KARAKTERISTIK LINGKUNGAN FISIK ( ABIOTIK

)

Terdiri dari 6 Karakteristik Lingkungan Fisik (Abiotik), yaitu;

1. Karakteristik Klimatologi & Kualitas Udara

Curah hujan rata-rata tiap tahun di Jawa Barat berkisar mengalami kenaikan dari tahun
sebelumnya (3.063 mm/tahun) dengan kisaran curah hujan antara 2.123 - 4.669 mm/tahun.
Jawa Barat memiliki iklim tropis, selama ini suhu terendah tercatat 9oC yaitu di Puncak
Gunung Pangrango dan suhu tertinggi tercatat 34oC di daerah pantai utara.Kecepatan angin
rata-rata selama tahun 2009 sebesar 3 knot dengan tekanan udara sebesar 922,9 mb dan
kelembaban nisbi mencapai 79 persen.

2. Karakteristik Geologi

Proses geologi yang terjadi jutaan tahun lalu menyebabkan Provinsi Jawa Barat dengan luas
3,6 juta hektar, terbagi menjadi sekitar 60% daerah bergunung dengan ketinggian antara
500-3.079 meter dpl dan 40% daerah dataran yang memiliki variasi tinggi antara 0-500
meter dari permukaan laut. Secara geologis daratan Jawa Barat merupakan bagian dari busur
kepulauan gunung api (aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung utara Pulau
Sumatera hingga ujung utara Pulau Sulawesi. Jawa Barat didominasi oleh endapan alluvial
yang terdapat di bagian utara dan sebagian di selatan. Endapan lainnya yang cukup dominan
adalah Elosen yang terdapat di bagian tengah - timur, dan alluvial faces gunung api di bagian
tengah - barat.

3. Karakteristik Geomorfologi

Geomorfologi pada daerah ini didominasi oleh Blok Pegunungan Patahan yang membentang
dari barat ke timur, yaitu dari Teluk Pelabuhan Ratu hingga ke Teluk Nusakambangan.
Proses geomorfologi yang bekerja pada daerah Jawa Barat bagian tengah adalah prosesproses vulkanik. Adanya penunjaman lempeng samudera di bawah Pulau Jawa menyebabkan
magma yang ada di dalam bumi terusik dan menerobos keluar sehingga membentuk gunung
api.

Jawa Barat bagian tengah yang merupakan daerah berbukit dan bergunung serta daerah lembah-lembah diantara gunung-gunung tersebut.1. dan sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Banten. secara geografis. Lamun di sini hanya hidup di beberapa daerah yang dangkal. ditutupi oleh jenis tanah alluvial yang subur untuk lahan pertanian/persawahan. berarus tenang. sedangkan jumlah air tanah tertekan sekitar 985 juta m3/tahun. juga ditutupi oleh jenis tanah alluvial.500 m di atas permukaan laut (dpl).4. berbatasan dengan Laut Jawa dan Provinsi DKI Jakarta.5% dari total luas wilayah Jawa Barat) terletak di bagian Selatan dengan ketinggian lebih dari 1. terlindung dan banyak di antara dataran karang (coral flat). Karakteristik Oseanografi Adanya ekosistem padang lamun di perairan Kabupaten Sukabumi.377 milyar m3/tahun. wilayah lereng bukit yang landai (36. sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia. air irigasi pertanian . sebelah Timur. dan litosol yang dapat dimanfaatkan untuk lahanlahan tanaman perkebunan 5.307 km2. dan perkebunan (17.41%). sementara hutan primer dan hutan sekunder di Jawa Barat hanya 15.93% dari seluruh luas wilayah Jawa Barat. Sedangkan Di bagian selatan merupakan daerah pegunungan ditutupi oleh jenis-jenis tanah latosol. 6. terletak pada posisi 5o50’ . Pemanfaatan sungai tersebut antara lain untuk air rumah tangga.7o50’ Lintang Selatan dan 104o48’ . Tutupan lahan terluas di Jawa Barat berupa kebun campuran (22.710.89 % dari luas wilayah Jawa Barat).03%) terletak di bagian Utara dengan ketinggian 0 – 10 m dpl. berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Jawa Barat memiliki 27 buah cekungan airtanah yang terdiri dari 8 cekungan lokal. Total luas cekungan airtanah di Jawa Barat sekitar 26. dengan batas wilayah : sebelah Utara.108o48’ Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi Jawa Barat meliputi wilayah daratan seluas 3.48%) terletak di bagian Tengah dengan ketinggian 10 . organosol.27%). Karakteristik Tanah Pada umumnya tingkat kesuburan tanah di Jawa Barat cukup baik. 15 cekungan lintas kabupaten/kota dan 4 cekungan lintas propinsi. sedangkan jumlah total potensi airtanah bebas (Q1) sekitar 15. dan wilayah dataran luas (54.829 km.061. Karakteristik Hidrologi Sungai Citarum sangatlah penting bagi pembangunan Jawa Barat dan kesejahteraan penduduknya. sawah (20. . daerah dataran rendah di sepanjang pantai utara misalnya.500 m dpl. Daratan Jawa Barat dapat dibedakan atas wilayah pegunungan curam (9. Pada Pantai Ujung Genteng misalnya ditemukan jenis yang dominan adalah adalah ThalassiaProvinsi Jawa Barat.32 hektar dan garis pantai sepanjang 755.

