P. 1
Vol. V No. 09 I P3DI Mei 2013

Vol. V No. 09 I P3DI Mei 2013

|Views: 77|Likes:
Dipublikasikan oleh Yulia Indahri
Tindak Pidana Pengedaran Uang Palsu di Indonesia (Denico Doly)
Ancaman Eskalasi Kekerasan Sektarian Global (Poltak Partogi Nainggolan)
Ketidakpuasan Buruh Alih Daya (Elga Andina)
Peningkatan Logistic Performance Index (LPI) dan Rendahnya Infrastruktur Pendukung (Achmad Wirabrata)
Lelang Jabatan Camat dan Lurah di DKI Jakarta (Dewi Sendhikasari D.)
Tindak Pidana Pengedaran Uang Palsu di Indonesia (Denico Doly)
Ancaman Eskalasi Kekerasan Sektarian Global (Poltak Partogi Nainggolan)
Ketidakpuasan Buruh Alih Daya (Elga Andina)
Peningkatan Logistic Performance Index (LPI) dan Rendahnya Infrastruktur Pendukung (Achmad Wirabrata)
Lelang Jabatan Camat dan Lurah di DKI Jakarta (Dewi Sendhikasari D.)

More info:

Published by: Yulia Indahri on May 09, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2013

pdf

text

original

Vol.V, No.

09/I/P3DI/Mei/2013

TINDAK PIDANA PENGEDARAN UANG PALSU DI INDONESIA
Denico Doly*)

H U K U M

Abstrak
Tindak pidana pengedaran uang palsu di Indonesia banyak terjadi dikarenakan beberapa faktor antara lain karena perekonomian dan penyalahgunaan teknologi. Tindak pidana pengedaran uang palsu di Indonesia harus diberantas sampai ke akarnya, yaitu pembuat uang palsu. Upaya-upaya pemerintah bersama dengan Lembaga/Instansi terkait perlu dilaksanakan dengan tegas dan cepat dalam memberantas pengedaran uang palsu di Indonesia.

A. Pendahuluan
Pentingnya keberadaan uang di Indonesia tidak luput dari kejahatan atau tindak pidana pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Pembuatan dan pengedaran uang palsu merupakan salah satu kejahatan terhadap mata uang rupiah. Salah satu contoh tindak pidana tersebut adalah kasus UM alias Nuriyah (46 tahun), seorang ibu rumah tangga asal Kampung Legok Muncang, Kelurahan Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor. Penangkapan UM didasarkan pada aduan seorang korban yang merasa tertipu. Barang bukti yang telah diamankan oleh Polres Bogor yaitu sebanyak 59.847 lembar pecahan mata uang asing dan rupiah, senilai 1,2 triliun dengan rincian 50.549 lembar uang Brasil pecahan 5.000 real dan 400 lembar pecahan
*)

1 real, 153 lembar dolar Singapura pecahan 1.000 dolar, 1.718 lembar rupiah pecahan 100.000, dan 7.000 lembar uang yuan China. Selain menemukan barang bukti berupa uang senilai 1,2 triliun di kediaman pelaku, petugas juga mengamankan barang bukti lain berupa pelat sertifikat dari bank Swiss yang terbuat dari tembaga. Menurut Kapolres Bogor, modus yang digunakan pelaku dalam melancarkan aksinya adalah mengaku sebagai perwira tinggi kepolisian berpangkat inspektur jenderal. Kasus tindak pidana pengedaran uang palsu di Indonesia mengalami peningkatan. Bank Indonesia (BI) pada tahun 2012 mencatat, peredaran uang palsu di Indonesia mencapai 50.134 lembar. Dari kasus-kasus di atas, dapat dilihat bahwa pengedaran uang palsu di Indonesia telah membawa kerugian yang cukup besar kepada negara. Kerugian ini

Peneliti bidang Hukum pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, e-mail: nico_tobing@yahoo.com

Info Singkat © 2009, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI www.dpr.go.id ISSN 2088-2351 -1-

dirasakan secara langsung oleh masyarakat pada saat akan melakukan transaksi jual beli.

B. Mata Uang Rupiah
Mata uang yang berlaku di Indonesia diatur dalam UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang (UU Mata Uang). Pasal 2 ayat (1) UU Mata Uang mengatakan bahwa mata uang Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Rupiah. Rupiah memiliki ciri pada setiap rupiah yang ditetapkan dengan tujuan untuk menunjukkan identitas, membedakan harga atau nilai nominal, dan mengamankan rupiah tersebut dari upaya pemalsuan. Ciri khusus yang ada dalam rupiah diatur dalam Pasal 5 ayat (3) dan (4) UU Mata Uang dimana ciri khusus ini dimaksudkan sebagai pengaman dan terdapat dalam desain, bahan dan teknik cetak rupiah tersebut. Adapun sifat dari ciri khusus ini bersifat terbuka, semi tertutup, dan tertutup. Pembuatan dan pengedaran uang rupiah di Indonesia diamanatkan dalam Pasal 11 ayat (3) UU Mata Uang kepada BI. BI merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengedarkan uang rupiah kepada masyarakat. Hal ini berarti tidak ada lembaga ataupun orang lain yang berhak untuk mengedarkan uang rupiah yang sudah dibuat. Banyaknya pengedaran uang palsu di Indonesia dikarenakan banyak faktor, salah satunya yaitu faktor ekonomi masyarakat yang masih rendah. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dalam memberikan pekerjaan kepada orang yang kesulitan ekonomi. Faktor lainnya yaitu makin canggihnya teknologi dalam meniru uang rupiah asli. Kemajuan teknologi ini dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan dengan membuat uang palsu.

a. Pembuatan Uang Palsu Ketentuan larangan mengenai pembuatan uang rupiah palsu sudah diatur dalam Pasal 26 ayat (1) UU Mata Uang dimana disebutkan bahwa setiap orang dilarang memalsu rupiah. Adapun sanksi pidana yang diberikan diatur dalam Pasal 36 ayat (1) UU Mata Uang yang menyebutkan bahwa setiap orang yang memalsu Rupiah dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah). Pembuatan uang palsu ini juga diatur dalam Pasal 244 KUHP yang menyebutkan bahwa barang siapa meniru atau memalsu mata uang atau kertas yang dikeluarkan oleh Negara atau Bank, dengan maksud untuk mengedarkan atau menyuruh mengedarkan mata uang atau uang kertas itu sebagai asli dan tidak dipalsu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. b. Pengedaran Uang Palsu Pengedaran uang palsu diatur dalam Pasal 26 ayat (3) UU Mata Uang yang menyebutkan bahwa setiap orang dilarang mengedarkan dan/atau membelanjakan rupiah yang diketahuinya merupakan rupiah palsu. Hal ini juga diatur dalam Pasal 245 KUHP yang menyebutkan bahwa barang siapa dengan sengaja mengedarkan mata uang atau uang kertas yang dikeluarkan oleh Negara atau Bank sebagai mata uang atau uang kertas asli dan tidak dipalsu, padahal ditiru atau dipalsu olehnya sendiri, atau waktu diterima diketahuinya bahwa tidak asli atau dipalsu, ataupun barang siapa menyimpan atau memasukkan ke Indonesia mata uang dan uang kertas yang demikian, dengan maksud untuk mengedarkan atau menyuruh mengedarkan sebagai uang asli dan tidak dipalsu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

C. Tindak Pidana Pengedaran Uang Palsu
Kejahatan terhadap mata uang rupiah dapat dikategorikan dua jenis, yaitu:

-2-

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa pembuatan dan pengedaran uang rupiah merupakan kewenangan dari BI berdasarkan Pasal 11 ayat (3) UU Mata Uang, hal ini berarti apabila ada lembaga atau orang perorangan lain yang membuat, mengedarkan uang rupiah, maka uang rupiah tersebut merupakan uang palsu. Hal ini juga ditegaskan dalam Pasal 1 angka (9) UU Mata Uang yang menyebutkan bahwa Rupiah Palsu adalah suatu benda yang bahan, ukuran, warna, gambar, dan/atau desainnya menyerupai Rupiah yang dibuat, dibentuk, dicetak, digandakan, diedarkan, atau digunakan sebagai alat pembayaran secara melawan hukum.

D. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Pengedaran Uang Palsu
Indonesia saat ini telah meratifikasi konvensi internasional mengenai Pemberantasan Uang Palsu Beserta Protokol (International Convention for the Suppression of Counterfeiting Currency and Protocol, Geneve 1929). Selain itu Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 123 Tahun 2012 tentang Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu (PP Botasupal). Fungsi dari Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu (Botasupal) yaitu sebagai koordinator dalam hal pemberantasan uang palsu yang memadukan kegiatan dan operasi pemberantasan rupiah palsu yang dilakukan oleh lembaga/instasi terkait sesuai dengan fungsi, tugas, dan wewenang masing-masing lembaga/instasi. Tugas dari Botasupal yaitu mengoordinasikan dan mensinkronisasikan penyusunan kebijakan pemberantasan uang palsu, mengoordinasikan dan mensinkronisasikan pelaksanaan pemberantasan rupiah palsu, menganalisis dan mengevaluasi pemberantasan rupiah palsu, memfasilitasi kerja sama pelaksanaan pemberantasan rupiah palsu, membuat dan memberikan rekomendasi kepada lembaga/instansi terkait mengenai pemberantasan rupiah palsu, dan menghimpun data dan bahan keterangan yang terkait dengan pemberantasan rupiah palsu. Dengan adanya

Botasupal ini diharapkan dapat memberantas pengedaran uang palsu di Indonesia. BI juga berperan dalam pemberantasan uang palsu di Indonesia, yaitu dengan membentuk suatu lembaga yang dapat mendeteksi keberadaan uang palsu yang bernama Bank Indonesia Counterfait Analysis Center (BI-CAC). Adapun tujuan dari pembentukan BI-CAC ini yaitu untuk memudahkan Botasupal atau pihak kepolisian untuk membongkar jaringan pemalsu uang. Hal ini mengingat jaringan pembuat dan pengedar uang palsu di Indonesia cukup besar. Upaya-upaya ini merupakan upaya yang diterapkan oleh Pemerintah dan juga Lembaga/Instansi yang berkaitan dengan uang di Indonesia, akan tetapi pelaksanaan dari pemberantasan pengedaran uang palsu di Indonesia belum efektif oleh karena itu perlu ada upaya lain yang dapat secara efektif memberantas pengedaran uang palsu di Indonesia Menurut penulis, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam penanggulangan tindak pidana pengedaran uang palsu, yaitu upaya preventif dan represif. Upaya preventif, yaitu dengan menuntut institusi-institusi yang mendapatkan amanat undang-undang untuk membuat dan mengedarkan mata uang rupiah untuk lebih memperhatikan ciri-ciri dari rupiah itu sendiri, di mana mata uang rupiah harus dapat dibuat secanggih mungkin agar lebih sulit untuk dipalsukan. Untuk itu perlu ada pemilihan bahan kertas, pemilihan warna dan juga pembuatan nomor-nomor kombinasi yang tepat untuk mempersulit pembuatan uang palsu. Selain pembuatan uang asli yang canggih, juga perlu ada pengaturan lebih lanjut mengenai pengedaran uang dan penarikan uang yang secara berkala dapat berubah. Pengetahuan masyarakat terhadap keaslian mata uang juga perlu diperluas dan secara berkala dilakukan sosialisasi terhadap pengedaran mata uang dan sosialisasi mengenai pengenalan mata uang asli. Selain upaya preventif, juga perlu dilakukan upaya represif, upaya ini perlu dilakukan dalam rangka pemberantasan dan pengungkapan kejahatan uang palsu oleh penegak hukum. Upaya penanggulangan tindak pidana pengedaran uang palsu juga perlu dilakukan
-3-

dalam pembentukan peraturan perundangundangan setingkat undang-undang, dimana hal ini dilakukan oleh para pembentuk undang-undang yaitu Pemerintah bersama dengan DPR. Pembentukan undang-undang harus didasari adanya upaya untuk mencegah terjadinya pengedaran uang palsu. Program legislasi 2010–2014 telah menetapkan 247 RUU yang akan dibahas antara DPR-RI bersama dengan Pemerintah. Dari 247 RUU tersebut, beberapa RUU terkait dengan pengaturan pengedaran uang yang dapat dijadikan peluang bagi Pemerintah dan DPR untuk mengatur substansi terkait upaya menanggulangi tindak pidana pengedaran uang palsu, antara lain RUU Perbankan, RUU Bank Indonesia, dan RUU Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar.

Rujukan:

E. Penutup
Tindak pidana pengedaran uang palsu banyak terjadi di Indonesia. Berbagai kebijakan melalui undang-undang maupun peraturan pelaksananya sudah dikeluarkan, akan tetapi kejahatan ini selalu terjadi. Pengedaran uang palsu di Indonesia terjadi antara lain karena masih banyak masyarakat yang berekonomi rendah. Faktor lainya yaitu penyalahgunaan kemajuan teknologi. Upaya yang dilakukan dalam memberantas uang palsu sudah diterapkan oleh Pemerintah maupun BI, akan tetapi upaya ini belum dapat secara maksimal dapat memberantas pengedaran uang palsu. Oleh karena itu perlu adanya penegakan hukum yang tegas dalam memberantas uang palsu dan menerapkan teknologi pembuatan uang yang tidak bisa diterapkan oleh pihak lain, selain bank sentral.

1. “Ciri Keaslian Rupiah,” http://www. bi.go.id/NR/rdonlyres/F841437D-907B40F3-817E-21D4F8FDC81F/26576/ CiriKeaslianRupiah.pdf, diakses 1 Mei 2013. 2. “Inilah cara BI Cegah Pengedaran Uang Palsu,” http://m.inilah.com/read/ detail/1914947, diakses 1 Mei 2013. 3. “Faktor dan Solusi Terbaik Memberantas,” http://christianmandravaharefa.blogspot. com/2008/12, diakses 1 Mei 2013. 4. “Polisi Bekuk Pengedar Uang Palsu Rp. 1,2 Triliun,” http://megapolitan.kompas.com/ read/2013/04/30/22005330, diakses 1 Mei 2013. 5. “Edarkan Uang Palsu, Jenderal Palsu Ditangkap,” http://www.tempo.co/read/ news/2013/04/30/064476911, diakses 1 Mei 2013. 6. “Pengedaran Uang Palsu Meningkat di Sumut,” http://beritasore.com/2013/04/30, diakses 1 Mei 2013. 7. “Tangani Uang Palsu BI bentuk BI-CAC,” http://www.suaramerdeka.com/v1/index. php/read/news/2012/10/11/132470, diakses 6 Mei 2013. 8. “Polisi Ungkap Jaringan Pengedar Uang Palsui di Bogor,” http://www. metrotvnews.com/metronews/ video/2013/05/04/1/176697, diakses 6 Mei 2013. 9. “Berantas Uang Palsu, BI Gandeng Bank Sentral Jerman hingga PT Pos,” http:// finance.detik.com/read/2012/05/27/1600 30/1925814/5, diakses 6 Mei 2013. 10. “BI, Peredaran Uang Palsu Bukan Marak, Tapi lebih Canggih,” http://bisniskeuangan. kompas.com/read/2012/08/15/15193166, diakses 6 Mei 2013.

-4-

Vol.V, No. 09/I/P3DI/Mei/2013

ANCAMAN ESKALASI KEKERASAN SEKTARIAN GLOBAL
Poltak Partogi Nainggolan*)

HUBUNGAN INTERNASIONAL
Abstrak
Kekerasan sektarian, intra dan antaragama, marak berlangsung di negara yang sedang menghadapi transisi demokrasi. Kemiskinan, pengangguran, kesenjangan ekonomi dan sosial, serta ketidakadilan global sebagai penyebab muncul dan maraknya kasus-kasus ini. Dialog global, resolusi dan solusi internal dalam bentuk sosialisasi pengajaran agama yang damai menjadi bagian dari solusi yang ditawarkan.

A. Pendahuluan
Kekerasan antar-kelompok, intra dan inter-agama, di berbagai belahan dunia terus meningkat dalam beberapa waktu belakangan. Kasus-kasus dan gelombang kekerasan menjalar dan mengalami eskalasi, baik di negaranegara yang relatif sudah stabil dengan sistem politiknya, maupun di negara-negara yang tengah mengalami transisi dari sistem lama yang otoriter menuju perubahan. Di kawasan Timur-Tengah dan Afrika Utara, di negaranegara Arab dan Magribi, yang telah dan tengah memasuki “musim semi” perubahan (the Arab Spring), seperti Irak, Afghanistan, Mesir, Lebanon, Palestina, Sudan, Somalia, Nigeria, dan Suriah, kekerasan mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakat dan negara.

Di kawasan Asia Selatan, yakni Pakistan dan India, yang telah lebih maju atau mapan dengan sistem demokrasi mereka, aksiaksi kekerasan sektarian terus membayangi kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan di sana. Kasus-kasus kekerasan yang dominan melibatkan kelompok-kelompok dalam dan lintas-agama, dengan korban kelompok minoritas, lemah, perempuan dan anak-anak. Di Asia Tenggara, kekerasan sektarian melanda Myanmar dan Thailand, yang walaupun intensitasnya lebih jarang, tetapi korban manusia dan kerusakan yang diakibatkannya besar. Sementara, di Indonesia, negara terbesar di Asia Tenggara dengan latar belakang agama penduduknya yang jauh lebih majemuk, kekerasan sektarian telah memiliki akarnya, dan sulit dipadamkan secara tuntas. Kekerasan sektarian marak kembali sejak 1998, menjelang, dan pasca-transisi demokratis.

