Anda di halaman 1dari 12

BAB 19 MENCATAT KEWAJIBAN Sifat Dasar Kewajiban FASB mendefinisikan kewajiban sebagai kemungkinan pengorbanan manfaat ekonomi masa

depan yang timbul dari kewajiban saat ini satuan usaha tertentu untuk mentransfer aktiva dan jasa ke satuan usaha lain di masa depan sebagai hasil dari transaksi dan kejadian masa lalu. Karakteristikkaraketristik spesifik dari kewajiban mencakup yang berikut: 1. Kewajiban itu harus ada pada saat ini. Saat ini yaitu yang dilihat muncul dari beberapa transaksi atau kejadian masa lalu. Ini mungkin berasal dari akuisisi barang atau jasa, dari kerugian yang telah diderita dimana perusahaan berkewajiban untuk itu. 2. Kewajiban atau tugas yang setara atau konstruktif harus dimasukkan jika hal itu didasarkan pada keperluan untuk membuat pembayaran masa depan guna mempertahankan hubungan bisnis yang baik atau jika itu sesuai dengan praktik bisnis yang normal. 3. harus tidak ada atau sedikit kebebasan untuk menghindari pengorbanan-pengorbanan masa depan. 4. lazimnya, harus ada nilai jatuh tempo yang dapat ditentukan atau diperkiraan untuk pembayaran suatu jumlah yang ditentukan oleh estimasi layak akan diawajibkan pawa waktu tertentu dimasa depan, sekalipun waktu yang tepat belum diketahui saat ini. 5. biasanya, pihak yang dibayar harus diketahui atau dapat diidentifikasikan baik secara spesifik atau sebagai suatu kelompok. Kontrak Mengofset Tanpa Kondisi Berbagai macam kerumitan telah dihadapi dalam upaya meerapkan definisi kewajiban. Satu perangkat timbul berkenaan dengan kewajiban yang berasal dari kontrak masa bejalan untuk akuisisi barang dan jasa di masa depan. Sebagai contoh, sebuah perusahaan dapat menandatangani suatu perjanjian dengan pemasoknya agar mengirimkan bahan baku dalam tiga bulan, pada saat itu pembayaran akan dilakukan. Penandatanganan kontrak tersebut adalah suatu kejadian keuangan yang timbul dari perjanjian bisnis. Ini menimbulkan kewajiban untuk melakukan pembayaran di masa depan apabila barang dan jasa tersebut telah diterima. Akan tetapi, tidak ada kinerja pada masingmasing pihak-pemasok belm mengirimkan, dan pembeli belum membayar. Akuntansi untuk pensiunan adalah contoh lain dimana kewajiban diofset oleh aktiva. Dalam SFAS 87, FASB telah mengizinkan kewajiban pensiun diofset oleh dana pensiun dineraca perusahaan untuk mensponsori. Yang paling baik, jumlah selisih ditampakkan. Pendanaan Luar Neraca Serangkaian kerumitan lain dalam menerapkan definisi kewajiban timbul dari keinginan sebagian manajemen untuk menjaga rasio utang ekuitas perusahaan sejalan dengan yang diharapkan. Rasio kewajiban pada ekuitas pemilik, yang juga dikenal dengan leverage keuangan dari perusahaan itu, sudah ditelusuri oleh banyak analisis keuangan. Sewa guna usaha adalah contoh klasik dari pendanaan diluar neraca. Dari pada membeli suatu aktiva dan memperlihatkan saldonya sebagi kewajiban, perusahaan memilih untuk menyewa guna usaha aktiva tersebut. Jika transaksi itu dapat begitu testruktur hingga tidak terkena ketentuan FASB untuk kapitalisasi sewa guna usaha dalam SFAS 13, maka perusahaan itu dapat terhindar untuk memperlihatkan suatu kewajiban sewa guna usaha. Penyimpangan lain dari perlakuan kewajiban untuk kepentingan analisis keuangan dilakukan dalam upaya untuk mengurangikeberadaan kewajiban jangka pendek di neraca. Tampaknya,