Ciamis 273. Cianjur 361.id/newsipid/id/commodityarea.435. Majalengka 130.php? ia=32&ic=1407 LUAS WILAYAH JAWA BARAT MENURUT KABUPATEN/KOTA Luas Wilayah No Kabupaten/Kota Daratan Garis Pantai ( Ha ) Km *) 1 2 3 4 1 Kab.7°C dan kelembaban udara antara 73–84%.Air permukaan tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan industri. dan air minum.938. Data BMKG menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2008.343.15 km2. Tasikmalaya 270.646.663.501.Iklim di Jawa Barat yaitu tropis.53 75.50 117.55 0.158.00 .go.00 4 Kab.75 52. Kuningan 121.00 6 Kab.01 0. Bandung 172.007.bkpm. Indramayu 210. pertanian.00 12 Kab.55 0.53 7 Kab.8 mm.70 114.00 3 Kab.89 - 10 Kab.000juta m3.6 hingga 332. Jawa Barat dialiri 40 sungaidengan wilayah seluas 32. Cirebon 107.250.00 8 Kab.00 2 Kab.173. http://regionalinvestment.87 0.00 9 Kab.195. Sukabumi 416.29 0. turun hujan selama 1-26 hari setiap bulannya dengan curah hujan antara 3.00 11 Kab. dengan suhu rata-rata berkisar antara17. Garut 311. Sumedang 156.075.4 – 30.267waduk/situdengan potensi air permukaan lebih dari 10. Bogor 297.969.Terdapat peningkatan jumlah perusahaan yang aktif memanfaatkan air permukaan menjadi 625 perusahaan dari 606 perusahaan pada tahun 2007. Jawa Barat juga memiliki 1.00 5 Kab.54 72.99 91.

498.32 755.00 25 Kota Tasikmalaya 18. Bekasi 126.40% > 40% 3 4 5 6 7 .000) Ket : *) Data bersumber dari Kabupaten/Kota -) Tidak ada data\ LUAS KEMIRINGAN LERENG DI JAWA BARAT MENURUT KABUPATEN/KOTA Luas Lereng (Ha) < 8% 8 .20 14 Kab. Purwakarta 99.277.00 Jawa Barat 3.00 23 Kota Depok 20.00 26 Kota Banjar 13.00 24 Kota Cimahi 4.85 0.72 0.90 0.14 - 22 Kota Bekasi 21.86 - 17 Kab.400.898. Karawang 191.710.83 0.770.243.25% 26 .382.445.00 18 Kota Bogor 11.00 21 Kota Cirebon 3.13 Kab.40 0.46 0.68 48.10 0.83 paten/Kota Sumber : Bapeda Provinsi Jawa Barat.21 0.00 16 Kab.601.00 15 Kab.470. Bandung Barat 129.99 0.80 57.15% 16 .883. Subang 217.061.00 20 Kota Bandung 17.899.438.19 0.00 19 Kota Sukabumi 4. 2007 (Pemutakhiran Batas Administrasi Jawa Barat 2005 Berdasarkan Peta Dasar Rupabumi Indonesia Skala 1:25.564.