*)

Peneliti Utama Bidang Masalah-masalah Hubungan Internasional pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, e-mail: pptogin@yahoo.com

Info Singkat © 2009, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI www.dpr.go.id ISSN 2088-2351 -5-

B. Karakter Kekerasan
Realitas politik memperlihatkan, sekalipun pemerintahan sipil hasil transisi demokratis yang dipimpin militer AS, berhasil dibentuk, stabilitas keamanan domestik yang terkendali di Irak, belum dapat diciptakan. Pemerintahan baru hasil pemilu di bawah PM Nouri al-Maliki yang berlatar belakang Syiah, yang semula dapat diandalkan untuk mengendalikan Irak pasca-transisi menuju konsolidasi demokratis, gagal menguasai keadaan domestik Irak. Lawan-lawan PM Nouria al-Maliki dan kelompok-kelompok anti-AS berlatar belakang Sunni melanjutkan perlawanan dan mendestabilisasi keadaan Irak melalui aksi-aksi pembalasan dengan bom mobil. Sementara itu, kelompok Muslim Kurdi terus memperjuangkan tuntutan separatisme mereka dengan kekerasan senjata. Lingkaran kekerasan semakin kompleks, karena kelompok Al-Qaeda juga melancarkan aksi–aksi bom mobil terhadap pemerintah baru, situs-situs militer AS. Aksi kekerasan sektarianisme yang belakangan terjadi, yakni pada 25 April 2013 di Hawija, Irak, telah menyebabkan sekitar 169 orang tewas dan 280 orang terluka, yang kebanyakan warga Sunni. Ini belum termasuk angka yang tewas dari aparat kepolisian, sekitar 10 orang, serta 30 orang dari kalangan sipil. Sehingga, perang saudara sektarian yang berlangsung sejak kevakuman kekuasaan di Irak pasca-Saddam (2003), dan mengalami eskalasi 3 tahun kemudian, atau sejak 2006, telah mengakibatkan seklitar 30 ribu orang tewas. Itulah sebabnya, kekuatiran PM Nouria al-Maliki, yang sangat menguatirkan masa depan Irak akibat konflik sektarianisme yang berkepanjangan ini, menjadi logis. Afghanistan, yang lebih dulu menghadapi invasi militer AS, hingga sekarang ini belum dapat mengakhiri kekerasan vertikal dan horizontal (sektarian) antara mereka yang pro- dan anti-Barat, atau antara yang moderat dan dapat menerima modernitas dengan yang radikal yang anti-modernitas. Serupa dengan kasus di Irak, sekalipun pemerintahan hasil pemilu terbuka yang diorganisasi PBB dan

AS telah terbentuk, di bawah Hamid Karzai, pertempuran antara kelompok belum berakhir. Dana-dana segar yang dibawa badan intelejen pusat AS, yakni CIA, terus mengalir, namun, upaya Taliban mengobarkan aksi kekerasan sektarian tetap berjalan. Di Pakistan, yang juga mayoritas muslim, kekerasan sektarian semakin sering muncul pasca-terbunuhnya Osama bin Laden. Ancaman kekerasan kelompok Sunni yang dominan, banyak dilakukan atas kelompok Syiah, yang lebih sedikit jumlahnya, seperti halnya di Indonesia. Demikian pula di Sudan, Somalia, dan belakangan Nigeria dan Kenya. Tidak heran, setelah Pakistan, negeri-negeri itu diidentifikasi sebagai “tempat yang berbahaya di dunia.” Di Suriah, kekerasan sektarian tampaknya akan berkembang, jika tidak dapat ditemukan landasan yang tepat untuk transisi demokratis di sana. AS sendiri sudah tidak bersabar untuk melakukan intervensi militer, setelah melihat indikasi penggunaan senjata kimia pada kelompok perlawanan dan penduduk sipil. Ancaman perang sektarian yang berkepanjangan dan sulit dipadamkan menjadi salah satu alasan AS dan Barat untuk segera melakukan intervensi militer. Keterlibatan kelompok Hizbullah Lebanon dan kelompok Syiah asal Iran untuk mempertahankan rezim Assad, akan membuat situasi bertambah sulit, mengingat kelompok perlawanan didukung AlQaeda dan para jihadists dari berbagai negara. Di Indonesia, aksi-aksi kekerasan sektarian masih dalam skala kecil, tetapi fenomenanya semakin sering terjadi, seperti yang dilancarkan oleh kelompok Sunni yang konservatif (berorientasi Wahabi asal Saudi) terhadap kelompok Syiah yang sangat minoritas, dan Ahmadiyah yang dinilai menyimpang. Aksi kekerasan intra-agama ini diperberat oleh mulai seringnya muncul aksi kekerasan lintas-agama, yakni antara pemeluk agama yang mayoritas dengan minoritas. Tidak heran, pengamat, ahli sosiologi dan Islam, Prof. Azyumardi Azra, mengkhawatirkan, jika tidak dicegah dengan kebijakan yang tepat dan dini, “kekerasan sektarian berlapis,” dapat muncul di Indonesia, negeri yang pernah dipuji

-6-

sebagai model keberagaman dan kerukunan beragamanya. Di Myanmar, beberapa kasus kekerasan sektarian telah dilancarkan oleh pemeluk agama mayoritas Buddha terhadap kelompok minoritas imigran asal Bangladesh. Aksiaksi terakhir yang menimbulkan korban hingga ratusan orang dan menjalar ke ibukota Myanmar, telah menyerupai genosida. Tidak heran, LSM HAM internasional mulai menyoroti kasus-kasus di Myanmar, yang mengarah pada skala besar. Di Thailand, aksi kekerasan sektarian baru, dilakukan oleh kelompok penduduk mayoritas Buddha terhadap penduduk minoritas Muslim yang tinggal di bagian Selatan (Yala, Patani) dan menyebabkan beberapa orang tewas.

C. Penyebab dan Implikasi
Kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakadilan yang dihasilkan rezim otoriter telah melahirkan kelompok-kelompok yang termarjinalisasi dan tercabik kohesinya dengan kelompok lain yang berbeda pandangan dan aliran agamanya. Kegagalan konsolidasi demokratis dan proyek-proyek pembangunan ekonomi dan rekonstruksi pasca-transisi, yang ditandai dengan dalamnya intervensi asing, telah menciptakan kondisi ketimpangan, kemiskinan, dan kelompok-kelompok baru yang menjadi korban dan terpinggirkan. Ketidakadilan sistem ekonomi dan politik global kian memperburuk keadaan dan memicu munculnya aktor-aktor kekerasan sektarian baru dengan bantuan pengaruh perkembangan global dan jaringan internasional yang terbangun dengan sendirinya. Sebagai implikasinya, muncul flash points di negara, yang rawan menjalar ke negara lain, dan berdampak pada destabilisasi kawasan. Dengan keterlibatan para aktor nonnegara lintas-kawasan, yang dibantu dengan kemajuan teknologi dan dunia yang semakin terbuka akibat derasnya globalisasi, instabilitas keamanan global terancam. Sebab, ancaman kekerasan sektarian dapat diekspor ke negara di benua lain, termasuk negara maju yang kuat

militer dan aparat keamanan domestiknya. Kasus pemboman di Boston, dengan pelaku imigran asal Chechnya, yang dipengaruhi oleh menyebarnya ideologi kekerasan a la Al-Qaeda, rawan menyebarkan konflik sektarian di negara semacam AS yang sangat majemuk dengan latar belakang dan agama penduduknya. Kekerasan sektarian di negeri asal juga akan mendorong terjadinya proses migrasi masif ke wilayah dan negara yang aman, stabil, dan maju. Sedangkan bagi negara tujuan, migrasi masif yang disebabkan oleh kekerasan sektarian di negeri-negeri yang tidak stabil, tidak terkonsolidasi demokrasinya, serta merupakan negara gagal atau terbelakang, akan menyebarkan ancaman ketidakamanan dan ketidaknyamanan domestik. Indonesia, dalam hal ini, selain menjadi sumber kekerasan sektarian, juga menjadi negara tujuan migrasi masif para korban kekerasan sektarian di Timur-Tengah dan Myanmar.

D. Solusi
Masyarakat dunia harus mencari solusi atas maraknya kekerasan sektarian. Upaya pembenahan sistem global harus dilakukan, jika ingin menciptakan dunia masa depan yang aman dan nyaman. Terapi menyembuhkan penyakit demokrasi (democracy malfunction) harus dilakukan, dengan partisipasi yang tulus dari negara maju. Paradigma ekonomi, sosial, politik, dan keamanan baru, yang ramah pada semua kelompok agama dan aliran harus diintroduksi dan ditekankan. Di tingkat yang lebih rendah, walaupun tidak mudah, dialog-dialog regional dan global melalui konperensi-konperensi internasional lintas-agama, keberagaman, dan kelompok, perlu dilanjutkan. Apa yang sudah dimulai oleh parlemen, seperti BKSAP DPR di Indonesia dan PUIC (Organisasi Parlemen negaranegara OKI) dengan agenda khusus Interfaith Dialogue perlu ditindaklanjuti dan diperluas, serta diintensifkan. Intervensi lewat resolusi di kawasan oleh Perhimpunan Parlemen ASEAN (AIPA) dan PUIC, dan secara global oleh PBB, untuk menghentikan kekerasan sektarian

-7-

secara cepat, perlu dilakukan, tanpa sikap ragu. Dalam beberapa sesi, Bali Democracy Forum yang diselenggarakan secara rutin di Indonesia, turut membicarakan kemungkinan perkembangan kontraproduktif ini, agar tidak menjadi penghalangan kampanye demokratisasi gobal. Namun, di luar itu semua, di dalam negeri masing-masing, peran pendidikan dan pencerahan agama perlu digalakkan untuk mencegah, mengurangi, dan menghentikan aksi-aksi kekerasan sektarian. Pemimpin agama dan politik harus mau memperlihatkan tanggung jawab mereka yang lebih, untuk menahan diri dari keinginan menggunakan agama untuk memicu kekerasan sektarian akibat ketidakpuasan pribadi dan kelompok.

