Anda di halaman 1dari 16

Geomorfologi Fluvial

A. Pengertian Geomorfologi Fluvial Geomorfologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari tiga kata, yaitu geos (bumi), morphos (bentuk) dan logos (ilmu pengetahuan) jadi pengertian dari Geomorfologi fluvial merupakan cabang dari ilmu geomorflogi yang mempelajari semua bentukan bentuk lahan di permukaan bumi yang terbentuk di alam yang disebabkan oleh aksi air permukaan, baik bentukan yang di akibatkan oleh gerakan air yang mengalir, maupun bentukan yang di akibatkan oleh air yang menggenang. Proses-proses yang di bentuk oleh pengaruh air akan menghasilkan suatu bentang alam. Bentang alam yang dibentuk dapat terjadi karena proses erosi maupun karena proses sedimentasi yang dipengaruhi oleh air permukaan. Hal-hal yang mempengaruhi intensitas air permukaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu Curah Hujan, Vegetasi, Kemiringan Lereng, Litologi, dan Iklim.

B. Tiga Aktivitas Utama Sungai B. 1. Erosi Ada beberapa jenis erosi yang di akibatkan oleh kekuatan air, yaitu:

Quarrying, yang merupakan proses terjadinya pendongkelan batuan yang di lalui oleh air. Abrasi, yang merupakan terjadinya penggerusan terhadap batuan yang dilewati air. Scouring, yaitu penggerusan dasar sungai akibat adanya ulakan sungai, misalnya pada daerah cut off slope pada Meander.

Korosi, yaitu terjadinya reaksi terhadap batuan yang dilaluinya.

Berdasarkan arahnya, erosi dapat dibedakan menjadi : Erosi vertikal, erosi yang arahnya tegak dan cenderung terjadi pada daerah bagian hulu dari sungai menyebabkan terjadinya pendalaman lembah sungai. Erosi lateral, yaitu erosi yang arahnya mendatar dan dominan terjadi pada bagian hilir sungai, menyebabkan sungai bertambah lebar. B.2. Transportasi Transportasi adalah proses pengangkutan material oleh air yang diakibatkan oleh tenaga kinetis yang ditimbulkan oleh pergerakan aliran air sebagai pengaruh dari gaya gravitasi. Ada beberapa istilah yang

digunakan dalam membahas transportasi yaitu stream capacity, yaitu jumlah beban maksimum yang mampu diangkat oleh aliran sungai dan stream competence, yang merupakan ukuran maksimum beban yang mampu diangkut oleh aliran sungai. Mekanisme pengangkutan material sugai terbagi menjadi dua yaitu mekanisme bed load dan suspended load. Mekanisme bed load memiliki pengertian bahwa material-material yang tererosi di angkut oleh sungai dengan cara mengalir sepanjang dasar sungai. Sedangkan mekanisme suspended load memiliki pengertian bahwa material-material yang tererosi di angkut oleh sungai dengan cara melayang dalam tubuh sungai. Mekanisme Bed load atau material-material terangkut dengan cara mengalir di dasar sungai dapat diklasifikasikan menjadi:

Traction : material yang diangkut terseret di dasar sungai. Rolling : material terangkut dengan cara menggelinding di dasar sungai. Saltation : material terangkut dengan cara menggelinding pada dasar sungai.

Mekanisme suspended load atau material-material terangkut dengan cara melayang dalam tubuh sungai, dibedakan menjadi :

Suspension : material diangkut secara melayang dan bercampur dengan air sehingga menyebabkan sungai menjadi keruh.

Solution : material terangkut, larut dalam air dan membentuk larutan kimia.

B.3. Sedimentasi Sedimentasi adalah proses yang terjadi ketika sungai tidak mampu lagi mengangkut material yang dibawanya. Apabila tenaga angkut semakin berkurang, maka material yang berukuran kasar akan di endapkan terlebih dahulu baru kemudian diendapkan material yang lebih halus. Ukuran material yang di endapkan berbanding lurus dengan besarnya energi pengangkut, sehingga semakin ke hulu sungai material yang di endapkan semakin halus. Proses sedimentasi terjadi ketika sungai tidak mampu lagi mengangkut material yang dibawanya. Apabila tenaga angkut semakin berkurang, maka material yang berukuran kasar akan diendapkan

terlebih dahulu baru kemudian diendapkan material yang lebih halus. Ukuran material yang diendapkan berbanding lurus dengan besarnya energi pengangkut, sehinga semakin ke arah hilir ukuran butir material yang di endapkan semakin halus. Satu sungai atau lebih beserta anak sungai dan cabangnya membentuk suatu pola atau sistem yang disebut pola pengaliran yang juga dikenal dengan pola aliran sungai.

