Anda di halaman 1dari 6

Depresi adalah (1) pada orang normal merupakan ganguan kemurungan (kesedihan, patah semangat) yang ditandai dengan

perasaan tidak pas, menurunnya kegiatan, dan pesimisme menghadapi masa yang akan datang, (2) pada kasus patologis, merupakan ketidakmampuan untuk bereaksi terhadap rangsang disertai menurunnya nilai diri, delusi ketidakpasan, tidak mampu, dan putus asa. Depresi juga merupakan perasaan yang sinonim dengan perasaan sedih, murung, kesal, tidak bahagia dan menderita. Individu umumnya menggunakan istilah depresi untuk merujuk pada keadaan atau suasana yang melibatkan kesedihan, rasa kesal, tidak mempunyai harga diri, dan tidak bertenaga. Individu yang menderita depresi aktifitas fisiknya menurun, berpikir sangat lambat, kepercayaan diri menurun, semangat dan minat hilang, kelelahan yang sangat, insomnia, atau gangguan fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, rasa sesak didada, hingga keinginan untuk bunuh diri (Chaplin, 1997). Depresi adalah gangguan yang heterogen. Berdasarkan klasifikasi DSM IV TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, 1994, Text Revision) yang dikeluarkan oleh ikatan Ahli Psikiatri Amerika, depresi termasuk dalam gangguan mood; gangguan mood lainnya adalah bipolar. Pada klasifikasi ini depresi terbagi menjadi tiga, yakni gangguan distimia, depresi mayor (depresi klinik) dan depresi tak terklasifikasi (Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 2007). Setiap orang yang mengalami suatu kekecewaan hebat (pemecatan, kepailitan, perceraian) atau kehilangan pribadi (kematian kekasih) dengan sendirinya menjadi murung. Jiwanya tertekan dengan gejala persaan sangat sedih, putus asa dan hilangnya kegembiraan, rasa lelah dan letih, tidak nafsu makan, dan sukar tidur. Mentalnya juga terganggu; sering termenung dengan pikiran khayal, konsentrasi berkurang, bimbang dan sukar mengambil keputusan (Syarif,1995). Kriteria untuk depresi sedang/hebat yang kini berlaku menurut DSM IV adalah terdapatnya hampir setiap hari selama minimal 2 minggu sebanyak 3-5 gejala-gejala berikut : Suasana jiwa murung Hilangnya perasaan gembira dan perhatian

Perasaan salah dan tak berharga Pikiran dan percobaan bunuh diri Tak dapat mengambil keputusan atau timbul problema konsentrasi Agitasi (persaan dikejar, cepat tersinggung) atau penghambatan (segala sesuatu berlangsung lebih lambat Lelah dan hilangnya energi Gangguan tidur Perubahan nafsu makan atau berat badan (Ganiswara,1995) Salah satu gejala depresi adalah pikiran dan gerakan motorik yang serba lamban (retardasi psikomotor), fungsi kognitif (aktifitas mental emosional untuk belajar, mengingat, merencanakan, mencipta, dan sebagainya) terganggu. Jadi depresi mencakup dua hal kesadaran yaitu menurunnya aktifitas dan perubahan suasana hati. Perubahan perilaku orang yang depresi berbeda - beda dari yang ringan sampai pada kesulitan - kesulitan yang mendalam disertai dengan tangisan, ekspresi kesedihan, tubuh lunglai dan gaya gerak lambat (Supratiknya, 1995). Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan depresi, yaitu : a. Faktor individu yang meliputi : 1) Faktor biologis seperti genetik, proses menua secara biologis, penyakit fisik tertentu. 2) Faktor psikologis seperti kepribadian, proses menua secara psikologis. Pada kepribadian introvert akan berusaha mewujudkan tuntutan dari dalam dirinya dan keyakinannya, sedangkan kepribadian ekstrovert membentuk keseimbangan dirinya dengan menyesuaikan keinginan - keinginan dari orang lain. b. Faktor kejadian - kejadian hidup yang penting bagi individu Kehilangan seseorang ataupun sesuatu dapat menimbulkan depresi. Penyakit fisik juga berhubungan dengan serangan afeksi karena penyakit merupakan ancaman terhadap daya tahan individu, terhadap kemampuan kerjanya, kemampuan meraih apa yang diinginkannya dan merupakan ancaman terhadap aktifitas motorik dan perasaan sejahtera individu.