Rujukan:

1. Aji, Albert. “Bombing in Damascus kills 13 People,” The Jakarta Post, 1 Mei 2013: 11. 2. “Ancaman Perang Sektarian di Irak.” Kompas, 27 April 2013: 6. 3. Alamsjah, Emrald. “AS Siapkan Opsi Militer,” Republika, 2 Mei 2013: 19. 4. Ul-Haq, Fajar Riza. “Negara Masih Rentan.” Kompas, 27 April 2013: 6. 5. Fukuyama, Francis. 1992. The End of History and the Last Man. New York: Free Press. 6. _______________. 1995. “The End of Nation State,” Book Review of Jean-Marie Guehenno, Foreign Affair, NovemberDecember. 7. “Kekerasan Sektarian Meluas,” Kompas, 27 April 2013: 9. 8. Harvey, Robert Harvey. 2003. Global Disorder: How to Avoid a Fourth World War. New York: Avalon Publishing Group.

-8-

KETIDAKPUASAN BURUH ALIH DAYA
Elga Andina*)
Vol.V, No. 09/I/P3DI/Mei/2013

KESEJAHTERAAN SOSIAL

Abstrak
Melalui peringatan Hari Buruh Internasional, 1 Mei 2013, buruh menuntut penghentian praktik alih daya. Praktik ini telah merugikan buruh dari segi penghasilan, karir, dan perlindungan. Lemahnya pengawasan pemerintah terhadap pelaku praktik alih daya menjadi penyebab utama terjadinya banyak penyelewengan ketenagakerjaan. Di sisi lain, buruh juga perlu meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya agar dapat meningkatkan nilai jualnya di pasar tenaga kerja.

A. Pendahuluan
Perayaan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2013 di kawasan Jabodetabek berlangsung tertib, meskipun melibatkan hampir 600 ribu buruh. Peringatan tahunan ini dimanfaatkan buruh untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah dan DPR-RI. Selain menuntut pelaksanaan BPJS pada 1 Januari 2014, revisi UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, penolakan atas upah murah dan penurunan biaya hidup/produksi, buruh juga menekankan segera dilhapuskannya tenaga kerja outsourcing (alih daya). Berdasarkan data hingga 10 Oktober 2012, di tingkat provinsi terdapat 6.239 perusahaan PPJP/B dengan jumlah pekerja sebanyak 338.505 orang. Namun kalau dihitung dengan perusahan yang belum
*)

terdaftar, jumlah perusahaan alih daya di Indonesia bisa mencapai 12.000 perusahaan dengan total pekerja 20 juta orang. Data lain menunjukkan, dari 33 juta pekerja formal di Indonesia, diperkirakan sekitar 60% atau 20 juta pekerja bekerja dengan sistem alih daya. Sedangkan Penelitian Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) dengan Friedrich Ebert Stiftung menemukan, sekitar 47% pekerja industri padat modal bekerja dengan sistem alih daya. Sementara, industri padat karya mempekerjakan 60% pekerjanya dengan sistem alih daya. Buruh alih daya tidak hanya dipasok untuk industri swasta, namun juga masuk ke perusahaan BUMN. Dahlan Iskan mengakui bahwa dari 141 perusahaan BUMN yang ada, masing-masingnya memiliki cara dan mekanisme berbeda dalam menerapkan sistem.

Peneliti bidang Studi Psikologi pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, e-mail: elga.andina@dpr.go.id

Info Singkat © 2009, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI www.dpr.go.id ISSN 2088-2351 -9-

Buruh meminta pemerintah menghapus sistem kontrak maupun alih daya yang saat ini diakomodasi dalam UU Ketenagakerjaan. Ketentuan tersebut cenderung merugikan buruh baik saat sebelum bekerja, saat bekerja, maupun saat akhir bekerja.

Kondisi Saat Ini

B U R U H ALIH DAYA d i Ind one sia

industri padat karya

60% pekerja alih daya

industri padat modal

insentif
47% pekerja alih daya

kedudukan karir

6.235
Perminyakan Transportasi Catering 5 Jenis

perusahaan Pengerah Alih Daya

1. Sebelum Bekerja Pekerjaan yang boleh Buruh yang Dialihdayakan Cleaning akan disalurkan Keamanan Service seringkali dipungut biaya Sumber: Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) tertentu dengan dengan Friedrich Ebert Stiftung dalih administrasi pekerjaan. Buruh juga tidak diperlihatkan Jamsostek dan pajak penghasilan bagi kontrak kerja yang jelas, apalagi diberikan mereka seringkali tidak jelas. salinan kontrak, sehingga mereka tidak memiliki kekuatan hukum untuk 3. Akhir Bekerja menuntut haknya. Beberapa pengerah Buruh alih daya didaftarkan dengan alih daya mengharuskan buruh untuk status kontrak. Sesuai dengan Pasal 59 menyerahkan ijazah sehingga ia tidak dapat UU Ketenagakerjaan, perjanjian untuk melamar ke perusahaan lain serta tidak mereka adalah perjanjian waktu tertentu memiliki kesempatan untuk mendapatkan yang hanya dapat dibuat untuk pekerjaan pengembangan untuk meningkatkan tertentu yang menurut jenis dan sifat karirnya. pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu. Perjanjian ini hanya dapat 2. Saat Bekerja diperpanjang satu kali. Setelah kuota Buruh alih daya tidak mendapatkan perpanjangan berakhir, mereka dapat perlakuan yang sama dengan yang diberhentikan dan dimasukkan kembali didapat karyawan permanen. Karena dengan status kontrak baru. Hal ini sangat mereka dibayar harian, maka mereka merugikan karena masa kerja mereka tidak mendapatkan dispensasi untuk terhapus ketika memulai kontrak baru, ijin sakit atau sejenisnya sehingga sehingga mereka tidak diperhitungkan pendapatannya menjadi berkurang. Belum untuk peningkatan karir. Karena statusnya lagi permasalahan perhitungan gaji atau karyawan kontrak, buruh alih daya dapat lembur yang tidak transparan. Selain itu, sewaktu-waktu diputus kontraknya. Hal upah buruh alih daya biasanya dipotong ini memberikan perasaan tidak aman oleh perusahaan penyuplai tenaga kerja bagi buruh menyangkut keberlangsungan sebagai management fee. Akibatnya, upah penghidupannya. buruh yang mungkin sudah sesuai dengan Upah Minimum Provinsi (UMP), menjadi Di sisi lain, sistem alih daya dianggap lebih rendah. Di sisi lain, mereka juga menguntungkan bagi para pengusaha, karena tidak mendapatkan jaminan kesejahteraan bisa menekan biaya. Perusahaan dapat yang memadai. Pengaturan mekanisme memangkas biaya rekrutmen yang harus
- 10 -

dikeluarkan departemen sumber daya manusia dengan meminta suplai tenaga kerja dari perusahaan alih daya, memfokuskan pada kegiatan utamanya, dan memiliki akses kepada sumber daya yang tidak dimiliki perusahaan.

B. Praktik Alih Daya di Indonesia
Praktik alih daya di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1980-an, berdasarkan Keputusan Menteri Perdagangan RI No. 264/KP/1989 tentang Pekerjaan Subkontrak Perusahaan Pengelola di Kawasan Berikat. Industri yang pertama kali bersentuhan dengan alih daya adalah industri perminyakan. Pada tahun 2003, melalui Pasal 64 UU Ketenagakerjaan, pengaturan pekerja alih daya diperbaharui menjadi: “Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis.” Aturan ini menyebutkan, pekerjaan alih daya harus dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama; dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan; merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan; dan tidak menghambat proses produksi secara langsung. Selain itu, perusahaan pengerah alih daya harus berbentuk badan hukum. Aturan tersebut diperjelas dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak dan Pengaturan Outsourcing yang menyebutkan 5 jenis pekerjaan yang boleh dilakukan secara alih daya, yaitu cleaning service, keamanan, transportasi, catering, dan jasa migas pertambangan.

memberikan tuntunan bahwa “Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89.” Dalam Pasal 185 diatur, majikan yang melanggar pasal tersebut diancam hukuman pidana minimal satu tahun sampai maksimal empat tahun penjara, dan delik ini masuk tindak pidana kejahatan. Munculnya konflik ketenagakerjaan ini tidak lepas dari lemahnya pengawasan pemerintah terhadap pelaksanaan sistem alih daya. Pemerintah tampak tidak memiliki konsep yang jelas mengenai praktik alih daya. Pemerintah juga lemah dalam menindak penyelewengan terhadap konsep ketenagakerjaan yang sudah dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.