C. Klasifikasi Pola Aliran Sungai

a. Dendritik: Pola pengaliran ini berbentuk cabang-cabang seperti pohon, dengan anak-anak sungai dan cabang-cabangnya mempunyai arah yang tidak beraturan, pola ini mencermnkan kekerasan batuan yang sama atau jenis tanah yang seragam. Pada daerah ini kontrol struktur tidak beitu nampak. Terdapat pada lapisan sedimen horisontal atau miring landai. b. Parallel: Pola aliran ini membentuk cabang-cabang sungai yang sejajar atau paralel. Mencerminkan daerah dengan dengan kekerasan atuan hampir ama dengan kemiringan lereng yang cukup besar dan seragam. c. Radial: Pola pengaliran ini memiliki pola memusat atau menyebar dengan satu titik pusat yang dikontrol oleh kemiringan lereng, membentuk cabang-cabang yang seolah-olah memencar dari satu titik pusat yang mencerminkan daerah gunung api atau kubah . d. Rectanguler: Pola pengaliran dimana anak-anak sungai membentuk sudut tegak lurus dengan sungai utamanya dengan aliran yang memotong daerah secara tidak kontinyu umumnya pada daerah patahan yang teratur dan mencerminkan daerah kekar atau sesar yang saling tegak lurus . e. Trellis: Pola pengaliran dimana aliran air berbentuk seperti cabang-cabang sungai yang kecil, berukuran sama dengan aliran yang tegak lurus sepanjang sungai-sungai utama. Pola ini mencerminkan daerah lipatan, patahan yang pararel, blok punggungan pantai hasil pengangkatan laut atau daerah yang banyak terdapat kekar. f. Anular: Pola aliran sungai ini tegak lurus terhadap sengai utama yang melingkar. Pola aliran ini dikontrol oleh sesar atau kekar pada bedrock. Pola ini mencerminkan struktur kubah atau dome. g. Concorted: Pola aliran ini membentuk cabang-cabang sungai yang relatif tegak lurus terhadap sungai utama yang melengkung. Perbedaan pola ini dengan pola rectanguler dan trelis adalah pola aliran ini tidak teratur. Kontrol struktur pada daerah ini stabil dan mencerminkan adanya lipatan sunjam.

h. Multi-Basinal: Pola aliran ini terbentuk pada daerah antar bukit batuan dasar yang tererosi. Pola ini ditandai dengan cekungan-cekungan yang kering dan terisi air yang terpisah-pisah dengan aliran yang terputus dan arah yang berbeda. Pola ini mencerminkan daerah karst.

D. Bentuklahan Bentukan Asal Fluvial

a. Sungai Teranyam (Braided River) Sungai teranyam atau braided river adalah bentukan asal proses fluvial yang terbentuk pada hilir sungai yang memiliki kemiringan lereng datar atau hampir datar, sungai teranyam memiliki alur yang luas dan umumnya dangkal. Sungai teranyam terbentuk karena adanya erosi yang berlebihan pada baian hulu sungai sehingga trjadi pengendapan pada bagian alurnya hingga membentuk endapan gosong tengah dan memberikan kesan teranyam apabila endapan gosong tengah yang terbentuk cukup banyak.

b. Gosong Sungai (Bar Deposit) Bar Deposit adalah adalah endapan sungai yang terdapat pada tepi atau tengah dari alur sungai. Endapan pada tengah alur sungai disebut gosong tengah dan endapan pada tepii disebut gosong tepi, gosong sungai terbentuk oleh endapan brangkal, krakal, dan pasir,dll .

c. Kipas aluvial (Alluvial fan) Kipas aluvial adalah bentukan asalproses fluvial yang terjadi karena pengendapan material yang cepat yang terjadi apabila suatu sungai dengan muatan sedimen yang besar mengalir dari dataran tinggi kemudian masuk ke dataran rendah, sehingga mengakibatkan perubahan kecepatan kecepatan aliran air yang drastis. Biasannya terdapat air tanah yang melimpah di sepanjang dataran aluvial karenabentukan berupa kipas aluvial terdiri dari gabungan antara pasir dan lempung sehingga merupakan lapisan kedap air yang mampu membawa air dalam jumlah yang tinggi atau banyak. d. Danau Tapal Kuda (Oxbow lake) Danau tapal kuda terbentuk jika lengkung meander terpotong oleh pelurusan air.

e. Dataran banjir (Flood Plain) dan tanggul alam (Natural Levee) Sungai stadia dewasa mengendapkan sebagian material yang terangkut saat banjir pada sisi kanan maupun kiri sungai, seiring dengan proses yang berlangsung kontinyu akan terbentuk akumulasi sedimen yang tebal sehingga akhirnya membentuk tanggul alam. f. Delta Delta adalah bentang alam hasil sedimentasi sungai pada bagian hilir setelah masuk pada daerah base level. g. Meander Bentukan pada dataran banjir sungai yang berbentuk kelokan karena pengikisan tebing sungai, daerah alirannya disebut sebagai Meander Belt. Meander ini terbentuk apabila pada suatu sungai yang berstadia dewasa mempunyai dataran banjir yang cukup luas, aliran sungai melintasinya dengan tidak teratur sebab adanya pembelokan aliran Pembelokan ini terjadi karena ada batuan yang menghalangi sehingga alirannya membelok dan terus melakukan penggerusan ke batuan yang lebih lemah. Sebagian besar bentang alam fluvial tidak dapat digambarkan dalam peta topografi standard karena ukurannya yang kecil seperti gosong sungai atau tanggul alam. Bentang alam flufial dapat di gambarkan dalam peta topografi standar apabila ukurannya besar sebagai contoh kipas aluvial. Alur sungai merupakan pertanda bentang lahan asalproses fluvial. Dalam peta topografi, alur sungaii ditandai oleh kontur yang meruncing ke arah hulu sungai dengan alur sungai yang tampak jelas. Daerah yang terbentuk karena proses fluvial merupakan daerah yang sangat potensial untuk dimanfaatkan bagi kehidupan manusia, khususnya daerah di pinggir aliran sungai. Daerah di pinggir sungai merupakan daerah yang potensial sebagai penyedia air irigasi, air minum, dan material pasir batu yang bermanfaat diunakan sebagai bahan bangunan.Namun, daerah di sekitar aliran sungai juga memiliki riskiko bencana yang tinggi, sebagai contoh banjir, dan tanah longsor. Dengan cara menganalisis bentanglahan ini, diharapkan dapat memberikan informasi tentang kondisi geologi di suatu daerah. Dengan mengetahui informasi ini diharapkan kita dapat mengetahu pola distribusii bentuklahan bentukan fluvial sehingga penggunaan lahan dapat dimanfaatkan secara optimal.