perusahaan-perusahaan menganggap kewajiban lancer kurang diinginkan disbanding kewajiban jangka panjang. PENGUKURAN DAN PENGAKUAN Aturan ini menyatakan bahwa suatu kewajiban harus diakui sebagai kewajiban apabila mematuhi empat kriteria umum. 1. memenuhi definisi suatu kewajiban 2. dapat diukur 3. relevan 4. dapat diandalkan. Secara tradisional, yang paling penting dari tujuan-tujuan ini adalah keinginan untuk mencatat beban dan kerugian dalam penentuan laba masa berjalan. Dewasa ini, disadari bahwa tujuan yang sama pentingnya adalah bahwa pengukuran kewajiban harus memungkinkan penyajian informasi kepada investor dan kreditor sebagai sarana untuk meramalkan arus kas. Mengakui Kewajiban Bagi kebanyakan kewajiban, titik dimana terjadi pengakuan cukup pasti karena kewajiban timbul dari kontrak dimana jumlah dan waktu pembayaran kewajiban itu ditetapkan atau dapat ditentukan dari syarat kontrak tersebut, akan tetapi pada beberapa kasus jumlah yang harus dibayarkan tergantung pada kejadian-kejadian masa depan, seperti penjualan kotor masa depan dari penggunaan properti yang disewa-guna-usaha. Pengakuan kewajiban yang masih harus dibayar tidak berbeda dengan kewajiban lain. Kewajiban yang masih harus dibayar timbul dari penggunaan jasa oleh perusahaan dan kewajiban untuk membayar kepada mereka dengan syarat-syarat kontrak yang formal dan informal. Karena jasa diterima secara berkesinambung, pencatatan beban dan akrual biasanya dilakukan pada akhir periode akuntansi. Kelalaian untuk mencatat akrual akan menetapkan salah saji laba masa berjalan dan jumlah kewajiban lancer di neraca. Akan tetapi, jika suatuharga kontrak atau pasar tidak tersedia, suatu akrual adalah hasil dari alokasi dan dengan demikian bersifat arbitrer. Mengukur Kewajiban Moneter Kewajiban moneter adalah kewajiban yang dinyatakan dalam satuan nominal. Hal ini bisa melibatkan pembayaran sejumlah uang kas. Dalam kebanyakan kasus, jumlah yang terutang ditentukan oleh kontrak atau perjanjian. Dalam semua kasus, penilaian saat ini dari utang adalah nilai sekarang yag didiskontokan dari jumlah terutang di masa dean. Jika utang dapat dilunasi oleh satu atau dua alternatif, nilai diskonto dari yang terendah adalah nilai sekarang dari kewajiban itu. Dalam kewajiban jangka panjang nilai diskonto biasanya sigifikan dan karenanya penilaian masa berjalan harus berupa nlai yang didiskontokan dari semua pembayaran masa depan yang akan dilakukan sesuai dengan kontrak itu. Dalam kasus obligasi, pembayaran bunga kontrak, jumlah yang haru dibayarkan pada tahun jatuh tempo, dan setiap pembayaran serial dari pokok semuanya harus didiskontokan ke saat ini. Tingkat diskonto yang tepat pada saat utang itu terjadi adalah tingkat hasil masa berjalan ditentukan oleh harga pasar untuk oblihasi dengan risiko dan syarat yang serupa. Efek dari metode bunga adalah melaporkan suatu beban bunga periodik yang merupakan suatu tingkat efektif pada nilai buku untuk utang itu. Metode bunga juga memastikan bahwa nilai tercatat dari utang selalu sama dengan nilai sekarang pembayaran masa depan yang didiskontokan pada tingkat hasil semula.

Mengukur Kewajiban Lancar Nonmoneter Kewajiban lancar non moneter adalah kewajiban untuk memberikan barang atau jasa dalam jumlah dan kualitas tertentu. Hal itu biasanya berasal dari pembayaran dimuka untuk jasa oleh pelanggan. Kewajiban moneter dinyatakan dalam satuan harga yang ditentukan lebih dahulu atau yang disepakati untuk barang atau jasa spesifik. PENGAKHIRAN UTANG Pelunasan Utang Salah satu contoh pelunasan utang adalah menarik obligasi. Obligasi biasanya megandung suatu ketentuan yang memungkinkan perusahaan untuk menarik utang itu pada persentase yang ditetapkan lebih dahulu atas nilai nominalnya. Perusahaan biasanya akan menggunakan ketentuan ini, dan bila nilai pasar dari obligasi itu menjadi lebih besar dari harga penarikannya. Jika penarikan itu hanya melibatkan kas, itu disebut pelunasan. Jika obligasi baru untuk mengganti yang lama, maka itu disebut pendanaan kembali. Restukturisasi Utang Restrukturisasi Utang adalah penggantian satu utang dengan utang lain atau dengan konversi, yaitu menukar utang dengan ekuitas. Restrukturisasi utang dapat terjadi dengan menawarkan kas atau aktiva lain sebagai pembayaran sebagian utangnya. Debitor dapat menawarkan ekuitas sebagai pertukaran untuk utang. Alternatifnya, kreditor dapat mengubah syarat pinjaman dengan menurunkan suku bunga, memperpanjang jadwal pembayaran, atau menurunkan jumlah yang harus dilunasi. Sekuritas Hibrid Dalam tahun tahun terakhir ada ledakan jumlah dan jenis kewajiban di pasaran. Pinjaman bank lama sudah dikenal oleh kebanyakan orang dimana suatu perusahaan berjanji untuk membayar bunga bank pada suku bunga tetap dengan pelunasan akhir atas modal tetap ada, tetapi sejumlah variasi sekarang ada.Sebagai contoh , banyak pinjaman sekarang mengandung suatu cirri yang memungkinkan mereka meminjam uang mengubahnya , dengan batasan batasan tertentu, menjadi saham biasa. Semua kewajiban baru ini dikenal secara generic sebagai instrument keuangan yang di definisikan FASB sebagai : Kas , bukti hak kepemilikan dalam suatu entitas ; atau suatu kontrak yang keduanya : a. Menetapkan kewajiban kontraktual pada suatu entitas (1) untuk menyerahkan kas atau instrument keuangan lain kepada entitas kedua atau (2) menukarkan instrument keuangan dengan syarat syarat yang secara potensial tidak menguntungkan bagi entitas kedua. b. Menetapkan kewajiban kontraktual pada entitas kedua (1) untuk menerima kas atau instrument keuangan lain dari entitas pertama atau (2) menukarkan instrument keuangan dengan syarat syarat yang secara potensial menguntungkan bagi entitas pertama. Utang Konvertibel Sekuritas utang seringkali diterbitkan bersama dengan cirri konvertibel . Ciri ini memungkinkan pemegangnya untuk mengkonversi sertifikat obligasi menjadi sejumlah saham biasa tertentu pada setiap waktu sebelum keistimewaan konversi berakhir. Kendati banyak kemungkinan cirri dan hubungan alternative dapat ditemukan dalam kaitan dengan obligasi konvertibel , umumnya yang berikut berlaku : 1.suku bunga kontraktual cukup jauh di bawah suku bungan pasar untuk obligasi non konvertibel 2. Harga konversi semula lebih besar daripada harga pasar saham biasa

3. Harga konversi tidak menurun sepanjang waktu kecuali sejauh diperlukan untuk melindungi pemegang obligasi dari dilusi hak saham biasa ( seperti pemecahan saham atau dividen saham) Argumen utama untuk alokasi hasil di antara karakteristik utang dan ekuitas bersifat dua arah. Satu adalah bahwa nilai ekonomi dari cirri konversi ada sebagai elemen berbeda dari kontrak itu , yang berbeda dengan utang. Yang kedua adalah bahwa pengukuran beban bunga harus didasarkan pada karakteristik utang saja. Akuntansi untuk Sekuritas Hibrid Perlakuan atas utang konvertibel menimbulkan pertanyaan apakah suatu instrument keuangan yang tidak membayar kupon dan mengandalkan nilainya pada kemampuannya untuk dikonversi menjadi ekuitas pemilik benar benar suatu kewajiban atau bahkan pertanyaan yang lebih mendasar tentang apakah perbedaan antara kewajiban dan ekuitas pemilik mempunyai kegunaan dewasa ini . Suatu pemecahan yang direkomendasikan buku ini adalah menghapuskan perbedaan antara ekuitas dan utang . Perusahaan mengakui semua kewajiban sebagai ekuitas dan utang Perusahaan akan mengakui semua kewajiban sebgai ekuitas dalam pengertian yang luas dari kata itu.Pendekatan lain, yang saat ini diambil oleh FASB adalah berusaha membagi instrument instrument keuangan menjadi bagian bagian komponennya ,mirip dengan ahli fisika yang berusaha memisahkan atom menjadi proton, neutron dan electron. Mereka sementara itu telah mengidentifikasi enam instrument keuangan dasar. : 1. Kontrak piutang utang tanpa kondisi 2. Kontrak piutang utang terkondisi 3. Kontrak opsi keuangan 4. Jaminan keuangan atau kontrak pertukaran terkondisi lain 5. Kontrak forward keuangan 6. Instrumen ekuitas

BAB 20 PAJAK YANG DITANGGUHKAN LABA KENA PAJAK LAWAN LABA YANG DILAPORKAN Perbedaan utama antara lana kena pajak dan laba yang dilaporkan pada pemegang saham dapat digolongkan dalam dua judul utama: 1. Perbedaan permanen (permanent differences) yang timbul dari kelonggaran atau pembatas khusus legislatif yamg diizinkan atau disyaratkan untuk alasan ekonomi, politik, atau administrasi yang tidak ada hubungannga dengan perhitungan laba bersih akuntansi 2. Perbedaan sementara (temporary differences) yang dihasilkan dari a. Perbedaan dalam waktu pembebanan dan kredit ke laba, juga disebut perbedaan antar periode b. Perbedaan yang timbul dari dasar-dasar pengukuran alternatif dalam keuangan dan akuntansi pajak yang disebut juga perbedaan penilaian Apabila perbedaan antara laba kena pajak dan laba akuntansi disebabkan oleh perbedaan sementara, pencatatan beban pajak (beban efek ekivalen pada laba) didasarkan pada laba dilaporkan sebelum pajak memerlukan alokasi antar periode. Prinsip dasar alokasi antar periode adalah untuk membiarkan pajak mengikuti laba yang menjadi dasarnya. Laba yang kena pajak dalam periode berjalan tetapi diakui atau dilaporkan dalam periode selanjutnya memerlukan penangguhan beban pajak ; laba yang diakui untuk tujuan akuntansi dan dilaporkan dalam periode berjalan tetapi kena pajak dalam selanjutnya memerlukan akrual atas beban pajak. Denga kata lain: Laba Kena Pajak Dilaporkan Beban pajak : Ditangguhkan Diakrualkan Tahun ini Tahun depan Tahun depan Tahun ini

Melaporkan pembebanan langsung ke laba ditahan atau ke laba ditahan atau keuntungan atau jerugian luar biasa dan pos pos bukan operasi yang serupa netto sesudah pajak menghasillkan prosedur yang disebut alokasi intraperiode dimana total beban pajak dialokasikan ke berbagai bagian laporan laba rugi dan laporan perubahan modal. Ada penentangan pada prosedur ini karena hanya laporan laba rugi dan laba ditahan pada periode bersangkutan yang berubah, bukan periode lainnya. 1. Perbedaan Permanen Mencerminkan perhitungan total pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan selama jangka waktu umurnya. Perbedaan permanen hanya mempengaruhi total pajak, tidak menimbulkan masalah dalam alokasi pajak. Oleh karena itu tidak menimbulkan masalah teoritis dalam akuntansi. Selanjutnya diasumsikan bahwa perbedaan permanen telah disesuaikan diluar laba buku sebelum pajak, dan sebelum perbedaan sementara diterapkan.

Meski kekurangan kepentingan teoritis, perbedaan permanen secara praktis sangat penting karena itu merupakan kesenjangan utama antara apa yang dipercaya masyarakat untuk dibayarkan, apa yang dibayarkan masyarakat sebagai pajak. 2. Perbedaan Sementara Perbedaan sementara membentuk inti teori akuntansi berkenaan dengan akuntansi untuk pajak penghasilan karena akuntan memiliki sejumlah kendali mengenai bagaimana hal ini ditangani. Hal ini dapat menyebabkan kesenjangan laba antara yang dipercaya masyarakat untuk dibayarkan, dan apa yang dibayrakan masyarakat sebagai pajak tetapi hanya oada periode tertentu, yang artinya tidaklah permanen. Berikut beberapa jenis perbedaan sementara a. Perbedaan Waktu. Terdapat situasi yang memungkinkan : i. Suatu pengurangan dilakukan untuk tujuan pajak tetapi ditangguhkan dalam laporan akuntansi. Contoh: penggunaan penyusutan untuk tujuan pajak tetapi digunakan metode garis lurus untuk perusahaan. ii. Pedapatan dicatat saat ini padahal dalam tujuan pajak diakui pada waktu yang lebih lama. Contoh: perbedaan penggunaan dasar untuk cicilan untuk pajak dan akuntansi. iii. Laba ditangguhkan untuk kepentingan pajak tetapi diakrualkan untuk tujuan akuntansi. Contoh: Sewa diterima dimuka dianggap sebagai pendapatan jika jasa telah diberikan menurut tujuan akuntansi. iv. Beban dikurangkan untuk tujuan akuntansi tetapi seharusnya dikurangkan pada periode mendatang. Contoh: beban yang digunakan untuk kepentingan pajak adalah beban yang dibayarkan. Kasus 1 dan 2 memerlukan akun penggunaan kewajiban pajak pennghasilan atau akun kredit lain, karena beban pajak yang ada lebih kecil dari pajak yang harus dibayar. Sedangkan kasus 3 dan 4 memerlukan pajak dibayar dimuka atau akun debit lainnya karena jumlah pajak yang dibayarkan lebih besar dari jumlah pajak yang dilaporkan. b. Perbedaan Nilai. Conoth contoh perbedaaan sementara yang kurang sering dikutip, sebagian karena hal itu tidak mempengaruhi pajak yang ditangguhkan menurut APB 11. Mencakup: i. Suatu pengurangan dalam dasar pajak dari aktiva yang dapat disusutkan karena kredit pajak. Satu sumber dari perbedaan ini adalah Tax Equity and Financial Responsibility Act 1982, yang memberikan pilihan bagi pembayar pajak untuk mengambil jumlah

