Anda di halaman 1dari 14

Karakteristik Pasien Korban Kecelakaan Lalu Lintas yang Dirawat di UGD RSUP Dr.

Wahidin Sudirohusodo Makassar Periode JuliDesember 2012 (Dibimbing oleh dr. H. Muh. Ikhsan Madjid, MS. PKK.) Aisyah Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin 2012-2013 ABSTRAK Era globalisasi menuntut masyarakat memiliki mobilitas tinggi sehingga mendorong tingginya kepadatan lalu lintas. Begitupun di Kota Makassar sebagai kawasan sentra perdagangan dan industri, berimplikasi sangat rawan terjadinya kecelakaan lalu lintas. Terdapat faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan yang sebagian besar dapat dicegah, yakni faktor manusia, kendaraan, lingkungan dan jalan. Tujuan penelitian untuk mengetahui distribusi dari faktor-faktor tersebut, yakni jenis kelamin, umur, jenis kendaraan, peran (posisi) pasien, mekanisme dan waktu kecelakaan. Penelitian ini bersifat deskriptif cross sectional dengan menggunakan teknik consecutive sampling dimana jumlah sampel sebanyak 95 pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan pasien korban kecelakaan lalu lintas paling banyak berjenis kelamin laki-laki (64,2%) dan usia dewasa (51,6%) dengan jumlah terbanyak pada kelompok usia 1820 tahun (17,9%). Jenis kendaraan terbanyak adalah kendaraan bermotor roda 2 (72,6%), sebagai pengemudi (69,5%) dengan mekanisme tabrakan dari arah depan (30,5%) dan waktu terbanyak pada siang hari (61,1%). Perlunya kerjasama oleh pihak pemerintah, produsen sepeda motor, para pakar di bidang transportasi, dan tentunya pengguna jalan untuk menurunkan angka kejadian kecelakaan lalu lintas terutama kelompok usia produktif sebagai tulang punggung ekonomi keluarga dan penerus bangsa. Kata Kunci: Karakteristik, pasien korban kecelakaan lalu lintas PENDAHULUAN Era globalisasi menuntut masyarakat Cedera sudah menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di seluruh negara dan lebih dari dua per tiga dialami oleh negara berkembang. Cedera akibat kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama kematian dan disabilitas modern untuk mempunyai mobilitas yang tinggi. Mobilitas yang tinggi tersebut mendorong terjadi tingginya kepadatan lalu lintas, baik barang maupun manusia di seluruh dunia. Melihat perkembangan yang ada dari kepadatan lalu lintas tersebut, semakin banyak ditemukan fakta yang menunjukkan bahwa jalan raya justru menjadi ladang pembunuhan manusia modern. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab terbanyak terjadinya cedera di seluruh dunia. 1

(ketidakmampuan) secara umum terutama di negara berkembang. Hal ini membuat kecelakaan lalu lintas menjadi isu global.1,2,3 Data statistik World Health Organization (WHO) dan Disability Adjusted Life Years (DALYs) menunjukkan bahwa kecelakaan lalu

lintas pada tahun 1998 menduduki peringkat ke9 sebagai penyebab kematian di bawah atau setara dengan penyakit malaria. Diperkirakan pada tahun 2020, kecelakaan lalu lintas akan menjadi penyebab kematian ke-3 tertinggi di dunia di bawah penyakit jantung koroner dan depresi berat sedangkan di negara berkembang menempati urutan ke-2. WHO mencatat bahwa 1 juta orang di seluruh dunia meninggal setiap tahunnya di jalan raya akibat kecelakaan, dimana 40% diantaranya berusia 25 tahun. Sementara itu, jutaan orang lainnya mengalami luka parah dan cacat fisik akibat kecelakaan.1,2,3 Kinerja keselamatan lalu lintas jalan di