A. Pengertian Geomorfologi Fluvial.


Geomorfologi Fluvial adalah Semua bentuklahan yang terjadi akibat adanya proses aliran air baik yang terkonsentrasi yang berupa aliran sungai maupun yang tidak terkonsentrasi yang berupa limpasan permukaan.

B. Sungai. 1. Pengertian sungai.


Sungai merupakan jalan air alami. mengalir menuju Samudera, Danau atau laut, atau ke sungai yang lain. Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Dengan melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Penghujung sungai di mana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai. Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sundai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan,embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertantu air sungai juga berasal dari lelehan es / salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan.

2. Klasifikasi lembah sungai.


2.1. Klasifikasi lembah sungai berdasarkan atas genetic (asal mula pembentukan) Klasifikasi lembah sungai menurut genetiknya dibedakan menjadi : a) sungai konsekwen yaitu sungai yang arah alirannya searah dengan kemiringan lereng. b) sungai subsekwen yaitu sungai yang aliran airnya tegak lurus dengan sungai konsekwen. c) Sungai obsekwen yaitu anak sungai subsekwen yang alirannya berlawanan arah dengan sungai konsekwen. d) Sungai insekwen yaitu sungai yang alirannya tidak teratur atau terikat oleh lereng daratan. e) Sungai resekwen yaitu anak sungai subsekwen yang alirannya searah dengan sungai konsekwen. 2.2. Klasifikasi lembah sungai berdasarkan atas bentuk lembah (dapat menerangkan umur secara relatif) Klasifikasi lembah sungai berdasarkan pada tahapan siklus geomorfik adalah yang paling banyak dipergunakan. Penamaannya tergantung pada sifat sifat erosinya yang berkembang pada tahapan yang berbeda beda selama perkembangan evolusinya, dan penamaan ini tdak berhubungan dengan umur atau waktu tetapi lebih ke arah hubungan antara erosi dengan kondisi geologi dan struktur geologinya. Berdasarkan sistem ini, lembah sungai terbagi menjadi : a) Lembah sungai muda

Cirinya :

Lembahnya berbentuk V Erosinya vertikal sangat intensif Banyak percepatan pada pola alirannya atau jeram jeram dan air terjun. Lembah sungai dewasa

b)

Cirinya :

Erosi lateral telah bekerja Sedimentasi dan erosi mulai sebanding sehingga menghasilkan sungai yang relatif simetris. Mulai memperlihatkan kelokan kelokan dengan sudut besar. Lembah sungai tua

c)

Cirinya :

Proses sedimentasi lebih besar dari pada erosi Mempunyai bentuk bentuk yang khas seperti pola berkelok kelok tajam Adanya danau punuk sapi dan tanggul alam. Penyempitan dan pelebaran tanah Perubahan arah aliran secara mendadak atau tiba-tiba.

2.3. Klasifikasi lembah sungai berdasarkan atas struktur pengontrol Klasifikasi lembah sungai menurut struktur pengontrolnya dibedakan menjadi:

Lembah homoklinal = subsekuen Lembah antiklinal Lembah sinklinal Lembah sesar/ patahan Lembah garis sesar Lembah rekahan = joint

2.4. Klasifikasi sungai berdasarkan atas sifat aliran. Klasifikasi lembah sungai menurut sifat alirannya dibedakan menjadi : a) Sungai permanen yaitu sungai yang debit airnya sepanjang tahun relatif tetap. Contoh sungai jenis ini adalah sungai Kapuas, Kahayan, Barito dan Mahakam di Kalimantan. Sungai Musi, Batanghari dan Indragiri di Sumatera. b) Sungai periodik yaitu sungai yang pada waktu musim hujan airnya banyak, sedangkan pada musim kemarau airnya kecil. Contoh sungai jenis ini banyak terdapat di pulau Jawa misalnya sungai Bengawan Solo, dan sungai Opak di Jawa Tengah. Sungai Progo dan sungai Code di Daerah Istimewa Yogyakarta serta sungai Brantas di Jawa Timur. c) Sungai intermittent atau sungai episodik yaitu sungai yang pada musim kemarau airnya kering dan pada musim hujan airnya banyak. Contoh sungai jenis ini adalah sungai Kalada di pulau Sumba. d) Sungai ephemeral yaitu sungai yang ada airnya hanya pada saat musim hujan. Pada hakekatnya sungai jenis ini hampir sama dengan jenis episodik, hanya saja pada musim hujan sungai jenis ini airnya belum tentu banyak. 2.5. Tiga aktivitas utama sungai. a) Erosi.

Lepasnya material dasar dari tebing sungai. b) Transportasi

Terangkutnya material hasil erosi, dengan cara terbawa dalam larutan, melompat dan menggelinding. c) Deposisi

Akumulasi material hasil transportasi pada dasar sungai, dataran banjir atau pada tubuh air yang lain. Zona 1: Daerah Aliran Sungai atau Erosi

daerah yang pokok dari aliran arus pokok dari daerah yang padat terlarut dan sedimen berasal

Zona 2: Daerah Transfer / Transportasi


aliran air kira-kira sama dengan arus keluar asumsi stabilitas, influxes padat terlarut keluar kira-kira sama dengan fluks

Zona 3: Luas Deposisi


debit air ke sungai besar atau badan padatan terlarut influxes kira-kira sama dengan fluks keluar aluvial-kipas dan dataran aluvial-lingkungan muara dan delta lingkungan kosta lingkungan

C. Bentuklahan Bentukan Asal Fluvial 1. Dataran aluvial


Memiliki topografi datar sebagai hasil pengendapan di kiri dan kanan sungai. Struktur endapannya berlapis horizontal dengan elevasi rendah. Contohnya seperti di sungai progo. Ciri dari bentukan ini adalah struktur nya berlapis horizontal, penyusunnya berupa batuan sedimen karena proses sedimentasi.

