Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

Vitamin merupakan nutrien organik yang dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk berbagai fungsi biokimiawi dan yang umumnya tidak disintesis oleh tubuh sehingga harus dipasok dari makanan.(1) Vitamin termasuk kelompok zat pengatur pertumbuhan dan pemeliharaan kehidupan. Tiap vitamin mempunyai tugas spesifik di dalam tubuh. Karena vitamin adalah zat organik maka vitamin dapat rusak karena penyimpanan dan pengolahan. Untuk bisa mendapatkan asupan vitamin tidaklah sulit, bisa dikatakan kebanyakan makanan yang kita konsumsi setiap hari telah mengandung vitamin hanya saja mungkin kita tidak menyadari besar kecilnya kandungan vitamin yang kita konsumsi setiap hari.(2) Istilah vitamin pertama kali digunakan pada tahun 1912 oleh Cashimir funk di polandia. Dalam upaya menemukan zat di dalam dedak beras yang mampu menyembuhkan penyakit beri-beri, ia menyimpulkan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh kekurangan suatu zat di dalam makanan sehari-hari. Zat ini dibutuhkan untuk hidup (vita) dan mengandung unsur nitrogen (amine), oleh sebab itu diberi nama vitamine. Penelitian selanjutnya membuktikan bahwa ada beberapa jenis vitamine yang ternyata tidak merupakan amine. Oleh sebab itu, istilah vitamine kemudian diubah menjadi vitamin. Vitamin adalah kofaktor dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini digunakan tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara normal. (2)

BAB II PEMBAHASAN II. 1 Pembagian Vitamin Vitamin terbagi dalam dua kelompok yaitu: 1. Vitamin larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K), 2. Vitamin larut dalam air (vitamin B dan C). Cara kerja vitamin yang larut dalam lemak dan yang larut dalam air berbeda, yaitu; vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan di dalam jaringan adiposa (lemak) dan di dalam hati. Vitamin ini kemudian akan dikeluarkan dan diedarkan ke seluruh tubuh saat dibutuhkan. Beberapa jenis vitamin hanya dapat disimpan beberapa hari saja di dalam tubuh, sedangkan jenis vitamin lain dapat bertahan hingga 6 bulan lamanya di dalam tubuh.(1,2,3) Vitamin yang larut dalam air berbeda dengan vitamin yang larut dalam lemak, jenis vitamin larut dalam air hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera dibuang tubuh bersama urin. Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan asupan vitamin larut air secara terus-menerus. Karakteristik umum yang membedakan vitamin larut dalam lemak dan larut dalam air yaitu(1,2)

Vitamin larut lemak 1. Larut dalam lemak dan pelarut lemak 2. Kelebihan konsumsi dari yang dibutuhkan disimpan dalam tubuh 3. Dikeluarkan dalam jumlah kecil melalui empedu 4. Gejala defesiensi berkembang lambat 5. Tidak selalu perlu ada dalam makanan sehari-hari 6. Mempunyai prekursor atau provitamin 7. Hanya mengandung unsurunsur carbon, hydrogen, dan oksigen 8. Diabsorbsi melalui sistem limfe 9. Hanya dibutuhkan oleh organisme kompleks

Vitamin larut air 1. Larut dalam air 2. Simpanan sebagai kelebihan kebutuhan sangat sedikit 3. Dikeluarkan melalui urin 4. Gejala defesiensi sering terjadi dengan cepat 5. Harus selalu ada dalam makanan sehari-hari 6. Umumnya tidak mempunyai prekursor 7. Diabsorbsi melalui vena porta 8. Dibutuhkan oleh organisme sederhana dan kompleks

II.2

Manfaat Vitamin Vitamin berperan dalam beberapa tahap reaksi metabolisme energi,

pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh, pada umumnya sebagai koenzim atau sebagai bagian dari enzim. Sebagian besar koenzim terdapat dalam apoenzim, yaitu vitamin yang terikat dengan protein. Hingga sekarang fungsi biokimia beberapa jenis vitamin belum diketahui dengan pasti. (1)

II. 3 Vitamin Larut dalam Lemak Setiap vitamin larut lemak A,D,E, dan K mempunyai peranan fisiologis tertentu di dalam tubuh. Sebagian besar vitamin larut lemak diabsorbsi bersama lipida lain. Absorbsi membutuhkan cairan empedu dan pankreas. Vitamin larut lemak di angkut ke hati melalui sistem limfe sebagai bagian dari lipoprotein., disimpan diberbagai jaringan tubuh dan biasanya tidak dikeluarkan melalui urin. (1)

II.3.1 Vitamin A (Retinol) Sebagian besar (kurang lebih 55%) vitamin A terkandung dalam beras, gandum dan sayur-sayuran dan sisanya terkandung dalam daging (kurang lebih 30%). Vitamin A dan provitamin A adalah zat yang larut dalam lemak, dan absorpsinya tergantung atas keberadaan lemak dan protein dalam makanan. Penyakit saluran cerna kronik atau sindrom malabsorpsi lemak dapat menyebabkan defisiensi vitamin A. (4) Vitamin A adalah suatu kristal alkohol berwarna kuning dan larut dalam lemak atau pelarut lemak. Dalam makanan vitamin A biasanya terdapat dalam

bentuk ester retinil, yaitu terikat pada asam lemak rantai panjang. Di dalam tubuh, vitamin A berfungsi dalam beberapa bentuk ikatan kimia aktif yaitu retinol (bentuk alkohol), retinal (aldehida), dan asam retinoat (bentuk asam). (1)