dengan mencegah hal-hal yang dapat merintangi, membahayakan kebebasan atau keselamatan lalu lintas,....2,4 Sulawesi Selatan sebagai pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia yang juga menjadikan Makassar sebagai kawasan sentra perdagangan dan industri, menjadikan tingkat perekonomian masyarakatnya juga meningkat. Sejalan dengan hal tersebut lonjakan penduduk pun tak dapat dielakkan, yang pada akhirnya berimplikasi pada berbagai masalah kependudukan diantaranya tingginya kepadatan penduduk serta tingginya jumlah pengguna jalan raya (pengendara). Padatnya arus transportasi darat sangat rawan menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas. Jumlah pelanggaran lalu lintas pada tahun 2009 sebanyak 24.507 kasus. Data yang diperoleh dari Ditlantas POLDA Sulsel sepanjang tahun 2007 terjadi 572 kasus kecelakaan dengan rincian korban jiwa yang meninggal 142 orang, luka berat sebanyak 68 orang, dan luka ringan sebanyak 613 orang.5,6 Yang dimaksud dengan kecelakaan lalu

Indonesia dari survei yang dilakukan ADBASEAN berada pada peringkat ke-9 dari 10 negara. Ini menunjukkan bahwa penanganan masalah keselamatan akibat kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia berlum banyak

dilakukan. Karena itu, Indonesia harus bekerja keras dan segera melakukan berbagai program serta tindakan untuk meningkatkan keselamatan lalu lintas.4 Di Indonesia, kecelakaan lalu lintas

lintas berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dalam pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 1993 ayat 1 adalah: Suatu peristiwa dijalan yang tidak

merupakan salah satu prioritas penanggulangan penyakit tidak menular berdasarkan Kepmenkes 116/Menkes/SK/VIII/2003. Sebenarnya tata cara mengenai lalu lintas telah diatur dalam UndangUndang No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dimana pada padasal 24 ayat 1 disebutkan untuk keselamatan,

disangka-sangka dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pemakai jalan lainnya mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta benda.7,8 Kecelakaan lalu lintas dapat disebabkan oleh banyak faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal pengguna kendaraan bermotor. 2

keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas dan angkutan di jalan, setiap orang yang menggunakan jalan wajib berperilaku tertib

Faktor

internal faktor

meliputi eksternal jalan,

faktor

manusia, faktor faktor

bagi setiap kalangan mengenai faktor-faktor kecelakaan agar ditentukan langkah-langkah penanggulangan kecelakaan.. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional karena melakukan pengamatan dan analisis terhadap data sekunder melalui penggunaan rekam medis RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo sebagai data penelitian. Analisis dilakukan dengan meneliti karakteristik untuk menurunkan jumlah

sedangkan kendaraan,

adalah dan

faktor

lingkungan/cuaca.10 Kecelakaan yang terjadi pada umumnya tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan hasil interaksi antar faktor lain. Halhal yang tercakup dalam faktor-faktor tersebut antar lain:7,8 a. Faktor manusia: kondisi fisik (mabuk, lelah, sakit, jenis kelamin, usia, dsb), kemampuan mengemudi, penyeberang atau pejalan kaki yang lengah, mekanisme kecelakaan, dll. b. Faktor kendaraan: kondisi mesin, rem, lampu, ban, muatan, dll. c. Faktor (median, lingkungan gradien, jalan: desain jalan jenis

kecelakaan lalu lintas yang dirawat di UGD, baik rawat inap maupun yang bukan. Sedangkan jika ditinjau dari segi waktu, desain penelitian ini bersifat deskriptif cross sectional karena variabel diukur selama periode tertentu. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini diadakan di Bagian UGD Bedah dan Rekam Medik RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. Waktu penelitian 17 Desember 201223 Februari 2013 Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah semua penderita korban KLL yang pernah dirawat di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo periode Juli Desember 2012. Sampel penelitian adalah pasien korban KLL pernah yang dirawat di UGD Bedah terhitung sejak bulan JuliDesember 2012 dan terdaftar pada buku register dengan jumlah 95 pasien dengan kriteria sampel pasien yang tetap hidup setelah pengobatan selesai. Rumus Slovin: 3 n= N . 2 N.d + 1

alinyemen,

permukaan, dsb), kontrol lalu lintas (marka, rambu, lampu lalu lintas), dll. d. Faktor cuaca: hujan, kabut, asap, salju, dll. Banyaknya karakteristik yang berhubungan dengan kecelakaan lalu lintas dengan terus

bertambahnya jumlah korban KLL sehingga peneliti ingin mengetahui karakteristik pasien korban kecelakaaan lalu lintas yang dirawat di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Periode JuliDesember 2012. Karakteristik yang diteliti meliputi jenis kelamin, kelompok umur, jenis kendaraan, peran (posisi) pasien, mekanisme dan waktu kecelakaan. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasien korban kecelakaan lalu lintas. Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan informasi bagi

