Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum Ke- 3 Biokimia Hewan

Hari/Tanggal : Jumat/8 maret 2013 Waktu : 08.00-11.20 WIB PJP : Syaefudin, M.Si Asisten : Nurul Syifa Yunan Nursyahbani

CAIRAN PANKREAS
Kelompok 6 I Wayan Widyastawan Alanbia Hermawan Dini Nuraeni J3P212067 J3P212072 J3P112026

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013

Pendahuluan Urine adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi.ekskresi urine diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darahyang disaring oleh ginjaldan untuk menjaga homeostatis cairan tubuh. Dalam mempertahankan homeostatis tubuh peranan urine sangat penting karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urine. Fungsi utama urine untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatab dari dalam tubuh. Anggapan umum bahwa urine sebagai zat yang kotor. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urine tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinenyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urine berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urine sebenarnya cukup steril dan hamper tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Urine terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea, garam terlarut, dan matri organic). Materi yang terkandung di dalam urine dpat diketahui melalui urinalisis, yaitu suatu metode analisis zat-zat yang dimungkinkan terkandung di dalam urine. Dalam Basoeki(2000) disebutkan bahwa pada prose urinalisis terdapat banyak cara metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi zat apa saja yang terkandung dalam urine. Analisis urine dapat berupa analisis fisik, kimiawi, dan analisis secara mikroskopik. Analisis urine secara fisik meliputi pengamatan warna urine, berat jenis cairan urine, dan pH serta suhu urine itu sendiri. Sedangkan analisis kimiawi dapat meliputi analisis glukosa, protein, dan analisis pigmen empedu. Untuk analisis protein ada banyak metode yang ditawarkan, mulai dari metode uji Millon sampai kuprisulfa dan sodium basa. Yang terakhir analisis secara mikroskopik, sampel urine secara langsung diamati di bawah mikroskop sehingga akan diketahui zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urine tersebut. Secara umum urine berwana kuning. Urine encer warna kuning pucat (kuning jernih), urine kental berwarna kuning pekat, dan urine baru atau segar berwarna kuning jernih. Urine yang didiamkan agak lama akan berwarna kuning keruh. Urine berbau khas jika dibiarkan agak lama berbau ammonia. pH urine berkisar antara 4,8 7,5 , urine akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi atau mengandung banyak protein, dan urine akan menjadi basa jika mengandung banyak sayuran. Berat jenis urine I,002 1,035. Secara kimiawi kandungan zat dalam urine diantaranya adalah sampah nitrogen (ureum, kreatin, dan asam urat), asam hipurat zat sisa pencernaan sayuran dan buah, badan keton zat sisa metabolisme lemak, ion-ion elektrolit, hormone, zat toksin, zat abnormal (protein, glukosa, sel darah Kristal kapur dsb). Volume urine normal perhari adalah 900 1200 ml, volume tersebut dipengaruhi banyak factor diantaranya suhu, zat-zat diuretika, jumlah air minum, hormone ADH, dan emosi. Interpretasi warna urine dapat menggambarkan kondisi kesehatan organ dalam seseorang. a. Keruh, kekeruhan pada urine disebabkan adanya partikel padat urine seperti bakteri, sel epitel, lemak, atau Kristal-kristal mineral. b. Pink, merah muda dan merah. Warna urine seperti ini biasanya disebabkan oleh efek samping obat-obatan dan makanan tertentu sepeti blueberi dan gula-gula. Warna ini juga bias digunakan sebagai tanda adanya pendarahan di sistem urinaria, seperti kanker ginjal, batun ginjal, infeksi ginjal, atau pembengkakan kelenjar prostat.

c.