Gambar 1: Sumber Vitamin A (Dikutip dari kepustakaan 2) 2 Golongan = Vitamin A1 dan A2 Terpenting : Bentuk alkohol vit A1 = retinol Bentuk alkohol vit A2 = dehidroretinol Sumber-sumber : Vit A1 Vit A2 : telur, hati, minyak hati ikan laut. : minyak hati ikan air tawar

Provit A : - sayur hijau + kuning - buah kuning, jingga, merah - umbi2an merah - minyak kelapa sawit(5) Dalam keadaan normal, cadangan vitamin A dalam hati dapat bertahan hingga enam bulan. Bila tubuh mengalami kekurangan konsumsi vitamin A, asam retinoat diabsorbsi tanpa ada perubahan. Asam retinoat merupakan sebagian kecil vitamin A dalam darah yang aktif dalam deferensiasi sel dan pertumbuhan. Bila tubuh memerlukan, vitamin A dimobilisasi dari hati dalam bentuk retinol yang diangkut oleh Retinol Binding protein (RBP) yang disintesis di dalam hati.. pengambilan retinol oleh berbagai sel tubuh tergantung pada reseptor pada permukaan membran

yang spesifik untuk RBP. Retinol kemudian diangkut oleh membran sel untuk kemudian diikatkan pada Celluler Retinol Bonding Protein (CRBP) dan RBP kemudian dilepaskan. Didalam sel mata retinol berfungsi sebagai retinal dan di dalam sel epitel sebagai asam retinoat. (1)

II.3.1.1 Fungsi Vitamin A 1. Penglihatan Vitamin A berfungsi dalam penglihatan normal pada cahaya remang. Di dalam mata retinol, bentuk vitamin A yang di dapat dari darah, dioksidasi menjadi retinal. Retinal kemudian mengikat protein opsin dan membentuk pigmen visual merah-ungu (rodopsin). Rodopsin ada di dalam sel khusus di dalam retina mata yang dinamakan Rod. Bila cahaya mengenai retina, pigmen visual merah ungu ini berubah menjadi kuning dan retinal dipisahkan dari opsin. Pada saat itu terjadi rangsangan elektrokimia yang merambat sepanjang saraf mata ke otak yang menyebabkan terjadinya suatu bayangan visual. Selama proses ini, sebagian dari vitamin A dipisahkan dari protein dan diubah menjadi retinol. Sebagian besar retinol ini diubah menjadi retinal, yang kemudian mengikat opsin lagi untuk membentuk rodopsin. Sebagian kecil retinol hilang selama proses ini dan harus diganti retinol dalam darah. Jumlah retinol yang tersedia di dalam darah menentukan kecepatan pembentukan kembali rodopsin yang kemudian bertindak kembali sebagai bahan reseptor di dalam retina. Penglihatan dengan cahaya samar/buram baru bisa terjadi bila seluruh siklus ini selesai. Tanda pertama kekurangan vitamin A adalah rabun senja. Suplementasi vitamin A dapat memperbaiki penglihatan yang kurang bila itu disebabkan oleh kekurangan vitamin A. (1,6) 2. Diferensiasi Sel Perubahan sifat dan fungsi sel ini adalah salah satu karakteristik dari kekurangan vitamin A yang dapat terjadi pada setiap tahap perkembangan tubuh, seperti pada

tahap pembentukan sperma dan sel telur, pembuahan, pembentukan struktur dan organ tubuh, pertumbuhan dan perkembangan janin, masa bayi, anak-anak, dewasa dan masa tua. Sel-sel yang paling nyata berdeferensiasi adalah sel-sel epitel khusus, terutama sel-sel goblet, yaitu sel kelenjar yang mensintesis dan mengeluarkan mukus atau lendir. (1,6) Kekurangan vitamin A menghalangi fungsi sel-sel kelenjar yang mengeluarkan mukus dan digantikan oleh sel-sel epitel bersisik dan kering. Kulit menjadi kering dan kasar dan luka sukar sembuh. Membran mukosa tidak dapat mengeluarkan cairan mukosa dengan mudah sehingga mudah terserang bakteri. Keratinisasi konjungtiva mata merupakan salah satu tanda khas kekurangan vitamin A. (1,5) 3. Fungsi kekebalan Vitamin A berpengaruh terhadap fungsi kekebalan tubuh pada manusia dan hewan. Mekanisme sebenarnya belum diketahui secara pasti. Retinol tampaknya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan deferensiasi limfosit B. Disamping itu kekurangan vitamin A menurunkan respon antibodi yang bergantung pada sel-T. Sebaliknya infeksi dapat memperburuk kekurangan vitamin A. (1,6) 4. Pertumbuhan dan perkembangan Vitamin A dibutuhkan untuk perkembangan tulang dan epitel yang membentuk email dalam pertumbuhan gigi. Pada kekurangan vitamin A, pertumbuhan tulang terhambat dan bentuk tulang tidak normal. (1,6) 5. Fungsi reproduksi Kebutuhan vitamin A selama hamil meningkat untuk kebutuhan janin dan persiapan ibu untuk menyusui. (1,6)