300.7 5.8 13.384.0 Cirebon 4.4 14.6 0.4 3.1 0.397.656.449.284.0 0.742.658.972.919.5 16.9 Ciamis 133.476.052.014.135.0 99.4 0.0 23.6 316.2 58.4 Purwakarta 59.907.7 45.3 1.0 0.779.493.0 Subang 176.6 2.762.099.353.7 875.6 58.5 Garut 76.8 641.265.5 Cianjur 116.5 9.710.276.1 49.0 1.7 Majalengka 90.1 1.1 18.206.4 ndramayu 209.0 0.0 Bekasi 19.679.Bogor 156.513.384.6 2.054.0 Bandung Barat 43.2 592.5 4.9 23.4 6.162.4 24.8 31.2 16.131.700.2 166.121.7 76.5 70.9 Bogor 11.2 Karawang 183.0 47.164.3 37.0 Sukabumi 5.610.6 29.070.4 7.5 17.602.462.0 93.080.331.3 2.0 .570.9 10.873.224.0 23.0 0.1 282.3 Bekasi 126.6 33.1 Sumedang 59.5 Tasikmalaya 93.781.122.716.8 19.952.0 Cirebon 100.038.0 0.3 141.1 42.0 79.724.514.3 126.9 11.0 Bandung 16.128.5 0.8 28.9 1.220.301.6 396.9 7.014.6 1.766.3 0.8 1.2 771.4 0.114.819.7 621.700.607.1 41.9 Sukabumi 152.8 10.4 0.4 35.776.371.0 2.9 15.6 1.021.480.643.765.926.160.1 2.9 74.712.274.4 96.0 0.3 71.2 Kuningan 56.8 48.2 97.903.018.789.0 2.9 24.9 925.1 147.995.267.478.7 Bandung 64.667.2 2.768.1 159.2 46.

02 4 Kab.2 535. Cirebon 0.07 31.4 1. Cianjur 77.22 52.4 625.008.57 5 Kab.383.0 104.8 1.38 198.240.42 61.400.2 277.19 3 Kab.98 0.20 71.00 27.076.064.977.18 10. Bogor 46.650.0 Barat 2.345.42 278.129.769.52 1.72 17.641.31 1.848.6 2.10 92.250.67 25.374.48 7.369. Sukabumi 55.96 8 Kab.136.2 381.031.33 61.Depok 19.65 0. 2007 (data kelas lereng diturunkan dari data kontur topografi Rupabumi Indonesia Skala 1 : 25.4 65.118 Sumber : Bapeda Provinsi Jawa Barat.582.88 .00 125.870.827.303.41 0.794.40 6.0 0.327.0 Tasikmalaya 15.9 0.00 12.0 0.05 211.15 9 Kab.603.844.00 77.94 1.039.03 142.752.870.45 2.0 Banjar 10.286.56 488.85 1.83 0.159.723.00 71.43 6 Kab.411.3 727.989. Tasikmalaya3.1 333.3 19.24 65. Garut 51.5 0.2 146.957. Bandung 30.00 53. Kuningan 3.73 0.99 7 Kab. Primer (Ha) Kawasan Kawasan Hutan PerKebun dan Zona Sekunder tambangan/ Campuran Industri Galian (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 1 Kab.368.00 58.847.6 2.0 0.784.0 Cimahi 4.004.06 2 Kab.000) TUTUPAN LAHAN DI JAWA BARAT TAHUN 2005 MENURUT KABUPATEN/KOTA Hutan Kabupaten/Kota No.91 192.886.8 0.43 992. Ciamis 2.

