Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA SISTEM ZAT CAIR TIGA KOMPONEN DIAGRAM TERNER

Oleh : Kelompok VI Kelas B

1. Ambtenarie Jessica S 2. Ramdhan 3. Riny Afrima Sari 4. Ervina 5. Meilano

(1107135694) (1107135705) (1107114172) (1107114190) (1007113815)

PROGRAM SARJANA TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS RIAU 2013

BAB I TEORI Sistem adalah suatu zat yang dapat diisolasikan dari zat-zat lain dalam suatu bejana inert, yang menjadi pusat perhatian dalam mengamati pengaruh perubahan temperature, tekanan serta konsentrasi zat tersebut. Sedangkan komponen adalah yang ada dalam sistem, seperti zat terlarut dan pelarut dalam senyawa biner. Banyaknya komponen dalam sistem C adalah jumlah minimum spesies bebas yang diperlukan untuk menentukan komposisi semua fase yang ada dalam sistem. Definisi ini mudah diberlakukan jika spesies yang ada dalam system tidak bereaksi sehingga kita dapat menghitung banyaknya. Fasa merupakan keadaan materi yang seragam di seluruh bagiannya, tidak hanya dalam komposisi kimianya tetapi juga dalam keadaan fisiknya. Contohnya: dalam sistem terdapat fasa padat, fasa cair dan fasa gas. Banyaknya fasa dalam sistem diberi notasi P. Gas atau campuran gas adalah fasa tunggal ; Kristal adalah fasa tunggal dan dua cairan yang dapat bercampur secara total membentuk fasa tunggal. Campuran dua logam adalah sistem duafasa (P=2), jika logam-logam itu tidak dapat bercampur, tetapi merupakan sistem satu fasa(P=1), jika logamlogamnya dapat dicampur. Pada perhitungan dalam keseluruhan termodinamika kimia, J.W Gibbs menarik kesimpulan tentang aturan fasa yang dikenal dengan Hukum Fasa Gibbs, jumlah terkecil perubahan bebas yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu sistem dengan tepat pada kesetimbangan. Berdasarkan hukum fasa Gibbs, jumlah terkecil variabel bebas yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu sistem dengan tepat pada kesetimbangan diungkapkan sebagai : V dimana, V = jumlah varian C = jumlah komponen = C P + 2.........................................(1)

P = jumlah fasa Dalam ungkapan diatas, kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu, tekanan dan komposisi sistem. Jumlah derajat kebebasan untuk sistem tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap dapat dinyatakan sebagai : V = 3 P...................................................(2) Jika dalam sistem hanya terdapat satu fasa, maka V= 2, berarti untuk menyatakan keadaan sistem dengan tepat perlu ditentukan konsentrasi dari dua komponennya. Sedangkan bila dalam sistem terdapat dua fasa dalam kesetimbangan,maka V = 1, berarti hanya satu komponen yang harus ditentukan konsentrasinya dan konsentrasi komponen yang lain sudah tertentu berdasarkan diagram fasa untuk sistem tersebut. Oleh karena sistem tiga kompoen pada suhu dan tekanan tetap mempunyai jumlah derajat kebebasan paling banyak dua, maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga samasisi yang disebut diagram terner. Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga kompoen tergantung pada daya saling larut antar zat cair tersebut dan suhu percobaan. Andaikan ada tiga zat cair A, B dan C. A dan B saling larut sebagian. Penambahan zat C kedalam campuran A dan B akan memperbesar atau memperkecil daya saling larut A dan B. Pada percobaan ini hanya akan ditinjau sistem yang memperbesar daya saling larut A dan B. Dalam hal ini A dan C serta B dan C saling larut sempurna. Kelarutan cairan C dalam berbagai komposisi campuran A dan B pada suhu tetap dapat digambarkan pada suatu diagram terner. Prinsip menggambarkan komposisi dalam diagram terner dapat dilihat pada gambar (1) dan (2) di bawah ini.