Diambil dari kepustakaan 11 Petunjuk n= Ukuran sampel N= Ukuran populasi(1805 pasien) d = Galat pendugaan (10%)

n=

1805 . 2 1805 . 0,1 + 1

= 94,75 95 sampel Cara Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel adalah dengan menggunakan metode consecutive sampling. Jenis Data dan Instrumen Penelitian Jenis data adalah data sekunder yang diperoleh dari buku register UGD Bedah dan bagian rekam medik subjek penelitian dengan mempergunakan lembar pengisian data. Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan dilakukan setelah

Tabel 2. Distribusi Pasien Korban Kecelakaan Lalu Lintas Menurut Umur yang Dirawat di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode Juli Desember 2012

Tabel

pencatatan data dari buku register UGD Bedah dan bagian rekam medik yang dibutuhkan ke dalam tabel pengisian data dengan menggunakan program komputer SPSS 17.0 dan Microsoft Excel untuk memperoleh hasil statistik deskriptif yang diharapkan. Data yang telah diolah akan disajikan dalam bentuk table, grafik, dan naskah untuk menggambarkan karakteristik pasien. HASIL PENELITIAN Tabel 1. Distribusi Pasien Korban Kecelakaan Lalu Lintas Menurut Jenis Kelamin yang Dirawat di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode Juli Desember 2012 4

3. Distribusi Rentang Umur pada Kejadian Umur Terbanyak yang Mengalami Kecelakaan Lalulintas dari Pasien yang Dirawat di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode JuliDesember 2012

Tabel 4.Distribusi Pasien Korban Kecelakaan Lalulintas Menurut Kendaraan yang Digunakan Saat Peristiwa Terjadi yang Dirawat di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode Juli Desember 2012

Tabel 7.

Distribusi Pasien Korban Kecelakaan Lalulintas Menurut Waktu Terjadinya Kecelakaan yang Dirawat di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode JuliDesember 2012

Tabel 5.

Distribusi Pasien Korban Kecelakaan Lalulintas Menurut Posisi (Peran) Pasien yang Dirawat Di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode JuliDesember 2012

Tabel 8.

Distribusi Jenis Kelamin Menurut Kelompok Usia Pasien Korban Kecelekaan Lalu Lintas yang Dirawat Di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode Juli Desember 2012

Tabel 6.

Distribusi Pasien Korban Kecelakaan Lalulintas Menurut Mekanisme Kecelakaan yang Dirawat di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode JuliDesember 2012

Tabel 9.

Distribusi Jenis Kendaraan yang Digunakan Saat Kecelakaan Menurut Kelompok Usia Pasien Korban Kecelekaan Lalu Lintas yang Dirawat Di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode Juli Desember 2012

Tabel 12. Distribusi Peran (Posisi) Pasien Saat Kecelakaan Menurut Jenis Kelamin Pasien Korban Kecelekaan Lalu Lintas yang Dirawat Di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode JuliDesember 2012.

Tabel 10. Distribusi Jenis Kendaraan yang Digunakan Saat Kecelakaan Menurut Jenis Kelamin Pasien Korban Kecelekaan Lalu Lintas yang Dirawat Di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode Juli Desember 2012

Tabel 13. Distribusi Waktu Terjadinya Kecelakaan Menurut Kelompok Usia Pasien Korban Kecelekaan Lalu Lintas yang Dirawat Di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode JuliDesember 2012

Tabel 11. Distribusi Peran (Posisi) Pasien Saat Kecelakaan Menurut Kelompok Usia Pasien Korban Kecelekaan Lalu Lintas yang Dirawat Di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode JuliDesember 2012.

