. Selekon /cekungan yang tidak di perkeras mempunyai kedalaman dan lebar yang memadai untuk menampung kemungkinan limpasan maksimum tanpa melimpah. Untuk daerah pemukiman sistem drainase yang di pergunakan disini yaitu sistem drainase permukaan. Untuk pengadaan drainase dalam perencanaan tapak dan beberapa metode atau sistem yang biasa di gunakan yaitu: Sistem drainase permukaan Sistem drainase bawah tanah tertutup Sistem drainase bawah tanah tertutup dengan penampungan pada tapak Sistem kombinasi drainase tertutup daerah yang perkeras. Saluran diperkeras harus mempunyai kelandain minimum 0,5 % saluran terbuka lereng sisi saluran dari tanah tidak boleh mempunyai kemiringan lebih dari 2 : 1 dan harus lebih rata untuk mencegah erosi tempat tempat yang dinyatakan menurut analisis .saluran terbuka yang dilapisi harus mempunyai kelandain maksimum 67% (1,5 : 1) pada kemiringan sisinya di lengkapi dengan lubang tetes yang memadai Pola bentuk Drainase a. Pola siku Dibuat di daerah yang tofografinya sedikit tinggi dari sungai dimana sungai merupakan saluran pembuangan akhir yang berada ditengah kota. yang di

perkeras dengan drainase terbuka untuk daerah yang di

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Saluran cabang

Saluran utama

b. pola paralel saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang,dengan saluran cabang (sekunder) yang cukup banyak dan pendek-pendek .apabila terjadi pengembangan kota ,saluran-saluran akan dapat menyesesuaikan.

Saluran cabang

Saluran utama c. Grid Iron Pola ini baik digunakan untuk daerah yang lahannya dengan kelerengan di kedua sisinya.

Saluran Saluran

d. Alamiah Digunakan bila kapasitas hujan yang akan alihannya sedikit dan tempat tempat tertentu saja Saluran Saluran utama Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana

e. Radial Pola saluran yang memancarakan ke segala arah ,cocok di buat di daerah berbukit

f. Jaring-jaring Pola ini mempunyai saluran saluran pembuang yang mengikuti arah jalaan raya dan cocok untuk daerah tofografi datar.

Sal cabang

Sal pengumpul Saluran utama Standar Garis sempadan sungai dan sempadan pantai untuk drainase Garis sempadan sungai untuk flood way dan kr. Kelurahan pesisi pantai adalah 30 meter kekiri dan ke kanan Garis sempadan sungai untuk Kr. Titik Panjang, Lueng Paga, Daroy, Doy and Neng (sebagai drainase utama) adalah minimum 15 m ke kiri dan ke kanan Garis sempadan pantai direncanakan proporsi pada bentuk dan kondisnya (dari garis pantai terluar ketidal dyke atau coastal road)

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana

2.7 Air Limbah Air limbah adalah air kotor yang di hasilkan khusus kakus (WC) untuk hal ini di lakukan penampungan individual .air limbah yang berasal dari kakus di buang langsung ke diposal sistem yang berupa cubluk atau cesspove. Sistem pembuangan air limbah terdiri dari: Saluran primer Saluran sekunder Bangunan pengelolaan waduk penampungan

Saluran ini berada diantara rumah dengan tangki septik.pipa utama merupakan perpanjangan pipa pembuangan kakus sampai sedikitnya kaki di bawah pondasi ,atau pipa masuk udara,pada pipa ini tidak di butuhkan perangkap masuk udara .bahannya dapat terbuat dari tanah liat yang diglazur atau sebaiknya dengan pipa besi digunakan jarak 100 kaki dari persediaan air minum dan di dekat perpohonan. Pentingnya infrastruktur air kotor dan air buangan Berkaitan dengan aspek lingkungkungan dan kesehatan Aspek lingkungan : dekomposisi air kotor dan air buangan menimbulkan gas yang berbau tidak sedap dapt mencemari udara, tanah dan air Aspek kesehatan : bau yang tidak sedap mengundang kedatangan lalat yang dapat menularkan berbagai penyakit, infiltrasi air kotor dan air buangan melalui tanah dan mencemari tanah Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana Standar Persyaratan pewadahan untuk air kotor atau limbah rumah tangga: 1. Ukuran diameternya antara 6 inchi sampai 4 inchi 2. Kemiringan 1 inchi untuk 8 kaki , pipa 6 inchi 1 inchi untuk 4 kaki ,pipa 4 inchi