78 28.00 2.407.937.16 13.00 18.39 94.00 1.796.10 Kab.001.825.00 0.35 0.919.84 47.03 16 Kab.68 269.02 24 Kota Cimahi 4. Karawang 1.486.34 0.38 3.30 23.36 27.11 293.00 449.468.00 1.53 9.21 3.463.34 28.00 55.50 267.68 Kota Tasikmalaya 0.00 5.02 30.378.64 20.713.93 0.273. Bekasi 586.131.377.81 738.073.92 849.47 3.67 47.44 26 Kota Banjar 0.74 0.88 19 Kota Sukabumi 40.901.00 361.00 4.00 2.78 20.00 0. Bandung Barat Jawa Barat Tabel Lanjutan 321.56 0.50 18 Kota Bogor 225.84 22 Kota Bekasi 0.84 0.15 1.35 11 Kab.20 23 Kota Depok 93.327.350.72 .239.00 0. Purwakarta 6.273.84 1.82 30.70 14 Kab.00 74.885.04 317.654.294.40 12.59 3.45 17.95 412.00 35.262.16 21 Kota Cirebon 0.636.00 535. Majalengka 1.81 1.68 0.55 488.00 367.85 13 Kab.68 15. Subang 18.00 829.74 17 25 Kab.637.00 244.377.28 6.39 0.00 51.794.731.836.887.68 290.87 20 Kota Bandung 1.52 0.48 12 Kab. Sumedang 2.13 0.128.23 0. Indramayu 0.06 0.52 346.99 0.00 28.443.08 15 Kab.74 29.08 914.11 3.050.87 374.89 17.972.

48 940.87 9.01 89.717.022.310.06 5.006.026.77 18.434.27 2.70 11.20 7.97 4.54 13.411.144.68 27. Kuningan 13.916.623.66 801.15 19.171.52 4.645.75 2.27 0.87 8.009.964. Karawang 7.75 85. Cianjur 75.50 2.638. Bandung Barat 18 Kota Bogor 656.39 3.47 1.81 2.49 12 Kab.74 470.77 10 Kab.047.64 17 Kab. Majalengka 26. Sumedang 24. Subang 34.83 2.06 8.34 7 Kab.07 67.216.098.196.87 3.92 29.81 800.346.831.30 338.57 302.66 13 Kab.426.61 16 Kab.72 3.49 21.73 10. Sukabumi 64.81 8 Kab.75 4 Kab.517.281.68 10.29 632.220.33 1.23 8. Cirebon 15.32 14.48 11 Kab.927.68 89.88 163.266.472.129.662.28 13.45 17.83 6 Kab. Bekasi 8.838.911.29 3 Kab.60 5.312.83 .66 34.444.65 6.50 37.737.888.74 5.00 3.95 14 Kab.635.50 56.917.147.659.920.882.872.58 5 Kab.83 27.889.908.091.04 5.14 49.703. Indramayu 18.09 25.43 6.097.No.37 1.75 65.607.976.984. Tasikmalaya82.51 1.946.147.96 11.20 1.59 618.658.12 4.112.27 2.493.10 3.29 15 Kab.920.33 2.26 455.005. Garut 65.180.111.69 11. Kabupaten/Kota Perkebunan Permukiman Sawah (Ha) (Ha) (Ha) Sungai/ Semak Tumbuh Belukar Air/ Danau/ Waduk/Situ (Ha) (Ha) 1 Kab.454.858.123.852.02 414.633. Bandung 60.550.106.50 4. Bogor 58.73 9 Kab.96 2 Kab.447.726. Ciamis 26.98 10. Purwakarta 34.886.979.003.52 4.646.737.39 19.07 267.