2. Dataran banjir
Dataran banjir tersusun oleh pengendapan sedimen ketika banjir. 2 model pengendapan :

1. Pengendapan deposit pada arah horisontal


Contoh : Point bar, Oxbow lake

2. Pengendapan deposit pada arah vertikal


Contoh : Tanggul alam, Crevasses-splay deposit, backswamp zone

3. Tanggul alam sungai (natural levee)

Merupakan akumulasi sedimentasi berupa tanggul memanjang membatasi alur sungai . Keberadaanya dapat dijadikan indicator bahwa daerah tersebut rentan akan banjir. Memiliki ciri bentuknya yang memanjang.

4. Rawa belakang (backswamps)


Bentuk lahan yang elevasi rendah, sepanjang tahun tergenang air. Dicirikan dengan adanya vegetasi air seperti eceng gondok, letaknya dibelakang tanggul alami (natural leeve). Cirinya hampir selalu tergenang air, elevasi rendah, terdapat vegetasi air, airnya terkurung (tidak dapat mengalir).

5. Kipas aluvial
Kipas aluvial ter-bentuk oleh sungai muda yang membawa banyak material sedi-men. Kipas aluvial terletak pada tempat terjadi-nya perubahan lereng dari terjal kedatar. Sifat aliran sungai yakni disvergen (memencar).

6. Teras sungai
Bentuk lahan yang berupa teras di sisi sungai yang terbentuk karena adanya proses erosi. Erosi yang terjadi dimulai dari tepi sungai sampai ke base level, kemudian terjadi pengangkatan, dan terus berulang hingga terbentuk teras. Cirinya adalah struktur batuannya berlapis kompak atau tidak kompak, memanjang sepanjang sisi sungai, erosi yang terjadi mencapai base level.

7. Gosong sungai/point bar


Bentukan yang terbentuk akibat adanya proses sedimentasi yang terakumulasi di bagian tubuh sungai. Memiliki ciri reliefnya datar hingga berombak, dan dtruktur batuannya berlapis tidak kompak.

8. Sungai teranyam (braided stream)


Aliran sungai yang terpecah karena munculnya pulau-pulau kecil yang merupakan akumulasi sedimen. Memiliki ciri pada pulau-pulau kecilnya terdapat vegetasi yang relative stabil, dan umumnya bermateri pasir dan gravel. 9. Sungai meander dan entrenched meander Apabila sungai telah mencapai phase dewasa, akan membentuk terjun dan lembah sangat dalam dan lebar, besar (gorge) dengan dinding terjal dan dasar lembah lebar dan datar serta membentuk dataran banjir. Meander yang berkembang tidak dapat bebas bergeser kekiri atau kekanan, sehingga perkembangan meander selanjutnya hanya berada di dalam lembah yang dalam dan terjal tersebut.

10. Delta dan macamnya.


Merupakan hasil pengendapan material sedimen darat yang diangkut oleh aliran sungai dan diendapkan di bagian mulut sungai. Memiliki ciri berair payau, dan terbentuk di wilayah muara sungai.

GEOMORFOLOGI FLUVIAL
A. Pengertian Geomorfologi Fluvial Geomorfologi fluvial adalah seluruh bentukan geomorfologi di permukaan bumi akibat aktifitas sungai yang menyebabkan terjadinya erosi, pengangkutan dan pengendapan material di permukaan bumi. B. Sungai 1. Pengertian Sungai Sungai adalah air tawar yang mengalir dari sumbernya di daratan menuju dan bermuara di laut, danau atau sungai yang lebih besar, aliran sungai merupakan aliran yang bersumber dari limpasan. Sungai dicirikan oleh arus yang searah dan relatif kencang, dengan kecepatan berkisar antar 0,11,0 m/detik, serta sangat dipengaruhi oleh waktu, iklim, dan pola drainase. Pada perairan sungai, biasanya terjadi pencampuran massa air secara menyeluruh dan tidak terbentuk stratifikasi kolom air seperti pada perairan lentik. Kecepatan arus, erosi, dan sedimentasi merupakan fenomena yang biasa terjadi di sungai sehingga kehidupan flora dan fauna sangat dipengaruhi oleh ketiga variable tersebut. 2. Klasifikasi Lembah Sungai 2.1 Klasifikasi lembah sungai berdasarkan atas genetik Sebagaimana diketahui bahwa klasifikasi genesa sungai ditentukan oleh hubungan struktur perlapisan batuannya. Genetika sungai dapat dibagi sebagai berikut: a. Sungai Superposed atau sungai Superimposed adalah sungai yang terbentuk diatas permukaan bidang struktur dan dalam perkembangannya erosi vertikal sungai memotong ke bagian bawah hingga mencapai permukaan bidang struktur agar supaya sungai dapat mengalir ke bagian yang lebih rendah. Dengan kata lain sungaisuperposed adalah sungai yang berkembang belakangan dibandingkan pembentukan struktur batuannya. b. Sungai Antecedent adalah sungai yang lebih dulu ada dibandingkan dengan keberadaan struktur batuanya dan dalam perkembangannya air sungai mengikis hingga ke bagian struktur yang ada dibawahnya. Pengikisan ini dapat terjadi karena erosi arah vertikal lebih intensif dibandingkan arah lateral. c. Sungai Konsekuen adalah sungai yang berkembang dan mengalir searah lereng topografi aslinya. Sungai konsekuen sering diasosiasikan dengan kemiringan asli dan struktur lapisan batuan yang ada dibawahnya. Selama tidak dipakai sebagi pedoman, bahwa asal dari pembentukan sungai konsekuen adalah didasarkan atas lereng topografinya bukan pada kemiringan lapisan batuannya. d. Sungai Subsekuen adalah sungai yang berkembang disepanjang suatu garis atau zona yang resisten. sungai ini umumnya dijumpai mengalir disepanjang jurus perlapisan batuan yang resisten terhadap erosi, seperti lapisan batupasir. Mengenal dan memahami genetika sungai subsekuen seringkali dapat membantu dalam penafsiran geomorfologi. e. Sungai Resekuen. Lobeck (1939) mendefinisikan sungai resekuen sebagai sungai yang mengalir searah dengan arah kemiringan lapisan batuan sama seperti tipe sungai konsekuen. Perbedaanya adalah sungai resekuen berkembang belakangan. f. Sungai Obsekuen. Lobeck juga mendefinisikan sungai obsekuen sebagai sungai yang mengalir berlawanan arah terhadap arah kemiringan lapisan dan berlawanan terhadap sungai konsekuen. Definisi ini juga mengatakan bahwa sungai konsekuen mengalir searah dengan arah lapisan batuan. g. Sunggai Insekuen adalah aliran sungai yang mengikuti suatu aliran dimana lereng tidak dikontrol oleh faktor kemiringan asli, struktur atau jenis batuan. Beberapa aspek dari pola pengaliran sungai menjadi sangat penting untuk pertimbangan dalam interpretasi geomorfologi, terutama: 1. Klasifikasi genetik sungai, hubungan sungai dengan kemiringan asli, batuan yang berada dibawah aliran sungai, dan struktur geologi. 2. Tahapan perkembangan suatu sungai 3. Pola pengaliran sungai 4. Anomali pengaliran dalam suatu pola aliran