Tabel 14. Distribusi Waktu Terjadinya Kecelakaan Menurut Jenis Kelamin Pasien Korban Kecelekaan Lalu Lintas yang Dirawat Di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Periode JuliDesember 2012

PEMBAHASAN Jenis Kelamin Ditinjau dari jenis kelamin pasien,

pengendara sepeda motor, pengendara laki-laki jumlahnya lebih banyak dibandingkan

pengendara motor perempuan dan juga adanya indikasi bahwa laki-laki cenderung memiliki perilak ugal-ugalan saat mengemudikan

didapatkan jumlah pasien korban kecelakaan lalu lintas lebih banyak terjadi pada laki-laki (64,2%) dibandingkan pada perempuan (35,8%). Dan juga, pasien laki-laki mendominasi hampir semua kelompok usia pasien yang dirawat di UGD, yakni kelompok anak-anak (4,21%), remaja (12,63), dewasa (35,79) dan usia tua (10,53%), kecuali kelompok usia balita (1,05%) dan manula (0,0%). Selanjutnya pasien laki-laki mendominasi peran sebagai pengemudi

kendaraan dibandingkan dengan perempuan. Umur Dari segi umur, pasien korban kecelakaan lalu lintas yang paling banyak dirawat di UGD RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo adalah umur dewasa (1840 tahun) sebanyak 51,6%, baik laki-laki (35,79%) dan perempuan (15,79%) dengan puncak umur 1820 tahun (17,9%). Kemudian selanjutnya yang terbanyak adalah umur remaja (20,0%) dan usia tua yang tidak berbeda (posisi) jauh (18,9%). Berdasarkan pasien, kelompok sebagai usia peran dewasa

(52,84%) dimana kelompok jenis kelamin tersebut juga mendominasi jenis kendaraan bermotor roda 2 (51,6%), kendaraan bermotor roda 4 (4,2%), dan tidak berkendara (1,1%). Kelompok jenis kelamin laki-lakipun juga mendominasi semua waktu terjadinya

mendominasi

peran

pengemudi

(42,11%), penumpang (4,21%), dan pejalan kaki (5,26%). Begitupun dengan waktu terjadinya kecelakaan, kelompok usia dewasa mendominasi waktu kejadian di pagi (6,32%), siang (27,37), dan malam hari (16,8%). Dari tinjauan pustaka, kecelakaan paling banyak melibatkan pengendara berusia produktif (1555 tahun), dimana usia 2125 tahun adalah kelompok terbesar penyebab kecelakaan dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, dan kelompok usia 40 tahun relatif lebih kecil karena kematangan dan tingkat disiplin yang lebih baik. Hasil ini sesuai pula dengan penelitian Agus Aji Samekto (2009)12 dari data primer di Kota Semarang, dimana korban kecelakaan terbesar adalah kelompok usia 15,01 7

kecelakaan, yakni pagi hari (10,53%), siang hari (38,95%) dan malam hari (14,74%). Hasil ini sesuai dengan penelitian Joeharno (2006) di RSUD Luwuk Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah dan Laylia N.A. dan

Susilaningrum D. (2010) dari pengamatan pada korban kecelakaan lalu lintas di kawasan hukum Jajaran Polrestabes Surabaya pada tahun 2010 yang menemukan tingginya kejadian kecelakaan lalu lintas pada laki-laki.
3,10

Begitupun hasil

penelitian Metta Kartika (2009) dari data Lakan Lantas Polres Metro Depok yang didapatkan kecelakaan paling banyak melibatkan

pengemudi laki-laki dibandingkan perempuan. Hal ini dikarenakan berdasarkan data

tahun21 tahun, kemudian 21,01 tahun30 tahun yang


4

emosi

dengan

baik.