90 12.644.10 0.24 21 Kota Cirebon 585.875.007.22 36. Sukabumi 79.070.99 24 Kota Cimahi 0.97 0.100.05 5 Kab.39 6 Kab.565.102.906.00 0.735.69 7. Garut 30.00 2.15 3 Kab.53 294.00 1.00 1.00 22 Kota Bekasi 1.60 0.342.29 2. Cianjur 52.79 25 Kota Tasikmalaya 26 Kota Banjar Jawa Barat 646.90 4.01 675.951.01 2 Kab.00 893.92 0.396.41 2.22 13.00 0.492.912.202.00 20 Kota Bandung 6.00 101.669.10 54. Bogor 24.024.932.130.43 178. Bandung 17.76 0.00 2.05 0.76 752.90 53.17 1.84 14.032.00 116.00 397.096.006.26 2.85 2.27 0.19 Kota Sukabumi 18.00 160.488.256.106.887.14 0.50 8.04 12.05 2.00 180.04 18.78 0.85 1.442.00 278.329.36 9.96 2.69 0.298. Tasikmalaya 17.23 0.20 4.06 1.244.30 23 Kota Depok 2.26 4 Kab.258.035.93 844.49 Tabel Lanjutan No.200.18 0.18 .24 0.281.00 440. Kabupaten/Kota Ladang/ Tegalan Padang Rumput/ Ilalang Tambak Tanah Kosong Terbuka (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) 1 Kab.157.44 30.24 96.

20 184.65 8.00 0.31 153.505.05 18 Kota Bogor 101.93 0.00 0.398.7 Kab.09 130.00 26 Kota Banjar 383.626.09 0.236.08 33.777.265.00 42.44 16.09 17.001.79 1.54 434.33 24 Kota Cimahi 19.00 23 Kota Depok 1.13 0.81 1.68 10 Kab.00 0.00 0. Kuningan 10. Sumedang 22.00 21 Kota Cirebon 288.283.24 17. Indramayu 19.08 11.94 11.40 4.00 19 Kota Sukabumi 49.13 0.00 115.87 807.035.862.60 0.73 0.68 0.534.61 51.81 994.050.290. Majalengka 20.50 1.00 83.205.00 1.74 58.525.00 0.525.89 8 Kab.63 0.63 4.150.428.06 0.56 12 Kab.49 40.54 4.00 22 Kota Bekasi 1.90 14 Kab.55 560.53 1.922.00 47.763.00 13 Kab.306.519.442.00 0. Bekasi 6.85 44.54 17 Kab. Ciamis 10.108.12 0.10 416.70 0.67 12.488.76 8.350.207.502.11 33.87 19.45 0.92 677.710.31 15 Kab. Cirebon 3.591.55 20 Kota Bandung 391.07 9.208.17 Jawa Barat 368.354.20 .23 11 Kab.00 1.67 9 Kab.656.00 0.62 72.27 16 Kab.34 2. Purwakarta 5.30 0. Karawang 7. Subang 17.51 128.21 5. Bandung Barat 18.65 308.464.00 25 Kota Tasikmalaya 914.