c. Faktor lingkungan yang meliputi faktor sosial, faktor budaya, dan faktor lingkungan fisik (Birren and Schaie, 1995). Obat Anti Depresi Sinonim dari obat anti depresi yaitu thymoleptics psychic energizers, antidepresan. Terdapat 3 (tiga) golongan obat antidepresan yaitu, Antidepresan Trisiklik (TCA), Selektif Serotonin Re-Uptake Inhibitor (SSRI) dan Mono Amin Oksidase Inhibitor (MAOI) (Dinna, 2010). SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor) Timbulnya depresi dihubungkan dengan peran beberapa neurotransmiter aminergik. Neurotransmiter yang paling banyak diteliti ialah serotonin. Konduksi impuls dapat terganggu apabila terjadi kelebihan atau kekurangan neurotransmiter di celah sinaps atau adanya gangguan sensitivitas pada reseptor neurotransmiter tersebut di post sinaps sistem saraf pusat (Faridadic, 2009). Pada depresi telah di identifikasi 2 sub tipe reseptor utama serotonin yaitu reseptor 5HTIA dan 5HT2A. Kedua reseptor inilah yang terlibat dalam mekanisme biokimiawi depresi dan memberikan respon pada semua golongan anti depresan (Faridadic, 2009). TCA (Tricyclic Antidepressant) Mekanisme Kerja TCA Menghambat reuptake neurotransmiter, TCA menghambat reuptake norepinefrin dan serotonin neuron masuk ke terminal saraf pra sinaps, dengan menghambat jalan utama pengeluaran neurotransmiter , TCA akan meningkatkan konsentrasi monoamin dalam celah sinaps, menimbulkan efek antidepresan. Efek TCA adalah meningkatkan pikiran, memperbaiki kewaspadaan mental, meningkatkan aktifitas fisik, mengurangi angka kesakitan pada depresi. Efek timbul memerlukan waktu 2 minggu atau lebih. Indikasi untuk Depresi, gangguan panik, dan dapat digunakan untuk mengontrol ngompol bagi anak diatas 6 tahun. Contoh: Amitriptilin, Amoksapin, Desipramin, Doksepin, Imipramin, Maprotilin, Nortriptilin, Trimipramin (Dinna, 2010).

Obat antidepresi golongan trisiklik pada gugus metilnya terdapat perbedaan potensi dan selektivitas hambatan re-uptake berbagai neurotransmitter. Amin sekunder yang menghambat re-uptake norepinefrin dan amin tertier menghambat re-uptake serotonin pada sinap neuron (Ganiswara, 1995). Amitriptylin Amitriptilin termasuk antidepresi trisiklik ( golongan amin tersier ), yaitu obat yang mempunyai dua gugus metil. Depresi akibat kekurangan serotonin akan lebih responsif terhadap amin tersier. Pemerian Kelarutan : Serbuk hablur atau hablur kecil; putih atau hampir putih; tidak berbau atau hampir berbau. : Larut dalam 1 bagian air, dalam 1 bagian etanol (95%) P, dalam 1,2 bagian kloroform P dan dalam 1 bagian methanol P; praktis tidak larut dalam eter P. Struktur kimia amitriptilin :

HCl H

CHCH2CH2N(CH3)2 (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995) Efek samping Amitriptyline adalah : 1. Sedasi (mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif menurun dan sebagainya) 2. Efek anti kholmergik (mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur, konstipasi, kelainan jantung sinus takhikardi). 3. Efek anti adrenergik alfa (perubahan dalam rekam jantung atau EKG, hipotensi). Efek neutrotoksis (tremor halus, gelisah, agitasi dan insomnia). 4. Efek samping yang tidak berat biasanya sedikit demi sedikit akan berkurang setelah pemakaian selama 2 sampai 3 minggu. Karena Amitripryline mempunyai efek sedatif dan kardiologiknya relatif besar, maka seyogyanya

berikanlah pada pasien usia muda (young healthy) yang lebih besr toleransi terhadap efek samping tersebut.Sejumlah kelainan jiwa bisa menyebabkan penderitanya mengalami depresi (Hidayat, 2006). MAOI (Mono Amin Oksidase Inhibitor) Monoamin oksidase adalah suatu enzim mitokondria yang ditemukan dalam jaringan saraf dan jaringan lain, seperti usus dan hati. Dalam neuron, MAO berfungsi sebagai katup penyelamat (menonaktifkan neurotransmiter monoamin (NE, dopamin, serotonin) Mekanisme kerja MAOI : a. MAO menginaktifasi monoamin (NE,serotonin,dopamin) yang keluar dari vesikel shg monoamin dalam neuron berkurang. b. Obat MAOI menghambat inaktivasi monoamin oleh MAO, sehingga monoamin tetap aktif dan berdifusi kedalam ruang sinaps (Dinna, 2010).

Dapus Birren, J. E. and Schaie, W. 1995. Handbook of the Psychology of Aging . Academic Press. San Diego, CA. Chaplin, J.P. 1997. Kamus Lengkap Psikologi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Departemen Farmakologi dan Terapeutik. 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi Kelima. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, Farmakope Indonesia IV, Jakarta : Depkes RI Dinna. 2010. Golongan Obat yang Bekerja Mempengaruhi Sistem Saraf Pusat. Available online at: http://dinnawindiasari.blogspot.com/2010/09/golongan-obat-yang-bekerjamempengaruhi.html (diakses 30 April 2013). Faridadic. 2009. Depresi. Available online at: http://faridadic.wordpress.com/ (diakses 30 April 2013). Ganiswara, S. G., dkk, 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi keempat, Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Hidayat, dr. Teddy, SpKJ (Psikiater). 2006. Masalah Kesehatan pada Lansia. http://hariswc.blog.friendster.com/ (diakses 02 Mei 2013). Supratiknya, A.A. 1995. Hubungan Antarpribadi. PT Kanisius. Yogyakarta. Syarif. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Gaya Baru. Jakarta