Meskipun

demikian,

rata-rata

merupakan

menurutnya usia muda atau tua bukanlah hal yang terlalu berpengaruh. Hal tersebut terkait dengan pengalaman dan kemampuan pengemudi orang yang bersangkutan.4 Selanjutnya urutan kelompok usia ketiga terakhir yang di rawat adalah kelompok usia balita dan anak (4,2%) dan jumlah yang paling sedikit adalah usia manula (1,1%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Metta Kartika (2009), dimana ditemukan kasus paling sedikit melibatkan pengendara berumur lebih dari 60 tahun.4 Namun tidak sesuai dengan tinjauan pustaka, dimana pada penelitian Savitri WP dan Indawati R (2012), jumlah korban usia manula lebih banyak dari usia anak-anak.3 Kendaraan Ditinjau dari segi kendaraan yang digunakan saat terjadinya peristiwa kecelakaan, jumlah terbanyak adalah kendaraan bermotor roda 2 (71,6%), diikuti oleh tidak berkendara (18,9%), kemudian kendaraan bermotor roda 4 (7,4%) dan kendaraan tidak bermotor (2,1%). Adapun berdasarkan kelompok usia, jenis tidak berkendara didominasi oleh kelompok usia tua (6,3%), untuk jenis kendaraan tidak bermotor adalah kelompok usia anak-anak (1,1%), untuk kendaraan bermotor roda 2 dan roda 4 adalah kelompok usia dewasa (42,1% dan 4,2%). Hasil ini sesuai dengan penelitian Firma Oktaviana (2008) dari data Polda Metro Jaya per Oktober 2006 dari 4.026 kecelakaan lalu lintas, 81,6% diantaranya dilakukan pengendara motor, dan juga penelitian Agus Aji Samekto (2009) 8

pelajar/mahasiswa. Penelitian Woro Riyadina, Suhardi, Meda Permana (2009) dari data kesehatan masyarakat (Kesmas) dari 33 propinsi hasil survei Riskesdas di kawasan tahun 2007 dan

pengamatan

hukum

Jajaran

Polrestabes Surabaya pada tahun 2010 juga menemukan cedera akibat kecelakaan lalu lintas mayoritas dialami oleh kelompok umur dewasa (15-59 tahun) yaitu sebesar 38,8%, begitupun dengan hasil penelitian Metta Kartika (2009) dimana kelompok terbanyak adalah usia 2230 tahun disusul umur 1621 tahun. Hal ini dapat dikarenakan kelompok usia tersebut merupakan kelompok usia produktif yang memiliki mobilitas tinggi, adapun rentang umur 1621 tahun dikarenakan mereka merupakan

pengemudi pemula yang masih dalam proses belajar mengemudi, memiliki tingkat emosi yang belum stabil serta belum berhati-hati dalam mengendarai kendaraan.
2,4,10

Adapun menurut

Nazar Moesbar (2007) dari data direktorat lalu lintas Polda Sumut, diperoleh usia pelaku KLL umumnya adalah usia remaja dan dewasa yaitu usia 1550 tahun yang terbanyak, ini tentu disebabkan kesibukan atau tingkat mobilitas golongan usia tersebut di atas tinggi, jumlah pelaku juga meningkat setiap tahun.
13

Menurut Levi dalam Accident Analysis & Prevention pengemudi meningkatkan (1990) dengan resiko menyatakan usia untuk muda bahwa akan

mengalami

kecelakaan karena belum dapat mengontrol

dimana jumlah korban kecelakaan lalu lintas terbesar merupakan jumlah korban yang

3. Kurangnya mempergunakan perlengkapan perlengkapan kecelakaan/PEE Menurut WHO tingginya angka kematian dan kecelakaan akibat pemakaian sepeda motor terutama di negara Asia sudah merupakan epidemi kesehatan masyarakat.13 Peran (Posisi) Pasien Berdasarkan peran (posisi) pasien, distribusi pasien terbanyak adalah sebagai penumpang (69,5%), urutan kedua adalah pejalan kaki (18,9%), dan yang paling sedikit adalah sebagai penumpang (11,6%). Hasil tersebut sesuai dengan hasil pengaman diri untuk

menggunakan sepeda motor, hal ini sejalan dengan data lain


12,14

pada

umumnya kendaraan

pelajar/mahasiswa jenis sepeda motor.

menggunakan

Menurut Naza Moesbar (2007) dalam Pengendara dan Penumpang Sepeda Motor Terbanyak Mendapat Patah Tulang pada

