Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN KUNJUNGAN KERJA KOMISI I DPR RI DALAM RESES MASA PERSIDANGAN I TAHUN SIDANG 2005 2006 KE PROVINSI MALUKU

U UTARA TANGGAL 12 15 OKTOBER 2005 Sesuai dengan Surat Keputusan Pimpinan DPR RI Nomor : /PIMP/IV/2005-2006 tanggal 2005 tentang Penugasan kepada Anggota Komisi I s/d Komisi XI dan Badan Legislasi DPR RI untuk melakukan Kunjungan Kerja berkelompok dalam Reses Masa Persidangan I Tahun Sidang 2005 2006, maka Komisi I DPR RI telah melaksanakan Kunjungan Kerja ke Provinsi Maluku Utara pada tanggal 12 s/d 15 Juli 2005 dengan komposisi keanggotaan terdiri dari 12 (duabelas) orang Anggota Komisi I dan didukung oleh : 2 (dua) orang Sekretariat Komisi I, 1 (satu) orang staf Pemberitaan DPR RI, Penghubung Dephan, Penghubung Kominfo, Kameramen/Reporter TVRI dan RRI. Kunjungan Kerja Komisi I DPR RI ke Provinsi Maluku Utara dilaksanakan dalam rangka mengetahui secara langsung situasi dan kondisi Provinsi Maluku Utara yang secara geografis memiliki pulau-pulau terluar yang berbatasan dengan negara tetangga, seperti Philipina, Palau, Australia dan Timor Leste. Dalam kunjungan ke Provinsi Maluku Utara, Tim juga melakukan kunjungan ke Kabupaten Halmahera Utara yaitu mengunjungi Pangkalan TNI - Angkatan Udara di Morotai yang secara histories memiliki nilai sejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu sebagai pangkalan utama Armada Asia Pasifik tentara Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II dan merupakan kapal induk raksasa yang permanen. Dari hasil kunjungan kerja Komisi I DPR RI ke Provinsi Maluku Utara beberapa permasalahan, yang dilaporkan Tim, antara lain : 1. Kondisi geografis Provinsi Maluku Utara yang terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil sangat rentan terhadap kerawanan ketahanan wilayah pada tiap-tiap pulau yang ada. Terjadinya Illegal Fishing, Illegal Logging dan Illegal Entry yang disebabkan karena perairan di Maluku Utara sangat terbuka dengan luas wilayah perairan 76,27 %. Wilayah ini juga merupakan daerah perbatasan/territori terluar, sehingga banyak terdapat pelanggaran hukum laut yang dilakukan oleh kapal-kapal asing yang sebagian besar berbendera Negara Philipina. 1

2. 3.

Morotai Utara yang merupakan daerah perbatasan rawan terhadap lalu lintas imigran dari Negara Philipina, terutama para nelayan. Adanya kegiatan/operasi illegal yang dilakukan oleh Warga Negara Amerika dan Australia di Pulau Tahuna yang merupakan daerah penghasil minyak dan emas yang cukup besar, yaitu dengan memberikan pendidikan kepada masyarakat setempat. Disamping itu juga dilaporkan adanya warga negara asing (Amerika) yang telah mendiami pulau terluar Indonesia secara illegal dan telah berlangsung lama melakukan kegiatan penelitian di pulau tersebut. Hal ini telah dilaporkan kepihak Imigrasi oleh petugas intelijen, namum belum ditindaklanjuti. Hal ini apabila ditinjau dari aspek pertahanan dan keamanan sangat rentan terhadap disintegrasi bangsa. Peristiwa penembakan terhadap nelayan Indonesia oleh nelayan Philipina merupakan peristiwa yang sering terjadi. Disamping itu terjadi peristiwa pengejaran terhadap kapal Taiwan oleh Kapolsek beserta 4 orang anak buahnya dengan menggunakan kapal speed, yang hingga saat ini kapal speed beserta keempat anak buah Kapolsek tersebut belum ditemukan, sementara mayat Kapolsek ditemukan di Pulau Seram/Pulau Buru. Banyaknya pulau-pulau kecil di wilayah Provinsi Maluku Utara yang belum memiliki nama. Hal ini sangat rentan terhadap invasi negara tetangga yang ingin menguasai pulau-pulau tersebut. Tingginya tingkat pengangguran di Provinsi Maluku Utara. Sejalan dengan perkembangan situasi pasca konflik, masih banyak perusahaan/ investor asing belum kembali ke Provinsi Maluku Utara. Hal ini memberikan dampak bagi perluasan lapangan kerja yang ada.