Gambar 1.1 Diagram Terner

Fraksi mol tiga komponen dari sistem terner (C = 3) sesuai dengan X A + XB + Xc = 1. Titik pada sisi AB BC AC : campuran biner A dan B : campuran biner B dan C : campuran biner A dan C

Diagram fase yang digambarkan sebagai segitiga sama sisi menjamin dipenuhinya sifat ini secara otomatis sebab jumlah jarak ke sebuah titik didalam segitiga sama sisi yang diukur sejajar dengan sisi-sisinya sama dengan panjang sisi segitiga itu yang dapat diambil sebagai satuan panjang. Sistem 3 komponen sebenarnya banyak memungkinkan yakni pada percobaan ini digunakan sistem 3 komponen yang terdiri atas zat cair yang sebagian tercampur.

Sistem 3 zat cair yang sebagian dibagi menjadi : Tipe 1 : Pembentukan sepasang zat cair bercampur sebagian Tipe 2 : Pembentukan 2 pasang zat cair bercampur sebagian Tipe 3 : Pembentukan 3 pasang zat cair bercampur sebagian Dalam percobaan yang dilakukan menggunakan tipe 1. Tipe 1 : Pembentukan sepasang zat cair yang bercampur sebagian.

Gambar 1.2 Diagram Terner Titik A, B dan C menyatakan kompoenen murni. Titik-titik pada sisi AB, BC dan AC menyatakan fraksi dari dua komponen, sedangkan titik didalam segitiga menyatakan fraksi dari tiga komponen. Titik P menyatakan suatu campuran dengan fraksi dari A, B dan C masing-masing sebanyak x, y dan z. Satu fasa membutuhkan dua varian untuk menggambarkan sistem secara sempurna, dan untuk dua fasa dalam kesetimbangan, satu varian. Jadi, dapat digambarkan diagram fasa dalam satu bidang. Cara terbaik untuk

menggambarkan sistem tiga komponen adalah dengan mendapatkan suatu kertas grafik segitiga (Dogra, 2009: 473). Konsentrasi dapat dinyatakan dalam istilah % berat atau fraksi mol. Bila komposisi masing-masing dinyatakan dalam persen berat masing-masing komponen, maka perlu diketahui massa jenis tiap komponen untuk menghitung beratnya masing-masing. m = X V............................................(3) keterangan : m V = massa = massa jenis = volume Bila berat masing-masing komponen sudah dihitung, hitung persen berat masing-masing komponen (fraksi dari masing-masing komponen). Alas segitiga menggambarkan komposisi campuran air-kloroform. Oleh karena itu, sistem tiga komponen pada temperatur dan tekanan tetap mempunyai jumlah derajat kebebasan paling banyak dua, maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam fasa bidang datar berupa suatu segitiga sama sisi yang disebut diagram Terner. Percobaan diagram terner (zat cair tiga komponen) ini bertujuan untuk membuat kurva kelarutan suatu cairan (benzena) yang terdapat dalam dua campuran tertentu (kloroform dan air). Prinsip percobaan ini adalah like dissolve like, yaitu suatu senyawa terlarut sempurna pada pelarut yang kepolarannya cenderung sama, misalnya senyawa polar terlarut pada pelarut polar, ataupun sebaliknya. Selain itu juga menggunakan prinsip kelarutan tiga komponen menurut aturan fasa Gibbs. Metode yang digunakan adalah titrasi (dengan menambahkan zat ketiga yang mampu menambahkan atau mengurangi kelarutan dari dua campuran yaitu kloroform dan air). serta untuk mencari volume titran pada titik akhir titrasi (yaitu, Titik pada saat tidak terjadi perubahan warna. Yaitu dari larutan bening agak keruh menjadi larutan keruh).