II.3.1.2 Defisiensi Vitamin A Gejala paling sering dari defisiensi vitamin A terkait dengan keberadaan vitamin ini untuk pemeliharaan fungsi epitel. Pada usus halus, secara normal epitel mensekresi mukus yang berguna sebagai barrier terhadap zat-zat patogenik yang
7

dapat menyebabkan diare. Sama halnya pada traktus respiratorius , epitel (sel goblet) menghasilkan mukus yang melindungi epitel dari inhalasi zat-zat toksik. Defisiensi dari vitamin A ini, dapat menyebabkan perubahan pada epitel-epitel tersebut seperti proliferasi dari sel basal, hiperkeratosis, dan pembentukan epitel squamosa bertingkat yang kering dan bersisik yang pada akhirnya pada menurunkan fungsi epitel-epitel tersebut terhadap zat toksik sehingga mudah terserang penyakit. Perubahan epitel di kulit oleh karena defisiensi vitamin A dapat ditemukan kulit yang kering, bersisik, dan terdapat bercak-bercak hiperkeratosis pada daerah lengan, kaki, bahu, dan bokong.(4) Tanda spesifik yang paling sering terjadi dari defisiensi vitaminA adalah lesi pada mata. Lesi yang terjadi karena defisiensi vitamin A berkembang tiba-tiba dan jarang terjadi sebelum usia 2 tahun. Gejala awal adalah mata lambat beradaptasi terhadap keadaan yang gelap, dan apabila defisiensi vitamin A makin parah akan menyebabkan night blindness atau rabun senja oleh karena retina kehilangan pigmen visual yaitu rodopsin. Gejala lain adalah photophobia atau intoleransi visual yang abnormal terhadap cahaya.(4) Kornea melindungi mata dari lingkungan sekitar dan juga penting dalam refraksi cahaya. Pada awal defisiensi vitamin A, terjadi keratinisasi kornea menjadi putih (Bitot spots), kering, dan kornea menjadi seperti bersisik (xeropthalmia). Pada tahap akhir, dapat terjadi infeksi, infiltrasi limfosit, dan kornea menjadi keriput (keratomalasia) yang pada akhirnya dapat menyebabkan kebutaan.(4)

Gambar 2: Bitot spots dengan hiperpigmentasi oleh karena defisiensi vitamin A (Dikutip dari kepustakaan 4)
8

Gambar 3: Xeropthalmia yang berat terdapat lesi opaque dan kornea menjadi keruh. (Dikutip dari kepustakaan 4)

Gambaran klinik lainnya akibat defisiensi vitamin A adalah terganggunya pertumbuhan, mudah terserang infeksi, diare, anemia, apati, dan retardasi mental.(4)

II.3.1.3 Kelebihan Vitamin A Hipervitaminosis A kronik terjadi karena konsumsi vitamin A secara berlebihan selama beberapa minggu bahkan sampai beberapa bulan. Gejala akut dari intoksikasi vitamin A yaitu sakit kepala, muntah, nafsu makan menurun, kulit kering dan gatal, lesi kulit seboroik, sudut mulut menjadi kering, alopesia, abnormalitas tulang, pembengkakan tulang, pembesaran hati dan limpa, diplopia, dan peningkatan tekanan intracranial. Gambaran radiologi menunjukkan hiperostosis tulang panjang.

Gambar 4: Hiperostosis tulang ulna dan tibia pada anak usia 21 bulan, oleh karena hipervitaminosis A. (Dikutip dari kepustakaan 4) Angka Kecukupan Vitamin A yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis kelamin untuk indonesia (Sumber : Widyakarya Nasional pangan dan gizi,2004): Golongan Umur 0-6 bln 7-11 bln 1-3 thn 4-6 thn 7-9 thn AKA (RE) 375 400 400 450 500 Golongan Umur Pria 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn Wanita 10-12 thn 600 Hamil +300 600 600 600 600 600 600 600 AKA (RE)

10

13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn

600 600 500 500 500 500 Menyusui 0-12 bln +350

II.3.2 Vitamin D (Kalsiferol) Pada tahun 1918, E. Mellanby menunjukkan hubungan antara rachitis (rickets) atau penyakit Inggris dengan codliver oil. Steenbock dan A.F. Hess pada tahun 1924 menemukan zat anti rachitis yaitu vitamin D, vitamin yang dihubungkan dengan kesehatan tulang. Fungsi vitamin D adalah untuk perawatan tulang dan gigi, dengan membantu penyerapan kalsium dan fosfor sebagai unsur pembentuk struktur tulang tersebut. Seharusnya suplementasi vitamin D tidak diperlukan, karena selain diproduksi oleh tubuh dan diaktifkan oleh sinar matahari, vitamin ini juga bias didapatkan dari makanan. Namun, gaya hidup yang kurang terpapar sinar matahari dan diet lanjut usia dapat mengakibatkan defisiensi vitamin D dengan gejala gelisah, sulit tidur, dan risiko rapuh tulang (osteoporosis). Untuk perawatan tulang umumnya, dalam banyak kasus vitamin D diberikan bersama dengan kalsium.(7) Vitamin D banyak ditemukan pada minyak ikan minyak nabati, mentega dan susu yang difortifikasi vit.D (5,7).