Coklat muda seperti warna air teh. Warna ini merupakan indicator adanya kerusakan atau gangguan hati seperti serosis. d. Kuning gelap. Warna ini disebabkan banyak mengkonsuumsi vitamin B kompleks yang banyak terdapat dalam minuman berenergi. e. Hijau dan biru (jarang). Warna biru dan hijau pada urine sering disebabkan oleh pelunturan warna pada makanan atau obat. Obat-obatan yang sering menbuat urine biru atau hijau adalah amitriptyline, indomethacin, dan doxorubicin. Urine pH urine digunakan untuk mengelompokkan baik sebagai basa atau asam encer solusi. Tujuh adalah titik netral pada skala pH. Semakin rendah pH, semakin besar keasaman suatu larutan, semakin tinggi pH semakin besar alkalinitas. Filtrate glomerular darah biasanya diasamkan oleh ginjal datim kirakira 7,4 ke pH sekitar 6 dalam urine. Tergantung pada seseorang status asam atau basa, pH urine dapat berkisar 4,5 8. Ginjal normal menjaga keseimbangan asam-basa terutama melalui rearbsorbsi natrium dan sekresi tubular hydrogen dan io ammonium. Urine menjadi semakin asam apabila kelebihan asam natrium dan dipertahankan oleh tubuh meningkat. Alkali air kencing biasanya mengandung bikarbonat asam karbonat buffer. Biasanya diekskresikan bila ada kelebihan basa atau alkali dalam tubuh. Sekresi asam atau basa urine oleh ginjal adalah satu mekanisme yang paling penting digunakan tubuh untuk mempertahankan pH tubuh yang konstan. Tujuan Untuk mengetahui pH optimum bekerjanya tripsin serta melihat hidrolisis pati oleh amylase dan hidrolisis lemak susu oleh pancreas, dan juga untuk mengetahui titik denaturasi protein, serta factor factor yang mempengaruhi. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan ialah pipet tetes, pipet Mohr 5 mL dan 10 mL, tabung reaksi, termometer, corong gelas, penangas air. Bahan-bahan yang digunakan ialah aquades, Na Karbonat 1% dan 0,5 %, HCL, larutan pati 0,5%, susu lakmus, pereaksi Iodine dan pereaksi Benedict Prosedur Praktikum Melihat pH optimum beekrjanya tripsin Disediakan 4 tabung eaksi yang kemudian setiap tabung diberikan larutan yang berbeda beda tabung 1 berisi aquades, tabung 2 Na Karbonat 0,5%, tabung 3 berisi Na Karbonat 1% dan tabung 4 berisi HCl, setelah itu pH masing masing larutan yang terdapat dalam tabung masing masing di ukur pH nya mengunakan pengukur pH universal untutk selanjutnya diberikan sedikit protein fibrin, kemudian perhatikan perubahan warna yang terjadi. Melihat hidrolisis pati oleh amylase pancreas Masukan 5 ml pati 0,5% ke dalam 2 tabung kemudian diberikan 2ml cairan pancreas da kemudian dipanaskan pada suhu 37o C kemudian perubahan yang terjadi dalam isi tabung dalam hitungan menit di amati, dan dapat dilihat kapan terjadinya titik akromatik yaitu titik dimana larutan iod menghasilkan reaksi negative. Hidrolisis lemak susu oleh lipase pancreas

2 tabung reaksi, yang berisi masing masing 2 ml cairan ekstrak pancreas, kemudian salah satu tabung di panaskan sampai mendidih, setelah mendididh di turunkan suhu nya hinga temperature kamar, dan ditambahakan 5 ml susu lakmus pada tabung yang di pansakan dan tabung yyang tidak di panaskan, kemudian di simpan diatas penangas air pada sushu 37o C, sehinga dapat dilihat terjadinya hidrolisis lemak susu yang akan membuat larutan menjadi berwarna merah.

Hasil Data Pengamatan Table 1. Uji pH denaturasi protein Larutan Aquades pH 6 Gambar

HCL 0,5%

Na2CO3 0,5%

12

Na2CO3 1%

12

Table 2. Analisis Hidrolisis pati oleh papain Uji Hasil Gambar

Iod

Benedict

Table 3. Hidrolisis lemak susu oleh papain sampel Tanpa pemanas Hasil + gambar

pemanasan

Pembahasan Sebagian besar protein dapat diendapkan dari larutan air dengan penambahan asam tertentu. Penambahan asam ini menyebabkan terbentuknya garam protein yang tidak larut atau mengendap. Selain dengan penambahan asam tertentu pengendapan dapat juga terjadi karena adanya perbedaan kelarutan atau konsentrasi. Dari percobaan uji pH denaturasi protein didapatkan hasil yang berbeda-beda. Pada percobaan menggunakan larutan Aquades yang pHnya 6 hasilnya adalah terjadi denaturasi protein. Denaturasi protein ini ditandai dengan hasil yang tidak berubah warna pada larutan tersebut dan danya endapan putih jernih. Pada HCl 0,5% hasilnya adalah warna putih dan menggumpal. Pada larutan Na Karbonat 1% yang pHnya 12 hasilnya terdapat warna merah, tetapi pada Na- karbonat 0,5% warna merah tersebut tidak tercampur dengan enzim papain. Warna merah yang terbentuk dari larutan tersebut karena adanya pereaksi fenolftalein yang ditambahkan pada larutan tersebut. Pereaksi FF akan aktif pada pH basa, sebagaimana pH Na- karbonat yang digunakan yaitu 12. Adanya perbedaan hasil pada larutan Na- karbonat tersebut dikarenakan adanya perbedaan kelarutan atau konsentrasi. Pemisahan protein dari campuran dengan pengaturan pH didasarkan pada harga pH isoelektrik yang berbeda-beda untuk tiap protein. Pengendapan