Kecelakaan Lalu Lintas, dimana menurutnya hal ini disebabkan sepeda motor dirancang/didesain kurang mempertimbangkan keselamatan

pengendaranya dan yang dibonceng. Selain itu, jumlah sepeda motor rata-rata mengalami kenaikan sekitar 20% per tahun.13 Sesuai pula dengan penelitian Windi Prigita Savitri dan Rachmah Indawati (2012) di Unit Laka Lantas Polrestabes Surabaya, kendaraan bermotor roda 2 adalah kendaraan yang mudah terganggu keseimbangannya dan tidak

penelitian Windi Prigita Savitri dan Rachmah Indawati (2012) dimana korban kecelakaan lalu lintas lansia pada tahun 2011 di Kota Surabaya terbanyak adalah berperan sebagai pengemudi sebesar 54,2%.3 Begitupun dengan penelitian

Harry Patmadjaja (1997) di jalan Tol PT Jasa Marga diperoleh faktor utama penyebab

terlindung. Pada umumnya kendaraan bermotor roda 2 memang paling sering dikendarai oleh masyarakat meskipun memiliki risiko lebih tinggi untuk terlibat dalam kecelakaan lalu lintas daripada kendaraan roda 4.3 Menurut Hisashi Ogawa peneliti WHO tingginya angka KLL pada pengguna sepeda motor terutama di negara yang sedang berkembang disebabkan:13 1. Infrastruktur yang kurang baik 2. Kurangnya disiplin pengguna sepeda motor dalam berkendaraan, mematuhi peraturan lalu lintas dan memperhatikan kelayakan atas kendaraannya (layak jalan) 9

kecelakaan adalah pengemudi. Adapun faktorfaktor yang mempengaruhi pengemudi adalah kurang antisipasi, lengah, mengantuk, mabuk, jarak rapat, ban pecah, selip, adanya penyeberang.15 Mekanisme Kecelakaan Berdasarkan mekanisme kecelakaan, kasus terbanyak dari hasil penelitian ini adalah tabrakan dari arah depan (30,5%) yang tidak berbeda jauh dengan tabrakan dari arah samping (27,4%). Hasil ini sesuai dengan pengamatan rem blong,

kerusakan mesin, kendaraan berhienti dan

korban kecelakaan lalu lintas di kawasan hukum Jajaran Polrestabes Surabaya pada tahun 2010, dimana sebagian besar korban kecelakaan lalu lintas tersebut mengalami kecelakaan tabrak depan, berkebalikan dengan penelitian Windi

dan dewasa yang sesuai dengan hasil kategori umur yang dijelaskan di atas, kemudian diikuti pada jam 21.0000.59, kejadian tersebut berhubungan dengan aktivitas perbelanjaan. Selain itu, faktor ketajaman penglihatan juga memegang pengaruh yang sangat besar, melihat jam tersebut cahaya dijalanan sudah mulai gelap, terutama di jalanan yang tidak memiliki lampu jalan. Kecelakaan yang banyak terjadi pada jam 05.0008.59 dan 17.0020.59 disebabkan jam tersebut merupakan waktu pergi dan pulang dari dan ke tempat kerja serta dimulai dan

Prigita Savitri dan Rachmah Indawati (2012) dalam Tipe Kecelakaan Lalu Lintas yang Terjadi di Kota Surabaya 2011 yang terbanyak adalah tabrak samping, kemudian tabrak depan.10,3 Mekanismenya yakni tabrak samping dan depan sering terjadi pada persimpangan dan menyalip. Pada saat di persimpangan pengemudi

cenderung tidak mengalah kepada pengendara lainnya sehingga ketika kendaraan berlaju samasama kencang maka akan terjadi kecelakaan. Pada saat menyalip membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat karena kendaran dari arah sebaliknya akan melaju mengarah kepada
10

diakhirinya kegiatan usaha yang juga bersamaan dengan mobilitas pekerja. Tingkat kecelakaan pada jam 17.0020.59 lebih tinggi daripada jam 05.0008.59, hal ini dapat dikarenakan jam tersebut merupakan berakhirnya aktivitas