Kloroform dan air tidak dapat bercampur sempurna membentuk fase tunggal. karena air bersifat polar sedangkan kloroform bersifat semipolar. Perbedaan kepolaran air dan kloroform tidak terlalu besar sehingga kedua larutan tersebut tidak dapat bercampur sempurna. Terbentuknya dua fase yang tidak saling campur sempurna ini, bisa dibedakan antara air dengan kloroform. Pada saat kesembilan campuran air dengan kloroform ini dititrasi oleh larutan benzena, larutan berubah menjadi keruh. Hal ini terjadi karena pecahnya larutan tiga komponen menjadi dua larutan konjugat terner. Pada kondisi ini campuran yang merupakan fasa tunggal berubah menjadi campuran fasa biner (yaitu satu fasa berupa campuran antara air dan benzena, dan fasa yang lainnya yaitu antara air dan kloroform). Hal ini terjadi karena penambahan benzena pada dua cairan yang dapat bercampur sempurna akan mempengaruhi kelarutan dari cairan air dan kloroform tersebut, dimana benzena akan terlarut sebagian ke dalam air dan kloroform. Pemvariasian volume dimaksudkan untuk memudahkan saat membuat kurva dan mengolahnya menjadi diagram terner. Pada kuva tentu harus didapatkan beberapa titik, karena kurva terdiri lebih dari satu titik. Jadi, dengan memvaraisikan volume air (C) dan kloroform (A) akan didapat lebih dari satu titik untuk diplotkan pada kurva. Pada saat titrasi warna keruh yang dihasilkan tidak boleh terlalu keruh,karena jika terlalu keruh berarti kelarutan benzena pada larutan air dan kloroform tersebut sudah terlalu jenuh. Dari hasil percobaan didapatkan hasil berupa peningkatan fraksi mol air dengan semakin meningkatnya komposisi air didalam Erlenmeyer. Hal ini dikarenakan dengan meningkatnya komposisi atau volume air maka volume kloroform yang terdapat dalaam Erlenmeyer berkurang sehingga fraksi mol airnya menjadi lebih besar dari fraksi mol kloroform karena mol bebanding lurus dengan volume (n=.v/BM).

Dengan begitu, akan terlihat bahwa peningkatan fraksi mol air diikuti dengan penurunan fraksi mol benzena. Hal ini karena sesuai prinsip like dissolve like. Kepolaran benzena berbeda dengan kepolaran air, sehingga benzena semakin sulit larut dengan banyaknya air yang ada, kalaupun bias benzene lebih akan cenderung ke kloroform yang semipolar. Karena itu peningkatan fraksi mol benzene. Dan akan diolah menjadi suatu kurva atau diagram terner (yaitu suatu diagram fasa system zat cair tiga komponen yang digambarrkan dalam suatu segitiga sama sisi). Diagram terrner memudahkan untuk memahami bagaimana pengaruh penambahan suatu zat terhadap kelarutan dua campuran yang tadinya saling larut ssempurna. Dari hasil pembuatan kurva kelarutan suatu cairan pada system tiga komponen ini dapat diketahui bahwa benzena banyak larut dalam kloroform, sedangkan pada air benzene hanya akan larut sedikit atau larut sebagian.

BAB II PERCOBAAN 2.1 Alat - Alat yang Digunakan 1. Erlenmeyer 250 ml 2. Pipet tetes 3. Gelas kimia 500 ml 4. corong 5. Buret dan klem 6. Termometer 7. Alumunium foil 8. Piknometer 9. Gelas ukur 10 ml 2.2 Bahan Bahan yang Digunakan 1. Aquades 2. Heksane 3. Tert-butanol 2.3 Prosedur Kerja 1. Dimasukkan campuran cairan A (tert-butanol) dan C (hexane) kedalam ( labu erlenmeyer yang bersih, kering dan tertutup. Diberikan komposisi sebagai berikut : No. Labu ml ter-butanol 1 2 2 4 3 6 4 8 12 5 10 10 6 12 8 7 14 6 8 16 4 9 18 2

ml hexsane 18 16 14 Volumenya diukur dengan buret. 2.