5. Karakteristik detail seperti gradien sungai, kerapatan sungai, bentuk cekungan dan ukuran/dimensi, kemiringan cekungan dan kemiringan bagian hulu suatu lembah. 6. Jentera geomorfik.Kombinasi dari aspek-aspek tersebut diatas sangat mungkin membantu dalam mengidentifikasi litologi, korelasi stratigrafi, pemetaan struktur geologi, menetukan sejarah tektonik dan sejarah geomorfologi. Berkut ini adalah uraian mengenai kombinasi antara struktur, litologi dan aktivitas sungai. 1.1 Klasifikasi lembah sungai berdasarkan atas bentuk lembah Tahapan perkembangan suatu sungai dapat dibagi menjadi 5 (tiga) stadia, yaitu stadia sungai awal, satdia muda, stadia dewasa, stadia tua, dan stadia remaja kembali (rejuvination). Adapun ciri-ciri dari tahapan sungai adalah sebagai berikut: 1. Tahapan Awal (Initial Stage) : Tahap awal suatu sungai seringkali dicirikan oleh sungai yang belum memiliki orde dan belum teratur seperti lazimnya suatu sungai. Air terjun, danau, arus yang cepat dan gradien sungai yang bervariasi merupakan ciri-ciri sungai pada tahap awal. Bentangalam aslinya, seringkali memperlihatkan ketidakteraturan, beberapa diantaranya berbeda tingkatannya, arus alirannny berasal dari air runoff ke arah suatu area yang masih membentuk suatu depresi (cekungan) atau belum membentuk lembah. Sungai pada tahapan awal umumnya berkembang di daerah dataran pantai (coastal plain) yang mengalami pengangkatan atau diatas permukaan lava yang masih baru / muda dan gunungapi, atau diatas permukaan pediment dimana sungainya mengalami peremajaan (rejuvenation). 2. Tahapan Muda : Sungai yang termasuk dalam tahapan muda adalah sungai-sungai yang aktivitas aliran sungainya mengerosi kearah vertikal. Aliran sungai yang menmpati seluruh lantai dasar suatu lembah. Umumnya profil lembahnya membentuk seperti huruf .V.. Air terjun dan arus yang cepat mendominasi pada tahapan ini. 3. Tahapan Dewasa: Tahap awal dari sungai dewasa dicirikan oleh mulai adanyapembentukan dataran banjir secara setempat setempat dan semakin lama semakin lebar dan akhirnya terisi oleh aliran sungai yang berbentuk meander, sedangkan pada sungai yang sudah masuk dalam tahapan dewasa, arus sungai sudah membentuk aliran yang berbentuk meander, penyisiran kearah depan dan belakang memotong suatu dataran banjir (flood plain) yang cukup luas sehingga secara keseluruhan ditempati oleh jalur-jalur meander. Pada tahapan ini aliran arus sungai sudah memperlihatkan keseimbangan antara laju erosi vertikal dan erosi lateral. 4. Tahapan Tua : Pada tahapan ini dataran banjir diisi sepenuhnya oleh meander dan lebardari dataran banjir akan beberapa kali lipat dari luas meander belt. Pada umumnya dicirikan oleh danau tapal kuda (oxbow lake) dan rawa-rawa (swampy area). Erosi lateral lebih dominan dibandingkan erosi lateral. 1.2 Klasifikasi lembah sungai berdasarkan atas struktur pengontrol Menurut Forman dan Gordon (1983), morfologi sungai pada hakekatnya meru-pakan bentuk luar, yang secara rinci digambarkan sebagai berikut; Lebih jauh Forman (1983), menyebutkan bahwa bagian dari bentuk luar sungai secara rinci dapat dipelajari melalui bagian-bagian dari sungai, yang sering disebut dengan istilah struktur sungai. Struktur sungai dapat dilihat dari tepian aliran sungai (tanggul sungai), alur sungai, bantaran sungai dan tebing sungai, yang secara rinci diuraikan sebagai berikut: 1. Alur dan Tanggul Sungai