D. Ketidakpuasan vs Kemampuan
Ketidakpuasan buruh alih daya disebabkan adanya pembandingan hasil yang diterimanya dengan hasil yang diterima karyawan tetap. Dalam psikologi, hal ini dijelaskan dengan Teori Keadilan yang disampaikan oleh Adams. Menurutnya, orang akan puas jika dianggapnya apa yang diterimanya seimbang dengan apa yang diterima orang lain. Namun, permasalahan buruh alih daya tidak bisa dilihat dari sisi pendapatan saja. Perlu dipertimbangkan pula bahwa praktik tenaga kerja murah bukan sematamata peranan perusahaan atau pemerintah, namun adalah mekanisme pasar yang sudah berlangsung. Semakin banyak tenaga kerja yang tidak terpasok berakibat pada penurunan harga tenaga kerja itu sendiri. BPS mencatat adanya 7,2 juta pengangguran terbuka yang menunjukkan rendahnya kompetensi penduduk usia kerja yang memenuhi kebutuhan industri. Pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2013 banyak terjadi pada masyarakat lulusan sekolah menengah atas (SMA). Tingkat pengangguran terbuka para lulusan SMA yang belum sempat bekerja ini mencapai 9,39%. Kebanyakan buruh tidak memiliki nilai jual yang pantas dihargai dengan upah maksimum, karena kurangnya pengalaman, keterampilan, dan pendidikan. Oleh karena itu,
- 11 -

C. Lemahnya Pengawasan
Permasalahan utama praktik alih daya bermuara pada rendahnya kesejahteraan yang didapatkan buruh. Padahal UU Ketenagakerjaan Pasal 90 ayat (1) sudah

buruh perlu dipersiapkan untuk menghadapi pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif, terutama dengan menyelaraskan materi didik/ latih dengan kebutuhan industri. Peningkatan upah tidak dapat dianggap sebagai solusi karena permasalahan utama bukan pada uang yang dihasilkan, namun bagaimana buruh mengelola kehidupannya dengan penghasilannya. Upah seharusnya disesuaikan dengan kemampuan sehingga menghasilkan kepuasan. Oleh karena itu, perbaikan pasar tenaga kerja sangat berhubungan dengan peningkatan keterampilan dan pembentukan cara pandang positif. Buruh perlu mengubah cara pandangnya untuk menyadari bahwa persaingan semakin ketat, dan perusahaan harus membayar mereka yang bekerja baik, bukan hanya yang terdaftar dalam slip gaji.

perusahaan alih jasa yang melanggar peraturan. Hasil evaluasi panitia ini dapat dijadikan landasan perlu tidaknya dilakukan perbaikan atas UU Ketenagakerjaan. Di sisi lain, penguatan mental dan keterampilan buruh mutlak dilakukan untuk menambah nilai jual buruh tersebut di pasar tenaga kerja. Buruh yang berkualitas memiliki daya saing yang lebih tinggi untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik.

Rujukan:

E. Penutup
Praktik alih daya yang dilakukan di Indonesia semakin mengkhawatirkan dengan berbagai penyimpangan yang merugikan buruh alih daya. Kerugian tersebut diantaranya: 1. Rendahnya upah, yang berujung pada minimnya kesejahteraan buruh alih daya. 2. Ketidakadilan dalam posisi kepegawaian, sehingga buruh alih daya acap diintimidasi, dicurangi, dan dikurangi haknya baik oleh perusahaan maupun pengerah tenaga alih daya. Lemahnya pengawasan pemerintah terhadap rendahnya kesejahteraan buruh harus menjadi perhatian mengingat peraturan mengenai praktik alih daya sudah banyak dan komprehensif. DPR-RI dalam hal ini bertugas melakukan upaya pengawasannya terhadap pelaksanaan peraturan ketenagakerjaan tersebut. Oleh karena itu pada tanggal 10 April 2013, melalui RDPU Komisi IX dengan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, dibentuklah Panja Outsourcing. Panja ini diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan outsourcing, terutama di perusahaan BUMN. Namun, lebih jauh lagi, Panja ini harus mampu mendorong Pemerintah menindak tegas perusahaan atau

1. “Pengusaha Jangan Pura-Pura Tidak Tahu. Outsourcing Bukan untuk Pekerjaan Inti,” http://m.eksposnews.com/content/46299, diakses 2 Mei 2013. 2. “Dahlan Jelaskan Praktik Outsourcing di BUMN,” http://skalanews.com/berita/ detail/142920, diakses 2 Mei 2013. 3. “Hakim Konstitusi Arief: Bayar Di Bawah UMR Pengusaha Tak Bisa Dipidana,” http://news.detik.com/read/2013/05/02/1 33806/2236305/158, diakses 2 Mei 2013. 4. Fuady, Wachid. 2012. “Problematika Sistem Alih Daya dan Alternatif Pemecahannya.” Jurnal Ekonomi Manajemen dan Akuntansi, No. 33/Th. XIX/Oktober. 5. “Dahlan Usul BUMN Kelola Tenaga Alih Daya,” http://bisniskeuangan.kompas. com/read/2013/04/08/17414619, diakses 2 Mei 2013. 6. “Perwakilan Serikat Buruh Membentuk Majelis Pekerja Buruh Indonesia,” http://nasional.kompas.com/ read/2012/05/01/16373854, diakses 2 Mei 2013. 7. “Jasa bisnis alih daya mulai ketar-ketir,” http://industri.kontan.co.id/news, diakses 6 Mei 2013. 8. “Outsourcing di Indonesia, Peluang dan Tantangan,” http://ekonomi.kompasiana. com/bisnis/2013/05/01/, diakses 6 Mei 2013. 9. “Keadaan Ketenagakerjaan Februari 2013,” http://www.bps.go.id/brs_file/ naker_06mei13.pdf, diakses 6 Mei 2013. 10. Keputusan Mahkamah Konstitusi Mengenai Outsourcing No. 27/PUUIX/2011.
- 12 -

Vol.V, No. 09/I/P3DI/Mei/2013

PENINGKATAN LOGISTIC PERFORMANCE INDEX (LPI) DAN RENDAHNYA INFRASTRUKTUR PENDUKUNG
Achmad Wirabrata*)

E KO N O M I D A N KEBIJAKAN PUBLIK
Abstrak
Menurut Bank Dunia, ranking Logistic Performance Index (LPI) Indonesia mengalami peningkatan, dari peringkat 75 di tahun 2010, menjadi peringkat 59, namun kenaikan ini tidak diimbangi dengan perbaikan sarana dan prasarana infrastruktur yang baik. Masih banyaknya jalur pelayaran yang tidak efektif, kondisi jalan yang tidak baik kualitas maupun kuantitasnya. Pemerintah perlu meningkatkan pembangunan infrastrtuktur transportasi yang berkesinambungan agar dapat lebih meningkatkan LPI. Peningkatan peringkat LPI diharapkan dapat menurunkan biaya logistik yang signifikan.

A. Pendahuluan
Kondisi Indonesia yang luas harus didukung dengan sistem transportasi nasional yang efektif dan efisien. Terselenggaranya sistem tranportasi yang efektif dan efisien diharapkan dapat melayani angkutan barang. Hal ini dapat menurunkan biaya logistik. Beban biaya logistik di Indonesia berdasarkan produk domestik bruto (PDB) masih mencapai 27%. Sebagai perbandingan, di Korea beban biaya logistik sebesar 16,3% terhadap PDB dan di Amerika Serikat sebesar 9,9%. Perbandingan biaya logistik Indonesia dan Malaysia dilihat dari jarak tempuhnya, terdapat perbedaan cukup signifikan. Biaya
*)

pengiriman barang dari Cikarang menuju Tanjung Priok dengan jarak sekitar 55,5 kilometer sebesar US$750. Sementara di Malaysia, jarak dari Pasir Gudang ke Tanjung Lepas dengan jarak yang hampir sama, sekitar 56,4 kilometer memakan biaya logistik sebesar US$450. Untuk kontainer 20 kaki di pelabuhan Tanjung Priok tarifnya US$95, sementara Malaysia hanya US$88, Thailand US$63, dan dibayarkan dengan mata uang setempat, sementara di Indonesia harus dengan dolar AS. Biaya angkut antarkota atau antarpulau di Indonesia juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan dari Singapura ke berbagai tujuan di dalam negeri. Sebagai contoh, untuk rute yang sama, ongkos pengapalan kontainer dari Padang (Sumatera

Peneliti bidang Ekonomi Kebijakan Publik pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, e-mail: achmad.wirabrata@dpr.go.id

Info Singkat © 2009, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI www.dpr.go.id ISSN 2088-2351 - 13 -

Barat) ke Jakarta mencapai US$600, sedangkan dari Singapura ke Jakarta hanya US$185 (Kompas, 2010). Belum lagi setiap kapal yang melakukan bongkar muat di pelabuhan harus mengalokasikan dananya Rp150 juta per hari. Ini semua yang menyebabkan performa logistik Indonesia semakin buruk. Biaya transportasi darat merupakan komponen terbesar biaya logistik di Indonesia yaitu 66,8%, sisanya adalah biaya administrasi dan ongkos penanganan persediaan serta ditambah lagi dengan biaya bongkar muat, parkir, hingga pungutan liar. Keadaan seperti ini menjadi ancaman besar dalam kedaulatan logistik dan daya saing nasional. Jaringan logistik yang terintegrasi antar-Negara ASEAN akan diberlakukan pada tahun 2015, serta di tahun 2020 akan masuk jaringan logistik global. Infrastruktur yang baik diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan perekonimian nasional, seperti diungkapkan Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto, bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia bisa melebihi 7% bila didukung dengan pertumbuhan infrastruktur yang memadai.