11

Berikut adalah contoh sumber vitamin D:

Gambar 5: Sumber vitamin D dalam makanan sehari-hari. (dikutip dari kepustakaan 2)

II.3.2.1 Kekurangan Vitamin D Kekurangan vitamin D menyebabkan kelainan pada tulang yang dinamakan riketsia pada anak-anak dan osteomalasia pada orang dewasa. Kekurangan vitamin D pada orang dewasa juga dapat menyebabkan osteoporosis. (1) Riketsia terjadi bila pengerasan tulang pada anak-anak terhambat sehingga menjadi lembek. Kaki membengkok, ujung-ujung tulang panjang membesar (lutut dan pergelangan), tulang rusuk membengkok, pembesaran kepala karena penutupan fontanel terlambat, gigi terlambat keluar, bentuk gigi tidak teratur dan mudah rusak. Riketsia jarang dapat disembuhkan sepenuhnya. Sebelum ditemukan fortifikasi makanan dengan vitamin D, riketsia banyak terdapat di negara-negara dengan empat musim. (1) Osteomalasia adalah riketsia pada orang dewasa, biasanya terjadi pada wanita yang konsumsi kalsiumnya rendah, tidak banyak mendapat sinar matahari dan mengalami banyak kehamilan dan menyusui. Osteomalasia juga dapat terjadi pada mereka yang menderita penyakit saluran cerna, hati, kandung empedu atau ginjal.

12

Tulang menjadi lunak yang menyebabkan gangguan dalam bentuk tulang terutama pada kaki, tulang belakang, thoraks, dan pelvis. Gejala awalnya rasa sakit seperti rematik, lemah tulang , dan membengkok (bentuk X dan O) dan dapat menyebabkan fraktur. (1,2)

Gambar 6: Rachitis pada anak / tasbeh rachitis (Dikutip dari kepustakaan 4) II.3.2.2 Hipervitaminosis D Hipervitaminosis D terjadi karena intake yang berlebihan dari vitamin ini misalnya mengkonsumsi suplemen vitamin D , susu, ataupun minyak dapur. Batas yang dianjurkan dalam mengkonsumsi vitamin D yaitu 1000 IU untuk anak < 1 tahun dan 2000 IU untuk anak > 1 tahun dan orang dewasa.(4) Gejala dan tanda dari intoksikasi vitamin D adalah hiperkalsemia. Gejala traktus gastrointestinal seperti mual, muntah, kurang nafsu makan, konstipasi, nyeri abdomen, dan pankreatitis. Gejala sistem saraf pusat oleh karena hiperkalsemia dapat berupa letargi, hipotoni, bingung, disorientasi, depresi, dan halusinasi.(4)

13

II.3.3 Vitamin E (Tokoferol) Vitamin E agak tahan panas dan asam tetapi tidak tahan alkali, sinar ultraviolet dan oksigen. Vitamin E rusak bila bersentuhan dengan minyak tengik, timah dan besi. Vitamin E tidak hilang karena pemasakan dengan air sebab vitamin ini tidak larut air. Absorbsi vitamin E berkisar antara 20-80%. Vitamin E disimpan sebagian besar di jaringan lemak dan selebihnya di hati. (1) Sumber vitamin E adalah minyak tumbuh-tumbuhan, terutama minyak kecambah gandum dan biji-bijian. Minyak kelapa dan zaitun hanya sedikit mengandung vitamin E. Sayuran dan buah-buahan juga merupakan sumber vitamin E yang baik. Daging, unggas, ikan, dan kacang-kacangan mengandung vitamin E dalam jumlah terbatas. Vitamin E mudah rusak pada pemanasan (seperti terjadi pada proses penggorengan) dan oksidasi. Jadi sebagai sumber vitamin E diutamakan bahan makanan dalam bentuk segar atau yang tidak terlalu mengalami pemprosesan. Pembekuan dan penggorengan dalam minyak merusak sebagian besar vitamin E. (1)

Gambar 7: Sumber vitamin E dalam makanan sehari-hari (dikutip dari kepustakaan 2)

14

II.3.3.1 Fungsi vitamin E Sebagai antioksidan intraselular yang kuat, vitamin E melindungi limfosit dan monosit dari gangguan radikal bebas pada DNA, karena itu vitamin ini bermanfaat dalam memperlambat proses penuaan. Juga dikenal sebagai anti oksidan dengan efek protektif terhadap penyakit jantung dan perawatan kulit. Sebenarnya peranan vitamin E jauh lebih penting lagi, karena terlibat dalam total sistem imun, sehingga defisiensi vitamin E dapat menurunkan kemampuan daya tahan tubuh secara menyeluruh. Vitamin E meningkatkan reaksi hipersensitivitas lambat dari sistem imun, suatu respons imunologis untuk melawan kanker, parasit (cacing), dan infeksi kronis. Selain itu, sebagai anti oksidan vitamin E memberikan efek perlindungan terhadap vitamin A dari oksidasi di dalam saluran pencernaan. Dari penelitian para ahli terungkap bahwa untuk mencegah kanker, vitamin E alami sebagai senyawa dalfa tokoferol suksinat adalah yang terbaik dari pada bentuk vitamin E lainnya.(7)

II.3.3.2 Defisiensi vitamin E Gejala yang timbul dari defisiensi vitamin E adalah gangguan neurologik.. Manifestasi lain seperti ataksia ektremitas ( tremor, dysdiadochokinesia), disartria, optalmoplegia, nistagmus, penurunan reflex proprioseptif.(4) Angka Kecukupan Vitamin E yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis kelamin untuk indonesia (Sumber : Widyakarya Nasional pangan dan gizi,2004) : Golongan Umur 0-6 bln 7-11 bln 1-3 thn 4-6 thn 7-9 thn AKE (mg) 4 5 6 7 7 Golongan Umur Pria 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 11 15 15 15 15 AKE (mg)

