Anda di halaman 1dari 2

EZKA AMALIA 09/283366/SP/23675

MENATA KEMBALI NEGARA MODERN: PENERAPAN POWER SHARING DAN FEDERALISME DI NIGERIA
Dalam bukunya yang berjudul Rethinking Multiculturalism: Cultural Diversity and Political Theory, Bikhu Parekh menulis tentang bagaimana konteks kultural dari negara saat ini. Pemikiran Parekh tersebut dituangkan dalam salah satu bab di bukunya yaitu Reconstituting Modern State. Menurut Parekh, di satu sisi negara memang membuat ruang untuk aksi ataupun tindakan kolektif dari warganya terkait identitas mereka. Namun di sisi lain penerapan tersebut juga menjadi sebuah batasan yang dibuat oleh negara terutama ketika menyangkut masalah loyalitas. Misalnya saja terkait status kewarganegaraan. Status ini menurut Parekh di satu sisi memberikan identitas yang sama bagi setiap warga negara, namun di sisi lain status ini menempatkan individu ataupun warga negara dalam identitas yang mengekang identitas lain misalnya identitas kesukuan, agama, dan lain-lain. Selain itu, dalam bab keenam dari bukunya tersebut, Parekh juga menyatakan bahwa pada akhirnya tujuan sebuah negara adalah membentuk sebuah bangsa yang homogen. Untuk itu Parekh mengajukan proposisi yaitu seharusnya negara dipisahkan dari bangsa. Negara seharusnya merupakan federasi budaya, etnis dan dibebaskan dari konsep bangsa yang tunggal yang diikat oleh ikatan politik dan hukum bersama. Dengan kata lain, negara harus dibentuk secara pluralistic dan baru kemudian dapat menjadi sebuah kerangka politik yang sesuai untuk masyarakat suatu negara yang beragam baik budaya maupun etnis. Solusi yang dikemukakan oleh Parekh ini sebenarnya merupakan salah satu solusi untuk merespon perbedaan yang ada dalam suatu masyarakat di suatu negara. Ada dua model respon utama terkait perbedaan dalam masyarakat yaitu respon melalui model menghilangkan atau mengeliminasi perbedaan dan respon melalui model mengelola perbedaan itu sendiri. Salah satu contoh respon melalui model mengelola perbedaan adalah melalui non-territorial autonomy berupa bentuk pemerintahan yang didasarkan pada demokrasi konsosiasional ataupun adanya pembagian kekuasaan. Hal ini dapat kita lihat penerapannya di Nigeria. Nigeria merupakan negara yang sangat terpecah masyarakatnya. Ada sekitar 300 lebih kelompok etnis yang tinggal di Nigeria. Jumlah yang sangat besar tersebut kemudian terbagi menurut proporsi jumlah anggota etnis terhadap total jumlah penduduk Nigeria. Mereka juga terbagi lagi berdasarkan bagaimana pengaruh kelompok-kelompok etnis dalam kehidupan politik di Nigeria yaitu kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Kelompok mayoritas terdiri dari etnis Hausa-Fulani, Yoruba dan Igbo. Sisanya merupakan kelompok minoritas dengan berbagai tingkatan status politik yang tergantung pada jumlah anggota etnis dan pengaruh terhadap politik. Kelompok-kelompok etnis ini juga terkonsentrasi pada daerah-daerah yang dapat teridentifikasi. Tiga kelompok mayoritas tadi berada di sebelah tenggara, barat daya, dan barat laut. Sedangkan kelompok minoritas berada di sebelah selatan, utara tengah dan timur laut Nigeria. Hal ini kemudian menyebabkan adanya diversifikasi dalam perwakilan politik di Nigeria. Ada lima pembagian kelompok elit di Nigeria yaitu Northern Elite, Yoruba Elite, Igbo Elite, Niger Delta Elite dan Middle Belt Elite. Selama penjajahan Inggris, Nigeria baru mempunyai identitas bersama setelah amalgamasi dilakukan oleh Inggris. Merdeka pada tahun 1960, enam tahun kemudian Nigeria mulai mengalami perang sipil pertama kali hingga tahun 1970 setelah etnis Igbo melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang dibalas oleh kelompok-kelompok etnis di sebelah utara Nigeria. Setelah itu, Nigeria berada di bawah militer meskipun pada kurun waktu 1979 hingga 1983 sempat berada di tangan sipil. Baru pada tahun 1999, Nigeria kembali berada di bawah pemerintahan sipil. Power sharing di Nigeria sendiri berada pada tiga bidang penting yaitu didasarkan pada wilayah atau federalisme, ekonomi dengan bagi hasil serta pada bidang politik dengan adanya distribusi jabatan. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi kelompok-kelompok etnis yang takut kelompok etnis, negara bagian maupun kelompok agama lain akan memiliki kekuasaan yang lebih besar. Federalisme di Nigeria sendiri sebenarnya sudah ada sejak Nigeria belum merdeka. Awalnya, Nigeria terdiri dari tiga negara bagian. Kemudian setelah

merdeka, pada tahun 1967 Nigeria terdiri dari 12 negara bagian. Hal ini dilakukan agar tidak ada dominasi dalam pemerintahan pusat. Pembagian ini didasarkan pada etnisitas dan membagi kekuasaan secara sama rata kepada kelompok etnis sesuai wilayah mereka tinggal. 12 negara bagian tersebut kemudian bertambah menjadi 19 negara bagian meski pertambahan tujuh negara bagian tidak lagi didasarkan pada etnisitas. Padahal, saat itu kontrol atas negara bagian merupakan hal penting jika ingin memiliki pengaruh terhadap politik Nigeria dan alokasi sumber daya alam. 19 negara bagian kemudian bertambah menjadi 21, bertambah lagi menjadi 30 dan terkahir 36 negara bagian. Perubahan ataupun penambahan jumlah negara bagian di Nigeria ini awalnya merupakan bentuk keinginan komunitas lokal atau kelompok etnis untuk memiliki negara yang diperintah oleh kelompok mereka sendiri. Pada akhirnya ini menjadikan kekuasaan semakin terpusat pada pemerintah pusat karena semakin lemahnya negara bagian. Pembagian kekuasaan yang berikutnya adalah melalui pembagian jabatan. Permasalahan pembagian jabatan di Nigeria merupakan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok-kelompok etnis di Nigeria dan secara garis besar merupakan permasalahan antara wilayah Utara dengan Selatan. Permasalahan ini kemudian diselesaikan dengan adanya Federal Charter yang berisi tentang pembagian kekuasaan dengan sistem kuota. Sistem kuota sendiri sebenarnya sudah diterapkan semenjak Nigeria belum merdeka. Pembagian jabatan di Nigeria sendiri berbeda dengan pembagian jabatan di Lebanon. Di Nigeria, peraturan pembagian jabatan hampir sama dengan pembagian jabatan di negara-negara yang berbentuk federalisme. Misalnya saja, untuk menjadi presiden, seorang calon harus memiliki mayoritas suara dalam pemilihan umum. Dalam laporan yang dikeluarkan pada tahun 1997, Federal Charter Commission menyatakan bahwa harus ada sistem yang adil dalam pembagian jabatan di Nigeria. Misalnya dalam hal jabatan pegawai negeri sipil di lingkungan negara federal, jika tersedia 2 jabatan, maka satu jabatan akan diberikan kepada kelompok di sebelah utara dan sisanya diberikan kepada kelompok di sebelah selatan. Terakhir, power sharing di Nigeria juga meliputi bidang ekonomi yaitu adanya pembagian pendapatan baik antara pemerintah pusat dengan pemeirntah negara bagian maupun antar pemerintah negara bagian sendiri. Yang menjadi sumber konflik hingga saat ini di Nigeria adalah bagaimana pembagian pendapatan itu seharusnya dilaksanakan. Apakah dengan prinsip kebutuhan setiap negara bagian? Atau dengan prinsip persamaan yaitu setiap negara bagian mendapatkan jumlah yang sama? Atau berdasarkan kepentingan nasional? Hingga saat ini, sumber konflik utama di Nigeria dalam pembagian pendapatan adalah menyangkut permasalahan minyak di wilayah Delta Niger. Pada akhirnya, bahkan pembagian kekuasaan atau power sharing di Nigeria belum dapat mengakhiri konflik antar etnis di Nigeria itu sendiri. Selain itu, jika kita melihat istilah yang dipakai yaitu federalisme maka kita akan mengaitkannya dengan territorial autonomy, padahal dalam pembentukan negara bagian, ada unsur etnisitas di dalamnya. Jadi, menurut saya, di Nigeria telah diterapkan dua model untuk mengatur perbedaan yaitu melalui otonomi wilayah dan otonomi non-wilayah dan dua-duanya hingga saat ini masih belum dapat menyelesaikan konflik di Nigeria.