Tabel 2. Peringkat Kualitas Infrastruktur Indonesia
2010 2011 2012 Kualitas Infrastruktur Total Infrastruktur Jalan Infrastruktur Kereta Api Infrastruktur Pelabuhan Infrastruktur Bandara Infrastruktur Listrik Sumber: World Economic Forum 96 94 60 95 68 96 90 84 56 96 69 97 82 83 52 103 80 98

B. Aspek-Aspek Logistic Performance Index
Pengukuran LPI menurut Bank Dunia terdiri atas enam faktor yaitu efisiensi proses di kepabeanan; kualitas infrastruktur; biaya pengiriman yang kompetitif; kompetensi dan kualitas jasa logistik; kemampuan melacak dan Tabel 1. Peringkat Logistic Performance Index ASEAN
Negara Singapura Malaysia Thailand Filipina Vietnam Indonesia Myanmar 2010 2 27 35 44 53 75 133 2012 2 29 38 52 53 59 129

menelusuri barang; serta waktu tempuh. Pada tahun 2012, Indonesia berada diperingkat 59 dalam LPI. Indonesia mengalami peningkatan peringkat dibandingkan tahun 2010 yang berada di peringkat 75. Myanmar mengalami peningkatan, tetapi posisinya masih berada di bawah Indonesia. Data peringkat daya saing logistik Indonesia dan negara tetangga pada tahun 2010 dan tahun 2012 bisa dilihat pada Tabel Peringkat LPI ASEAN. Pada laporan World Economic Forum 2012 kualitas infrastruktur Indonesia berada pada peringkat 82 dari 134 negara. Jenis kualitas infrastruktur yang memiliki peringkat terendah adalah kualitas infrastruktur pelabuhan yang berada pada peringkat 103. Kualitas pasokan listrik juga mengalami penurunan peringkat sejak tahun 2009-2010 yaitu peringkat 96, 97 dan 98 di tahun 2011-2012. Data peringkat infrastruktur Indonesia bisa dilihat pada Tabel Ranking Kualitas Infrastruktur Indonesia.

C. Permasalahan Logistik di Indonesia
Bagi kalangan industri, permasalahan yang muncul terkait dengan logistik adalah biaya logistik dan waktu kirim. Faktor-faktor lain penyebab tingginya biaya logistik antara lain: a. Teknologi informasi dan komunikasi yang kurang mendukung dalam proses pemantauan arus barang antarwilayah yang berpotensi meningkatnya biaya, b. Sarana yang mahal dalam hal pengadaan alat angkut truk dan kapal laut (pajak dan suku bunga tinggi),
- 14 -

Sumber: World Bank

c. Regulasi logistik yang tidak terpadu; tumpang tindih peraturan pusat-daerah, maraknya pungutan resmi di daerah, d. Kompetensi SDM logistik yang rendah, e. Armada yang tidak layak tetap beroperasi. Sistem transportasi di Indonesia memiliki kekhususan, sebagai Negara maritim, maka transportasi menggunakan seluruh moda yang ada yaitu darat, laut dan perairan, serta udara. Secara garis besar, penyediaan infrastruktur menyangkut dua prinsip dasar yaitu akses yang lebih baik terhadap infrastruktur itu sendiri dan harga produk yang dihasilkan dari pemanfaatan infrastruktur, karena dengan akses yang lebih baik produktivitas meningkat, sehingga biaya input menurun dan selanjutnya bagi konsumen berarti terjadinya penurunan biaya hidup. Berdasarkan hasil penelitian Ali dan Pernia (2003), Rasyid, Ozeki, and Sugiyanto (2003) diketahui bahwa kebutuhan infrastruktur antarwilayah seharusnya tidak digeneralisasi berdasarkan wilayah. Ada daerah yang membutuhkan jalan sebagai prioritas pendistribusian barang, tetapi ada daerahdaerah kepulauan yang lebih membutuhkan dermaga dan kapal-kapal penyebrangan sebagai prioritas. Infrastruktur telah didefinisikan dalam kondisi dari fasilitas fisik (jalan, bandara, pelabuhan, terminal, rel kereta api, dan alatalat transportasi), dan jasa (sistem transportasi) yang mengalir dari fasilitas-fasilitas itu. Menurut Ketua Badan Pengaturan Jalan Tol (BPJT), Ahmad Ghani Ghazali, penambahan panjang jalan tol di Indonesia mencapai 950 kilometer, sehingga totalnya menjadi 1.710 kilometer. Sampai dengan 2014 akan dibangun 24 proyek jalan tol, trans Jawa dan non-trans Jawa. Peran sistem logistik adalah menjamin kelancaran arus barang. Yang dimaksud dengan sistem logistik nasional adalah bagaimana mentransfer raw material sampai ke produk akhir ke tangan pengguna akhir (konsumen). Oleh karena itu saat ini Pemerintah menerapkan sistem koridor di Indonesia melalui MP3EI. Keberadaan enam koridor ekonomi memiliki fungsi strategis untuk menghasilkan dampak ekonomi nasional khususnya industri unggulan daerah dan mendorong pertumbuhan ekonomi
- 15 -

nasional sebesar 7% pertahun dengan sumber pembiayaan 92% swasta (domestik, asing, masyarakat) dan sisanya pemerintah.

D. Kebijakan Pemerintah
Infrastruktur sebagai modal utama yang mempengaruhi kinerja logistik sangat berpengaruh terhadap biaya logistik. Menurut Amalia Adininggar, Direktur Perdagangan Investasi dan Kerja Sama Ekonomi Internasional Kementeriaan Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Bappenas, pemerintah memiliki target peningkatan infrastruktur untuk dicapai di tahun 2014. Rencana pengembangan itu meliputi, peningkatan volume dry port sebesar 20%, pembangunan tiga pusat distribusi regional, dan peningkatan infrastruktur pelabuhan serta konektivitas menuju dan/atau dari pelabuhan. Pemerintah mengembangkan konsep pendulum nusantara, dengan menetapkan satu rute tetap pelayaran di enam pelabuhan. Keenam pelabuhan tersebut adalah, Pelabuhan Belawan Medan, Batam, Makassar, Tanjung Perak Surabaya, Tanjung Priok Jakarta, dan Sorong Papua. Konsep ini telah banyak diterapkan di dunia pelayaran, penerbangan, hingga telekomunikasi di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Menurut Direktur Utama Pelindo II R. J. Lino menyatakan konsep tersebut dapat memotong biaya sampai dengan 50%. Kepala Sub-Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Kementerian Perhubungan, Heru Wisnu Wibowo menyatakan akan diaktifkan kembali 14 jalur kereta api non operasional yang perlu dan masih bisa diaktifkan. Pengaktifan kembali jalur kereta api ini diharapkan dapat mengintegrasikan lintasan pelabuhan dan Bandar udara. Saat ini panjang jalan yang telah tersedia untuk jalan nasional adalah 36.318 kilometer, jalan provinsi 50.044 kilometer, jalan kabupaten 245.253 kilometer, jalan kota 23.469 kilometer, serta jalan tol sepanjang 772 kilometer. Menurut Djoko Murjanto, kinerja jalan tidak semuanya dalam kondisi baik.

E. Penutup
Faktor utama yang menyebabkan rendahnya kinerja logistik di Indonesia adalah masih rendahnya dukungan Infrastruktur. Infrastruktur di Indonesia masih belum memadai, baik dari segi kuantitas maupun kualitas diantaranya belum ada hub port, infrastruktur logistik nasional belum dikelola secara terintegrasi, efektif dan efisien. Hal ini mengakibatkan belum efektifnya intermodal transportasi dan interkoneksi antara infrastruktur pelabuhan, pergudangan dan transportasi. Sedangkan dari segi pelaku dan penyedia jasa logistik, rendahnya kinerja sektor ini disebabkan oleh masih terbatasnya kemampuan daya saing pelaku dan penyedia jasa logistik nasional baik pada tataran nasional maupun global, lemahnya jaringan nasional dan internasional, dan besarnya dominasi perusahaan-perusahaan multinasional. Distribusi barang sebaiknya tidak hanya dititikberatkan pada distribusi penggunaan transportasi darat. Pemerintah harus segera mengatur manajemen transportasi multimoda. Masih rendahnya kualitas dan kuantitas infrastruktur transportasi yang ada dapat memperlambat waktu pengiriman. Hal ini tentu saja dapat menurunkan indeks logistik

yang ada, khususnya dari sektor infrastruktur. Peningkatan peringkat LPI diharapkan dapat menurunkan biaya logistik secara signifikan. Hal ini dapat menurunkan harga produk, sehingga dapat meningkatkan daya saing produk dan daya beli masyarakat.

Rujukan:

1. “Peringkat Naik, Infrastruktur Stagnan,” Bisnis Indonesia, 2 Mei 2013. 2. “Daya Saing Logistik Disimpangan Jalan,” Bisnis Indonesia, 2 Mei 2013. 3. “Jalur Kereta Api Lama Akan Daktifkan Lagi,” Koran Tempo, 1 Mei 2013. 4. “Peningkatan LPI 2012 Selaras Produktivitas,” http://www.jurnas.com/ halaman/14/2012-06-16/212543, diakses 4 Mei 2013. 5. “Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen bila Infrastruktur Mamadai,” http:// bisniskeuangan.kompas.com/ read/2013/05/02/13422852, diakses 3 Mei 2013. 6. “Infrastruktur Picu Membengkaknya Biaya Logistik,” http://koranjakarta.com/index. php/detail/view01/83655, diakses 3 Mei 2013.