15

50-64 thn 65 thn Wanita 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn 11 15 15 15 15 15 15 Menyusui 0-12 bln Hamil

15 15

+0

+4

II.3.4 Vitamin K (Quinone) Vitamin K cukup tahan terhadap panas. Vitamin ini tidak rusak oleh cara memasak biasa, termasuk memasak dengan air. Vitamin K tidak tahan terhadap alkali dan cahaya. Sebanyak 50-80% vitamin K dalam usus halus diabsorbsi dengan bantuan empedu dan cairan pankreas. Setelah diabsorbsi di dalam usus halus bagian atas, vitamin K dikaitkan dengan kilomikron untuk diangkut melalui sistem limfe ke hati. Hati merupakan tempat simpanan vitamin K utama di dalam tubuh. Dari hati vitamin K diangkut terutama oleh Very-Low Density Lipoprotein (VLDL) di dalam plasma oleh sel-sel tubuh. Vitamin K terutama dihubungkan dengan membran sel yaitu dengan retikulum endoplasma dan mitokondria. Tahap vitamin K dalam serum meningkat pada hiperlipidemia, terutama pada trigliseridemia. Hal-hal yang menghambat absorbsi lemak akan menurunkan absorbsi vitamin K. (1) Vitamin K ditemukan pada tahun 1935 oleh Dam, dihubungkan dengan proses pembekuan darah untuk menghentikan pendarahan pada waktu terjadi luka. Proses tersebut merupakan salah satu pertahanan tubuh menghadapi infeksi, dengan membentuk trombin yang akan menutup luka dengan pembekuan darah. Vitamin K membantu terbentuknya senyawasenyawa pembeku darah yang disebut sebagai

16

protrombin untuk menjadi trombin. Fungsi lain dari vitamin K adalah membantu mengaktifkan osteokalsin, protein pembangun tulang, untuk menjaga tulang dari kerapuhan (osteoporosis) yang terjadi pada usia tua. Namun, penggunaan vitamin K sebagai suplemen hanya digunakan dengan pengawasan dokter. Tubuh cukup mempunyai persediaan vitamin K, misalnya vitamin K1 atau phylloquinone dari makanan, dan vitamin K2 atau menaquinone yang diproduksi oleh bakteri usus. Ada pula vitamin K3 atau menadione, vitamin K sintetis.(7)

II.3.4.1 Sumber vitamin K Sumber utama vitamin K adalah hati, sayuran daun berwarna hijau, kacang buncis, kacang polong, kol dan brokoli. Bahan makanan lain yang mengandung vitamin K dalam jumlah kecil adalah susu, daging, telur, serealia, buah-buahan, dan sayuran lain. Sumber vitamin K yang lain adalah flora bakteri dalam usus halus. Air susu ibu (ASI) tidak banyak mengandung vitamin K, sedangkan bakteri yang dapat mensintesis vitamin K tidak segera tersedia di dalam saluran cerna bayi. Untuk mencegah terjadinya gangguan penggumpalan darah yang dapat menyebabkan perdarahan, bayi baru lahir dianjurkan mendapat vitamin K melalui mulut atau dalam bentuk injeksi intramuskular. Susu formula bayi sebaiknya difortifikasi dengan vitamin K. (1)

Gambar 8: Sumber vitamin K (dikutip dari kepustakaan 2)


17

II.3.4.2 Defisiensi vitamin K Defisiensi vitamin K dapat menyebabkan perdarahan biasa juga dikenal dengan istilah VKDB (Vitamin K-Deficiency Bleeding). Pada awal VKDB, hal yang paling sering terjadi adalah perdarahan traktus gastrointestinal, mukosa dan jaringan kutaneus, perdarahan setelah sirkumsisi, dan jarang terjadi perdarahan intrakranial. Jika terjadi perdarahan intrakranial dapat menyebabkan gangguan konvulsi, kelainan neurologik permanen sampai kematian.(4)

Angka Kecukupan vitamin K yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis kelamin untuk indonesia (Sumber : Widyakarya Nasional pangan dan gizi,2004) : Golongan Umur 0-6 bln 7-11 bln 1-3 thn 4-6 thn 7-9 thn AKK (g) 5 10 15 20 25 Golongan Umur Pria 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn Wanita 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 35 55 55 55 Menyusui 0-12 bln +0 Hamil +0 35 55 55 65 65 65 65 AKK (g)

18

30-49 thn 50-64 thn 65 thn

55 55 55

II.4 Vitamin Larut dalam Air Sebagian besar vitamin larut air merupakan komponen sistem enzim yang banyak terlibat dalam membantu metabolisme energi. Vitamin larut air biasanya tidak disimpan di dalam tubuh dan dikeluarkan melalui urin dalam jumlah kecil. Oleh sebab itu vitamin larut air perlu dikonsumsi tiap hari untuk mencegah kekurangan yang dapat menganggu fungsi tubuh normal.Vitamin larut air dikelompokkan menjadi vitamin C dan vitamin B-kompleks. (1)