4.

5.

6.

Disamping permasalahan-permasalahan di atas, berkenaan dengan Ruang Lingkup dan Tugas Komisi I DPR RI dibidang Pertahanan, Luar Negeri dan Komunikasi dan Informasi, beberapa permasalahan yang berkaitan dengan ketiga bidang di atas yang dapat dilaporkan antara lain : I. BIDANG PERTAHANAN 1. Kondisi Alutsista TNI, baik darat, laut maupun udara dilihat dari segi kualitas maupun kuantitas masih jauh dari yang diharapkan, yaitu : a. Pengamanan wilayah laut - belum didukung oleh Kapal Patroli/KRI yang siap tempur, sehingga hampir 1,5 tahun tidak melaksanakan patroli-patroli keamanan laut terbatas disekitar perairan Maluku Utara. Namun senantiasa melaksanakan komunikasi dengan KRI-KRI yang melaksanakan operasi wilayah timur.

- belum tersedianya fasilitas labuh dermaga bagi unsure KRI, KAL dan kapal hasil tangkapan, sehingga KRI/KAL yang beroperasi di daerah Maluku Utara terpaksa menggunakan dermaga pelabuhan umum untuk melaksanakan perbaikan maupun bekal ulang. - Dalam upaya penanganan hukum terhadap pelanggaran hukum dilaut, belum didukung oleh alokasi dana penjagaan dan transportasi serta pemeliharaan kapal-kapal tangkapan dan fasilitas ruang tahanan. b. Pengamanan wilayah darat - Keterbatasan sarana komunikasi, sehingga sulit untuk mendukung pengiriman berita dan informasi dari pulau-pulau kecil lainnya. - Keterbatasan saran transportasi, terutama sarana transportasi laut c. Pengamanan wilayah udara - belum didukung oleh sarana radar sebagai early warning system dalam mendeteksi dini terhadap kerawanan intersep musuh dari luar. - belum didukung oleh peralatan SAR (darat, laut dan udara) - Alkomsus dan telekomunikasi kurang memadai / sering terjadi kerusakan/gangguan - kelengkapan operasi penerbangan minim, sehingga pesawat tempur (F-16, F-5, Hawk 100/200) belum dapat melakukan take off/landing. 2. Kekuatan personil apabila dihadapkan pada tantangan tugas, maka kekuatan, kemampuan dan gelar pasukan pada saat ini masih perlu ditata kembali. Keadaan geografis Provinsi Maluku Utara yang terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil akan dapat menghambat manure satuan operasional dalam mengeliminir perkembangan situasi yang ada. Minimnya dukungan anggaran operasional TNI, baik darat, laut maupun udara khususnya dalam pengamanan wilayah perbatasan. Kesejahteraan prajurit, baik yang menyangkut biaya hidup maupun sarana perumahan/asrama masih jauh dari yang diharapkan, khususnya yang bertugas di Provinsi Maluku Utara dan wilayah perbatasan, apabila dihadapkan dengan biaya hidup ( living cost) di Provinsi Maluku Utara dan wilayah perbatasan yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan wilayah lainnya. (Saat ini dana yang diterima oleh prajurit yang bertugas di wilayah Provinsi Maluku Utara yaitu : ULP Rp..15.500/hari, Uang saku Rp.6.000/hari dan dana taktis Rp.2.000,-/hari, sedangkan untuk prajurit yang bertugas di Lanud Morotai mendapatkan tambahan tunjangan daerah