- 16 -

Vol.V, No. 09/I/P3DI/Mei/2013

LELANG JABATAN CAMAT DAN LURAH DI DKI JAKARTA
Dewi Sendhikasari D.*)

P E M E R I N TA H A N DALAM NEGERI
Abstrak
Sebagai street level bureaucracy, jabatan camat dan lurah merupakan jabatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat yang memerlukan landasan kuat untuk memberikan pelayanan publik yang optimal. Adapun lelang jabatan camat dan lurah merupakan salah satu bentuk upaya yang dilakukan pemprov DKI Jakarta dalam meningkatkan pelayanan publik di masyarakat.

A. Pendahuluan
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) kaya akan inovasi. Setelah mengeluarkan kebijakan Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP), Jokowi mengadakan lelang posisi camat dan lurah sampai Juni 2013. Jokowi mengungkapkan, awal mula tercetusnya ide menerapkan sistem lelang jabatan dilandasi oleh usulan dari masyarakat. Oleh karena itu, dia merespons cepat dan memasang target untuk melaksanakan terobosan ini dengan segera. Selain itu, menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Cahaya Purnama (Ahok), lelang jabatan sebenarnya dilakukan agar Pemerintah Provinsi Jakarta memiliki data Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Ibu Kota. Adapun jabatan di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan dilelang berjumlah 311 jabatan dengan rincian 44 jabatan camat dan 267 jabatan lurah. Jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) juga
*)

termasuk jabatan yang akan dilelang. Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) serta Lembaga Administrasi Negara (LAN) juga melelang jabatan, terutama untuk Eselon I. Lelang jabatan juga pernah dilakukan untuk memilih kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN). Lelang jabatan menarik untuk didengar meski pada dasarnya rancu dan kurang tepat. Istilah lelang identik dengan barang/jasa, sedangkan jabatan bukan termasuk kategori barang dan jasa. Kemudian diperhalus dan diperjelas maknanya dengan sebutan seleksi dan promosi jabatan publik secara terbuka. Menurut Jokowi, lelang cuma istilah, bukan seperti lelang barang atau jasa, tapi menyampaikan sebuah proposal kerja atau di perusahaan biasanya disebut bussines plan, jadi ada ukuran performance. Di swasta ada customer service index, di pemerintah nanti ada government service index.

Peneliti bidang Administrasi dan Kebijakan Publik pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, e-mail: sendhik@gmail.com

Info Singkat © 2009, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI www.dpr.go.id ISSN 2088-2351 - 17 -

Namun demikian, lelang jabatan memang mempunyai landasan hukum berupa Surat Edaran (SE) Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) No. 16 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pengisian Jabatan Struktural yang Lowong secara Terbuka di Lingkungan Instansi Pemerintah dan UU PokokPokok Kepegawaian. Sistem lelang jabatan bagi lurah dan camat yang dicanangkan Jokowi telah dimulai pada April 2013 yang lalu. Proses penyeleksian para pendaftaran yang ditujukan kepada seluruh PNS di Jakarta dilaksanakan berlangsung secara terbuka dan transparan. Setiap PNS memperoleh kesempatan sama selama memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. PNS dengan pangkat III/b hingga III/c dapat mendaftarkan diri sebagai lurah, sedangkan jabatan camat dibuka untuk mereka yang berpangkat III/d sampai IV/a. Para pendaftar hanya dibatasi pegawai yang berada di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sehingga PNS dari luar daerah tidak bisa mengikuti proses seleksi ini. Hingga saat ini, jabatan yang dilelang hanya mencangkup jabatan struktural, yakni lurah dan camat. BKD masih mempertimbangkan jabatan fungsional untuk diikutsertakan atau tidak. Menurut data, untuk PNS dengan pangkat III/c sampai IV/a yang diperbolehkan mendaftar untuk posisi camat berjumlah 29.590 orang. Sedangkan untuk PNS dengan pangkat III/b sampai III/c yang boleh mendaftar untuk jabatan lurah, berjumlah 3.183 orang. Adapun pendaftaran seleksi dan promosi jabatan lurah dan camat se-DKI Jakarta telah berakhir pada 22 April lalu. Selanjutnya, Pemprov DKI akan melaksanakan uji kompetensi untuk para peserta yang jumlahnya mencapai 1.118 orang.

B. Pro-Kontra Lelang Jabatan
Sistem lelang jabatan yang dicanangkan Jokowi tersebut bukan tanpa cela. Ada pro dan kontra yang muncul dalam proses pelaksanaannya. Bahkan, Lurah Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Mulyadi semula menentang kebijakan tersebut. Menurut Mulyadi, kebijakan pelaksanaan lelang jabatan itu dilandasi dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Provinsi DKI Jakarta No. 19 Tahun 2013 tentang Seleksi Terbuka Camat dan Lurah dengan mengharuskan diikuti oleh seluruh camat dan lurah yang sedang menjabat saat ini. Bagi yang tidak mendaftar dianggap mengundurkan diri. Kebijakan tersebut dianggapnya sangat berbenturan dengan sistem
- 18 -

pengangkatan jabatan yang berlangsung selama ini. Tidak semua PNS bisa menjabat sebuah tugas struktural jika belum mengikuti persyaratan tertentu seperti Diklat Kepemimpinan IV atau III. Di sisi lain di dalam Pergub itu pada Pasal 8 dinyatakan bahwa PNS yang menduduki jabatan camat dan lurah dari hasil seleksi terbuka itu untuk camat dan lurah yang kosong. Mulyadi melihat seleksi jabatan ini menyebabkan regenerasi di lingkungan PNS tidak berjalan dengan baik. Sebab, tidak ada lagi keteraturan bagi PNS yang mengantri untuk mendapatkan kesempatan jabatan eselon III dan IV. Ada sebagian PNS yang sudah merintis jabatannya sejak awal dan menunggu kesempatan untuk menjabat sebagai lurah atau camat terpaksa harus bersaing dengan PNS yang masih staf. Lain dari itu, jabatan lurah dan camat merupakan jabatan setingkat eselon IV dan III. Sementara untuk jabatan eselon III dan IV tidak hanya untuk camat dan lurah saja. Dia melanjutkan, sejatinya pimpinan daerah sebelum melakukan seleksi terbuka dengan mekanisme beragam tes itu harus menonaktifkan jabatan lurah saat ini atau mengosongkannya. Kemudian dilanjutkan dengan seleksi. Sementara saat ini lurah dan camat yang sedang menjabat diharuskan mendaftar. Hal itu sangat tidak relevan. Apalagi jika dilihat dari SE Menpan-RB No. 16 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pengisian Jabatan Struktural yang Lowong secara Terbuka di Lingkungan Instansi Pemerintah. Dalam aturan itu sudah ditegaskan, jabatan seleksi ini hanya untuk jabatan lowong. Maka harus ada pengosongan jabatan lurah di Jakarta dulu sehingga bisa lowong. Sementara anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Achmad Husin Alaydrus mengatakan proses pelaksanaan seleksi terbuka jabatan camat dan lurah sudah lari dari koridor aturan yang telah ada. Menurutnya, pelaksanaan proses lelang telah melanggar Pasal 21 dalam UU No. 29 Tahun 2007 tentang Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 21 ayat (3) UU tersebut berbunyi camat dan wakil camat diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul walikota atau bupati sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Begitu juga di Pasal 22 ayat (3), diatur lurah dan wakil lurah diangkat dan diberhentikan oleh walikota atau bupati berdasarkan pendelegasian wewenang Gubernur sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Namun demikian, Jokowi mengaku persoalan itu lebih tepat ditanggapi Menpan-RB.

Jokowi berkeyakinan kebijakan itu telah sesuai dengan regulasi yang ada. Beberapa regulasi yang dirujuk atas Pergub Provinsi DKI Jakarta No. 19 Tahun 2013 itu antara lain Peraturan Pemerintah (PP) No. 44 Tahun 2011 tentang Perubahan Ketiga PP No. 32 Tahun 1979 tentang Pemberhentian PNS serta PP No. 100 Tahun 2000 tentang Pengangkatan PNS dalam Jabatan Struktural. Mengenai adanya tuntutan para lurah yang sedang menjabat menolak diseleksi karena harus menjalani banyak mekanisme untuk mengemban amanah lurah atau camat itu, Jokowi menganggap hal itu bisa disiasati. Di antaranya mengubah aturan tersebut atau meminta perubahan aturan sembari proses berjalan. Menurut Jokowi, hal itu merupakan perkara-perkara kecil yang artinya biasa dalam sebuah perubahan atau perombakan besar. Sedangkan menurut pengamat hukum tata negara Universitas Khairun Ternate, Margarito, kebijakan seleksi jabatan secara terbuka yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta ini memang belum dijabarkan secara terperinci dalam peraturan dan perundang-undangan yang ada. Hal itu membuat kalangan tertentu yang melihat mekanisme ini secara hukum tentu sangat bertabrakan. Akan tetapi seleksi jabatan camat dan lurah ini memiliki sebuah substansi besar perihal transparansi dalam sebuah pemerintahan daerah atau birokrasi. Menurutnya, Jokowi tidak terlalu terganggu atas adanya gugatan ini. Kebijakannya itu sangat bagus dalam sebuah reformasi birokrasi. Hal serupa juga dikemukakan pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia (UI) Andrinof A Chaniago. Menurutnya, tuntutan atau gugatan itu hanyalah pandangan salah satu pihak melihat terobosan untuk perbaikan pemerintahan dari kacamata hukum atau pengacara. Padahal banyak pihak mengeluhkan kondisi birokrasi saat ini. Keluhan atas buruknya kondisi birokrasi harus segera ditindaklanjuti dengan sebuah reformasi dan terobosan, dan ini adalah terobosan positif.