Dilakukan titrasi pada campuran tersebut dengan aquadest sampai menimbulkan warna keruh. Dicatat volume zat B (aquadest) yang digunakan

3.

Rapat massa masing-masing ditentukan dari cairan murni A,B, dan C.

4.

Dicatat suhu kamar sebelum selama percobaan berlangsung.

2.4 Pengamatan Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat diperhatikan bahwa campuran antara tert-butanol dan hexsane akan menghasilkan warna bening yang saling melarutkan sempurna dan tidak timbul perbedaan fase. Kemudian, setelah larutan tersebut (campuran cairan A dan C) dilakukan titrasi dengan cairan B terjadi perubahan pada larutan. Larutan membentuk 2 lapisan, yaitu terdapat lapisan gel pada bagian atas erlenmeyer saat dilakukan titrasi dan warna larutan menjadi keruh. Selain itu dapat diperhatikan bahwa dengan menggunakan piknometer dapat dilihat rapat massa dari masing-masing cairan murni A,B, dan C. Rapat massa aquades lebih tinggi dibandingkan dengan rapat massa tert- butanol dan hexsane.

BAB III HASIL DAN DISKUSI

3.1 Hasil Percobaan 3.1.1 Pencampuran Tiga komponen zat cair a. b. c. larutan A Larutan B Larutan C = tert-butanol = aquades = heksana Tabl 3.1.1 Volum larutan yang digunakan No. labu A (ml) B (ml) C (ml) 1 2 1,4 18 2 4 2,1 16 3 6 2,3 14 4 8 3,5 12 5 10 4,2 10 6 12 3,4 8 7 14 2,9 6 8 16 2,2 4 9 18 1,1 2

3.1.2 Penentuan Densitas Cairan

aquades = 1,00 gr/cm3 tert-butanol Volume piknometer Berat Piknometer kosong Berat Piknometer kosong + tert-butanol = 10 ml = 16,03 gr = 23,62 gr

Berat tert-butanol tert-butanol

= 7,59 gr = 0,759 gr/cm3

Heksana Volum Piknometer Berat Piknometer kosong + heksana Berat heksana heksana = 10 ml = 22,56 gr = 6,52 gr = 0,652 gr/cm3

3.2 Hasil Perhitungan 3.2.1 Perhitungan Mol zat

a. tert-butanol = 0,759 gr/cm3 Mr = 74 gr/mol

= 0,020514

b. Aquades = 1,00 gr/cm3 Mr = 18 gr/mol

= 0,078 mol

c. Heksana = 0,652 gr/cm3 Mr = 86 gr/mol

= 0,1364 mol

Tabel 3.2.1 Perhitungan Mol tiap komponen Volum (ml) Tertbutanol (A) 2 4 6 (B) 1,4 2,1 2,3 (C) 18 16 14 aquades heksana Tertbutanol (A) 0,020514 0,041027 0,061541 (B) 0,0778 0,1167 0,1278 (C) 0,136465 0,121302 0,10614 Mol aquades Heksana

8 10 12 14 16 18

3,5 4,2 3,4 2,9 2,2 1,1

12 10 8 6 4 2

0,082054 0,102568 0,123081 0,143595 0,164108 0,184622

0,1944 0,233 0,1889 0,1611 0,1222 0,0611

0,090977 0,075814 0,060651 0,045488 0,030326 0,015163

3.2.2 Perhitungan Fraksi Mol zat

XA =

XB =

XC =

Contoh perhitungan : Fraksi mol 2 maka tersier-butanol campuran dengan 18 ml heksana dan 1,4 ml Aquades :

XA =

= 0,087 Tabel 3.2.3 Perhitungan Fraksi Mol komponen

Tert-butanol (A) 0,087382 0,147052 0,295458 0,367475 0,411715 0,372621 0,350194 0,316656 0,260896