75 233.89 603.41 79.00 273. Subang 58. Cirebon 1.00 555. Tasikmalaya 23.00 172.00 15. LUAS DAN POTENSI SITU/WADUK.18 41.388.96 485.69 15 Kab.17 117.23 470.00 98.00 0.00 0.15 555.00 41.00 13.49 233.00 596.00 988.00 3.00 26.388.121.00 101.00 0.18 4 Kab. Sukabumi 102.30 5.69 117.75 9 Kab.00 13 Kab. 2007 (Hasil interpretasi citra Landsat TM Tahun 2005 Skala 1 : 100.Sumber : Bapeda Provinsi Jawa Barat.00 77.286.00 18.69 16 Kab. Kuningan 52.00 0.67 204.00 452.286.00 58.00 437.00 12. Indramayu 11.00 0. Kabupaten/Kota 1 Kab.00 20.00 58.000) JUMLAH. Bandung 8.93 7 Kab.04 14.00 60.00 101. EMPANG DI JAWA BARAT MENURUT LOKASI Situ/Waduk No Kabupaten/Kota 1 2 Jumlah (Buah) Luas (Ha) 2006 2007 2008 2006 2007 2008 3 7 8 4 5 6 I.15 2 Kab.23 Jumlah I 3.00 57.67 10 Kab.69 988.00 11.00 6 Kab.00 28.36 14.36 .00 3.00 26. Garut 101.30 5 Kota Bandung 0.00 5.00 577. Karawang 13.00 265.00 0.00 13.93 265.00 4.00 57.04 11 Kab.96 12 Kab.121. Cianjur 20.93 485.00 101. Bogor 94.41 3 Kab. Ciamis 13.20 603.00 605.47 8 Kab.00 79.00 79.00 13.00 29.00 98.00 894.00 63.00 11.00 228.00 101.83 470.00 19.00 59.00 13.89 14 Kab/Kota Bekasi 51.42 457. Sumedang 0.00 37.00 54.00 13.00 207.00 429.00 4.47 273.166.04 457.00 204. Majalengka 30.00 0.00 0.

223. LUAS DAN POTENSI SITU/WADUK.402.00 3 Kab.00 300.00 7 Kab.297.402. Garut 1.00 60.54 1.920.00 917. Cianjur 558.710.89 Tabel Lanjutan UMLAH.00 117.990.998.223.00 558.00 1.00 157.80 2 Cisadea Cimandiri 110.44 4 Cimanuk Cisanggarung 198.26 622.00 0.54 1.163.280.402.00 10.00 136. EMPANG DI JAWA BARAT MENURUT LOKASI Situ/Waduk No Kabupaten/Kota 1 2 Potensi/M3 2006 2006 2006 9 9 9 I.949.00 136.00 917.31 154.00 768.370.285.28 18. Bandung 768.80 810.297.280.00 3.50 62.00 1.01 14.370.44 154.00 10. Kabupaten/Kota 1 Kab.990.297. Ciamis 1. Tasikmalaya 3.00 291.37 525. Kuningan 300.00 6 Kab.00 768.00 8 Kab.54 9 Kab.280.998.00 .90 14. BPSDA 1 Ciliwung Cisadane 150.97 810.163.723.285.00 662.285. Cirebon 62.26 525.00 300.00 117.62 1.00 1.II.920.89 18. Sukabumi 917.943.50 10 Kab.920.00 3.223.00 558.723.00 192.49 1.00 2 Kab.00 111.010. Bogor 10.010.00 4 Kab.370.472.998.710.990.00 157.010.00 777.00 5 Kota Bandung 0.00 1.00 3.49 5 Citanduy Ciwulan Jumlah II 43.00 662.00 0.90 3 Citarum 121.949.710.50 62.00 192.00 60.290.

935.910. BPSDA 1 Ciliwung Cisadane 1.935.935.914.910.956. Indramayu 423.96 1. 2009 JUMLAH DAN POTENSI AIR PERMUKAAN (SUNGAI) DI JAWA BARAT MENURUT LOKASI No.00 16 Kab.17 3.956.46 4 Cimanuk Cisanggarung 1.166.000.914.52 166.166.590.166.93 5 Citanduy Ciwulan 437.00 190.050.208.383.711.00 13 Kab.956.05 437.91 5.52 166.52 3 Citarum 2.05 437.00 0.334. Sumedang 0.46 2. Subang 3.96 2 Cisadea Cimandiri 166.93 1.334.17 Jumlah I 32.000.910.00 0.208.208.000.590.05 5.17 3.00 423. Karawang 190.05 32. 1 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Jumlah Sungai ( BPSDA ) 2006 2007 2008 2006 2007 2008 2 3 4 5 6 7 8 Luas Wilayah (Km2) .383.05 32.050.00 II.11 Kab.91 5.84 73.00 9.46 2.00 15 Kab.91 Jumlah II Sumber : Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat.711.914.84 73.525.383.00 423.84 12 Kab.711.00 9.525.334.05 190.525. Majalengka 73.590.96 1.93 1.00 14 Kab/Kota Bekasi 9.050.