perkantoran, dimana orang-rang yang bekerja pulang menuju rumah dalam kondisi fisik yang letih setelah seharian bekerja. Sedangkan kecelakaan pada jam 05.0008.59 disebabkan karena kecenderungan pengemudi yang ingin segera sampai ke tempat tujuan untuk segera memulai aktivitasnya pada hari itu sehingga memacu kecepatan kendaraannya lebih tinggi. Sikap buru-buru seperti ini dapat memicu kecelakaan lalu lintas. Pada jam 01.0004.59 walaupun merupakan jam istirahat/tidur, namun waktu tersebut merupakan waktu kembalinya orang-orang dari kegiatan hiburan maupun kerja lembur dimana kondisi fisik sudah lelah atau bisa jadi mereka yang baru saja pulang dari kegiatan hiburan masih berada dalam pengaruh

kendaraan yang menyalip.

Waktu Terjadinya Kecelakaan Dari data distribusi menurut waktu

terjaidnya kecelakaan, kasus kecelakaan lalu lintas yang terbanyak dialami pasien yang dirawat di UGD adalah waktu 13.0020.59 (61,1%) disusul oleh jam 21.0005.59 (20,0%) yang tidak berbeda jauh dengan jam 06.00 12.59 (18,9%). Hasil ini sesuai dengan

penelitian Metta Kartika (2009), dengan hasil kecelakaan paling banyak terjadi adalah pada jam 13.0016.59, hal ini dikarenakan jam tersebut volume lalulintas cenderung padat dan berakhirnya aktivitas pendidikan dan

perkantoran, artinya kecelakaan yang terjadi pada jam tersebut banyak dialami oleh pelajar 10

alkoholsehingga kecelakaan.
4

berisiko

untuk

terjadinya

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Pasien korban kecelakaan lalulintas lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada perempuan dengan 64,2%. 2. Pasien korban kecelakaan lalulintas paling banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa (1840 tahun) yaitu sebesar 51,6%, dimana usia < 20 tahun merupakan kasus terbanyak (17,9%). 3. Pasien korban kecelakaan lalulintas paling banyak menggunakan kendaraan bermotor roda 2, yaitu sebesar 72,6%. 4. Pasien korban kecelakaan lalulintas lebih sering berperan sebagai pengemudi (69,5%). 5. Pasien korban kecelakaan lalulintas lebih banyak yang mengalami mekanisme persentase sebesar

Walaupun demikian, hasil ini berbeda dengan hasil penelitian Windi Prigita Savitri dan Rachmah Indawati (2012) menemukan jumlah korban kecelakaan lalu lintas terbanyak terjadi pada waktu 06.00-12.59, dengan rata-rata 12.2012.25 yang masih tergolong waktu berangkat kerja. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar waktu kecelakaan terlihat saat pagi hari dimana orang mulai keluar rumah untuk melakukan aktivitas atau berangkat bekerja. Dan waktu siang jumlah kecelakaan lalu lintas lebih sedikit dibandingkan pagi hari. Sedangkan pada waktu istirahat di malam hari jumlah kecelakaan lalu lintas cenderung semakin menurun. Hal ini karena sebagian besar orang mengakhiri aktivitasnya pada waktu petang hari. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suganda (1986) bahwa waktu kecelakaan lalu lintas terbanyak adalah pada pukul 07.0012.00 WIB. Pada umumnya kecelakaan lalu lintas dapat terjadi pada waktu istirahat karena pengemudi mengantuk dan cenderung
3

bertabrakan dari arah yang berlawanan (dari depan) yaitu sebesar 30,5%. 6. Pasien korban kecelakaan lalulintas paling banyak mengalami peristiwa kecelakaan pada siang hari (61,1%). Saran Perlunya kerjasama oleh pihak pemerintah, produsen sepeda motor, para pakar di bidang transportasi, untuk menurunkan angka kejadian kecelakaan lalu lintas. Selain itu, sebaiknya para pengguna jalan semakin memperbaiki tingkah laku, kesopanan dan memakai perlengkapan pengaman diri untuk kecelakaan/Personal terutama dari

mengendarai kendaraannya lebih cepat karena suasana jalan raya sepi sehingga akibatnya bisa jauh lebih fatal pada korban lansia apabila terjadi kecelakaan.