Aquades (B) 0,331313 0,418166 0,432474 0,529136 0,566735 0,506919 0,46062 0,38578 0,234236

Heksana (C) 0,581305 0,434782 0,359237 0,247572 0,184142 0,162769 0,129895 0,095768 0,058118

Total 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Dari data diatas, komponen aquades, tert-butanol dan heksana pada diagram terner dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Gambar 3.2.1 Diagram Terner 3.3 Diskusi Pada percobaan ini dilakukan pencampuran tiga komponen, yaitu Tersier butanol (semi polar), aquades (polar) dan heksana (non polar). Untuk mengetahhui kelarutan masing-masing komponen, pertama tersier butanol terlebih dahulu dicampurkan dengan heksana (hekana larut dalam tersier butanol atau non polar larut dalam semi polar) kemudian dititrasi dengan aquades sampai larutan menjadi keruh (aquades larut dalam Tersier butanol atau polar larut dalam semi polar Untuk mengetahui kelarutan masing-masing komponen, dapat dilakukan dengan fraksi mol masing-masing komponen dalam larutan pada setiap perlakuan, lalu memplot fraksi mol pada diagram terner. Percobaan yang dilakukan terbagi menjadi dua tahap, yaitu penentuan massa jenis masing-masing komponen dari titrasi aquades ke dalam campuran Tert-butanol dan heksana. 1. Penentuan massa jenis Massa jenis dapat dihitung dengan menggunakan piknometer massa jenis didapatkan dari selisih antara massa piknometer setelah pengisian larutan dengan massa piknometer kosong dibagi dengan volume piknometer. Fungsi penentuan massa jenis pada praktikum ini adalah untuk menghitung mol suatu zat karena praktikum ini zat yang digunakan berbentuk cair. Dari hasil percobaan didapatkan massa jenis aquades : 1,0 gr/cm3, Tert-butaanol : 0,759 gr/cm3 dan heksana : 0,652 gr/cm3. 2. Titrasi aquades dalam campuran Tert-butanol dan heksana Titrasi dilakukan ke dalam campuran Tert-butanol dan heksana sehingga terbentuk dua fase pada campuran (warna campuran keruh dan terbentuk lapisan menyerupai gel di dasar erlenmeyer). Ketiga zat ini tercampur sebagian. Lapisan

atas merupakan heksana yang sifatnya non polar karena memiliki massa jenis yang lebih rendah yaitu, 0,652 gr/cm3. Setelah dilakukan titrasi, didapatkan volum aquades yang diperlukan untuk mentitrasi campurana tert-butanol dengan heksana sampai campuran menjadi keruh. Untuk mempermudah perhitungan fraksi mol masing-masing komponen dapat dicari menggunakan Microsoft Excell dengan terlebih dahulu memasukkan semua data yang diperlukan untuk mencari mol masing-masing komponen, menggunakan software Prosim Ternary diagram dapat mempermudah pembuatan diagram terner. Penggunaan Prosim Ternary Diagram. Adalah sebagai berikut : 1. Copy semua data fraksi mol yang didapat pada Microsoft Excell. 2. Double klik icon Prosim Ternary Diagram 3. Klik edition 4. Pilih add a surface type series (point + fillings) 5. Klik simbol paste 6. Kemudian klik ok