penuh pengurangan Pemulihan Biaya Dipercepat (ACRS) dan kredit pajak yang berkurang atau mengambil kredit pajak yang penuh dan jumlah pengurangan ACRS yang berkurang. ii. Kegiatan luar negeri dimana mata uang pelaporannya adalah mata uang fungsional. Menurut SFAS 52, setelah adanya suatu perubahan dalam kurs valuta, dasar pajak luar negeri dan aktiva dan kewajiban tertentu dapat berbeda dengan biaya historisnya yang ekuivalen dollar AS. iii. Suatu kenaikan dalam dasar pajak dari aktiva karena pengindeksan untuk inflasi. Hukum pajak tertentu dapat mewajibkan pengindeksan aktiva aktiva tertentu untuk tujuan pajak yang akan menyebabkan dasar dasar mereka berbeda dengan biaya historis yang ada dalama laporan keuangan. iv. Penggabungan usaha yang diperhitungkan berdasarkan pada metode pembelian. Seringkali ada perbedaan dalam jumlah yang dibebankan ke aktiva gabungan dan dasar pajaknya yang berkaitan(bagi banyak perusahaan, ini adalah perbedaan permanen menurut APB 11) 3. Pendekatan Neraca Suatu pendekatan alternatif pada salah satu yang digunakan diatas untuk menghitung perbedaan sementara berpijak pada pernyataan bahwa, dengan adanya pernyataan yang jelas, semua transaksi yang menimbulkan perbedaan sementara meninggalkan jejak pada neraca. Maka pendekatan neraca menambah suatu alat perhitungan kedua, tetapi tidak menambah sesuatupun pada tingkatan teoritis. KASUS YANG MENDUKUNG DAN MENENTANG ALOKASI 1. Kasus untuk Alokasi Menyeluruh Berikut argumen argumen yang mendukung praktik alokasi pajak antar periode pada waktu waktu yang berbeda: a. Penandingan (Matching). Penandingan langsung berpendapat bahwa beban dialokasikan sesuai dengan pengaruhnya terhadap pendapatan. Penerapan konsep penandingan untuk akuntansi pajak diulas dalam APB 11 diaman dewan merekomendasikan bahwa beban pajak penghasilan yang dilaporkan untuk suatu periode haruslah mencakup pengaruh pajakdari semua transaksi pendapatan dan beban yang tercakup dari pengukuran beban sebelum pajak. Pendapatan ini juga disebut alokasi pajak menyeluruh (Comprehensive). Pengaruh pajak dilaporkan dengan ayat jurnal saat perbedaan waktu timbul dan dilakukan jurnal pembalik saat perbedaan hilang. Diantara kedua waktu itu, APB merekomendasikan bahwa perbedaan itu timbul sebagai beban yang ditangguhkanatau kredit yang ditangguhkan. Tarif

pajak yang digunakan pun adalah tarif saat pelaporan perbedaan awal sehingga tidak ada penyesuaian. APB dikritik tajam karena hal ini. Pertama, penandingan dilakukan bukan dengan pendapatan tetapi dengan laba sebelum pajak. Kedua, beban yang ditangguhkan dan kredit yang ditangguhkan tidak dimaksudkan untuk untuk mewakili aktiva, dan kewajiban ataupun ekuitas. b. Perusahaan Bersinambung. Ini dimulai dari ketegasan bahwa konsekuensi pajakdari suatu kejadian melekat pada kejadian itu. Pembayaran pajak itu sendiri mengenai bilamana pajak akan dibayar, bukan dibayar atau tidak. Jika pajak yang dibayarkan pada periode tersebut kurang dari jumah pajak yang melekat maka akun yang berkaitan dengan beban pajak adalah utang pajak penghasilan. Dan jika sebaliknya maka disebutkan pajak dibayar di muka. c. Praktek Manajerial. Argumen yang menentang palaporan pajak penghasilan yang dibayarkan semata sebagai beban dari periode bersangkutan adalah bahwa merupakan praktik umum untuk mendefinisikan pajak sebagai beban dari menjalankan bisnis. Demikian pula manajemen manajemen umumnya membuat keputusan berdasarkan laba bersih yang diharapkan sebagai pajak. Sebagai tambahan, pajak harus dipertimbangkan dalam keputusan investasi dan dividen. Akan tetapi praktiknya tidak menentukan logika dari klasifikasi itu. Klasifikasi beban tidak mempunyai definisi yang jelas selain dari pada yang dipilih akuntan. Argumen bahwa alokasi pajak adalah tepat karena pajak diperlakukan sebagai beban, dengan demikian sulit didukung. 2. Kasus yang Menentang Alokasi Banyak argumen yang menentang alokasi pajak antar periode, walaupun tidak cukup untuk menggesernya dari standar, berikut argumennya: a. Kurangnya Pengertian. Ada keluhan bahwa pelaporan beban pajak yang tidak sama dengan pajak sebenarnya yang dibayarkan membingungkan publik. b. Suatu Distribusi, Bukan Beban. Pajak adalah sama seperti dividen dan, oleh karenanya adalah, merupakan pendistribusian dari laba. Pendukung pandangan ini mengemukakan bahwa seperti dividen dan tidak seperti pembayaran upah dan perlengkapan, pajak hanya dibayar hanya jika diperoleh laba. Pada masa mendatang akan menjadi terutang hanya jika laba

diperoleh di masa mendatang, yang menyiratkan suatu asumsi tentang kejadian yang belum terjadi. c. Kurangnya Relevansi. Kritik dari informasi berjalan berjalkan bahwa pajak yang dipungut setiap tahun lebih relevan bagi insvestor dan kreditur daripada beban pajak yang dialokasikan secara buatan. d. Ketidakpaastian. Alokasi pajak juga ditentang atas dasar bahwa ketidakpastian dalam perhitungan taksiran kewajiban pajak masa mendatang terlalu besar untuk membuat alokasi jadi berguna. 3. Kasus untuk Alokasi Sebagian Pendukung pandangan ini menunjukan bahwa tingkat agregat akun pajak yang ditangguhkan hanya bergulir terus (roll over). Argumen ini didasarkan pada pengamatan yang benar bahwa, sepanjang perusahaan bertumbuh, piutang dan utnagnya akan terus bertumbuh. Sekali perusahaan berpindah ke keadaan yang stabil maka utang dan piutangnya akan stabil pula. Maka laba bersihnya pun akan stabil begitu pula jenis akuntansi yang digunakan. Dalam kondisi ini baik menggunakan dasar kas ataupun akrual. Jumlah beban pajak akan tetap sama. 4. Kasus untuk Pendiskontoan Suatu argumen akhir yang menentang penyajian penuh kewajiban pajak atau pajak dibayar dimuka adalah bahwa, karena kewajiban itu akan dibayarkan dan keuntungan pajak hanya akan diterima pada suatu waktu dimasa mendatang, hal itu harus didiskontokan pada sukubunga yang positif. Jika periodenya oanjang dan tidak terbatas maka nilai sekarang akan mendekati nol. Tetapi terdapat kesulitan seperti penentuan tingkat suku bunga dan tahun pajak tersebut dapat terbayar, yang malah menambah kompleksitas dalam akuntansi pajak. FASB memutuskan untuk tidak membahas hal ini dalam SFAS 96. 5. Studi Empiris Studi empiris sampai sekarang belum mendukung dengan kuat alokasi pajak. Beaver dan Dukes menyimpulkan bahwa alokasi pajak dapat digunakan bila alokasi pajak dapat digunakan jika seseorang menerima alokasi pasar. Akan tetapi dalam studi selanjutnya, mereka menyimpulkan bahwa dasar pemikiran yang mendasari alokasi pajak tetap menjadi pertanyaan yang serius dan bahwa prosedur alokasi pajak sekarang tidak harus optimal. Kurangnya teori yang mendukung dan banyaknya komplikasiterlibat dalam proses alokasi pajak, membuat hal itu meragukan sebagai prosedur yang relevan. PAJAK YANG DITANGGUHKAN DAN KERANGKA KERJA KONSEPTUAL

Setelah membandingkan berbagai metode untuk menghitung kewajiban pajak yang ditangguhkan. FASB memilih apa yang disebut metode aktiva/kewajiban dari alokasi pajak antar periode berdasarkan hal bahwa hal itu yang paling sesuai dengan kerangka dasar konseptual, bahwa hal itu menghasilkan informasi yang paling berguna dan dapat dimengerti, dan metode tersebut tidak lebih kompleks daripada metode metode lain. Berikut perbedaan, metode aktiva/ kewajiban dengan metode ditangguhkan antara lain: 1. Ia menjauhkan analisis itu dari penandingan, dan menggantikannya dengan definisi aktiva dan kewajiban dari SFAS 6 untuk membenarkan alokasi pajak antar periode. 2. Ia mewjibkan perusahaan untuk memperkirakan pengaruh perbedaan sementara di masa mendatang daripada menggunakan hasil masa lalu yang diketahui. Dalam praktiknya, perusahaan melalui tidakan tindakan mereka dalam tahun tahun tertentu menghasilkan arus laba dan rugi yang diharapkan dimasa mendatang. Kerugian dalam arus ini bisa di offset terhadap laba sejauh yang diperbolehklan oleh peraturan pajak dalam perlakuannya atas rugi bersih operasi. Peraturan pajak saat ini mengizinkan rugi operasi dikompensasi ke belakang 3 tahun dan ke muka 15 tahun. Perbedaan antara akun pajak yang dtangguhkan pada awal dan akhir tahun menghasilkan debet atau kredit pajak yang ditangguhkan, untuk tahun bersangkutan. SFAS 96 menambahkan suatu kenyataan tambahan yang tidak harus menjadi bagian yang penting dari metode aktiva/kewajiban, tetapi merupakan suatu perubahan penting dari persyaratan GAAP lama. Pernyataan ini mendasarkan pengaruh yang bersangkutan pajak pada semua kejadian yang telah terjadi, dan mengesampingkan semua kejadian yang belum terjadi. Dewan menggunakan pernyataan ini untuk mencakup penggunaan semua tarif pajak yang dibuat sebelumnya, bahkan bila itu melibatkan perubahan 0- perubahan dalam periode mendatang.pernyataan ini juga digunakan untuk mengesampingkan asumsi laba masa mendatang untuk menyeimbangkan kerugian pajak yang dihasilkan oleh pembalikan perbedaan perbedaan pajak. 1. Rugi Operasi Bersih Peraturan pajak yang berlaku sekarang memperbolehkan kerugian pajak dikompensasi ke belakang dan kemuka untuk mengurangi total utang pajak perusahaan. Prinsip alokasinya sama baik untuk kompensasi ke belakang atau ke muka, tetapi lebih tidak pasti berkenaan dengan keuntungan pajak yang muncul dalam kasus belakangan. Apabila kerugian pajak dapat dari dikompensasi kebelakang untuk mengurangi pajak yang dibayarkan dalam tahun tahun sebelumnya, tuntutan untuk pengembalian segera muncul, meskipun itu harus disetujui oleh Internal revenue Service pada tanggal belakangan. 2. Apakah Ini Aktiva dan Kewajiban? Pendekatan aktiva atau kewajiban yang digunakan oleh dewan dalam SFAS 96 ditentangkan secara keras atas dasar bahwa pajak yang ditangguhkan tidak mempunyai karakteristik aktiva dan kewajiban yang biasa. Sebagai contoh, beberapa menyatakan bahwa aktiva pajak yang ditangguhkan, yang menunjukan pajak dibayar dimuka yang timbul dari

10

alokasi pajak penghasilan bukanlah hak tanpa kondisi untuk manfaat masa mendatang. Namun ada keadaan dimana dalam pengharapan yang normal atas laba perusahaan masa datang dan berlanjutnya peraturan pajak penghasilan berjalan, pos itu dapat mempunyai banyak karakteristik aktiva yang normal. Utang pajak yang ditangguhkan, yang menunjukan utang pajak penghasilan di masa mendatang yang timbul dari alokasi pajak demikian juga dianggap hanya memiliki sedikti karakteristik kewajiban yang normal. Namun dalam beberapa keadaan ada kewajiban untuk membayar pajak dimasa mendatang berdasarkan kegiatan masa lalu atau sekarang PERBANDINGAN SFAS 96 DAN APB 11 Dari penggunaan APB 11 dengan metode ditangguhkannya, SFAS 96 dengan metode aktiva/kewajibannya. Satu satunya perubahan nyata yang terjadi apabila seseorang memperthitungkan perubahan tarif yang sebenarnya independen terhadap pemilihan antara kedua metode. Alasan untuk kedua metode terletak pada sifat perbedaan sementara yang, per definisi, yang sendirinya membalik selama jangka waktunya. Dengan kata lain, jumlah perbedaan sementara sepanjang jangka waktunya adalah nol. Sekarang, jika serangkaian jumlah menuju nol dipecah pada titik mana pun selamajangka waktunya, jumlah mutlak sampai pemecahan harus sama dengan jumlah mutlak setelah pemecahan. Ada dua cara untuk menjumlahkan perbedaan sementara. Kita dapat menjumlahkannya dari muka ke awal pemecahan (metode ditangguhkan). Atau kita bisa menjumlahkannya ke belakang ke akhir pemecahan (metode aktiva/kewajiban). APB menitik beratkan pada perbedaan sementara yang telah terjadi, sementara SFAS menitik beratkan pada perbedaan yang akan terjadi. Menurut APB 11, beban pajak dihitung dengan menerapkan tarif pajak ke laba sebelum pajak, utang pajak dihitung dengan menetapkan tarif pajak yang sama ke laba kenaa pajak. Perbedaan antara keduanya adalah kredit, atau debet ke akun pajak yang ditangguhkan. SFAS mulai dengan neraca. Lebih khusus, ia mulai dengan perbedaan dimasa yang akan datang. Satu pengecualian pada peraturan kesamaan umum ini adalah berubahnya tarif pajak. Pengecualian lain terletak pada perlakuan sementara asimtrik atas perbedaan sementara negatif antara APB 11 dan SFAS 96. Kesimpulannya adalah bahwa metode penangguhan dan metode aktiva/kewajiban masing masing akan menghasilkan beban pajak yang sama asalkan: 1. Perubahan dalam tarif pajak diperlakukan secara sebanding. 2. Tidak ada aktiiva pajak yang ditangguhkan yang tidak diakui dalam catatn kaki menurut metode aktiva/ kewajiban. PENYAJIAN HASIL Yang masih tersisa adalah membahas nagaimana menyajikan berbagai akun laporan laba rugi dan neraca yang berkaitan dengan pajak. Bahan mencakup tiga bidang: alokasi pajak intraperiode,metode alokasi pajak antar periode bersih sesudah pajak yang benar benar bersangkutan dengan masalah penyajian, dan persyaratan penyajian saat ini menurut SFAS 96. ALOKASI PAJAK INTRAPERIODE Jika konsep laba all-incusive diterima sepenuhnyam, alokasi pajak antara laporan rugi laba dan laba ditahan tidak perlu dilakukan. Tetapi menurut APB 9. Keuntungan dan kerugian luar biasa harus

11

dilaporkan secara terpisah dalam laporan rugi laba. Menurut SFAS 16, beberapa penyesuaian periode sebelumnya harus dilaporkan sebagai penyesuaian atas laba ditahan. Dalam kasus ini, dan yang sejenis, alokasi intraperiode didalam laporan rugi laba ataupun laba ditahan dapat membuat laba bersih yang dilaporkan sebelum pos luar biasa menjadi berarti. Argumen untuk alokasi intraperiode terutama bersandar pada kegunaan jumlah laba bersih yang dilaporkan sebelum pos luar biasa. Namun lebih jauh lagi argumen ini mengasumsikan bahwa laba akuntansi dapat diprediksi. Argumen yang lebih sederhana menyatakan bahwa alokasi menyebabkan kerincian pada akun akun terkait, yang berarti lebih banyak pengungkapan dan informasi yang lebih baik. Metode Bersih Sesudah Pajak Suatu alternatif pelaporan aktiva dan kewajiban pajak yang ditangguhkan sebagai akun independen, yang disebut metode bersih sesudah pajak, adalah memperlakukan hal itu dalam hubungan yang erat dengan pos pos yang menyebabkan keberadaannya. Jadil, pajak dibayar dimuka dapat dianggap akun penilaian pada kewajiban yang bersangkutan, dan utang pajak dimasa depan dapat dianggap akun aktiva kontra, atau aktiva dan kewajiban dapat dikurangi secara langsung. Metode bersih sesudah pajak didasarkan pada asumsi bahwa penyesuian biaya historis dari suatu aktiva untuk pengeruh pajak dapat menghasilkan penilaian saat ini untuk aktiva itu. Kesulitan dalam asumsi ini bersifat dua arah. Pertama, banyak faktor lain harus diperhatikan darus diperhatikan dalam mengukur nilai perusahaan bagi investor. Kedua, dipertnyakan apakah tujuan dari akuntansi adalah untuk mengukur dan melaporkan nilai dari setiap aktiva, atau kewajiban. Masalah ketiga dengan metode ini adalah bahwa beberapa perbedaan sementara tidak dapat diidentifikasikan dengan aktiva dan kewajiban tertentu. FASB, setelah mempertimbangkan dan menolak penggunaannya menyatakana keyakinan bahwa metode aktiva/kewajiban menyediakan perangkat informasi yang lebih baik daripada menggabungkan pengaruh pajak dengan aktiva dan kewajiban lain. Akan tetapi, mereka setuju mengikuti arah metode bersih sesudah pajak saat mereka memutuskan bahwa pajak yang ditangguhkan harus mengikuti klasifikasi penangguhan lancar/tak lancar dari kejadian yang mendasari.

12