II.4.1 Vitamin C (Asam Askorbat) Vitamin C tidak diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga sangat penting untuk mendapatkan asupan vitamin C dari makanan sehari-hari yang kita konsumsi. Karena sifatnya yang larut air, maka vitamin C yang tidak digunakan oleh tubuh akan dibuang melalui urin dan tidak disimpan dalam tubuh. Untuk itulah, kita membutuhkan asupan vitamin C secara seimbang dan terus-menerus melalui asupan makanan yang mengandung vitamin C. (2) Dalam keadaan kering vitamin C cukup stabil, tetapi dalam keadaan larut, vitamin C mudah rusak karena bersentuhan dengan udara (oksidasi) terutama bila terkena panas. Oksidasi dipercepat dengan kehadiran tembaga dan besi. Vitamin C tidak stabil dalam larutan alkali, tetap cukup stabil dalam larutan asam. (1) Vitamin C pada umumnya hanya terdapat di dalam pangan nabati, yaitu sayur dan buah-buahan terutama yang asam seperti jeruk, nenas, rambutan, pepaya, gandaria, dan tomat, vitamin C juga terdapat di dalam sayuran daun-daunan dan jenis kol. (1)

19

Gambar 9: Sumber vitamin C (Dikutip dari kepustakaan 2)

II.4.1.1 Fungsi vitamin C Vitamin C (asam askorbat) banyak memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Di dalam tubuh, vitamin C juga berperan sebagai senyawa pembentuk kolagen yang merupakan protein penting penyusun jaringan kulit, sendi, tulang, dan jaringan penyokong lainnya. Vitamin C juga berperan dalam proses perbaikan luka pada tulang rawan, gigi dan gusi, selain itu vitamin C juga merupakan senyawa antioksidan alami yang dapat menangkal berbagai radikal bebas dari polusi di sekitar lingkungan. Terkait dengan sifatnya yang mampu menangkal radikal bebas, vitamin C dapat membantu menurunkan laju mutasi dalam tubuh sehingga risiko timbulnya berbagai penyakit degenaratif, seperti kanker, dapat diturunkan. Selain itu, vitamin C berperan dalam menjaga bentuk dan struktur dari berbagai jaringan di dalam tubuh, seperti otot. Vitamin ini juga berperan dalam penutupan luka saat terjadi pendarahan dan memberikan perlindungan lebih dari infeksi mikroorganisme patogen. Melalui mekanisme inilah vitamin C berperan dalam menjaga kebugaran tubuh dan membantu mencegah berbagai jenis penyakit. (1)

20

II.4.1.2 Defisiensi vitamin C Manifestasi klinis akibat defisiensi vitamin C adalah iritabilitas dan kehilangan nafsu makan. Gejala dan tanda diikuti dengan pembengkakan ektremitas biasanya pada lutut dan tumit serta pseudoparalisis. Tasbeh pada daerah costokondral junction dan depresi sternum adalah bentuk lain akibat defisiensi vitamin ini. Tandatanda awal skorbut antara lain lelah, lemah, napas pendek, kejang otot, tulang otot dan persendian sakit, kurang nafsu makan, kulit menjadi kering, kasar dan gatal, warna merah kebiruan dibawah kulit, perdarahan gusi, mulut dan mata kering serta rambut rontok. Sudut tasbeh pada skorbut biasanya lebih tajam dibandingkan dengan rachitis.(4)

Gambar 10: Tasbeh pada skorbut (dikutip dari kepustakaan 4) Gangguan saraf dapat terjadi berupa histeria, depresi diikuti oleh gangguan psikomotor. Gejala skorbut akan terlihat bila kadar asam askorbat dalam serum turun dibawah 0,20 mg/dl. Kelebihan vitamin C berasal dari makanan tidak menimbulkan gejala. Konsumsi vitamin C berupa suplemen secara berlebihan tiap hari dapat menimbulkan hiperoksaluria dan resiko lebih tinggi terhadap batu ginjal. (1,2)

Angka Kecukupan Vitamin C yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis kelamin untuk indonesia (Sumber : Widyakarya Nasional pangan dan gizi,2004) :
21

Golongan Umur 0-6 bln 7-11 bln 1-3 thn 4-6 thn 7-9 thn

AKC (mg) 40 40 40 45 45

Golongan Umur Pria 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn

AKC (mg)

50 75 90 90 90 90 90

Wanita 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn 50 65 90 90 90 90 90 Menyusui 0-12 bln +25 Hamil +10

II.4.1.3 Kelebihan vitamin C Intake yang berlebihan dari vitamin C dapat menyebabkan nyeri epigastrium dan diare osmotik. Dosis besar dari vitamin C harus dihindarkan pada pasien yang mempunyai riwayat urolithiasis atau kondisi yang terkait dengan akumulasi besi yang berlebihan seperti thalasemia dan hemokromatosis.(4)

II.4.2 Vitamin B1 (Tiamin) Tiamin dalam bentuk koenzim Tiamin Pirofosfat (TPP) memegang peranan esensial dalam transformasi energy, konduksi membran dan saraf serta dalam sintesis

22

pentosa dan bentuk koenzim tereduksi dari niasin. Tiamin diabsorbsi secara reaktif terutama di duodenum bagian atas yang bersuasana asam. Dengan bantuan ATPase yang bergantung pada natrium. Tiamin yang dikonsumsi melebihi 5mg/hari sebagian akan diabsorbsi secara pasif. Absorbsi aktif dihambat oleh alkohol. Setelah diabsorbsi, kurang lebih 30 mg tiamin mengalami fosforilasi dan disimpan sebagai tiamin pirofosfat di dalam jantung, otak, hati , dan jaringan otot. (1,2) Tiamin merupakan kristal putih kekuningan yang larut dalam air. Dalam keadaan kering vitamin B1 cukup stabil. Didalam keadaan larut vitamin B1 hanya tahan panas bila berada dalam keadaan asam. Dalam suasana alkali vitamin b1 mudah rusak oleh panas atau oksidasi. (8) Sumber utama tiamin di dalam makanan adalah sereal tumbuk/setengah giling atau yang difortifikasi dengan tiamin.Di Indonesia serelia yang dimakan sebagai makanan pokok adalah beras. Sumber vitamin lainnya adalah kacang-kacangan, termasuk sayur ,semua jenis daging, dan kuning telur. Unggas dan ikan juga merupakan sumber tiamin yang baik.(8)