Protective Equipment (PEE)

golongan remaja dan dewasa. Karena kelompok usia tersebut adalah harapan atau tulang 11

punggung

ekonomi

keluarga

dan

juga

merupakan penerus bangsa. 7. DAFTAR PUSTAKA 1. Suryo R. Rancangan Buku Visual Panduan Safety Driving yang Sesuai bagi Remaja. Available from digilib.its.ac.id/public.pdf. Last update in 2009. Accesed on January 06, 2013. Riyadina W, Suhardi, Permana M. Pola dan Determinan Sosiodemografi Cedera Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di Indonesia. Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 10, October, 2009. Available from Jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal.pdf. Accesed on January 06, 2013. Savitri WP, Indawati R. Estimasi Resiko pada Lanjut Usia yang Mengalami Kecelakaan Lalu Lintas di Kota Surabaya. Avalaible from Journal.unair.ac.id/filerPDF. Last update on Juny 2012. Accesed on January 06, 2013. Hamid F. Tingkat Pengetahuan Pekerja PT. X yang Mengemudikan Mobil tentang Safety Driving dalam Upaya Mencegah Kecelakaan di Jalan Raya. Available from lontar.ui.ac.id.pdf. Last update in: 2008. Accesed on January 06, 2013. Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik. Jumlah Kecelakaan Lalulintas dan Korban Jiwa, Kerugian Materi Menurut Bulan di Kota Makassar. Dalam: Makassar dalam Angka 2010. Katalog BPS: 1102001.7371. Makssar: Badan Pusat Statistik Kota Makassar; 2010. Hal: 204. Azikin ANT. Kontribusi Lintas Sektor. Dalam: Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2007. Makassar: 12

Pemerintah Kota Makassar; 2008. Hal. 70. Sadar S. Kecelakaan Lalu Lintas. Available from eprints.undip.ac.id.pdf. Last update in 2007. Accesed on January 06, 2013. Dwiyogo P. Pengidentifikasian Daerah Rawan Kecelakaan (Blackspot). Available from eprints.undip.ac.id.pdf. Last update in 2006. Accesed on January 06, 2013. Dinas Kesehatan Jateng. Profil Kesehatan 2011. Available from www.dinkesjatengprov.go.id.pdf. Last update in 2011. Accesed on January 06, 2013.

8.

2.

9.

3.

10. Afidah LN, Susilaningrum D. Pola Tingkat Keparahan Korban Kecelakaan Lalu Lintas Dengan Menggunakan Regresi Logistik Multinomial (Studi Kasus: Kecelakaan Lalu Lintas di Surabaya). Available from: laylia@statistika.its.ac.id. Last update in 2010. Accesed on Fabruary 10, 2013. 11. Madiyono B, dkk. Perkiraan Besar Sampel. Dalam: Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi Ke-2. Jakarta: CV Sagung Seto; 2002. Hal: 270. 12. Samekto AA. Studi Tentang Karakteristik Korban Kecelakaan Lalu Lintas di Kota Semarang. Available from: isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/72097 897.pdf. Last update in 2009. Accesed on February 10, 2013. 13. Moesbar N. Pengendara dan Penumpang Sepeda Motor Terbanyak Mendapat Patah Tulang. Available from: www.usu.ac.id/id.pdf. Last update in 2007. Accesed on February 10, 2013. 14. Oktaviana F. Pola Cedera Kecelakaan Lalu Lintas pada Kendaraan Bermotor Roda 2 Menurut Data Rekam Medis RSUPN

4.

5.

6.

Cipto Mangunkusumo Tahun 2003 2007. Available from: www.lontar.ui.ac.id/filecideraPendahuluan.pdf. Last update in 2008. Accesed on February 10, 2013. 15. Patmadjaja H. Mencari Penyebab Kecelakaan di Jalan Tol SurabayaGempol dengan Analisa Frekuensi dan Cross Tabulation.Available from www.puslit.petra.ac.id/files/pdf. Last update in 1997. Accesed on February 10, 2013.

13

14