3. 4.

terpencil dengan rincian : untuk PA Rp.125.000,-, untuk BA Rp.100.000,- dan untuk TA Rp.75.000,-. Untuk prajurit TNI-AD yang bertugas di Morotai belum mendapatkan tambahan tunjangan daerah terpencil). 5. Kondisi pos-pos pengamanan di wilayah perbatasan masih memprihatinkan, karena belum didukung oleh alutsista yang memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas serta sarana tinggal/bangunan bagi para prajurit yang bertugas di pos-pos tersebut. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pengamanan informasi rahasia negara, saat ini di Provinsi Maluku Utara telah tergelar perangkat persandian di Unit Teknis Persandian (UTP), bahkan sampai di tingkat kabupaten. Namun sampai saat ini pemanfaatannya belum optimal. Hal ini disebabkan kurangnya sarana dan prasarana dari beberapa UTP yang ada di Provinsi Maluku Utara.

6.

Dalam Kunjungan Kerja Komisi I DPR RI ke Provinsi Sulawesi Utara yang salah satu acaranya adalah kunjungan ke Lanud Morotai, dapat dilaporkan kondisi Lanud Morotai saat ini, yaitu secara histories Lanud Morotai memiliki nilai sejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu sebagai pangkalan utama Armada Asia Pasifik tentara Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II dan merupakan kapal induk raksasa yang permanen. Lanud Morotai memiliki 7 landasan pacu, namun baru 1 landasan yang telah direnovasi dengan panjang 2.400 m dan lebar 30 m, dilengkapi dengan taxi way dan apron yang memadai bagi operasi penerbangan dan aman untuk take off dan landing pesawat berbadan lebar sejenis Boeing 737, tetapi untuk pesawat tempur (F-16, F-5, Hawk 100/200) belum dapat melakukan take-off/landing, karena kelengkapan operasi penerbangan untuk pesawat tempur belum memadai/minim. Lanud Morotai sebagai pangkalan udara wilayah terdepan Indonesia saat ini belum dilengkapi oleh Radar sebagai early warning system dalam pendeteksi dini terhadap upayaupaya pihak asing yang dapat mengganggu integritas wilayah RI. II. BIDANG LUAR NEGERI Dari aspek luar negeri, di Wilayah Provinsi Maluku Utara telah terjadi kunjungan Menteri Luar Negeri Timor Leste ke Pulau Kisar pada tanggal 27 Agustus 2005 yang tidak melalui prosedur (tidak dikoordinasikan oleh Pihak Departemen Luar Negeri). Peristiwa ini dapat berdampak buruk terhadap aspek pertahanan dan keamanan.

III.

BIDANG KOMUNIKASI DAN INFORMASI 2. Minimnya dukungan sarana dan prasarana bagi TVRI dan RRI di Provinsi Maluku Utara. Disamping itu dukungan anggaran untuk operasional belum dapat memenuhi kebutuhan anggaran yang diperlukan, sehingga baik TVRI maupun RRI menghadapi kendala dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Disamping itu juga dilaporkan adanya keterlambatan pengiriman dana operasional untuk TVRI dari kantor pusat, sehingga memberikan dampak terhadap pelaksanaan program kegiatan. 2. Kesejahteraan karyawan, baik yang menyangkut biaya hidup maupun sarana perumahan masih jauh dari yang diharapkan, apabila dihadapkan dengan biaya hidup ( living cost) di Provinsi Maluku Utara dan wilayah perbatasan yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan wilayah lainnya. Untuk TVRI Stasiun Ternate mengalami kendala, yaitu adanya keterlambatan pengiriman dana operasional dan uang makan untuk karyawan.