00 9.075.00 5.103.00 4.00 32.00 4.00 5.15 2 Cisadane .00 5.797. Oleh karena itulah maka tidak mengherankan jika petani udang berusaha memacu produksi udang dengan membesarkan udang berkepadatan tinggi dengan memberikan pakan yang berlebihan.00 4 Cimanuk Cisanggarung 17.00 40.1 Ciliwung .268.268. karena dari kelebihan pakan (bahan organik) itulah penurunan kualiktas air terjadi sehingga badan air menjadi tidak/kurang mendukung kehidupan udang.Cimandiri 6.128.00 17.779.00 4. Budididaya udang intensif adalah usaha padat modal.00 5.15 32.00 5.00 8.00 7. Seperti kegiatan industri yang lain maka dalam kondisi iklim investasi kondusif dan pasar yang mapan.00 17.00 6. .Ciwulan 5.15 4.797.00 6.00 7.103.779.00 8.779.00 40.128.00 8.075. termasuk penyakit udang.797.00 5.268. 2009 Untuk lebih lengkap silahkan download file dibawah Geografi.00 3 Citarum 5. Mereka lupa atau melupakan diri bahwapemberian pakan yang berlebihan itulah yang menjadi awal kendala bagi keberlajutan produksi udangnya.15 4.128.00 4.103.Cisadane 7.00 Jumlah 40.075.00 9. tapi justru kondusif bagi kehidupan mikro organisme. yang dapat dikategorikan sebagai kegiatan industri dengan jenis komoditas produksi utama “biomassa udang”. keuntungan usaha akan berbanding lurus dengan kecepatan dan volume produksi.00 5 Citanduy .15 32.xls KENDALA PENINGKATAN PRODUKSI BUDIDAYA UDANG INTENSIF.00 5.15 Sumber : Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat.00 9.