Dari diagram terner yang didapatkan, dapat dilihat bahwa adanya 5 titik yang letaknya tidak tepat pada garis pencampuran Tert-butanol dengan aquades. Hal ini disebabkan kelebihan dan kekurangan volum aquades pada saat titrasi ini dikarenakan tidak tampak dengan jelasnya. Perubahan warna campuran menjadi keruh. Campuran dapat dikatakan telah menjadi keruh setelah mengocok campuran pada erlenmeyer terlebih dahulu kemudian tampak campuran berbentuk lapisan menyerupai gel. Setelah mengocok campuran pada erlenmeyer terlebih dahulu, kemudian tampak campuran menyerupai gel. Setelah pengocokan selesai, lapisan yang menyerupai gel tidak tampak lagi. Diagram Terner menggambarkan komposisi sistem pada saat terjadi perubahan warna campuran dari jenuh menjadi

keruh. Kekeruhan timbul karena larutan tiga komponen yang homogen pecah menjdai dua larutan terner terkonjugasi.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan a. Diagram Terner digunakan untuk menunjukkan hubungan sifat yang berbeda antara ketiga zat. Zat yang digunakan adalah aquadest bersifat polar, tertbutanol besifat semipolar dan heksana bersifat non polar. Dengan mengunakan air sebagai zat pentiter maka larutan akan berubah menjadi keruh dan terbentuk lapisan gel di dasar erlemeyer.

4.2 Saran

Sebelum melakukan praktikum sebaiknya praktikan mengetahui sifat-sifat kepolaran masing-masing zat dan mengetahui kemungkinan sifat larutan yang akan terbentuk dari pencampuran masing-masing larutan. Praktikan sebaiknya munggunakan masker dan sarung tangan karena menggunakan zat-zat yang berbahaya. Pada saat titrasi harus sangat hati-hati karena proses titrasi harus dihentikan dengan melihat perubahan kekeruhan campuran.

BAB V TUGAS DAN JAWABAN PERTANYAAN 1. Lakukan percobaan di atas untuk zat A, B dan C sesuai dengan tugas dari asisten. Berdasarkan zat yang diberikan, tentukan sendiri zat mana yang memiliki sifat sebagai komponen A, B, dan C. Beberapa kemungkinan tugas adalah : Jawab : berdasarkan praktikum zat yang memiliki sifat komponen A, B, dan C, yaitu :

Zat A = tert-butanol Zat B = aquades Zat C = heksana Berdasarkan kepolarannya seharusnya susunan dari komponen zat A, B dan C seperti di bawah ini : Zat A = aquades (polar) Zat B = tert-butanol (semipolar) Zat C = heksanan (non polar) Namun, instruksi dari asisten mengatakan bahwa untuk yang pentiter adalah aquades untuk penghematan zat yang seharusnya menjadi zat pentiter adalah tert-butanol. 2. Hitung konsentrasi ketiga komponen dalam % mol untuk tiap campuran ketika terjadi perubahan jumlah fasa, dengan rumus : Jawab : a. Tert-butanol = 0,759 gr/cm3 Mr = 74 gr/mol

b. Aquades = 1 gr/cm3 Mr = 18 gr/mol

c. Heksana = 0,652 gr/cm3 Mr = 86 gr/mol

Tabel 5.1 Konsentrasi Tiga Komponen Dalam Fraksi Mol (% Mol) mol A 0,0205135 0,041027 0,0615405 0,0820541 0,1025676 0,1230811 0,1435946 0,1641081 0,1846216 mol B mol C 0,1364651 % mol A 8,73821239 9 14,7052374 2 20,8288728 4 22,329138 24,9122824 9 33,0311596 41,0042898 2 51,8253732 3 70,7645800 9 % mol B 33,131269 4 41,816606 2 43,247379 1 52,913617 5 56,673528 50,691942 1 46,006235 2 38,597802 1 23,423595 1 % mol C 58,13051822 43,47815639 35,92374809 24,75724447 18,4141895 16,27689829 12,98947497 9,576824645 5,811824787

0,0777778 2 0,1213023 0,1166667 3 0,1061395 0,1277778 3 0,0909767 0,1944444 4 0,0758139 0,2333333 5 0,0606511 0,1888889 6 0,0454883 0,1611111 7 0,0303255 0,1222222 8 0,0151627 0,0611111 9