Gambar 11: Bahan makanan yang merupakan sumber vitamin B1 (Dikutip dari kepustakaan 2)

II.4.2.1 Akibat kekurangan tiamin Gejala awal berupa kelemahan, mudah tersinggung, gangguan daya ingat, kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, rasa tidak enak perut dan penurunan berat
23

badan. Pada akhirnya bisa terjadi kekurangan vitamin B1 yang berat (beri-beri), yang ditandai dengan kelainan saraf, otak dan jantung, yaitu beri-beri basah dan kering. Beri-beri basah ditandai oleh sesak napas dan edema setelah mengalami rasa lelah berkepanjangan. Tanda-tanda ini menunjukkan kegagalan jantung. Beri-beri kering ditandai oleh kelemahan otot luar biasa dan degenerasi saraf perifer yang dapat berlanjut dengan kelumpuhan kaki. (1,8) Angka Kecukupan vitamin B1 tiamin yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis kelamin untuk indonesia (Sumber : Widyakarya Nasional pangan dan gizi,2004) : Golongan Umur 0-6 bln 7-11 bln 1-3 thn 4-6 thn 7-9 thn AKT (g) 0,3 0,4 0,5 0,8 0,9 Golongan Umur Pria 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn 1,0 1,2 1,3 1,2 1,2 1,2 1,0 AKT (g)

Wanita 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn 1,0 1,1 1,1 1,0 1,0 1,0 1,0 Menyusui 0-12 bln +0,3 Hamil +0,3

24

II.4.3 Vitamin B2 (Riboflavin) Ribovlafin terutama berfungsi sebagai komponen koenzim Flavin Adenin Dinukleotida (FAD) dan Flavin Adenin mononukleotida (FMN). flavoprotein terlibat dalam reaksi oksidasi-reduksi Kedua enzim

berbagai jalur metabolisme

energi dan mempengaruhi respirasi sel. Riboflavin larut air, tahan panas, oksidasi dan asam, tetapi tidak tahan alkali dan cahaya terutama sinar ultraviolet. Dalam proses pemasakan tidak banyak yang rusak. Berfungsi melindungi tubuh dari penyakit kanker, mencegah migren serta katarak. Sumber vitamin B2 adalah ragi kering, daging, hati, ginjal, ikan, lemak, kacang-kacangan, beras tumbuk. (1)

Gambar 12: Bahan makanan yang merupakan sumber vitamin B2 (dikutip dari kepustakaan 2)

Angka Kecukupan vitamin B2 (Riboflavin) yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis kelamin untuk indonesia (Sumber : Widyakarya Nasional pangan dan gizi,2004) : Golongan Umur 0-6 bln 7-11 bln 1-3 thn 4-6 thn 7-9 thn AKR (mg) 0,3 0,4 0,5 0,6 0,9 Golongan Umur Pria 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 1,0 1,2 1,3 1,3 AKR (mg)

25

30-49 thn 50-64 thn 65 thn Wanita 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn 1,0 1,0 1,0 1,1 1,1 1,1 1,1 Menyusui 0-12 bln Hamil

1,3 1,3 1,3

+0,3

+0,4

II.4.4 Vitamin B3 (Niasin) Niasin adalah istilah umum untuk asam nikotinat dan turunan alamianya nikotinamida. Niasin berfungsi sebagai komponen koenzim Nikotinamida Adenin Dinukleotida (NAD) dan Nikotinamida Adenin Dinukliotida Fosfat (NADP), yang berada di semua sel dan berperan sebagai faktor berbagai oksireduktase yang terlibat dalam glikolis, metabolisme asam lemak, pernapasan jaringan dan detoksifikasi. (1) Niasin bermanfaat di dalam tubuh sebagai bagian koenzim NAD & NADP. Koenzim ini diperlukan dalam reaksi oksidasi reduksi pada glikolisis, metabolisme protein, asam lemak, pernapasan sel dan detoksifikasi, dimana perannya adalah melepas dan menerima atom hidrogen. NAD juga berfungsi dalam sintesis glikogen.(1) Sumber makanan yang mengandung vitamin B3 adalah daging unggas (ayam/itik), ikan, roti, sereal, jamur, asparagus, dan sayuran hijau. Angka Kecukupan Vitamin B3 (Niasin) yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis kelamin untuk indonesia (Sumber : Widyakarya Nasional pangan dan gizi,2004) :

26

Golongan Umur 0-6 bln 7-11 bln 1-3 thn 4-6 thn 7-9 thn

AKN (mg) 2 4 6 8 10

Golongan Umur Pria 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn

AKN (mg)

12 14 16 16 16 16 16

Wanita 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn 12 13 14 14 14 14 14 Menyusui 0-12 bln +3 Hamil +4