amoniak dan nitrit yang beracun serta mikroba pathogen sudah tentu menjadikan udang yang dikenal sebagai hewan yang suka menempel didasar tambak. Nuitja 7).. …. sedangkan bentuk lainnya berada di badan air. seperti ikan. bentos dan lainnya. limbah organik dalam bentuk padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan. baik di bagian yang aerob maupun anaerob. (2). Pencegahan keberadaan organik dalam tambak dengan hanya membuang limbahnya ke pesisir/laut seperti yang dilakukan pada budidaya udang dengan tambak kedap air jelas tidak menyelesaikan masalah. H2S. Fenomena kekurangan oksigen dan timbulnya gas-gas beracun hasil dekomposisi limbah organik dari sisa pakan inilah yang selama ini diduga menjadi penyebab kematian udang. Proses dekomposisi di badan air yang mengandung oksigen terlarut (aerob biasanya di gambarkan dengan reaksi: • COHNS + O2 + bakteria aerobic→ CO2 +NH3 + enerji + produk lain . Pada umumnya. (1). baik mikroba aerobik (mikroba yang hidupnya memerlukan oksigen). Tabel-2.I. mikroba anaerobik (mikroba yang hudupnya tidak memerlukan oksigen) dan mikroba . Limbah Organik. akan segera dimanfaatkan oleh mikroba. Pemberian pakan yang berlebihan menyebabkan terbentuknya limbah organik dalam jumlah yang relatif besar(5). akan dengan cepat menemui kematiannya.0 2.(3). • COHNS + O2 + bakteria aerobik + enerji →C5H7O2N (sel bakteria baru). termasuk udang.0 0. Fenomena pemanfaatan limbah organic (COHNS) oleh mikroba tersebut biasa disebut dengan istilah dekomposisi. amoniak dan nitrit serta serangan mikroba pathogen. kelangkaan oksigen di dasar tambak sudah cukup untuk membuat udang menderita dan mati. Batas toleransi benur dan udang terhadap konsentrasi gas-gas hasil dekomposisi organik (ppm). .001 70 Sumber : Murtidjo 6). Untuk melengkapi uraian tersebut diatas maka berikut ini (Tabel–2) disajikan beberapa data mengenai batas toleransi udang terhadap gas-gas beracun tersebut diatas. yang ada dalam bentuk padatan yang terendap. Selanjutnya reaksi (3) dan (4) dengan jelas mengisaratkan bahwa makin banyak bahan organik dilapisan anaerob akan makin banyak menghasilkan senyawa-senyawa CO 2. tersuspensi dan terlarut.60 - 2.(4). apalagi dengan keberadaan bahan beracun seperti hidrogen sulfida. Keberadaan senyawa NH3 dan H2S di perairan pada konsentrasi tertentu bersifat racun bagi organisme perairan.fakultatif (mikroba yang dapat hidup pada perairan aerobik dan anaerobik). sedangkan di badan air yang tidak mengandung oksigen terlarut (anaerob) yang umumnya di dasar perairan digambarkan dengan reaksi: • COHNS + bakteria anaerobik → CO2 +H2S + NH3 + CH4 + produk lain.2. jika tidak dimanfaatkan oleh fauna perairan lain.... No Gas Benur Udang 1 2 3 4 O2 NH3 H2S NO2 3. Dimanapun limbah organik tersebut berada. .0 0. • COHNS + bakteria anaerobik + enerji → C5H7O2N (sel bakteria baru) …. . karena di perairan pesisir/laut limbah tersebut dapat menimbulkan masalah lain yang lebih . Keadaan perairan. dan CH4. koloid. khususnya dasar tambak yang langka oksigen tetapi justru ada sulfida. Reaksi (1) dan (2) dengan jelas mengisaratkan bahwa makin banyak limbah organik yang masuk dan tinggal pada lapisan aerobik ini akan makin besar pula kebutuhan oksigen bagi mikroba yang mendekomposisi. Sebenarnya sebagai krustasea yang memerlukan oksigen lebih tinggi dari hewan lain. bahkan jika keperluan oksigen bagi mikroba yang ada melebihi konsentrasi yang terlarut maka sudah pasti oksigen terlarut bisa menjadi nol dan bakteri aerobpun akan musnah digantikan oleh bakteri anaerob dan fakultatif yang untuk aktifitas hidupnya tidak memerlukan oksigen. NH3. kepiting.

teknologi pengelolaan/pengolahan limbah organik (tambak udang intensif). serta kombinasinya sehingga mendapatkan ratio konversi pakan kecil.serius. teknologi “pemanenan nutrien” bukan “pengusiran nutrien” dari dalam badan air tambak. teknologi budidaya udang intensif sistem semi tertutup dan sistem tertutup. . ii. Beberapa teknologi yang dimaksud adalah teknologi: i. iii. Oleh karena itu maka untuk dapat mengembangkan budidaya udang intensif secara berkelanjutan dengan tanpa mencemari lingkungan perlu diterapkan teknologiteknologi yang dapat mengurangi keberadaan limbah organik di tambak dengan tanpa membuang/memindahkannya ke perairan/pesisir laut. yang tidak mengambil dan membuang air kecuali pengganti air yang menguap. Dan teknologi lingkungan lainnya yang berhubungan erat dengan teknologi pemindahan limbah organik dari tambak. iv. seperti yutrofikasi. baik tambak udang maupun tambak “Tandon”. teknologi pembuatan pakan yang effisien (proses dan gizi). dan teknologi pemberian pakan yang effektif. v.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful