Anda di halaman 1dari 5

1. 2. 3. a.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk mensyukuri nikmat Allah swt. Secara garis besar, mensyukuri nikmat ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: Mensyukuri dengan hati, dengan mengakui, mengimani dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya dari Allah swt semata. Mensyukuri dengan lisan, dengan memperbanyak ucapan alhamdulillah (segala puji milik Allah) wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah). Mensyukuri dengan perbuatan. Mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah untuk menunaikan perintah-perintah Allah, baik perintah wajib, sunnah maupun mubah. b. Mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah dengan cara menghindari, menjauhi dan meninggalkan segala bentuk larangan Allah, baik larangan yang haram maupun yang makruh. Syukur dengan hati, lisan dan perbuatan ini hendaklah tercermin pada setiap momentum yang bersifat zhahir, bahkan yang tersamar sekalipun. Contoh cerminan sikap mensyukuri nikmat Allah yang tampak secara lahir ini dapat dilihat dalam sikap Nabi Sulaiman as saat ia mendapati singgasana Bilqis telah ada di sampingnya dalam sekejap mata. Saat itu Nabi Sulaiman langsung berkata, " Ini adalah anugerah Allah. Dia bermaksud mengujiku, adakah aku bersyukur ataukah aku kufur. " (QS AnNaml: 40) Sikap yang sebaliknya ditunjukkan oleh Qarun. Saat ia ditanya oleh kaumnya tentang sukses bisnisnya, ia tidak menisbatkan sukses itu kepada Allah. Dengan penuh 'ujub, sombong dan takabbur ia berkata, "Semua ini aku dapatkan semata-mata karena ilmuku, kepintaranku, kepiawaianku" (QS Al-Qashash: 78). Karena itulah ia diazab Allah. Surat Ibrahim Ayat 7 (14:7): Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jik kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-KU, maka sesungguhnya azab-KU sangat pedih

MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT.


Monday, October 2, 2006 3:36:57 AM Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 2 : "Allahil lazi ma fii samaawaati wa maa fil ardh" artinya: "Semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah". apabila dikaji lebih jauh, makna ayat tersebut adalah manusia dan semua mahluk ciptaan Allah hanya mendapatkan "pinjaman" saja. Tidak ada sesuatu yang patut dibanggakan oleh mahluk melebihi kekuasaan penciptaNYA. Oleh karena status kepemilikan segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah, maka sebagai "peminjam" suatu saat nanti harus dikembalikan atau diambil kembali oleh "sang pemilik". Dalam kondisi inilah, tidak sepatutnya manusia mengingkari betapa besar karunia Allah SWT kepada manusia dengan bersikap misalnya: sombong, tinggi diri, takabur, dan lain sebagainya. Sebagai peminjam yang baik, kita seharusnya merawat dan menjaga pinjaman tersebut dengan baik. Tentu saja bentuknya dengan selalu mensyukuri ni'mat Allah dengan lisan dan perbuatan. Selanjutnya Alah berfirman dalam QS.Ibrahim ayat 7 : "la in syakartum laa adziidanakum wa la'in kafartum inna azabi lasyadid" artinya "sesungguhnya jika (kamu) bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU) maka sesungguhnya azab-KU akan sangat pedih". Makna ayat tersebut secara sederhana dapat diartikan, adanya reward bagi yang melakukan (syukur nikmat), namun ada punishment bagi yang tidak melakukan (kufur nikmat). Sejauh ini kita tidak cukup

cerdas untuk konsisten memahami betapa rasa syukur itulah yang akan membuat manusia menemukan cahaya illahi dalam kehidupannya. Contoh sederhana adalah betapa nikmat Allah berupa adanya Oksigen atau Zat Asam yang kita hirup untuk tetap hidup. Sampai saat ini tidak perlu dibeli, namun kualitasnya dari waktu ke waktu semakin buruk karena ulah manusia seperti polusi udara, penebangan hutan dan berbagai bentuk kerusakan yang disebabkan oleh keserakahan manusia.Daerah yang semula berudara sejuk dan nyaman untuk ditempati karena terletak di dataran tinggi, kini udaranya ketika siang hari nyaris tidak berbeda dengan daerah dataran rendah atau tepian pantai yang panas. Untuk dapat mentasyakuri nikmat Allah, harus dilakukan dengan mentafakuri betapa besar kasih sayang Allah. Hal-hal kecil dan besar yang mungkin luput dari pandangan kita sebagai manusia dapat diingatkan untuk selalu disyukuri. Bentuk atau wujud rasa syukur itu dapat dilakukan antara lain dengan beberapa cara : 1. Bersyukur dengan hati dan perasaan 2. Bersyukur dengan lisan 3. Bersyukur dengan perbuatan 4. Bersyukur dengan harta benda Dengan mensyukuri nikmat Allah SWT manusia akan mendapat berkah dan karunia yang lebih banyak lagi dariNYA, sebagaimana QS Ad-Dhuha ayat 11 : " Dan terhadap Nikmat Tuhanmua, maka hendaklah kamu menyebutNYA (dengan bersyukur)".Demikian pula QS. Ar-Rahman berkali-kali menyebutkan : "maka Nikmat Rabb yang manalagi yang kamu dustakan". Bila masih ada Pertanyaan tentang adanya keraguan kita untuk tidak mensyukuri nikmat Allah, baiknya anda berhenti sejenak dari kesibukan dunia untuk menyadari segeralah bersyukur. Semoga Allah senantiasa meridhoi langkah hidup kita semua. Amien.

Cara Mensyukuri Nikmat


9 Januari 2010 pukul 18:50 Disimpan dalam . LIHAT SELURUH ARTIKEL, 3. Sabar dan Syukur, Kebun08 : AKHLAK DAN PERGAULAN

Segala nikmat yang diperoleh hamba dalam bentuk apapun, baik yang bersifat materi atau non-materi, yang bersifat duniawi atau ukhrawi (akhirat), maka wajib untuk disyukuri. Tentunya semakin banyak dan besar suatu pemberian maka kewajiban untuk bersyukur pun semakin besar. Bersyukur merupakan ibadah yang besar, sebagaimana firmanNya: Dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.(An-Nahl: 114) Mensyukuri nikmat juga sebab paling utama untuk dilanggengkannya nikmat serta ditambahnya nikmat. Namun sebaliknya, mengkufuri (mengingkari) nikmat apalagi menggunakannya untuk kemaksiatan (perbuatan yang dibenci Allah) merupakan faktor utama dari dicabutnya nikmat. Allah Subhanahu wa Taala berfirman: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Ibrahim: 7) Tentunya merupakan sikap yang sangat tercela bila seorang tidak mau berterima kasih kepada Sang Pemberi nikmat. Terlebih lagi sampai menggunakannya pada perkara yang mendatangkan kemurkaan Sang Pemberi. Bila seperti ini seseorang menyikapi pemberian Allah Subhanahu wa Taala, maka azab lebih dekat ketimbang rahmat, dan kenikmatan sudah di ambang pintu untuk meninggalkannya. Sungguh malang nasib seorang manusia yang diberi adzab oleh Allah Subhanahu Wataala dalam bentuk berpalingnya Allah dari kehidupannya dan membiarkannya semakin bergelimang dalam kubangan dosa, hingga ia dibutakan untuk bisa kembali ke jalan kebaikan. Sungguh adzab yang sangat pedih telah menantinya di akhirat kelak. Cara Mensyukuri Nikmat Hendaknya kita bisa memahami dengan baik cara mensyukuri nikmat, karena ada sebagian manusia yang sudah merasa mensyukuri nikmat dengan mengucapkan alhamdulillah , bahkan sebagian lagi tidak tahu cara melakukannya. Dibawah ini beberapa cara yang bisa dijadikan panduan dalam mensyukuri nikmat : 1. Meyakini dalam hati bahwa nikmat yang diterima semata-mata pemberian Allah Subhanahu wa Taala. Seorang yang beriman seharusnya tidak menisbatkan (mengarahkan sebab timbulnya) nikmat kepada kekuatan, kepintaran, keberaniannya, dan semisalnya. Sebagai contoh Nabi Sulaiman alahi salam tatkala singgasana Ratu Saba bisa didatangkan di hadapannya dalam tempo sekejap, maka beliau berkata: Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatNya).(An-Naml: 40)

Asy-Syaikh As-Sadi rahimahullahu berkata: Nabi Sulaiman as tidak teperdaya dengan (menyombongkan) kerajaan, kekuasaan, dan kemampuannya. Ini berbeda dengan kebanyakan para raja yang bodoh. Nabi Sulaiman q tahu bahwa ini adalah ujian dari Rabbnya, sehingga khawatir bila tidak mampu mensyukurinya. (Tafsir As-Sadi hal. 605) Coba bandingkan dengan sikap dan ucapan Qarun yang menyombongkan kemampuannya, seperti yang Allah Subhanahu wa Taala kisahkan: Qarun berkata: Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku. (Al-Qashash: 78) Ucapan dan kesombongan Qarun sudah berlalu beribu-ribu tahun, namun sikapnya masih terus terwariskan sampai saat ini. Kerap sekali kita dengar ucapan yang senada dengannya, seperti: Harta ini saya peroleh semata-mata karena hasil karya dan ketekunan (kerja keras) saya. Padahal Allah Subhanahu wa Taala telah berfirman: Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (An-Nahl: 53) 2. Memuji Allah Subhanahu wa Taala atas segala karunia-Nya dengan mengucapkan puji syukur dan menceritakannya secara lahir. Karena, selalu mengingat dan menceritakan (bukan untuk kesombongan , red) pemberian Allah Subhanahu wa Taala akan mendorong untuk bersyukur. Hal itu karena manusia mempunyai tabiat menyukai orang yang berbuat baik kepadanya. 3. Menggunakan nikmat untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Taala bukan untuk maksiat, serta merealisasikan beragam amal shalih sebagai bentuk mensyukuri nikmat.

Karena nikmat hanyalah titipan yang seharusnya dijaga dan tidak dipergunakan kecuali pada batasan-batasan yang dibolehkan agama. Apabila kita perhatikan perjalanan hidup para kekasih Allah Subhanahu wa Taala dari kalangan para nabi dan orang-orang shalih, niscaya kita dapati mereka adalah teladan dalam mensyukuri nikmat. Kedudukan dan kekuasaan yang ada pada mereka dijadikan sarana untuk menebarkan keadilan di tengah-tengah manusia. Harta yang mereka peroleh dibelanjakan pada pos-pos kebaikan serta untuk menyokong untuk kemuliaan Islam dan muslimin. Ilmu yang mereka dapatkan diamalkan dan ditebarkan tanpa mengharapkan apapun kecuali keridhaan Allah Subhanahu wa Taala. Lihat salah satu misal teladan terbaik bagi kita yaitu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, bagaimana beliau banyak melakukan shalat malam hingga bengkak kakinya. Tatkala beliau ditanya tentang hal itu, padahal dosa dan kesalahannya yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni, maka beliau bersabda: Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur? (HR Al-Bukhari)

Sumber : disadur dan dikutip dari tulisan Al-Ustadz Abu Muhammad AbdulMuthi, Lc, berjudul Menyikapi Nikmat Dunia Sebagai Ujian dari Majalah Asy Syariah