3. Kemiringan pada lintang agak utara minimum 1 kaki 6 inchi di atas bawah permukaan lintang agak selatan ,maka kedalam harus cukup sekedar menutup pipa. Hasil buangan air limbah ke tangki yaitu: a. Tangki septik b. Tangki sifon. A. Pengertian Sarana dan Rumah Sarana menurut Peraturan Mentri PU No.06/PRT/M/2007 merupakan kelengkapan fisik suatu lingungan yang pengadaannya memungkinkan suatu lingkungan dapat berfungsi dan beroperasi sabagaimana semstinya. Sarana terdiri dari fasilitas sosial dan fasilitas umum.. Sarana diklafikasikan kepada 2 bagian yaitu : a. Sarana Umum, sarana yang pada umumnya harus disediakan oleh semua kawasan perumahan. b. Sarana khusus, sarana khusus merupakan sarana yang harus disediakan karena kendala alam dan kondisi alam pada suatu kawasan. Menurut UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman pasal 1 ayat(1), rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. B. Sarana Umum Dibagi atas beberapa jenis sarana : a. Sarana ruang terbuka, taman, dan lapangan olah raga b. Sarana kebudayaan dan rekreasi c. Sarana perdagangan dan niaga Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana d. Sarana kesehatan e. Sarana pendidikan dan pembelajaran f. Saranapemerintahan dan pelayanan umun g. Sarana peribadatan Untuk menentukan luas dan besaran masing- masing sarana digunakan konsep Neighbourhood Unit Konsep Neighbourhood Unit Sebuah kawasan perumahan yang ideal adalah bebas polusi , dekat dengan fasilitas kota, aman dan dan nyaman, ketersediaan utilitas yang memadai, dan yang paling penting dari semua faktor yang telah dipaparkan adalah akseseibilitas (kemudahan pencapaian) yang tinggi. Dengan demikian dalam kawasan pendidikan, perumahan harus tersedia sarana-sarana pendukung seperti dapat dipisahkan dari kehidupan penduduk. 1. Standar lingkungan I Jumlah penduduk adalah anatara 100 250 orang dengan asumsi jumlah anggota keluarga setiap rumahnya adalah 5 orang. Kebutuhan lahan untuk perumahan adalah 3000 7500 m dengan jumlah rumah tangga 20 50 rumah tangga. Kebutuhan ruang terbuka sebesar 100m - 250m, atau 1m setiap penduduknya. Kebutuhan pelayanan masyarakat adalah sebesar 300m, terdiri dari warung 100m yang menyatu dengan rumah tinggal, dan lapangan bermain 200m. Kebutuhan lahan untuk jaringan jalan adalah 300m. 2. Standar lingkungan II Jumlah penduduk adalah 800 1000 jiwa dengan 160 200 rumah tangga Kebutuhan lahan untuk perumahan 12.000 30.000 m Kebutuhan ruang terbuka 1m untuk setiap penduduk Kebutuhan pelayanan masyarakat adalah 2750m, yang terdiri dari: Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

kesehatan, peribadatan, perbelanjaan, rekreasi dan lain-lain yang tentunya tidak

Prencanaan Tapak perumahan DISOL AKMAL Guru sekolah menengah atas 0710015311012 berbasis bencana a. Sarana pendidikan TK dengan 2 ruangan sebesar 1200m b. Untuk pertokoan sebesar 1000m (atau 1m setiap penduduknya). Jika setiap tokonya memiliki luas 200m, berarti terdapat 5 buah toko c. Untuk koperasi sebesar 100m d. Untuk poliklinik adalah 200m (satu poliklinik setiap 1000 penduduk). e. Untuk tempat ibadah sebesar 250 m (satu tempat ibadah per 1000 penduduk). Kebutuhan jaringan jalan sebesar 12.000m