Alur sungai (Forman & Gordon, 1983; dan Let, 1985), adalah bagian dari muka bumi yang selalu berisi air yang mengalir yang bersumber dari aliran limpasan, aliran sub surface run-off, mata air dan air bawah tanah (base flow). Lebih jauh Sandy (1985) menyatakan bahwa alur sungai dibatasi oleh bantuan keras, dan berfungsi sebagai tanggul sungai. 2. Dasar dan Gradien sungai Forman dan Gordon (1983), menyebutkan bahwa dasar sungai sangat bervariasi, dan sering mencerminkan batuan dasar yang keras. Jarang ditemukan bagian yang rata, kadangkala bentuknya bergelombang, landai atau dari bentuk keduanya; sering terendapkan matrial yang terbawa oleh aliran sungai (endapan lumpur). Tebal tipisnya dasar sungai sangat dipengaruhi oleh batuan dasarnya. Dasar sungai dari hulu ke hilir memperlihatkan perbedaan tinggi (elevasi), dan pada jarak tertentu atau keseluruhan sering disebut dengan istilah gradien sungai yang memberikan gambaran berapa presen rataan kelerengan sungai dari bagian hulu kebagian hilir. Besaran nilai gradien berpengaruh besar terhadap laju aliran air. 3. Bantaran sungai Forman dan Gordon (1983) menyebutkan bahwa bantaran sungai merupakan bagian dari struktur sungai yang sangat rawan. Terletak antara badan sungai dengan tanggul sungai, mulai dari tebing sungai hingga bagian yang datar. Peranan fungsinya cukup efektif sebagai penyaring (filter) nutrien, menghambat aliran permukaan dan pengendali besaran laju erosi.Bantaran sungai merupakan habitat tetumbuhan yang spesifik (vegetasi riparian), yaitu tetumbuhan yang komunitasnya tertentu mampu mengendalikan air pada saat musim penghujan dan kemarau. 4. Tebing sungai Bentang alam yang menghubungkan antara dasar sungai dengan tanggul sungai disebut dengan tebing sungai. Tebing sungai umumnya membentuk lereng atau sudut lereng, yang sangat tergantung dari bentuk medannya. Semakin terjal akan semakin besar sudut lereng yang terbentuk. Tebing sungai merupakan habitat dari komunitas vegetasi riparian, kadangkala sangat rawan longsor karena batuan dasarnya sering berbentuk cadas.Sandy (1985), menyebutkan apabila ditelusuri secara cermat maka akan dapat diketahui hubungan antara lereng tebing dengan pola aliran sungai. 1.3 Klasifikasi sungai berdasarkan atas sifat aliran Sungai beradarkan sifat aliran biasanya dibagi menjadi dua yaitu sungai permanen dan sungai musiman atau non permanen. Sungai permanen adalah sungai yang mengalir sepanjang tahun. Sungai musiman atau non permanen adalah sungai yang hanya mengalir pada musim tertentu, biasanya pada musim penghujan. Sifat aliran sungai sangat dipengaruhi oleh geomorfolgi dari tempat dimana sungai itu berada. Sifat aliran sungai mempengaruhi pola aliran sungai tersebut. Pola aliran adalah Pola radial sentripetal adalah pola aliran pada suatu kawah atau Crater dan suatu kaldera dari gunung berapi atat defresi lainnya, yang pola alirannya ke pusat depresi tersebut. Pola radial Sentrifugal adalah pola aliran pada kerucut gunung beraoi atau dome yang baru mencapai stadium muda dan pola alirannya menuruni lereng-lereng pegunungan. Pola Trelis adalah pola aliran yang terbentuk seperti tralis. Disini sungai mengalir sepanjang lembah dari suatu bentukan antiklinal dan sinklinal yang paralel. Pola Rectangular adalah pola aliran yang terdapat pada daerah yang mempunyai struktur patahan, baiknya berupa patahan sesungguhnya atau hanya joint (retakan). Pola ini merupakan pola aliran sikusiku. Pola Anular adalah variasi dari radial. terdapat pada suatu dome atau kaldera yang sudah mencapai stadium dewasa dan sudah timbul konsekwen, subsekwen, resekwen dan obsekwen. Pola Pinnate adalah aliran sungai yang mana muara anak sungai membentuk sudut lancip dengan sungai induk. Sungai ini biasanya terdapat pada bukit yang lerengnya terjal.

1.4 Tiga aktivitas utama sungai Aktifitas sungai yang utama adalah diakibatkan oleh aliran air sungai. Aliran air tersebut adalah aliran yang menyebabkan terjadinya erosi, pengangkutan dan pengendapan material di permukaan bumi.
1. Erosi

Aktivitas sungai salah satunya adalah erosi. adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat liang, dalam hal ini disebut bio-erosi. Erosi tidak sama dengan pelapukan akibat cuaca, yang mana merupakan proses penghancuran mineral batuan dengan proses kimiawi maupun fisik, atau gabungan keduanya.
1. Pengangkutan material muka bumi

Aliran sungai merupakan salah satu pengangkut material muka bumi yang berasal dari inlet sungai hingga outlet sungai. Pengangkutan material muka bumi terlihat jelas dimana di daerah outlet sungai terdapat material vulkanik yang berasal dari hulu sungai.
1. Pengendapan material muka bumi

