Anda di halaman 1dari 1

Nama: ELSYE SHERLEY LIPESIK NIM: 105060600111041 Kelas: HAP-A

Pembangunan dan Kinerja Malang Town Square (MATOS) melalui Kacamata BKPRD
Berdasarkan Permendagri No.50 Tahun 2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah, Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) adalah badan bersifat adhoc yang dibentuk untuk mendukung pelaksaan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang di Provinsi dan di Kabupaten/Kota dan mempunyai fungsi membantu pelaksanaan tugas Gubernur dan Bupati/Wakilota dalam koordinasi penataan ruang di daerah. BKPRD Provinsi dalam melaksanakan koordinasi penataan ruang mempunyai tugas yaitu perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Melalui kacamatan BKPRD, pembangunan Matos tidak seharusnya dilakukan. Kesalahan ada pada pihak yang memberikan ijin mendirikan bangunan (IMB), karena berdasarkan RTRW Kota Malang Tahun 2001-2011 guna lahan kawasan yang saat ini menjadi matos, arahan pemanfaatan lahannya berupa kawasan pendidikan dan kawasan RTH untuk resapan air.

Pembangunan Matos berjalan pada mulai tahun 2004 hingga 2005 dan seharusnya pemanfaatan ruang di Kota Malang tidak keluar dari arahan RTRW yang berlaku pada saat itu. BKPRD sendiri baru terbentuk pada tahun 2009 ketika Matos telah empat tahun didirikan. Berdasarkan UU no.26 Tahun 2007, proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30% dari luas wilayah kota. Kota Malang masih belum dapat memenuhi syarat minimal RTH karena banyaknya pembangunan. Dengan dibangunnya matos, luas RTH pun semakin berkurang, dan saat ini hanya sekitar 14% dari luas wilayah Kota Malang. Salah satu tugas pengendalian pemanfaatan ruang BKPRD adalah melakukan evaluasi atas kinerja pelaksanaan penataan ruang kota. Jalan di depan dan sekitar Matos selalu terdapat genangan air ketika hujan, hal ini dikarenakan pembangunan yang tidak sesuai dengan kemampuan lahannya. BKPRD berhak memberikan sanksi dan disinsentif kepada pihak Matos karena BKPRD bertugas sebagai fasilitator untuk menjaga konsistensi pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang. Pihak Matos harus bertanggung jawab agar genangan air pada saat hujan tidak terjadi lagi dengan membangun saluran air yang lebih besar, karena genangan air yang lumayan tinggi tersebut rentan menimbulkan kemacetan dan kecelakaan, serta kerusakan jalan. Untuk selanjutnya, masyarakat pun harus turut mengambil bagian dalam pengendalian pemanfaatan ruang sesuai dengan arahan dari RTRW Kota Malang yang berlaku. Pemerintah pun juga seharusnya mensosialisasikan arahan pemanfaatan ruang yang tertuang di RTRW kepada masyarakat sehingga masyarakat menjadi tahu apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan pelanggaran pemanfaatan ruang pun dapat berkurang. BKPRD yang merupakan badan koordinasi dan bertugas untuk memberikan rekomendasi perizinan pemanfaatan ruang provinsi dan kabupaten/kota, sehingga untuk ke depannya, izin pembangunan di Kota Malang dapat juga harus melalui dan diketahui oleh BKPRD agar pihak pemerintah dan BKPRD dapat bersamasama menjalankan konsistensi rencana tata ruang yang berlaku.