3. Gambarkan ke sembilan titik pada percobaan di atas pada kertas grafik, dan buat kurva binodalnya sampai memotong sisi AB dari segitiga? Jawab :

Gambar 5.1 Diagram Terner Tiga Komponen 4. Dapatkah penggambaran komposisi cairan dalam diagram terner dinyatakan dalam %volume? Jelaskan jawaban saudara ! Jawab : Penggambaran diagram terner tidak dapat dinyatakan dalam % volum. Hal karena masing-masing larutan memiliki massa jenis dan berat molekul yang berbeda-beda, sehingga dalam penggunaannya bukan hanya volum yang berpengaruh dalam perhitungannya melainkan juga massa jenis dan berat molekul masing-masing larutan tersebut agar diperoleh hasil yang akurat. Diagram terner hanya dapat dinyatakan dalam % mol (fraksi mol) dan % berat.

LEMBAR PERHITUNGAN

Penentuan Densitas Cairan Densitas Tert-butanol :

= 0,759 gr/cm3
Densitas Heksana :

= 0,759 gr/cm3

Perhitungan Mol zat

Perlakuan 1 : Mol Tert-butanol n=

= 0,020514 mol Mol aquades

n=

= 0,0778 mol Mol Heksana

n=

= 0,136465 mol
Perlakuan 2 : Mol Tert-butanol n=

= 0,041027 mol

Mol aquades n=

= 0,116667 mol Mol Heksana

n=

= 0,121302 mol

Perlakuan 3 : Mol Tert-butanol

n=

= 0,061541mol

Mol aquades n=

= 0,1278 mol Mol Heksana

n=

= 0,10614 mol
Perlakuan 4 : Mol Tert-butanol n=

= 0,082054 mol

Mol aquades n=

= 0,1944 mol

Mol Heksana

n=

= 0,090977 mol
Perlakuan 5 : Mol Tert-butanol n=

= 0,102568 mol

Mol aquades n=

= 0,233 mol Mol Heksana

n=

= 0,075814 mol

Perlakuan 6 : Mol Tert-butanol

n=

= 0,123081mol

Mol aquades n=

= 0,1889 mol Mol Heksana

n=

= 0,060651 mol
Perlakuan 7 : Mol Tert-butanol n=

= 0,143595 mol

Mol aquades n=

= 0,1611 mol

Mol Heksana

n=

= 0,045488 mol

Perlakuan 8 : Mol Tert-butanol n=

= 0,164108 mol

Mol aquades n=

= 0,1222 mol Mol Heksana

n=

= 0,030326 mol
Perlakuan 9 : Mol Tert-butanol

n=

= 0,184622 mol

Mol aquades n=

= 0,0611 mol Mol Heksana

n=

= 0,015163 mol
Perhitungan Fraksi Mol zat

Perlakuan 1 :

Xtert-butanol

= 0,087382

Xaquades

= 0,331313

Xheksana

= 0,581305 Perlakuan 2 :

Xtert-butanol

= 0,147052

Xaquades

= 0,418166

Xheksana

= 0,434782 Perlakuan 3 :

Xtert-butanol

= 0,295458

Xaquade

= 0,432474

Xheksana

= 0,359237

Perlakuan 4 :

Xtert-butanol

= 0,367475

Xaquades

= 0,529136

Xheksana

= 0,247572

Perlakuan 5 :

Xtert-butanol

= 0,411715

Xaquades

= 0,566735

Xheksana

= 0,184142 Perlakuan 6 :

Xtert-butanol

= 0,372621

Xaquades

= 0,506919

Xheksana

= 0,162769 Perlakuan 7 :

Xtert-butanol

Xaquades

= 0,46062

Xheksana

= 0,129895

Perlakuan 8 :

Xtert-butanol

= 0,316656

Xaquades

= 0,38578

Xheksana

= 0,095768 Perlakuan 9 :

Xtert-butanol

= 0,260896

Xaquades

= 0,234236

Xheksana

= 0,058118