3. Standar Lingkungan III Jumlah penduduk adalah hingga 6000 jiwa dengan jumlah rumah tangga 1200 rumah tangga. Luas lahan yang dibutuhkan untuk perumahan sebesar 120.000m. Kebutuhan ruang terbuka 6000m. (1m setiap penduduknya). Kebutuhan jaringan jalan sebesar 48.000m. Kebutuhan pelayanan masyarakat adalah 24.700m, yaitu : a. Sarana pendidikan sekolah dasar 11.500m. (dengan perincian ; 767 m untuk luas bangunan; 2.400 m halaman bermain; 8192 m untuk lapangan olah raga. Sehiangga jumlah keseluruhannya adalah 11.359 m dan dibulatkan menjadi 11.500m). b. Sarana kesehatan sebesar 1.200m, dengan asumsi satu sarana kesehatan (200m) per seribu penduduk. c. Sarana perdagangan sebesar 3000m (500m/1000 penduduk), dan pertokoan 6000m. d. Sarana peribadatan sebesar 1500m. e. Bangunan umum lainnya 1500m.. ( Sumber Dinas Pekejaan Umum Provinsi Sumatera Barat)

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

Prencanaan Tapak perumahan Guru sekolah menengah atas berbasis bencana

DISOL AKMAL 0710015311012

No 1. 2. 3. 4. 5.

Keterangan Jumlah Penduduk Jumlah RT Perumahan Open Space Fasilitas Sosial

Lingkungan I 100 250 jiwa 20 - 50 KK 3000 - 7500 M2 (67%) 250 M2 (2,3%), radius pencapaian 100 m 300 M2 (2,7) - Warung : 100 M2, radius pencapaian 300 m - Lap. Bermain : 200 M2 , radius pencapaian 100 m

Lingkungan II 800 1.000 jiwa 160 200 KK 12.000 - 30.000 M2 (65,5%)

Lingkungan III 4000 6.000 jiwa 600 - 1200 KK 48.000 - 120.000 M2 (58,9%)

1.000 M2 (2,2%) , radius pencapaian 12.200 M2 (5,9%), radius pencapaian 100 m 100 m 2.750 M2 (6,1%) - TK : 1.200 M2 (Radius pencapaian 500) - Koperasi : 100 M2 , radius pencapaian 500 m - Toko : 1.000 M2 , radius pencapaian 300 m - Poliklinik : 200 M2, radius pencapaian 1000 m 12.000 M2 (26,2%) 45.750 M2 23.200 M2 (11,5%) - SD : 11.500 M2 , radius pencapaian 1000 m - Poliklinik : 1.200 M2 , radius pencapaian 1000 m - Pasar : 3.000 M2 , radius pencapaian > 2000 m - Toko : 6.000 M2 , radius pencapaian 300 m - Mesjid : 1.500 M2 , radius pencapaian 1000 m 48.000 (23,7%) 203.400 M2

6.

Jaringan Jalan Total

3000 M2 (27,1%) 11.050 M2

Tabel standar perumahan menurut Konsep Neighbourhood Unit Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta

C. Sarana Khusus 1) Sarana Kenelayanan a) Dermaga Standar Kriteria Perencanaan Pelabuhan (dermaga) di Indonesia (1984) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan Desain Kriteria Perencanaan Pelabuhan oleh Direktorat Bangunan dan Peralatan Pelabuhan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan sebuah dermaga : Ukuran/Dimensi Dermaga : Pembangunan Dermaga diperuntukkan bagi kapal GT. Dimensi kapal yang perlu diperhatikan: Panjang Keseluruhan (LOA) Lebar = (B) Sarat = (draft) = d Jagaan = w Kedalaman minimum perairan labuh = d meter dibawah LWS. Tinggi lantai dermaga adalah = t meter di atas LWS. Spesifikasi Pembebanan dan Perhitungan Beban desain untuk trestle dan wharf (Dermaga) yang dipergunakan adalah sebagai berikut: Beban mati Beban hidup Beban gempa Tekanan tanah b) Tempat pelelangan ikan c) SPBU d) Tempat penjemuran ikan