Pengendapan terjadi salah satunya adalah karena aliran sungai yang merupakan aktivitas utama aliran sungai. Pengendapan terjadi di setiap daerah yang dialiri oleh aliran sungai. Pengendapan yang jelas terjadi di outlet sungai atau muara sungai yang biasanya membentuk kipas alluvial ataupun delta sungai.
1. A. Bentuklahan Bentukan Asal Fluvial 1. Dataran alluvial

Dataran Aluvial merupakan wilayah yang datar atau hampir datar yang terbentuk oleh endapan yang dibawa air. Dataran alluvial berada di daerah yang dekat dengan pantai.
1. Dataran banjir

berupa dataran yang luas yang berada pada kiri kanan sungai yang terbentuk oleh sedimen akibat limpasan banjir sungai tersebut. Umumnya berupa pasir, lanau, dan lumpur.
1. Tanggul alam sungai (natural levee)

Tanggul alam adalah tanggul yang terbentuk secara alamiah oleh alam. Tanggul alam dapat terbentuk oleh tumbuhan atau vegetasi yang rapat bahkan oleh batuan yang massif dan tidak mudah terkikis. Tanggul alam memiliki manfaat sebagai penahan pengikisan sungai sehingga terjadinya erosi menjadi berkurang. Tanggul alam juga dapat mengurangi bahaya dari banjir akibat luapan sungai.
1. Rawa belakang (backswamps)

Rawa belakang adalah tubuh air kecil yang berada di belakang atau di tepian sungai. Rawa belakan dapat kering dan dapat pula tidak kering dalam waktu tertentu. Rawa belakang memiliki fungsi sebagai tendon air tambahan dalam mwaktu debit sungai yang besar sehingga mengurangi terjadinya resiko banjir.
1. Kipas fluvial

Kipas fluvial merupakan bentukan fluvial berbentuk kipas dengan apex berada pada bagian hulu dan kakinya berada di bagian hilir. Umumnya berada pada perbatasan antara wilayah pegunungan/perbukitan dengan wilayah dataran. Kemiringan lereng bervariasi antara 0o 30 o, makin ke hilir makin mendatar.
1. Teras sungai

Teras sungai merupakan bekas aliran sungai lama, dengan bahan endapan kasar (berkerikil/batu) yang tertutup oleh bahan endapan halus
1. Sungai teranyam (braided stream)

Sungai ternyanya terbentuk ketika debit air tidak bisa mengangkut beban. Ketika ada penurunan kecepatan endapan sungai disimpan di lantai saluran menciptakan bar. Jeruji saluran terpisah menjadi beberapa saluran yang lebih kecil membuat tampilan yang dijalin. saluran dikepang yang umum di lanskap glaciated atau barubaru ini glaciated mana sungai-sungai diberi makan oleh puing-tersedak air mencair .
1. Sungai meander dan entrenched meander

Meander sungai adalah bentukan berkelok-kelok suatu aliran sungaai yang diakibatkan oleh aliran sungai yang berkelok. Meander sungai biasanya terjadi di daerah yang memiliki relief yang cenderung datar. Meander sungai terjadi karena pengikisan di pinggiran sungai dalam waktu yang lama. Meander sungai yang terjadi biasanya di daerah yang datar, namun ada juga meander sungai yang terbentuk di daerah dengan karakteristik batuan yang massif sehingga membentuk bentukan yang berbeda dengan bentukan meander di daerah fluvial. Meander sungai yang berada pada daerah yang memiliki batuab yang massif dinamakan entranched meander.
1. Delta dan macamnya

Delta merupakan dataran di muara sungai yang terbentuk sebagai akibat dari endapan sedimen di laut yang berasal dari sungai. Berbagai bentuk delta dikenal tergantung kepada kondisi morfologi sungai, morfologi dataran, arah gelombang laut, kedalaman laut, dsb. DAFTAR PUSTAKA Barstra, G.J; 1978. The riverlaid strata near Trinil, site of Homo Erectus, Java, Indonesia. Mod.Quat. Res. In S. Asia, Vol 7. Bemmelen, R>W, 1949. Geology of Indonesia, Vol IA. The Hague Martinus Nijhoff. Chorley, R.J., 1984. Geomorphology, Menthunsen & Co. Ltd; London. Cotton, C. A; 1940. Classifikation and correlation of River Terrasces. Jour Geomorphology, Vol 3. New York: Grw Hill. Forman; Richard and Michel Gordon. 1983. Lansdcape Ecology. John Wiley & Son; New York. Katili, J.A; 1950. Geologi. Jakarta; Departemen Urusan Riset Nasional. Lobeck, A.K,. 1939. Geomorphologi. New York: Grw Hill. Pannekoek, A.J.Dr. 1949. Outline of the Geomorphology of Java. TKNA, Genootsch. LXVI.

Sandy, IM, 1985. DAS-Ekosistem Penggunaan Tanah. Publikasi Direktorat Taguna Tanah Departemen Dalam Negeri (Publikasi 437). Thornbury, William, D; 1973. Principle of Geomorphologi. New York: Grw Hill.