C. Sistem Lelang Jabatan
Berdasarkan Pergub Provinsi DKI Jakarta No. 19 Tahun 2013 tentang Seleksi Terbuka Camat dan Lurah, Seleksi Terbuka adalah proses pemilihan yang diumumkan secara luas melalui media bagi PNS yang memenuhi syarat untuk diangkat dalam Jabatan Camat atau Lurah. Seleksi Terbuka Camat dan Lurah bertujuan untuk membangun kepemimpinan Camat dan Lurah yang mumpuni dan dilakukan dengan prinsip objektif, transparan, dan akuntabel.

Menurut Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin, ada tiga indikator yang menyebabkan jabatan camat dan lurah dilelang. Pertama, masa pensiun camat dan lurah. Lurah dan camat yang sudah masuk masa pensiun akan mendapatkan giliran untuk melelang jabatannya. Kedua, camat dan lurah yang tidak mampu ketahanan fisiknya dan sering merasa sakit juga akan dilelang jabatannya. Ketiga, camat dan lurah yang akan dilelang adalah camat dan lurah yang tidak mampu membangun wilayahnya. Mereka tidak memiliki program yang jelas untuk memberdayakan masyarakatnya untuk bisa berkembang. Kriteria yang diperlukan untuk bisa mengikuti lelang tersebut adalah memiliki nilai penunjang akademik, memiliki mental kepribadian yang baik, dan sehat jasmaninya. Pegawai yang ingin mengikuti lelang jabatan camat dan lurah juga harus memiliki performa komunikasi yang baik sehingga dia mampu menyampaikan programnya kepada masyarakat. Kemudian apa istimewanya lelang jabatan atau dalam hal ini disebut sebagai seleksi terbuka dibanding dengan mekanisme seleksi dan promosi jabatan di birokrasi sebelumnya? Selama ini, seleksi dan promosi di dalam birokrasi tidak bisa dimasuki orang luar yang mengesankan sesuatu negatif. Agus Dwiyanto, dalam bukunya “Mengembalikan Kepercayaan Publik Melalui Reformasi Birokrasi” menyebutkan, salah satu patologi birokrasi ialah berperilaku “menjilat,” laporan kerja asal bapak senang, dan menunjukkan loyalitas secara berlebihan pada atasan. Perilaku-perilaku buruk seperti itu akan makin “subur” apabila dipadukan dengan sistem promosi jabatan yang bersifat tertutup karena sulit mengontrol objektivitas promosi. Dengan membuka tabir proses promosi yang melibatkan pihak luar birokrasi, diharapkan penilaian akan berdasarkan kapabilitas dan integritas. Mekanisme model lama sangat rawan penggunaan “pelicin” atau “suap” agar dipromosikan. Prosedur tertutup dalam promosi jabatan birokrasi juga dekat dengan politisasi sehingga menyebabkan tidak netralnya birokrasi. Hal ini berkaitan dengan mekanisme promosi jabatan yang merupakan hak penuh atasan, terutama kepala daerah. Oleh karena itu, melalui lelang jabatan, diproyeksikan bahwa unsur like dan dislike penguasa politik tidak dapat memberi warna dalam promosi birokrasi. Ada juga sejumlah catatan yang perlu diperhatikan dalam lelang jabatan, seperti dari

- 19 -

mana anggarannya. Sempat beredar kabar bahwa anggaran untuk lelang jabatan akan diambil dana Corporate Social Responsibility (CSR) APBD DKI Jakarta, namun tak jadi karena memang tidak tepat. CSR untuk pemberdayaan masyarakat, bukan lelang jabatan. Kemudian, prosedurnya juga belum mapan. Misalnya, Menteri Dalam Negeri mengatakan gubernur bisa menyeleksi secara terbuka dari 20 atau 50 pendaftar, kemudian gubernur menyerahkan tiga nama kepada Mendagri sebagai Tim Penyeleksi Akhir. Adapun menurut Kemenpan-RB, calon-calon camat dan lurah akan diseleksi mencari 10 kandidat. Selanjutnya, 10 orang itu masuk ke Assesment Centre (AC). Metode itu untuk menggali level kompetensi seseorang melalui serangkaian jenis tes, seperti kompetensi kepemimpinan, kemampuan komunikasi, pemecahan masalah, dan kerja sama. Prosedur yang belum baku itu harus dituntaskan agar tidak menimbulkan kebingungan. Kemudian, kekuatan hukum dari SE Menteri tidak sekuat aturan di atasnya, seperti peraturan menteri atau peraturan presiden, sehingga hanya kepala daerah yang berniat baik mereformasi birokrasi di bawahnya yang menerapkan lelang jabatan. Padahal, akan sangat bagus kalau kebijakan ini berlaku di seluruh Indonesia. Kedepan, perlu dipikirkan metode pelibatan masyarakat dalam proses lelang ini. Contohnya uji publik yang ditempatkan sebelum proses assessment oleh tim ahli yang membuat khalayak bisa menyampaikan aspirasi atau pendapat berdasarkan kandidat. Meskipun demikian, lelang jabatan patut didukung untuk reformasi birokrasi. Dengan begitu, masyarakat bisa memiliki pemimpin di birokrasi yang melayani masyarakat dan profesional.

Adapun lelang jabatan camat dan lurah merupakan salah satu bentuk upaya yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta dalam meningkatkan pelayanan publik di masyarakat. Proses lelang jabatan tidak sekadar mengganti pejabat publik, tetapi juga berusaha memperbaiki sistem seleksi jabatan publik di tingkat daerah. Lelang jabatan camat dan lurah di DKI Jakarta diyakini akan mengoptimalkan kinerja pimpinan di wilayah tersebut namun lelang jabatan tersebut harus dilanjutkan dengan program jangka panjang lainnya. Cara lain adalah melakukan rasionalisasi struktur dan alur kerja birokrasi dan memaksakan penerapan sistem informasi dan teknologi di tiap instansi Pemprov DKI Jakarta. Selama ini praktek promosi dan mutasi tidak terbuka dan tidak memiliki kriteria penilaian yang jelas, selain syarat ijazah formal dan masa kerja. Fakta juga menunjukkan kemampuan dan etos kerja pejabat karir yang menduduki posisi pejabat struktural umumnya rendah. Oleh karena itu, lelang jabatan merupakan hal yang positif yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta dalam upaya melaksanakan reformasi birokrasi di Indonesia dan memperbaiki sistem birokrasi yang ada di daerah.

Rujukan:

D. Penutup
Jabatan camat dan lurah yang merupakan garis depan dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat perlu diperbaiki karena merupakan lini depan dari birokrasi pelayanan publik di Indonesia. Berbagai patologi birokrasi pelayanan publik yang terjadi di Indonesia menyebabkan buruknya kinerja pelayan publik. Sebagai street level bureaucracy, jabatan camat dan lurah merupakan jabatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan landasan kuat bagi jabatan tersebut untuk memberikan pelayanan publik yang optimal.
- 20 -

1. “3 Gelombang Uji Kompetensi Lelang Jabatan Camat dan Lurah,” http://news.liputan6.com/ read/572172, diakses 5 Mei 2013. 2. Darmawan, Ikhsan. “Tentang Lelang Jabatan,” http://koran-jakarta.com/index.php/detail/ view01/117254, diakses 2 Mei 2013. 3. Safutra, Ilham. “Lurah Warakas Gugat Lelang Jabatan,” http://www.koran-sindo.com/ node/312073, diakses 2 Mei 2013. 4. Akuntono, Indra. “Jokowi: Lelang Jabatan Usul dari Masyarakat,” http://megapolitan. kompas.com/read/2013/02/04/11145131, diakses 5 Mei 2013. 5. “Inilah Alasan Jokowi Lelang Jabatan Lurah dan Camat (2),” http://wartakota.tribunnews. com/detil/berita/119907, diakses 5 Mei 2013. 6. Tristia Tambun/YUD, Lenny “Ahok: Kami Berhak Mengganti Lurah,” http://www. beritasatu.com/megapolitan/111305, diakses 5 mei 2013. 7. “Sistem Lelang Jabatan DKI Jakarta,” http:// asn-id.blogspot.com/2013/03/sistem-lelangjabatan-dki-jakarta.html, diakses 2 Mei 2013. 8. Yeni, “Ide Jokowi Lelang Jabatan Diyakini Optimalkan Kinerja Lurah & Camat,” http:// www.starberita.com/index.php, diakses 7 Mei 2013.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->