II.4.5 Vitamin B5 (Asam pantotenat) Membantu sistem saraf dan metabolisme, mengurangi alergi, kelelahan dan migren. Penting bagi aktifitas kelenjar adrenal, terutama dalam proses pembentukan hormon. Sumber vitamin B3: daging, susu, sayur hijau, ginjal, hati, dan kacang hijau.
(1,2)

27

II.4.6 Vitamin B6 (Piridoksin) Makanan yang mengandung vitamin B6 adalah kacang-kacangan, jagung, beras, hati, ikan, beras tumbuk, ragi, daging, pisan, dan kentang. Piridoksin di dalam bahan makanan protein hewani lebih mudah di absorbsi daripada yang terdapat di dalam bahan makanan nabati. (1,2)

Gambar 13: Bahan makanan yang merupakan sumber vitamin B6 (dikutip dari kepustakaan 2)

II.4.7 Vitamin B7 (Biotin) Bermanfaat dalam proses pelepasan energi dari karbohidrat, pembentukan kuku serta rambut. Biotin terdapat dalam banyak jenis makanan dan di dalam tubuh dapat disintesis oleh bakteri saluran cerna. Sumber yang baik adalah Kuning telur, hati, beras kasar,telur , ragi sarden, kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran dan buahbuahan tertentu (jamur,pisang,jeruk,semangka dan stroberi). (8)

II.4.8 Vitamin B9 (Asam Folat) Berfungsi untuk membantu perkembangan janin, pengobatan anemia dan pembentukan hemoglobin. Sumber Vitamin B9 ialah sayur-sayuran berdaun hijau tua, daging, sayuran akar, tiram, salmon, susu, serelia utuh, biji-bijian, kacangkacangan dan telur. (1,8) Akibat kekurangan folat menyebabkan gangguan metabolisme DNA. Akibatnya terjadi perubahan dalam morfologi inti sel terutama sel-sel yang sangat
28

cepat membelah, seperti sel darah merah, sel darah putih serta sel-sel epitel lambung, usus, vagina, dan serviks rahim. Kekurangan folat menyebabkan anemia megaloblastik dan gangguan darah lain, peradangan lidah dan gangguan saluran cerna. (1,8) Angka Kecukupan Vitamin B9 (Asam Folat) yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis kelamin untuk indonesia (Sumber : Widyakarya Nasional pangan dan gizi,2004) : Golongan Umur 0-6 bln 7-11 bln 1-3 thn 4-6 thn 7-9 thn AKF (g) 65 80 150 200 200 Golongan Umur Pria 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn Wanita 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn 300 400 400 400 400 400 400 Menyusui 0-12 bln +100 Hamil +200 300 400 400 400 400 400 400 AKF (g)

29

II.4.9 Vitamin B12 (Kobalamin) Kobalamin adalah kristal merah yang larut air.. Pada masakan kurang lebih 70% dapat dipertahankan. Sianokobalamin adalah bentuk paling stabil dan karena itu diproduksi secara komersial dari fermentasi bakteri.(8) Kobalamin bermanfaat membantu merawat sistem saaraf dan pembentukan sel darah merah. Sumber vitamin B12 : hati, ikan, susu dan olahannya, daging, telur dan rumput laut(8)

Angka Kecukupan Vitamin B12 (Cobalamin) yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis kelamin untuk indonesia (Sumber : Widyakarya Nasional pangan dan gizi,2004) : Golongan Umur 0-6 bln 7-11 bln 1-3 thn 4-6 thn 7-9 thn AKB12 (mcg) 0,4 0,5 0,9 1.2 1,5 Golongan Umur Pria 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 1,8 2,4 2,4 2,4 AKB12 (mcg)

30

30-49 thn 50-64 thn 65 thn Wanita 10-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 19-29 thn 30-49 thn 50-64 thn 65 thn 1,8 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 Menyusui 0-12 bln Hamil

2,4 2,4 2,4

+0,2

+0,4

31

BAB III PENUTUP

Kontribusi suatu jenis makanan terhadap kandungan vitamin makanan seharihari bergantung pada jumlah vitamin yang semula terdapat dalam makanan tersebut, jumlah yang rusak pada saat panen atau penyembelihan, penyimpanan, pemprosesan, dan pemasakan. Pada saat panen dan penyimpanan sejumlah vitamin akan hilang, bergantung pada suhu, penyingkapan terhadap udara dan matahari, serta lama penyimpanan. Semakin tinggi suhu, semakin lama tersingkap terhadap udara dan matahari, semakin lama disimpan akan makin banyak vitamin yang hilang. (1) Pada saat pemprosesan dan pemasakan banyak vitamin hilang bila menggunakan suhu tinggi, air perebus dibuang, permukaan makanan bersentuhan dengan udara dan menggunakan alkali. Vitamin yang terpengaruh dalam hal ini adalah yang rusak oleh panas, oksidase, atau yang larut dalam air. (1) Kehilangan vitamin dalam pemasakan dapat dicegah dengan cara : (1) a) Menggunakan suhu tidak terlalu tinggi b) Waktu memasak tidak terlalu lama c) Menggunakan air pemasak sesedikit mungkin d) Memotong dengan pisau tajam menjadi potongan tidak terlalu halus e) Panci memasak ditutup f) Tidak menggunakan alkali dalam pemasakan g) Sisa air perebus digunakan untuk masakan lain. Vitamin larut dalam lemak tidak banyak hilang pada saat proses pemasakan, kehilangan terjadi karena proses oksidasi.Dalam hal sayuran sebaiknya sebagian dimakan dalam bentuk segar dan mentah. (2)

32