2) Sarana kritis Menurut hasil penelitian LIPI pada kota Padang Sarana kritis merupakan Fasilitas kritis adalah fasilitas yang diharapkan masih dapat berfungsi ketika bencana alam terjadi karena sangat dibutuhkan untuk tindak darurat. Antara lain : a. Menara b. Pos keselamatan dan informasi c. Pemacah gelombang. D. Pola Pola Perumahan dan Jenis- jenis Rumah 1. Tipe Rumah (bentuk) a. Rumah tinggal Rumah kediaman yang mempunyai persil tersendiri dan bangunan induknya tidak dibangun berimpit dengan batas persil, batas persilnya jelas kemudian status tanahnya merupakan hak milik, hak guna bangunan, hak pakai. b. Rumah gandeng dua/Kopel Rumah kediaman yang mempunyai persil tersendiri salah satu bangunan dinding bangunan induknya berimpit dengan salah satu bangunan tetangganya yang bersama merupakan kesatuan yang terdiri dari dua rumah. c. Rumah gandeng banyak/Bedeng Rumah-rumah kedua dinding bangunan induknya berwujud tersendiri. d. Rumah susun bergandengan deretan mempunyai sehingga yang persil rumah-rumah

masing-masing

Rumah yang dibangun secara vertikal dengan maksimal bangunan berlantai empat, tanahnya milik bersama.

e. Condominium Rumah yang kepemilikannya sendirisendiri tiap lantai dan tanah milik bersama, umumnya terdapat di pusat-pusat kota di kawasan strategi.

f. Flat Yang bangunan rumah terdiri dari dua lantai, dengan kepemilikan satu unit untuk satu lantai kemudian tanahnya milik bersama.

g. Maisonette Suatu perumahan setiap rumahnya

berderet-deret, dimana terdiri dari dua lantai dan tiap kapling milik masingmasing penghuni.

( De Chiara & Koppelman, 1978, Site Planning )

1. Jenis rumah berdasarkan kontruksinya : Berdasarkan RTRW Kota Padang rumah menurut kontruksinya dibagi: Rumah permanent Rumah yang sudah dikontrusi dengan pondasi, berdiding tembok batu bata atau batako, beratap genteng dan lantainya diplester/ keramik. Rumah semi permanent Rumah yang sudah dikonstruksi dengan pondasi, berdinding setengah tembok dan setengah bambu/ kayu, dilengkapi atap genteng, serta lantainya diplester/ keramik. Rumah non permanent Rumah tanpa pondasi, berdinding bambu/ kayu, dan beratap genteng ataupun selain genteng. 2. Karakteristik Rumah Sehat Menurut SNI No. 03-1728-1989 tentang bangunan gedung, persyaratan kesehatan bangunan gedung, meliputi: Cahaya dan Pembaharuan Hawa (2. 404) Setiap ruang kediaman dan ruang cuci tertutup, harus: a. Mempunyai satu atau lebih lubang cahaya yang langsung berhubungan dengan udara luar, dengan luas bersih bebas dari ringtangan-rintangan sama dengan sekurang-kurangnya satu per sepuluh dari luas lantai, dapat terbuka dan lubangnya meluas ke arah atas sampai sekurang-kurangnya 1,95 m di atas permukaan lantai. b. Diberi lubang hawa (angin) atau saluran-saluran angin dan pada atau dekat permukaan bawah langit-langit yang luas bersihnya sekurang-kurangnya 1,0% luas lantai ruang yang bersangkutan. c. Setiap kamar mandi dan kakus harus diberi penerangan dan pembaharuan hawa udara, dan dapat juga diberi penerangan buatan dan/ atau pembaharuan hawa (udara) mekanis yang memenuhi syarat-syarat pasal 2.406.