Gerakan Tanah (Longsoran)


Gerakan tanah adalah suatu konsekuensi fenomena dinamis alam untuk mencapai kondisi baru akibat gangguan keseimbangan lereng yang terjadi, baik secara alamiah maupun akibat ulah manusia. Gerakan tanah akan terjadi pada suatu lereng, jika ada keadaan ketidakseimbangan yang menyebabkan terjadinya suatu proses mekanis, mengakibatkan sebagian dari lereng tersebut bergerak mengikuti gaya gravitasi, dan selanjutnya setelah terjadi longsor, lereng akan seimbang atau stabil kembali. Jadi longsor merupakan pergerakan massa tanah atau batuan menuruni lereng mengikuti gaya gravitasi akibat terganggunya kestabilan lereng. Apabila massa yang bergerak pada lereng ini didominasi oleh tanah dan gerakannya melalui suatu bidang pada lereng, baik berupa bidang miring maupun lengkung, maka proses pergerakan tersebut disebut sebagai longsoran tanah. Menurut Suripin (2002) tanah longsor adalah merupakan bentuk erosi dimana pengangkutan atau gerakan massa tanah terjadi pada suatu saat dalam volume yang relatif besar. Ditinjau dari segi gerakannya, maka selain erosi longsor masih ada beberapa erosi akibat gerakan massa tanah, yaitu rayapan (creep), runtuhan batuan (rock fall), dan aliran lumpur (mud flow). Karena massa yang bergerak dalam longsor merupakan massa yang besar maka sering kejadian longsor akan membawa korban, berupa kerusakan lingkungan, yaitu lahan pertanian, permukiman, dan infrastruktur, serta hilangnya nyawa manusia. Proses terjadinya gerakan tanah melibatkan interaksi yang kompleks antara aspek geologi, geomorfologi, hidrologi, curah hujan, dan tata guna lahan. Secara umum faktor pengontrol terjadinya longsor pada suatu lereng dikelompokan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari kondisi geologi batuan dan tanah penyusun lereng, kemiringan lereng (geomorfologi lereng), hidrologi dan struktur geologi. Sedangkan faktor eksternal yang disebut juga sebagai faktor pemicu yaitu curah hujan, vegetasi penutup, penggunaan lahan pada lereng, dan getaran gempa. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa daerah yang memiliki kerawanan terhadap bencana tanah longsor dikategorikan dalam kawasan fungsi lindung. Sedangkan batasan kawasan lindung diatur lebih lanjut dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 837/KPTS/UM/11/1980 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya. Daerah perbukitan atau pegunungan yang membentuk lahan miring merupakan daerah rawan terjadi gerakan tanah. Kelerengan dengan kemiringan lebih dari 20o (atau sekitar 40%) memiliki potensi untuk bergerak atau longsor, namun tidak selalu lereng atau lahan yang miring punya potensi untuk longsor tergantung dari kondisi geologi yang bekerja pada lereng tersebut. Potensi terjadinya gerakan tanah pada lereng tergantung pada kondisi tanah dan batuan penyusunnya, dimana salah satu proses geologi yang menjadi penyebab utama terjadinya gerakan tanah adalah pelapukan batuan (Selby, 1993). Proses pelapukan batuan yang sangat intensif banyak dijumpai di negara-negara yang memiliki iklim tropis seperti Indonesia. Tingginya curah hujan dan penyinaran matahari menjadikan tinggi pula proses pelapukan batuan. Batuan yang banyak mengalami pelapukan akan menyebabkan berkurangnya kekuatan batuan yang pada akhirnya membentuk lapisan batuan lemah dan tanah residu yang tebal. Apabila hal ini terjadi pada daerah lereng, maka lereng akan menjadi kritis. Faktor geologi lainnya yang menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah adalah aktivitas volkanik dan tektonik, faktor geologi ini dapat dianalisis melalui variabel tekstur tanah dan jenis batuan. Tekstur tanah dan jenis batuan merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gerakan tanah yang diukur berdasarkan sifat tanah dan kondisi fisik batuan. Disamping itu curah hujan yang meningkatkan presepitasi dan kejenuhan tanah serta naiknya muka air tanah, maka jika hal ini terjadi pada lereng dengan material penyusun (tanah dan atau batuan) yang lemah maka akan

menyebabkan berkurangnya kuat geser tanah/batuan dan menambah berat massa tanah. Pada dasarnya ada dua tipe hujan pemicu terjadinya longsor, yaitu hujan deras yang mencapai 70 mm hingga 100 mm perhari dan hujan kurang deras namun berlangsung menerus selama beberapa jam hingga beberapa hari yang kemudian disusul dengan hujan deras sesaat. Hujan juga dapat menyebabkan terjadinya aliran permukaan yang dapat menyebabkan terjadinya erosi pada kaki lereng dan berpotensi menambah besaran sudut kelerengan yang akan berpotensi menyebabkan longsor. Dalam analisis spasial, data intensitas curah hujan diwujudkan dalam bentuk peta isohiet yaitu peta yang menunjukkan deliniasi daerah dengan curah hujan yang sama. Berdasarkan peta isohiet tersebut, dapat ditentukan penilaian intensitas curah hujannya. Tata guna lahan merupakan bagian dari aktivitas manusia, secara umum yang dapat menyebabkan longsor adalah yang berhubungan dengan pembangunan infrastruktur seperti pemotongan lereng yang merubah kelerengan, hal ini juga akan merubah aliran air permukaan dan muka air tanah. Penggundulan hutan maupun penggunaan lahan yang tidak memperhatikan ekosistem dapat pula memicu terjadinya gerakan tanah dan erosi. Secara kuantitatif, faktor pemanfaatan lahan dapat dianalisis melalui variabel jenis kegiatan dari pemanfaatan lahan yang terjadi. Parfi Kh, mengajar Tata Ruang dan Lingkungan Hidup pada Magister Ilmu Lingkungan UNDIP

Mass Wasting adalah semua pengangkutan masa puing-puing batuan menuruni lereng akibat pengaruh langsung tenaga gravitasi. (5607) Sumber Catatan Kuliah : Geomorfologi Dasar, Suprapto Dibyosaputro, Fakultas Geografi UGM