protein dengan cara penambahan garam didasarkan pada pengaruh yang berbedabeda daripada penambahan garam tersebut pada kelarutan beberapa protein. Proses ini, tidak dipengaruhi oleh sifat garam netral, tetapi dipengaruhi oleh konsentrasi dan jumlah muatan pada tiap ion dalam larutan. Kebanyakan protein tidak larut dalam larutan garam yang pekat dan mengendap atau didesak keluar dari larutan dalam keadaan tidak berubah. Prinsip ini digunakan untuk memisahkan protein dari campuran senyawa lain. Campuran tersebut dilarutkan dalam larutan garam yang pekat seperti garam dapur, natrium sulfat atau amonium sulfat. Proteinnya mengendap dan dapat dipisah dengan menyaring. Kemudian proteinnya dimurnikan dengan cara dialisis. Protein akan menggumpal jika ditambahkan asam hidroklorida pekat, asam sulfat pekat, dan asam nitrat. Denaturasi protein yang terjadi pada percobaan ini disebabkan karena adanya proses pemanasan pada setiap larutan dan adanya pengaruh sifat asambasa pada masing-masing larutan. Denaturasi protein terjadi pada suhu di atas suhu 50C kebanyakan protein menjadi tidak mantap dan mulai mengalami denaturasi, pada percobaan yang dilakukan mengunakan suhu 37o C yang menyebabkan denaturasiterjadi lebih lama. Pada percobaan analisis hidrolisis pati oleh papain dengan menggunakan pereaksi iodine, hasil yang diperoleh adalah negatif dimulai dari menit pertama sampai menit kesepuluh. Hal ini dikarenakan sesuai fungsi enzim papain tidak menghidrolisis pati menjadi gula sederhana melainkan menghidrolisis protein. Jadi, sampai ke menit berapapun larutan hasilnya tetap negatif. Larutan iodine yang digunakan adalah untuk mendeteksi adanya karbohidrat. Pada percobaan hidrolisis lemak susu oleh papain dengan menggunakan sampel susu yang dipanaskan dan tidak melalui proses pemanasan hasil yang diperoleh adalah negatif. Hal ini dikarenakan susu mengandung lemak. Enzim papain tidak menghidrolisis lemak, melainkan menghidrolisis protein. Saat protein terdenaturasi, terjadi pembalikan posisi menjadi bagian hidrofobik yang berada di luar. Pada saat inilah protein tidak bisa larut dalam air dan berada pada kondisi energi yang tinggi karena air akan berusaha melarutkan bagian yang hidrofobik tersebut padahal karena perbedaan kepolaran air dan bagian hidrofobik itu tidak akan larut. Oleh karena itu protein terdenaturasi akan berusaha segera kembali ke keadaan stabil atau energi rendah kembali. Apabila struktur protein tersebut terlalu kompleks, salah satu jalan untuk membuat kondisi energinya menjadi rendah kembali adalah dengan menggumpalkan dirinya. Dengan konformasi tergumpal, maka seluruh bagian hidrofobik dari protein tidak akan berinteraksi lagi dengan air yang terus berusaha melarutkannya, sehingga dapat dikatakan konformasi seperti ini lebih stabil. Simpulan Dari percobaan yang telak kami lakukan dapat disimpulakan bahwa protein dapat terdenaturasi oleh beberapa factor yaitu factor suhu, pH dan konsentrasi zat nya, serta proses denaturasi terjadi lebih cepat dengan suhu yang lebih panas namun tidak dapat melampaui suhu optimum protein yaitu 70o c karena jika lebih maka akan mengalami kerusakan.

Daftar Pustaka Anna. 2006. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press Wirahadikusuma.M.2008.Biokimia Protein, enzim,dan asam nukleat. Bandung: ITB press