Dari hasil laporan kunjungan kerja Komisi I DPR RI ke Provinsi Maluku Utara, Tim menyampaikan beberapa saran dan rekomendasi sebagai berikut : 1. Dalam rangka meningkatkan upaya mempertahankan wilayah NKRI dan mencegah disintegrasi bangsa, maka perlu dilakukan percepatan pembangunan di wilayah terdepan, khususnya pembangunan perekonomian, mengingat kawasan perbatasan mempunyai potensi yang besar untuk dapat dikembangkan, baik potensi sumber daya alam maupun potensi di bidang perdagangan, wisata dan jasa serta untuk menghindari adanya kesenjangan ekonomi antara wilayah terdepan Indonesia dengan negara tetangga. Dalam hubungan ini Pemerintah perlu mempercepat pelaksanaan pembangunan secara terpadu di wilayah terdepan Indonesia, agar nilai tambah ekonomis dan kualitas hidup rakyat di wilayah terdepan Indonesia dapat meningkat. 2. Dalam pengamanan terhadap wilayah timur dan Indonesia, perlu dilakukan upaya-upaya, antara lain : wilayah terdepan

a. Perlunya peningkatan kualitas dan kuantitas alutsista, Personil, serta dukungan anggaran operasional, baik darat, laut maupun udara bagi pengamanan wilayah Indonesia, khususnya wilayah terdepan dalam upaya mencegah terjadinya invasi pihak asing kedalam wilayah Indonesia. b. Perlunya penambahan pembangunan pos-pos penjagaan diwilayah terdepan Indonesia, baik darat maupun laut, dengan dilengkapi dukungan anggaran operasional, personil, sarana dan prasarana serta alutsista yang memadai.

c. Pos-pos perbatasan di wilayah terdepan Indonesia yang telah ada perlu ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya, termasuk jumlah personil yang ditugaskan, anggaran operasional, sarana dan prasarana serta alutsista. d. Kesejahteraan prajurit yang ditempatkan di wilayah timur Indonesia, khususnya untuk tunjangan kemahalan perlu ditingkatkan, mengingat biaya hidup (living cost) di wilayah Timur Indonesia lebih mahal dari wilayah lainnya. Disamping itu untuk prajurit yang ditempatkan di wilayah terdepan Indonesia, untuk tunjangan daerah terpencil juga perlu ditingkatkan pula. Hal ini dapat memberikan nilai tambah bagi kehidupan mereka dalam mengemban tugas pengamanan wilayah NKRI, khususnya wilayah terdepan Indonesia. 3. Perlu dilakukan koordinasi antara aparat intelijen, keamanan dan Direktorat Imigrasi terhadap warga negara asing yang melakukan aktivitas illegal di pulau-pulau terdepan Indonesia. Hal ini dalam upaya mencegah terjadinya penetrasi terhadap warga negara Indonesia yang mendiami pulau tersebut, yang dapat memberikan dampak disintegrasi bangsa. Dalam upaya memberikan informasi terhadap masyarakat, khususnya di wilayah terdepan Indonesia, perlu ditingkatkan sarana dan prasarana TVRI dan RRI, termasuk pula dukungan anggaran operasional bagi pelaksanaan program-program siaran. Disamping itu perlu pula ditingkatkan kesejahteraan karyawan yang bertugas di wilayah terdepan Indonesia, mengingat biaya hidup (living cost) di wilayah timur dan wilayah terdepan Indonesia lebih mahal dibandingkan wilayah lainnya. Dalam upaya pengamanan terhadap informasi rahasia negara, khususnya di Provinsi Maluku Utara, maka perlu peningkatan dukungan sarana dan prasarana serta anggaran kepada Unit Teknis Persandian di Provinsi Maluku Utara dalam upaya pengamanan terhadap informasi rahasia negara.

4.

5.

Demikian Laporan Kunjungan Kerja Komisi I DPR RI ke Provinsi Maluku Utara dalam Reses Masa Persidangan I Tahun Sidang 2005 2006. Kami harapkan hasil kunjungan kerja tersebut dapat memberikan masukan dan pertimbangan kepada Pemerintah dalam menetapkan arah kebijakan pembangunan di wilayah Indonesia. Jakarta, 27 Oktober 2005 KETUA, SEKRETARIS,

THEO

L. SAMBUAGA A-

DR. YUDDY CHRISNANDI A-