Penerangan dan Pembaharuan Udara (2. 405) a. Dengan tidak mengurangi arti dan maksud ayat (2) a pasal ini, nilai penerangan sekurang-kurangnya 50 lux harus diberikan pada semua bagian ruang kerja; b. .Sekurang-kurangnya 20 lux harus diberikan pada semua bagian jalan terusan, tangga, perlengkapan keluar dan ruang-ruang yang bukan ruang kerja. c. Jalan terusan, tangga dan semacamnya harus diberikan penerangan alam atau buatan. Penerangan buatan harus disediakan bila ruangan-ruangan termaksud di atas mempunyai kemungkinan digunakan pada malam hari. Pembaharuan Udara Mekanis (2. 406) a. Pertukaran Udara ialah, penggantian seluruh udara dari suatu ruangan atau suatu bangunan dengan jumlah udara segar (baru) yang sama besarnya dengan udara luar/ ruang lain yang bebas dari kuman-kuman dan kotoran. b. Suatu sistem pembaharuan udara mekanis, sebagai pengganti pembaharuan udara alam yang memenuhi syarat, sesuai dengan ketentuanketentuan petunjuk ini, tidak mungkin diberikan. c. Bilamana digunakan pembaharuan udara mekanis, sebagai pengganti pembaharuan udara alam, sistem yang dimaksud harus bekerja terus menerus selama ruang yang dimaksud digunakan. d. Udara kotor, atau membusukkan atau merusakkan harus dikeluarkan dari sistem pembaharuan udara mekanis pada suatu tempat sedemikian hingga tidak menjadikan gangguan. 3. Tipe Rumah (ukuran ) a) b) c) d) e) Tipe 21, dengan luas lahan 60m. Tipe 36, dengan luas lahan 90m. Tipe 45, dengan luas lahan 120m. Tipe 70, dengan luas lahan 198m (11m x 18 m). Tipe 90, dengan luas lahan 247m (13m x 19m).

f)

Tipe 145, dengan luas lahan 348m (15m x 23,2m).

4. Kawasan Bebas Bangunan Garis sempadan bangunan adalah garis yang ditarik dari garis sempadan pagar sampai bataa bangunan sebagai pengaman bangunan. Garis sempadan bangunan yang sempadan dengan jalan dapat dihitung : GSB = lebar jalan + 1m Garis sempadan bangunan yang tidak sempadan dengan bangunan diatur dalam Peraturan pemerintah tahun 1985 tentang jalan pasal : Permukaan persil yang tidak sebidang dengan Permukaan jalan apabila terdapat perbedan ketinggian 1 m Ketentuan garis sempadan bangunan untuk persil yang tidak sebidang dengan jalan adalah sama dengan garis sempadan bangunan pada permukaan yang sebidang dengan permukaan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pasal 4 Peraturan Daerah ini. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) Koefisien Dasar Bangunan (Building Coverage) adalah perbandingan antara luas dasar bangunan dengan luas persil per kavling. Pengaturan KDB yang layak : a) Perumahan KDB 60% b) Banguann umum KDB 40- 60% c) Banguanan Komersial (Building Steet) KDB 40-60% d) Pertokoan KDB 60- 80% Tujuan ditetapkan KDB pada suatu kawasan untuk menghitung daya tampung lahan, penyeimbang dan supaya masyarakat bis melakukan kegiatan sosial dan ekonomi dengan layak. Disamping itu KDB bertujuan terhadap peletakan banganan di atas kavling agar dapat mempertahankan tingkat ruang terbuka, dapat mempertahankan ruang antar bangunan guna mendapatkan penyinaran matahari, serta mendapat sudut pandang bagi objek yang baik. Koefisien Lantai Bangunan (KLB)

KLB atau Floor Area Ratio adalah luas lantai total dengan luas kavling persil. Penentuan KLB harus berupaya mempertahankan fungsi kegiatan dengan mencegah berkembangnya konflik Land Use ke kawasan sekitarnya. KLB untuk Kota Padang sendiri tidak ditetepkan sama untuk setiap kawasan tapi berdasarkan kontur dan luas persil. Maksimal Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan menetapkan intensitas bangunan 2, berarti Luas total lantai bangunan 2 kali luas kavling persil.